Anda di halaman 1dari 29

Tubuh binatang foraminifera terdiri dari satu atau lebih sel, berukuran 1 - 5 mm dan beberapa jenis spesiesnya, seperti

i Fusulina yang mencapai 75 mm. Golongan binatang ini pada umumnya memiliki rumah yang terdiri dari banyak kamar, hampir seluruhnya hidup di laut, dan hanya beberapa jenis yang hidup di air tawar atau di air payau. Mereka kebanyakan hidup secara benthonik dan sebagian secara planktonik. Kamar pertama yang terbentuk dalam pertumbuhannya dinamakan proloculum atau proloculus yang berbentuk bulat dan mempunyai satu atau beberapa lubang apertur. Bentuk proloculum ini penting karena tiap spesies memiliki dua macam bentuk rumah atau cangkang, untuk mikrofauna termasuk foraminifera cangkangnya disebut test. Test bentuk pertama dengan proloculum besar dinamakan megalosfer, dan test bentuk ke dua dengan proloculum kecil dinamakan mikrosfer. Binatang yang mempunyai dua macam bentuk test demikian dinamakan dimorfisme. Foraminifera berkembang biak secara seksuil dan aseksuil secara bergantian. Yang berkembang biak secara seksuil menghasilkan bentuk mikrosfer, kemudian dari bentuk mikrosfer berkembang biak secara aseksuil menghasilkan megalosfer.

Bentuk Mikrosfer Terbentuk secara seksuil Proloculum kecil Test biasanya besar Keterdapatannya sedikit

Bentuk Megalosfer Terbentuk secara aseksuil Proloculum besar Test biasanya kecil Keterdapatannya melimpah

3.2.1 Morfologi Tubuh Binatang Dan Cangkang


Bagian-bagian tubuh binatang foraminifera adalah pseudopodia, apertur, nucleus, ectoplasma dan endoplasma.

Cangkang atau test yaitu bagian keras dari binatang Foraminifera, terdiri dari sebuah atau beberapa kamar, satu atau lebih lubang mulut atau apertur, proloculum, bidang sekat atau septa antara ruang-ruangnya, yang bisa kita lihat pada permukaan luar, berupa garis sutura, dan umbilicus yakni ruangan yang terbentuk oleh lilitan kamar-kamarnya.

Sketsa morfologi cangkang foraminifera

3.2.2 Bentuk dan Susunan Cangkang


Bentuk cangkang Foraminifera dapat dibedakan yakni bentuk cangkang yang monothalamus (kamar tunggal) dan yang polythalamus (kamar ganda). Bentuk test monothalamus adalah bentuk primitif : 1. Bulat : contoh Hyperamina 2. Tabung : contoh Rhabdamina 3. Membotol : contoh Protenina 4. Planispiral : contoh Comuspira 5. Kombinasi 2 & 4 : contoh Ammodiscus

Sketsa bentuk-bentuk monothalamus

Bentuk-bentuk test polythalamus: 1. Close coil : contoh Annulocibicides 2. Fan shape : contoh Pavonina 3. Involute : contoh Robulus 4. Evolute : contoh Operculina 5. Uniserial : contoh Nodosaria 6. Biserial : contoh Textularia 7. Triserial : contoh Bullimina 8. Uniserial biserial : contoh Valvulina 9. Trockoid : contoh Discorbis

Sketsa bentuk-bentuk test Polythalamus

Pada umumnya cangkang foram dibuat oleh binatang itu sendiri atau diambil dari sekelilingnya. Susunan cangkangnya terdiri dari chitine, arenaceous, siliceous dan gampingan atau calcareous. Chitine : Semacam zat tanduk, terbuat dari zat organik. Cangkang yang terbuat dari chitinemerupakan golongan primitif. Bentuk ini terdapat pada famili Allogromidae. Arenaceous : Terbuat dari material asing yang direkat oleh sejenis perekat (chitine Fe2O3) membentuk cangkan SiO2 mika, shell fragments. Arenaceous - Hanya tersusun dari SiO2 saja Agglutine - Bukan hanya SiO2 tapi bermacam-macam Siliceous : Jarang ditemukan kecuali pada golongan Ammodiscidae. Mineral-mineral SiO2 sebagian orang menganggapterbentuk secara primer (dibuat binatang itu sendiri), ada pula yang menganggap terbentuk secara sekunder yaitu arenaceous atau material-material lain. Gampingan : Binatang yang testnya terbentuk dari zat gampingan umumnya dibuat oleh binatang itu sendiri. Beberapa macam test gampingan yang dapat kita bedakan, Test gampingan imperforate : Porcellaneous Test gampingan perforate : Hyalie Test gampingan microgranular : Kristal mikrogranular

