Anda di halaman 1dari 29
GANGGUAN GINJAL AKUT (ACUTE KIDNEY INJURY)
GANGGUAN GINJAL AKUT
(ACUTE KIDNEY INJURY)

Presentan :

Wida Iswandari Tasa Tammya

Preseptor :

Dr. Resno.,Sp.PD

Definisi AKI
Definisi AKI
Definisi AKI  Secara konseptual AKI adalah penurunan cepat (dalam jam hingga minggu) laju filtrasi glomerulus
  • Secara konseptual AKI adalah penurunan cepat (dalam jam hingga

minggu) laju filtrasi glomerulus (LFG) yang umumnya berlangsung

reversibel, diikuti kegagalan ginjal

untuk mengekskresi sisa metabolisme nitrogen, dengan/tanpa gangguan

keseimbangan cairan dan elektrolit.

Kriteria yang melengkapi definisi

AKI menyangkut beberapa hal antara lain :   serum ternyata mempengaruhi prognosis penderita  (3)
AKI menyangkut beberapa hal
antara lain :
serum ternyata mempengaruhi prognosis
penderita
(3) kriteria diagnosis mengakomodasi
penggunaan penanda yang sensitif yaitu
Kriteria yang melengkapi definisi AKI menyangkut beberapa hal antara lain :   serum ternyata mempengaruhi

(1) kriteria diagnosis harus mencakup semua tahap penyakit

(2) sedikit saja perbedaan kadar kreatinin (Cr)

penurunan urine output (UO) yang seringkali mendahului peningkatan Cr serum

(4) penetapan gangguan ginjal berdasarkan

kadar Cr serum, UO dan LFG mengingat belum

adanya penanda biologis (biomarker) penurunan fungsi ginjal yang mudah dan dapat dilakukan di mana saja.

KLASIFIKASI ETIOLOGI
KLASIFIKASI ETIOLOGI
KLASIFIKASI ETIOLOGI Etiologi AKI dibagi menjadi 3 kelompok utama, yaitu : (1) Penyakit yang menyebabkan hipoperfusi

Etiologi AKI dibagi menjadi 3 kelompok utama,

yaitu :

(1) Penyakit yang menyebabkan hipoperfusi

ginjal tanpa menyebabkan gangguan pada

parenkim ginjal (AKI prarenal,55%)

(2)

Penyakit

yang

secara langsung

menyebabkan gangguan pada parenkim ginjal

(AKI renal/intrinsik,40%)

 

(3)

Penyakit

yang

terkait

dengan

obstruksi

saluran kemih (AKI pascarenal,5%)

Pemeriksaan Klinis
Pemeriksaan Klinis
Pemeriksaan Klinis  AKI prarenal, memperlihatkan beberapa gejala seperti haus, penurunan UO, penurunan BB.  Pemeriksaan
  • AKI prarenal, memperlihatkan beberapa gejala seperti haus, penurunan UO, penurunan BB.

  • Pemeriksaan fisik :

    • - Dapat ditemukan tanda hipotensi ortostatik dan takikardia

    • - Penurunan jugular venous pressure (JVP)

    • - Penurunan turgor kulit

    • - Mukosa kering

    • - Stigmata

    • - Penyakit hati kronik dan hipertensi portal

    • - Gagal jantung dan sepsis

Diagnosis
Diagnosis


Diagnosis AKI renal toksik dikaitkan dengan data klinis penggunaan zat-zat nefrotoksik ataupun toksin endogen (misalnya mioglobin, hemoglobin, asam urat).

Diagnosis AKI renal lainnya perlu dihubungkan dengan gejala trombosis, glomerulonefritis akut, atau hipertensi maligna.

AKI pascarenal dicurigai apabila terdapat nyeri sudut kostovertebra atau suprapubik akibat distensi pelviokalises ginjal, kapsul ginjal, atau kandung kemih. Nyeri pinggang kolik yang menjalar ke daerah inguinal menandakan obstruksi ureter akut.

Keluhan terkait prostat, baik gejala obstruksi maupun iritatif, dan pembesaran prostat menyokong adanya obstruksi akibat pembesaran prostat.

Kandung kemih neurogenik dapat dikaitkan dengan pengunaan

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang
 1.
1.

Urinalisis

AKI prarenal, sedimen yang didapatkan aselular dan mengandung cast hialin yang transparan.

  • 2. AKI pascarenal juga menunjukkan gambaran sedimen inaktif, walaupun hematuria dan piuria dapat ditemukan

pada obstruksi intralumen atau penyakit prostat.

