Anda di halaman 1dari 24

KELOMPOK 2

Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari, seperti kehilangan komponen darah, elemen tak adekuat atau kurangnya nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah, yang mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah (Doenges, 1999). Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahnya hitungan sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit di bawah normal (Smeltzer, 2002 : 935). Anemia adalah berkurangnya hingga di bawah nilai normal sel darah merah, kualitas hemoglobin dan volume packed red bloods cells (hematokrit) per 100 ml darah (Price, 2006 : 256).

Klasifikasi Anemia
Anemia Normositik Normokrom
Anemia Makrositik normokrom

Anemia Mikrositik Hipokrom

Perubahan hematologi sehubungan dengan kehamilan karena perubahan sirkulasi yang makin meningkat terhadap plasenta dari pertumbuhan payudara. Volume plasma meningkat 45-65% dimulai pada trimester II kehamilan dan maksimum terjadi pada bulan ke-9 dan meningkatnya sekitar 1000 ml, menurun sedikit menjelang aterem serta kembali normal 3 bulan setelah partus. Stimulasi yang meningkatkan volume plasma seperti laktogen plasenta, yang menyebabkan peningkatan sekresi aldesteron.

Nilai ambang batas yang digunakan untuk menentukan status anemia ibu hamil, didasarkan pada kriteria WHO tahun 1972 yang ditetapkan dalam tiga kategori, yaitu normal (11 gr/dl), anemia ringan (8-11 g/dl), dan anemia berat (kurang dari 8 g/dl). Berdasarkan hasil pemeriksaan darah ternyata rata-rata kadar hemoglobin ibu hamil adalah sebesar 11,28 mg/dl, kadar hemoglobin terendah 7,63 mg/dl dan tertinggi 14,00 mg/dl (Arisman, 2004). Hasil pemeriksaan hemoglobin dengan sachli digolongkan menjadi: Hb 11 gr% : Tidak anemia Hb 9-10 gr% : Anemia ringan Hb 7 8 gr% : Anemia sedang Hb < 7 gr% : Anemia berat

Hipervolemia,

menyebabkan terjadinya pengenceran darah. Pertambahan darah tidak sebanding dengan pertambahan plasma. Kurangnya zat besi dalam makanan. Kebutuhan zat besi meningkat. Gangguan pencernaan dan absorbsi

penurunan kinerja fisik, gangguan neurologik (syaraf) yang dimanifestasikan dalam perubahan perilaku, anorexia (badan kurus kerempeng), pica, perkembangan kognitif yang abnormal pada anak. abnormalitas pertumbuhan, gangguan fungsi epitel, berkurangnya keasaman lambung.

terjadinya gangguan kelangsungan kehamilan abortus, partus imatur/prematur), gangguan proses persalinan (inertia, atonia, partus lama, perdarahan atonis), gangguan pada masa nifas (subinvolusi rahim, daya tahan terhadap infeksi dan stress kurang, produksi ASI rendah), dan gangguan pada janin (abortus, dismaturitas, mikrosomi, BBLR, kematian perinatal

Jumlah darah lengkap (JDL) Jumlah eritrosit Jumlah retikulosit Pewarna sel darah merah LED Masa hidup sel darah merah Tes kerapuhan eritrosit SDP Jumlah trombosit Hemoglobin elektroforesis

Bilirubin serum (tak terkonjugasi) Folat serum dan vitamin B12 Besi serum TBC serum Feritin serum Masa perdarahan LDH serum Tes schilling Guaiak Analisa gaster Aspirasi sumsum tulang/pemeriksaan/biopsi Pemeriksaan andoskopik dan radiografik

Pengkajian meliputi : Aktivitas / istirahat Sirkulasi Integritas ego Eleminasi Makanan/cairan Neurosensori Nyeri/kenyamanan Pernapasan Keamanan Seksualitas

Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan sekunder (penurunan hemoglobin leucopenia, atau penurunan granulosit (respons inflamasi tertekan)). Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan /absorpsi nutrient yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrient ke sel. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan sirkulasi dan neurologist. Konstipasi atau Diare berhubungan dengan penurunan masukan diet; perubahan proses pencernaan; efek samping terapi obat. Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurang terpajan/mengingat ; salah interpretasi informasi ; tidak mengenal sumber informasi.

