Anda di halaman 1dari 79

PENYELESAIAN GANTI

KERUGIAN
NEGARA
TERHADAP BENDAHARA

Tohir in, Ak
Widyai swara Muda
Pusdi klat Anggaran BPPK
1
DISAMPAIKAN OLEH

TOHIRIN, AK.
PEKALONGAN, 12 MARET 1969
NIP 740003472
WIDYAISWARA
PUSDIKLAT ANGGARAN
BPPK
DEPARTEMEN KEUANGAN

Jl Raya Puncak Km 72
Gadog-Ciawi-Bogor
2
Bagian 1

Pendahuluan

3
Dasar hukum
 Undang-Undang No. 17 Th. 2003 tentang
Keuangan Negara;
 Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara;
 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara;
 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW. Stb.
1847 No. 23)
 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 stdd
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
 Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 3
Tahun 2007 tentang Tata cara Penyelesaian Ganti
Kerugian Negara terhadap Bendahara

4
Ruang Lingkup
 Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan
nomor 3 tahun 2007 mengatur tata cara
penyelesaian ganti kerugian negara
terhadap bendahara di lingkungan instansi
pemerintah/lembaga negara dan
bendahara lainnya yang mengelola
keuangan negara.

5
KERUGIAN NEGARA
Domein Penyelesaian Kerugian Negara

LANDASAN HUHUM
Hukum Adm.
Hukum Pidana
Negara
Hukum Adm.
Hukum Pidana
Negara

TGR TP TIPIKOR
1. UU No. 17 Th. 1. UU No. 31 Th.
2003 1999 stdd UU
2. UU No. 1 Th. No. 20 Th.
2004 2001
MEN/PIM 5. UU No. 15 Th. 5. UU No. 30 Th.
BPK RI PENGADILAN 2004
LEMBAGA 2002

6
PENGENAAN GANTI
KERUGIAN NEGARA
• Tata cara penyelesaian ganti
kerugian negara/ daerah terhadap
bendahara ditetapkan oleh BPK
setelah berkonsultasi dengan
pemerintah

UU No. 15 Th. 2004, Pasal 22 Ayat (4) dan (5)

7
Bendahara
• Bendahara adalah setiap orang atau badan
yang diberi tugas untuk dan atas nama
negara/daerah, menerima, menyimpan, dan
membayar/menyerahkan uang atau surat
berharga atau barang-barang negara/daerah.

8
KERUGIAN NEGARA
PENGERTIAN :

Kerugian negara/Daerah adalah kekurangan


uang, surat berharga, dan barang, yang
nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat
perbuatan melawan hukum baik sengaja
maupun lalai

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004


Tentang Perbendaharaan Negara
9
UNSUR-UNSUR
KERUGIAN NEGARA
Kerugian negara merupakan berkurangnya keuangan negara berupa
uang, surat berharga, barang milik negara dari jumlah dan/atau nilai
yang seharusnya.

Kekurangan dalam keuangan negara tersebut harus nyata dan pasti


jumlahnya atau dengan perkataan lain kerugian tersebut benar-benar
telah terjadi dengan jumlah kerugian yang secara pasti dapat
ditentukan besarnya. Dengan demikian kerugian negara tersebut
bukan hanya merupakan indikasi atau berupa potensi terjadinya
kerugian.

Kerugian tersebut akibat perbuatan melawan hukum, baik sengaja


maupun lalai, Unsur melawan hukum harus dapat dibuktikan secara
cermat dan tepat.

10
SUBY EK D AN OB YE K
KE RUGIAN
NE GA RA /DA ERAH
Objek :
Uang
Surat berhar ga US$
RP ?
Bar ang

Subj ek :
Bendahara
Pegawai Negeri
Bukan
Bendahar a/Pej abat
lai nnya
Pi hak ketiga
11
JENIS KERUGIAN NEGARA
Berdasarkan subyeknya kerugian negara
dibedakan dalam :

Kerugian negara bukan kekurangan


perbendaharaan yang dilakukan oleh
pegawai negeri bukan bendahara,
pejabat lain dan atau pihak ketiga

Kerugian negara berupa kekurangan


perbendaharaan yang dilakukan oleh
bendahara
12
TUNTUTAN
PERBUATAN
PERBENDAHARAAN
BENDAHARA
( TP )
TUJUAN
- Pemulihan
keuangan
negara/ daerah
KERUGIAN - Peningkatan
NEGARA/ disiplin dan
DAERAH tanggung
jawab dalam
pengelolaan
keuangan
- Penegakan
hukum
PERBUATAN
PEGAWAI TUNTUTAN
NEGERI BUKAN GANTI RUGI
BENDAHARA/ ( TGR )
PEJABAT LAIN

