Anda di halaman 1dari 100

METODOLOGY PENELITIAN

JATI SUNARYATI, Ph D

METODOLOGI PENELITIAN Usaha ilmiah untuk mempelajari suatu obyek, dengan disertai bukti-bukti yang lengkap, menguatkan dan benar.

1 . Filosofi Penelitian

2 . Rumusan Masalah

Kaitan ilmu pengetahuan dengan penelitian

3 . Review Literature

4 . Merancang Penelitian

5 .Pembuatan Proposal

6 . Pengumpulan Data

7 . Analisisa dan Pembahasan 8 . Pembuatan Laporan 9. Persentasi

Kaitan ilmu pengetahuan dengan penelitian FILSAFAT (Philosophy ) ILMU PENGETAHUAN (Science )

PENGETAHUAN (Knowledge )

TEKNOLOGI (Technology)

Kaitan ilmu pengetahuan dengan penelitian


PENGETAHUAN FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN TEKNOLOGI

Fakta, informasi yang diperoleh melalui pengalaman atau pendidikan Pemahaman secara teoretis dan/atau praktis suatu bidang (studi), secara keseluruhan

Kaitan ilmu pengetahuan dengan penelitian


PENGETAHUAN FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN TEKNOLOGI

Philosophy = Phil + Sophy (Yunani) Phil = Love = Cinta Sophy = Wisdom = Kebijaksanaan = Kearifan = Hikmat

Pengujian kritis terhadap dasar rasionalitas dari kepercayaan kita yang paling fundamental dan analisis logis terhadap konsep-konsep dasar yang digunakan dalam mengekspresikan apa yang kita percayai.
Filsafat biasanya berkaitan erat dengan kemanusiaan secara rasional, metodikal dan sistematis.

Kaitan ilmu pengetahuan dengan penelitian


PENGETAHUAN FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN TEKNOLOGI

Ilmu Pengetahuan = Science [Lat. Scientia = knowledge = pengetahuan]


Kajian sistematik yang menggunakan observasi, eksperimen (percobaan) dan pengukuran terhadap fenomena alam maupun sosial.

Ciri : bukti atau pengujian.


Dapat mengalami pendefinisian/formulasi ulang/baru.

Kaitan ilmu pengetahuan dengan penelitian


PENGETAHUAN FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN TEKNOLOGI

Klasifikasi Ilmu Pengetahuan: Ilmu Pengetahuan Eksakta: yaitu Ilmu Pengetahuan yang memiliki pengukuran (measurement) yang pasti (exact). Contoh: Fisika dan Kimia Ilmu Pengetahuan Deskriptif: Ilmu Pengetahuan yang tujuan utamanya adalah mengembangkan metode pendeskripsian atau klasifikasi yang kemudian menjadi acuan yang tepat dalam domain ilmu tersebut. Contoh: Taksonomi dalam Botani dan Zoologi

Kaitan ilmu pengetahuan dengan penelitian


PENGETAHUAN FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN TEKNOLOGI

Merupakan aplikasi Ilmu Pengetahuan terutama untuk tujuan komersial dan industri Terkait erat dengan Ilmu Pengetahuan dan Rekayasa (Engineering). Rekayasa adalah aplikasi Ilmu Pengetahuan dalam wujud pembuatan rancangan/disain pelbagai alat demi kemudahan manusia. Teknologi berkaitan dengan alat dan teknik mewujudkan rancangan alat-alat yang memudahkan kehidupan manusia.

1 . Filosofi Penelitian

2 . Rumusan Masalah

3 . Review Literature

Cara mencari dan merumuskan suatu masalah untuk penelitian

4 . Merancang Penelitian

5 .Pembuatan Proposal

UTS

6 . Pengumpulan Data

7 . Analisisa dan Pembahasan 8 . Pembuatan Laporan

UAS
9. Persentasi

Cara mencari dan merumuskan suatu masalah untuk penelitian


1. Masalah penelitian harus dapat dirasakan sebagai suatu tantangan untuk dipecahkan dengan mempergunakan keahlian atau kemampuan profesionalnya Masalah penelitian merupakan kondisi yang menunjukkan kesenjangan (gap) antara peristiwa atau keadaan nyata (das sain) dengan tolok ukur tertentu (das sollen) sebagai kondisi ideal atau seharusnya bagi peristiwa atau keadaan tertentu. Masalah penelitian adalah keraguan terhadap suatu peristiwa atau kesangsian tentang tingkat kebenaran suatu peristiwa atau keadaan

2.

3.

Kriteria Masalah Penelitian


1. Berguna untuk diungkapkan. 2. Relevan dengan kemampuan atau keahlian peneliti. 3. Menarik perhatian untuk diungkapkan. 4. Memungkinkan untuk menghasilkan sesuatu yang baru. 5. Dapat dihimpun datanya secara lengkap dan obyektif. 6. Tidak boleh terlalu luas, tetapi juga tidak boleh terlalu sempit

1 . Filosofi Penelitian

2 . Rumusan Masalah

3 . Review Literature

4 . Merancang Penelitian

5 .Pembuatan Proposal

6 . Pengumpulan Data

7 . Analisisa dan Pembahasan

1. Jenis-jenis literatur dan tingkat kegunaanya 2. cara melakukan studi literatur 3. cara menetapkan jenis literatur yg digunakan 4. cara menyusun dan menulis studi literatur
9. Persentasi

8 . Pembuatan Laporan

Teknik mengutip referensi dalam teks:


Smith (1991) compared risk factors . . . In a recent study of risk factors (Smith 1991), . . . In 1991, Smith compared risk factors . . . In a recent study of risk factors, Smith (1991) described similar effects. Smith also found . . . A recent report says Portugal's `low birthrate of 16 per 1000 inhabitants in 1980 was achieved despite only modest use of modern contraceptives' (IFPP 1984: 71). As explained by Armitage and Berry (1987: 469), the implications of excess risk depend . . .