INTERVENSI KEPERAWATAN

No.
1.

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi Keperawatan
1) Tingkatkan cuci tangan yang baik ; oleh pemberi perawatan dan pasien. Pertahankan teknik aseptic ketat pada prosedur/perawatan luka. Berikan perawatan kulit, perianal dan oral dengan cermat.. Motivasi perubahan posisi/ambulasi yang sering, latihan batuk dan napas dalam. Tingkatkan masukkan cairan adekuat. Pantau/batasi pengunjung. Berikan isolasi bila memungkinkan. Pantau suhu tubuh. Catat adanya menggigil dan takikardia dengan atau tanpa demam. Amati eritema/cairan luka.

Rasional
Mencegah kontaminasi silang/kolonisasi bacterial. Catatan : pasien dengan anemia berat/aplastik dapat berisiko akibat flora normal kulit. Menurunkan risiko kolonisasi/infeksi bakteri. Menurunkan risiko kerusakan kulit/jaringan dan infeksi. Meningkatkan ventilasi semua segmen paru dan membantu memobilisasi sekresi untuk mencegah pneumonia. Membantu dalam pengenceran sekret pernapasan untuk mempermudah pengeluaran dan mencegah stasis cairan tubuh misalnya pernapasan dan ginjal. Membatasi pemajanan pada bakteri/infeksi. Perlindungan isolasi dibutuhkan pada anemia aplastik, bila respons imun sangat terganggu. Adanya proses inflamasi/infeksi membutuhkan evaluasi/pengobatan.

Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan sekunder (penurunan hemoglobin leucopenia, atau penurunan granulosit (respons inflamasi tertekan).

Tujuan : Infeksi tidak terjadi. Kriteria hasil : a) mengidentifikasi perilaku untuk mencegah / menurunkan risiko infeksi. b) meningkatkan penyembuhan luka, bebas drainase purulen atau eritema, dan demam.

2)

3)

4)

5) 6)

7)

8)

No.

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi Keperawatan
9. Berikan antiseptik topikal, antibiotik sistemik

Rasional
Mungkin digunakan secara propilaktik untuk menurunkan kolonisasi atau untuk pengobatan proses infeksi lokal.

2.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan mencerna atau ketidakmampuan mencerna makanan (absorpsi) nutrient yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah.

Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria hasil : a) menunujukkan peningkatan (mempertahankan) berat badan dengan nilai laboratorium normal. b) tidak mengalami tanda malnutrisi. c) Menununjukkan perilaku, perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan atau

1) Kaji riwayat nutrisi, termasuk makan yang disukai. 2) Observasi dan catat masukkan makanan pasien. 3) Timbang berat badan setiap hari.

Mengidentifikasi defisiensi, memudahkan intervensi. mengawasi masukkan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan Mengawasi penurunan berat badan atau efektivitas intervensi nutrisi. Menurunkan kelemahan, meningkatkan pemasukan dan mencegah distensi gaster Gejala GI dapat menunjukkan efek anemia (hipoksia) pada organ

4) Berikan makan sedikit dengan frekuensi sering dan atau makan diantara waktu makan. 5) Observasi dan catat kejadian mual/muntah, flatus dan gejala lain yang berhubungan 6) Berikan dan bantu hygiene mulut yang baik, sebelum dan sesudah makan, gunakan sikat gigi halus untuk penyikatan

Meningkatkan nafsu makan dan pemasukkan oral. Menurunkan pertumbuhan bakteri, meminimalkan kemungkinan infeksi.

No.

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi Keperawatan
7) Kolaborasi pada ahli gizi untuk rencana diet. 8) Kolaborasikan dan pantau hasil pemeriksaan laboraturium 9) Kolaborasikan dan berikan obat sesuai indikasi.

