Anda di halaman 1dari 260

1

PENGUKURAN LISTRIK
DAN
INSTRUMENTASI 1




DEPARTMENT OF ELECTRO-INDUSTRIAL ENGINEERING
EEPIS-ITS
2
BAB I
SATUAN, DIMENSI
DAN STANDARD

3


I.1. SATUAN DASAR

Satuan dasar dalam sistem SI (Systeme
International Perancis) adalah :

Panjang (L) -------------- Meter (m)
Massa (M) --------------- Kilogram (kg)
Waktu (T) ---------------- detik (dtk, s)

4

SATUAN DASAR - LANJUTAN
Gaya (F) ------------------- Newton (N)
Newton adalah gaya yang akan memberikan
massa 1 kg suatu percepatan 1 m/dt
2
(F=m.a)
atau percepatan gravitasi sebesar g=9.81 m/dt
2

(F=m.g)

Usaha/Kerja (W) -------- Joule (J)
Satu usaha didefinisikan jumlah dari kerja jika
gaya sebesar 1 Newton beraksi pada jarak 1
meter (W=F.d)

5
I.2. NOTASI KEILMUAN
Nilai yang sangat besar atau kecil dapat
dengan mudah ditulis dalam bilangan
pangkat 10.
Contoh :
1.200.000 = 1,210
6
; 0,015=1,510
-2


I.3. NOTASI TEKNIK
Untuk memudahkan penulisan nilai 1x10
3
W
ditulis 1 kW ; 4,710
-3
A ditulis 4,7 mA.

Lihat tabel berikut :
6

TABEL NOTASI TEKNIK

Nilai Notasi Nama Simbol
1 000 000 000 000 10
12
tera T
1 000 000 000 10
9
giga G
1 000 000 10
6
mega M
1 000 10
3
kilo k
100 10
2
hekto h
10 10 deka da
0.1 10
-1
deci d
0.01 10
-2
centi c
0.001 10
-3
milli m
0.000 001 10
-6
mikro
0.000 000 001 10
-9
nano n
0.000 000 000 001 10
-12
piko p
7
I.4. SATUAN ELEKTRIK
Arus (I) ---------------------------- Ampere (A)
Dapat didefinisikan sebagai besaran muatan listrik
(Q=coulomb) yang mengalir dalam suatu konduktor
selama 1 detik. Dimana satu coulomb sama dengan
jumlah muatan yang dibawa 6,2410
18
elektron.

EMF, Tegangan (V) ------------- Volt (V)
Volt (V) adalah satuan dari gaya gerak listrik
(emf=electromotive force) yang dapat didefinisikan
sebagai perbedaan potensial antara dua titik
penghantar yang mengalir arus sebesar 1 ampere
ketika daya sebesar 1 watt didisipasikan.
8
SATUAN ELEKTRIK - LANJUTAN
Resistansi/Tahanan (R) -------- Ohm ( O )
Ohm adalah resistansi yang meloloskan arus 1
ampere jika tegangan 1 volt diberikan pada
tahanan tersebut.

Konduktansi adalah kebalikan dari resistansi (G)

Flux medan magnet (u)--------- Weber (wb)

Kerapatan flux medan magnet (B) ------- Tesla
(T=wb/m
2
)

9
SATUAN ELEKTRIK - LANJUTAN
Induktansi (L) ------------------- Henry (H)
Induktansi suatu rangkaian sebesar 1 henry jika
ggl 1 volt diinduksi oleh perubahan arus
sebesar 1 A/dtk.

Kapasitansi (C) --------- Farad (F)
Farad adalah kapasitansi dari kapasitor yang
terdiri dari muatan 1 coulomb jika beda
potensial antar terminalnya sebesar 1 volt.


10
I.5. DIMENSI

Lihat tabel berikut :
Nama Simbol Satuan Simbol
satuan
Dimensi
Panjang l Meter m [L]
Massa m Kilogram kg [M]
Waktu t Detik dt,s [T}
Luas a Meter persegi m
2
[
L2
]
Volume V Meter kubik m
3
[L
3
]
Kecepatan v Meter per detik m/dt, m/s [LT
-1
]
Percepatan a Meter perdetik
kuadrat
m/dt
2
[LT
-
2]
Gaya F Newton N [MLT
-2
]
Tekanan p Newton per meter
persegi
N/m
2
[ML
-1
T
-2
]
11


Tekanan p Newton per
meter persegi
N/m
2
[ML
-1
T
-2
]
Kerja W Joule J [ML
2
T
-2
]
Daya P Watt W [ML
2
T
-3
]
Arus I Ampere A [I]
Muatan Q Coulomb C [IT]
EMF/Tegangan V Volt V [ML
2
T
-3
I
-1
]
Kuat medan listrik Volt per meter V/m [MLT
-3
I
-1
]
Resistansi R Ohm O [ML
2
T
-3
I
-2
]
Kapasitansi C Farad F [M
-1
L
-2

T
4
I
2
]
Induktansi L Henry H [ML
2
T
-2
I
-2
]
Kuat medan magnet H Ampere per
meter
A/m [IL
-1
]
Flux medan magnet u Weber Wb [ML
2
T
-2
I
-1
]
Kerapatan flux medan
magnet
B tesla T [MT
-2
I
-1
]
12
1.6. STANDARD

TUJUAN STANDARISASI :

Meningkatkan mutu dan kehandalan produk pada
harga yang layak
Kelaikan penyediaan dan pemanfaatan suatu
produk atau jasa
Memperbaiki keselamatan, kesehatan,
perlindungan lingkungan dan mengurangi
pemborosan
Meningkatkan efisiensi
Mencapai keseragaman :
- ukuran, bentuk dan mutu
- cara menggambar dan cara kerja
13
JENIS-JENIS STARDARD

International Standard : persetujuan
internasional, berada di International Bureau of
Weights and Measures, Perancis.

CONTOH :
ISO : International Organisation for
Standarization
Misal : - ukuran kertas A4,F4
- ukuran ulir baut
- kode nama negara dalam internet
(id=Indonesia; my=Malaysia)




14
IEC : International Electrotechnical Commision
Standar teknik elektro, misal :
IEC 60364-1 (2001-08) Ed. 4.0
tentang Electrical installations of buildings

Primary Standard : berada di beberapa negara
yang mengacu pada IS

Secondary Standard : digunakan pada industri
sebagai referensi untuk kalibrasi peralatan dan
komponen yang dicek secara periodik oleh
primary standard

15
STARDARD - LANJUTAN

Standard kerja
Standard yang biasanya ditemukan di laboratorium
elektronik.

Standard kerja resistor dibuat dari manganin dengan
koefisien suhu yang rendah dengan nilai 0,001 O
1 MO accuracy 0,01%- 0,1 %

Standar kerja kapasitor biasanya dibuat dari mika
perak, 0,001 F - 1 F, acc 0,02 %

Standar kerja induktor berada pada range 100 H -
10 H, acc 0,1 %.

16
CONTOH :
PENERAPAN STANDAR DALAM KERANGKA
KESELAMATAN KETENAGALISTRIKAN
PERSYARATAN
SPESIFIKASI
TEKNIS
PERSYARATAN
KESELAMATAN
PERALATAN
TENAGA
LISTRIK
PEMANFAAT
TENAGA
LISTRIK

S
SNI
SNI
BIDANG
KETENAGA-
LISTRIKAN



KESELAMATAN

KETENAGA -

LISTRIKAN




17
Soal-soal
Sebuah magnet berukuran 0,75 inchi 0,5 inchi
mempunyai flux magnet 500 maxwell. Tentukan
kerapatan magnet dalam Tesla.
(1 maxwell=10
-8
Weber)

Motor berdaya 0,5 HP beroperasi 8 jam perhari
dalam seminggu. Tentukan energi yang
dikonsumsi (dalam KWh) selama satu tahun.
( 1 tahun = 52 minggu)
18
BAB II
PENGUKURAN DAN
KESALAHAN

19
II.1. DEFINISI PENGUKURAN
Pengukuran
Diartikan sebagai upaya untuk menerjemahkan
variabel fisis yang semula bersifat kualitatif
menjadi informasi yang bersifat kuantitatif
(berupa angka-angka)

Instrumentasi
Adalah alat yang digunakan untuk menentukan
nilai atau kebesaran dari suatu kuantitas atau
variabel.


20
Tujuan Pengukuran :

- Membantu manusia dalam menentukan
nilai kebesaran suatu variabel yang tidak
diketahui.
- Sebagai alat ukur faktor kualitas dari suatu
proses produksi ( quality factor instrument )
- Alat bantu agar dicapai kesehatan dan
keselamatan kerja

21
Proses industri
melibatkan
variabel fisis
- Monitoring proses industri
- Analisa proses industri
- Pengendalian proses industri
INSTRUMEN UKUR
INFORMASI
ANGKA/DATA
Peran Pengukuran dan Instrumentasi
dalam Proses Industri
22
Aplikasinya di semua bidang ilmu dan teknologi
- Kimia (stokiometri )
- Fisika
- Sipil
- Elektro
- Mesin, dan lain-lain


Untuk menjamin ketelitian alat ukur ada badan
pengawas (Lab. Kalibrasi dan Standar Nasional)
dan secara internasional telah dibentuk Biro
Internasional untuk Timbangan dan Pengukuran (
Severes, Perancis ) yang bertujuan membuat
konvensi internasional tentang standarisasi meter
dan menentukan alat ukur dan cara-cara
pengukuran yang teliti.


23


Tidak ada komponen atau alat ukur yang
sempurna, semuanya mempunyai kesalahan
atau ketidak-telitian.

Beberapa kesalahan dalam pengukuran muncul
dan seringkali terbagi dalam beberapa kategori,
yaitu :


II.2. KESALAHAN DALAM
PENGUKURAN


24
1. Kesalahan umum (General/Gross/Human Error)
Kesalahan akibat faktor manusia, misal :
kesalahan pembacaan (paralax),
penyetelan yang tidak tepat,
pemakaian alat yang tidak sesuai,
attitude,
kesalahan penaksiran



Dapat diatasi dengan :
memahami standar prosedur pengukuran
dan pengoperasian alat ukur
pemilihan yang tepat,
pengukuran yang baik dan tepat
25







2. Kesalahan Sistematis : kesalahan akibat
instrumen seperti :
- faktor umur,
- kerusakan (aus)
- sifat-sifat fisis seperti gesekan mekanik dll

Dapat dihindari dengan :
- perawatan dan pengecekan secara periodik
- kalibrasi
- penggunaan alat sesuai SOP
- melibatkan faktor koreksi



26
3. Lingkungan ( Environmental Error )
Kesalahan akibat faktor lingkungan, seperti :
- perubahan suhu, tekanan, kelembaban
- medan magnet, listrik

Dapat dihindari dengan :
- penyegelan
- ketepatan pemakaian dalam lingkungan
yang diijinkan
- pemakaian pelindung medan magnet
dan listrik


27
4. Kesalahan acak ( Random Error )
Kesalahan yang penyebabnya tidak dapat
langsung diketahui ( perubahan terjadi secara
acak ) dan biasanya terjadi dalam pengukuran
secara periodik.

Dapat dikurangi dengan :
menambah jumlah pembacaan
analisa dengan cara cara statistik.

28



KESALAHAN ABSOLUT DAN
KESALAHAN RELATIF

Kesalahan absolut adalah kesalahan yang
dihitung berdasarkan kuantitas variabel yang
diukur.

Kesalahan relatif adalah kesalahan yang
dihitung berdasarkan prosentasi dari kuantitas
variabel yang diukur.

Dari satu variabel yang diukur bisa ditentukan
kesalahan absolut dari konversi kesalahan relatif
atau sebaliknya.








29
Contoh :

Resistor 500 O mempunyai kesalahan sebesar
50 O. Maka nilai 50 O tersebut disebut
kesalahan absolut. Jika dibuat prosentasi maka
akan sama dengan:
(50 O/500 O) 100 % = 10 %.

Nilai 10 % ini disebut dengan kesalahan relatif
atau toleransi.

