Anda di halaman 1dari 65

sumiyatiftpunud@gmail.

com

Definisi Subak

IRIGASI SUBAK

Tinjauan Sejarah

Ciri-ciri Subak Subak Sebagai Suatu Sistem Irigasi Tugas/Fungsi Subak

Definisi Subak
Perda Propinsi Daerah tk I Bali, No. 2 th 1972 tentang irigasi daerah Bali, 1972 dirumuskan sebagai berikut :
Subak adalah masyarakat hukum adat di Bali yang bersifat sosioagraris-religius, yang secara historis didirikan sejak dulu kala dan berkembang terus sebagai organisasi penguasa tanah dalam bidang pengaturan air dan lain-lain, persawahan dari suatu sumber air di dalam suatu daerah.

Peraturan Pemerintah No. 23 th 1982, tentang irigasi sebagai berikut :


Subak adalah masyarakat hukum adat yang bersifat sosio-agrarisreligius yang secara historis tumbuh dan berkembang sebagai suatu organisasi dibidang tata guna air di tingkat usaha tani

CULTURE LANDSCAPE OF BALI PROVINCE: The Subak System as an Manifestation of the Tri Hita Karana

Subak
a farmer organization which : - manages water irrigation in a rice field, - get water supply from a certain source, - manages at least one subak temple, and - self governing association

Tinjauan Sejarah

Dalam perjalanan sejarah Bali (hasil penelitian), diketahui bahwa pertanian dengan sistem persawahan dan tegalan yang teratur, telah ada di Bali pada tahun 882 M.

Hal ini berdasarkan pada Prasasti Sukawana AI tahun 882 M.


Pada prasasti tersebut disebutkan kata huma yang berarti sawah dan perlak yang berarti tegalan.

Tinjauan Sejarah
pengaturan air persawahan yang teratur di Bali sudah ada pada abad IX, hal ini didasarkan pada kata-kata yang terdapat pada prasasti Bebetin AI tahun 896 M yaitu kata-kata :

undagi lancang tukang membuat perahu undagi batu tukang mencari batu undagi pengarung tukang membuat terowongan air
Terowongan air dalam bahasa bali sampai sekarang disebut aungan, dimana kata aungan berasal dari bahasa bali kuno : arung. Pada masa tersebut sudah ada ukuran pembagian air untuk sawah-sawah yang disebut kilan, yang dalam bahasa bali sekarang disebut tektekan yeh yaitu ukuran air untuk sawah-sawah.

Prasasti lain yang memberikan petunjuk tentang perkembangan sistem pertanian di Bali adalah prasasti Trunyan A tahun 891 M. Pada prasasti tersebut terdapat kata ser danu yang artinya kepala urusan air danau (Danau Batur dalam konteks pengairan sawah-sawah di Bali yang menggunakan air dari danau Batur).

Dalam pekembangannya kata ser berubah menjadi kata pekaseh, yaitu orang yang mengatur penggunaan dan pembagian air untuk sawahsawah dalam kompleks tertentu di Bali pada suatu wilayah subak.

Selain itu juga ditemukan Prasasti Pandak Badung tahun 1071 M. Pada prasasti ini menyebut kata tembuku galeng yaitu empangan air untuk disalurkan ke sawah-sawah. Juga untuk pertama kaliterdapat kata kasuwakan, yang sekarang menjadi kata kasubakan atau subak di Bali. Atas dasar keterangan-keterangan dalam prasasti tersebut, maka sistem pertanian yang secara teratur telah ada di Bali tahun 882 M dan pada tahun 1071 M di Bali sudah dikenal adanya subak. Ketika Bali berada di bawah pengaruh Majapahit yang dimulai dari tahun 1343, maka sistem pengelolaan pertanian di Bali mengalami perkembangan lagi, dengan diangkatnya seorang asedahan yang bertugas mengkoordinasikan beberapa subak (sekarang sedahan).

Pada jaman penjajahan Belanda, kehidupan subak tetap terpelihara, karena pemerintahan Belanda melihat bahwa subak merupakan suatu lembaga tradisional yang sangat efektif digunakan untuk memungut pajak pertanian.
Prosedur dan struktur pemungutan pajak dilakukan melalui suatu jenjang yaitu : - subak sebagai unsur terbawah - di atas subak adalah pekaseh - di atas pekaseh adalah sedahan - dan di atas sedahan adalah sedahan agung.