3.2.3 Kegunaan
Foraminifera ini memegang peranan penting dalam Paleontologi, antara lain adalah : Untuk kepentingan stratigrafi dan korelasi Untuk penentuan umur, baik sebagai fosil penunjuk maupun sebagai fosil asemblage Untuk penentuan lingkungan pengendapan dan aplikasi lainnya. Karena itu Foraminifera akan dipelajari tersendiri dalam mata kuliah Mikropaleontologi. Foraminifera yang tertua diketemukan pada zaman Kambrium Atas hingga Karbon. Jumlahnya masih sedikit sekali, puncak perkembangan pada zaman Tersier hingga Resen. Fosil-fosil Penunjuk yang penting antara lain adalah : Verbeekina verbeeki Perm Fusulina Karbon-Perm Nummulites Eosen-Oligosen Discocyclina Eosen

Biplanispira Cycloclypeus Lepidocyclina

Eosen Oligosen Miosen

Atas dasar foraminifera besar tersebut di atas, v.d. Vlerk dan Umbgrove (1927) membagi zaman Tersier di Indonesia dengan cara klasifikasi huruf, yakni dari Ta hingga Tg (Eosen hingga Pliosen). Tan Sin Hok (1930) mencoba untuk mengadakan pembagian lapisan Tersier Indonesia berdasarkan Cycloclypeus carpenter yang didasarkan atas frequensi mutasi yang merupakan fungsi daripada umurnya. Pada umumnya septum nepionicnya bertambah jumlahnya pada usia yang lebih muda. Tetapi pendapat ini belum mendapat tanggapan yang memuaskan, karena : 1. Jarang didapat dalam jumlah yang cukup banyak 2. Besar kecilnya nepionic tergantung dari kecepatan evolusi, yang bisa dipercepat atau diperlambat oleh perubahan-perubahan sekelilingnya, jadi tidak disebabkan oleh umurnya. 3. Genus Cycloclypeus baru muncul pada zaman Oligosen (Te) 4. Tidak bisa dipakai untuk Eosen

3.3 ORDO RADIOLARIA


Golongan ini hidupnya secara planktonik di atas permukaan laut, tersebar luas terutama dalam lautan tropik, berlimpah jumlahnya di Lautan Pasifik dan Samudera Hindia. Kumpulan cangkang-cangkangnya di dasar laut sangat dikenal yang dinamakan Radiolarian Ooze, yang terbentuk di sekitar kedalaman antara 2300-4500 fathom (4200-8200 m). Radiolaria berlimpah jumlahnya pada zaman Devon, Jura dan Tersier.

3.3.1 Morfologi Tubuh Binatang Dan Cangkang


Tubuh binatang Radiolaria pada umumnya berbentuk bulat, simetri bilateral atau radial. Golongan binatang inidapat dibedakan dari jenis binatang lainnya karena memiliki cangkang yang membentuk selaput central Capsul berlubanglubang, dan pada umumnya mempunyai susunan rangka dari silika, dan ada pula yang terbentuk dari strontium sulfat. Selaput central capsul pada beberapa generasi hanyalah berupa rangka. Macam rangka silika terdiri dari suatu intricate latticework (bentuk kisi semerawut) yang mempunyai bentuk seperti bola, discus, stellate atau kerucut. Pada rangka inimembentuk duri-duri atau tidak membentuk (spines).

Sketsa rangka binatang radiolaria

Radiolaria hidup dari mikroplankton lain, seperti diatomea, copepods, ataupun hidup secara simbiose dengan algae. Beberapa contoh genusnya yang dikenal adalah : Conosphaera ERNBERG : Paleozoikum Resen Heliosphaera HAECKEL : Paleozoikum Resen Hexadoridium : Mesozoikum Resen Stylosphaera ERNBERG : Mesozoikum Resen Treodiscus HAECKEL : Paleozoikum Resen

Ordo Radiolaria, test dari binatang yang masih hidup

Ket : A. Panartus, B. Panicium, C. Hexastylus, D. Hexacanus, E. Dictyocha, F-G. Cannopilus, H. Bathropyramis, I. Alacorys.

BAB 4 PHYLUM PORIFERA


Porifera berasal dari kata Latin porous yang berarti berlubang-lubang, dan ferre artinya to carry atau membawa. Golongan binatang ini termasuk binatang yang bersel banyak atau metazoa, yang mempunyai susunan paling sederhana. Contoh binatangnya yang terkenal adalah sponsa.

