Anda di halaman 1dari 22

1. Puji lestari 2. Putri windiantari 3.

Rahmad hidayat

10162958A 10162959A 10162960A

Kasus 3
MIGRAIN Kasus :

Mahasiswa MZ berusia 19 tahun, datang untuk memeriksakan diri kedokter dengan keluhan utamanya adalah nyeri kepala vascular yang berdenyut yang bersifat unilateral. Kadang kadang nyeri bisa timbul mendadak. Gejala lain yang menyertai adalah mual, muntah, dan akhir akhir ini terjadi gangguan penglihatan seperti adanya kilatan cahaya. Informasi yang diperoleh pada saat wawancara pasien dengan dokter: bagian kepala yang sering terserang adalah daerah frontal dan temporal, manifestasi yang sering menyertai mual, muntah, fotofobia dan kepekaan terhadap bunyi meningkat. Riwayat penyakit lain yang pernah diderita adalah hipertensi dan gangguan lambung (maag).


Tekanan darah : 130/90 mmHg HR (denyut jantung) : 80/menit Suhu tubuh: 37C

Pengertian Migrain
Migrain atau sering juga disebut sakit kepala atau pusing sebelah adalah nyeri kepala berdenyut yang kerapkali disertai mual, muntah. Penderita biasanya sensitif terhadap cahaya, suara, bahkan bau-bauan. Sakit kepala ini paling sering hanya mengenai satu sisi kepala saja, kadang-kadang berpindah ke sisi sebelahnya, tetapi dapat mengenai kedua sisi kepala sekaligus.


Migrain kadang kala agak sulit dibedakan dengan sakit kepala jenis lain. Sakit kepala akibat gangguan pada sinus atau akibat ketegangan otot leher mempunyai gejala yang hampir sama dengan gejala migrain. Migrain dapat timbul bersama penyakit lain misalnya asma dan depresi. Penyakit yang sangat berat, misalnya tumor atau infeksi, dapat juga menimbulkan gejala yang mirip migrain. Namun kejadian ini sangat jarang.

Penyebab Migrain
Penyebab pasti migrain masih belum begitu jelas. Diperkirakan, adanya hiperaktiftas impuls listrik otak meningkatkan aliran darah di otak, akibatnya terjadi pelebaran pembuluh darah otak serta proses inflamasi. Pelebaran dan inflamasi ini menyebabkan timbulnya nyeri dan gejala yang lain, misalnya mual. Semakin berat inflamasi yang terjadi, semakin berat pula migrain yang diderita. Telah diketahui bahwa faktor genetik berperan terhadap timbulnya migrain.

Gejala Migrain
Gejala Awal: Satu atau dua hari sebelum timbul migrain, penderita biasanya mengalami gejala awal seperti lemah, menguap berlebih, sangat menginginkan suatu jensi makanan (mislanya coklat), gampang tersinggung, dan gelisah.


Sakit kepala dan gejala penyerta: Penderita merasakan nyeri berdenyut pada satu sisi kepala, sering terasa di belakang mata. Nyeri dapat berpindah pada sisi sebelahnya pada serangan berikutnya, atau mengenai kedua belah sisi. Rasa nyeri berkisar antara sedang sampai berat.


Gejala lain yang sering menyertai nyeri kepala antara lain: 1. Kepekaan berlebihan terhadap sinar, suara, dan bau. 2. Mual dan muntah. 3. Gejala semakin berat jika beraktifitas fisik. Tanpa pengobatan, sakit kepala biasanya sembuh sendiri dalam 4 sampai 72 jam.


Gejala Akhir: Setelah nyeri kepala sembuh, penderita mungkin merasa nyeri pada ototnya, lemas, atau bahkan merasakan kegembiraan yang singkat. Gejala-gejala ini menghilang dalam 24 jam setelah hilangnya sakit kepala.