Dr.D.Erwin Irawan - KK Geologi Terapan

Teknik mengutip referensi dalam teks:


If there are more than two authors, it is sufficient to use the name of the first plus et al, unless that causes confusion between works by Smith, Bloggs and Kobayashi (1989) and by Smith, Thomas, Honda and Brown (1989). Smith, Bloggs et al. (1989) and Smith, Thomas et al. (1989).

If the same author(s) published more than one work in a year, add letters to distinguish them, such as Irwig et al. (1992a) and Irwig et al. (1992b).
If several references occur together, separate them with semicolons. For references by the same authors in different years, there is no need to repeat the authors names: Oakley 1979, 1980; Rothman 1982; Zola 1972.

Dr.D.Erwin Irawan - KK Geologi Terapan

Elemen yang perlu dicatat:


Nama lengkap penulis (tanpa gelar akademik) Nama editor (tanpa gelar akademik) Judul: Ditulis seperti menulis kalimat biasa. Hanya kata pertama pada awal judul dan kata benda tertentu yang ditulis dengan huruf besar Judul tidak dalam huruf besar semua. Kalau ada subjudul, pisahkan dengan : Tahun penerbitan Nama jurnal/prosiding Halaman pertama dan terakhir Organisasi yang menerbitkan, atau event penerbitan (misal PIT IAGI ke-xx) Lokasi penerbitan (kota, negara) Kata-kata, istilah, nama kota, organisasi dalam bahasa asing dicetak miring
Dr.D.Erwin Irawan - KK Geologi Terapan

Contoh: skripsi, tesis, disertasi


Shelley, J.M. (1991). Women's participation in Pap smear screening in NSW [PhD thesis]. Sydney: University of Sydney.

Youssef, N.M. (1988). School adjustment of children with congenital heart disease [dissertation]. Pittsburgh (PA): University of Pittsburgh.

Dr.D.Erwin Irawan - KK Geologi Terapan

Contoh: artikel dalam jurnal ilmiah


Harris, A.H., Cercarelli, L.R. & Hobbs, M.S.T. (1992). Historical trends in road accident types, deaths and casualties in Western Australia. Australian Journal of Public Health, 16(2) June, 117-222. Harris, A.H., Cercarelli, L.R. & Hobbs, M.S.T. (1992). Historical trends in road accident types, deaths and casualties in Western Australia. Australian Journal of Public Health, 16, 117-222.

Dr.D.Erwin Irawan - KK Geologi Terapan

Contoh: artikel dalam jurnal ilmiah


Rancke-Madsen, A. & Tanska, I. (1992). Legalt provokerede aborter 1990 [Legally induced abortions in 1990]. Ugeskrift for Laeger, 154(4), 205-6.

Nutbeam, D. (1991). Present progress and future challenges for health promotion: observations from a recent migrant [editorial]. Australian Journal of Public Health, 15, 4-6.

Dr.D.Erwin Irawan - KK Geologi Terapan

Contoh: artikel dalam jurnal ilmiah


The Royal Marsden Hospital Bone-marrow Transplantation Team (1977). Failure of sygeneic bone-marrow graft without preconditioning in posthepatitis marrow aplasia. Lancet, 2, 742-744. IFPP (1984). Portugal achieves low birthrate despite modest use of contraceptives. International Family Planning Perspectives, 10(2), 71-2. Hindari menggunakan kata Anonymous atau Anon. atau ____________. In press Lillywhite, H.B. & Donald, J.A. (in press). Pulmonary blood flow regulation in an aquatic snake. Science.

Dr.D.Erwin Irawan - KK Geologi Terapan

Contoh: buku teks


Personal author(s) de Vaus, D.A. (1990). Surveys in Social Research. 2nd ed. Sydney: Allen & Unwin. Editor(s), compiler as author Diener, H.C. & Wilkinson, M., eds (1988). Drug-Induced Headache. New York: Springer-Verlag. Author and editor Cumpston, J.H.L. (1989). Health and Disease in Australia: A History. Lewis, M.J. ed. Canberra: Australian Government Publishing Service. Translation Beauvoir, S. de (1972). The Second Sex. H.M. Parshley, trans. and ed. Harmondsworth (Middx): Penguin. First published (1949) as Le Deuxime Sexe. Dr.D.Erwin Irawan - KK Geologi Terapan

Contoh: buku teks


Organisation, group as author Boston Women's Health Book Collective (1985). The New Our Bodies, Ourselves. Ringwood (Vic.): Penguin. National Health and Medical Research Council (1991). Immunisation Procedures. 4th ed. Canberra: Australian Government Publishing Service. Organisation as author and publisher AGPS (1988). Style Manual for Authors, Editors and Printers. 4th ed. Canberra: Australian Government Publishing Service. Chapter in a book Versluysen, M.C. (1981). Midwives, medical men and poor women labouring of child lying-in hospitals in eighteenth-century London. In: H. Roberts, ed. Women, Health and Reproduction. London: Routledge & Kegan Paul, 18-49.
Dr.D.Erwin Irawan - KK Geologi Terapan

Contoh: prosiding seminar/konferensi


Hall, R. & Richters, J., eds (1992). Immunisation: The Old and the New. Proceedings of the Second National Immunisation Conference, Canberra, 27-29 May 1991. Canberra: Public Health Association of Australia. October 2004.