30


AKURASI

Akurasi adalah tingkat kedekatan nilai
pengukuran dengan nilai sebenarnya.

Contoh :
Sebuah voltmeter mempunyai akurasi sebesar
1 % pada range 200 V menunjukkan hasil
pengukuran 100 V.
Tentukan akurasinya.

31
Jawab:
Dari akurasi dapat ditentukan :
Kesalahan absolutnya :


2V 200V
100
1
V = =
2)V (100 V =
Sehingga nilai sebenarnya dari pengukuran :



atau antara 98 V sampai 102 V.
32







Kesalahan relatif :





Nilai sebenarnya juga bisa ditulis :





2% 100%
100
2
RE = =
2% 100V V =
33
Pada alat ukur analog, akurasi dinyatakan
dengan prosentasi pada range tertentu, misal
acc: 1% pada range 200 V.

Dan pada alat ukur digital dinyatakan dengan
nilai absolutnya, seperti acc: pada
range 100 V.

Penulisan dalam bentuk kesalahan relatif
mampu mempresentasikan signifikan tidaknya
suatu kesalahan pengukuran
mV 1
34
Akurasi alat ukur dapat juga disebut dengan klas
alat ukur. Ada beberapa klas meter ukur yang
menunjukkan ketelitian

1. Klas 0,05 ; 0,1 ; 0,2 : kelas tertinggi untuk
kalibrasi dan riset
2. Klas 0,5 : untuk laboratorium (praktikum)
3. Klas 1,0 : untuk alat ukur portable yang kecil,
reparasi
4. Klas 1,5 ; 2,5 ; 5 : untuk pemakaian yang tidak
begitu memerlukan ketelitian yang tinggi seperti
panel ukur yang besar.




35
Akurasi sangat erat dengan kesalahan
pengukuran yang ditulis dalam bentuk prosen
merupakan represenatsi dari kesalahan ukur
relatif terhadap batas ukur (range) alat ukur
yang digunakan.

Kesalahan Absolut = Akurasi Range

range acc V =
36
Contoh :
Voltmeter dengan klas 1 % (acc=1 %) diset
pada range 5 V. Maka kesalahan yang mungkin
terjadi adalah :

V 0,05 V
V 5
100
1
V
=
=
Maka penulisan hasil pengukuran menjadi :
V 0,05 5V V =
37
Sedang dalam penggunaannya, setiap
pengukuran diusahakan agar besaran yang diukur
mendekati batas ukur/rangenya.

Contoh :
Tegangan 75 Volt diukur dengan 2 buah Voltmeter
VM
1
: batas ukur 250 Volt, klas 0,5
VM
2
: batas ukur 100 Volt, klas 1
VM
3
: batas ukur 200 volt, klas 0,5

Dengan Voltmeter mana hasil pengukuran yang
lebih teliti !






38
Volt 1,25) (75 V
Volt 1,25 Volt 250
100
0,5
V
1
s
1
=
= =
VM
1
:

Volt 1) (75 V
Volt 1 Volt 100
100
1
V
2
s
2
=
= =
VM
2
:

Jadi VM
2
lebih teliti dibanding VM
1


39
PRESISI
Merupakan kemampuan alat ukur dalam
menunjukkan hasil pembacaan yang konsisten
dan jelas dari berulangkali pengukuran.
Contoh:
Voltmeter DC digital menunjuk nilai pengukuran
8,135V. Jika besaran tersebut bertambah atau
berkurang 1 mV, maka penunjukkannya menjadi
8,136 V atau 8,134 V. Karena 1 mV itu
merupakan perubahan terkecil, maka alat ukur
tersebut mempunyai kepresisian 1 mV.


40
Pada Voltmeter analog karena menggunakan
skala maka ada keterbatasan penaksiran
sehingga tidak mungkin mendapat presisi
sampai 3 angka di belakang koma. Misal hanya
50 mV

RESOLUSI
Resolusi adalah perubahan terkecil pada
pengukuran yang masih bisa diamati.
Perubahan 1 mV pada voltmeter digital dan
perubahan 50 mV pada voltmeter analog
menunjukkan resolusi instrumen tersebut.

41
ANGKA PENTING
Jumlah angka penting pada hasil pengukuran juga
merupakan representasi tingkat presisi instrumen
Contoh :
5,726 V (empat angka penting)
menunjukkan tingkat presisi 0,001 V
5,73 V (tiga angka penting)
menunjukkan tingkat presisi 0,01 V
42,0 mendekati pada angka 41,9 atau 42,1
42 mendekati pada angka 41 atau 43



42
KESALAHAN PENGUKURAN KOMBINASI
Jika kita menggunakan dua atau lebih alat ukur
dalam pengukuran maka kesalahan total
diperhitungan berdasarkan hubungan yang
terjadi, yaitu dibagi dalam :

A. Penjumlahan
Kesalahan total dari penjumlahan dua variabel
pengukuran adalah penjumlahan kesalahan
absolut masing-masing variabel.




( ) ( )
( ) ( )
2 1 2 1
2 2 1 1
V V V V V
V V V V V
+ + =
+ =
43
% 1 V 100 V
1
=
5% 80V V
2
=
Volt 1) (100 100
100
1
100 V
1
=
|
.
|

\
|
=
Contoh :
Tentukan kesalahan relatif dari penjumlahan
dua tegangan V
1
dan V
2
Volt 4) (80 80
100
5
80 V
2
=
|
.
|

\
|
=
44
Jawab :

2,78% 180Volt V
100%
180
5
180 V
5)Volt (180 V
4)Volt (1 80) (100 V
4) (80 1) (100 V
=
|
.
|

\
|
=
=
+ + =
+ =
45
B. Pengurangan





C. Perkalian





( ) ( )
( ) ( )
2 1 2 1
2 2 1 1
V V V V V
V V V V V
+ =
=
i%) (v% VI P
i%) (I v%) (V P
I V P
+ =
=
=
46











E. Perpangkatan
r%) (2i% R I P
r%) (R i%) (I P
2
2
+ =
=
i%) (v%
I
V
i% I
v% V
R + =

=
D. Pembagian
47
Soal
Resistor sebesar 680 10 % dilewati
arus sebesar 10 mA. Arus tersebut diukur
dengan amperemeter analog akurasi 1 %
pada range 25 mA.
Tentukan daya dan kesalahannya pada
resistor tersebut
48
Jawab:
15% 68mW P
15% 10%) ( 5%) ( R) (RE ) I (RE P RE
5% 2,5%) ( 2 I RE
2,5% 100%
10mA
0,25mA
I RE
0,25mA 25mA 1% I
68mW (680) (10mA) R I P
2
2
2 2
=
= + = + =
= =
= =
= =
= = =
49
PENDEKATAN LAIN
Penentuan kesalahan dan ketelitian dapat juga
ditentukan dengan memakai nilai referensi yang
ditentukan dari perhitungan teoritis atau nilai
yang diharapkan ( expected value ) dengan nilai
hasil pengukuran.

Sehingga dapat ditentukan :
Kesalahan adalah perbedaan antara harga
yang diharapkan dengan harga pengukuran,
yaitu :

50
E = Yn Xn

Dimana Yn : harga yang diharapkan
Xn : harga pengukuran
E : kesalahan

100%
Yn
Xn Yn
%Error
100%
Y
E
%Error
100%
diharapkan yang Harga
absolut Kesalahan
%Error
n

=
=
=
51
Dari prosen kesalahan dapat ditentukan :
100%
Yn
Xn Yn
1 engukuran %Akurasi_p
|
|
.
|

\
|
=
52
ANALISA STATISTIK

Nilai rata-rata ( )



Memberikan hasil pendekatan yang dihasilkan
dari sejumlah pengukuran.

Penyimpangan ( Deviasi)
Selisih antara pembacaan terhadap nilai rata-
ratanya




n
X X X X
X
n
+ + + +
=
....
3 2 1
X X D =
X
53
n
d d d d
D
n
+ + + +
=
...
3 2 1
Deviasi rata-rata :






Deviasi standar :



n
d d d d
n
2 2
3
2
2
2
1
... + + + +
= o
54
Contoh :
Pengukuran tegangan dengan Voltmeter digital
dilakukan 5 kali, yaitu
V
1
=1,001 V; V
2
=1,002; V
3
=0,999 V; V
4
=0,998 V;
V
5
=1,000 V

Tentukan :
a. Nilai rata-rata pengukuran
b. Deviasi rata-rata
c. Deviasi standar


55
Volt X
Volt X
V V V V V
X
00 , 1

5
000 , 1 998 , 0 999 , 0 002 , 1 001 , 1
5
5 4 3 2 1
=
+ + + +
=
+ + + +
=
Jawab :
a. Nilai rata-rata

56
b. Deviasi rata-rata
V V V d
V V V d
V V V d
V V V d
V V V d
0 000 . 1 000 . 1
002 . 0 000 . 1 998 . 0
001 . 0 000 . 1 999 . 0
002 . 0 000 . 1 002 . 1
0001 . 0 000 . 1 001 . 1
5 5
4 4
3 3
2 2
1 1
= = =
= = =
= = =
= = =
= = =
Volt D
D
n
d d d d
D
n
0012 . 0
5
0 002 . 0 001 . 0 002 . 0 001 . 0
...
3 2 1
=
+ + + +
=
+ + + +
=
57
c. Deviasi standar
Volt
n
d d d d
n
0014 . 0
5
0 002 . 0 001 . 0 002 . 0 001 . 0
...
2 2 2 2
2 2
3
2
2
2
1
=
+ + + +
=
+ + + +
=
o
o
o
58
Soal-soal

1. Sebuah resistor R memiliki beda tegangan
25 V pada terminalnya dengan arus sebesar
63 mA. Tegangan resistor diukur dengan
voltmeter pada range 30 V dengan akurasi
5 % skala penuh. Arus diukur dengan AM-
meter dengan akurasi 1 mA. Hitung nilai R
dan toleransinya.

2. Tentukan pula daya disipasi maksimum dan
minimum pada R tersebut
59
BAB III
METER ARUS SEARAH

60
III.1. PENGENALAN ALAT UKUR
A.Meter Analog
Meter Analog secara umum menggunakan
prinsip dan mekanisme elektromekanik yang
mengakibatkan bergeraknya suatu jarum
penunjuk seperti gambar dibawah ini





61
Dan umumnya jenis range yang digunakan pada
meter analog ada 2 yaitu :

a. Multiplier Range
Hasil penunjukkan jarum dari meter ukur
dikalikan dengan range yang digunakan.

Contoh :
1, 10 pada ohm meter.
Set range 10, bila jarum penunjuk pada
posisi 5
Maka hasil pengukuran 5 10 = 50


62
b. Maximum Range
Menunjukkan batas maksimum dari variabel
yang ingin diukur misalnya pada voltmeter dan
ampere-meter dc

Contoh :
Range 15 V : Tegangan yang boleh diukur
antara 0-15 Volt

Range 1 A : Arus yang boleh diukur antara
0-1 A



63
Untuk mempermudah pembacaanya harus
disesuaikan range dan skala penuh penunjuk
jarum.

Contoh :

Range yang digunakan 100 Volt, skala penuh
120 Volt dan penunjuk jarum 60 volt. Maka :


Volt 50 60
120
100
Pengukuran Hasil
n_jarum penunjukka
penuh skala
range
Pengukuran Hasil
= =
=
64







B. Meter Digital

Untuk semua jenis variabel yang diukur langsung
ditunjukkan dalam bentuk desimal dalam board
sesuai dengan range batas ( maksimum ), seperti
gambar dibawah ini.





Contoh :
Set range 200 Volt. Besaran yang boleh diukur
maksimum 200 V ( 0 200 V )






20.00 V
dc




65

III.2. ALAT UKUR PMMC
(Permanent Magnet Moving Coil )

Disebut juga gerak dArsonval

Alat ukur PMMC terdiri dari magnet tetap dan
kumparan yang bila dialiri arus akan timbul
gaya untuk menggerakkan pointer yang
mengindikasikan level arus pada skala yang
terkalibrasi.