13
UNSUR PENYEBAB KERUGIAN
NEGARA
Perbuatan melanggar hukum/kelalaian:
 Perbuatan seseorang [ Pasal 59 Ayat (1)
UU No. 1 Th. 2004]
 Bendahara, Pegawai Negeri Bukan Bendahara/
Pejabat lain ( Pasal 59,Ayat 2 )

Di luar kemampuan manusia


(forcemayeure):
Bencana alam dan keadaan lain di luar
kemampuan manusia (PP No. 14 Th. 1952
jo. Stb. 1919 No. 204)

14
KELALAIAN
 Kesalahan administrasi
 Uang/barang hilang, rusak tidak dapat
diperbaiki, dicuri
 Kelebihan pembayaran/pengeluaran
uang/barang
 Kekurangan penerimaan uang/barang

15
KEWAJIB AN G ANT I R UG I

akibat perbuatan melanggar hukum


Tiap perbuatan melanggar hukum,
yang membawa kerugian kepada
seorang lain, mewajibkan orang
yang karena salahnya menerbitkan
kerugian itu, mengganti kerugian
tersebut.

Pasal 1365 KUH Perdata

16
KEWAJIBAN GANTI RUGI
KARENA KELALAIAN
Setiap orang bertanggungjawab
tidak saja untuk kerugian yang
disebabkan karena perbuatannya,
tetapi juga untuk kerugian yang
disebabkan karena kelalaian atau
kurang hati-hati
Pasal 1366 KUH Perdata

17
Kewenangan Pengenaan Ganti
Kerugian Negara

Pel aku yang meru gika n nega ra Peja bat/I nst ansi
Berwen ang

 Peg awai neg eri buk an b end ahar a/ Ment eri /Pi mpinan
Lem bag a p eja ba t l ainn ya

 Bend ahar a Bad an Pemeri ksa


Keuang an

 Ment eri /Pi mpinan L PND Menteri K eua ng an


sel aku
Bend aha ra Umum Neg ara

 Ment eri Keuang an/ Pr esi den


Pi mp inan Lem bag a Neg ar a

18
KE HAR USAN
MENYELES AIKA N
KE RUGIAN NEGARA
Setiap kerugian negara/daerah yang
disebabkan oleh tindakan melanggar hukum
atau kelalaian seseorang harus segera
diselesaikan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang- undangan
yang berlaku

[ Pasal 59 Ayat (1) UU No. 1 Th.


2004 ]

19
TUJU AN PENYELE SAIAN
KE RUGI AN
NE GA RA/ DAERAH
PENJE LAS AN PASA L 59 AYAT (1) UU NO . 1 TAHUN 2004

Penyel es ai an ker ugia n neg ar a pe rlu se ge ra


di laku ka n untu k men gemb al ik an kek ayaa n
nega ra yang hil ang at au be rku rang ser ta
men in gk at ka n di si pl in dan ta ngg ung jawab
pa ra peg awai neg er i/p ejab at ne gar a pad a
umum nya, dan par a pen gel ola keu an gan pad a
kh usu sn ya

20
KEWAJIBAN MENGGANTI
KERUGIAN NEGARA
Bendahara, pegawai negeri bukan
bendahara, atau pejabat lain yang
karena perbuatannya melanggar
hukum atau melalaikan kewajiban
yang dibebankan kepadanya secara
langsung merugikan keuangan
negara, wajib mengganti kerugian
tersebut.
Pasal 59 ayat (2) UU No. 1 Th. 2004

21
Kewajiban pimpinan

Setiap pimpinan kementerian negara/


lembaga/ kepala satuan kerja
perangkat daerah dapat segera
melakukan tuntutan ganti rugi,
setelah mengetahui bahwa dalam
kementerian negara/ lembaga/satuan
kerja perangkat daerah yang
bersangkutan terjadi kerugian akibat
perbuatan dari pihak manapun

Pasal 59 Ayat (3) UU No. 1 Tahun 2004.

22
LAPORAN
ATASAN LANGSUNG

  
Setiap kerugian negara wajib
dilaporkan oleh atasan langsung
atau kepala kantor kepada
menteri/pimpinan lembaga dan
diberitahukan kepada Badan
Pemeriksa Keuangan selambat-
lambatnya 7 (tujuh) hari kerja
setelah kerugian negara itu
diketahui.