Vallentine, J. (1992). Vaccination and medical defence. In: R. Hall and J. Richters, eds (1992). Immunisation: The Old and the New. Proceedings of the Second National Immunisation Conference, Canberra, 27-29 May 1991. Canberra: Public Health Association of Australia, 68-73.

Dr.D.Erwin Irawan - KK Geologi Terapan

Contoh: prosiding seminar/konferensi


Vallentine, J. (1992). Vaccination and medical defence. Proceedings of the Second National Immunisation Conference, Canberra, 27-29 May 1991. Canberra: Public Health Association of Australia, 68-73. Vallentine, J. (1992). Vaccination and medical defence. Proceedings of the Second Public Health Association of Australia, Canberra, 27-29 May 1991, 68-73.

Dr.D.Erwin Irawan - KK Geologi Terapan

Contoh: Laporan
Australian Bureau of Statistics ABS (1985). Projections of the population of Australia, states and territories, 1984 to 2021. Cat. No. 3222.0. Canberra: Australian Bureau of Statistics. Committee reports. Commission of Inquiry into Poverty (1975). Poverty in Australia. First Main Report (R.F. Henderson, Chairman). Canberra: Australian Government Publishing Service. Commission of Inquiry into Poverty (1975). Legal Aid in Australia. Research report, Law and Poverty Series. Canberra: Australian Government Publishing Service. Women's Health Policy Review Committee (1985). Women's Health Services in New South Wales. Final Report (F. LoPo, Chairperson). Sydney: Parliament of New South Wales.
Dr.D.Erwin Irawan - KK Geologi Terapan

Contoh: Laporan
Ergas, H. (1986). Telecommunications and the Australian economy. Report to the Department of Communications. Canberra: Australian Government Publishing Service. Callaghan, A.R. (1972). The wheat industry and stabilization [unpublished]. Report to the Minister for Primary Industry. Canberra. Bureau of Transport Economics (1985). Economic Regulation of Aviation in Australia. Seminar Papers and Proceedings. Canberra: Australian Government Publishing Service.

Dr.D.Erwin Irawan - KK Geologi Terapan

Contoh: Laporan
Bureau of Transport Economics (1986). Demand for Australian Domestic Aviation Services. Occasional Paper No. 79. Canberra: Australian Government Publishing Service. Department of Employment and Industrial Relations (1984). Annual Report 1983-84. Canberra: Australian Government Publishing Service.

Dr.D.Erwin Irawan - KK Geologi Terapan

Contoh: Laporan
Australian Standard AS 1199-1988. Sampling procedures and tables for inspection by attributes. Sydney: Standards Association of Australia. Newspaper, magazine article Perrottet, T. (1990). Weisberg's wisdom: look before you leap. Medical Observer (Sydney) 3 August: 36-9. SMH (1987). Researchers defend claim that children watch video nasties. Sydney Morning Herald 21 March: 7.

Dr.D.Erwin Irawan - KK Geologi Terapan

Contoh: Leaflet/brosur
NSW DH (1987). Head lice [leaflet]. State Health Publication No. (HSU) 82001. Sydney: NSW Department of Health.

ACON (n.d.). Safe sex summer 1988 [leaflet]. Sydney: AIDS Council of NSW.

Dr.D.Erwin Irawan - KK Geologi Terapan

Contoh: Referensi versi elektronik /online


Monograph in electronic format Reeves, JRT, & Maibach H. (1995). CDI, Clinical Dermatology Illustrated [monograph on CD-ROM]. 2nd ed. Version 2.0. San Diego: CMEA. www site Health on the Net Foundation. Health on the Net Foundation Code of Conduct (HONcode) for Medical and Health Web Sites [Online]. Geneva. Available from: http://www.hon.ch/Conduct.html. [Accessed June 19, 2001]. October 2004.

Dr.D.Erwin Irawan - KK Geologi Terapan

Contoh: Referensi versi elektronik /online


Piranti lunak (software) Medi-Sim, (1988). Renal system [computer program]. MSDOS version. Edwardsville (KS): Medi Sim. Journal article in electronic format Morse, SS. (1995). Factors in the emergence of infectious diseases. Emerging Infectious Diseases [serial online], 1(1). Available from: http://www.cdc.gov/ncidod/EID/eid.htm [Accessed 5 June 1996].

1 . Filosofi Penelitian

2 . Rumusan Masalah

3 . Review Literature

4 . Merancang Penelitian

5 .Pembuatan Proposal

1. menetapkan variabel yg akan diteliti 2. Jenis-jenis metode penelitian 3. memilih jenis metode penelitian 4. menetapkan detail tahapan penelitian atau tahapan perancangan

6 . Pengumpulan Data

7 . Analisisa dan Pembahasan 8 . Pembuatan Laporan 9. Persentasi

Dua Pendekatan untuk Memperoleh Kebenaran


a. Pendekatan non ilmiah
akal sehat prasangka intuisi penemuan kebetulan dan coba-coba pendapat otoritas ilmiah dan pikiran kritis

b. Pendekatan ilmiah
Dengan pendekatan ilmiah orang berusaha untuk memperoleh kebenaran ilmiah, yaitu pengetahuan benar yang kebenarannya terbuka untuk diuji oleh siapa saja yang berkehendak untuk mengujinya

Metode Dasar dan Macam Penelitian


1. Penelitian Historis, bertujuan membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan obyektif, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasikan, serta mensintesiskan bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat. 2. Penelitian Deskriptif, bertujuan membuat pencandraan (deskripsi) secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu.