4.1 MORFOLOGI PORIFERA


Porifera yang sederhana berbentuk menyerupai vas kembang dengan alasnya melekat pada dasar laut atau benda lain. Dindingnya penuh lubanglubang yang dinamakan ostia yang berfungsi sebagai mulut dari saluran-saluran yang mengalirkan air dari luar dinding ke dalam ruangan tengah yang dinamakan spongocoel, kemudian keluar melalui osculum yang terletak pada puncak binatang itu.

Sketsa binatang sponsa, sistem saluran rhagon

Dinding sponsa terdiri dari dua lapis sel, lapisan luar dinamakan epidermis atau ectoderm, lapisan dalam dinamakan gastrodermis atau endoderm. Endoderm terdiri dari satu lapisan sel-sel pipih yang gunanya untuk melindungi bagian-bagian yang ada di dalamnya. Endoderm melapisi dinding spongocoel, ruangan-ruangan, dan juga sebagian dari dinding saluran. Endoderm terdiri dari sel-sel yang mempunyai flagel (bulu getar) yang disebut choanocyt. Choanocyt berfungsi mengalirkan air dengan cara menggerak-gerakannya. Air yang mengandung makanan dan oksigen mengalir dari luar ke dalam spongocoel.

Disini makanan dan oksigen diambil oleh sel-sel endoderm, kemudian air tersebut keluar lagi melalui osculum. Ruangan diantara ectoderm dan endoderm berisi mesenchyme (mesogloea). Di dalam mesogloea terdapat sel-sel bebas yang disebut amoebacytes. Beberapa amoebacytes ini berfungsi untuk mengangkut makanan dan membuang kotoran keluar, dan beberapa lainnya membuat alat-alat penguat yang disebut spicula. Berdasarkan letak lapisan endoderm, binatang porifera dibagi menjadi beberapa bentuk, yakni ascon, sycon, leucon dan rhagon.

Morfologi sponsa, Phylum Porifera

Ket : A. Ascon, B. Sycon (Schrock and Twenhofel, 1952), C. Leucon, D. Rhagon (Easton, 1960) Bentuk Sycon : Endoderm hanya melapisi bagian dalam dari saluran saluran radier Bentuk Ascon : Endoderm hanya melapisi dinding spongocoel saja Bentuk Leucon : Endoderm hanya melapisi bagian dalam saluransaluran yang bercabang-cabang Bentuk Rhagon : Endoderm hanya melapisi ruangan-ruangan tersendiri
NOTE : Bentuk Leucon dan Rhagon sistem salurannya sama, hanya pada Leucon tidak punya kamar tersendiri, sedangkan mengenai tubuhnya yang tebal serta mesenchymnya yang padat (tebal) adalah sama.

Bagi kita yang penting ialah bahwa sponsa itu membuat suatu rangka yang terdiri dari jarum-jarum atau spicula yang dibentuk di dalam Mesogloes (Mesenchym) oleh sel Scleroblast. Spicula tersusun dari spongine (suatu bahan organik mempunyai sutera), ada yang tersusun dari kapur, dan ada pula yang dari silika.

Spicula yang terbuat dari spongine tidak pernah dijumpai dalam fosil. Pada umumnya spicula tumbuh menjadi satu dan membentuk suatu rangka yang kokoh sehingga dapat membentuk fosil yang baik. Pada pemfosilan silika dapat diganti oleh kapur atau sebaliknya. Spicula mempunyai bentuk bermacam-macam, dan sangat penting untuk pembagian kelas binatang ini. Sel yang membuat spicula di dalam mesenchym binatang porifera adalah : a) Amoebacytas, b) Mesogloca, c) Scleroblast, d) Choanocyta. Kita mengenal 4 macam bentuk umum spicula, yaitu :

Sketsa Spicula Binatang Sponsa, Phylum Porifera !. Monaxon, 2. Triaxon, 3. Hexacon, 4. Polyaxon

1. Spicula Monaxon : Bentuk menyerupai jarum yang halus 2. Spicula Triaxone : Bentuk ini mempunyai 3 sumbu yang membentuk sudut sama besar satu sama lain, pada umumnya mempunyai 6 jarum (hexacone) 3. Spicula Tetraxone : Bentuk ini terdiri dari 4 jarum yang membuat sudut sama besar, atau 3 jarum diantaranya terletak pada satu bidang sedangkan yang satu lainnya tegak lurus pada bidang tersebut. 4. Spicula Polyaxone : Bentuk ini terdiri dari banyak jarum-jarum yang terpencar dari satu pusat. Kadang-kadang dapat menyerupai bentuk bintang yang disebut Spicula Asters. Spicula-spicula lainnya yang jarang dijumpai ataupun belum dikenal adalah : 5. Spicula Heteraxone, 6. Spicula Litistid (Spicula Desmas), 7. Spicula Octaxone.