23
(Pasal 60 ayat (1) UU 1/2004)
Bagian 2

Penyelesaian Kerugian Negara

24
surat pernyataan
kesanggupan
dan pengakuan
Segera setelah kerugian negara
tersebut diketahui, kepada bendahara,
pegawai negeri bukan bendahara, atau
pejabat lain yang nyata-nyata
melanggar hukum atau melalaikan
kewajibannya, segera dimintakan surat
pernyataan kesanggupan dan/atau
pengakuan bahwa kerugian tersebut
menjadi tanggung jawabnya dan
bersedia mengganti kerugian negara
dimaksud
25
Pasal 60, ayat (2) UU No. 1 Th. 2004
BENTUK PERNYATAAN
KESANGGUPAN
berupa :

Surat Keterangan Tanggung


jawab Mutlak
(SKTJM )

26
SKTJM
• Surat Keterangan Tanggung Jawab Mutlak
yang selanjutnya disebut SKTJM adalah
surat keterangan yang menyatakan
kesanggupan dan/atau pengakuan bahwa
yang bersangkutan bertanggung jawab
atas kerugian negara yang terjadi dan
bersedia mengganti kerugian negara
dimaksud.

27
SKTJM
Lampiran III
SURAT KETERANGAN TANGGUNG JAWAB MUTLAK
(SKTJM)
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : …………………….………...…………………….………...…......…………………….……
NIP : …………………………………………………….………... ….....…………………….……
Pangkat/Golongan : …………………………………………………….………...……..…………………….……
Tempat/ Tgl. Lahir : …………………………………………………….………...……..…………………….……
Alamat : …………………………………………………….………...……..…………………….……
No. & Tgl. SK Pengangkatan Sebagai Bendahara : …………………….………...………...........……………….……
Menyatakan dengan tidak akan menarik kembali, bahwa saya bertanggungjawab atas kerugian Negara sebesar
Rp…………………………………………(……….….. dengan huruf ………….), yakni kerugian yang disebabkan :
…………………………………….......................................................................................……………………………….
Kerugian tersebut akan saya ganti dengan menyetorkan jumlah tersebut ke Kas Negara/Daerah *) di …………………
….dalam jangka waktu 40 (empat puluh) hari sejak saya menandatangani SKTJM ini. 3)
Sebagai jaminan atas pernyataan ini, saya serahkan barang-barang beserta bukti kepemilikan dan surat kuasa
menjual sebagai berikut:
1. ......…………………….………...
2. ......…………………….………...
Apabila dalam jangka waktu 40 (empat puluh) hari setelah saya menandatangani pernyataan ini ternyata saya tidak
mengganti seluruh jumlah kerugian tersebut, maka Negara dapat menjual atau melelang barang jaminan
tersebut.
…………………,…………………. 5)
Mengetahui : meterai cukup
Kepala …………………(Satuan Organisasi) 6) (Nama Bendahara)
…………………………………
Saksi – Saksi :
1. …………………....…..……………
2. …………………………………….
*) coret yang tidak perlu

28
Petunjuk Pengisian
1) Diisi dengan identitas lengkap bendahara yang menandatangani
SKTJM.
2) Diisi dengan jumlah kerugian negara yang terjadi dan perbuatan
yang dilakukan oleh bendahara sehingga mengakibatkan terjadinya
kerugian negara.
3) Diisi dengan tempat Kantor Kas Negara/Daerah dimana uang
tersebut akan disetorkan.
4) Diisi dengan barang-barang milik bendahara yang dijadikan jaminan
atas pelunasan kerugian negara.
5) Diisi dengan nama tempat dan tanggal SKTJM ditandatangani.
6) Diisi dengan nama satuan kerja yang bersangkutan dan
ditandatangai oleh kepala satuan kerja.
7) Diisi dengan nama dua orang saksi dari Pemeriksa BPK atau
lingkungan instansi yang bersangkutan yang ikut menyaksikan
penandatanganan SKTJM ini.

29
TPKN
• Pimpinan instansi segera menugaskan
TPKN untuk menindaklanjuti setiap kasus
kerugian negara selambat-lambatnya 7
(tujuh) hari sejak menerima laporan
pimpinan satker.

30
TPKN
• Tim Penyelesaian Kerugian Negara, yang
selanjutnya disebut TPKN, adalah tim
yang menangani penyelesaian kerugian
negara yang diangkat oleh pimpinan
instansi yang bersangkutan.

31
TPKN
• Pimpinan Lembaga, Gubernur, Bupati,
dan walikota Wajib membentuk Tim
Penyelesaian Kerugian Negara (TPKN)
• Selama TPKN belum terbentuk, verifikasi
kerugian negara dilaksanakan oleh
Itjen/SPI/Inspektorat Wilayah.