3. Penelitian Kasus dan Penelitian Lapangan, bertujuan mempelajari secara intensif latar belakang dan keadaan sekarang (termasuk interaksinya) suatu unit sosial 4. Penelitian Korelasional, bertujuan mendeteksi sejauh mana variasi-varisasi pada suatu faktor berkaitan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan koefisien korelasi 5. Penelitian Kausal Komparatif, bertujuan menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat dengan cara : berdasar atas pengamatan terhadap akibat yang ada, mencari kembali faktor yang mungkin menjadi penyebab melalui data tertentu.

6. Penelitian Eksperimental Sungguhan, bertujuan menyelidiki kemungkinan saling hubungan sebabakibat dengan cara mengenakan satu atau lebih kondisi perlakuan kepada satu atau lebih eksperimental dan memperbandingkan hasilnya dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai kondisi perlakuan itu. 7. Penelitian Eksperimental Semu, bertujuan memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang dapat diperoleh dengan eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol dan/atau memanipulasikan semua variabel yang relevan

8. Penelitian Tindakan, bertujuan mengembangkan keterampilan-keterampilan baru atau cara pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di dunia kerja atau dunia aktual lain.

1 . Filosofi Penelitian

2 . Rumusan Masalah

3 . Review Literature

membuat proposal untuk tugas akhir/ penelitian pada umumnya dan teknik penulisannya

4 . Merancang Penelitian

5 .Pembuatan Proposal

6 . Pengumpulan Data

7 . Analisisa dan Pembahasan 8 . Pembuatan Laporan 9. Persentasi

Rencana/Proposal Penelitian
Merupakan suatu rencana kegiatan yang terinci untuk, yang umum disebut rencana atau proposal penelitian Suatu rencana penelitian pada umumnya memuat pembahasan tentang sub-pokok bahasan sbb:

1. 2. 3. 4. 5.

Latar belakang Tujuan Penelitian Hipotesis Metode Pengumpulan Data Metode Analisis

1.

Latar belakang

Pada dasarnya latar belakang menjelaskan apa sebab penelitian dilakukan. Akan tetapi dianjurkan, pembahasannya disertai dengan hasil penelitian terkait yang telah dilakukan sendiri maupun oleh peneliti lain. Selanjutnya dapat dikemukakan perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang lain. Latar belakang yang baik atau sempurna akan sangat menunjang penentuan permasalahan yang akan dikemukakan.

Menentukan atau mendefinisikan permasalahan dipandang merupakan bagian yang terpenting dalam menyusun rencana penelitian. Permasalahan pada umumnya dikemukakan dengan kalimat bentuk pertanyaan, tetapi tidak merupakan keharusan.

2.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian dapat dibedakan antara tujuan umum dan tujuan khusus. Secara sederhana tujuan suatu penelitian merupakan jawaban atau hasil pemecahan masalah yang dikemukakan

3.

Hipotesis

Hipotesis merupakan suatu argumen yang akan diuji kebenarannya dimana tidak setiap penelitian harus menuliskan hipotesisnya.

Dalam bidang teknik sering kali hipotesis ini dimasukkan dalam tinjauan pustaka atau studi literatur apabila sudah ada sebelumnya atau jika itu merupakan perbaikan atau modifikasi dapat kita kemukakan terlebih dahulu.

4.

Metode Pengumpulan Data

Dalam bagian ini dikemukakan antara lain populasi sampel dan cara pemilihannya ukuran sampel variabel dan instrumen yang akan digunakan jika menggunakan data sekunder atau primer yang dikumpulkan oleh peneliti lain atau lembaga tertentu, hal-hal tersebut juga dikemukakan

5.

Metode Analisis

1. Banyak sekali metode yang digunakan, berdasar pengalaman sering digunakan metode analitis statistika, yang merupakan perhitungan-perhitungan matematis untuk melihat kecenderungan suatu obyek penelitian. 2. Ditinjau dari variabel yang diteliti dapat juga digunakan metode analisis multivariat yang menghubung-hubungkan proses antara berbagai variabel.

1 . Filosofi Penelitian

2 . Rumusan Masalah

3 . Review Literature

4 . Merancang Penelitian

1. perencanaan survai/ eksperimen 2. teknik sampling 3. metode survai atau eksperimen 4. pembuatan formulir survai atau laporan eksperimen

5 .Pembuatan Proposal

6 . Pengumpulan Data

7 . Analisisa dan Pembahasan 8 . Pembuatan Laporan 9. Persentasi

Bentuk Pengamatan
Dengan memperhatikan perbedaan cara pengamatan atau bentuk observasi yang dilakukan, penelitian dapat dibedakan dalam kelompok sebagai berikut: 1. Eksperimen yaitu eksperimen laboratorium dan eksperimen alamiah 2. Penelitian Survai 3. Penelitian Partisipasi 4. Penelitian Kepustakaan

1.

Eksperimen

Pada dasarnya eksperimen dilakukan untuk mempelajari bagaimana pengaruh sebuah perlakuan atau lebih terhadap variabel respon yang diperhatikan

2.