Pada masa kemerdekaan hingga sekarang, terjadi perkembangan sistem pertanian di Bali yang diorganisasikan oleh subak-subak, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
kuantitatif : 1971 1193 subak 1976 1274 1978 1283 1984 1283 1991 1331 kualitatif : tata organisasi subak yang semakin rapi.

Azas pada Sistem Subak


Tri Hita Karana
Parahyangan
Pawongan Palemahan

Pekaseh Subak

Wakil Kelian Subak

Bendahara

Sekretaris

Juru Arah

Strength : Flexible. Good governance. Able to adapt new technology Able to adapt dynamic culture surrounding. Weaken : Not strong enough to bare intervention.

Ciri-ciri Subak
1. Sebagai suatu organisasi, subak mempunyai pengurus dan aturan-aturan keorganisasian (awig-awig) baik tertulis maupun tidak tertulis. 2. Subak mempunyai sumber air bersama 3. Subak mempunyai suatu areal persawahan 4. Subak bersifat otonom Internal (dalam hal mengurus kepentingan rumah tangganya sendiri, tercermin dari adanya awig-awig serta mengelola keuangan sendiri) External (bebas mengadakan hubungan langsung dengan pihak luar secara mandiri

5. Mempunyai satu atau lebih Pura Bedugul (untuk memuja Dewi Sri, manifestasi Tuhan sebagai Dewi Kesuburan)

1. Sebagai suatu organisasi


Pekaseh

Wakil Pekaseh

Juru arah

Anggota

Susunan organisasi Subak sederhana

Susunan organisasi Subak kompleks

Balai Subak

Rapat pengurus bersama anggota subak

sumber air

sumber air

Pura Subak

Pura Bedugul (pada masing-masing lahan krama subak)

Hamparan persawahan

Tugas/Fungsi Subak

Pencarian dan distribusi air irigasi Operasi dan pemeliharaan fasilitas Mobilisasi sumber daya Penanganan persengketaan Kegiatan upacara/ritual

Pencarian dan distribusi air irigasi


Dalam usaha mendapatkan air irigasi dari suatu sumber, subak membangun berbagai fasilitas irigasi

Air yang telah didapat tersebut, harus didistribusikan kepada segenap anggota (lebih lanjut akan dibahas dalam sistem pembagian air irigasi subak)

distribusi air irigasi


dasar yang umum untuk menentukan hak atas air bagi anggotanya :

Atas dasar luas sawah Volume air yang diterima anggota proporsional terhadap luas sawah yang dimiliki dibandingkan dengan luas sawah petani yang lain Atas dasar tektek Debit air yang diterima ditentukan oleh kontribusi petani dalam kegiatankegiatan subak, tanpa memperhatikan luas sawah Kombinasi Kuota debit air yang berhak diterima oleh krama subak diatur dalam awigawig subak. Misal : setiap krama subak mendapatkan kuota 1 tektek untuk luasan 50 are (dapat berbeda utk tiap subak), maka jika memiliki lahan kurang atau lebih luas dari kuota tersebut, ybs berhak mendapatkan atau memberikan kompensasi tertentu (Pengampel) dari atau ke subak.

pengertian konsep tektek


pada awalnya pimpinan subak harus tahu persis

tentang berapa tenah luas


areal sawah pada suatu kawasan tertentu pada

subak yang bersangkutan.


Kemudian ditentukan, berapa tektek air yang

harus dialirkan ke kawasan


tersebut.

Contoh : pembagian air pada suatu komplek persawahan A yang luasnya 10 tenah, dan di komplek B seluas 15 tenah maka komplek A dan B masingmasing akan mendapatkan 10 tektek dan 15 tektek Langkah selanjutnya tergantung dari luas saluran yang ada, di tempat mana nantinya akan dibangun bangunan bagi (tembuku) lebar saluran itu akan dibagi menjadi 25 unit dengan bantuan seutas tali atau benda lainnya yang dianggap baik

Tali akan dilipat-lipat menjadi 25 bagian (10 bagian + 15 bagian). praktis setiap bagian/unit dari lipatan itu adalah merupakan satu tektek Kalau seandainya lebar saluran yang akan dimanfaatkan untuk bangunan bagi kurang memadai, maka di tempat yang akan dibangun bangunan bagi, salurannya akan diperlebar sesuai dengan kesepakatan subak yang bersangkutan.