66
Aplikasi PMMC :

Amperemeter DC, Voltmeter DC dan
Ohmmeter. Dengan menambah rangkaian
penyearah bisa digunakan juga sebagai
Amperemeter AC dan Voltmeter AC.
67
KONTRUKSI PMMC

Konstruksi PMMC terlihat pada gambar berikut.
Yaitu terdiri dari magnet tetap berbentuk sepatu
kuda dengan potongan besi lunak menempel
padanya dan antara kedua kutub magnet
tersebut ditempatkan silinder besi lunak, untuk
menghasilkan medan magnet yang homogen
dalam celah udara antara kutub-kutub tersebut.

68
69
Kumparan dililitkan pada lempengan
logam ringan berbentuk segiempat yang
dipasang pada silinder yang dapat
berputar bebas sepanjang celah udara.
Jarum / pointer dipasang di atas kumparan
yang bisa terdefleksi sebanding arus yang
masuk.

70
Pegas konduktif ( 2 buah) dipasang di atas dan di
bawah untuk menghasilkan gaya terkalibrasi
untuk melawan torsi kumparan putar yang
dipertahankan konstan supaya ketelitiannya tetap
terjaga dan yang kedua dihubungkan dengan
pengatur posisi nol ( zero position control ).

Arus pada kumparan harus mengalir pada satu
arah sehingga pointer bergerak dari titik nol ke
skala penuh. Sehingga torsi akan sebanding
dengan arus yang masuk menjadikan PMMC
merupakan peralatan ukur DC ( Arus Searah ).



71
Jika dihubungkan dengan arus AC, jarum
tidak mampu mengikuti pertukaran yang
cepat, sehingga akan bergetar ringan di
titik nol untuk mencari harga rata-
ratanya. Sehingga alat ukur PMMC tidak
cocok dengan arus AC, kecuali jika sudah
disearahkan.

72
Dasar Defleksi PMMC

Defleksi instrumen menggunakan pointer yang
bergerak di atas skala yang terkalibrasi untuk
menunjukkan besaran yang diukur. Ada tiga
macam gaya yang bekerja pada PMMC ini, yaitu :

Deflecting Force ( Gaya Defleksi )
Gaya yang menyebabkan pointer bergerak dari
titik nol jika arus masuk. Gaya ini ditimbulkan
karena adanya kumparan yang dialiri arus pada
daerah medan magnet yang dihasilkan magnet
tetap. Gaya inilah yang menimbulkan torsi
penggerak pointer.

73

Controlling Force ( Gaya Kontrol )
Gaya ini ditimbulkan oleh pegas spiral. Jika
tidak ada arus, pegas akan menjaga agar
pointer pada posisi nol. Sedang jika ada
arus mengalir maka pegas akan
memberikan gaya kontrol melawan gaya
defleksi sampai dicapai kondisi gaya
kontrol sama dengan gaya defleksi yang
meyebabkan pointer berhenti pada titik
tertentu.





74
Damping Force ( Gaya Damping )
Gaya ini difungsikan untuk meminimalkan osilasi
gerak pointer yang muncul beberapa saat
sebelum berada pada kondisi steady state.
Damping force ini muncul hanya jika pointer
bergerak dan diproduksi oleh eddy cuurent.
Eddy current adalah arus induksi yang
disebabkan karena putaran kerangka aluminium
( tempat dililitkan kumparan ) dalam medan
magnet, sehingga timbul tegangan yang
berbanding lurus dengan kecepatan putar dan
akan timbul gaya damping yang berlawanan
dengan arah putar.

75
76
Persamaan Torsi dan Skala

Cara kerja instrumen ini berdasar prinsip jika
suatu kumparan diletakkan pada medan magnet
maka bekerja gaya medan magnet sebesar :

F = B.i.l
Jika kumparan terdiri dari N lilitan, maka
F = N.B.i.l
Sedang torsi yang dihasilkan adalah :
T = F.d
T = N.B.i.l.d
Atau
T = N.B.i.A


77
Dimana :
B : rapat flux magnetik (Wb/m
2
)
l : panjang coil (m)
d : lebar coil (m)
N : jumlah lilitan
A : cross sectional area

Terlihat B,N,A tetap sehingga
i T
d
~
78
Ini berarti :
PMMC adalah alat ukur dengan respon arus I,
yang dimaksud adalah arus rata-rata dan
mengalir dalam satu arah, ini berarti PMMC akan
merespon arus searah atau DC.

Torsi defleksi akan dikontrol oleh torsi kontrol
yang ditimbulkan oleh pegas. Jika K adalah
konstanta pegas dan sudut defleksi pointer,
maka torsi kontrol yang dihasilkan adalah :








K. T
c
=
79
K. N.B.i.A
T T
c d
=
=
Pada keadaan seimbang :

K.i =
Persamaan di atas menunjukkan bahwa defleksi
Pointer sebanding dan merupakan fungsi linier
dari arus yang mengalir pada kumparan. Maka
skala pada PMMC selalu linier.

80
81
Sistem Suspensi

Untuk mendukung sistem gerak defleksi PMMC
digunakan dua suspensi, yaitu suspensi jewel
bearing dan suspensi taut band.

Suspensi Jewel Bearing
Suspensi ini ditunjukkan pada gambar berikut
ini :



82
83
Dalam suspensi jewel bearing ini kumparan
dilekatkan pada titik putar ( pivot ) yang masuk
pada bantalan berbentuk jewel ( saphire atau
kaca ) terdiri dari titik pivot. Ini memberikan
kumparan dapat bergerak bebas, meskipun
dengan sedikit gesekan. Sistem jewel bearing ini
mempunyai sensitivitas pada skala penuh
sebesar 25 uA.
Jenis suspensi ini rawan terhadap benturan.


84
Suspensi Taut Band

Untuk meniadakan gesekan rendah oleh titik putar
jewel bearing maka digunakan suspensi taut
band (ban kencang). Bentuk suspensi taut band
ini terdiri dari dua buah pita logam ( phospor atau
platinum ) yang diikatkanpada masing-masing
ujung kumparan dan kedua ujung yang lain diikat
oleh spiral yang berfungsi mengatur ketegangan
pita. Pita ini sekaligus digunakan sebagai
penghubung elektrik dengan kumparan.

85
Kontruksi PMMC sistem suspensi Taut Band
86
Keuntungan Suspensi Taut Band :
Sensitifitasnya lebih tinggi (2 uA pada
skala penuh )
Mampu menahan kelebihan beban lebih
tinggi
Tidak sensitif terhadap temperatur dan
goncangan.


87
III.3. GALVANOMETER
Merupakan PMMC yang dirancang sensitif
terhadap arus yang bernilai kecil yang
menggunakan skala dimana titik nol berada
pada setengah skala. Sistem defeksinya
menyimpang ke arah kiri dan kanan dan
skala dikalibrasi pada nilai mikro ampere
(A) dan sensitivitasnya dinyatakan dalam
(A/mm). Umumnya digunakan untuk
mendeteksi arus (null detector) pada
jembatan wheatstone.
88
III.4. AMPERE METER
PMMC mempunyai batas arus maksimum yang
cukup kecil sekitar beberapa A mA.
Simbol PMMC adalah :

Mempunyai parameter :
1. Arus maksimum/Arus Skala
Penuh/ Arus Defleksi Penuh ( I
m
)
atau I
FSD (full scale defection)
2. Tahanan dalam kumparan (R
m
)
A
89
Ampere meter atau bisa disebut
AM-meter dibuat dari sebuah
PMMC yang dirangkai dengan sebuah
tahanan yang dipasang paralel
terhadap PMMC. Tahanan ini disebut
Resistansi Shunt (R
sh
) yang berfungsi
membatasi arus yang melalui PMMC.
Fungsi AMmeter adalah untuk
mengukur arus.
90
Rangkaian ekivalen ampere meter terlihat pada
gambar berikut :
m
m m
sh
m sh
sh
m m
sh
m m sh sh
m sh
I I
R I
R
I I I karena ;
I
R I
R
R I R I
V V

=
=

=
=
=
A
91
Jika arus range :
I = nI
m

Maka :



1) (n
R
R
1) (n I
R I
I nI
R I
R
I I
R I
R
m
sh
m
m m
m m
m m
sh
m
m m
sh

=
92
Contoh :
Rancanglah sebuah ampere meter dengan
range 1 A dari PMMC yang mempunyai arus
maksimum 30A dan tahanan dalam
kumparan 3 k.

O =


=

09 , 0
10 3 1
10 3 10 30
R
I I
R I
R
6
3 6 -
sh
m
m m
sh
93
Dari contoh tersebut tahanan ekivalen antara
tahanan kumparan (R
m
) paralel dengan
tahanan shunt (R
sh
) disebut juga tahanan
dalam Ampere meter (R
a
)
O =
O +
O
=
+

=
089997 , 0
09 , 0 10 3
09 , 0 10 3
R R
R R
R
I I
R I
R
3
3
sh m
sh m
a
m
m m
sh
Ra bernilai sangat kecil
94
Soal-soal
1. Sebuah Ampere meter dibuat dari PMMC dengan arus
FSD =0,1 mA dan tahanan dalam kumparan 99 . Jika
tahanan shuntnya 1 . Tentukan arus yang mengalir
melalui Ampere meter pada saat : a. FSD b. 0,5 FSD
c. 0,25 FSD
2. Sebuah PMMC dengan arus FSD =100 A dan
tahanan dalam kumparan 1 k. Tentukan tahanan
shunt untuk mengkonversi instrumen tersebut menjadi
AM-meter dengan arus FSD 100 mA dan 1 A
3. Sebuah DC AM-meter mempunyai tahanan shunt
133 k dengan PMMC dengan I
m
=2 A dan
R
m
=112 k. Tentukan arus yang terukur pada saat
0,4 FSD dan 1/3 FSD.
95
AM-METER MULTIRANGE
Range Ganda Sederhana
A. Using Switched Shunt



R
1
R
2
R
3
I
3
I
2
I
1
I
m
;
R
m
10A
1A 100mA
96
Masing-masing tahanan shunt independen







Cara menentukan tahanan shunt sama dengan
AM-meter range tunggal
Adanya Contact Lossing
m 2
m m
I I
R I
sh2
R

=
m 3
m m
I I
R I
sh3
R

=
m 1
m m
I I
R I
sh1
R

=
97
B. Shunt Ayrton
Multi Range AM-meter
R
1
R
2
R
3
I
3
I
2
I
1
I
m
;
R
m
I
1
< I
2
< I
3
98
Sifat-sifat Shunt Ayrton
Multi Range AM-meter
Tahanan - tahanan shunt saling
berhubungan sehingga range arus saling
bergantung satu sama lain
Meniadakan contact lossing
Penerapan rangkaian listrik

99
Contoh :

Desainlah sebuah shunt aryton AMmeter
dengan range masing - masing I
1
=3 mA;
I
2
=6 mA dan I
3
=9 mA dari PMMC dengan
I
m
=30 A dan R
m
=3 k
100
Range I
1
R
1
R
2
R
3
I
1
I
m
;
R
m
I
sh1
R
sh1
=R
1
+R
2
+R
3
I
m
m m sh1 sh1
m sh1
m 1 sh1
R I R I
V V
I I I
=
=
=
(I) .......... .......... 3 , 30 ) R R (R
) 10 3 10 (3
10 3 10 3
) R R (R
) I (I
R I
) R R (R
R I ) R R (R ) I (I
3 2 1
5 - 3 -
3 5 -
3 2 1
m 1
m m
3 2 1
m m 3 2 1 m 1
= + +


= + +

= + +
= + +
101
Range I
2
) R (R I R I
V V
I I I
1 m m sh2 sh2
m sh2
m 2 sh2
+ =
=
=
(II) .......... .......... 08 , 15 R R R 10 02 , 5
08 , 15 R 10 02 , 5 ) R (R
) 10 3 10 (6
) R 10 3 ( 10 3
) R (R
) I (I
) R R ( I
) R (R
) R R ( I ) R (R ) I (I
3 2 1
3
1
3
3 2
5 - 3 -
1
3 5 -
3 2
m 2
1 m m
3 2
1 m m 3 2 m 2
= + +
+ = +