32
TPKN
Pimpinan instansi wajib membentuk TPKN.
TPKN terdiri dari :
c. sekretaris jenderal/kepala kesekretariatan badan-badan
lain/ sekretaris daerah provinsi/kabupaten/kota sebagai
ketua;
b. inspektur jenderal/kepala satuan pengawasan internal/
inspektur provinsi/kabupaten/kota sebagai wakil ketua;
c. kepala biro/bagian keuangan/kepala badan pengelola
keuangan daerah sebagai sekretaris;
d. personil lain yang berasal dari unit kerja di bidang
pengawasan, keuangan, kepegawaian, hukum, umum,
dan bidang lain terkait sebagai anggota;
e. sekretariat.

33
TPKN
• TPKN bertugas membantu pimpinan
instansi dalam memproses penyelesaian
kerugian negara terhadap bendahara
yang pembebanannya akan ditetapkan
oleh Badan Pemeriksa Keuangan.

34
Fungsi TPKN
TPKN menyelenggarakan fungsi untuk :
a. menginventarisasi kasus kerugian negara yang
diterima;
b. menghitung jumlah kerugian negara;
c. mengumpulkan dan melakukan verifikasi bukti-
bukti pendukung bahwa bendahara telah
melakukan perbuatan melawan hukum baik
sengaja maupun lalai sehingga mengakibatkan
terjadinya kerugian negara;
d. menginventarisasi harta kekayaan milik
bendahara yang dapat dijadikan sebagai
jaminan penyelesaian kerugian negara;

35
TPKN
e. menyelesaikan kerugian negara melalui SKTJM;
f. memberikan pertimbangan kepada pimpinan
instansi tentang kerugian negara sebagai bahan
pengambilan keputusan dalam menetapkan
pembebanan sementara;
g. menatausahakan penyelesaian kerugian
negara;
h. menyampaikan laporan perkembangan
penyelesaian kerugian negara kepada pimpinan
instansi dengan tembusan disampaikan kepada
Badan Pemeriksa Keuangan.

36
TPKN
TPKN mengumpulkan dan melakukan verifikasi dokumen-
dokumen, antara lain sbb:
a. surat keputusan pengangkatan sebagai bendahara atau
sebagai pejabat yang melaksanakan fungsi
kebendaharaan;
b. berita acara pemeriksaan kas/barang; c. register
penutupan buku kas/barang;
d. surat keterangan tentang sisa uang yang belum
dipertanggungjawabkan dari Pengguna Anggaran/Kuasa
Pengguna Anggaran;

37
TPKN
e. surat keterangan bank tentang saldo kas di bank
bersangkutan;
f. fotokopi/rekaman buku kas umum bulan yang
bersangkutan yang memuat adanya kekurangan kas;
g. surat tanda lapor dari kepolisian dalam hal kerugian
negara mengandung indikasi tindak pidana; h. berita
acara pemeriksaan tempat kejadian perkara dari
kepolisian dalam hal kerugian negara terjadi karena
pencurian atau perampokan;
i. surat keterangan ahli waris dari kelurahan atau
pengadilan.
(2) TPKN mencatat kerugian negara dalam daftar kerugian
negara.
(3) Dibuat Daftar kerugian negara
38
Tim Ad hoc
• Apabila dipandang perlu, Kepala Satuan
kerja dapat membentuk Tim Ad Hoc untuk
menyelesaikan ganti kerugian negara
yang terjadi di lingkungan unit kerjanya.

39
Tim ad hoc
• Tim ad hoc melakukan pengumpulan
data/informasi dan verifikasi kerugian
negara berdasarkan penugasan dari
kepala satuan kerja.
• Kepala satuan kerja melaporkan
pelaksanaan tugas tim ad hoc kepada
pimpinan instansi yang bersangkutan
dengan tembusan kepada TPKN untuk
diproses lebih lanjut.

40
MTP
• Badan Pemeriksa Keuangan dapat
membentuk Majelis Tuntutan
Perbendaharaan dalam rangka proses
penyelesaian kerugian negara terhadap
Bendahara

41
Pokok2 Kebijakan
• Pimpinan Instansi menyampaikan Laporan Hasil
Verifikasi Kerugian Negara kepada BPK paling
lambat 7 hari kerja sejak diterima dari TPKN.
• BPK melakukan pemeriksaan atas laporan
kerugian negara berdasarkan laporan hasil
penelitian yang diterima dari pimpinan instansi
• BPK menyurati pimpinan instansi untuk dibuat
SKTJM atau jika tak terbukti dihapuskan dari
daftar kerugian negara