Satu satuan air yang menuntut adanya kontribusi tenaga kerja (ayahan) satu orang tenaga kerja pada setiap kegiatan subak serta kontribusi materi atau uang yang juga satu porsi

Suatu debit air yang melalui bangunan pengukur debit yang dibuat dari kayu dengan lebar 4 jari (6-7 cm) dan tebal 2-3 cm.
Satu tektek air dapat digunakan untuk mengairi luasan sawah yang ditanami bibit satu tenah Satu tenah bibit dapat ditanamkan pada lahan seluas 0,3-0,5 ha, beratnya 25-30 kg didasarkan atas daya kemampuan seorang wanita untuk menjunjungnya dari sawah ke tempat penyimpanan (lumbung) Satu kecor : luasan lahan yang diairi satu tektek air

Tembuku untuk 0,5 tektek air

Satu tektek dalam subak menggunakan ukuran 3 dimensi : Lebar ambang bangunan bagi Tinggi air yang melimpah lewat ambang tersebut Kecepatan alirannya Tinggi air dibuat sama dengan cara membuat dasar lubang ambang sama elevasinya. Sedangkan kecepatan aliran air dibuat sama dengan cara membuat bangunan pembagi yang sejajar dengan arah aliran air (numbak), jika bangunan bagi ke samping disebut ngerirun

Tugas :
Sumber air dan sistem distribusi One inlet and one outlet system Sistem operasional dan perawatan jaringan irigasi

Operasi dan pemeliharaan fasilitas


Subak harus mengoperasikan fasilitas irigasi yang dimiliki untuk menjamin adanya pembagian air sesuai dengan peraturan yang telah disepakati. Misalnya pengoperasian pintu air pada bangunan bagi. Subak juga melakukan pemeliharaan secara berkala atas berbagai fasilitas irigasi yang dimiliki, sehingga dapat berfungsi dan beroperasi dengan baik Operasi dan pemeliharaan terhadap fasilitas irigasi umumnya hanya dilakukan oleh petani pemakai fasilitas tersebut. Contoh : - pemeliharaan jaringan utama tanggung jawab semua anggota - untuk saluran yang lebih kecil (tersier), menjadi tanggung jawab para pamakai (tempekan)

a.

Pada kaki bendung timbunan tanah, akibat bocoran dan longsoran


Bangunan pokok (empangan) yang dibuat dari tumpukan batu guling sering jebol atau rusak oleh banjir

b.

c.

Pada saluran utama, oleh karena penyadapan bebas, pada saat banjir sebagian besar air mengalir ke saluran utama / primer sehingga melebihi kapasitas tampung sehingga terjadi kerusakan tanggul saluran Kerusakan pada aungan / terowongan
oleh pengikisan air karena pada saat banjir banyak air yang mengalir dalam terowongan dengan kecepatan tinggi sehingga mengubah bentuk / profil terowongan. Sering tertimbun oleh guguran dari puncak aungan

d.

Kerusakan pada saluran a / e : a. Saluran sering longsor Karena dibangun pada tebing dan dengan kondisi tanah yang lunak dan tikungan tajam b. Saluran / tanggul rusak Karena aliran air melewati kapasitas tampung f. Kerusakan pada tembuku a. Pada fondasi Oleh gerusan, gaya angkat b. Pada payal pemisah 2 saluran dihilir tembuku Oleh gerusan aliran air
e.

Mobilisasi sumber daya


Sarin tahun Paturun Kontrak bebek Dedosan Bantuan pemerintah

Dana-dana tersebut digunakan untuk : perbaikan dan pemeliharaan fasilitas irigasi perbaikan dan pemeliharaan fasilitas subak pelaksanaan upacara-upacara keagamaan yang terkait dengan subak.

Penanganan persengketaan
Sengketa biasanya bersumber pada :
masalah air irigasi batas-batas tanah sawah hewan peliharaan yang merusak tanaman orang lain

Kegiatan upacara/ritual
Ngendagin (memasukkan air ke sawah) Ngurit / ngawiwit (saat menabur benih di pembibitan) Newasen (saat menanam padi) Neduh ( saat padi berumur 35 hari) Biukukung (saat padi bunting) Banten manyi (saat mulai panen) Mantenin (saat padi di simpan di lumbung)

Ditingkat tempekan, subak, dan subak gede, upacara yang dilakukan umumnya meliputi :
Mendak toya / magpag toya : upacara pada saat mulai mencari air untuk pertama kali sebelum musim tanam padi Mebalik sumpah : dilakukan pada saat padi berumur sekitar 2 minggu Merebu : dilaksanakan menjelang panen Ngusaba : dilaksanakan setelah selesai panen Nangluk merana : bila ada hama dan penyakit berbahaya yang menyerang padi Pakelem : dilaksanakan sewaktu-waktu, bergabung dengan subak lain Odalan pada berbagai pura yang disungsung oleh subak.

