Anda di halaman 1dari 33

JAKARTA, 16 DESEMBER 2013

BENIGN PROSTAT HIPERPLASI BPH

Nadia Alwainy / 030.08.171

CONTENT
DEFINISI ANATOMI FISIOLOGI EPIDEMIOLOGI

ETIOLOGI

PATOFISIOLOGI

GEJALA KLINIS

PEMERIKSAAN PENUNJANG

DIAGNOSIS

DIAGNOSIS BANDING

KOMPLIKASI

PENATALAKSANAAN

Pendahuluan

Hyperplasia prostat merupakan salah satu masalah utama bagi pria usia diatas 50 tahun dan berperan dalam penurunan kualitas hidup seseorang. Di Jakarta Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) merupakan kelainan kedua tersering setelah batu saluran kemih. Di Rumah Sakit Dr. Cipto mangunkusumo (RSCM), subag urologi, setiap tahun ditemukan antara 200 sampai 300 penderita baru dengan pembesaran prostat.

Definisi

Benign Prostate Hypertrofi (BPH) sebenarnya adalah suatu keadaan dimana kelenjar periuretral prostat mengalami hiperplasia yang akan mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai bedah.

Anatomi

Prostat adalah suatu organ kelenjar yang fibromuskular Berat prostat pada orang dewasa normal 20 gram didalamnya terdapat uretra posterior dengan panjangnya 2,5 3 cm. BATAS : anterior : ligamentum pubo-prostatika (menyokong prostat-simfisis pubis) posterior : vesikula seminalis, vas deferen, fasia denonvilliers dan rectum. ductus ejakulatorius yang bermuara pada veromentanum. Superior : vesika urinaria dan spingter uretra interna. Inferior : diafragama urogenitalis

Anatomi

Anatomi
Lowsley : 5 lobus McNeal :

PEMBULUH DARAH, LIMFE DAN SARAF

Arteri prostat berasal dari arteri vesika inferior, arteri pudendalis interna arteri hemoroidalis medialis. Darah vena prostat dialirkan kedalam fleksus vena periprostatika yang berhubungan dengan vena dorsalis penis, kemudian dialirkan ke vena iliaka. Persarafan kelenjar prostat sama dengan persarafan kandung kemih bagian inferior yaitu pleksus saraf simpatis dan parasimpatis. Aliran lymph dari prostat dialirkan kedalam lymph node iliaka interna (hipogastrika), sacral, vesikal dan iliaka aksterna.

Epidemiologi

Pembesaran prostat jinak (BPH) merupakan penyakit pada laki-laki usia diatas 50 tahun yang sering dijumpai. Di Indonesia BPH merupakan urutan kedua setelah batu saluran kemih dan diperkirakan ditemukan pada 50% pria berusia diatas 50 tahun.

Etiologi

Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya hiperplasia prostat. tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasia prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar dehidrotestosteron (DHT) dan proses aging (menjadi tua).

Beberapa teori yang diduga sebagai etiologi dari BPH :


1. Teori hormonal

2. Teori growth factor (faktor pertumbuhan)

3. Teori Peningkatan Lama Hidup Sel-sel Prostat karena Berkuramgnya Sel yang Mati
4. Teori Sel Stem (stem cell hypothesis)

5. Teori Dihydro Testosteron (DHT)

6. Teori Reawakening

Patofisilogi

Retensi urin total Fase dekompensasi

Fase kompensasi

Pembesara n Prostat

Lumen uretra menyempit

Aliran urin terhambat

Perubahan anatomik vesika (hipertrofi otot detrusor, trabekulasi divertikel dsb)

Kontraksi buli-buli

tekanan intravesikal

Fase kompensasi

LUTS

Lower urinary tract symptom

resistensi uretra

Fase Dekompensasi

Otot detrusor kontraksi max

tekanan muara ureter

tekanan intravesikal

Retensi urin

Refluks vesiko-ureter

Hidroureter, hidronefrosis

Potongan horizontal kelenjar prostat normal, Hipertrofi.

Gejala Klinis

penurunan kekuatan pancaran dan kaliber aliran urine Sulit memulai kencing (hesitancy) dribbling (urine menetes setelah berkemih) sering berkemih (frequency ) dan sering berkemih malam hari (nocturia). Hematuria Bila obstruksi cukup berat, dapat menimbulkan gagal ginjal (renal failure) dan gejala-gejala uremia berupa mual, muntah, somnolen atau disorientasi, mudah lelah dan penurunan berat

Pemeriksaan Fisik
Normal prostat BPH

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik diagnostik yang paling penting untuk BPH adalah colok dubur. Normal : tidak terdapat penonjolan/dorongan kerektum, konsistensi kenyal, permukan rata, sulkus medialis teraba dan digaris tengah, dan kutub atas prostat/ pole teraba. BPH : pembesaran prostat teraba simetris dengan konsistensi kenyal, sulkus medialis tidak teraba. (kutub/pole atas prostat) terangkat ke atas sehingga tidak dapat diraba. Jika pada colok dubur teraba kelenjar prostat dengan konsistensi keras, harus dicurigai suatu karsinoma.