42
Bagian 3

• Pengungkapan
• Pembuktian
• Pelaporan

43
SUMBER INFORMASI
TERJADINYA KERUGIAN NEGARA
Pengawasan atasan langsung/Ka Kantor
Pemeriksaan oleh BPK
Pengawasan oleh Aparat Pengawasan
Fungsional : ITJEN, BPKP, Inspektorat
Pop/Kab/kota
Pemeriksaan oleh Pejabat Ex-Officio
Sumber lain : - Media massa
- pengaduan langsung masyarakat
- keputusan pejabat berwenang yang
mempunyai kekuatan hukum
tetap
- kotak pos 5000
- laporan pejabat/pegawai (PP 30 Th
1980)
44
Perhitungan
Ex-officio
Adalah perhitungan perbendaharaan yang
dibuat/dilakukan bukan oleh bendahara,
tetapi oleh petugas/pejabat yang ditunjuk
oleh Menteri cq. Pengguna Anggaran
(Kepala Kantor/Satuan Kerja) setempat

terj adi karena :

♥ Bendahara l al ai membuat
perhit ungan;
♥ Bendahara tidak dapat membuat
perhit ungan ( berada di bawah
pengampuan, m ela rikan diri, at au
meninggal dunia )
45
PERHITUNGAN EX-OFFICIO

PEN EL IT IA N t hd I nfor ma si
dit uangkan dala m B A
Pemeriksaan/P enelitia n u ntuk
memperole h k epastian ttg :
 Jumlah/besarnya kerugian negara;
 Pihak-pihak yang bertanggungjawab atas
terjadinya kerugian negara.
 Bukti-bukti tertulis yang dapat
dipertanggungjawabkan sebagai data
pendukung 46
PEMBUKTIAN
KERUGIAN NEGARA
kekurangan perbendaharaan :

Penelitian dan pengumpulan bukti-bukti, baik yang


dilakukan oleh tim ad hoc maupun oleh TPKN mengenai :
- Peristiwa terjadinya kerugian negara;
- Jumlah kerugian negara yang pasti;
- Siapa saja yang tersangkut (pegawai negeri, pejabat
maupun pihak ketiga);
- Unsur besar-kecilnya kesalahan para pihak
- Keterangan lain yang dapat digunakan sebagai
pertimbangan (mis.: putusan hakim, kerugian yang
telah diganti dsb.).

47
Pembuktian Kerugian
Negara
Kekurangan perbendaharaan
a. Bendahara mampu bertanggung jawab
Proses penelitian oleh tim ad hoc atau TPKN
Departemen
b. Bendahara di bawah pengampuan,
melarikan
diri atau meninggal dunia
- Untuk pengamanan dengan menutup
BKU/Buku Persedian menyimpan buku-
buku,bukti-bukti dan disegel - -
Membentuk Tim Ex- Officio (disertakan unsur KPPN &
Biro Keuangan)
- Penyampaian Perhitungan Ex-Officio kepada
pengampu/ ahli waris.

48
Pelaporan Kerugian Negara
Dalam hal terjadi kerugian negara atau terdapat dugaan bahwa
negara dirugikan, pengguna anggaran (kepala kantor/satuan
kerja) mengambil tindakan atau langkah-langkah sbb:
1. Membentuk tim ad hoc dan melakukan penelitian
2. Membuat Berita Acara Pemeriksaan;

3. Mengupayakan penyelesaian kerugian negara


secara damai atau dengan SKTJM;
4. Membuat laporan kepada BPK dan Menteri paling
lambat 7 hari setelah terjadi kerugian negara,
dengan melampirkan :
- SKTJM dalam hal kerugian negara bisa diselesaikan
- BAP, jika kekurangan perbendaharaan
dilampirkan pula BAP Kas, Register Penutupan Kas,
fotokopi BKU bulan ybs. yang menunjukkan terjadi
kerugian negara ( kekurangan perbendaharaan)
- Bukti-bukti lain.

49
PENETAPAN BESARNYA KERUGIAN NEGARA

KERU GIA N BER UPA UAN G :


Berda sa rka n
jumlah sel isi h
ku rang y an g
ter dapa t dal am
pembuku an
dan /ata u ca ta tan
lainn ya.

50
Bagian 4

PROSES PENYELESAIAN
GANTI KERUGIAN NEGARA
A. PENYELESAIAN DG SKTJM
B. PENYELESAIAN DGN KEPUTUSAN
PEMBEBENAN
C. PELAKSANAAN DAN PELAPORAN
TUNTUTAN PERBENDAHARAAN

51
PENYELESAIAN DG SKTJM

Syaratnya adalah:
 Bendahara yang bersangkutan ada
 Bendahara yang bersangkutan dapat
diminta pertanggungjawabannya.