+
= +

+
= +
+ = +

R
2
R
3
I
2
I
sh2
R
sh2
=R
2
+R
3
I
m
R
1
R
m
102
Range I
3
) R R R ( I R ) I (I
) R R (R I R I
V V
I I I
2 1 m m 3 m 3
2 1 m m sh3 sh3
m sh3
m 3 sh3
+ + =
+ + =
=
=
(III) .......... .......... 10 3 99R 2 R R
R R 10 3 99R 2
R R 10 3 R
10 3
) 10 3 10 (9
) 10 3 10 (9
) R R 10 3 ( 10 3
R
) I (I
) R R R ( I
R
3
3 2 1
2 1
3
3
2 1
3
3
5 -
5 - 3 -
5 - 3 -
2 1
3 5 -
3
m 3
2 1 m m
3
= +
+ + =
+ + =



+ +
=

+ +
=
R
2
R
3
I
3
I
sh3
R
sh3
=R
3
I
m
R
1
R
m
103
Substitusi persamaan I dan II

08 , 15 R R R 10 02 , 5
3 , 30 R R R
3 2 1
3
3 2 1
= + +
= + +

O =
=
=
14 , 15 R
00502 , 1
22 , 15
R
22 , 15 R 1,00502
1
1
1
104
Substitusi persamaan I dan III

3000 R 299 R R
3 , 30 R R R
3 2 1
3 2 1
= +
= + +
O =
=
=
= + +
059 , 5 R
101 , 10 14 , 5 1 3 . 30 R
R R 3 . 30 R
3 , 30 R R R
2
2
3 1 2
3 2 1
O =
=
=
101 , 10 R
300
3 , 3030
R
3 , 3030 R 300
3
3
3
Maka R
2
dapat dicari dari persamaan I :
105
Soal-soal
1. Tentukan range arus I
1
, I
2
dan I
3
pada AM-meter berikut
I
3
I
2
I
1
O = 1 , 0
1
R
O = 1 , 0
2
R
O = 1 , 0
3
R
O =
=
500
100
m
m
R
A I
R
1
R
2
R
3
I
3
I
2
I
1
O =
=
k R
A I
m
m
1
50
= 100 mA
= 500 mA
= 1 A
2. Tentukan tahanan shunt R
1
, R
2
dan R
3
pada AM-
meter berikut
106
3 Rancanglah sebuah Shunt Ayrton yang
menghasilkan amperemeter dengan batas
ukur(rangkuman) 1A, 5A, dan 10 A.
Gerakan dArsonval mempunyai tahanan
dalam Rm =50 O dan defleksi penuh 1 mA
107
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
penggunaan Ampere-meter DC.

AM-meter harus dipasang seri dengan sebuah
beban










A
108

Jangan menghubungkan AM-meter langsung pada
sumber tegangan






Perhatikan polaritas positip dan negatip
Jika AM-meter multirange, gunakan terlebih dahulu
range tertinggi baru kemudian set pada range yang
terdekat dengan hasil pengukuran
Jika antara range dan skala tidak sama, hasil
pengukuran harus disesuaikan antara range dan skala
penuh yang digunakan.

A
109
III.5. VOLTMETER DC
Voltmeter (VM) dibuat dari sebuah PMMC yang
dirangkai dengan sebuah tahanan yang dipasang
seri terhadap PMMC. Tahanan ini disebut
Resistansi Seri atau Resistansi Pengali atau
Multiplier Resistance (R
s
).
Fungsi Voltmeter adalah untuk mengukur
tegangan/ beda potensial listrik.
V
110
m
m
R
I
R
s
V
r
Rangkaian dasar Voltmeter (VM) terlihat pada
gambar berikut :
Jika dirancang sebuah Voltmeter (VM) dengan
range V
r
dari PMMC yang mempunyai arus
maksimum I
m
dan tahanan dalam R
m
maka
diperlukan tahanan seri sebesar :
111
m
m
r
s
m s m r
R
I
V
R
) R (R I V
=
+ =
Tahanan pengali (R
s
) itu realtif sangat besar untuk
membatasi arus yang mengalir pada PMMC.
Tahanan total dari Voltmeter adalah jumlah
tahanan dalam PMMC dengan tahanan-tahanan
pengali, yaitu:
112
Tahanan total dari Voltmeter biasa juga
disebut tahanan dalam Voltmeter, yang
nilainya sangat besar.

m
r
T
m s T
m s m r
I
V
R
R R R
) R (R I V
=
+ =
+ =

113
Maka untuk merancang sebuah
Voltmeter sekarang bisa menggunakan
tahanan dalam (R
T
)

m
r
T m T s
I
V
R ; R R R = =
114
Contoh :
Sebuah PMMC mempunyai arus maksimum
75 A dan tahanan dalam 900 digunakan
sebagai voltmeter dc dengan range 30 V
k 399,1 R
399100 R
900
10 75
30
R
R
I
V
R
s
s
6 -
s
m
m
r
s
=
=

=
=
k 1 , 399 R
900 - k 00 4 R
R - R R
k 400 R
10 75
30
R
I
V
R
s
s
m T s
T
6 -
T
m
r
T
=
=
=
=

=
=
Cara 1 Cara 2
115
Soal latihan

PMMC dengan FSD 100 A dan tahanan
dalam 1 k dijadikan voltmeter dc. Tentukan
tahanan pengali (R
s
) jika tegangan voltmeter
tersebut mengukur sebesar 50 V. Juga
tentukan besar tegangan jika instrumen
tersebut menunjuk 0,8 FSD; 0,5 FSD dan
0,2 FSD

116
2 Sensitivitas Voltmeter (S)

Sensitivitas menunjukkan kepekaan voltmeter
yang mempengaruhi hasil pengukuran. Voltmeter
dengan sensitivitas tinggi mampu menghasilkan
pengukuran yang baik. Sebaliknya sensitivitas
rendah dapat menyebabkan hasil pengukuran
yang jelek. Sensitivitas voltmeter merupakan
perbandingan tahanan total(dalam) dan batas
ukur(range).

Volt V
R
S
r
T
O
= =
117
Sensitivitas Voltmeter juga merupakan
kebalikan dari arus defleksi skala penuh alat
ukur (I
m
), yaitu :

V

I
1
S
m
= =
Dalam perancangan Voltmeter, parameter
sensitivitas ini dapat digunakan dengan
perhitungan yang lebih sederhana.
( )
m r s
m T s
R V S R
R R R
=
=
r T
r
T1
V S R
atau ;
V
R
S
=
=
118
( )
k 399,1 R
900 - k 399,999 R
900 - 30
V
k
13,3333 R
R - Vr S R
V
k
33 13,33
10 75
1
I
1
S
s
s
s
m s
6 -
m
=
=
|
.
|

\
|
=
=
=

= =
Sebuah PMMC mempunyai arus maksimum 75
A dan tahanan dalam 900 digunakan
sebagai voltmeter dc dengan range 30 V,
tentukan tahanan pengali dengan metode
sensitivitas
119
VOLTMETER MULTIRANGE
m
m
R
I
R
s1
V
r1
V
r2
V
r3
R
s2
R
s3
A. Using Switched Contact
- Masing-masing tahanan shunt independen
- Cara menentukan tahanan shunt sama dengan
Voltmeter range tunggal
- Adanya Contact Lossing
120
CONTOH SOAL
Sebuah PMMC dengan I
m
= 50 A dan R
m
= 1700
digunakan sebagai voltmeter multirange dengan
switched contact untuk range 10 V; 50 V dan 100 V.
Tentukan tahanan-tahanan pengalinya.
k ,3 98 9 R
00 17
10 0 5
50
R
R
I
V
R
s2
6 -
s2
m
m
r2
s2
=

=
=
M 1,9983 R
700 1
10 0 5
100
R
R
I
V
R
s
6 -
s3
m
m
r3
s3
=

=
=
3 , 98 1 R
00 17
10 0 5
10
R
R
I
V
R
s1
6 -
s1
m
m
r1
s1
k =

=
=
121
B. Series Universal Voltmeter Multirange
m
m
R
I
R
s1
V
r1
V
r2
V
r3
R
s2
R
s3
r3 r2 r1
V V V < <
Rangkaian pengganti masing-masing range
sebagai berikut :
122
R
s1
V
r1
R
m
R
s1
V
r2
R
s2
R
m
R
s1
V
r3
R
s2
R
m
R
s3
Range V
r1
m
m
r1
s1
R
I
V
R =
) R (R
I
V
R
1 m
m
r2
s2
+ =
) R R (R
I
V
R
2 1 m
m
r3
s3
+ + =
Range V
r2
Range V
r3
123
Dengan metode tahanan total/dalam Voltmeter
m T1 s1
m
r1
T1
R R R
I
V
R
=
=
T1 T2 s2
1 m
m
r2
s2
m
r2
T2
R R R
) R (R
I
V
R
I
V
R
=
+ =
=
T2 T3 s3
2 1 m
m
r3
s3
m
r3
T3
R R R
) R R (R
I
V
R
I
V
R
=
+ + =
=
124
Dengan Metode Sensitivitas Voltmeter
( )
m r1 s1
m T1 s1
R V S R
R R R
=
=
( ) ( )
( )
r1 r2 s2
r1 r2 s2
T1 T2 s2
V - V S R
V S V S R
R R R
=
=
=
( ) ( )
( )
r2 r3 s3
r3 r3 s3
T2 T3 s3
V - V S R
V S V S R
R R R
=
=
=
m r3
T3
r2
T2
r1
T1
I
1
V
R
V
R
V
R
S = = = =
125
CONTOH SOAL :
Sebuah PMMC dengan Im = 50 A dan
Rm = 1700 digunakan sebagai series
universal voltmeter multirange dengan switched
contact untuk range 10 V; 50 V dan 100 V.
Tentukan tahanan-tahanan pengalinya dengan
tiga cara.
k 198,3 R
00 17
10 0 5
10
R
R
I
V
R
s1
6 -
s1
m
m
r1
s1
=

=
=
Cara I
126
( )
( )
k 00 8 R
198,3k 00 17
10 0 5
50
R
R R
I
V
R
s2
6 -
s2
s1 m
m
r2
s2
=
O + O

=
+ =
( )
( )
M 1 R
800k 198,3k 1700
10 50
100
R
R R R
I
V
R
s
6 -
s3
s2 s1 m
m
r3
s3
=
+ +

=
+ + =
127
Cara II Metode tahanan total/dalam Voltmeter
198,3k 1700 200k R R R
200k
10 50
10
I
V
R
m T1 s1
6 -
m
r1
T1
= = =
=

= =
800k 200k 1M R R R
1M
10 50
50
I
V
R
T1 T2 s2
6 -
m
r2
T2
= = =
=

= =
1M 1M - 2M R R R
2M
10 50
100
I
V
R
T2 T3 s3
6 -
m
r3
T3
= = =
=

= =
128
Cara III Metode Sensitivitas Voltmeter
( )
k 198,3 1700 - k 200 R
1700 10
V
k
20 R
R V S R
s1
s1
m r1 s1
= =

|
.
|

\
|
=
=
( )
( )
( ) k 800 40
V
k
20 R
10 - 50
V
k
20 R
V - V S R
s2
s2
r1 r2 s2
= =
=
=
( )
( )
( ) M 1 50
V
k
20 R
50 - 100
V
k
20 R
V - V S R
s3
s3
r2 r3 s3
= =
O
=
=
V
k
20
10 50
1
I
1
S
6 -
m
O
=

= =
129
EFEK PEMBEBANAN VOLTMETER
(LOADING EFFECT VOLTMETER)

Ketika memasang Voltmeter terhadap suatu
tahanan yang bertegangan berarti memasang
sebuah tahanan secara paralel sehingga keadaan
rangkaian berubah.
Jika tahanan dalam Voltmeter kecil atau
sensitivitas Voltmeter kecil maka hasil pengukuran
tegangan menjadi tidak tepat atau berbeda
dengan tegangan yang sebenarnya. Kondisi
seperti ini disebut Effect Pembebanan Voltmeter.
Untuk menghindarinya perlu dipilih Voltmeter
dengan nilai sensitivitas yang tinggi.
130
Contoh
Tegangan pada R
2
diukur oleh dua Voltmeter.
VM
1
: S
1
=1k/V; VM
2
: S
2
=33,3k/V; Keduanya
menggunakan range 10 Volt.
R
1
R
2
VM
V
i
Parameter rangkaian :
V
i
=10 V
R
1
=10 k
R
2
=10 k