Penelitian Survai

Penelitian survai selalu dikaitkan dengan sampel, sehingga penelitian survai (survey research) juga disebut sampel survai.

3.

Penelitian Partisipan

Dalam penelitian semacam ini, si peneliti melakukan pengamatan atau observasi dengan berada di wilayah atau lingkungan yang diteliti sehingga proses dan peristiwa yang ada dapat dipelajari.

4.

Penelitian Kepustakaan

Yang dimaksud penelitian kepustakaan adalah penelitian yang dilakukan hanya berdasarkan atas karya tertulis, termasuk hasil penelitian baik yang telah maupun yang belum dipublikasikan.

Sumber Kesalahan dalam Rencana Penelitian


Isaac dan Michael (1981) mengemukakan 8 (delapan) macam kesalahan dalam rencana penelitian sebagai berikut :

1. Surrogate information error, variasi/ perbedaan antara data atau informasi yang diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan dengan data yang dipikirkan atau diperhatikan si peneliti. 2. Measurement error, perbedaan antara informasi/ data yang dipikirkan oleh si peneliti dengan data yang dihasilkan oleh proses pengukuran

3. Experimental error, perbedaan antara pengaruh sebenarnya dari variabel bebas (faktor eksperimen) dengan pengaruh yang nampak atau diberikan sebagai hasil analisis 4. Population specification error, perbedaan antara populasi yang diperlukan untuk memberikan informasi dengan populasi yang diperhatikan oleh si peneliti 5. Frame error, perbedaan antara populasi yang dinyatakan atau didefinisikan oleh si peneliti dengan daftar unit atau anggota populasi yang dipakai.

6. Sampling error, perbedaan antara sampel representatif dengan sampel yang diperoleh dengan memakai metode pemilihan sampel probabilitas 7. Selection error, perbedaan antara sampel representatif dengan sampel yang diperoleh dengan memakai metode pemilihan nonprobabilitas
8. Nonresponse error, perbedaan antara sampel yang terpilih dengan sampel yang sebenarnya direncanakan dalam penelitian.

TEKNIK SAMPLING
Bahan kuliah Yossyafra, Ph D

Dasar pemikiran
Data yang dipergunakan dalam suatu penelitian belum tentu merupakan keseluruhan dari suatu populasi karena beberapa kendala :
Kendala biaya Kendala waktu Kendala tenaga Polulasi yang tidak terdefinisikan

Untuk mengatasi masalah dalam pemakaian data yang mengalami kendala-kendala, maka dapat dipergunakan SAMPEL. Sampel merupakan bagian kecil dari suatu populasi Populasi merupakan suatu wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai karakteristik tertentu dan mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel.

Untuk resiko perbedaan hasil antara populasi dengan sampel, dipergunakan kemungkinan tingkat kesalahan (misalnya 1%, 5%, 10%) Angka tingkat kepercayaan tersebut pararel dengan tingkat kepercayaan/ kebenaran (misalnya 99%, 95%, 90%)

Ukuran Sampel
Macam-macam cara untuk menentukan ukuran sampel dari suatu populasi. Beberapa ahli mengemukakan berbagai cara yang berbeda.

1. Menentukan ukuran sampel menurut Slovin


Menggunakan rumus :

n = N = e =

ukuran sampel ukuran populasi persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir atau diinginkan misalnya 2%

Rumus tersebut memiliki asumsi bahwa populasi berdistribusi normal


Batas-batas kesalahan Populasi +1% 500 1500 2500 5000 10000 50000 5000 8333 +2% 1250 1667 2000 2381 +3% 638 769 909 1000 1087 +4% 441 500 556 588 617 +5% 222 316 345 370 385 387 +10% 83 94 96 98 99 100

2. Menentukan ukuran sampel menurut Gay


Ukuran minimum sampel yang dapat diterima berdasarkan pada desain penelitian yang digunakan, yaitu :
Metode deskriptif, minimal 10% populasi untuk populasi yang relatif kecil min 20% Metode deskriptif-korelasional, minimal 30 subyek Metode ex post facto, minimal 15 subyek per kelompok Metode eksperimental, minimal 15 subyek per kelompok

3. Menentukan ukuran sampel menurut Kracjie


Sama dengan Slovin, hanya untuk sebesar 5% dan jumlah populasi N mulai dari sebesar 10 sampai 100.000. Prinsipnya sama dengan Slovin dan besar sampel yang dihasilkan hampir sama besar.

4. Menentukan ukuran sampel menurut Harry King


Harry king menghitung jumlah sampel menggunakan nomogram dan jumlah populasi maksimum 2000 dengan bervariasi sampai dengan 15%

Teknik Pengambilan Sampel


Tiga hal pokok penting dalam pengambilan sampel dari populasi :
Populasi yang terhingga dan yang tidak terhingga Pengambilan sampel secara probabilitas dan non probabilitas Pengambilan sampel dengan membagi populasi menjadi beberapa bagian (sub populasi) dan pengambilan sampel langsung dari populasi yang tidak dibagi menjadi beberapa sub populasi.

