Anda di halaman 1dari 17

Pitirosporum folikulitis (malasezia folikulitis)

DEFENISI
Pitirosporum folikulitis adalah penyakit kronis pada folikel polisebasea yang disebabkan oleh spesies pitirosporum, berupa papul (Penonjolan kulit yang solid dengan diameter 1 2mm) dan pustul folikular, yang biasanya gatal dan terutama berlokasi dibatang tubuh, leher dan lengan bagian atas.

SINONIM
Malasezia folikulitis

ETIOLOGI Jamur penyebab adalah spesies pityrosporum yang identik dengan malassezia furfur, penyebab pitiriasis versikolor atau panu.

PATOGENESIS
Sering terkena pada usia dewasa muda ataupun paruh

baya, paling sering terjadi pada mereka yang berusia 13-45 tahun baik laki-laki maupun perempuan. Kondisi ini biasanya terbentuk pada bagian atas dada dan punggung, kadang-kadang dapat mempengaruhi daerah lain termasuk wajah, leher, lengan atas dan wajah. jamur ini biasanya ditemukan pada kulit dan tidak menimbulkan masalah. Namun, bila dibiarkan jamur ini tumbuh tidak terkendali, kondisi seperti Pityrosporum folliculitis dapat berkembang. Karena tampaknya mirip dengan jerawat, kadang-kadang tidak dirawat dengan benar. Masyarakat yang tinggal di iklim hangat dan lembab memiliki insiden yang lebih tinggi mengalami Pityrosporum folliculitis

FAKTOR PREDISPOSISI Faktor eksternal Jamur penyebab pityrosporum folliculitis atau malasezia folikulitis cenderung tumbuh terlalu cepat di tempat yang panas, lembab, dan lingkungan yang berkeringat. Pemakaian pakian yang ketat sehingga menyebabkan timbul keringat Tabir surya dan pelembab berminyak dapat menutup jalan folikel. Faktor Host atau individu Kulit berminyak (diprovokasi oleh pengaruh hormonal) Kegemukan Kehamilan

Stres atau kelelahan Penyakit Sistemik, termasuk:


Diabetes mellitus Defisiensi imun

Obat-obatan, seperti:
Antibiotik oral spektrum luas (sering diresepkan untuk

jerawat), antibiotik ini akan menekan bakteri kulit, bakteri yang tertekan ini malahan memungkinkan jamur untuk berkembang biak. Steroid Oral seperti prednisone ( jerawat steroid), penggunaan steroid akan menyebabkan imun menurun yang berakibat mudahnya terinfeksi jamur Kontrasepsi Oral atau pil

GAMBARAN KLINIS Gatal pada tempat predeleksi, klinis morfologi terlihat papul dan pustul perifolikuler, berukuran diameter 2-3mm, dengan peradangan minimal. Bentuknya menyerupai jerawat, karena gatal maka akan timbul juga erupsi papular. Tempat predeleksinya yaitu dada, punggung dan lengan atas,. Kadang-kadang terdapat di leher dan jarang dimuka.

PATOGENESIS ATAU PERJALANAN PENYAKIT

Spesies malassezia merupakan penyebab pitirosporum folliculitis dengan sifat dimorfik(berada dalam dua bentuk atau struktur yang berbeda), lipofilik ( membutuhkan asam lemak yang ada dalam kulit berminyak untuk berkembang biak) dan komensal.
Jamur Malassezia yang merupakan penyebab pitirosporum folliculitis ini membutuhkan asam lemak bebas untuk bertahan hidup. Biasanya, mereka ditemukan dalam stratum korneum dan folliculi pilar di daerah dengan peningkatan aktivitas kelenjar sebaceous seperti dada dan punggung.

Malassezia akan tumbuh berlebihan dalam folikel, sehingga

folikel dapat pecah. Dalam hal ini reaksi peradangan terhadap produk, tercampur dengan asam lemak bebas yang dihasilkan melalui aktifitas lipase.
Perluasan folikel rambut mengarah ke letusan putih pada kulit

yang mengelilingi folikel rambut. Letusan ini juga dapat tampak merah, ini tergantung pada cuaca. Ketika folikel banyak terinfeksi oleh jamur, maka kulit akan tampak sebagai ruam putih atau merah.
Pesatnya pertumbuhan dan multiplikasi dari jamur di wilayah

folikel rambut menyebabkan pengembangan ruam pada kulit. Kulit membentuk patch gatal dan jerawatan.

DIAGNOSIS Diagnosis Pitirosporum folikulitis didasarkan pada kecurigaan klinis dari presentasi klasik papulopustules pruritus dalam pola folikuler ditemukan di punggung, dada, lengan atas, dan, terkadang leher serta jarang hadir pada wajah.

Perbaikan atau pengobatan lesi dengan terapi empirik antimycotic mendukung diagnosis klinis Pityrosporum folliculitis.
Di bawah lampu Wood, fluoresensi biru terang atau putih yang diamati pada folikel di lokasi lesi. Diagnosa dengan biopsi juga dapat dilakukan, yang kemudian seperti penyakit jamur umumnya di gunakan KOH 10%

Gambaran Histologis:
1. Dilated folikel rambut dengan sumbat keratin mengandung spora jamur Intra-dan perifollicular inflamasi infiltrat terdiri dari neutrofil, limfosit dan histiosit Intra-dan perifollicular musin kolam Folikel rambut bisa pecah, menghasut reaksi tubuh granulomatosa asing

2.

3.

DIAGNOSIS BANDING
Akne vulgaris (jerawat)
Folikulitis bakterial Erupsi akne formis

PENATALAKSANAAN
Pengobatan dilakukan dengan mengunakan obat antijamur atau anti mikotik oral, misalnya : Ketokonazol 200 gr selama 2-4 minggu Itrakonazol 200gr sehari selama 2 minggu Flukonazol 150gr seminggu selama 2-4 minggu Pengobatan dengan anti jamur topikal biasanya kurang efektif, walaupun dapat menolong.

DAFTAR PUSTAKA
Buku ilmu penyakit kulit dan kelamin : pitirosporum

folikulitis, edisi kelima, fakultas kedokteran UI.2008:100-101 Potter BS, Burgoon CF Jr, Johnson WC. Pityrosporum folliculitis. Report of seven cases and review of the Pityrosporum organism relative to cutaneous disease. Arch Dermatol. Mar 1973;107(3):388-91. Levin NA. Beyond spaghetti and meatballs: skin diseases associated with the Malassezia yeasts. Dermatol Nurs. Jan-Feb 2009;21(1):7-13, 51; quiz 14.

Gaitanis G, Magiatis P, Hantschke M, Bassukas ID, Velegraki A.

The malassezia genus in skin and systemic diseases. Clin Microbiol Rev. Jan 2012;25(1):106-41. Akaza N, Akamatsu H, Sasaki Y, et al. Malassezia folliculitis is caused by cutaneous resident Malassezia species. Med Mycol. 2009;47(6):618-24. Jacinto-Jamora S, Tamesis J, Katigbak ML. Pityrosporum folliculitis in the Philippines: diagnosis, prevalence, and management. J Am Acad Dermatol. May 1991;24(5 Pt 1):693-6. Bulmer GS, Pu XM, Yi LX. Malassezia folliculitis in China. Mycopathologia. Jun 2008;165(6):411-2. Gupta AK, Batra R, Bluhm R, Boekhout T, Dawson TL Jr. Skin diseases associated with Malassezia species. J Am Acad Dermatol. Nov 2004;51(5):785-98.