Kegiatan upacara agama di subak


Subak-subak dari berbagai DI / DAS ngusaba, pakelem, Ritual kegiatan upacara agama Kolektif Subak-subak dalam Anggota dalam lingkungan satu DI lingkungan satu tempek / subak magpag toya, nyungsung, magpag toya, muat emping, mewinih, pengwiwit, nuasen/tandur, nyaeb, nyungsung, manik sumpah, biukukung/miseh/ penampehan, ngusaba nini/nguntap sri, mebalik sumpah. Individual ngendagin (nuasen tedun), pengwiwit (ngurit), nuasen (nandur, mabulihan, nuasen nandur), ngulapin, ngeroras, mubuhin, neduh, nyungsung (ngiseh, ngelanus, pengelanus, dedinan), biukukung, nyiwa sraya, ngusaba (mesaba/ngusaba nini/nyaupin/nyeetin/ngetusin /nguntap Sri/mantenin Betara Sri), mebanten manyi, ngerasakin, mantenin (odalan ring jineng), ngerestiti (nangluk merana).

magpag toya, ngerestiti, piodalan, neduh, melasti, maturan tipat, brata penyepian, maturan brem, nangluk merana, piodalan, nyungsung. nyawang, penampehan (biukukung), nangluk merana.

Subak Sebagai Suatu Sistem Irigasi


Sebagai Suatu Sistem Irigasi Subak dapat dipandang dari segi fisik dan dari segi sosial Secara fisik Subak adalah hamparan persawahan dengan segenap fasilitas irigasi Secara sosial Subak adalah organisasi petani irigasi yang otonom.

Gatra fisik subak


Jaringan irigasi subak memiliki komponen-komponen pokok :
a. Empelan (bendung/dam) : bangunan pengambilan air dari sumbernya (sungai) b. Saluran terbuka (telabah) dan atau Terowongan (aungan) - Telabah Aya (saluran primer) - Telabah Gede (saluran sekunder) - Telabah Pemaron (saluran tersier) - Telabah Penyahcah (saluran kuarter) - Tali Kunda (saluran individual) c. Bangunan Pembagi air (Tembuku) - Tembuku Aya (Bangunan bagi primer) - Tembuku Gede (Bangunan bagi sekunder) - Tembuku Pemaron (Bangunan bagi tersier) - Tembuku Penyahcah (Bangunan bagi kuarter) - Tembuku Pengalapan (Bangunan pemasukan air individu) d. Bangunan Pelengkap - Penguras (Flusting) - Pekiuh (Overflow) - Petaku (Bangunan terjun) - Talang (abangan) - Gorong-gorong (jengkuwung) e. Saluran pembuangan air berlebih : Telabah Pengutangan / Pangkung

Empelan (bendung/dam)

Telabah Aya

Telabah Pemaron

Terowongan (aungan)

Bangunan Pembagi air (Tembuku)

Tembuku Pengalapan

Gatra kelembagaan subak


Organisasi Subak Anggota Pengurus

Krama / anggota Subak


Krama pengayah (anggota aktif)/krama pekaseh/seka yeh anggota subak yang secara aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan subak Contoh : gotong royong pemeliharaan dan perbaikan fasilitas subak aktif dalam upacara-upacara keagamaan yang dilakukan oleh subak aktif dalam rapat-rapat subak

Krama pengampel / krama pengoot (anggota pasif)


Anggota anggota yang karena alasan-alasan tertentu tidak terlibat secara aktif dalam kegiatan-kegiatan (ayahan) subak. Sebagai gantinya mereka membayar dengan sejumlah uang / beras sesuai kesepakatan. Krama leluputan (anggota khusus) Anggota subak yang dibebaskan dari kewajiban-kewajiban subak karena memegang jabatan tertentu dalam masyarakat (pemangku, sulinggih, bendesa adat, perbekel)