Anda di halaman 1dari 75

Seorang pemain bola 18 tahun mengalami nyeri sendi lutut kiri disertai rasa tidak nyaman saat berjalan.

Kadang lutut kiri mengunci bila dilipat dan tidak bisa spontan kembali lurus. Saat kaki sudah bisa diluruskan, nyeri berkurang dan bisa berjalan seperti biasa. Seringkali saat berjalan, dia juga merasa lutut tidak stabil. Enam bulan sebelumnya, dia mengalami trauma saat bermain bola, nyeri lutut kirinya dan bengkak, tidak bisa berjalan selama 5 hari. Sesudah pasien berangsur membaik dan bisa berjalan kembali, datang kembali untuk kontrol ke dokter di poli klinik bedah orthopaedic.

Pada pemeriksaan tampak artikulasio genu sinistra tidak ada pembengkakan, otot-otot paha kiri sekitar lutut mengalami hipotrofi-atrofi dibanding otot-otot paha kanan yang terlihat sehat dan berotot, perabaan tidak terasa panas, nyeri tekan tidak ada, krepitasi tidak ada, ROM sendi lutut normal. Namun pada pemeriksaan stabilitas, ditemukan test drawer anterior positif, test Mc. Murray negative. Pasien dianjurkan untuk dilakukan pemeriksaan penunjang foto Rontgen. Tugas : Jelaskan keluhan dan penemuan klinis saat ini dan kejadian trauma 6 bulan yang lalu. Jelaskan mekanisme perubahan massa otot (otot mengecil). Kondisi apa saja yang dapat menyebabkan hipotrofi-atrofi ? Apakah kondisi patologi bisa menyebabkan kerusakan lebih parah (komplikasi) ?

Cedera ACL (Anterior Cruciatum Ligament) adalah robekan di salah satu ligamen pada lutut yang menghubungkan tulang kaki bagian atas (distal femur) dan tulang kaki bagian bawah (proksimal tibia). Anterior Cruciatum Ligament adalah satu dari empat major ligamen pada lutut. ACL berfungsi sebagai stabilitator dan pembatas gerakan pada lutut.

Cedera ACL adalah robekan pada ACL yang akan mengakibatkan: Pembengkakan pada lutut Rasa nyeri pada lutut Ketidakstabilan pada lutut

Cedera ACL merupakan cedera pada lutut yang sering terjadi.


Cedera ini lebih sering terjadi pada orang yang berpartisipasi dalam bidang olahraga yaitu seperti atlet basket, sepakbola dan ski. Berdasarkan studi dari National Collegiate Athletic Association (NCAA) di Amerika telah menunjukkan bahwa atlet wanita memiliki insidensi yang tinggi pada cedera ACL dibandingkan atlet laki-laki.

Cedera ACL : Atlet wanita > Atlet pria Hal ini dikarenakan adanya perbedaan kondisi fisik, kekuatan otot dan kontrol neuromuskular

Diperkirakan bahwa 70% cedera ACL melalui mekanisme non kontak dan 30% adalah kontak langsung dengan pemain atau object. Mekanisme non kontak:

Jatuh dari tangga atau dari ketinggian sehingga terjadi

Mekanisme kontak:
hyperextension.

hyperflexi yang berlebihan. Deselerasi atau berputar secara tiba-tiba.


Terkena tackle pada saat bermain bola. Bertabrakan dengan kaki pemain

lawan

saat

kaki

Cedera ini seringkali terjadi pada olahraga keras yang mengharuskan melompat dan berlari (olahraga yang ketika lari kencang tiba-tiba berhenti atau saat melompat tiba-tiba harus berputar)

Cedera pada ligamen (SPRAIN) menurut Sadoso dan Brukner & Khan (1993) di bagi menjadi beberapa tingkatan, yaitu: 1. Sprain tingkat I. Pada cedera ini terdapat sedikit hematoma dalam ligamen dan hanya beberapa serabut yang putus. 2. Sprain tingkat II. Pada cedera ini lebih banyak serabut otot dari ligamen yang putus, tetapi lebih dari separuh serabut ligamen masih utuh. 3. Sprain tingkat III. Pada cedera ini seluruh ligamen putus sehingga kedua ujungnya terpisah.

Bagian-bagian dari tulang-tulang pembentuk regio knee joint antara lain :

Femur : Epicondylus lateralis Epicondylus medialis Fossa patella Tubercullum adductor Condylus medialis Condylus lateralis Fossa Intercondylaris

Patella : Basis Apex Facies Articularis

Tibia : Condylus lateralis Condylus medialis Linea musculi sole Margo interosseus Margo medialis Malleolus medialis Fibula : Apex capitis fibulae Caput fibulae Collum fibulae Crista medialis Malleolus lateralis

Ligamen-ligamen dari sendi lutut berfungsi sebagai struktur yang mempertahankan stabilitas sendi lutut dalam berbagai posisi. Ligamen-ligamen tersebut adalah sebagai berikut:

Ligamentum Patellae Melekat (diatas) pada tepi bawah patella dan pada bagian bawah melekat pada tuberositas tibiae. Ligamentum Collaterale Fibulare Ligamentum ini menyerupai tali dan melekat di bagian atas pada condylus lateralis dan dibagian bawah melekat pada capitulum fibulae.

Ligamentum Collaterale Tibiae Ligamentum ini berbentuk seperti pita pipih yang melebar dan melekat dibagian atas pada condylus medialis femoris dan pada bagian bawah melekat pada margo infraglenoidalis tibiae. Ligamentum Transversum Genu Terletak membentang paling depan pada dua meniscus , terdiri dari jaringan connective, kadangkadang ligamentum ini tertinggal dalam perkembangannya, sehingga sering tidak dijumpai pada sebagian orang.

Ligamentum Popliteum Obliquum Merupakan ligamentum yang kuat, terletak pada bagian posterior dari sendi lutut, letaknya membentang secara oblique ke medial dan bawah. Sebagian dari ligamentum ini berjalan menurun pada dinding capsul dan fascia m. popliteus dan sebagian lagi membelok ke atas menutupi tendon m. semimembranosus.

Anterior Cruciate Ligament Ligamentum ini melekat pada area intercondylaris anterior tibiae dan berjalan kearah atas ke belakang dan lateral untuk melekat pada bagian posterior permukaan medial condylus lateralis femoris. Ligamentum cruciatum anterior berfungsi untuk mencegah perpindahan tibiae ke depan pada femur.

Posterior Cruciate Ligament Ligamentum cruciatum posterior melekat pada area intercondylaris posterior dan berjalan kearah atas , depan dan medial, untuk dilekatkan pada bagian anterior permukaan lateral condylus medialis femoris. Ligamentum cruciatum posterior berfungsi untuk mencegah perpindahan tibiae ke belakang pada femur.

Gambar dari ACL normal

Gambar dari ACL abnormal

Cartilago Semilunaris Medialis Bentuknya hampir semi sirkular dan belakang jauh lebih lebar daripada depannya.

bagian bagian

Cartilago Semilunaris Lateralis Bentuknya hampir sirkular dan melebar secara merata.

Rektus Femoris O = Dua tendon pada illium pelvis : melekat pada spina iliaca inferior anterior dan pada tepi acetabulum. I = Bagian dasar patella dan anterior tibia. F = Ekstensi tungkai pada lutut. Vastus Lateralis O = Sisi lateral linea aspera, trochantor mayor, dan tuberositas gluteal pada sisi proksimal tulang femur. I = Tepi lateral patella dan sisi anterior tibia. F = Ekstensi tungkai pada lutut.

Vastus Medialis O = Tepi medial linea aspera tulang femur termasuk tepi atas dan bawahnya. I = Tepi medial patella dan bagian medial tibia (condylus medial). F = Ekstensi tungkai pada lutut.

Vastus Intermedius O = Permukaan anterior batang femur, dua per tiga bagian atas. I = Tepi lateral patella dan bagian lateral tibia (condylus lateral). F = Ekstensi tungkai pada lutut.

Bisep Femur O = Kepala panjang : tuberositas ischial (pada pelvis) ; Kepala pendek : linea aspera femur. I = Fibula proksimal, permukaan lateral : condylus lateral tibia. F = Fleksi dan rotasi secara lateral. Semitendinosus O = Tuberositas ischial (pada pelvis). I = Permukaan medial tibia proksimal. F = Fleksi dan internal rotasi, ekstensi paha pada panggul.

Semimembranosus O= Tuberositas ischial (pada pelvis). I = Permukaan medial tibia proksimal. F = Fleksi dan rotasi secara medial tungkai pada lutut, ekstensi paha pada panggul.

Soleus O = seperempat bagian posterior atas fibula ; tepi medial dari sepertiga bagian tengah tulang tibia. I = Persambungan tendon gastroknemius untuk membentuk tendon kalkaneal (achilles). F = Plantar fleksi kaki.

Gastroknemius O = femur posterior : kepala medial, condilus medial I = Melalui tendon kalkaneal(achiles) sampai tulang kalkaneus F = fleksi tungkai pada lutut ; penting untuk daya penggerak.

Pasien yang mengalami cedera ACL akan datang dengan keluhan : Nyeri dan bengkak pada lutut Lutut mengunci (locking) Lutut tidak stabil atau seperti mau lepas Tanyakan mekanisme cederanya, lalu tanyakan pula apakah sebelumnya sudah pernah mengalami cedera di lokasi yang sama. Selalu tanyakan tentang penurunan fungsi, seperti: Penurunan kemampuan berjalan Penurunan kemampuan menaiki tangga Kesulitan duduk serta berdiri dari kursi

Luka akut dan kronis pada lutut dapat mengakibatkan ketidakstabilan sendi. Disarankan bahwa lutut yang terluka diperiksa stabilitasnya secepat mungkin setelah cedera. Tes-tes seperti ini sebaiknya dilakukan hanya oleh tenaga yang sudah terlatih dan profesional. Lutut yang cedera dan lutut yang tidak cedera di tes dan dibedakan untuk menentukan suatu perbedaan dalam tingkat stabilitasnya.

Beberapa Tes Stabilitas

Tes Ligament Cruciate Anterior : Tes Drawer Anterior Tes Drawer Lachman Tes Pivot-Shift
Tes Meniscal McMurray

Tes Drawer Anterior


Cara kerjanya adalah : Penderita berbaring pada tempat pemeriksaan dengan tungkai yang cedera di fleksikan.
Pemeriksa menghadap ke bagian depan tungkai

penderita yang cedera.

Ibu jari pemeriksa pada sendi lutut, sedangkan jari-

jari lainnya terletak pada tendo hamstring.

Tarik bagian atas tungkai.

Bila ditemukan tulang tibia yang menggeser ke

depan maka tes drawer anterior positif.

Tes Drawer Lachman


Cara kerjanya adalah :
Meletakkan lutut pada posisi fleksi kira-kira dalam

sudut 30 derajad.

Satu tangan dari pemeriksa memegang bagian

akhir atau ujung distal dari femur, dan tangan yang lain memegang bagian proksimal dari tulang tibia.

Kemudian usahakan untuk digerakkan ke arah

anterior.

Tes Pivot-Shift
Cara kerjanya adalah :
Penderita berbaring terlentang. Salah satu tangan pemeriksa ditekan pada bagian

kepala dari tulang fibula, tangan yang satunya memegang pergelangan kaki penderita tersebut.

Tungkai atas kemudian difleksikan dengan sudut 30

derajad.

Jika ligamen cruciate bagian anterior robek, maka

tibia tanpa ada kemajuan (tetap).

Tes Meniscal McMurray


Tes ini untuk menentukan adanya meniscus yang robek.

Cara kerjanya adalah : Penderita berbaring terlentang.


Tungkai yang cedera difleksikan. Pemeriksa meletakkan salah satu tangan pada telapak

kaki dengan tangan yang satunya diatas ujung lutut, jarijari menyentuh garis sendi sebelah medial.

Lakukan endorotasi dan eksorotasi pada kaki. Pada saat hal ini dilakukan, tangan pada lutut merasa

ada respon bunyi klik.

X-RAY
Xray : untuk mengetahui kemungkinan adanya

kerusakan ligament.

tulang

pada

tempat

menempelnya

Adanya tulang yang lepas dapat terlihat pada

pemeriksaan ini.

MRI (Magnetic Resonance Imaging)


MRI

: pemeriksaan untuk

non invasive yang sangat struktur tulang

berguna

memperlihatkan

dengan sangat baik.


Pemeriksaan

dapat

memperlihatkan

selain

kerusakan ACL juga kerusakan ligament yang lain,

meniskus tulang rawan, atau tulang rawan artikular.

ARTHROSCOPI

Alat bedah dimasukkan melalui satu atau lebih potongan

kecil (sayatan) pada lutut untuk melihat dalam lutut.


Ini adalah prosedur yang digunakan untuk memeriksa

bagian dalam sendi dengan memasukkan tabung tipis (arthroscope) yang berisi kamera dan cahaya melalui sayatan kecil di dekat sendi.
Kamera mengirimkan gambar close-up video dari sendi

ke monitor tv, dimana dokter dapat melihat bagian dalam sendi.

Arthroscopi dapat digunakan untuk mendiagnosa penyakit sendi dan cedera sendi dan untuk mengobati beberapa masalah bersama.

Instrumen bedah juga dapat dimasukkan melalui arthroscope untuk mengambil sampel jaringan atau untuk memperbaiki luka/kerusakan pada sendi.

Cedera pada bagian ligamen cruciatum posterior akibat gerakan mendadak dan perubaan postur secara tiba tiba. Biasa terjadi pada pemain rugby atau olahraga sepak bola dan posisi lutut yang tertekuk saat terjadi benturan.

Meniskus bertindak sebagai penahan guncangan semasa aktivitas menahan beban dan membantu untuk mempertahankan kestabilan sendi lutut. Setiap lutut memiliki dua meniskus berbentuk potongan tulang rawan yang bertindak seperti bantal antara os tibia dan os femur. Ketika meniskus robek, akan menyebabkan rasa sakit, pembengkakan dan kekakuan.

Terjadi sebagai akibat dari kerja yang berlebihan oleh sendi patellofemoral yang terus menerus.
Nyeri biasanya di sekitar patella. Sering terjadi pada atlet dan non atlet yang melakukan olahraga high impact seperti sepakbola.

Kerusakan pada tendon patella akibat mekanisme gerakan yang berlebihan dan berulang. Kerusakan terjadi pada salah satu tendon yang menghubungkan patella dengan os tibia atau patella dengan os femur.

Apa yang dapat di lakukan pada cedera ACL segera setelah cedera?

Bagaimana recovery setelah rekonstruksi ACL?

CEDERA ACL

Bagaimana tidakan operatifnya?

Dapatkah cedera lutut di cegah?

Tindakan yang harus di lakukan disingkat R.I.C.E Rest : Hentikan segera segala aktifitas, karena cedera lutut harus beristirahat untuk 24 sampai 48 jam pertama guna untuk mencegah cedera lebih lanjut.

Ice : lakukan kompres dengan es atau air dingin untuk mengurangi bengkak dan nyeri

Compression : lakukan balutan dengan compression bandage (elastic verband) untuk mengurangi bengkak

Elevation : berbaring dengan tungkai ditinggikan untuk mengurangi bengkak

Gold standart rekonstruksi ACL adalah dengan menggunakan teknik arthroskopi. Tendon yang digunakan berasal dari tubuh sendiri (autograf), yang sering digunkan adalah ligament patella dan harmstring.

Keuntungan arthroskopi : Mudah melihat dengan jelas bagian dalam lutut. Sayatan kecil sehingga kesakitan yang diderita pasien lebih ringan. Pada saat yang sama dapat melihat dan menanggulangi kerusakan struktur lutut yang cedera. Resiko lebih rendah. Rehabilitasi lebih cepat.

Pasien dirawat biasanya semalam di rumah sakit. Untuk mobilisasi pasien dapat langsung berjalan dengan menggunakan tongkat.

Kontrol luka operasi dilakukan seminggu sekali selama 2 minggu.

Brace digunakan pasien selama 2-3 bln. Bulan pertama pasien dapat berjalan dengan lutut tetap lurus (straight) kemudia bulan ke dua tetap menggunakan brace dengan lutut bisa ditekuk 90 derajad. Pada waktu berbaring brace dilepas dan lutut dilatih untuk di tekuk.

Pemanasan dan pendinginan sebelum dan sesudah berolahraga. Tingkatkan program latihan anda secara bertahap dengan menambah frekuensi,durasi dan intensitas. Tetapi jangan melampaui batas nyeri. Rawatlah kesehatan secara general

Berlatih berdiri dengan satu kaki untuk meningkatkan keseimbangan anda dan kekuatan otot tungkai.

Osteoartritis

Terjadi karena instabilitas, robeknya kartilago, dan trauma berulang pada daerah lutut.
Gejala: Persendian terasa kaku dan nyeri saat digerakan Pembengkakan pada persendian

Arthrofibrosis

Adalah inflamasi yg menyebabkan produksi berlebihan jaringan parut di sekitar sendi. Gejala: Nyeri ROM yg terbatas karena sendi kaku

Infeksi pasca operasi Sering disebabkan oleh bakteri gram +, bakteri gram -, dan bakteri anaerob cthnya Streptococcus aureus, E.coli. Gejala : Bengkak Panas Keluar darah/nanah dari luka operasi

Hilangnya sensorik di daerah patella Akibat pengambilan autograft pengganti ligamen yang robek, biasanya mati rasa di daerah pattela dan cenderung kembali normal dalam beberapa bulan.

Ruptur ligamen patella dan fraktur patella akibat pengambilan graft untuk pengganti ligamen yang robek

Pasien yg ditangani dengan rekonstruksi ACL memiliki keberhasilan jangka panjang 80-90%. Setelah rekonstruksi ACL, pasien akan bisa melakukan gerakan persendian lutut secara normal dalam waktu 6-9 bulan.