Bentuk-bentuk Spicula sponsa dan rangkaiannya dari bentuk rangka gampingan dan silika yang sangat bervariasi (Moore, Lalicker and Fischer, 1952)

4.2 KLASIFIKASI PHYLUM PORIFERA


Berdasarkan bentuk dan komposisi rangkanya Phylum Porifera dibagi kedalam $ kelas, yaitu : 1. KELAS CALCAREA Berdasarkan sistem salurannya terbagi menjadi 2 ordo, yaitu : - Ordo Homocoela - Ordo Heterocoela 2. KELAS HEXACTINELLIDA (HYALOSPONGIA) Berdasarkan bentuk rangkaian spiculanya terbagi menjadi 2 ordo, yaitu : - Ordo Lyssacina - Ordo Dictyonina

3.

KELAS DEMOSPONGIA (rangkaian beberapa spicula) Berdasarkan bentuk spiculanya terbagi menjadi 6 ordo, yaitu : - Ordo Tetractinellida - Ordo Lithistida - Ordo Monoaxonida - Ordo Myxospongida - Ordo Keratosa - Ordo Heteractinellida

4.

KELAS PLEOSPONGIA (sponsa gampingan) Berdasarkan bentuk dan susunan dindingnya ordo, yaitu : - Ordo Monocyatha - Ordo Archaeocyatha

terbagi

menjadi

4.2.1. Kelas Calcarea


Sponsa dari kelas ini mempunyai rangka dari kalsit (CaCO3) atau aragonit. Spiculanya dapat berbentruk monoaxone, triaxone, tetraxone. Spicula ini bisa tersebar di seluruh tubuhnya atau bersatu membentuk rangka yang kokoh. Yang terakhir bisa membentuk fosil yang baik. Tipe salurannya Ascon, Sycon dan Leucon. Kelas Calcarea fosil-fosilnya sangat miskin karena spiculanya bisa larut. Berdasarkan sistem salurannya dibagin menjadi 2 ordo yaitu Homocoela dan Heterocoela. Ordo Homocoela, dinding tubuhnya tipis, bagian dalamnya tidak terlipat, tipe salurannya Ascon, rangkanya seperti tidak bisa terawetkan, fosil terpecahpecah kecil. Contoh yang masih hidup Leucosolenia

Gambar 10. Kelas Calcarea, Ordo Homocoela. A. Girtyocoela, B. Tremacystia (Schrock and Twenhofel, 1952)

Ordo Heterocoela, dinding binatang tebal, bagian dalamnya terlipat, saluran ke spongocoel dilapisi sel-sel endoderm, sistem salurannya sycon, leucon rangkanya berkembang biak, hidup mulai Kambrium Resen. Tipe saluran sycon berukuran kecil, hidup di laut dangkal.

Contoh yang masih hidup Contoh fosilnya

: Sycon : Girtycoelia (Gb. 10 A) Pennsylvanian Tremacystia (Gb. 10 B) Kapur Type saluran Intricate (berliku-liku) dan anastomosing. Contoh fosilnya : Eudea (Gb. 11 A) Trias Jura Contoh yang masih hidup : Petrosoma (Gb. 11 B)

Gambar 11. Kelas Calcarea, Ordo Homocoela. 11 A, Eudea. 11 B, Petrosoma (Schrock and Twenhofel, 1953)

4.2.2. Kelas Hexactinellida (Sponsa gelas)


Sponsa ini memiliki type spicula Triaxone/ hexaxone yang tersusun dari silika. Spicula-spicula tersebut kadang-kadang bersatu membentuk rangka kuat (misalnya pada ordo Dictyonina) yang dihubungkan dengan bahan dari silika, sistem salurannya rhagon. Berdasarkan bentuk rangkaian spiculanya, kelas ini dibagi menjadi 2 ordo, yaitu Lyssacina dan Dyctyonina. Ordo Lyssacina, sponsa dengan rangka lyssacine yaitu rangka yang dibentuk oleh jalinan memancar hexaxone berupa rangkaian matajala yang tak beraturan. Contoh fosilnya : Protospongia (Gb. 12. 6-7) Kambrium Contoh yang masih hidup : Hidnoceras (Gb. 12. 8), Dictiospongia (Gb. 12. 14), Euplectella (Gb. 12. 3) Ordo Dictyonina, sponsa yang rangkanya dibentuk oleh hexaxone yang ujung-ujungnya bergabung hingga membentuk jaringan tiga dimensi yang kurang lebih simetri beraturan atau spicula yang dyctyonine (rangkaian serabut). Yang masih hidup Hexatinella, fosilnya Ventricullites (Gb. 12. 17)