52
Penyelesaian Damai
• Bendahara menandatangani Surat
keterangan Tanggungjawab Mutlak
(SKTJM)
• Ahli Waris/Pengampu menandatangani
Surat Pernyataan Bersedia Mengganti
Kerugian Negara (SPBMKN)
• (Cara damai menurut hukum
administrasi negara)

53
proses
PENYELESAIAN
DENGAN SKTJM

• Bendahara menyerahkan jaminan
kepada TPKN
• SKTJM yang sudah ditandatangani
tidak dapat ditarik kembali
• Surat Kuasa menjual barang yg
dijaminkan
• Penggantian tunai maksimal 40
hari.
54
CARA pembayaran dalam
PENYELESAIAN DG SKTJM

♦ Pembayaran TUNAI

♦ Selambat-lambatnya 40 hari kerja


sejak SKTJM ditandatangani

55
PROSES PENYELESAIAN SECARA DAMAI
terhadap kekurangan perbendaharaan

♠ Kepala Kantor/Satuan Kerja memberikan


persetujuan penyelesaian secara damai yang
dinyatakan dalam SKTJM oleh Bendahara
yang bertanggung jawab atau
pengampu/mereka yang memperoleh
hak/ahli waris dengan menandatangani
SPBMKN ;
Proses Damai
♠ Kepala Kantor/Satuan Kerja sebelum
menandatangani SKTM wajib mempertimbangkan
apakah dengan cara tersebut kekurangan
perbendaharaan dapat dipulihkan, mengingat ia
bertanggung jawab atas SKTJM yang
ditandatanganinya.
♠ Jika ditemukan bukti baru dapat ditetapkan kembali
besarnya kekurangan perbendaharaan yang harus
dipertanggungjawabkan oleh bendahara
bersangkutan. Dalam penetapan kembali tersebut
harus disebut bukti-bukti pendukungnya;
Proses Keputusan
Pembebanan

Tahapa nnya ad alah:

• Pe nerbita n S K P em beb anan Se ment ara


• Pe nerbita n S K P enet apan Ba tas waktu
• Pe nerbita n S K P em beb anan
Pe nggan tian Kerug ian Neg ara

58
SK Pembebanan Sementara
• Surat Keputusan Pembebanan Sementara
adalah surat keputusan yang dikeluarkan
oleh menteri/pimpinan lembaga/kepala
badan-badan lain/gubernur/bupati/ walikota
tentang pembebanan penggantian sementara
atas kerugian negara sebagai dasar untuk
melaksanakan sita jaminan.

59
SK PBW
• Surat Keputusan Penetapan Batas Waktu yang
selanjutnya disebut SK-PBW adalah surat
keputusan yang dikeluarkan oleh Badan
Pemeriksa Keuangan tentang pemberian
kesempatan kepada endahara untuk mengajukan
keberatan atau pembelaan diri atas tuntutan
penggantian kerugian negara.

60
SK Pembebanan
• Surat Keputusan Pembebanan adalah surat keputusan yang
dikeluarkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan yang
mempunyai kekuatan hukum final tentang pembebanan
penggantian kerugian negara terhadap bendahara.

• Surat Keputusan Pembebasan adalah surat keputusan yang


dikeluarkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan tentang
pembebasan bendahara dari kewajiban untuk mengganti
kerugian negara karena tidak ada unsur perbuatan
melawan hukum baik sengaja maupun lalai.

61
Proses Pembebanan Kerugian
Negara Sementara
• Bendahara tidak bersedia secara sukarela
membuat dan menandatangani SKTJM.
• Bendahara menandatangani SKTJM tetapi
tidak dapat menjamin penggantian kerugian
• Bendahara tidak dapat melunasi ganti
kerugian secara tunai dalam waktu yang
telah ditetapkan

62
Penyelesaian
Dg SKTJM “Macet”

Ji ka penyelesaian dg S KTJ M m acet m aka:

BP K mem be ri kan kesem patan


Pim pinan I nstansi un tuk m eny elesaikan
masalah.
Dilak ukan Pro ses P em beb anan
Ke rugian Negara Sem enta ra

63
Tuntutan
perbendaharaan
Sebelum dilakukan Tuntutan Perbendaharaan harus ada
kepastian tentang :
adanya kekurangan perbendaharaan
jumlah kekurangan perbendaharaan
Kerugian harus dibuktikan melalui perhitungan baik
oleh bendahara sendiri maupun secara ex-officio
Untuk menjamin kepentingan negara perlu dilakukan
tindakan berupa dikenakan Pembebanan Kerugian
Negara Sementara, jika :
Bendahara tidak bersedia menyelesaikan
dengan mekanisme SKTJM dan
terdapat petunjuk beritikad tidak baik