V 5 10
10k 10k
10k
V
V
R R
R
V
: ) (V sebenarnya yang R pada Tegangan
n
i
2 1
2
n
n 2
=
O + O
O
=
+
=
131
VM
1
:
k 10 10
V
k
(1 V S R
r1 1 T1
= = =
R
1
R
2
V
i
R
T
k 5
10k 10k
10k 10k
R R
R R
R
T1 2
T1 2
p1
=
+

=
+

=
Tahanan ekivalen R
p
adalah :
Tahanan dalam R
T1
adalah :
132
Tegangan yang terukur pada VM
1
:
R
1
R
p
V
i
V
x
V 3,33 10V
5k 10k
5k
V
V
R R
R
V
x1
i
p1 1
p1
x1
=
+
=
+
=
Prosentasi kesalahan pengukuran pada VM
1
% 33,4 100%
5V
3,33V - 5V
Error1 %
100%
V
V - V
Error1 %
n
x1 n
= =
=
133
VM
2
:
k 33 3 10
V
k
(33,3 V S R
r2 2 T2
= = =
R
1
R
2
V
i
R
T
k 71 , 9
k 33 3 10k
k 33 3 10k
R R
R R
R
T2 2
T2 2
p2
=
+

=
+

=
Tahanan ekivalen R
p
adalah :
Tahanan dalam R
T2
adalah :
134
Tegangan yang terukur pada VM
1
:
R
1
R
p
V
i
V
x
V 93 , 4 10V
k 71 , 9 10k
9,71k
V
V
R R
R
V
x2
i
p2 1
p2
x2
=
+
=
+
=
Prosentasi kesalahan pengukuran pada VM
1
% 4 , 1 100%
5V
4,93V - 5V
Error2 %
100%
V
V - V
Error2 %
n
x2 n
= =
=
135
Contoh diatas menunjukkan bahwa Voltmeter
dengan sensitivitas rendah menghasilkan
pengukuran dengan kesalahan yang relatif besar.
Keadaan ini disebut loading effect, karena
pengukuran dengan Voltmeter ini justru
membebani rangkaian.
Dan sebaliknya dengan sensitivitas tinggi
kesalahan pengukuran menjadi kecil.

Bagaimana dengan Voltmeter sensitivitas rendah?
Coba analisa dengan rangkaian selanjutnya.
136
Sekarang lakukan pengukuran tegangan R
2

dengan VM
1
untuk rangkaian dengan parameter
komponen yang baru.
Apa yang bisa disimpulkan?
Parameter rangkaian :
V
i
=10 V
R
1
=10
R
2
=10

R
1
R
2
VM
V
i
137
Soal latihan

1. Pada rangkaian di bawah ini jika diketahui
tingkat ketelitian pengukuran sebesar 95 %,
Berapa sensitivitas Voltmeter tersebut.
VM
V
i
=15 V
O = k R 5
1
O = k R 2
2
138
Soal Latihan
2. Diketahui suatu rangkaian seperti di bawah ini
Terdapat dua Voltmeter yang akan dipergunakan
untuk mengukur tegangan pada terminal X - Y
secara bergantian.






VM
V
i
=100 V
O = k R 100
1
?
2
= R
X
Y
139
Data spesifikasi kedua Voltmeter adalah seperti
berikut:
Pada saat Voltmeter A dipasang pada terminal
X - Y menunjukkan tegangan 15 V pada range
30 V. Sensitivitas Voltmeter A adalah 5 k/V.
Sedangkan pada saat Voltmeter B dipasang
pada terminal X-Y menunjukkan tegangan
sebesar 16,13 V pada range 50 V

Pertanyaan :
Tentukan sensitivitas Voltmeter B
140
Soal Latihan
3. Sebuah voltmeter dc 1 Volt, S=20k/V
dinaikkan rangenya menjadi 100 V. Apa
yang harus dilakukan.

4. Rancanglah sebuah series universal
voltmeter multirange 0-3V; 0-6 V; 0-9V
dari sebuah voltmeter 300mV, S=30k/V
141
Hal-Hal yang perlu diperhatikan dalam
penggunaan Voltmeter DC

Voltmeter harus dipasang paralel dengan
sebuah sumber tegangan atau tegangan
beban




Jangan menghubungkan Voltmeter seri antara
beban dengan sumber tegangan.


R
1
R
2
VM
V
i
142
Perhatikan polaritas positip dan negatip
Perhatikan sensitivitasnya, pilih nilai S yang
tinggi untuk menghindari efek pembebanan
Jika VM-meter multirange, gunakan terlebih
dahulu range tertinggi baru kemudian set pada
range yang terdekat dengan hasil pengukuran
Jika antara range dan skala tidak sama, hasil
pengukuran harus disesuaikan antara range dan
skala penuh yang digunakan.

143
III.6. OHM METER

Aplikasi yang ketiga dari PMMC adalah sebagai
Ohm meter. Ohm meter adalah alat ukur resistor
standar yang terdiri dari PMMC, sebuah baterai
dan rangkaian resistor.
Rangkaian dasarnya adalah :

















R
x
X Y
R
z
E
I
m
144
Dari rangkaian diatas, jika x - y open maka
arus tidak akan mengalir, ini menandakan
tahanan pada x - y sangat besar ( ).
Jika x - y dihubung singkat, dengan
mengatur tahanan R
z
akan dicapai arus
skala penuh. Ini menandakan bahwa
tahanan pada x - y adalah nol. Tahanan R
z

selanjutnya disebut pengatur posisi nol
ohm.
O
145
m z
m
R R
E
I
+
=
Arus skala penuh pada x-y hubung singkat
adalah



Jika pada terminal x-y dihubungkan sebuah
tahanan R
x
(yang akan diukur) maka arus yang
mengalir menjadi





x m z
x
R R R
E
I
+ +
=
146
x m z
m z
m
x
R R R
R R
I
I
P
+ +
+
= =
Jika perbandingan I
x
dengan I
m
adalah P yang
menyatakan rasio gerak defleksi maka
( )
m z
m z
x
R R
P
R R
R +
+
=
Dan tahanan R
x
dapat ditentukan sebagai
berikut :
147
Contoh :
Sebuah PMMC mempunyai arus defleksi penuh
I
m
=1 mA, tahanan dalam R
m
=100O diaplikasikan
menjadi Ohmmeter dengan menambah baterai
E=3 Volt dan tahanan pengatur nol ohm.
Buat skala meter untuk pembacaan resistansi.

Jawab :

12k R
100) (2,9k
0,2
100 2,9k
R
R R
P
R R
R
x
x
m z
m z
x
=
+
+
=
+
+
=
2.9k 100
10
3
R
I
E
R
3
m
m
z
= = =

148
1k 3k
0.75
3k
R
x3
= =
4.5k 3k
0.4
3k
R
x1
= =
3k 3k
0.5
3k
R
x2
= =



Maka bentuk skalanya adalah :





149
Bentuk lain dari Ohm-meter adalah sebagai berikut :

Dari gambar di atas arus baterai I
b
akan terbagi
menjadi arus I
2
dan I
m
. Jika terminal X-Y hubung
singkat, R
2
diatur agar terjadi arus skala penuh
pada PMMC.

E
b
Zero
control
V
m
I
m
R
2
I
b
I
2 R
1
Y
X
R
x
E
Zero control
PMMC
V
m
I
m
R
2
I
b
I
2 R
1
Y
X
R
x
150
) // (
2 1 m x
b
b
R R R R
E
I
+ +
=
Sedang arus pada baterai tersebut adalah :
Jika :


( )
1 2
// R R R
m
((
1
R R
E
I
x
b
b
+
~
Maka :
151
Sementara itu :






Setiap kali Ohm-meter digunakan terminal X-Y
harus dihubungsingkat dan resistor pengatur nol
Ohm diatur untuk memberikan arus skala penuh.
Langkah ini harus selalu dilakukan, karena jika
tegangan baterai turun, skala pada ohm-meter
akan selalu benar.



m
m b
m
m b m
R
R R I
I
R R I V
) // 2 (
) // (
2
=
=
152
Contoh :
Pada rangkaian Ohm-meter terdiri dari dari baterai
1,5 Volt, R
1
=15 kO, R
m
=50 O, R
2
=50 O dan PMMC
dengan I
m
=50 uA,
Tentukan :
A. Skala Ohm-meter saat 0.5 FSD
B. R
2
, jika E
b
turun menjadi 1,3 Volt ( pada
pengaturan nol Ohm )
C. R
x
, saat 0.25 FSD, pada E
b
= 1,3 Volt


153
2. Rencanakan sebuah Ohmmeter tipe seri
dengan arus defleksi penuh PMMC 0.5 mA
dan tahanan dalam sebesar 50 O.
Tegangan baterai 6 V nilai yang
diinginkan pada setengah skala penuh
3000 O. Tentukan
a) nilai R1 dan R2
b) batas R2 jika baterai dapat berubah dari 5,7
V - 6.1 V

154
3.Sebuah Ohmmeter menggunakan gerak
dasar 50 O memerlukan arus skala penuh 1 mA
dan tegangan baterai 6 V tanda skala yang
diinginkan setengah skala adalah 2000 O
Tentukan :
a. Nilai R1 dan R2
b. Nilai R2 terbesar untuk mengkompensator
penurunan tegangan 10 %
c. Kesalahan skala pada 2000 O jika R2 disetel
seperti pada b.
155
O =
O O =
O = = ~ +
= + = + =
=
O
= =
=
O = =
k R
k k R
k
A
V
I
E
R R
A A A I I I
A
mV
R
V
I
mV V
A R I V
x
x
b
b
x
m b
m
m
m m m
15
15 30
30
50
5 , 1
50 25 25
25
50
25 , 1
25 , 1
50 25
1
2
2
2

Jawab :
A. Saat 0,5 FSD dengan E
b
=1,5 V,

156
B. Dengan R
x
=0 dan E
b
=1.3 V
O =
= =
=
O = =
=
= =
=
O +
=
+
~
18 , 68
67 , 36
5 , 2
5 , 2
50 50
67 , 36
50 67 , 86
67 , 86
15 0
3 , 1
2
2
2
2
2
1
R
A
mV
I
V
R
mV V
A R I V
A I
A A I I I
A I
k
V
R R
E
I
m
m
m m m
m b
b
x
b
b

157 O =
O O = O =
O = +
= ~ +
=
+ = + =
=
O
= =
=
O = =
k R
k k R k R
k R R
A
V
I
E
R R
A I
A A I I I
A I
mV
R
V
I
mV V
AX R I V
x
x
x
b
b
x
b
m b
m
m
m m m
15
15 30 30
30
33 , 43
3 , 1
33 , 43
25 33 , 18
33 , 18
18 , 68
25 , 1
25 , 1
50 25
1
1
1
2
2
2
2

C. Saat 0,5 FSD, dengan E


b
=1,3Volt
158












OHM METER MULTI RANGE
Contoh Ohmmeter multirange terlihat pada
gambar di bawah ini :








OHM-METER MULTIRANGE
159
Contoh :
Pada rangkaian Ohmmeter diatas diketahui
pada saat R
x
=0, arus skala penuh 37,5 uA pada
PMMC dengan tahanan dalam 3,82 kO tercapai
pada pengaturan zero kontrol 5 kO pada nilai
2,875 kO. Baterai 1,5 Volt digunakan pada
semua range kecuali range R10kO yang
menggunakan baterai 15 Volt.

Jika digunakan range Rx1, tentukan :
a. Arus pada PMMC, jika R
X
=24O
b.Jika baterai turun menjadi 1,25 Volt, tentukan
resistansi zero control
c. Pada kondisi b, tentukan Rx pada 0,75 FSD



160

Rangkaian ekivalennya adalah sebagai berikut :

( )
A I I
mA
k k
I
T m
T
436 , 37 5 , 62
685 , 16 10
10
685 , 16 10
10
5 , 62
10 // 875 , 2 99 , 9 14
5 , 1
=
+
=
+
=
=
+ +
=
161
Hal-Hal yang perlu diperhatikan dalam
penggunaan Ohm-meter

Sebelum digunakan probe Ohmmeter (terminal +
dan common ) dihubungsingkatkan terlebih dahulu.
Atur zero adjust sehingga pointer terdefleksi pada
skala penuh yang berarti menunjuk 0 .
Setiap kali ada perubahan/pergantian range maka
harus selalu dilakukan pengecekan titik 0
seperti langkah sebelumnya
Atur range sedemikian sehingga hasil pembacaan
ohmmeter berada pada sekitar defleksi setengah
skala penuh.
Penunjukkan ohmmeter sedekat mungkin ke
setengah skala penuh akan memberikan nilai
akurasi tertinggi.
162
BAB IV
METER ARUS BOLAK-BALIK

163
PENGERTIAN DASAR
Definisi arus bolak-balik :
arus yang besar dan arah/polaritasnya berubah
terhadap waktu secara periodik.
Dalam arus bolak-balik, ada 3 nilai yang dipakai,
yaitu :
1. Nilai maksimum / nilai puncak
Nilai maksimum atau amplitudo arus bolak-balik
sering dipakai untuk menyatakan besar sinyal atau
gangguan dalam rangkaian listrik/elektronika.


164
2. Nilai rata-rata
Nilai rata-rata dari besar arus yang diambil
melalui suatu jangka waktu selama setengah
periode dari arus bolak-balik itu.

3. Nilai efektif/nilai rms (root mean square )
Bila daya yang dipakai kalau arus bolak-balik I
mengalir melalui tahanan R dan diambil harga
rata-rata dalam satu periode, adalah sama
dengan daya yang dipakai pada arus searah
dengan arus I yang mengalir melalui tahanan R
yang sama, maka Nilai Efektif arus bolak-balik
itu didefinisikan sebagai I .

165
I
m

t
i
( t )

0
T
i
( t )

I
m

t
T
0
t
I
m

T
0
i
( t )

Sinyal sinus
Sinyal segitiga
Sinyal segi empat
Bentuk-bentuk sinyal bolak-balik
166
Perhitungan Matematika
Secara matematika, kita dapat juga menghitung
nilai rms dan rata-rata sbb :
Nilai rms = Nilai efektif

}
=
T
0
dt
2
v(t)
T
1
rms
V
167
Contoh : Tentukan nilai rms gelombang sinus
( )
Sin2t
2
1
t
2
0
4
2
m
V
rms
V
2
0
dt Cos2t) (1
2
1
2
2
m
V
rms
V
2
0
dt t
2
Sin
2
2
m
V
rms
V
2
0
dt t
2
Sin
2
m
V
2
1
rms
V
T
0
dt
2
v(t)
T
1
rms
V
=
}
=
}
=
}
=
}
=
168
( )
2
m
V
rms
V
2
2
m
V
rms
V
2
4
2
m
V
rms
V
Sin0
2
1
0 Sin4
2
1
2
4
2
m
V
rms
V
=
=
=
|
.
|

\
|
+ =
m
V 707 , 0
rms
V =
rms
V 414 , 1
m
V =
169
Nilai rata-rata/average value dihitung dari luas atau
integral suatu gelombang satu periode dibagi
periodenya.
}
= =
T
0
avg
v(t)dt
T
1
V
dc
V
Contoh : Tentukan nilai rata-rata gelombang sinus
}
}
} }
=
=
= = =
2
0
avg
2
0
avg
2
0
T
0
dc avg
dt Sint
2
V
V
dt Sint V
2
1
V
dt Sint V
2
1
v(t)dt
T
1
V V
m
m
m
170
( )
0 V
0
2
V
V
1 1
2
V
V
0 2
2
V
V
2
V
V
dt Sint
2
V
V
avg
avg
avg
avg
2
0
avg
2
0
avg
m
m
m
m
m
=
(

=
(

+ =
(

=
(

=
=
}
Cos Cos
t Cos
t
t
Jadi nilai rata-rata gelombang sinus adalah nol
171
Soal Latihan
1. Hitunglah nilai rata-rata dan nilai efektif dari
bentuk-bentuk sinyal segitiga dan persegi
jika nilai puncak masing-masing adalah A !
2. Hitunglah nilai rata-rata dan nilai efektif dari
fungsi-fungsi sbb :
a ) v
( t )
= 1 + sin t
b ) v
( t )
= 1 sin t
172
0 1 2
1
t
v
( t )

3. Hitunglah nilai rms dan nilai rata-rata fungsi
tegangan di samping ini !
173
RESPON PMMC TERHADAP
GELOMBANG AC
Diketahui bahwa pada PMMC torsi defleksi
tergantung pada arus searah/dc.
i T
d
~
Jika dimasukkan arus ac pada PMMC maka PMMC
akan merespon nilai rata-ratanya, jika gelombang
sinus maka nilai rata-ratanya sama dengan nol
sehingga jarum/pointer akan bergetar disekitar titik
nol. Jika frekwensi gelombang ac cukup rendah
maka pointer akan mengayun lambat disekitar titik
nol.
174
Sehingga PMMC tidak bisa digunakan
sebagai alat ukur AC secara langsung.

Untuk bisa digunakan sebagai alat ukur ac
pada PMMC perlu ditambah rangkaian
penyearah atau rectifier yang merubah
besaran AC menjadi DC. Nilai DC hasil
penyearahan inilah yang dapat direspon
oleh PMMC
175
KOMPONEN PENYEARAH (DIODA)
Dioda merupakan komponen penyearah yang
memiliki kemampuan mengalirkan arus dalam
satu arah dan menahan arus pada arah yang
sebaliknya.
Anoda
(+)
Katoda
(-)
176
+
-
+
-
If
RANGKAIAN A
177
Pada rangkaian (A) dioda diberi tegangan
maju (anoda lebih positif daripada katoda),
jika tegangan maju lebih besar dari
tegangan ambang dioda (Vf) maka dioda
seperti resistor yang kecil sehingga arus
akan mengalir. Dikatakan dioda dalam
posisi ON.
178
+
-
+
-
OPEN
CIRCUIT
RANGKAIAN B
179
Pada rangkaian (B) dioda diberi tegangan
mundur (katoda lebih positif daripada
anoda), maka dioda seperti saklar
pemutus dan arus tidak akan mengalir.
Dikatakan dioda dalam posisi OFF.

180
Jenis dioda yang sering digunakan adalah
jenis germanium dan silikon. Dioda
germanium memiliki tegangan V
f
sebesar
0,3 V dan dioda silikon memiliki tegangan
V
f
sebesar 0,7 V. Pada saat pemberian
tegangan maju, Vf merupakan tegangan
jatuh pada dioda.
181
VOLTMETER HALFWAVE RECTIFIER
(Penyearah Setengah Gelombang)
(b)
(a)
v
in
R
s
I
m
, R
m
v
in
R
s
I
m
, R
m
182
Ketika Vin pada siklus positif, Dioda akan ON
arus sebesar Im akan mengalir pada rangkaian.
Dan ketika Vin pada siklus negatif dioda akan
OFF arus tidak mengalir. Sehingga pada PMMC
hanya dialir arus pada setengah siklus atau
setengah perioda. Bentuk tegangan yang
direspon oleh PMMC terlihat pada gambar b.
Untuk gelombang yang disearahkan adalah :
V
(t)
= V
m
sin t untuk 0 < t <
V
(t)
= 0 untuk < t< 2


183
Nilai rata-rata yang direspon PMMC adalah :
| |
| |

V
V
2
2
V
V
1) ( 1) ( (
2
V
V
0) (-Cos - Cos
2
V
V
t Cos
2
V
V
dt 0 dt t Sin V
2
1
V
v(t)dt
T
1
V V
m
m
m
m
m
m
avg
avg
avg
avg

0 avg
2

0
avg
T
0
dc avg
=
=
=
=
=
|
|
.
|

\
|
+ =
= =
} }
}
184
m
m
V 318 , 0

V
V
avg
= =
rms
rms
V 45 , 0
3,14
V 0,707
V
avg
=

= =
dc
V
Maka untuk membuat Voltmeter AC Halfwave
Rectifier dengan range V
i-rms
dari sebuah PMMC
yang mempunyai arus I
m
dan tahanan dalam
kumparan R
m
diperlukan sebuah tahanan pengali
R
s
sebesar :
m
m
s
R
I
V 0,45
R
rms
=
185
Contoh :
Rancanglah sebuah Voltmeter AC Halfwave
Rectifier dengan range 10 V
rms
dari PMMC dengan
I
m
=100A dan R
m
=1k. Tentukan nilai tahanan R
s.
a. Untuk dioda ideal
.
k 44 R
k 1
1000
10 0,45
R
R
I
V 0,45
R
s
s
m
m
s
rms
=

=
=
186
a. Untuk dioda tidak ideal
.
k 43 R
k 1
A 100
3 , 0 318 , 0 - 10 0,45
R
R
I
V 318 , 0 V 0,45
R
s
s
m
m
f
s
rms - i
=

=
187
Tahanan total Voltmeter (tahanan dalam) adalah :

m
m s T
I
V 0,45
R R R
rms
= + =
~ Sensitivitas AC Voltmeter dengan half-wave rectifier
sekitar 45 % dari DC Voltmeter
~ Sensitivitas Voltmeter AC lebih kecil dibandingkan
DC Voltmeter
Sehingga sensivitas Voltmeter adalah :

rms
i
T
ac
V
R
S

=
dc
m
i
m
i
ac
0,45S
I
1
0,45
V
/I 0,45V
S
rms
rms
= = =

188
Maka contoh soal sebelumnya dapat
diselesaikan dengan cara yang lain sebagai
berikut :
Cara I


( )
( )
( )

k 44 R
k 1 - 10 0,45 10 R
k 1 - 0,45 10 R
R - V S R
/V k 10
100A
1

I
1
S
s
s
s
m dc - range dc s
m
dc
=
=
=
=
O = = =
189
Cara II

( )
( )

k 44 R
k 1 - k 45 R
k 1 - 10 4,5 R
R - V S R
/V k 5 , 4
100A
1
45 , 0
I
1
45 , 0 S 0,45 S
s
s
s
m ac - range ac s
m
dc ac
=
=
=
=
O = = = =
190

Inovasi untuk meningkatkan linearitas
D
1
D
2
R
sh
R
m
R
s
D
1
D
2
R
sh
R
m
R
s
Vin
191
D
1
dan D
2
disebut instrument rectifier. Saat
setengah siklus positif dari sinyal input AC, D
2

dibias reverse sehingga tidak berpengaruh pada
rangkaian. Saat setengah siklus negatif, D
2
dibias
forward dan semua arus akan melalui D
2
(termasuk arus bocor yang melalui D
1
bila tidak
ada D
2
).
Shunt resistor R
sh
bertujuan untuk meningkatkan
arus yang melalui D
1
selama siklus positif
sehingga operasi diode menjadi lebih linear (juga
operasi rangkaian secara keseluruhan) pada
range tegangan AC yang rendah, tetapi hal ini juga
berakibat sensitivitas sedikit turun.
192
VOLTMETER AC FULLWAVE RECTIFIER
( dengan Penyearah Gelombang Penuh )
v
in

R
s

I
fs
; R
m

m
m
V 636 , 0

2V
V
avg
= =
Tegangan rata-rata yang direspon PMMC sebesar:
193
Maka untuk membuat Voltmeter AC Fullwave
Rectifier dengan range V
i-rms
dari sebuah PMMC
yang mempunyai arus I
m
dan tahanan dalam
kumparan R
m
diperlukan sebuah tahanan pengali
R
s
sebesar :
Atau :
m
m
s
R
I
V 0,9
R
rms
=
rms
rms
V 0,9
3,14
V 0,707 2
V V
dc avg
=

= =
194
Tahanan total Voltmeter (tahanan dalam) adalah :

m
m s T
I
V 0,9
R R R
rms
= + =
~ Sensitivitas AC Voltmeter dengan half-wave rectifier
sekitar 90 % dari DC Voltmeter
Sehingga sensivitas Voltmeter adalah :

rms
i
T
ac
V
R
S

=
dc
m
i
m
i
ac
0,9S
I
1
0,9
V
/I 0,9V
S
rms
rms
= = =

195
Jenis full-wave lebih disukai daripada half-
wave karena sensitivitasnya lebih baik.

Pada Voltmeter AC Fullwave rectifier, jika
diberikan input V
i
=10 V
rms
(V
m
=14,14 Volt),
maka PMMC hanya dapat merespon nilai
rata-ratanya, yaitu
V
avg
= 0,637 x 14,14 = 9 Volt.
196
Contoh soal
1. Hitunglah nilai multiplier resistor untuk range
10 V
rms
pada Voltmeter gambar dibawah ini !

