Anda di halaman 1dari 19

DOLOMIT

PENDAHULUAN
Dolomit salah satu variasi batu gamping. Merupakan bahan baku penting yang digunakan industri gelas dan kaca lembaran, industri keramik dan porselen, industri refraktori, pupuk, dan pertanian. Dalam industri hilir pemakai dolomit dapat digunakan baik secara langsung dalam bentuk dikalsinasi telebih dahulu, maupun dalam bentuk kimia dolomit. Potensi dolomit di Indonesia cukup besar dan tersebar mulai dari Propinsi DI Aceh hingga ke Irian Jaya dengan spesifikasi yang berbeda, sedangkan dolomit dengan kualitas baik sampai saat ini baru diketahui terdapat di daerah Sedayu dan Tuban, Jawa Timur.

MULA JADI
Dolomit yang baru dikenal sejak lahun 1882. merupakan variasi Batu Gamping yang mengandung >50% karbonat. Istilah dolomit pertama Pali digunakan untuk batuan karbonat terlentu yang terdapat di daerah Tyrolean Alpina (Pettijohn. F.J. 1956).

PEMBENTUKAN DOLOMIT

Secara sekunder, dolomit umumnya terjadi karena proses pelindian (leaching) atau peresapan unsur magnesium dari air taut kedalam batu gamping yang lebih dikenal dengan proses dolomitisasi yaitu proses perubanan mineral kaIsit menjadi dolomit. Selain itu, dolomit sekunder dapat juga terbentuk karena diendapkan secara tersendiri sebagai endapan evaporit Pembentukan dolomit sekunder dapat terjadi karena beberapa faktor, di antaranya adalah tekanan air yang banyak mengandung unsur magnesium dan prosesnya berlangsung dalam waktu lama. Dengan semakin tua umur batu camping, semakin besar kemungkinannya untuk berubah menjadi dolomit.

MINERAL YANG TERKANDUNG

Dolomit termasuk rumpun mineral karbonat, mineral dolomit murni secara teoritis mengandung 45,6% MgCO3 atau 21,9% MgO dan 54,3% CaCO3 atau 30,4% CaO. Rumus kimia mineral dolomit dapat ditulis meliputi CaCO3.MgCO3, CaMg(CO3)2 atau CaxMg1-xCO3, dengan nilai x lebih kecil dari satu. Dolomit di alam jarang yang murni, karena umumnya mineral ini selalu terdapat bersama-sama dengan batu gamping, kwarsa, rijang, pirit dan lempung. Dalam mineral dolomit terdapat juga pengotor, terutama ion besi.

MINERAL YANG TERKANDUNG

Dolomit berwarna putih keabu-abuan atau kebiru-biruan dengan kekerasan lebih lunak dari batugamping, yaitu berkisar antara 3,50 4,00, bersifat pejal, berat jenis antara 2,80 - 2,90, berbutir halus hingga kasar dan mempunyai sifat mudah menyerap air serta mudah dihancurkan. Klasifikasi dolomit dalam perdagangan mineral industri didasarkan atas kandungan unsur magnesium, Mg (kimia), mineral dolomit (mineralogi) dan unsur kalsium (Ca) dan magnesium (Mg. Kandungan unsur magnesium ini menentukan nama dolomit tersebut. Misalnya, batugamping mengandung 10% MgCO3 disebut batugamping dolomitan, sedangkan bila mengandung 19% MgCO3 disebut dolomit.

DOLOMIT BERDASARKAN KANDUNGAN


Nama Batuan Batu Gamping Batu Gamping Magnesium Batu Gamping Kadar Dolomit (%) 05 5 10 10 50 50 90 Kadar MgO (%) 0,1 1,1 1,1 1,2 2,2 10,9 10,9 19,7

Dolomitan
Dolomitan berkalsium Dolomit

90 100

19,7 21,8

POTENSI DAN PENYEBARAN

Penggunaan dolomit dalam industri tidak seluas penggunaan batugamping dan magnesit. Kadangkadang penggunaan dolomit ini sejalan atau sama dengan penggunaan batugamping atau magnesit untuk suatu industri tertentu. Akan tetapi, biasanya dolomit lebih disukai karena banyak terdapat di alam.

POTENSI DAN PENYEBARAN

Potensi dolomit yang cukup besar, yang terdapat dibeberapa daerah antara lain : 1. Nangroe Aceh Darussalam 2. Sumatra Utara 3. Sumatra Barat 4. Jawa Barat 5. Jawa Tengah 6. Jawa Timur 7. Sulawesi Selatan 8. Madura 9. Timor Timur 10. Irian Jaya.