64
Bendahara beritikad tidak baik :

♥ Tidak hadir walaupun telah dilakukan pemanggilan sebanyak


tiga kali
♥ Memberikan alamat yang tidak jelas/ pindah alamat tanpa
pemberitahuan
♥ Memindahtangankan/menjual secara tidak wajar
harta/kekayaan yang menjadi jaminan hutang
♥ Tidak bersedia menunjukkan buku/catatan pengurusan
pembukuan yang berhubungan dengan pekerjaannya selaku
bendahara

65
PROSES PENERBITAN KEPUTUSAN
PEMBEBANAN SEMENTARA

 TPKN dan atau pimpinan satker melaporkan


bahwa SKTJM tidak dapat diperoleh atau
tidak menjamin pengembalian
 Pimpinan Instansi menerbitkan SK
pembebanan Sementara dalam jangka waktu
7 hari sejak Bendahara tidak bersedia
menandatangani SKTJM atau atau tidak
ditaatinya SKTJM sesuai laporan TPKN.
 Keputusan Pembebanan Sementara
disampaikan kepada Bendahara melalui
Kepala Satker
 Pimpinan Instansi memberitahukan SK
Pembebanan Sementara kepada BPK

66
Penerbitan keputusan
penetapan batas waktu
BPK-RI mengeluarkan SK PBW karena dua
alasan:
a. BPK tidak menerima Laporan Hasil Verifikasi
Kerugian Negara dari pimpinan Instansi yg
seharusnya disampaikan kepada BPK selambat-
lambatnya 7 hari sejak pimpinan instansi tsb
menerima lap dari TPKN. BPK sudah menerima
laporan dari atasan langsung Bendahara. Jadi ada
kelalaian pimpinan instansi.
b. Pimpinan instansi memberitahu Bendahara tidak mau
menandatangani SKTJM atau tidak melaksanakan
SKTJM
SK PBW
• Pemberian kesempatan Bendahara untuk
membela diri
• Pembelaan paling lambat 14 hari setelah
menerima keputusan.
• Keputusan dibuat oleh Majelis Tuntutan
Perbendaharaan BPK
SK Pembebanan Kerugian Negara

BPK menerbitkan SK
pembebanan berdasarkan
pemberitahuan dan usulan
instansi bahwa jangka waktu
40 hari telah terlampaui namun
kerugian negara belum dapat
diganti sepenuhnya oleh
Bendahara yang bersangkutan.

69
Bagian Terakhir
 SANKSI
 KADALUWARSA
 KEPUTUSAN PENCATATAN

70
Sanksi

Penyeles aian D g SKTJM tidak meng hil angkan kewajib an


Kepal a Kant or/ Sa tk er un tu k melap ork an kep ada :
 Pih ak Kep olis ian sete mpa t da lam hal ter dapa t unsur
ti nda k pi da na umu m
 Pih ak Keja ks aan da lam hal ter da pa t unsur ti nda k pi da na
kh usus; set ela h mem pe role h pe tu nju k Men keu cq Karo
Hu ku m & Hu ma s
Kerug ian Negar a ol eh pi hak keti ga tid ak dapat dil aksanakan
pen yeles ai an secar a damai, t etapi ditemp uh upa ya :
 untuk pe rbu atan menga ndu ng unsur ti nda k pi da na
kepolis ian
 untuk pr os es tu ntu tan ganti rugi Ketu a
Penga dil an Nege ri

71
Kadaluwarsa :
 Kedaluwarsa Penuntutan
Penyampaian perhitungan ex-officio kepada
pengampu/ahli waris/yang memperoleh hak tidak boleh
melampaui batas waktu tiga tahun. Pengampu/ ahli waris
bebas dari tanggung jawab apabila :
1) batas waktu tiga tahun telah lewat sejak bendahara
dinyatakan melarikan diri atau meninggal
dunia atau di bawah pengampuan; kepada mereka
tidak diberitahukan adanya kerugian tersebut,
2) batas waktu tiga tahun sejak waktu pengajuan
pembelaan telah lewat dan BPK tidak mengambil
suatu keputusan. ( Pasal 66 ayat (2) UU 1/2004)
72
kedaluwarsa
Kewajiban bendahara untuk
membayar ganti rugi, menjadi
kedaluwarsa jika dalam waktu :
– 5 (lima) tahun sejak diketahuinya
kerugian tersebut
– 8 (delapan) tahun sejak terjadinya
kerugian
tidak dilakukan penuntutan ganti rugi
terhadap ybs.
(Pasal 65 UU No. 1/2004)