R
s
R
s
V
i
=10 V
rms
O =
=
500
1
m
m
R
mA I
197
k 8,5 R
500
0,001
10 0,9
R
R
I
V 0,9
R
s
s
m
m
s
rms
=

=
=
( )
( )

k 5 , 8 R
500 - 10 0,9 R
R - V S R
/V k 9 , 0
1mA
1
9 , 0
I
1
9 , 0 S 0,9 S
s
s
m ac - range ac s
m
dc ac
=
=
=
O = = = =
Atau :
Penyelesaian :
198
Efek Pembebanan dari AC Voltmeter
Kelemahan Voltmeter AC dibanding
Voltmeter DC :
1. Sensitivitasnya ( halfwave maupun
fullwave rectifier ) lebih rendah
2. Efek pembebanannya lebih besar
199
Contoh Soal
Bandingkan efek pembebanan Voltmeter AC dan
Voltmeter DC pada gambar rangkaian di bawah ini.
Arus full-scale untuk meter adalah 100 A dan diset
pada 10 Vdc atau 10 Vrms.
20 V
dc

20 V
rms

A B
10 k
10 k
R
s

I
fs
= 100 A
200
Jawaban :
Untuk Voltmeter DC
S
dc
= 1/I
fs
= 1/100 A = 10 k/V
R
s
= S
dc
Range
R
s
= 10 k/V 10 V = 100 k

Tegangan yang terukur pada Voltmeter :
V
x
= 20V{(100k//10k)/(100k//10k)+10k}
V
x
= 9,52 V -- Tegangan pada terminal alat ukur
201
Untuk Voltmeter AC dengan half-wave rectifier :
S
hw
= 0,45 S
dc
= 4,5 k/V
R
s
= S
hw
V
Range
= 45 k

Tegangan yang terukur pada Voltmeter :
V
x
= 20V{(45k//10k)/(45k//10k)+10k}
V
x
= 9 V
202
* Untuk Voltmeter AC dengan full-wave rectifier :
S
fw
= 0,9 S
dc
= 9 k
R
s
= S
fw
V
Range
= 90 k

Tegangan yang terukur pada Voltmeter :
V
x
= 20V{(90k//10k)/(90k//10k)+10k}
V
x
= 9,47 V

Ternyata Voltmeter AC yang menggunakan half-
wave rectifier maupun full-wave rectifier
mempunyai efek pembebanan yang lebih besar
daripada Voltmeter DC.
203
ALAT UKUR ELEKTRODINAMOMETER
Alat ukur kumparan-putar, dimana medan magnet
yang mengoperasikan tidak dihasilkan oleh
magnet permanen, tetapi oleh kumparan tetap
yang lain ( magnet buatan ).
moving
coil
fixed coil
fixed coil
source
moving
coil
fixed coil
fixed coil
204
Alat ukur tipe elektrodinamometer dapat dipakai
sebagai ammeter atau voltmeter, tapi umumnya
sebagai wattmeter.
Seperti terlihat pada gambar, dua fixed coil
disusun seri ( F ) dan tepat ditengahnya terdapat
moving coil ( M ). Fixed coil berinti udara untuk
mengurangi pengaruh hysterisis jika digunakan
pada rangkaian listrik bolak-balik. Inti udara juga
menyebabkan medan magnet yang dihasilkan
fixed coil ( untuk memutar moving coil ) menjadi
lebih homogen. Sebagai penyeimbang moving
coil digunakan pegas yang umumnya berbentuk
spiral.

205
F
F
M
Fluks medan magnet
pointer
206
FF
a
b
u
207
Arus yang melalui fixed coil adalah I
1
Arus yang melalui moving coil adalah I
2
Kuat medan magnet yang dihasilkan fixed coil
(B) adalah :

B I1 atau B = K1. I1
( K1 : konstanta )

Maka gaya F pada masing-masing kumparan
dengan N lilitan adalah :

F = N B I
2
a [ N ]
208
Momen putar atau torsi penyimpangan pada
moving coil T
d
:
T
d
= F b = N B I
2
a b = N K
1
I
1
I
2
a b
T
d
= K
2
I
1
I
2
( K
2
= N K
1
a b )

Pegas pengontrol sebagai penyeimbang, maka
saat kesetimbangan :
= K
2
I
1
I
2
( : konstanta pegas )
I
1
I
2
( : sudutpenyimpangan )
209
Jika I
1
= I
2
= I, Maka :

I
2

Jadi, besarnya sudut penyimpangan
sebanding dengan kuadrat arus yang
mengalir dalam koil.

Ini berarti Elektrodinamometer dapat
dipakai sebagai alat ukur dc maupun ac.


210
Jika dipakai sebagai AM-meter arus besar,
maka perlu ditambahkan resistor shunt sebagai
pembatas arus
moving
coil
fixed coil
fixed coil
source
R
s
moving
coil
fixed coil
fixed coil
source
R
s
moving
coil
fixed coil
fixed coil
source
R
sh
211
Jika dipakai sebagai Voltmeter, maka perlu
ditambahkan resistor pengali yang dipasang
seri sebagai pembatas arus
moving
coil
fixed coil
fixed coil
moving
coil
fixed coil
fixed coil
moving
coil
fixed coil
fixed coil
Rs
212
Aplikasi yang umum dari
Elektrodianamometer ini adalah :

1. Wattmeter ( Pengukur daya aktif)
2. VARmeter ( Pengukur daya reaktif)
3. Cos meter ( Pengukur faktor daya )
4. Frekwensi meter ( sekitar 50 Hz)
213
BAB V
PENGANTAR OSILOSKOP

214
FUNGSI OSILOSKOP
Osiloskop merupakan suatu alat ukur yang bisa
dipergunakan :
1. Mengukur besar tegangan listrik dan
hubungannya terhadap waktu.
2. Mengukur frekuensi sinyal yang berosilasi
3. Melihat bentuk sinyal listrik analog
4. Mengukur Beda Phasa dua buah sinyal
5. Mengecek jalannya suatu sinyal pada sebuah
rangkaian listrik
6. Membedakan arus AC dengan arus DC.
7. Mengecek noise pada sebuah rangkaian listrik
dan hubungannya terhadap waktu.


215
Osiloskop adalah alat ukur besaran listrik
yang dapat memetakan sinyal listrik. Pada
kebanyakan aplikasi, grafik yang
ditampilkan memperlihatkan bagaimana
sinyal berubah terhadap waktu. Layar
osiloskop dibagi atas 8 kotak skala besar
dalam arah vertikal dan 10 kotak dalam
arah horisontal. Osiloskop 'Dual Trace'
dapat memperagakan dua buah sinyal
sekaligus pada saat yang sama.
216
LAYAR OSILOSKOP
217
Osiloskop Analog

Osiloskop analog menggunakan tegangan yang
diukur untuk menggerakkan berkas elektron
dalam tabung gambar ke atas atau ke bawah
sesuai dengan bentuk gelombang yang diukur.
Pada layar osiloskop dapat langsung ditampilkan
bentuk gelombang tersebut.

218
Osiloskop Digital

Osiloskop digital mencuplik bentuk gelombang
yang diukur dan dengan menggunakan
ADC(Analog to Digital Converter) untuk
mengubah besaran tegangan yang dicuplik
menjadi besaran digital. Isyarat digital ini
kemudian direka-ulang menjadi bentuk
gelombang seperti aslinya yang hasilnya dapat
ditampilkan pada layar.


219
Pada saat osiloskop dihubungkan dengan sirkuit,
sinyal tegangan bergerak melalui probe ke sistem
vertical. Pada gambar ditunjukkan diagram blok
sederhana suatu osiloskop
analog.

Bergantung kepada pengaturan skala
vertikal(volts/div), attenuator akan memperkecil
sinyal masukan sedangkan amplifier akan
memperkuat sinyal masukan.

220
221
Selanjutnya sinyal tersebut akan bergerak
melalui keping pembelok vertikal dalam
CRT(Cathode Ray Tube). Tegangan yang
diberikan pada pelat tersebut akan
mengakibatkan titik cahaya bergerak
(berkas elektron yang menumbuk fosfor
dalam CRT akan menghasilkan pendaran
cahaya).
Tegangan positif akan menyebabkan titik
tersebut naik sedangkan tegangan negatif
akan menyebabkan titik tersebut turun.



222
Sinyal akan bergerak juga ke bagian sistem trigger untuk
memulai sapuan horizontal (horizontal sweep). Sapuan
horizontal ini menyebabkan titik cahaya bergerak
melintasi layar. Jadi, jika sistem horizontal mendapat
trigger, titik cahaya melintasi layar dari kiri ke kanan
dengan selang waktu tertentu. Pada kecepatan tinggi
titik tersebut dapat melintasi layar hingga 500.000 kali
per detik.

Secara bersamaan kerja sistem penyapu horizontal dan
pembelok vertikal akan menghasilkan pemetaan sinyal
pada layar.

Trigger diperlukan untuk menstabilkan sinyal berulang.

223
Sumber Sinyal

Makna umum dari sebuah pola yang berulang
terhadap waktu disebut gelombang, termasuk
didalamnya gelombang suara, otak maupun
listrik. Satu siklus dari sebuah gelombang
merupakan bagian dari gelombang yang
berulang. Sebuah bentuk gelombang
(waveform) merupakan representasi grafik dari
sebuah gelombang. Bentuk gelombang
tegangan menunjukkan waktu pada sumbu
horizontal dan amplitudo tegangan pada
sumbu vertikal.


224
Sebuah bentuk gelombang dapat menunjukkan
berbagai hal tentang sebuah sinyal. Naik-
turunnya gelombang menunjukkan perubahan
tegangan. Sebuah garis yang datar
menunjukkan bahwa tidak terjadi perubahan
pada jangka waktu tersebut. Garis diagonal
menunjukkan perubahan linear - meningkat atau
menurunnya tegangan dengan laju tetap. Sudut
yang tajam menunjukkan perubahan mendadak.

Sumber gelombang listrik (sinyal listrik) dapat
berasal dari berbagai macam, seperti: dari
signal generator (pembangkit sinyal), jala-jala
listrik, rangkaian elektronik, dll.
225
JENIS-JENIS SINYAL

Sinyal Sinus
Sinyal Persegi
Sinyal Ramp
Pulsa

226
Persamaan gelombang sinus:
t sin 4 y =
t sin 2 y =
Dua gelombang dengan amplitudo berbeda tetapi
berfase awal sama
+ = t sin a y
227
Dua gelombang dengan amplitudo sama tetapi
berfase awal berbeda
t y e sin 4 =
) 4 / ( sin 4 t e + = t y
228
) 2 / ( sin 4
1
t e + = t y
) 2 / ( sin 4
2
t e = t y
Dua gelombang dengan amplitudo sama tetapi
berfase awal berbeda
229
Pentanahan

Grounding (pentanahan) osiloskop melindungi kita
dari kejutan listrik dan melindungi rangkaian dari
kerusakan.