Lokasi penyebaran di Indonesia

SISTEM PENAMBANGAN
Penambangan batuan dolomit di Indonesia umumnya dilakukan dengan cara tambang terbuka dengan metoda kuari. Tanah penutup (overburden) yang terdiri dari tanah liat, pasir dan koral dikupas terlebih dahulu. Pengupasan dapat dilakukan dengan menggunakan bulldoser atau power scraper. Penambangan ditakukan dengan cara konvensional dan mekanis.

SISTEM PENGOLAHAN
Pengolahan dolomit dilakukan dengan cara yang sederhana pula. Bongkah-bongkah dolomit hasil dari penambangan diangkut ke unit pengolahaan. Kemudian bongkahbongkah dolomit tersebut direduksi ukurannya dengan menggunakan alat pemecah batuan, hasil proses ini selanjutnya digiling untuk mendapatkan dolomit yang berukuran halus (tepung) dengan ukuran tertentu yang disesuaikan dengan permintaan.

KEGUNAAN
Dolomit banyak digunakan, baik untuk keperluan bahan bangunan, pertanian ataupun dalam industri. Dolomit banyak digunakan sebagai komoditi pada : Industri refraktori Dalam tungku pemanas atau Dalam pupuk digunakan unsur Mg untuk meningkatkan pH tanah Dalam industn cat sebagai pengisi Industri kaca, plastic, kertas Bahan pembuat semen. Sorel, sea water magnesia Industri alkali Pembersih air Industry ban Ply wood Bahan pembuat semen. Sorel, sea water magnesia Industri obat-obalan darn komestik Campuran makanan lemak Industry keramik

PERKEMBANGAN

Dolomit cukup banyak dimanfaatkan oleh industri hilir, baik secara langsung berupa dolomit itu sendiri, setelah dikalsinasikan dan semi kalsinasi atau kandungan oksidasinya. Produksi dolomit dari tahun 1997 hingga tahun 2003 menunjukan kenaikan dari dari 180.000 ton hingga 1.168.837,83 ton, sedangkan konsumsi akan dolomit oleh beberapa industri, diantaranya dalah industri pupuk, keramik, kaca, dan gelas, bahan galian bukan logam dan bahan dasar besi dan bahan baja dengan total volume pada tahun 1997 sebesar 182.737,07% ton dan naik terus menjadi 1.615.410,00 pada tahun 2003. Sampai saat ini ekpor komoditi dolomit terjadi kenaikan dan penurunan dari tahun 1997 - 2003 sedangkan impornya mengalami kenaikan pada tahun 1997 sebesar 1.170,67 naik menjadi 4.307,64 pada tahun 2003

Sektor

2003

2002 1,541,84 5.38 1,538,20 9.24

2001 1,460,00 0.00 1,479,16 6.53

2000 600,000. 00 593,955. 17

1999 440,000. 00

1998 190,000. 0

1997 180,000. 00 182,737. 07

Productio 1,618,83 n, tons 7.83

Consump 1,615,41 tion, tons 0.00

436,411.8 190,104. 8 65

Export,

141.95

105.41

1,436.00

2,104.32

181.98

0.50

tons Import,
tons

4,307.64

3,842.85

3,336.30

3,742.37

4,411.97

129.72

1,170.67

PROSPEK DOLOMIT
Melihat jumlah produksi, konsumsi, ekspor, dan impor ternyata bisa dikatakan sudah ada keseimbangan dan jumlah volume konsumsi bisa memenuhi dengan hasil produksi. Sehingga data tersebut dapat diperkirakan masih ada peluang untuk meningkatkan jumlah produksi dengan cara meningkatkan kapasitas produksi atau melakukan penambangan dilokasi yang baru.

DAFTAR PUSTAKA

Corr D.D. and Rooney L.F, Limestone and dolomit, Industrial Mineral, March 1990. Dhadar J.R.., Bahan Galian Indonesia, Direktorat Jendral Pertambangan Umum. Mediadipoera T. dkk.., Bahan Galian Di Indonesia, Direktorat Sumberdaya Mineral Bandung, 1990. Suhendar, Dolomit (Perkembangan dan Prospeknya), Pusat Penelitian dan Perkembangan Teknologi Mineral, Prospek Pertambangan Pusat Informasi Mineral, 1994 Schoorel, A.F.., Report of Visit to PTP VII, Internal report of BPTK, 1976. ______, Statistik Industri, 1996 2003. Biro Pusat Statistik. ______, Statistik Indonesia, Biro Pusat Statistik 1996.

TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai