Anda di halaman 1dari 155

PIH / PHI

A.

LATAR BELAKANG
Maksud diberikannya mata kuliah ini adalah untuk memberikan pengetahuan dasar dan pengertian dalam mempelajari hukum dan pengantar dalam mempelajari hukumhukum yang berlaku di Indonesia (Hukum

Positif)

B.

BATASAN DAN RUANG LINGKUP


:

- PENGANTAR

> Mengantar membawa ketempat yang dituju (Inleiding,Introduction) ; - ILMU HUKUM : > - Ilmu Pengetahuan yang obyeknya Hukum ; - Cross : Segala Pengetahuan

yang mempelajari hukum dalam segala

- Curzon : Ilmu yang mencakup dan

membicarakan segala hal yang berhubungan dengan hukum ; Ilmu yang akan mempelajari seluk beluk mengenai hukum

a. PIH
> * Pelajaran Dasar bagi setiap orang yang akan mempelajari hukum yang sangat luas ruang lingkupnya. ; * Memberikan dan menanamkan tentang

pengertian-pengertian dasar dari berbagai


istilah/terminologi dalam ilmu hukum ; > Pelajaran Dasar yang bertujuan untuk memperkenalkan Ilmu Hukum secara keseluruhan, dalam garis besarnya.

b. PHI
> Pelajaran Dasar yang mempelajari

Hukum Positif Indonesia sebagai suatu


sistim hukum yang sedang berlaku di Indonesia misalnya : H. Perdata, H. Pidana, H. Acara Per/Pid, HTN, HAN, H. Agraria

Persamaan: Keduanya merupakan M.P. Dasar Perbedaan : Terletak pada obyeknya

PIH : Hukum pada umumnya/universal, tidak dibatasi waktu dan tempat tertentu PHI : Dibatasi Waktu dan Tempat, H. Positif Indonesia, Hukum yang sedang berlaku di Indonesia, saat ini

Hubungan antara PIH dan PHI >

PIH : mendukung/menunjang setiap orang yang akan mempelajari Hukum Positif Indonesia

1. MANUSIA DAN MASYARAKAT ( HUBUNGAN MASYARAKAT DAN HUKUM)


Hukum tidak lepas dari kehidupan manusia, maka untuk membicarakan hukum kita tidak dapat lepas dari kehidupan manusia ;

- Sesuai dengan kodratnya, manusia tidak dapat


hidup sendiri. - Manusia selalu hidup bersama, berkelompok

karena manusia tidak dilengkapi dengan


sarana yang cukup untuk memenuhi semua kebutuhan dasarnya.

ARISTOTELES (Filsuf Yunani) : Manusia adalah mahluk sosial /zoon Politicon, manusia adalah mahluk yang selalu ingin bergaul dan berkumpul

dengan manusia yang lain, suka


bermasyarakat.

- Masyarakat :
- Merupakan suatu kehidupan bersama yang

terorganisir untuk mencapai tujuan bersama ;


- Terbentuk bila ada dua orang/lebih, hidup

bersama, sehingga menimbulkan berbagai


hubungan yang mengakibatkan saling kenal

dan saling mempengaruhi

KESIMPULAN
-

Tidak ada manusia yang hidup seorang diri lepas dari kehidupan bersama. Manusia tidak

mungkin berdiri di luar atau tanpa masyarakat.


Sebaliknya masyarakat tidak mungkin ada tanpa manusia. Hanya dalam kehidupan bersama manusia dimungkinkan memenuhi kebutuhankebutuhannya.

Faktor-Faktor yang mendorong agar manusia selalu hidup berkelompok/bermasyarakat :


(1) Faktor Ekonomi (2) Faktor Biologi

(3) Faktor Keamanan

2. * BENTUK MASYARAKAT
Masyarakat sebagai bentuk pergaulan hidup atau bentuk kehidupan manusia bermasyarakat, dapat dilihat dari berbagai hal, antara lain :
a). Menurut Dasar Pembentukannya.

Bentuk masyarakat dapat dibagi :


- Masyarakat Teratur yaitu :

masyarakat yang diatur dengan tujuan


tertentu (perkumpulan olah raga).

Masyarakat teratur yang terjadi dengan sendirinya , tidak dengan sengaja dibentuk, tapi masyarakat itu ada karena kesamaan kepentingan (penonton bioskop, penonton sepakbola dsb)

Masyarakat tidak teratur, masyarakat yang terjadi dengan sendirinya tanpa dibentuk (orang2 di pasar).

b) . Menurut dasar hubungan yang diciptakan


oleh para anggotanya :

1) Masyarakat Paguyuban (GEMEINSCHAFT) > masyarakat

yang anggota2nya, ada hubungan pribadi, sehingga menimbulkan ikatan batin (perkumpulan kematian, rumah tangga)

2. Masyarakat Patembayan (Gesellschaft), adalah masyarakat yang hubungan antara anggota2nya tidak bersifat kepribadian,

tetapi bersifat tugas dan bertujuan untuk


mendapatkan keuntungan

material/kebendaan (PT, FIRMA,


PERSEROAN, ORGANISASI KARYAWAN).

3. TATA HIDUP BERMASYARAKAT


Setiap manusia mempunyai sifat, watak, dan
kehendak sendiri-sendiri ; Saat berinteraksi dengan orang lain dalam

masyarakat adakalanya keputusan


keputusan tersebut bertentangan satu

dengan yang lain. Bentrokan2 ini apabila dibiarkan dapat menimbulkan perpecahan dalam masyarakat ; Karena itu gangguan2 tersebut harus dicegah ;

- Agar masyarakat menjadi teratur/tertib, anggotaanggotanya harus memperhatikan kaedah2/norma2/aturan yang ada dan hidup

dalam masyarakat;
- Peraturan-peraturan hidup tsb akan memberikan patokan2 , petunjuk, pedoman atau

ukuran kepada anggota masyarakat, mana perbuatanperbuatan yang boleh dilakukan, mana yang tidak boleh, sehingga anggota masyarakat tahu bagaimana harus

berperilaku atau bersikap dalam kehidupan bersama/bermasyarakat

Peraturan2 Hidup tsb disebut peraturan hidup


kemasyarakatan, kaedah atau norma ;

Jadi kaedah/norma adalah patokan atau pedoman untuk berperilaku/bersikap dalam hidup.

Dengan perkataan lain, kaedah/norma merupakan perumusan suatu pandangan mengenai perikelakuan atau sikap tindak.

4. MACAM-MACAM KAEDAH
Untuk Melindung kepentingan manusia dalam masyarakat, terdapat beberapa kaedah: 1. Kaedah hidup pribadi, mencakup : a. Kaedah Agama b. Kaedah Kesusilaan 2. Kaedah hidup antar pribadi, terdiri:

a. Kaedah kesopanan
b. Kaedah hukum

a. Kaedah Agama :
Peraturan yang berasal dari Tuhan, ;

Berisi perintah-perintah, laranganlarangan, dan anjuran-anjuran ;

Tujuannya untuk memberikan tuntunan dan petunjuk

kearah yang benar dalam kehidupan manusia


beriman Sanksi terhada pelanggaran kaedah agama akan mendapat hukuman dari Tuhan/dosa.

b. Kaedah Kesusilaan :
- Pedoman atau patokan yang berasal dari suara hati nurani manusia (manusia pribadi) ;

- Berisi perbuatan-perbuatan apa yang dianggap baik


atau yang dianggap buruk ; - Tujuannya agar terbentuk kebaikan akhlak pribadi ; - Sanksi terhadap pelanggaran kaedah hidup

kesusilaan adalah timbulnya rasa penyesalan,


malu, takut,rasa bersalah dalam hati/batin sipelaku.

c. Kaedah kesopanan
masyarakat ;

- Peraturan-peraturan yang berasaldari

- Berisi sikap tindak/peri kelakuan tertentu, yang sudah ditentukan sebagai sikap tindak

yang sopan atau tidak sopan


- Ditujukan kepada sikap lahir perilakunya yang konkrit - Bertujuan untuk membuat sedap hidup bersama (Pergaulan, pakaian, cara makan,bahasa)

- Sanksi terhadap pelanggaran kaedah kesopanan, adalah berupa celaan, teguran, cemoohan, pengucilan dari lingkungan masyarakatnya. Daerah berlakunya kaedah kesopanan ini sempit

,sopan santun disuatu daerah tidak sama dengan


daerah yang lain. Kaedah agama, kesusilaan, dan kesopanan pada hakekatnya hanya membebani manusia dengan kewajiban-kewajiban semata, tidak memberi hak.

d. Kaedah hukum : sebagai perlindungan kepentingan manusia,

kaedah agama, kesusilaan, dan kesopanan saja


belum cukup memuaskan, karena : - Masih ada kepentingan-kepentingan manusia yang belum diatur/mendapat perlindungan dari ketiga kaedah tersebut ;

Selain itu kepentingan-kepetingan manusia yang sudah mendapat perlindungan dari

ketiga kaedah tersebut pun, dirasa belum


cukup terlindungi, karena sanksi terhadap pelanggaran kaedah-kaedah tersebut dirasakan belum cukup memuaskan , perlu kaedah lain yaitu kaidah hukum

Kaedah hukum :

Peraturan-peraturan yang dibuat secara resmi oleh penguasa negara ;

Mengikat setiap orang dan berlakunya dapat dipaksakan oleh aparat negara ;

Sanksinya tegas dan konkrit..

Jadi Kaedah Hukum melindungi lebih lanjut kepentingan manusia baik yang sudah maupun yang belum mendapat perlindungan dari ketiga kaedah tersebut.

Kaedah Hukum, kecuali membebani


manusia dengan kewajiban-kewajiban juga

memberi hak.

Hubungan antara kaedah hukum dengan kaedah lainnya :


Kaedah hukum dapat dibedakan dari kaedah agama,
kesusilaan, dan kesopanan, tetapi tidak dapat dipisahkan. Keempat kaedah tersebut ada hubungan yang erat, isi masing-masing kaedah saling mempengaruhi, saling memperkuat. Perbedaan yang menonjol antara kaedah hukum dengan kaedah-kaedah yang lainnya tersebut adalah sanksinya yang bersifat memaksa.

5. PENGERTIAN HUKUM / APAKAH HUKUM ITU?


Para sarjana telah lama mencari suatu batasan/definisi tentang hukum, tapi belum ada yang dapat memberikan suatu definisi yang tepat dan lengkap. Immanuel Kant (Belanda) Kurang lebih 200 th yang lalu pernah menulis : DEFINISION ZU IHREM NOCH SUCHEN DIE JURISTEN EINE BEGRIFFE VON RECHT

( masih juga

para sarjana hukum mencari suatu definisi tentang

hukum ) Para sarjana memberikan definisi dari segi/sudut pandang yang berbeda (segi sejarah,sosial,ekonomi,filsafat sesuai keadilan

masing masing

Pendapat para sarjana tentang hukum ?

Apeldoorn

: yang dan

Tidak mungkin memberikan suatu definisi tepat tentang hukum selain banyak

seginya

luas cakupannya, hukum itu


berkembang sesuai dengan

dinamis, selalu

perkembangan/kemajuan masyarakat.

- Lemaire

: karena

Hukum sulit didefinisikan secara tepat

hukum mempunyai segi dan bentuk yang sangat


banyak.

Tapi hukum sangat penting bagi kehidupan manusia, karena hukum mengatur hubungan hubungan antara sesama manusia/anggota masyarakat :

> Timbul dua pendapat

1) Hukum perlu di definisikan, karena definisi dapat membantu orang-orang yang akan

mengetahui/mempelajari hukum, walaupun


definisi hukum sebagai pegangan, ;

2). Hukum tidak perlu didefinisikan, karena

akan

membingungkan orang-orang yang akan mempelajari

hukum.

6. Definisi-definisi hukum ( sebagai pegangan ) - Man in the stret.?

Prof. Mr. E.M. Meyers :


* Semua aturan yang mengandung pertimbanganpertimbangan kesusilaan ; * Ditujukan untuk tingkah laku manusia dalam masyarakat, dan * Sebagai pedoman bagi penguasa negara dalam menjalankan tugasnya.

Immanuel Kant

* Keseluruhan syarat-syarat * Agar kehendak bebas dari orang yang satu dapat menyesuaikan diri dengan kehendak bebas orang lain.

- Drs. E. Utrecht : * Himpunan peraturan-peraturan yang berisi perintah dan larangan ; * Yang mengatur tata tertib suatu masyarakat dan ; * Harus ditaati oleh masyarakat.

S.M. Amin, SH :

* Kumpulan peraturan-peraturan ;
* Untuk ketertiban dalam pergaulan manusia

- JCT Simorangkir & Moeryono, SH : * Peraturan-peraturan yang bersifat memaksa ; * Menentukan tingkah laku manusia

dalam masyarakat ;
* Dibuat oleh instansi resmi/berwenang ; * Pelanggarannya akan mendapat hukuman tertentu.

- MH Tirtaamidjaja, SH : * Semua aturan-aturan yang harus diikuti dalam pergaulan hidup; * Ada ancaman terhadap pelanggarannya

7. Unsur-Unsur Hukum
Dari definisi definisi tersebut dapat di simpulkan bahwa hukum mengandung beberapa unsur :

a. Peraturan-peraturan mengenai tingkah laku


manusia dalam pergaulan masyarakat ; b. Dibuat oleh instansi resmi yang berwenang ; c. Bersifat memaksa ; d. Sanksi terhadap pelanggarannya, tegas.

8. Ciri Ciri Hukum a. Berisi perintah dan/atau larangan ; b. Perintah/larangan tersebut harus dipatuhi setiap orang ; c. Ada sanksi hukum yang tegas.

9. Sifat Hukum Mengatur dan memaksa/sanksi yang tegas.

10. TUJUAN HUKUM


Dalam fungsinya sebagai pelindung kepentingan manusia,

hukum mempunyai tujuan, mempunyai sasaran yang ingin


dicapai. Adapun tujuan pokok hukum adalah menciptakan tatanan

masyarakat yang tertib, menciptakan ketertiban dan


keseimbangan, agar kepentingan manusia dapat terlindungi. Dalam mencapai tujuannya tersebut hukum bertugas membagi hak dan kewajiban antar perorangan dalam masyarakat, serta memelihara kepastian hukum

Dalam literatur dikenal beberapa teori tentang tujuan Hukum :

A. Teori Etis (Geny) :


Hukum semata-mata bertujuan untuk mewujudkan keadilan. isi hukum ditentukan oleh keyakinan kita yang etis tentang yang adil dan yang tidak adil.

Apakah keadilan itu ?

keadilan menyangkut :
(1) Hakekat Keadilan,
yaitu penilaian terhadap suatu tindakan dengan mengkajinya dengan suatu norma yang menurut

pandangan subjektif

(subjektif untuk keputusan

kelompok/golongan) melebihi
dan

norma-norma yang lain,

(2) Isi keadilan.

Menurut Aristoteles ada 2 macam keadilan : Keadilan Distributif (Justitia Distributiva)

> Keadilan yang menuntut bahwa setiap orang mendapat apa yang menjadi hak/sesuai jasanya. Jadi adil disini ialah bila setiap orang

mendapatkan

hak/jatahnya secara proforsional

sesuai misal : pendidikan, kedudukan,kemampuan dsbnya. > Jadi disini bukan kesamaan yang dituntut tetapi perimbangan.(profisional......)

- Keadilan Komutatif (Justitia Commutativa) >


Keadilan yang memberikan kepada setiap orang

bagian yang sama banyaknya.


> > Jadi disini yang dituntut adalah kesamaan

yang adil ialah bila setiap orang diperlakukan sama

tanpa memandang kedudukan dsb.


Catatan : Justitia Distributiva merupakan urusan pembentuk Undangundang sifatnya Proporsional sedangkan justitiv Commutativa merupakan urusan hakim.Keadilan Komutatif memperhatikan kesamaan maka sifatnya mutlak. Keadilan Distributif sifatnya profesional

B. Teori Utilities (Bentham) >


Hukum bertujuan hanya untuk mewujudkan apa yang

bermanfaat bagi manusia, menjamin kebahagiaan yang


terbesar bagi manusia

C. Teori Campuran, >


Menurut Mochtar Kusumaatmadja tujuan pokok dan pertama dari hukum adalah ketertiban dan tercapainya keadilan.

Tujuan Hukum menurut Ahli Hukum :

1. Prof. Van Apeldoorn :


- Mengatur pergaulan hidup manusia secara
damai, hukum menghendaki perdamaian.

2 . Prof. Van Kant :


Hukum bertujuan menjaga kepentingan setiap orang supaya kepentingan kepentingan tersebut tidak diganggu > menjamin kepastian hukum.

3. Prof. Soebekti :
hukum bertujuan mencari keseimbangan antara pelbagai kepentingan yang saling bertentangan untuk mendapatkan keadilan dan Juga harus mendapatkan kepastian hukum.

Tujuan Hukum Menurut Hukum Positif kita menjamin


adanya keadilan , kemanfaatan dan kepastian hukum

1. SUMBER SUMBER HUKUM


- Dimanakah Hukum dapat ditemukan? atau - Dimanakah Hakim dapat mencari/menemukan

hukumyang dapat digunakannya sebagaidasar


putusannya? Atau

- Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa suatu peraturan tu mempunyai kekuatan yang mengikat atau berlaku ?

- SUMBER HUKUM
Segala apasaja yang menimbulkan aturan- aturan yang mempunyai kekuatan yang memaksa, yaitu aturan aturan yang dilanggar mengakibatkan sanksi yang bersifat kalau tegas

dan nyata.Jadi pada hakekatnya sumber hukum


adalah tempat kita dapat menemukan atau

menggali hukumnya

- AlGRA, membagi sumber hukum dalam :


1. Sumber Hukum Materiel > tempat darimana materi hukum di ambil (hubungan sosial, politik, ekonomi,

tradisi, agama, kesusilaan, geografis, dsbnya)

2. Sumber Hukum Formil > Tempat/Sumber dari mana suatu peraturan memperoleh kekuatan hukum > ini berkaitan dengan cara terjadinya/terciptanya hukum

positif.

- Achmad Sanusi, membagi sumber hukum dalam :


1. Sumber Hukum Normal, yang terdiri dari : a. Yang langsung diakui Undang undang, yaitu UU, Traktat & Kebiasaan;

b. Yang tidak langsung diakui UU, yaitu Perjanjian,


Doktrin, dan Yurisprodensi; 2. Sumber Hukum Abnormal, yaitu : a. Proklamasi b. Revolusi

c. Coup DEtat

Sumber Hukum Formil :


1. Undang-undang/Statute : Undang-undang adalah peraturan hasil kerja lembaga legistatif > Undang undang adalah peraturan negara,

mempunyai kekuatan hukum yang mengikat, diadakan


dan dipelihara oleh penguasa negara.

Undang-undang dapat dibedakan atas : (1) UU dalam arti materil :

Merupakan keputusan atau ketetapan yang di lihat dari

isinya disebut UU dan mengikat setiap orang/penduduk secara umum.


2. UU dalam Arti Formil >

Setiap keputusan penguasa yang dilihat dari bentuk dan

cara pembuatannya/terjadinya disebut UU.

* Syarat berlakunya suatu UU > Kekuatan mengikatnya suatu UU:


- Di Undangkan dalam LN, oleh Menteri - Sekretariat Negara, agar dapat diketahui ssetiap orang; - Tanggal mulai berlakunya, adalah menurut tanggal yang ditetapkan/dotentukan dalam UU tsb;

- Bila tidak disebutkan dalam UU, maka tanggal mulai


berlakunya adalah 30 hari setelah doundangkan dalam LN;

- Berlaku asas/Fiksi Hukum > setiap orang dianggap telah


mengetahui adanya suatu UU

* Suatu UU Tidak Berlaku lagi, Jika :


- Jangka waktu berlakunya telah lewat; - Keadaan/hal yang diatur oleh UU tsb sudah tidak ada lagi;

- Dicabut oleh instansi yang membuat UU atau yang


lebih tinggi; - Telah dibuat UU yang baru yang isinya bertentangan dengan UU yang lama.

* Asas Tentang Berlakunya UU


- UU tidak berlaku surut (pasal 1 ayat 1 KUHP) - UU yang dibuat oleh instansi yang lebih tinggi mempunyai kedudukan yang lebih tinggi; - UU yang bersifat khusus mengenyamping kan UU yang bersifat Umum (lex specialis derogat lex generalis);

pasal 1 ayat 2 - UU yang berlaku belakangan/kemudian membatalkan UU

yang terdahulu (lex posteriore derogat lex priori)

- UU tidak dapat diganggu gugat. - Dapatkah UU dinilai dan dibatalkan? (Judicial Review);

Tata Urutan/Hierarkhi peraturan per UU di Indonesia (UU no. 12/2011)

1. UUD 45
2. Tap MPR 3. UU/ PERPU 4. PP 5. PERPRES 6. PERDA

- UUD 45
Memuat hukum dasar tertulis negara, merupakan hukum
dasar dalam peraturan per UU/ Sumber Hukum bagi pembentukan peraturan perundang undangan

- Tap MPR

* UU/PERPU :
UU dibentuk oleh DPR bersama Presiden untuk melaksanakan ketentuan UUD 45. PERPU ditetapkan oleh Presiden dalam hal/ikhwal

kegentingan yang memaksa, dengan ketentuan harus


diajukan ke DPR dalam persidangan yang berikut.

* PP
Dibuat oleh Pemerintah untuk melaksanakan perintah UU.

PERPRES
Dibuat oleh Presiden, berisi materi yang diperintahkan oleh

UU atau untuk melaksanakan PP.

PERDA
- Merupakan peraturan untuk melaksanakan aturan hukum diatasnya dan menampung kondisi khusus dari daerah

ybs;

PERDA dibentuk oleh DPRD dengan persetujuan bersama kepala daerah :


-PERDA Provinsi dibentuk oleh DPRD Prop/Tk.I bersama Gubernur. -Perda Kabupaten/Kota dibuat DPRD

Kabupaten/Kota bersama Bupati/Wali Kota


-Peraturan Desa/Setingkat, dibuat oleh Badan Perwakilan Desa bersama Kepala Desa/ Nama lainnya.

Selain itu ada jenis- jenis peraturan per UU yang lain yang diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum yang mengikat.

- Aturan Hukum yang lebih rendah, tidak boleh bertentangan dengan aturan hukum yang lebih tinggi.

2. Kebiasaan/Custom >
Merupakan sumber hukum yang tertua; Merupakan tindakan menurut pola tingkah laku yang

tetap/ajeg/lazim. Perbuatan yang dilakukan berulangulang (dalam hal yang sama) Perbuatan tersebut diterima oleh masyarakat. Kebiasaan tidak merupakan sumber hukum kecuali UU menetapkan demikian (diakui Pemerintah

/Negara).