Di Indonesia, seringkali kontak netral pada jala-
jala listrik tidak dipasang, sehingga jika kotak
osiloskop terhubung dengan tegangan tinggi, dan
kita menyentuh kotak tersebut maka bisa
membahayakan kita.

Untuk mengatasi ini, kotak tersebut perlu
dihubungkan ke tanah (digroundkan).
230
Jika kotak tersebut tersentuh tangan, arus akan
lebih memilih melewati jalan ground menuju ke
bumi daripada melewati kita terus menuju ke
bumi.

Mentanahkan osiloskop berarti menghubungkan
osiloskop ke titik dengan muatan listrik
netral(seperti bumi misalnya). Caranya adalah
dengan memasang kawat daya pada kotak
osiloskop dan menanamkan ujung lainnya ke



231
PANEL KENDALI

Bagian ini dibagi atas 3 bagian yaitu Vertical,
Horizontal, and Trigger. Perhatikan bagian input.


232

KONTROL OSILOSKOP

Panel depan dan Kontrol Osiloskop Single Beam
Dual Trace








233
Keterangan Panel
1. Tombol Power ON/OFF
Untuk menghidupkan dan mematikan
powernya.
2. Indikator Power ON
Jika LED menyala menunjukkan osiloskop
dipakai
3. Pengatur Intensitas
Untuk mengatur Intensitas (kecemerlangan)
dari jejak yang ditampilkan
pada CRT
4. Pengatuan Focus
Mengkoreksi fokus jejak yang dipakai
234
5. Pengaturan Trace Rotation
Membetulkan penyimpangan yang disebabkan
kemagnetan bumi.
Mengkoreksi kemiringan jejak
6. Pengatur Scale Illum
Mengatur penerangan dari layar dan berguna di
ruangan yang gelap

235
Pengaturan Sumbu Vertikal

236
7. CH1/X Input
Untuk memasukkan sinyal ke channel 1 dengan
kabel BNC atau probe. Digunakan untuk input
sinyal sumbu X ketika dioperasikan pada mode
X-Y

8. Tombol AC-GND-DC
Penghubung kopling input
AC : Kapasitor disisipkan dalam rangkaian seri
antara sinyal dari amplifier
GND: Masukan dari amplifeir dihubungkan ke
daerah ground
DC : Semua komponen sinyal dimasukkan
dalam amplifier

237
9. Saklar Volt/Div
Tombol Volts / div mengatur skala tampilan
pada arah vertikal. Misalkan tombol Volts/Div
diputar pada posisi 5 Volt/Div, dan layar monitor
terbagi atas 8 kotak (divisi) arah vertikal.
Berarti, masing-masing divisi (kotak) akan
menggambarkan ukuran tegangan 5 volt dan
seluruh layar dapat menampilkan 40 volt dari
dasar sampai atas. Jika tombol tersebut berada
pada posisi 0.5 Volts/dDiv, maka layar dapat
menampilkan 4 volt dari bawah sampai atas,
dan seterusnya.
238

10.Pengatur CH1 posisi naik/turun
Mengatur kedudukan jejak vertikal pada CH1
pada CRT

11.Pengatur CH1 Variabel
Mengatur perubahan sensitivitas pada range
saklar Volt/div.

12.CH2/Y Input
Memasukkan sinyal ke CH2 dengan kabel probe
serta digunakan untuk input dari sinyal sumbu Y
ketika dioperasikan pada mode X-Y




239

13.CH2 AC-GND-DC
Lihat No 8

14.CH2 Volt/div
Lihat No. 9

15.CH2 Position dan Polarity
Mengatur jejak vertikal CH2 dan membalik
polaritas CH2 ketika tombol ditarik


16.CH2 Variabel
Mengatur perubahan sensitivitas pada range
saklar Volt/div untuk CH2

240
17.Mode Pemilihan Tampilan Vertikal
CH1 : Hanya CH1 yang ditampilkan
CH2 : Hanya CH2 yang ditampilkan (berlaku juga
untuk mode X-Y)

CHOP : Sinyal CH1 dan CH2 secara bergantian
ditampilkan. Digunakan untuk pengamatan sinyal -
sinyal yang bergantian secara lambat (frekuensi
rendah)

ALT : Sinyal CH1 dan CH2 secara bergantian
ditampilkan pada pergantian penyapuan yang cepat
(frekuensi tinggi)

ADD : Menampilkan jumlah aljabar sinyal dari CH1 dan
CH2. Jika tombol polarity dari CH2 di set pada mode
Invert, perbedaan aljabar dari CH1 dan CH2 ditampilkan


241
Pengaturan Sumbu Horizontal (Sumbu X)
242
18.Tombol Time / Div ( time base control)
Pemilih dasar waktu horisontal
Tombol kontrol Time/div memungkinkan untuk
mengatur skala horizontal. Sebagai contoh, jika skala
dipilih 1 ms, berarti tiap kotak(divisi) menunjukkan 1 ms
dan total layar menunjukkan 10 ms(10 kotak
horisontal). Jika satu gelombang terdiri dari 10 kotak,
berarti periodanya adalah 10 ms atau frekuensi
gelombang tersebut adalah 100 Hz.

Mengubah Time/div membuat kita bisa melihat interval
sinyal lebih besar atau lebih kecil dari semula, pada
layar osiloskop, gambar gelombang akan ditampilkan
lebih rapat atau renggang.
Seringkali skala Time/Div dilengkapi dengan tombol
variabel (fine control) untuk mengatur skala horsiontal.
Tombol ini digunakan untuk melakukan kalibrasi waktu.
243
19.Horizontal Posisi Kanan - Kiri
Pengaturan posisi gelombang secara horisontal pada CRT

20.Tombol Variabel
Kalibrasi pada pengesetan tombol Time/div

21.Saklar AUTO-NORM-XY
Mode Pemilihan penyapuan
AUTO : Penyapuan bebas, berjalan tanpa ada sinyal
trigger yang cukup. Pentrigeran terjadi di atas 100 Hz.
NORM : Penyapuan diadakan ketika sinyal triger yang
cukup dipasang pada rangkaian penyapu. Jika tidak ada
sinyal triger, tidak ada jejak yang ditampilkan
X-Y : Tegangan ramp pada sweep generator off.
Ditampilkan perpaduan sinyal yang masuk pada CH1(X)
dan CH2(Y) atau tampilan mode Lissajous


244
Kontrol Trigger
Gambar tombol pengaturan trigger osiloskop
245
22.Pemilihan Sumber Trigger INT-LINE-EXT
INT : Sinyal input CH1 dan CH2 digunakan sebagai
sumber trigger
LINE: Di triger oleh line frekuensi
EXT: Sinyal dihubungkan EXT Trigger Signal Input
sebagai sinyal trigger

23.Pemilihan Sumber trigger NORM-CH1-CH2
Sumber trigger dipilih mengikuti sinyal yang dipakai
konektor input CH1 dan CH2 ketika dalam mode INT

NORM: Sinyal yang ditampilkan pada CRT dipilih
sebagai sumber trigger
CH1 : Sinyal pada CH1 dipilih sebagai sumber trigger
CH2 : Sinyal pada CH2 dipilih sebagai sumber trigger






246
24.Pemilihan Kopling sinyal trigger AC-TV(H) - DC
Sinyal trigger dijalankan dari rangkaian filter sebelum
digunakan pada rangkaian penyapu

AC : Sinyal trigger dihubungkan langsung dengan
kapasitor ke rangkaian penyapu untuk memblok
komponen dc, sehingga rangkaian penyapu trigger
bebas dari komponen dc

TV(V) : Memisahkan sinyal vertikal serentak dari sinyal
video jika digunakan sebagai sumber trigger

DC : Semua komponen dari sinyal trigger dihubungkan

247
Kontrol dan Penghubung Lainnya
248
27. CAL
Terminal sumber sunyal kalibrasi untuk probe
kompensasi kapasitansi dan pengaturan sensitivitas
sebesar 5 mV/div, sinyal gelombang persegi sebesar 1
KHz dan amplitudo 0,3 V

28. CHASIS GROUND TERMINAL
Memungkinkan hubungan dengan mudah ke chasis
ground, untuk pengukuran sinyal frekuensi rendah
kira-kira 5 KHz.

29. Z-AXIS INPUT
Dengan memasang sinyal positip (+5 V) intensitas
jejak berkurang. Sinyal Z harus diselaraskan dengan
tampilan yang stabil pada CRT.

249
Probe

Probe adalah kabel penghubung yang ujungnya
diberi penjepit, dengan penghantar kerkualitas,
dapat meredam sinyal-sinyal gangguan, seperti
sinyal radio atau noise yang kuat. Probe
didesain untuk tidak mempengaruhi rangkaian
yang diukur. Untuk meminimumkan pengaruh
pembebanan, probe dilengkapi peredam (pasif)
seperti 10 X atau 50 X. Probe pasif berguna
sebagai alat untuk tujuan pengujian tertentu
dan troubleshooting.
Jenis probe lain : probe arus.










250
Probe Osiloskop
251
Kalibrasi

Pada umumnya, tiap osiloskop sudah dilengkapi
sumber sinyal acuan untuk kalibrasi. Sebagai
contoh, osiloskop GW tipe tertentu mempunyai
acuan gelombang persegi dengan amplitudo 2V
peak to peak dengan frekuensi 1 KHz.
Misalkan kanal 1 yang akan dikalibrasi, maka BNC
probe dihubungkan ke terminal masukan kanal 1,
seperti ditunjukkan pada gambar berikut:


252
Hubungan Probe saat Kalibrasi
253
Cara MengKalibrasi

Spesifikasi gelombang kalibrasi :
Gelombang persegi dengan Vp-p : 0,3 Volt; atau
0,5 Volt atau 1Volt
Frekwensi : 1 kHz

Contoh :
Tampilkan gelombang kalibrasi dengan Vpp=0,3V
dan f=1kHz dan tombol kontrol yang dipakai :
Volt/div = 10 mV
Time/div = 0,5 ms
Probe = 1: 10

254
div 3
p p
div
10 10mV
0,3V
p p
div
probe peredaman Volt/div
p Vp
p p
div
probe peredaman Volt/div
p p
div
p p
V
=

div 2
1T
div
0,5
1ms
1T
div
time/div
T
1T
div
time/div
1T
div T
1ms
1kHz
1
f
1
T
=
=
=
=
= = =
255
Maka tinggi gelombang kotak adalah 3 div dan
lebar 1 perioda adalah 2 div

Tampilan gelombang kalibrasi :

Tinggi = Tinggi = 3 div
=
Lebar 1T
= 3 div
256
Pengukuran Tegangan dan Frekwensi

Misal pada layar osiloskop muncul gambar
gelombang seperti di bawah
257
Pada panel kontrol osiloskop spesifikasi adalah
sebagai berikut :

Volt/ div = 100 mV
Time/div = 5 ms
Peredaman Probe = 1 : 10
Tinggi gelombang sinus puncak-puncak =
4,5 div
Panjang periode satu gelombang = 4,4 div
Tentukan V
m
, V
rms
, perioda dan frekwensi

258
Jawab :
Hz 45,45
ms 22
1
T
1
f
: Frekwensi
ms 22 ms 5 4,4 T
: Perioda
V 1,59
2
2,25
2
m
V
rms
V
: (RMS) efektif Tegangan
V 2,25
2
4,5
2
p p
V
m
V
p
V
: maksimum Tegangan
V 4,5 10 100mV 4,5
p p
V
: puncak - puncak Tegangan
= = =
= =
= = =
= =

= =
= =

259
Tentukan V
pp
, V
m
, V
rms
, T dan f pada tampilan
gelombang di bawah ini
260
DAFTAR PUSTAKA
David A. Bell, Electronic Instrumentation and
Measurement, Prentice Hall Inc, Second
Edition 1994.
William D. Cooper, Electronic Instrumentation
and Measurement Technique, Prentice Hall,
New Jersey, 1978.
Larry Jones dan A. Foster Chin, Electronic
Instrument and Measurement, John Wiley &
Sons, New York, 1983.
Tsuneo Furuya, Gatot K., Joke P.,Pengukuran
Listrik, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya,
Surabaya, 1993.