Anda di halaman 1dari 57

ATRESIA ANI

Yesi Ermawati 030.06.281

Identitas pasien

Nama : By. L Jenis Kelamin : laki - laki Tempat Tanggal lahir : Jakarta, 29 oktober 2010 Usia : 6 hari Alamat : Kp. Kepala Dua Rt 03/011 RM : 1023038

Identitas orang tua


Nama ayah : Tn. D
Umur : 22 tahun Agama : islam Pekerjaan : buruh Hubungan : anak kandung

Nama Ibu : Ny. D


Umur : 22 tahun Agama : islam Pekerjaan : ibu rumah tangga Hubungan : anak kandung

Keluhan utama
tidak ada lubang anus

Riwayat Penyakit Sekarang


Os berumur 6 hari, lahir cukup bulan di RSUP Fatmawati dengan keluhan tidak terdapat lubang anus. Sejak lahir OS belum pernah BAB, BAK OS lancar

Riwayat Penyakit Dahulu


Tidak didapatkan

Riwayat Keluarga
Tidak ada riwayat atresi ani dalam keluarga.

Riwayat Sosial Ekonomi


OS merupakan anak pertama.

Riwayat Kehamilan
Ibu os mengaku tidak melakukan kontrol rutin saat hamil. Ia juga mengaku tidak mengkonsumsi obat-obatan yang membahayakan janin.

Riwayat Imunisasi
Tidak ada data

Pemeriksaan fisik
Keadaan Umum

Kesadaran Kesan sakit Posisi Tinggi badan BB Sikap pasien Mobilisasi

: : : : : : :

Kompos Mentis sakit ringan berbaring terlentang 48 cm 2700 gram tidak kooperatif aktif

Tanda Vital

Tekanan Darah : tidak dilakukan Nadi : 144x/ menit Pernafasan : 48x/menit, , irama teratur, pernafasan tipe abdomino torakal Suhu Tubuh : 36,5 0 C

KULIT

Turgor baik, tidak ada atrofi kulit. Warna kulit kecoklatan, tidak ikterik, tidak pucat, tidak sianosis.

KEPALA

Bentuk normocephali. Rambut berwarna hitam kecoklatan Rambut lebat, distribusi merata serta tidak mudah dicabut

WAJAH

Simetris. Tidak ikterik Tidak cyanosis Tidak kaku Tidak ada parese

MATA

Alis simetris, rambut jarang Tidak ada oedem palpebra, konjungtiva sedikit anemis, sklera tidak ikterik Pupil bulat isokor Refleks cahaya langsung +/+ Refleks cahaya tidak langsung +/+

Telinga Bentuk normotia Serumen sedikit, tidak ada sekret Hidung Bentuk simetris Tidak ada sekret , pernafasan cuping hidung (-)

Mulut Bibir simetris, berwarna pucat, tidak kering, tidak cyanosis Gusi dan mukosa berwarna merah muda Tenggorokan Tidak dilakukan

Leher

Bentuk simetris. Trakea di tengah Tidak ada perbesaran tiroid Tidak ada kaku kuduk KGB tidak teraba

Paru

Bentuk simetris, gerak nafas simetris Tipe pernafasan abdomino - torakal Tidak ada retraksi sela iga Tidak dilakukan perkusi dan palpasi Auskultasi : suara nafas vesikuler, ronchi (-), wheezing (-)

Jantung

Ictus cordis tidak terlihat Bunyi jantung I dan II reguler Tidak ada murmur dan gallop

Abdomen
Inspeksi: Abdomen sedikit buncit, dinding supel Tidak ada dilatasi vena,Tidak ada benjolan Terdapat kolostomi pada dinding abdomen kiri dan feses yang yang keluar dari kolostomi. Palpasi: Terdapat distensi dinding abdomen Tidak ada perbesaran hepar, lien Perkusi: Tidak dilakukan Auskultasi: Bising Usus (+)

Ekstremitas Atas: Akral hangat, tidak ada oedem Mobilisasi aktif Ekstremitas Bawah: Akral hangat, tidak ada odMobilisasi Aktif Kelenjar Getah Bening Tidak ada pembesaran KGB

Status Lokalis
Regio Genitalia Penis (+), skrotum (+) Tidak terdapat lubang anus Regio perineal flat bottom