1. Pengambilan Sampel Probabilitas / Acak


Suatu metode pemilihan ukuran sampel dimana setiap anggota populasi mempunyai peluang yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Tetapi semakin besar populasi, akan semakin sulit. Ada tiga cara pengambilan sampel dengan metode ini :
1. Simple random Sampling 2. Stratified random sampling (cara stratifikasi) 3. Cluster sampling (cara kluster)

1. Simple Random Sampling A. Cara Undian

Dengan cara memberikan nomor-nomor pada seluruh anggota populasi, lalu secara acak dipilih nomor-nomor sesuai dgn banyaknya jumlah sampel yang dibutuhkan. Ada dua rancangan cara undian :

Pengambilan sampel tanpa pengembalian, yang berarti sampel yang pernah terpilih tidak akan dipilih lagi. Akan menghasilkan nilai probabilitas yang tidak konstan Pengambilan sampel dengan pengembalian, yang berarti sampel yang pernah terpilih ada kemungkinan terpilih lagi. Megnghasilkan nilai probabilitas yang konstan

b. Cara Tabel bilangan random


Menggunakan tabel bilangan random (acak), yaitu suatu tabel yang terdiri dari bilangan-bilangan yang tidak berurutan. Secara prinsip, pemakaiannya adalah dengan memberi nomor pada setiap anggota populasi dalam suatu daftar (sample frame) Selanjutnya dipergunakan jumlah digit pada tabel acak dengan digit populasi Pilih salah satu nomor dengan acak, gunakan dua digit terakhirnya, cocokkan dengan nomor pada sample frame. Jika ada yang sama, maka data pada sample frame diambil sebagai anggota sampel.

Contoh menentukan reponden menggunakan tabel bilangan random


Buat kerangka populasi (daftar nama populasi, beri nomor) Buka tabel bilangan random (acak) Pilih baris pada tabel bilangan random dengan cara tertentu (misalnya terpilih baris ke 23) Pilih lajur pada tabel bilangan acak (misalnya terpilih lajur ke 35) Temukan titik temu antara baris dan lajur, berupa bilangan (misal titik temu antara baris ke 23 dengan lajur ke 35 adalah bilangan 084) Bilangan tersebut merupakan nomor responden pertama yang terpilih Untuk menentukan nomor responden berikutnya dapat diambil bilangan-bilangan yang ada dibawah dan atau diatasnya

C. Cara sistematis / Ordinal


Merupakan teknik untuk memilih anggota sampel melalui peluang dan sistem tertentu dimana pemilihan anggota sampel dilakukan setelah pemilihan data pertama secara acak, dan untuk data selanjutnya dipilih berdasarkan interval tertentu atau kelipatan tertentu atau angka ganjil genap.

Contoh menggunakan kelipatan :


Menggunakan angka kelipatan 3 untuk menentukan responden. Maka responden yang dipilih adalah responden yang memiliki nomor 3, 6,9, dstnya.

Atau dapat juga dilakukan dengan membagi angka ukuran populasi dengan angka ukuran sampel :
Jika populasi 400 dan sampel 80, maka 400:80=5 Sehingga responden yang dipilih adalah responden yang memiliki nomor kelipatan 5. nomor 5,10,15,dstnya

2. Stratified Random Sampling (stratifikasi)

Dilakukan dengan membuat strata pada anggota populasi Mengelompokkan suatu populasi yang heterogen berdasarkan karakteristik tertentu ke dalam beberapa sub-populasi. Sehingga setiap sub populasi akan memiliki anggota sampel yang homogen Dari setiap sub populasi diambil anggota sampelnya secara acak Penghitungan sampel menggunakan dua pendekatan :
a. b. Cara proporsional (bila jumlah elemen tiap sub populasi tidak sama) Cara disproporsional (bila jumlah elemen tiap sub populasi sama)

a.

Jika jumlah elemen tiap sub sama

populasi

Misalkan jumlah sampel telah ditentukan menggunakan rumus Slovin yaitu sebesar 150. Dan telah ditentukan jumlah sub populasi (kelompok) adalah 5 Maka dapat ditentukan bahwa jumlah sampel pada tiap sub populasi adalah 150 : 5 = 30 sampel

Atau menggunakan rumus


Bila parameter-parameter yang dibutuhkan tersedia. Rumus :

L = jumlah strata D = B2 : 4 (untuk mengestimasi nilai mean) B = batas maksimal simpangan yang diterima dalam estimasi (Bound of error). Nilainya dapat dihitung (misalnya menggunakan Interval taksiran) atau ditentukan sendiri N = total jumlah populasi Ni = anggota sub populasi/kelompok 2 = dapat diambil dari penelitian yang terdahulu (jika ada) atau dari prasurvei

Selanjutnya untuk menghitung besar sampel untuk tiap strata/sub-populasi/ tiap kelompok menggunakan rumus :
N

ni =
L

Dimana :
n = jumlah sampel yang ditarik dari L = jumlah strata populasi

Contoh :
Akan dilakukan survei pendapat konsumen terhadap suatu produk. Dari total jumlah anggota populasi 868 yang berdomisili di 5 wilayah DKI, akan diambil sejumlah sampel Berikut tabel jumlah konsumen menurut lokasi tempat tinggal :
Lokasi
Jakarta Utara Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Selatan

Strata (Li)
I II III IV

Ni
448 131 81 108

2
6 10 5 7

Jakarta Barat

100

Misalkan batas simpangan ditentukan sebesar 0,5 Berarti dapat ditentukan :


L =5 D = B 2 : 4 = 0,5 2 : 4 = 0,06

Ni2 2 =

(4482 x 6) + (1312 x 10) + (812 x 5) + (1082 x 7) + (1002 x 5) = 1.540.287

Ni 2

= (448 x 6) + (131 x 10) + (81 x 5) + (108 x 7) + (100 x 5) = 5659

N2 D = 868 2 (0,06) = 45.205,44

Jumlah sampel yang ditarik untuk populasi :


n=
5(1.540.287) 45.205,44 + 5659

Hasilnya adalah 151,41 Dibulatkan menjadi 150 Besar sampel tiap strata
ni = (n : L) = (150 : 5) = 30

Jadi dari tiap sub populasi akan diambil sampel masingmasing sebesar 30

b.