Rasional

Membantu dalam rencana diet untuk memenuhi kebutuhan individual. Meningkatakan efektivitas program pengobatan, termasuk sumber diet nutrisi yang dibutuhkan.. Kebutuhan penggantian tergantung pada tipe anemia dan atau adanyan masukkan oral yang buruk dan defisiensi yang diidentifikasi.

3.

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan.

Tujuan : Dapat meningkatkan/ mempertahankan ambulasi (aktivitas)


Kriteria hasil : a. melaporkan peningkatan toleransi aktivitas (termasuk aktivitas seharihari) b. menunjukkan penurunan tanda intolerasi fisiologis, misalnya nadi, pernapasan, dan tekanan darah masih dalam rentang normal.

1. Kaji kemampuan ADL pasien. 2. Kaji kehilangan atau gangguan keseimbangan, gaya jalan dan kelemahan otot. 3. Observasi tanda-tanda vital sebelum dan sesudah aktivitas.

Mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan. Menunjukkan perubahan neurologi karena defisiensi vitamin B12 mempengaruhi keamanan pasien/risiko cedera.
Manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah oksigen adekuat ke jaringan. meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh

4. Berikan lingkungan tenang, batasi pengunjung, dan kurangi suara bising,

No.

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi Keperawatan
5. meningkatkan aktivitas secara bertahap sampai normal dan memperbaiki tonus otot/stamina tanpa kelemahan. Meningkatkan harga diri dan rasa terkontrol.

Rasional
Meningkatkan aktivitas secara bertahap sampai normal dan memperbaiki tonus otot/stamina tanpa kelemahan. Meningkatkan harga diri dan rasa terkontrol.

4.

Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/ nutrient ke sel.

Tujuan : Peningkatan perfusi jaringan Kriteria hasil : Menunjukkan perfusi adekuat (misalnya tanda vital stabil).

1. Awasi tanda vital kaji pengisian kapiler, warna kulit/membran mukosa, dasar kuku.

2. Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi.

3. Awasi upaya pernapasan, auskultasi bunyi napas

4. Selidiki keluhan nyeri dada/palpitasi.

memberikan informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menetukan kebutuhan intervensi meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan seluler. Catatan: kontraindikasi bila ada hipotensi. dispnea, gemericik Menununjukkan gangguan jajntung karena regangan jantung lama/peningkatan kompensasi curah jantung. Iskemia seluler Mempengaruhi jaringan miokardial/ potensial risiko infark

No.

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi Keperawatan
5. Hindari penggunaan botol penghangat atau botol air panas. Ukur suhu air mandi dengan termometer.

Rasional

meningkatkan aktivitas secara bertahap sampai normal dan memperbaiki tonus otot/stamina tanpa kelemahan.

6. Kolaborasi pengawasan hasil pemeriksaan laboraturium. Berikan sel darah merah lengkap/packed produk darah sesuai indikasi. 7. Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi.

Meningkatkan harga diri dan rasa terkontrol. termoreseptor jaringan dermal dangkal karena gangguan oksigen.
mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan pengobatan /respons terhadap terapi memaksimalkan transport oksigen ke jaringan Kondisi kulit dipengaruhi oleh sirkulasi, nutrisi dan imobilisasi. Jaringan dapat menjadi rapuh dan cenderung untuk infeksi dan rusak. Meningkatkan sirkulasi kesemua kulit, membatasi iskemia jaringan/mempengaruhi hipoksia seluler.

5.

Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan sirkulasi dan neurologist.

Tujuan : Dapat mempertahankan integritas kulit Kriteria hasil : Mengidentifikasi faktor resiko/perilaku individu untuk mencegah cidera

1. Kaji integritas kulit, catat perubahan pada turgor, gangguan warna, hangat local, eritema, ekskoriasi.

2. Reposisi secara periodik dan pijat permukaan tulang apabila pasien tidak bergerak atau ditempat tidur

No.

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi Keperawatan
4. Anjurkan pemukaan kulit kering dan bersih. Batasi penggunaan sabun.