Pemeriksaan Laboratorium
Hematologi lengkap Hemoglobin Hematokrit Leukosit Trombosit Eritrosit VER HER KHER RDW Hasil 16,5 49 16,6 193 4,78 102,5 32,7 31,8 16,3 Nilai normal 15,2-23,0 44-72 9,4-34,0 150-440 4,30-6,30 98,0-122,0 33,0-41,0 31,0-35,0 11,5-14,5 Satuan g/dl % Ribu/ul Ribu/ul juta/ul Fl Pg g/dl %

Resume

Seorang bayi berusia 6 hari dengan keluhan tidak terdapat lubang anus saat lahir. BB lahir 2700 gram dengan panjang badan 48 cm. OS belum pernah BAB sejak lahir, BAK OS lancar. Keadaan umum pasien sakit ringan, kompos mentis. Suhu 36,50C, RR 48x/menit. Pada pemeriksaan fisik ditemukan distensi abdomen, tidak ada pembesaran hepar-lien, bising usus (+), tidak ikterik, tidak sianosis, gerak aktif.

Resume
Pada pemeriksaan hematologi tgl 1 November 2010, didapatkan hasil : Hemoglobin 16,5 g/dL; Hematokrit 49%; Leukosit 16.600/uL; Trombosit 193.000/uL; Eritrosit 4,78 juta/uL; VER 102,5 fl; HER 32,7 pg; KHER 31,8 g/dL; RDW 16,3 %

Diagnosis Kerja
Atresia ani tanpa fistel

PEMERIKSAAN ANJURAN
Foto abdomen dengan cara knee chest position

PENATALAKSANAAN

Telah dilakukan colostomy saat bayi berusia 3 hari di RSUP Fatmawati Terapi setelah dilakukan colostomy adalah cefotaxim 2x 100 mg dan Novalgin 3x300 mg

PENCEGAHAN
Konsumsi makanan yang bergizi selama ibu mengandung, hindari konsumsi alkohol, obat obatan Meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung folat dan zat besi. Dapat diberikan vitamin dan mineral bila perlu. Pemeriksaan kehamilan dengan teratur.

Prognosis

Ad Vitam Ad Fungsiolesa Ad Sanationam

:Bonam :Dubia ad Bonam :Bonam

Definisi

Atresi ani atau anus imperforata disebut sebagai malformasi anorektal, adalah suatu kelianan kongenital tanpa anus atau dengan anus tidak sempurna.

Anatomi

Patofisiologi

Atresia ani terjadi akibat kegagalan penurunan septum anorektal pada kehidupan embrional

Klasifikasi
MELBOURNE membagi berdasarkan garis pubococcygeus dan garis yang melewati ischii kelainan disebut: Letak tinggi, rectum berakhir diatas m.levator ani (m.pubococcygeus) Letak intermediet akhiran rectum terletak di m.levator ani Letak rendah, akhiran rectum berakhir di bawah m.levator ani

Diagnosis

Bayi cepat kembung antara empat sampai delapan jam setelah lahir Tidak ditemukan anus, kemungkinan ada fistula Bila ada fistula pada perineum (mekonium positif) kemungkinan letak rendah

Diagnosis
Pada bayi laki-laki dilakukan pemeriksaan perineum dan urin bila: Fistel perianal (+), bucket handle, anal stenosis, atau anal membran berarti atresia letak rendah, minimal PSARP tanpa kolostomi Mekonium (+), atresia letak tinggi, dilakukan kolostomi terlebih dahulu dan delapan minggu kemudian dilakukan tindakan definitif

Diagnosis
Apabila pemeriksaan di atas meragukan dilakukan invertogram. Bila: Akhiran rektum < 1 cm dari kulit, disebut letak rendah Akhiran rektum > 1 cm dari kulit, disebut letak tinggi

Diagnosis
Pada bayi perempuan 90% atresia ani disertai dengan fistel. Bila ditemukan: Fistel perianal (+), minimal PSARP tanpa kolostomi Fistel rektovaginal atau rektovestibuler, kolostomi terlebih dahulu Fistel (-), inventogram :
Akhiran < 1 cm dari kulit dilakukan PSARP Akhiran > 1 cm dari kulit dilakukan kolostomi terlebih dahulu

Penatalaksanaan
LEAPE 1987 menganjurkan pada:

Atresia letak tinggi dan intermediet dilakukan sigmoid kolostomi, setelah 6-12 bulan baru dilakukan tindakan definitif (PSARP) Atresia letak rendah dilakukan perianal anoplasty, dimana sebelumnya dilakukan tes provokasi dengan stimulator otot untuk identifikasi batas otot sphincter ani eksternus Bila terdapat fistula dilakukan cut-back incicion Stenosis ani cukup dilakukan dilatasi rutin, berbeda dengan vena dimana dikerjakan minimal PSARP tanpa kolostomi

Tindakan kolostomi pada atresia ani

Kolostomi adalah pembuatan lubang sementara atau permanen dari usus besar melalui dinding perut untuk mengeluarkan feses Tipe kolostomi yang dapat digunakan pada bayi dengan atresia ani adalah kolostomi loop yaitu dengan membuat suatu lubang pada lengkung kolon yang dieksteriorisasi

Posterosagital Anorectoplasty (PSARP)

Suatu tindakan operasi definitif pada pasien atresia ani dengan tehnik operasi menggunakan irisan kulit secara sagittal mulai dari tulang koksigeus sampai batas anterior bakal anus

Macam-macam PSARP

Minimal PSARP Limited PSARP Full PSARP

MINIMAL PSARP
Tidak dilakukan pemotongan otot levator maupun vertical fibre, yang penting adalah memisahkan common wall untuk memisahkan rektum dengan vagina dan yang dibelah hanya otot sfingter eksternus. indikasi : dilakukan pada fistula perineal, anal stenosis, anal membran, bucket handle dan atresia ani tanpa fistula yang akhrian rektum kurang dari 1 cm dari kulit.

Limited PSARP
Yang dibelah adalah otot sfingter eksterns, muscle fiber, muscle complex serta tidak membelah tulang coccygeus. Yang penting adalah diseksi rektum agar tidak merusak vagina. indikasi : atresia ani dengan fistula rektovestibuler

Full PSARP
Dibelah otot sfingter eksternus, muscle complex, dan coccygeus indikasi : atresia ani letak tinggi dengan gambaran invertogram gambaran akhiran rektum lebih dari 1 cm dari kulit, pada fistula rektovaginalis, fistula rektouretralis, atresia rektum dan stenosis rektum.

Teknik operasi

Dilakukan dengan general anestesi, dengan endotrakeal intubasi, dengan posisi pasien tengkurap dan pelvis ditinggikan Stimulasi perineum dengan alat pena muscle stimulator untuk identifikasi anal dimple. Insisi bagian tengah sacrum ke arah bawah melewati pusat sphincter dan berhenti 2 cm di depannya Dibelah jaringan subkutis, lemak, parasagital fiber dan muscle compleks. Os coccygeus dibelah sampai tampak m. levator, dan m. levator dibelah tampak dinding belakang rectum Rektum dibebaskan dari jaringan sekitarnya Rektum ditarik melewati levator, muscle compleks dan parasagital fiber Dilakukan anoplasty dn dijaga jangan sampai tension.

Perawatan pasca operasi PSARP

Antibiotik intra vena diberikan selama 3 hari, salep antibiotik diberikan selama 8-10 hari 2 minggu pasca operasi dilakukan anal dilatasi dengan Heger dilatation, 2 kali sehari dan tiapa minggu dilakukan anal dilatasi dengan anal dilator yang dinaikkan sampai mencapai ukuran yang sesuai dengan umurnya.

Umur
1-4 bulan 4-8 bulan 8-12 bulan 1-3 tahun 3-12 tahun >12 tahun

Ukuran
#12 #13 #14 #15 #16 #17

Variabel

Kondisi
1-2x sehari 2 hari 1x 3-5x hari sekali 3 hari sekali >4 hari sekali Tidak pernah Kadang-kadang Terus menerus Normal Lembek Encer Terasa Tidak terasa

Skor
1 1 2 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2

1 2 3 4 5 6 7

Defekasi

Kembung

Konsistensi

Perasaan ingin BAB

soiling

Tidak pernah Terjadi bersama flatus Terus menerus >1 menit <1 menit Tidak bisa menahan Tidak ada Komplikasi minor Komplikasi mayor

1 2 3 1 2 3 1 2 3

Kemampuan menahan feses keluar

Komplikasi

Penilaian hasil skoring : Nilai scoring 7-21 7 = sangat baik 8-10 = baik 11-13 = cukup >14 = kurang

prognosis
1. Dengan menggunakan klasifikasi di atas dapat dilakukan evaluasi fungsi klinis: kontrol feses dan kebiasaan buang air besar; sensasi rektal dan soiling; kontraksi otot yang baik pada colok dubur. 2. Evaluasi psikologis Fungsi kontinensi tidak hanya tergantung integritas atau kekuatan sfingter atau sensasi saja, tetapi tergantung juga pada bantuan orang tua dan kooperasi serta keadaan mental penderita.

Anda mungkin juga menyukai