Anda di halaman 1dari 30

Referat

F51.0 INSOMNIA NON-ORGANIK

OLEH AGUNG PAMUNGKAS, S.KED LESI KURNIA PUTRI, S.KED RIDHA TRESCOVA JA, S.KED

PEMBIMBING DR. DJUSNIDAR DJAFAR, SPKJ KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA PERIODE 11 NOVEMBER 07 DESEMBER 2013 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU RUMAH SAKIT JIWA TAMPAN PEKANBARU 2013

BAB I PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG

Insomnia adalah gejala kelainan dalam tidur berupa kesulitan berulang untuk tidur atau mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk itu.

Sekitar sepertiga orang dewasa mengalami kesulitan memulai tidur dan atau mempertahankan tidur dalam setahun dan sebesar 17% mengakibatkan gangguan kualitas hidup

Sebesar 95% orang Amerika telah melaporkan sebuah episode dari insomnia pada beberapa waktu selama hidup mereka.1 Pada tahun 2010 penduduk Indonesia sebesar 11,7% mengalami insomnia.

1.1 LATAR BELAKANG Cont


Kronik Akut Berulang

Insomni a

1.1 LATAR BELAKANG Cont


KLASIFIKASI INSOMNIA
DSM IV
ICSD
Organik

ICD 10

NonOrganik

1.1 LATAR BELAKANG Cont


Insomnia : Berkurangnya kualitas hidup Terganggunya kinerja pekerjaan dan sosial Faktor risiko depresi, gejala gangguan medis dan psikiatris Menetap Meningkatkan resiko kekambuhan

1.2 RUMUSAN MASALAH


Bagaimana

gambaran tentang insomnia non-

organik.

1.3

TUJUAN PENULISAN

1. Tujuan Umum Mengetahui gambaran tentang insomnia non-organik 2. Tujuan Khusus Mengetahui definisi insomnia, fisiologi tidur, etiologi insomnia, fakor risiko insomnia, tanda dan gejala insomnia. Mengetahui klasifikasi insomnia. Mengetahui kriteria diagnosis insomnia non-organik berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III (PPDGj III). Mengetahui komplikasi insomnia, penatalaksanaan insomnia dan prognosis insomnia.

1.4 MANFAAT PENULISAN

Menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang insomnia non organik.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

DEFINISI INSOMNIA

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM IV) Keluhan dalam hal kesulitan untuk memulai atau mempertahankan tidur atau tidur non-restoratif yang berlangsung setidaknya satu bulan dan menyebabkan gangguan signifikan atau gangguan dalam fungsi individu.

2.1 DEFINISI INSOMNIA Cont

The International Classification of Sleep Disorders. Kesulitan tidur yang terjadi hampir setiap malam, disertai rasa tidak nyaman setelah episode tidur tersebut. The International Classification of Diseases 10 Kesulitan memulai atau mempertahankan tidur yang terjadi minimal 3 malam atau minggu selama minimal satu bulan.

2.2

FISIOLOGI TIDUR Cont


STADIUM I STADIUM II STADIUM III STADIUM IV

FASE TIDUR

NREM REM

2.2

FISIOLOGI TIDUR

2.3 ETIOLOGI INSOMNIA


Stres Perubahan lingkungan atau jadwal kerja. Kafein, nikotin dan alkohol. Kondisi Medis

Kecemas an dan depresi.

Obatobatan

Belajar insomnia.

2.4 FAKTOR RISIKO INSOMNIA


Usia lebih dari 60 tahun

Perjalanan jauh (Jet lag) dan Perubahan jadwal kerja.

Wanita

Stres.

Memiliki gangguan kesehatan mental.