Rasional

5. Bantu untuk latihan rentang gerak 6. Gunakan alat pelindung, misalnya kulit domba, keranjang, kasur tekanan udara/air. Pelindung tumit/siku dan bantal sesuai indikasi (kolaborasi) 6. Konstipasi atau Diare berhubungan dengan penurunan masukan diet; perubahan proses pencernaan; efek samping terapi obat. Tujuan : Membuat kembali pola normal dari fungsi usus Kriteria hasil : Kriteria hasil: Menunjukkan perubahan perilaku (pola hidup) yang diperlukan sebagai penyebab, faktor pemberat. 1. Observasi warna feses, konsistensi, frekuensi dan jumlah.

Area lembab, terkontaminasi, memberikan media yang sangat baik untuk pertumbuhan organisme patogenik. Sabun dapat mengeringkan kulit secara berlebihan. Meningkatkan sirkulasi jaringan, mencegah stasis. Menghindari kerusakan kulit dengan mencegah (menurunkan) tekanan terhadap permukaan kulit.

Membantu mengidentifikasi penyebab /factor pemberat dan intervensi yang tepat.

No.

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi Keperawatan
2. Auskultasi bunyi usus. 3. Awasi intake dan output (makanan dan cairan). 4. Dorong masukkan cairan 2500-3000 ml/hari dalam toleransi jantung. 5. Hindari makanan yang membentuk gas. 6. Kaji kondisi kulit perianal dengan sering, catat perubahan kondisi kulit atau mulai kerusakan. Lakukan perawatan perianal setiap defekasi bila terjadi diare. 7. Kolaborasi ahli gizi untuk diet siembang dengan tinggi serat dan bulk. 8. Berikan pelembek feses, stimulant ringan, laksatif pembentuk bulk atau enema sesuai indikasi. Pantau dan kolaborasikan keefektifan.

Rasional
2.Bunyi usus secara umum meningkat pada diare dan menurun pada konstipasi. 3.Dapat mengidentifikasi dehidrasi, kehilangan berlebihan atau alat dalam mengidentifikasi defisiensi diet. 4.Membantu dalam memperbaiki konsistensi feses bila konstipasi. Akan membantu memperthankan status hidrasi pada diare. 5.Menurunkan distress gastric dan distensi abdomen. 6. Mencegah ekskoriasi kulit dan kerusakan 7.Serat menahan enzim pencernaan dan mengabsorpsi air dalam alirannya sepanjang traktus intestinal dan dengan demikian menghasilkan bulk, yang bekerja sebagai perangsang untuk defekasi. 8.Mempermudah defekasi bila konstipasi terjadi

No.

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi Keperawatan
9. Berikan obat antidiare, misalnya Defenoxilat Hidroklorida dengan atropine (Lomotil) dan obat mengabsorpsi air, misalnya Metamucil. (kolaborasi). 1. Berikan informasi tentang anemia spesifik. Diskusikan kenyataan bahwa terapi tergantung pada tipe dan beratnya anemia.

Rasional

Menurunkan motilitas usus bila diare terjadi.

7.

Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurang terpajan (mengingat); salah interpretasi informasi; tidak mengenal sumber informasi.

Tujuan : Pasien mengerti dan memahami tentang penyakit, prosedur diagnostik, dan rencana pengobatan.

Kriteria hasil : a. Pasien menyatakan pemahamannya proses penyakit dan 2. Tinjau tujuan dan penatalaksanaan penyakit. persiapan untuk b. Mengidentifikasi factor penyebab. pemeriksaan diagnostik. c. Melakukan tindakan yang perlu/perubahan pola hidup. 3. Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya. 4. Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang.

memberikan dasar pengetahuan sehingga pasien dapat membuat pilihan yang tepat. Menurunkan ansietas dan dapat meningkatkan kerjasama dalam program terapi. Ansietas/ketakutan tentang ketidaktahuan meningkatkan stress, selanjutnya meningkatkan beban jantung. Pengetahuan menurunkan ansietas. Dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien dan keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas.

No.

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi Keperawatan

Rasional

5. Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatika n diet makanan nya 6. Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah diberikan

Diet dan pola makan yang tepat membantu proses penyembuhan

mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan. .