Anda di halaman 1dari 14

DIABETES MELLITUS PADA KEHAMILAN

Oleh : Dr. HJ.TGK PUSPA DEWI, SpOG

BAGIAN OBGIN FK UNSYIAH/RSU ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEH

Pembahasan : Definisi dan insiden: Diabetes Melitus Gestasional merupakan suatu intoleransi karbohidrat baik ringan (toleransi glukosa terganggu) maupun berat (Diabetes Melitus) yang terjadi atau diketahui pertama kali saat kehamilan. Kepustakaan lain menyebutkan bahwa DMG adalah intoleransi glukosa yang diketahui pertama kali saat hamil dan akan kembali normal setelah persalinan. Kejadian DM pada kehamilan antara 2,5 5 % (di Indonesia 2-4%)

Faktor Resiko :

Riwayat Obstetri : Beberapa kali keguguran, pernah melahirkan anak mati tanpa sebab yang jelas, pernah melahirkan bayi dengan cacat bawaan, pernah melahirkan bayi > 4000 gr, pernah preeklampsia, polihidramnion Riwayat Ibu : Usia > 30 tahun, riwayat DM dalam keluarga, pernah DMG pada kehamilan sebelumnya dan Infeksi saluran kemih yang berulang selama hamil Pada kasus ini ditemukan dua faktor resiko obstetri yaitu : pernah dua kali keguguran dan preeklampsia pada kehamilan yang pertama serta satu faktor resiko ibu yaitu usia > 30 tahun

Patofisiologi : Kehamilan merupakan suatu kondisi diabetogenik. Selama awal sampai 20 mg, terjadi penurunan kadar glukosa puasa karena peningkatan penyimpanan glikogen dan metabolisme glukosa oleh hormon steroid seks.
Dengan bertambahnya usia kehamilan, disekresi hormon yang sifatnya berlawanan dengan insulin terutama HPL, prolaktin dan kortisol dalam jumlah yang besar, menyebabkan gangguan metabolisme glukosa, menghambat penyimpanan glikogen dan merangsang glukoneogenesis, sehingga terjadi peningkatan kadarnya di dalam darah.

Pada kehamilan normal, hal ini dapat ditoleransi dengan modifikasi insulin dalam sirkulasi, sedangkan pada wanita yang sebelumnya telah mempunyai intoleransi glukosa, dengan adanya perubahan metabolisme glukosa saat hamil, akan kelainan ini akan terdiagnosis.

Diagnosis : DM Progestasional ditegakkan apabila sebelum hamil telah terdiagnosis DM DM Gestasional, ditagakkan berdasarkan : Pemeriksaan tes toleransi glukosa oral (TTGO) yaitu pemeriksaan gula darah puasa dilanjutkan dengan pemberian beban glukosa 75 gram dan kadar gula darah diperiksa 2 jam kemudian

GD
Puasa

Normal
<100

TGT
100-119

DMG
>120

2 jam pp

<140

140-199

>200

Pasien ini mungkin telah menderita DM sebelum hamil karena pasien tidak pernah melakukan pemeriksaan darah sebelum hamil ataupun saat awal kehamilan sehingga baru terdiagnosis saat usia kehamilan lanjut. Tatalaksana : Target : Normoglikemia< GD puasa <105 dan 2 jam pp < 120 Pertumbuhan dan perkembangan janin yang optimal Tidak terjadi ketosis

Penatalaksanaan
DMG GDP < 130 Diet 1 mg GDP >130

Normoglikemia
Lanjutkan diet

Tidak normoglikemia
Diet dan insulin

Diet pada DMG : BB ideal : (TB-BB) 10% BB normal : 35 kal x BB Overweight : 25 kal x BB ideal + 1030% (jasmani) + 300 kal (hamil) Komposisi : 50% KH, 25% protein, 25 % lemak Kadar insulin : 0,5-1,5 unit/kg BB, 2/3 pagi hari dan 1/3 sore hari

Pemantauan janin : DMG (setelah usia kehamilan 34 minggu) Terkendali tidak terkendali/komplikasi

CTG,USG FDJP/minggu

rawat, USG FDJP/minggu amniosentesis

Janin sehat

PJT, gawat janin Makrosomia

paru matang

paru blm matang

40 minggu

Terminasi
Pematangan paru

Komplikasi : Bayi : Makrosomia, PJT, Kelainan kongenital, Sudden death, Hipoglikemia, Hipokalsemia, hipomagnesia, hiperbilirubinemia, RDS Ibu : Preeklampsia.Eklampsia, Ketoasidosis, Infeksi, Retinopati, Nefropati, Neuropati

Penatalaksanaan PEB sesuai protokol TD telah terkontrol sejak awal,tidak mengalami perburukan klinis maupun laboratorium.

Manajemen untuk DMG Sesuiai endokrin IPD. Perencanaan diet insulin karena GDP>130 mg% Beberapa kali dosis insulin diturunkan walaunpun KGDH masih menunjukkan

Pemantauan USG serial pada minggu pertama terjadi penurunan TBJ dari 2700 menjadi 2500 dalam satu minggu ini terjadi peningkatan TBJ yang cukup besar yaitu dari 2500 menjadi 3200 gram, kesan tak terkontrol. Mungkin karena dosis insulin yang tidak adekuat atau karena pasien tidak mematuhi diet yang diberikan. Ternyata pasien selama ini masih sering mengkonsumsi makanan selain dari yang diberikan oleh RS meskipun sudah diterangkan mengenai dietnya.

Permasalahan saat ini adalah mengenai waktu terminasi kehamilan, kapan sebaiknya dilakukan mengingat saat ini usia kehamilan sudah 36 minggu dan telah muncul komplikasi TBJ labih besar dari seharusnya. Dengan NST yang masih reaktif dan pemantauan yang ketat terhadap janin, apakah kehamilan masih mungkin untuk dipertahankan sampai 37 minggu, atau dilakukan tes pematangan paru kemudian diterminasi bila matang, atau diterminasi sesegera mungkin mengingat bahaya sudden death.