73
kadaluwarsa
Tanggung jawab pengampu/yang memperoleh hak/ahli
waris untuk membayar ganti kerugian negara/daerah
menjadi hapus apabila dalam waktu 3 (tiga) tahun sejak :
 keputusan pengadilan yang menetapkan pengampuan kepada
bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, atau pejabat lain
yang bersangkutan
 bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, atau pejabat lain
ybs. diketahui melarikan diri atau meninggal dunia;
pengampu/yang memperoleh hak/ahli waris tidak diberi
tahu oleh pejabat yang berwenang mengenai adanya
kerugian negara/daerah.

74
KEPUTUSAN TENTANG
PENCATATAN
 T unt ut an Perben da har aa n yang b elum
di laksana ka n ka rena Bend ahar a
meni ngga l duni a a tau mel ar ika n di ri
tan pa ah li w aris, ma ka Ba da n
Pemeri ksa Keuang an me nerb it ka n
kepu tu sa n t ent ang p enc atata n
 Denga n di terbi tka nn ya keput usa n
tent ang p enca ta tan, ka sus yang
bers angku ta n di kelua rka n d ar i
admi ni st rasi p emb ukua n 75
SK pencatatan

• Surat Keputusan Pencatatan adalah surat


keputusan yang dikeluarkan oleh Badan
Pemeriksa Keuangan tentang proses
penuntutan kasus kerugian negara untuk
sementara tidak dapat dilanjutkan.

76
Lampiran IV
KEPUTUSAN
Nomor ……………………1)
tentang
PEMBEBANAN KERUGIAN NEGARA SEMENTARA
................................ (nama instansi) ......................... 2)
..................... (nama jabatan yang berwenang menerbitkan surat keputusan) ...................., 3)
Menimbang : a. …………………………...
Mengingat : 1. ………..…………………..
MEMUTUSKAN
Menetapkan : Keputusan ......... (nama jabatan yang berwenang menerbitkan SK pada instansi terkait)
tentang Pembebanan Kerugian Negara Sementara. 6)
PERTAMA : Membebani penggantian kerugian negara sementara terhadap Saudara…………..(nama,
pangkat, jabatan, NIP) selaku Bendahara/Pengampu/Waris/Keluarga dari Bendahara*)
pada...............................sebesar Rp ...............………(................dengan huruf.....................). 7)
KEDUA : Menugaskan kepada Saudara ………………………. selaku Ketua TPKN di………………….
untuk menagih dan meminta kepada Saudara...................... agar menyetor ke Kas Negara/Daerah*)
sejumlah kerugian negara tersebut. 8)
KETIGA : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di ……………………. .
Pada tanggal ………………………
-------------------------------------------
Kepala (Satuan Oganisasi) 10)
(.........…Nama dan NIP.............. )
Tembusan Keputusan disampaikan kepada:
1. Ketua Badan Pemeriksa Keuangan di Jakarta;
2. .……………………………………….
3. Yang bersangkutan.
*) Coret yang tidak perlu
77
Petunjuk Pengisian

1) Diisi dengan nomor keputusan yang berlaku sesuai dengan ketentuan yang berlaku
pada instansi yang bersangkutan.
2) Diisi dengan nama instansi
3 ) Diisi dengan nama jabatan yang berwenang menerbitkan keputusan
4 ) Diisi dengan uraian singkat mengenai fakta dan keadaan yang menjadi
alasan/tujuan/kepentingan/pertimbangan tentang perlunya ditetapkannya keputusan
ini.
5 ) Diisi dengan peraturan perundang-undangan sebagai dasar hukum pengeluaran
keputusan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi.
6 ) Diisi dengan nama jabatan yang berwenang menerbitkan surat keputusan pada
instansi terkait.
7 ) Diisi dengan nama pangkat, jabatan, NIP selaku
Bendahara/Pengampu/Waris/Keluarga dari Bendahara, dan jumlah kerugian negara
yang terjadi.
8 ) Diisi dengan nama Ketua TPKN dan nama instansi serta nama bendahara.
9 ) Diisi dengan tempat dan tanggal keputusan ditetapkan.
10) Diisi dengan nama kepala satuan organisasi.
11) Diisi dengan nama-nama instansi yang terkait dengan keputusan ini.

78
TERIMA KASIH
atas perhatian
Bapak/Ibu

Selamat
menempuh Ujian,
SEMOGA SUKSES
79