Gambar 12. Kelas Hexatinellida. 3, 6, 8, 14, Ordo Lyssacina : 3, Euplecetellacweni, 6-7 Protospongia monomea, 8 Hydnoceras phymatodes, 14 Dyctyospongia sceptrum, 17 Ordo Didtyonina : Ventriculites (Easton, 1960)

4.2.3. Kelas Demospongia


Kelas Demospongia termasuk golongan yang tidak memiliki spicula hexaxone, tetapi memiliki spicula monoaxone, tetraxone, polyaxone, yang terbuat dari serabut spongine, silika atau kombinasinya. Sistem salurannya adalah leucon. Banyak jenis sponsa kelas ini yang masih hidup, dan fosilnya pernah ditemukan berumur Kambrium. Atas dasar bentruk spiculanya para ahli zoologi membagi kelas ini menjadi 3 ordo, yaitu : 1. Ordo Tertactinella 2. Ordo Monoaxonida 3. Ordo Keratosa Ordo Tertactinellida memiliki spicula monoaxone dan tetraxone yang terbuat dari silika, yang terletak bebas didalam mesenchyme. Rangka yang terbentuk oleh himpunan spicula dinamakan lithistid. Ordo ini mulai muncul pada zaman Kambrium Resen. Puncak perkembangannya pada zaman Kapur. Fosil-fosilnya yang penting dari golongan Lithistida, antara lain (Gb. 14) Jerea Kapur Cylindrophyma Jura Siphonia Kapur Jerenica Kapur

Gambar 14. Kelas Demospongia, Ordo Tetractinallida (Schrock and Twenhofel, 1953) Astraeospongia, B-C. Zittella, D. Jerea, E. Cylindrophyma, F. Siphonia, G. Jereica, H-I. Astylospongia.

Ordo Monoaxonida memiliki spicula monoaxone yang terbuat dari silika yang tersebar dalam mesenchyme, dan apabila binatang ini mati spiculanya mengendap di dasar laut. Jenis binatang ini hidup di laut dangkal (sekitar 50 m), meskipunada beberapa jenis yang bisa hidup di air tawar yang spiculanya kecil. Fosilnya jarang dijumpai.

Ordo Keratosa memiliki spicula serabut spongine yang sering digunakan orang untuk mandi, yaitu Euospongia. Sponsa ini hidup di atas batu di laut dangkal beriklim tropis hingga subtropis. Fosil-fosilnya tidak pernah ditemukan.

4.2.4. Kelas Pleospongia


Kelas Pleospongia adalah sponsa gampingan yang telah punah, bentuknya menyerupai piala, muncul pada permulaan Kambrium serta mencapai puncak perkembangannya, pada zaman Kambrium Tengah punah. Morfologi cangkangnya yaitu berbentuk kerucut atau silinder yang mempunyai dinding tunggal atau ganda yang berlubang-lubang, tersusun dari zat gampingan. (Gambar 15) Ruangan antara dinding luar dan dinding dalam dinamakan intervalum. Di dalam intervalum terdapat bidang-bidang vertikal atau radial yang dinamakan parities, sedangkan bidang-bidang yang letaknya horizontal dinamakan synapticulata, dan bidang-bidang yang tidak beraturan dinamakan dissepiment.

Gambar 15. Sketsa rangka Pleospongia

Berdasarkan bentuk susunan dindingnya kelas Pleospongia dibagi menjadi 2 subkelas yaitu Monocyatha dan Archaeocyatha. Subkelas Monocyatha memiliki dinding tunggal berlapis-lapis dan pada permukaannya berlubang-lubang berbentuk kerucut. Contoh genusnya : Monocyathus (Gambar 16) Subkelas Archaeocyatha memiliki dinding ganda, rangkanya berbentuk kerucut dan beberapa jenis mempunyai struktur intervallum. Contoh-contoh genusnya yang penting (Gambar 16) Ajacicyatha, Archaeocyathellus, Vevadacyathus, Cambrocyathus, Protopharetra.

Ket. Gambar 16. Kelas Pleospongia. 6. Subkelas Monocyatha 1-5, 7-9 Subkelas Archaeocyatha (Eatson, 1960)