Derajat BPH

Derajat I : Colok dubur ; penonjolan prostat, batas atas mudah diraba, dan sisa volume urin <50 ml Derajat II : Colok dubur : penonjolan prostat jelas,batas atas dapat dicapai, sisa volume urin 50-100 ml Derajat III : Colok dubur : batas atas prostat tidak dapat diraba, sisa volume urin >100 ml Derajat IV : Terjadi retensi urin total.

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium : Darah - Ureum dan kreatinin - Elektrolit - Blood urea nitrogen - Prostate Specific Antigen (PSA) - Gula darah Urin - Kultur - Urinalisis - mikroskopik - Sedimen

Pemeriksaan pencitraan
Foto polos abdomen (BNO)

Pielografi intravena (IVP)

Sistogram retrograde

Transrektal ultrasonografi (TRUS)

MRI atau CT Scan (jarang digunakan)

Pemeriksaan lain
Uroflowmetri Untuk mengukur laju pancaran urin miksi. Pemeriksaan Tekanan Pancaran (Pressure Flow Studies) Untuk membedakan penyebab dari menurunnya laju pancaran urin (obstruksi atau daya kontraksi otot detrusor yang melemah) Pemeriksaan Volume Residu Urin Volume residu urin setelah miksi spontan dapat ditentukan dengan cara memasang kateter uretra dan mengukur berapa volume urin yang masih tinggal.

Diagnosis

Anamnesis : gejala obstruktif dan gejala iritatif Pemeriksaan fisik : terutama colok dubur Pemeriksaan laboratorium : berperan dalam menentukan ada tidaknya komplikasi. Pemeriksaan pencitraan : Pada IVP terlihat adanya lesi defek isian kontras pada dasar kandung kemih atau ujung distal ureter membelok ke atas berbentuk seperti mata kail. Dengan (TRUS), dapat terlihat prostat yang membesar. Uroflowmetri : tampak laju pancaran urin berkurang. Mengukur volume residu urin : kateterisasi post miksi spontan

Diagnosis Banding

Kelemahan detrusor kandung kemih: kelainan medula spinalis, neuropatia diabetes mellitus, pasca bedah radikal di pelvis Kandung kemih neuropati, disebabkan oleh : kelainan neurologik, neuropati perifer, diabetes mellitus, alkoholisme, farmakologik (obat penenang, penghambat alfa dan parasimpatolitik) Obstruksi fungsional : dis-sinergi detrusor-sfingter terganggunya koordinasi antara kontraksi detrusor dengan relaksasi sfingter, ketidakstabilan detrusor

Kekakuan leher kandung kemih : fibrosis


Resistensi uretra yang meningkat disebabkan oleh : hiperplasia prostat jinak atau ganas, kelainan yang menyumbatkan uretra, uretralitiasis, uretritis, striktur uretra Prostatitis

Komplikasi

Inkontinensia Paradoks Batu Kandung Kemih Hematuria Sistitis Pielonefritis Retensi Urin Akut Atau Kronik Refluks Vesiko-Ureter Hidroureter Hidronefrosis Gagal Ginjal

Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan : Menghilangkan atau mengurangi volume prostat Mengurangi tonus leher vesika, otot polos prostat dan kapsul prostat Melebarkan uretra pars prostatika, menambah kekuatan detrusor

4 macam golongan tindakan


Observasi (Watchful waiting)

Medikamentosa

Operatif

Invasif minimal

Observasi (Watchful waiting)

Tidak semua pasien hiperplasia prostat perlu menjalani tindakan medik. Kadang-kadang mereka yang mengeluh pada saluran kemih bagian bawah (LUTS) ringan dapat sembuh sendiri dengan observasi ketat tanpa mendapatkan terapi apapun.

Medikamentosa
1. penghambat adrenergik a-1 Mengurangi tonus leher vesika, otot polos prostat dan kapsul prostat, meningkatan laju pancaran urin dan memperbaiki gejala miksi. Contoh obatnya : Prazosine, dosisnya adalah 1-5 mg/hari, Terazosin, Tamzulosin dan Doxazosin. Efek samping : hipotensi ortostatik, palpitasi, astenia vertigo dan lain-lain 2. Penghambat enzim 5a reduktase Obat ini baru akan memberikan perbaikan symptom setelah 6 bulan terapi. efek samping : menurunnya libido. Contoh obat : finasteride (dosis 5mg/hari) 3. fitoterapi Bahan aktifnya belum diketahui dengan pasti, masih memerlukan penelitian yang panjang. Contoh obat : Serenoa repens atau Saw Palmetto dan Pumpkin

Operatif
Prostatektomi terbuka - Retropubic infravesika (Terence millin) - Suprapubic transvesica/TVP (Freyer) - Transperineal Endourologi - Trans urethral resection (TUR) - Trans urethral incision of prostate (TUIP) - Pembedahan dengan laser (Laser Prostatectomy)

Minimal Invasive

Trans urethral microwave thermotherapy (TUMT) - Trans urethral ballon dilatation (TUBD) - Trans urethral needle ablation (TUNA) - Stent urethra dengan prostacath

Kesimpulan

Hyperplasia kelenjar prostat mempunyai angka morbiditas yang bermakna pada populasi pria lanjut usia. Gejala dari pembesaran prostat ini terdiri dari gejala obstruksi dan gejala iritatif. Penatalaksanaan BPH berupa watchful waiting, medikamentosa, terapi bedah konvensional dan terapi minimal invasif.