3. Traktat/Perjanjian antar Negara


Perjanjian/Traktat merupakan Sumber Hukum dalam arti formal, karena harus memenuhi persyaratan-persyaratan

formal tertentu untuk dapat disebut Traktat/ Perjanjian


Internasional.Traktat bisa bilateral maupun multilateral. Dalam Traktat / Perjanjian ada suatu asas > Pacta Sunt Servada : Perjanjian mengikat pihak pihak yang mengadakannya/berlaku sebagai UU bagi ybs.

4. Yurisprudensi/Keputusan-Keputusan Hakim >


Keputusan keputusan hakim yang dipakai sebagai dasar keputusan hakim yang lain, untk mengadili perkara yang serupa.

Macam macam Yurisprudensi;


1. Yurisprudensi Tetap > Keputusan hakim yang berulangkali digunakan kembali pada kasus-kasus yang serupa. Karena putusan tersebut selalu digunakan kembali maka

dikatakanlah yurisprudensi merupakan Sumber Hukum.


2. Yurisprudensi Tidak Tetap > Putusan putusan hakim yang belum masuk menjadi yurisprudensi tetap > jadi belum menjadi SH

5. DOKTRIN
Pendapat para Sarjana Hukum yang terkemuka yang besar pengaruhnya terhadap hakim dalam mengambil keputusannya. Jadi untuk menjadi Sumber Hukum Formil, Doktrin harus memenuhi syarat yaitu telah menjelma menjadi putusan hakim.

ASAS HUKUM - Satjipto Rahardjo


Mengatakan asas hukum adalah merupakan jantungnya Peraturan Hukum. KArena merupakan landasan yang luas bagi lahirnya suatu peraturan hokum

- Bellefroid :
Asas hokum adalah norma dasar yang dijabarkan dari hukum positif.

- V. Eikema Hommes:
Asas Hukum tidak boleh dianggap sebagai norma-norma

hokum yang kongkrit. Akan tetapi harus dipandang sebagai


dasar-dasar umum/petunjuk petunnjuk bagi hukum yang berlaku.

Dengan kata lain asas hukum ialah dasar-dasar atau


petunjuk dalam pembentukan hukum positif;

P.Scholden
Asas Hukum adalah kecendrungan-kecendrungan yang diisyaratkan oleh pandangan kesusilaan kita pada hukum.

Kesimpulan :
a. Asas Hukum bukan perupakan hukum konkrit, melainkan merupakan pikiran dasar yang umum dan abstrak, atau merupakan latar belakang peraturan konkrit yang terdapat dalam belakang setiap hukum yang terjelma dalam peraturan-peraturan perundang-undangan dan keputusan

hakim
b. Jadi asas hukum merupakan pikiran dasar peraturan

konkrit pada umumnya, bukan tersurat melainkan tersirat dalam kaedah/peraturan hukum konkrit

c. Asas Hukum mempunyai dua landasan yaitu: berakar kenyataan masyarakat, dan pada nilai-nilai yang dipilih sebagai pedoman dalam kehidupan bersama d. Asas Hukum tidak hanya memepengaruhi hukum positif, tetapi juga menciptakan suatu system yang tidak akan ada tanpa asas itu (missal : asaslegitimasi, menciptakan

antara pasal 1977 KUHP disatu pihak dan pasal


dan 612 KUHP dilain pihak, suatu

(584
yang

system

sebelumnya tidak ada > system checks and balances)

e. Karena sifatnya yang abstrak, asas hukum pada umumnya tidak dituangkan dalam peraturan / pasal yang konkrit.

Misal : 1. Point dinternet point daction (siapa yang mempunyai

kepentingan hukum dapat mangajukan gugatan);


2. Restitutio in integrum (pengembalian kepada keadaan semula);

3. In dubio pro reo (dalam hal ada keragu-raguan, hakim harus memutuskan sedemikian sehingga

menguntungkan terdakwa);
4. Res judicata pro veritate habetur (ada yang diputus hakim harus dianggap benar); 5. setiap orang dianggap tahu akan undang-undang 6. Perlindungan terhadap pihak ketiga yang beritikat

baik

Meskipun demikian ada juga asas hukum yang dituangkan

dalam bentuk peraturan konkrit/pasal:


1. Nullum Delictum Nulla Sine Praevia Lege Poenali (Pasal 1 ayat 1 KAUHP) 2. Praduga Tak Bersalah/ Presumption of innocence (Pasal 8 ayat 1 UU no. 48/2009) 3. Excepto Non Adimp;eti Contactus/ tangkisan bahwa pihak lawan dalam keadaan lalai juga, maka tidak dapat menuntut pemenuhan prestasi (pasal 1266 KUHP

Perdata).

4. Audie et Alteram Pertem / kedua belah kihak harus didengar. 5. Actio Paulina (pasal 1341 KUH Perdata) 6. Lex Specialis Derogat LEx Generalis (pasal 1 KUHD)

7. Lex Superior Derogat Lex Inferiori ( Peraturan yang


lebih tinggi mengeyampingkan yang rendah).

f. Asas Hukum itu sifatnya umum, tidak hanya berlaku untuk

satu peristiwa khusus tertentu saja.KArena bersifat umum,


maka asas hukum membukakemungkinan pengecualian pengecualian /penyimpangan-penyimpangan.Dengan adanya kemungkinan penyimpangan maka system humkunya tidak kaku/luwes.Contoh: UU no. 1/1974 dikalahkan PP no.45/1990 (UU dikalahkan PP). >kepastian hukum harus mengalah terhadap kepentingan yang lebih luhur.

g. Asas Hukum pada umumnya bersifat dinamis,


berkembang mengikuti kaedah hukumnya,sedangkan keadah hukum akan berubah mengikuti perkembangan masyarakat, jadi dipengaruhi waktu dan tempat.Sekalipun bersifat dinamis,menurut P.Scholten, ada asas hukum

yang bersifat universal yang berlaku kapan saja, dan


dimana saja;

Ada lima asas hukum universal:


1. Asas Kepribadian

2. Asas Persekutuan
3. Asas Kesamaan 4. Asas Kewibawaan dan 5. Asas pemisahan antara baik dan buruk.

Macam Asas Hukum :


1. Asas Hukum Umum : Asas Hukum yang berhubungan dengan seluruh bidang hukum (missal:

asas resitutio in integrum, Asam lex posteriori berobat lex priori, asas nebis
in idem) 2. Asas Hukum Khusus : Asas Hukum yang tertinggi dalam bidang yang lebih sempit,sperti dalam bidang hukum perdata, hukum pidana (missal ; asas pacta sunt servanda, asas konsensulisme, asas praduga tak bersalah).

Hukum dan Etik


- Karena kaedah hukum itu melindungi kepentingan Manusia, maka harus ditaati. Harus dilaksanakan, diperhatikan, bukan dilanggar. Yang menjadi tolak ukurnya, ialah melanggar atau tidak, karena itu

kaedah hukum disebut juga kaedah etis.


- Hukum dan etik merupakan dua sisi dari satu mata uang. - Hukum ditujukan kepada manusia sebagai mahluk social, sedangkan etik ditujukan kepada manusia sebagai individu (hati nuraninya)

PEMBAGIAN / PENGGOLONGAN HUKUM 1. Menurut isinya :


a. Hukum Publik : Hukum yang mengatur kepentingan umum dan

mengatur hubungan penguasa/Negara dengan alatalat perlengkapanya, atau mengatur hubungan antara Negara dengan warga Negaranya. (Hukum pidana, HTN, HTUN, Hukum public International)

b. Hukum Privat/Hukum Sipil : Hukum yang mengatur hubungan-hubungan hukum antar perorangan > titk beratnya pada kepentingan perseorangan (Hukum perdata, Hukum dagang) Perbedaan : Hukum Publik : - Salah satu pihaknya adalah Negara/penguasa;

- Sifatnya memaksa ;
- Tujuan Hukum Publik adalah melindungi kepentingan Umum.

Hukum Privat :
- Kedua belah pihak adalah perorangan;

- Pada umumnya bersifat pelengkap;


- Tujuannya melindungi kepentingan perorangan/individu.

2. Menurut Bentuknya :
a. Hukum Tertulis ; > ciri dari hukum Modern
1. Sudah dikodifikasikan 2. Belum dikodifikasikan b. Hukum Tidak Tertulis / kebiasaan / adat> Hukum yang masih hidup dalam keyakinan masyarakat, ditaati,

walaupun tidak tertulis.

3. Menurut Fungsinya / cara mempertahankannya :


a. Hukum Materiil (Hukum Substantif) > Hukum yang memuat peraturan-peraturan yang mengatur kepentingan-kepentingan dan hubunganhubungan yang berwujud perintah dan larangan-

larangan.
b. Hukum Formil (Hukum ojektip) > Atau Hukum Acara adalah hukum yang memuat

peraturan-peraturan yang mengatur bagaimana cara


melaksanakan dan mempertahankan hukum materiil.

4. Menurut waktu berlakunya ;


a. Ius constitum / Hukum Positif > Hukum yang telah ditetapkan, hukum yang berlaku sekarang bagi suatu masyarakat tertentu, dalam suatu daerah tertentu. b. Ius Constituendum > Hukum yang masih harus ditetapkan, hukum yang diharapkan berlaku pada waktu yang akan datang / yang

di cita-citakan.

5. Menurut Tempat Berlakunya :


a. Hukum Nasional >

Hukum

yang berlaku dalam suatu Negara / dalam

wilayah suatu Negara. b. Hukum Internasional > Hukum yang mangatur hubungan Hukum antar Negara.

6. Menurut Sifatnya :
a. Hukum yang Memaksa
b. Hukum yang Mengatur/Melengkapi

7. Menurut Sumbernya :
a. Hukum Undang-Undang b. Hukum Traktat c. Hukum Kebiasaan d. Hukum Yurisprudensi

8. Menurut Wujudnya : a. Hukum Objektif >


Hukum yang berlaku umum, yang mengatur hubungah hukum antara orang dengan orang b. Hukum Subjektif > Hak yang timbul dari hukum objektif dari orang-orang

tertentu.

KODIFIKASI ?
> Pembukuan jenis hukum tertentu dalam suatu kitab

Undang-undang, dilakukan secara sistematis, dan


lengkap Tujuan Kodifikasi, adalah untuk memperoleh:

- Kesatuan Hukum,
- Kepastian Hukum, dan - Penyederhanaan Hukum

PENEMUAN / PEMBENTUKAN HUKUM - UU (sebagaimana kaedah pada umumnya) adalah untuk melindungi kepentingan manusia; - Oleh karena itu UU harus dilaksanakan/ditegakkan; - Untuk itu UU harus diketahui orang dan harus jelas;

>setiap UU ada penjelasannya;


- Tapi Walaupun UU jelas, UU tidak mungkin lengkap dan tuntas.

- Dalam hal terjadi pelanggaran UU, hakim harus melaksanakan / menegakkan UU > Pasal 22 AB (Algemene Berpalingen) jo. UU no. 4/2004 tentang UU Kehakiman: hakim tidak boleh menolak suatu perkara

yang ditugaskan kepadanya, dengan alasan UU nya


tidak jelas/tidak lengkap. - Hakim harus mencari/menemukan hukumnya

(Rechtsvinding).

PENEMUAN HUKUM >


Proses Pembentukan hukum oleh hakim atau petugas hukum

lainnya yang diberi tugas yang diberi tugas melaksanakan


hukum, terhadap peristiwa-peristiwa hukum yang konkrit. - Penemuan hukum terutama dilakukan oleh hakim dalam

memeriksa dan memutuskan suatu perkara


- Penemuan hukum bukan semata-mata hanya penerapan peraturan-peraturan hukum pada peristiwa konkrit, sekaligus juga penciptaan dan pembentukan hukum. - Selain itu,suatu ketentuan UU tidak dapat di terapkan begitu saja secara langsung pada peristiwanya. tetapi

Untuk dapat menerapkan ketentuan UU yang Berlaku Umum dan Abstrak sifatnya, suatu ketentuan UU harus diberi arti, dijelaskan atau di tafsirkan dan di arahkan/disesuaikan dengan peristiwanya untuk kemudian di terapkan pada

peristiwanya.
- Salah satu cara/metode penemuan Hukum adalah interprestasi hukum/penafsiran hokum. Jadi Penemuan Hukum, dilakukan karena : UU tidak sempurna, tidak lengkap ataupun kurang jelas, tetapi UU harus dilaksanakan.

- Dalam hal terjadi pelanggaran UU, hakim harus melaksanakan/menegakkan UU (psl. 22 AB); - Oleh karena itu hakim harus mencari hukumnya/harus menemukan hukumnya (reshtsvinding).

-Slah satu caranya adalah interprestasi hukum/penafsiran


hukum.

INTERPRESTASI/PENAFSIRAN HUKUM
- INTERPRESTASI/PENAFSIRAN HUKUM>sarana/alat untuk mengetahui makna suatu peraturan per UU.

MACAM-MACAM PENAFSIRAN
1. Penafsiran Gramatikal/Tata Bahasa > penafsiran menurut susunan kata-katanya (arti perkataan menurut Tata

Bahasa/Kebiasaan).
Penafsiran Gramatikal merupakan cara penafsiran yang paling sederhana untuk mengetahui makna suatu

ketentuan UU, dengan menguraikan menurut bahasa, sususnan kata atau bunyinya. Interprestasi menurut bahasa tetap harus logis.

- Metode penafsiran gramatikal di sebut juga metode


objektif. 2. Penafsiran Sistimatikal/dogmatis > penafsiran UU atau pasal-pasal dalam hubungan keseluruhan antara pasal yang satu dengan pasal yang

lain, baik dalam UU itu sendiri maupun hubungan dangan


UU yang lain.Menafsirkan UU tidak boleh menyimpang/keluar dari system per UU.

3. Penafsiran Historikal > Penafsiran dengan jalan meneliti notulen sejarah

terjadinya/terbentuknya suatu UU (proses pembahasan di DPR, memori penjelesan, notulen /surat

menyurat). Dengan lain perkataan penafsiran dengan


melihat maksud pembentuk UU pada waktu membuat UU tersebut.

4. Penafsiran teleologika/sosiologis >


maka UU ditetapkan berdasarkan tujuan kemasyarakatanya missal UU yang masih berlaku tapi

Sudah usang/tidak sesui lagi, diterapkan terhadap peristiwa,kebutuhan dan kepentingan masa kini. - Dengan perkataan lain, peraturan yang lama di sesuaikan

dengan keadaan yang baru, peraturan yang lama dibuat


actual. 5. Interprestasi Restriktif dan Ekstentif

- Interprestasi Restriktif :
Adalah penafsiran yang bersifat membatasi> penafsiran dengan cara mempersempit arti/istilah/pengertian.

- Interprestasi ekstentif Penafsiran dengan memperluas arti/istilah (misalnya listrik=benda).

Metode insterprestasi yang mana, yang harus di gunakan


hakim?> Hakim akan memilih/menentukan pilihannya berdasarkan pertimbangan metode yang paling meyakinkan dan yang hasilnya paling memuaskan. Pemilih mengenai metode interprestasiyang akan digunakan merupakan wewenang/otonomi hakim.

6. Penafsiran Otentik/Resmi/Shahih > Yaitu penafsiran pasti terhadap arti kata-kata sebagaimana diberikan pembuat UU. Sebagian sarjana berpendapat penafsiran otentik tidak termasuk dalam ajaran tentang interprestasi, karena penafsiran otentik adalah penjelasan yang diberikan oleh UU dan termuat/terdapat dalam teks UU itu sendiri, bukan

dalam Tambahan LN. Selain metode interprstasi, dalam


ilmu hukum dikenal pula metode Argumentasi (=pengisian kekosongan hukum)

- Interprstasi :
Adalah metode penemuan hukum dalam hal peraturannya ada tetapi tidak jelas untuk dapat di terapkan pada

peristiwanya.
Sebaliknya dapat terjadi hakim harus memeriksa dan mengadili perkara yang tidak ada peraturanya yang khusus (disini hakim menghadapi kekosongan atau ketidak lengkapan UU) padahal hakim terikat pasal 22 AB. Dalam hal ini, untuk mengisi kekosongan tersebut digunakan metode Argumentasi berpikir analogi penyempitan/penghalusan hukum,dan A Contrario

1. Argumentum Per analogium/ memberikan penafsiran pada sesuatu peraturan hukum dengan memberikan kias/ibarat pada kata-kata dalam peraturan tersebut sesuai dengan asas hukumnya, sehingga suatu peristiwa yang sebernanya tidak dapat di masukan, kemudian dianggap sesuai dengan bunyi peraturan tersebut. - Jadi suatu peraturan per UU diterapkan terhadap suatu

peristiwa tertentu yang tidak diatur dalam UU tersebut,


tetapi peristiwa itu mirip/serupa dengan peristiwa yang di atur oleh UU.

- Analogi boleh dilakukan bila menghadapi peristiwa-

peristiwa yang analog/mirip.


- Analogi merupakan metode penemuan hukum, tapi sekaligus juga merupakan penciptaan sesuatu hal yang baru. - Analogi dapat juga di sebut interprestasi ekstensif, karena

memperluas pengertian.
- Analogi dilarang dalam hukum pidana, tapi penafsiran ekstensif diperbolehkan (pencurian listrik).

2. Penyempitan/penghalusan Hukum - Kadang-kadang peraturan per UU itu ruang lingkupnya terlalu umum dan luas, maka perlu disempit untuk dapat diterapkan terhadap suatu peristiwa tertentu. - F. Penghalusan hukum ialah memperlakukan hukum sedemikian rupa (secara halus)seolah olah tidak ada pihak yang di salahkan. Penghalusan hukum dengan cara mempersempit berlakunya pesan(merupakan kebalikan dari Analogi Hukum - Dengan penyempitan hukum dibentuklah Pengecualian-pengecualian atau penyimpangan baru dari peraturanperaturan yang bersifat umum.

3. Argumentum a Contrario

- Kadang-kadang suatu peristiwa tidak secara khusus


diatur oleh UU, tapi kebalikanya dari peristiwa tersebut diatur oleh UU. - Cara penafsiran atau menjelaskan yang didasarkan pada kebalikan/berlawanan antara yang dihadapi dan yang

diatur oleh UU (pasal 34 BW).

- Disini dalam hal ketidaksamaan ada kemiripan > pada

argumentum a contrario, titik berat di letakkan pada


ketidaksamaan peristiwa. Metode argumentasi ini dalam literatur literatur disebut juga sebagai pengisian kekosongan hukum oleh hakim. * Penghalusan Hukum dengan metode Interprestasi dan

Argumentasi berpijak pada UU dengan jalan Interprestasi


dan Argumentasi, Hakim mempersiapkan ketentuan UU untuk di terapkan pada peristiwanya.

MASHAB ILMU PENGETAHUAN HUKUM


mengapa orang mentaati hukum/mengapa kita harus tunduk
pada hukum? Persoalan ketaatan terhadap hukum ini telah menimbulkan

berbagai teori/aliran pendapat mashab-mashab dalam ilmu


pengetahuan hukum:

1. Mazhab Hukum Alam/Hukum kodrat Hukum Alam = Hukum yang memiliki sifat-sifat:

-Terlepas dari kehendak manusia/tidak tergantung pada


pandangan manusia; - Berlaku kapan saja/tidak mengenal batas waktu

- Berlaku untuk semua orang/universal;


- Berlaku di semua tempat/dimana saja; - Bersifat jelas(dengan sendirinya) bagi manusia.

> Hukum Alam adalah hukum yang tidak tergantung pada pandangan manusia, berlaku kapan saja.Dimana saja, bagi siapa saja, dan jelas bagi semua manusia tanpa ada yang menjelaskannya. Ajaran Hukum Alam dikemukakan antara

lain oleh Aristoteles, Thomas Aquino, Hugo de Groot.


*Menurut Aristoteles ada dua macam hukum : a. Hukum yang berlaku karna penetapan penguasan

Negara/pemerintah.
b. Hukum yang asli yaitu hukum yang tidak tergatung dari pandangan manusia tentang buruk dan baik.

Menurut Aristoteles : Hukum alam itu adalah hukum yang oleh orang-orang yang berfikir sehat dirasakan sebagai selaras dengan kodrat manusia.

Thomas Aquino :
Segala kejadian di alam dunia ini dikemudikan/diatur oleh suatu UU Abadi

(Lex eterna) yang menjadi dasr kekuasaan dari semua


peraturan lainnya. Lex eterna ini merupakan kehendak dan fikiran tuhan yang menciptakan dunia ini.

* Hugo De Groot>
Hukum Alam adalah bersumber dari akal manusia. Hukum Alam adalah pembawaan dari setiap manusia dan merupakan hasilpertimbangan akal manusia itu sendiri, karena dengan menggunakan akalnya manusia dapat memahami ada yang adil/tidak adil, benar/tidak benar, jujur/tidak jujur. Dari akalna itu manusia berkeinginan untuk hidup secara

damai dalam masyarakat yang teratur. Manusia harus hidup


menurut kehendak akalnya. Isi Hukum Alam menurut De Groot di per oleh dari akal

manusia.

2. Mazhab Sejarah (Carl V Saviqny)


Mazhab ini merupakan reaksi dari hukum alam Mazhab sejarah adalah mazhab yang menghubungkan hukum

dengan sejarah suatu bangsa.


Menurut Saviqny, Hukum harus dipandang sebagai suatu penjelmaan dari jiwa/rohani suatu bangsa selalu ada hubungan yang erat antara hukum dengan kepribadian suatu bangsa.Hukum bukan diciptakan oleh orang, tapi hukum ini timbul sendiri di tengah -tengah rakyat/penjelmaan dari kehendak rakyat. Jadi hukum itu merupakan suatu rangkaian kesatuan dan tak terpisahkan dari sejarah suatu bangsa.

Oleh karena itu hukum senantiasa berubah-ubah menurut tempat dan waktu (Hukum alam berlaku abadi) 3. Teori Teokrasi/ke Tuhanan (Friederich Stahl) Teori ini menjelaskan berlakunya hukum atas kehendak tuhan. Karna peraturan per UU tersebut ditetapkan oleh penguasa Negara. Maka menurut teori ini para penguasa

Negara mendapatkan kuasa dari Tuhan (merupakan wakil


Tuhan). 4. Teori kedaulatan rakyat (Jean Jacques RoosseaU)

Menurut

teori ini dasar hukum itu adalah

akal/rasio manusia (=aliran rasionalisme).

Menurut teori ini Raja/penguasa Negara memperoleh kekuasannya bukan dari Tuhan (teori theokratie) tetapi dari rakyatnya. menurut Rousseau, dasar terjadinya suatu Negara ialah perjanjian masyarakat (contrak social), Negara bersandar atas kemauan rakyat, demikian pula semua peraturan peraturan adalah

penjelmaan kemauan rakyat. Jadi hukum adalah kemauan orang banyak. teori ini disebut juga teori perjanjian masyarakat karena semua orang sudah berjanji mentaatinya. 5. Teori kedaulatan Negara (Hans Kelsen) Menurut teori ini kekuasaan hukum tidak dapat didasarkan atas kemauan rakyat tapi hukum ditaati karena Negara yang menghendakinya.

hukum adalah kehendak Negara dan Negara mempunyai


kekuasaan/kekuatan yang tak terbatas Hukum Adalah kemauan Negara. Orang taat pada hukum karena ia merasa wajib mentaati sebagai perintah Negara.

6. Teori kedaulatan hukum (Krabbe/Duguit)


Menurut Krabbe sumber hukum adalah rasa keadilan, hukum hanyalah apa apa yang memenuhi rasa keadilan

dari orang banyak. Suatu peraturan yang tidak sesuai


dengan rasa keadilan orang banyak, tidak mengikat.

- Hukum berasal dari perasaan hukum yang ada pada sebagian besar anggota masyarakat, - Oleh karena itu hukum di taati oleh anggota masyarakat. 7. Asas keseimbangan (Kranenburg) Menurut Kranenburg,

kesadaran hukum orang menjadi sumber hukum.


Kesadaran berfungsi karena adanya dalil yang nyata/riil Setiap orang akan menerima keuntungan atau mendapat kerugian sesuai dasar-dasar yang telah di tetapkan terlebih dahulu> Jadi menurut ajaran ini hukum ditaati karena selain

memenuhi rasa keadilan orang banyak,

juga mampu berfungsi nyata serta menjadi dasar untuk menetapkan dan mengatur apakah seseorang akan mendapat Keuntungan/kerugian, karena setiap warga Negara sama kedudukannya dalam hukum dan wajib menjunjung hukum dengan tidak ada kecualinya

* Selain aliran-aliran/mahzab tersebut, terlepas dari pada


adanya sangsi, secara sadar/tidak, pada umumnya orang mentaati hukum karna mereka benar-benar merasa berkepentingan akan berlakunya peraturan-peraturan tersebut sebagai hukum.

- Karna orang harus menerimanya supaya ada rasa - Ketentraman;

- Karena masyarakat menghendakinya.

1. Subyek Hukum
- Hukum itu adalah untuk manusia. Kaedah kaedahnya yang berisi perintah perintah dan Larangan

larangan tersebut

ditujukan untuk manusia sebagai

anggota masyarakat . Hukum mengatur hubugan hubungan antara anggota anggota masyarakat, antara subyek subyek hukum.

2. Subyek hukum ?
- Segala sesuati yang menurut hukum dapat mempunyai
hak dan kewajiban atau pendukung hak dan kewajiban.

3. Siapa Subyek Hukum ?


1. Manusia (Natuurlijke Persoon) Manusia oleh hukum diakui sebagai penyandang hak dan

kewajiban
- Setiap Manusia pada dasarnya adalah SH; - Dimulai sejak lahir, dan berakhir setelah orang tersebut

meninggal dunia (Hak & Kewajiban akan beralih kepada


ahli warisnya) (kecuali Pasal 2 KUH Perdata) 4. Badan Hukum (Rechts Persoon) Manusia bukan sati satunya SH dalam hukum, selain Manusia dikenal juga SH yang bukan manusia yaitu BH.

5. BH
- Organisasi/kelompok manusia yang mempunyai tujuan TT

yang dapat mempunyai/menyandang hak dan kewajiban


seperti manusia (Negara, PT, dll) - Suatu badan yang oleh hukum diberi status Persoon sehingga mempunyai Hak dan Kewajiban seperti manusia.

6. Menurut sifatnya BH dapat di bedakan :


- BH Publik : BH yang didirikan / diatur menurut Ketentuan. Hukum Publik (NEG, DATI I/II )

- BH Perdata BH yang didirikan/diatur menurut ketentuan Hukum Perdata (perkumpulan dagang / PT. Perseroan, Bank,

Yayasan, Koperasi, dsb)

- Syarat syarat menentukan kedudukan sebagai BH


1) Syarat materil - Ada harta kekayaan tersendiri yang terpisah; - Mempunyai tujuan T.T; - Mempunyai kepentingan sendiri - Ada organisasi yang teratur; (AD,ART,Pengurus)

2) Syarat Formil :
- Didirikan dengan Akta Notaris - Syarat syarat yang harus dipenuhi sehubungan dengan

permohonan untuk mendapatkan status sebagai BH (Pasal


36 KUPD)

7. Hukum menciptakan BH sebagai SH, karena pengakuan organisasi / kelompok manusia sebagai SH itu sangat diperlukan, karena sangat bermanfaat bagi lalulintas hukum. 8. Kewenangan Hukum dan Kecakapan Bertindak

- Sebagai SH, manusia/ BH berwenang untuk melakukan


suatu tindakan hukum/ perbuatan hukum, karena mempunyai hak dan kewajiban. - Sebagai SH, manusia/BH mempunyai wewenang ntuk melaksanakan kewajiban kewajiban dan menerima hak haknya;

9. Tetapi mempunyai hak dan kewajiban tidak selalu berarti mampu / cakap untuk melakukan sendiri Hak dan Kewajibannya tersebut. Hukum juga menentukan ada Golongan golongan TT

yang dianggap tidak Tidak Cakap/ Tidak Mampu


melaksanakan sendiri hak dan kewajibannya.

10.

Seseorang dinyatakan cakap/ mampu/

berwenang untuk melakukan perbuatan


Hukum, Bila : a. Sudah Dewasa b. Sehat Rohani/Jiwanya, tidak ditaruh dibawah pengampuan (Curatele) c. Tidak dilarang UU

11. Orang orang yang tidak memenuhi persyaratan tersebut, dianggap Tidak Cakap/Tidak Mampu melakukan sesuatu perbuatan Hukum, (Handeling on Bekwaam/Tidak Cakap Hukum).Harus diwakili/ dibantu Orang Lain (Misalnya : Orang tua, Wali, Curator/Pengampu)

12. a. Belum Dewasa/ dibawah umur <21 tahun/


belum menikah Perwalian b. Tidak sehat pikirannya (Sakit ingatan, Pemboros, Pemabuk) Curatele c. Dilarang UU (Orang Yang dinyatakan Pailit)

13. Hak dan Kewajiban


- Hubungan Hukum tercermin pada Hak dan Kewajiban yang diberikan oleh Hukum.

- Hak dan Kewajiban timbul bila Hukum diterapkan


pada peristiwa Konkrit. - Hukum bukan Hak dan Kewajiban (tapi keduanya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya) - Hak Memberikan kenikmatan dan keleluasaan kepada seseorang sedangkan kewajiban merupakan pembatasan /beban

14. Setiap Hubungan Hukum selalu mempunyai 2

segi, di satu pihak Hak, sedang di pihak lain,


Kewajiban : Tidak ada Hak Tanda Kewajiban dan Sebaliknya.

15. Hak dan kewajiban merupakan kewenangan yang diberikan oleh Hukum kepada Seseorang. Hak : - Ijin / Kekuasaan yang diberikan Hukum Kepada SH.

- Kepentingan yang dilindungi Hukum


Kepentingan pada hakekatnya mengandung kekuasaan yang dijamin dan dilindungi oleh Hukum dalam pelaksanaannya.Hak itu sah, karena dilindungin Hukum

16. Menurut V. Apeldoorn


Hak ialah hukum yang di hubungkan dengan seseorang manusia/SH tertentu, yang kemudian menjelma menjadi suatu kekuasaan, suatu hak timbul bila hukum mulai bergerak. 17. Perbedaan Hak dan Hukum Hukum : bersifat umum, berlaku pada setiap orang. Hak dan Kewajiban : Sifatnya individual, melekat pada

seseorang

18. Beda Kewajiban dan Tanggung Jawab

Kewajiban

: Suatu beban yang bersifat kontraktual


atau tugas yang di bebankan oleh hukum kepada SH;

Tanggung Jawab : Beban yang bersifat moral Pada dasarnya sejak lahirnya kewajiban, lahir pula

tanggung jawab.

19. Macam Hak

1) Hak Mutlak / Absolut :


- Hak yang memberikan kewenangan kepada

seseorang untuk melakukan sesuatu


perbuatan, yang - Dapat di pertahankan terhadap siapapun juga; - Harus di hormati oleh siapapun juga. (Misalnya : Hak milik )

Hak Mutlak : - Hak Asasi Manusia - Hak Publik Mutlak (Hak Negara Memungut Pajak)

- Sebagian Hak Keperdataan (Hak Orang Tua, Perwalian,


Pengampunan) 2) Hak Relatif /Nisbi - Hak yang memberikan wewenang kepada orang tertentu, untuk menuntut agar seseorang / beberapa orang tertentu;

Memberikan sesuatu, melakukan sesuatu, atau tidak melakukan sesuatu. - Sebagian besar timbul/terdapat dalam H perjanjian/ perikatan yang timbul karena persetujuan pihak pihak yang bersangkutan. 20. Prof. Soedikno M,SH : Hak Absolut, terdiri dari : - Hak Absolut bersifat kebendaan (Objeknya benda) Hak milik Hipotik - Hak Absolut yang tidak bersifat kebendaan (Hak atas Kekayaan industri, Hal milik Intelektual) objeknya hasil pemikiran manusia, pendapat, merek, penemuan, Misalnya : Hak Merek, Hak Paten, Hak Cipta.

- Hak Merek : Hak khusus yang diberikan Negara kepada pemilik merek yang terdaftar dalam Daftar Umum Merek,untuk jangka waktu TTT (Merek = Tanda Berupa gambar,nama,kata,huruf,angka,susunan warna, yang memiliki daya pembeda dan dapat di gunakan dalam kegitan perdangangan barang/jasa) - Hak paten : hak khusus yang diberikan Negara kepada penemu atas hasil penemuannya di bidang teknologi, untuk selama waktu tertentu, melaksanakan sendiri penemuan nya atau memberi persetujuan kepada orang lain untuk melaksanakannya (membuat,menjual,menyewakan,memakai) - Hak cipta : hak khusus bagi pencipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaan nya maupun member izin untuk itu

Objek Hukum ? - Segala sesuatu yang berguna bagi subjek hukum. (manusia/BH), dan yang dapat dikuasai / dimliki oleh SH. Misalnya = Jual beli Rumah Rumah = Objek Hukum, biasanya objek Hukum = Benda. Benda Benda = Segala barang dan Hak yang dapat dimiliki Orang (Pasal 499 KUHP). Menurup pasal 503 dan 504 KUH benda di bagi antara lain : - Benda berwujud dan Benda tak berwujud - Benda Bergerak dan Benda tidak Bergerak. Benda tak berwujud Hak (Merek, Cipta, Paten, Hak atas suatu piutang dan lain lain)

Peristiwa Hukum / Kejadian Hukum

- Untuk memenuhi kebutuhan masing masing, setiap


anggota masyarakat setiap saat mengadakan hubungan satu dengan yang lain, yang menimbulkan berbagai

Peristiwa kemasyarakatan;
- Peristiwa kemasyarakatan yang oleh hukum diberikan akibat disebut Peristiwa Hukum / Kejadian Hukum.

Peristiwa Hukum dibedakan :

a. Perbuatan SH (Manusia dan BH)


b. Bukan perbuatan SH a. Perbuatan SH 1. Perbuatan Hukum Segala perbuatan SH yang secara sengaja dilakukan

untuk menimbulkan akibat hukum, atau


- Perbuatan yang mempunyai akibat hukum; dan - Akibat tersebut di kehendaki oleh sipembuat/SH

- Perbuatan Hukum disin dapat berarti perbuatan yang aktif maupun yang pasif.

- Perbuatan Hukum terdiri dari perbuatan bersegi


satu/sepihak/eenzijdig (surat wasiat, Hibah), dan perubahan bersegi dua / Timbal balik / Tweezijdig (jual

beli, sewa menyewa)


2. Bukan Perbuatan Hukum : - Perbuatan yang akibatnya tidak dikehendaki oleh si

pembuat.
- Tapi akibat yang tidak di kehendaki oleh si pembuat itulah yang di atur oleh hukum.

- ZAAKWAARNEMING (pasal 1354 KUHP) Perbuatan

mengurus kepentingan orang lain tanpa diminta Oleh


orang lain tersebut

ZAAKWAARNEMING (pasal 1354 KUHP) Merupakan perbuatan yang tidak melanggar hukum. ONRECHTMATIGE DAAD Perbuatan melawan tiap perbuatan yang merugikan orang, hukum (pasal 1365 KUHP) :

bertentangan dengan hukum, yang mewajibkan pelaku perbuatan kerugian.

tersebut untuk mengganti

b. Peristiwa yang bukan perbuatan SH : - Kelahiran (pasal 298 :2 KUHPer) = menimbulkan langsung hak hak anak untuk memperoleh pemeliharaan orang tuanya.

- Kematian (pasal 830, 833 KUHPER) : Menimbulkan


pewarisan. - Daluarsa / Lewat Waktu (psl 1946 KUHPER) :

1) Akuisitif Menimbulkan HAK (584)


2) Estinktif Menghilangkan Kewajiban / dibebaskan dari tanggung Jawab

Kelahiran :
membawa kewajiban bagi ortu untuk memelihara/mendidik anak anak. Kelahiran menimbulkan langsung hak anak untuk mendapat pemeliharaan orang tua (pasal 298 KUHPER) sebaliknya : kedewasaan

Kematian :
Juga merupakan peristiwa Hukum/ menimbulkan akibat Hukum. Pada saat kematian maka hak dan kewajiban si mati akan lenyap, dan langsung beralih kepada ahli warisnya. (pasal 830, 533 KUHPER)

Dawarsa :
Dapat menimbulkan/memperoleh hak atau

menghilangkan/membebaskan dari suatu


perikatan/kewajiban, (PSL 1946 KUHP PER) Lewat waktu : - Akuisitif - Ekstintif

PENEGAKAN HUKUM
- Hukum berfungsi sebagai perlindungan kepentingan manusia oleh karena itu hukum harus dilaksanakan; - Pelaksanaan hukum dapat berlangsung secara normal /ditaati atau karena adanya pelanggaran hukum.

- Hukum yang dilanggar harus ditegakkan, karena


melalui penegakan hukum inilah hukum Itu menjadi kenyataan. - Dalam Penegakan Hukum harus memperhatikan :

1. KEPASTIAN HUKUM. Hukum harus dilaksanakan dan ditegakkan FIAT JUSTITIA ET PEREAT MUNDUS (Hukum harus ditegakkan meskipun langit/dunia akan runtuh). Hukum

bertugas menciptakan kepastian hukum, karena hukum


bertujuan menciptakan ketertiban masyarakat 2. Kemanfaatan Pelaksanaan /Pengakan Hukum harus memberi manfaat/ kegunaan bagi masy. bukan menimbulkan keresahan

3. KEADILAN
Pelaksanaan /Penegakan Hukum harus dilakukan dengan adil

Dalam Penegakan hukum, harus ada kompromi antara ke 3 unsur tersebut harus seimbang.