Jika jumlah elemen tiap sub populasi tidak sama


Misalkan jumlah populasi 868 terbagi atas 5 sub-populasi yang ukurannya 448, 131, 81, 108 dan 100. Jumlah sampel yang ingin diambil adalah 150 Karena harus sebanding dengan jumlah sub populasinya, maka perlu dicari faktor pembanding dari tiap sub populasi yang sering disebut sebagai sample fraction () dengan cara membandingkan jumlah elemen tiap sub populasi dengan jumlah seluruh elemen populasi sehingga didapat masing-masing sample fraction.

Untuk menentukan jumlah sample untuk masingmasing sub populasi / strata yang tidak sama harus menentukan sample fraction terlebih dahulu menggunakan rumus :
Ni

fi =

Dimana :

fi = sample fraction Ni = jumlah sub-populasi N = jumlah populasi

Contoh :
Akan dilakukan survei pendapat konsumen terhadap suatu produk. Dari total jumlah anggota populasi 868 yang berdomisili di 5 wilayah DKI, akan diambil sejumlah sampel Berikut tabel perhitungan sample fraction dan jumlah sampel : Total elemen populasi (N) = 868 Jumlah sampel yang ingin diambil (n) = 150

Lokasi
Jakarta Utara Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Selatan Jakarta Barat

Strata (Li)
I II III IV V

Ni
448 131 81 108 100 868

(Ni:N)
0,516 0,151 0,093 0,124 0,116 1

n(Ni:N)
77 23 13 19 18 150

3. Cluster Sampling Pendekatan pengambilan sampel dengan cara melakukan seleksi terlebih dahulu terhadap setiap individu yang menjadi populasi Dilakukan dengan cara membagi populasi ke dalam kelompok-kelompok elemen dan secara random beberapa anggota kelompok dipilih sebagai sampel. Atau melakukan randomasi terhadap kelompok bukan terhadap subjek terhadap secara individual. Didasarkan pada satuan analisis dalam kelompok tertentu di satu wilayah.

Contoh :
Penelitian untuk mengetahui penggunaan internet di wilayah Belimbing kota malang. Kesulitan membuat kerangka populasi karena jumlah satuan analisis yang banyak (warga belimbing kota malang) Misal wilayah belimbing memiliki 10 RW. Dari 10 RW tersebut diambil 25% melalui teknik random, diperoleh 3 RW Masing-masing RW memiliki 11,12 dan 14 RT Masing-masing RT terdiri dari 25, 26 dan 29 KK Dari 80 KK tersebut hanya 50 KK yang menggunakan internet.

Perbedaan Stratified Sampling dengan Cluster Sampling


Cara stratifikasi akan mengakibatkan adanya sub-populasi yang unsurnya homogen Cara Cluster akan mengakibatkan adanya subpopulasi yang unsurnya heterogen.

2. Pengambilan sampel Non Probabilitas / Non Acak


Pengambilan sampel dengan cara ini akan membuat semua elemen populasi belum tentu memiliki peluang yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Besarnya peluang anggota populasi untuk terpilih sebagai sampel tidak diketahui. Akibatnya tidak dapat menghitung besarnya error dalam estimasi terhadap karekteistik populasi.

Alasan menggunakan nonprobability sampling :


Total populasi tidak diketahui dengan pasti Penggunaan probability tidak operasional di lapangan, karena sampel cenderung akan bias Analisis antar seksi (cross section) tidak dipergunakan dalam penelitian Biaya dan waktu yang tersedia tidak memungkinkan operasi penelitian menggunakan probability sampling.

a. Cara keputusan (judgment sampling) Mengambil sampel dengan melakukan pertimbangan Contoh :
Bila ingin mengetahui pendapat karyawan tentang suatu produk yang akan dibuat, peneliti telah beranggapan bahwa karyawan akan lebih banyak tahu daripada orangorang lain, sehingga peneliti telah melakukan pertimbangan.

Cara ini cocok untuk dipakai pada saat tahap awal studi eksploratif.

B. Cara kuota (Quota sampling) Mengambil sampel sebanyak jumlah tertentu yang dianggap dapat merefleksikan ciri populasi. Pada cara ini tidak ada jaminan bahwa ciri-ciri populasi akan terwakili dalam sampel yang terpilih dan kita tidak dapat mengestimasi error yang terjadi. Hasil penelitian terhadap sampel ini tidaklah dapat digeneralisasikan secara valid pada populasinya. Cara ini dapat dipergunakan apabila :
peneliti menghadapi keterbatasan dana tujuan penelitian bukan untuk memperoleh gambaran mengenai populasi melainkan untuk pengujian hipotesis-hipotesis dalam penelitian awal.

Contoh :
Tujuan peneliti ingin mengetahui penggunaan internet di kampus ASIA bagi mahasiswa masingmasing jurusan semester 5 Peneliti menetapkan 20 mahasiswa untuk masingmasing jurusan semester 5 sebagai responden Angka 20 merupakan perkiraan peneliti yang diyakini dapat mewakili mahasiswa di lokasi penelitian.

C. Cara Dipermudah (Convinience sampling) Sampel dengan cara ini adalah yang paling murah dan cepat dilakukan karena peneliti memiliki kebebasan untuk memilih siapa saja yang mereka temui. Kurang bisa diandalkan Bermanfaat untuk tahap awal penelitian eksploratif saat mencari petunjuk-petunjuk penelitian, yang akan menghasilkan bukti-bukti yang cukup melimpah sehingga prosedur pengambilan sampel yang lebih canggih tidak diperlukan lagi.

D. Cara bola salju (Snowball sampling) Merupakan teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian sampel ini disuruh memilih responden lain untuk dijadikan sampel lagi, begitu seterusnya sehingga jumlah sampel menjadi banyak.

E. Area Sampling Populasi dibagi atas beberapa bagian populasi di mana bagian populasi ini dapat dibagi-bagi lagi. dari bagian populasi yang terkecil diambil sampel sebagai wakilnya untuk masuk kepada bagian populasi yang lebih besar. Dari bagian populasi yang lebih besar ini akan diambil lagi sampel yang akan dipakai lagi dan seterusnya.

F. Purposive Sampling Pemilihan sampel didasarkan pada karakteristik tertentu yang dianggap mempunyai hubungan dengan karakteristik populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Memilih sampel berdasarkan kelompok, wilayah atau sekelompok individu melalui pertimbangan tertentu yang diyakini mewakili semua unit analisis yang ada.

Contoh :
Penelitian untuk meneliti sikap mahasiswa terhadap peraturan pemerintah mengenai UU Hak Cipta Maka dipilih beberapa Perguruan Tinggi dan Universitas yang dianggap dapat mewakili bedasarkan penyelidikan atau kenyataan sebelumnya.

Kekeliruan Sampling
Proses riset harus terbebas atau paling tidak hanya memilki sedikit kesalahan ataupun kekeliruan baik pada saat pengumpulan, pengolahan data sampai dengan saat penyajian informasi sebagai hasil riset Secara logis, tidak mungkin rata-rata hitung suatu sampel yang diambil dari suatu populasi akan sama persis dengan rata-rata hitung populasi.

Kekeliruan sampling :
Adalah kekeliruan yang terjadi pada saat menelaah sampel, misalnya dalam menentukan jumlah sampel yang harus diambil

Kekeliruan tak sampling :


Kekeliruan yang terjadi dalam suatu riset yang disebabkan oleh populasi yang tidak jelas, pertanyaan yang tidak tepat dan obyek yang diteliti ternyata tidak seluruhnya didapat.

1 . Filosofi Penelitian

2 . Rumusan Masalah

3 . Review Literature

4 . Merancang Penelitian 5 .Pembuatan Proposal 6 . Pengumpulan Data

1. proses analisa data menggunakan statistik atau formula perancangan 2. teknik menampilkan hasil penelitian dalam kurva/grafik dll, serta teknik membahas pola-pola data yg ditampilkan 3. proses perencanaan, pelaksanaan, kontrol proses penelitian 4. cara membuat laporan untuk tugas akhir jenis penelitian dan jenis perancangan serta teknik penulisannya

7 . Analisisa dan Pembahasan 8 . Pembuatan 9. Persentasi

Validitas dan Reliabelitas


Istilah validitas (validity) dipakai berkaitan dengan hasil pengukuran atau pengamatan, sedang istilah reliabilitas (reliability) dipakai berkaitan dengan alat yang dipakai untuk melakukan pengukuran (alat ukur atau instrumen pengumpulan data) Validitas atau tingkat ketepatan adalah tingkat kemampuan instrumen penelitian untuk mengungkapkan data sesuai dengan masalah yang hendak diungkapkannya. Dari sudut instrumen, pengukuran adalah kemampuan instrumen penelitian untuk mengukur apa yang hendak diukur secara tepat dan benar.

Validitas berarti juga bahwa instrumen penelitian merupakan bukti kemampuannya dalam mengungkapkan sesuatu atau yang diukur atau diamati oleh peneliti, sesuai dengan apa yang sesungguhnya ada dalam kenyataan. Reliabelitas atau tingkat ketetapan (consistency atau keajegan) adalah tingkat kemampuan instrumen penelitian untuk mengumpulkan data secara tetap dari sekelompok sampel.
Instrumen yang memiliki tingkat reliabilitas tinggi cenderung menghasilkan data yang sama tentang suatu variabel atau unsur-unsurnya, jika diulangi pada waktu yang berbeda pada kelompok sampel yang sama

Setiap pengukuran atau deretan pengukuran dapat termasuk dalam klasifikasi :


1. neither valid nor reliable (tidak valid dan tidak reliabel) 2. valid but not reliable (valid tetapi tidak reliabel) 3. reliable but not valid (reliabel tetapi tidak valid) 4. valid and reliable (valid dan reliabel)

Dalam hal ini kita menyadari bahwa alat ukur dan hasil pengukuran berkaitan atau merupakan satu kesatuan, sehingga kriteria validitas dan reliabilitas tidak dapat berdiri sendiri.

Dan, kita selalu berusaha untuk membuat atau memakai alat ukur yang terpecaya (reliable) dengan hasil pengukuran yang valid.

1 . Filosofi Penelitian

2 . Rumusan Masalah

3 . Review Literature

4 . Merancang Penelitian 5 .Pembuatan Proposal 6 . Pengumpulan Data

cara membuat makalah untuk seminar hasil maupun publikasi jurnal dan teknik penulisannya

7 . Analisisa dan Pembahasan 8 . Pembuatan