2.5 TANDA DAN GEJALA INSOMNIA

Kesulitan untuk memulai tidur pada malam hari. Sering terbangun pada malam hari. Bangun tidur terlalu awal. Kelelahan atau mengantuk pada siang hari. Iritabilitas, depresi atau kecemasan. Konsentrasi dan perhatian berkurang. Peningkatan kesalahan dan kecelakaan. Ketegangan dan sakit kepala. Gejala gastrointestinal. 1,3,7

2.6 KLASIFIKASI INSOMNIA


1. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM IV) Gangguan tidur yang berkorelasi dengan gangguan mental lain. Gangguan tidur yang disebabkan oleh kondisi medis umum. Gangguan tidur yang diinduksi oleh bahan-bahan atau keadaan tertentu. Gangguan tidur primer (gangguan tidur tidak berhubungan sama sekali dengan kondisi mental,

2.6 KLASIFIKASI INSOMNIA Cont


2. International Classification of Sleep Disordes (ICSD)

Acute insomnia Psychophysiologic insomnia Paradoxical insomnia (sleep-state misperception) Idiopathic insomnia Insomnia due to mental disorder

Inadequate sleep hygiene


Behavioral insomnia of childhood Insomnia due to drug or substance Insomnia due to medical condition

Insomnia not due to substance or known physiologic condition, unspecified (nonorganic)

2.6 KLASIFIKASI INSOMNIA Cont


3. The International Classification of Diseases
Organik Non-organik Dyssomnias Kondisi psikogenik primer dimana gangguan utamanya adalah jumlah, kualitas atau waktu tidur yang disebabkan oleh hal-hal emosional. Misalnya : Insomnia, hipersomnia dan gangguan jadwal tidur jaga.

2.6 KLASIFIKASI INSOMNIA Cont

Parasomnias Peristiwa episodik abnormal yang terjadi selama tidur. Pada anak-anak berhubungan dengan perkembangan anak dan pada dewasa berhubungan dengan psikogenik. Misalnya : Sleep Walking, Terror tidur dan mimpi buruk.

2.7

Kriteria Diagnostik Insomnia NonOrganik berdasarkan PPDGJ III7


2. Adanya gangguan jiwa lain seperti depresi dan anxietas tidak menyebabkan diagnosis insomnia diabaikan. 3. Kriteria lama tidur (kuantitas) tidak diguankan untuk menentukan adanya gangguan, oleh karena luasnya variasi individual. Lama gangguan yang tidak memenuhi kriteria di atas (seperti pada transient insomnia) tidak didiagnosis di sini dapat dimasukkan dalam reaksi stres akut (F43.0) atau gangguan penyesuaian (F43.2)

1. Hal tersebut di bawah ini diperlukan untuk membuat diagnosis pasti:

Keluhan adanya kesulitan masuk tidur atau mempertahankan tidur, atau kualitas tidur yang buruk. Gangguan minimal terjadi 3 kali dalam seminggu selama minimal 1 bulan. Adanya preokupasi dengan tidak bisa tidur dan peduli yang berlebihan terhadap akibatnya pada malam hari dan sepanjang siang hari. Ketidakpuasan terhadap kuantitas dan atau kualitas tidur menyebabkan penderitaan yang

2.8 KOMPLIKASI

2.9 PENATALAKSANAAN
Edukasi tentang kebiasaan tidur yang baik. Teknik Relaksasi Terapi kognitif Restriksi Tidur Kontrol stimulus

Non Farmakotherapi

Farmakotherapi

Benzodiazepin nonbenzodiazepin

2.10

PROGNOSIS

Prognosis umumnya baik dengan terapi yang adekuat dan juga terapi pada gangguan lain seperti depresi. Lebih buruk jika gangguan ini disertai skizophrenia.

BAB III SIMPULAN DAN SARAN

3.1 SIMPULAN

Insomnia merupalan kesulitan untuk masuk tidur, kesulitan dalam mempertahankan tidur atau tidak cukup tidur. Insomnia dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti stres, kecemasan berlebihan, pengaruh makanan dan obat-obatan, perubahan lingkungan dan kondisi medis. Insomnia dapat ditatalaksana dengan cara farmakologi dan non farmakologi, bergantung pada jenis dan penyebab insomnia. Obat-obatan yang biasanya digunakan untuk mengatasi insomnia dapat berupa golongan benzodiazepin (Nitrazepam, Trizolam, dan Estazolam), dan non benzodiazepine (Chloralhydrate, Phenobarbital). Tatalaksana insomnia secara non farmakologis dapat berupa terapi tingkah laku dan pengaturan gaya hidup dan pengobatan di rumah seperti mengatur jadwal

3.2 SARAN

Masih kurangnya data epidemiologi insomnia di Indonesia, maka diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai gambaran insomnia di Indonesia.

Terima kasih...