Pengobatan
Pada tahap awal, anda dapat menggunakan antinyeri yang dapat dibeli bebas tanpa resep, seperti parasetamol, atau obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) seperti aspirin, ibuprofen, atau natrium naproxen, untuk mengurangi gejala migrain. Dokter biasanya menganjurkan untuk lebih dahulu menggunakan NSAID untuk melihat apakah obat ini mampu mengurangi nyeri sebelum memberikan obat anti migrain golongan lain yang harus dibeli dengan resep, yang mempunyai banyak efek samping.

Analisis Kasus SOAP :

Subjective: pasien merasa nyeri kepala vascular yang berdenyut yang bersifat unilateral. Kadang kadang nyeri bisa timbul mendadak. Dan gejala lain yg menyertai adalah mual, muntah, dan akhir- akhir ini terjadi gangguan penglihatan seperti adanya kilatan cahaya.

OBJEKTIF : Keadaan umum pasien baik. Kesadaran : compos mentis Tekanan darah : 130/90 mmHg HR (denyut jantung) : 80/menit Suhu tubuh: 37C

ASSESMENT
Pasien mengalami gejala mual dan muntah, serta fotofobia. Berarti pasien mengalami gejala migrain tanpa aura. Pada pasien ini disebabkan oleh kombinasi dari pemebesaran pembuluh darah dan pelepasan pada bahan kimia dari serat saraf yang melilit pembuluh darah. Pada vasodilatasi (pembesaran pembuluh darah) ini yang akan menyebabkan pelepasan bahan kimia dari serat saraf yang melliliy arteri besar otak.

PLANNING
pasien diberikan penggunaan anti nyeri yang dapat dibeli bebas tanpa resep, seperti parasetamol dan pasien mengalami mual atau muntah yang mungkin merupakan efek samping pengobatan antimigrain, sehingga diberikan obat anti mual muntah seperti metkloperamid, jadi dipilih kombinasi dari keduanya yaitu primadol (parasetamol) 500 mg, metokloperamid hidroklorida 5 mg.

Evaluasi obat terpilih


Primadol : kombinasi parasetamol (analgetik) dan metokloperamid (antiemetik). Sebagai pengobatan lini pertama untuk melawan serangan akut ringan sampai sedang.


Dalam pemberian antiemetik ini untuk membantu penyerapan lambung disamping meredakan gejala penyerta seperi mual dan muntah, sedangkan untuk pemberian parasetamol digunakan untuk meringankan nyeri. Metokloperamid mempercepat absorbsi parasetamol (meningkatkan efek dan bioavabilitas obat) serta memperbaiki respon terapeutik.

Berbeda untuk obat analgesik yang lain seperti aspirin

dan ibuprofen, parasetamol tak memiliki sifat antiradang. Parasetamol tidak tergolong dalam obat jenis NSAID. Pada dosis normal, parasetamol tidak menyakiti permukaan dalam perut atau mengganggu gumpalan darah, ginjal, atau duktus arteriosus pada janin. Dalam Penggunaannya aman untuk semua kalangan dalam dosis yang standart, tetapi karena mudah didapat, overdosis obat sengaja maupun tidak sering terjadi.

KIE
> Primadol diberikan 3x sehari 1 kaplet. > Diberikan pada perut kosong (1 jam sebelum makan). > Memberitahukan kepada pasien mengenai dan mencegah faktor pencetus terjadinya migraine. > Pada saat serangan pasien dianjurkan untuk menghindari stimulasi sensoris berlebihan. apabila timbul gejala nyeri berlanjut, segera periksakan ke dokter.

Monitoring
a. Memastikan bahwa terapi obat penderita sesuai indikasi, paling efektis, paling aman, dan dapat dilaksanakan sesuai tujuan. b. Mengidentifikasi, memecahkan, dan mencegah masalah terapi obat yang akan menggu. c. Memastikan bahwa tujuan terapi penderita penderita tercapai dan hasil yang optimaterealisasi. d. Memonitor bila terjadi efek samping yang mungkin timbul

resep
R/ Primadol s3dd1 a.c R/ Captopril 12,5 mg S2dd1

No. XXI

No.XV

Beri Nilai