  • 3. AKI renal akan menunjukkan berbagai cast yang dapat mengarahkan pada penyebab AKI, antara lain :

    • - pigmented

“muddy brown” granular

cast,

cast

yang

mengandung epitel tubulus yang dapat ditemukan pada ATN.

  • - cast eritrosit pada kerusakan glomerulus atau nefritis tubulointerstitial.

  • - cast leukosit dan pigmented “muddy brown” granular cast

Diagnosis
Diagnosis
Diagnosis  Pemeriksaan yang cukup sensitif untuk menyingkirkan AKI pascarenal adalah pemeriksaan urin residu pascaberkemih. -
  • Pemeriksaan yang cukup sensitif untuk menyingkirkan AKI pascarenal adalah pemeriksaan urin residu pascaberkemih.

- Jika volume urin residu kurang dari 50 cc, didukung dengan pemeriksaan USG ginjal yang tidak menunjukkan adanya dilatasi pelviokalises, kecil kemungkinan penyebab AKI adalah pascarenal.

  • Pemeriksaan pencitraan lain seperti foto polos abdomen, CT-scan, MRI, dan angiografi ginjal dapat dilakukan sesuai indikasi.

 Biopsi ginjal dilakukan bila adanya dugaan AKI renal non-ATN yang memiliki tata laksana spesifik, seperti
  • Biopsi ginjal dilakukan bila adanya

dugaan AKI renal non-ATN yang

memiliki tata laksana spesifik, seperti glomerulonefritis, vaskulitis, dan lain

lain.

Peran Penanda Biologis
Peran Penanda Biologis
Peran Penanda Biologis  Beberapa parameter dasar sebagai penentu kriteria diagnosis AKI (Cr serum, LFG dan
  • Beberapa parameter dasar sebagai penentu kriteria diagnosis AKI (Cr serum, LFG dan UO) dinilai memiliki beberapa kelemahan. Kadar Cr serum antara lain :

(1)

Sangat tergantung dari usia, jenis kelamin, massa otot, dan latihan fisik yang berat.

(2)

Tidak spesifik dan tidak dapat membedakan tipe kerusakan ginjal (iskemia, nefrotoksik, kerusakan glomerulus atau tubulus).

(3)

Tidak sensitif karena peningkatan kadar terjadi lebih lambat dibandingkan penurunan LFG dan tidak baik dipakai sebagai parameter pemulihan.

(4)

Penghitungan LFG menggunakan rumus berdasarkan

kadar Cr serum merupakan perhitungan untuk pasien dengan PGK dengan asumsi kadar Cr serum yang stabil.

BIOMARKER
BIOMARKER
BIOMARKER  Penanda biologis dari spesimen urin yang saat ini dikembangkan pada umumnya terdiri dari 3
  • Penanda biologis dari spesimen urin

yang saat ini dikembangkan pada

umumnya terdiri dari 3 kelompok yakni :

  • - Penanda inflamasi (NGAL, IL-18)

  • - Protein tubulus (kidney injury molecule [KIM]-1, Na+/H+ exchanger isoform 3)

  • - Penanda kerusakan tubulus (cystatin C, a-1 mikroglobulin, retinol-binding protein, NAG)

 IL-18 dan KIM-1 merupakan penanda potensial untuk membedakan penyebab AKI.  NGAL, IL-18, GST-p ð,
  • IL-18 dan KIM-1 merupakan penanda

potensial untuk membedakan

penyebab AKI.

  • NGAL, IL-18, GST-p ð, dan g-GST merupakan penanda potensial

diagnosis dini AKI.

  • NAG, KIM-1 dan IL-18 merupakan penanda potensial prediksi kematian setelah AKI.

TATA LAKSANA
TATA LAKSANA


Ditentukan oleh penyebab AKI dan pada tahap apa AKI ditemukan

Upaya ini meliputi rehidrasi bila penyebab AKI adalah prarenal/hipovolemia, terapi sepsis, penghentian zat nefrotoksik, koreksi obstruksi pascarenal, dan menghindari

penggunaan zat nefrotoksik.

Pemantauan asupan dan pengeluaran cairan harus dilakukan secara rutin. Selama tahap poliuria (tahap pemeliharaan dan awal perbaikan), beberapa pasien dapat

mengalami defisit cairan yang cukup berarti, sehingga

pemantauan ketat serta pengaturan keseimbangan cairan dan elektrolit harus dilakukan secara cermat. Substitusi cairan harus diawasi secara ketat dengan pedoman volume

urin yang diukur secara serial, serta elektrolit urin dan

 Terapi Nutrisi Kebutuhan nutrisi pasien AKI bervariasi tergantung dari penyakit dasarnya dan kondisi komorbid yang
  • Terapi Nutrisi

Kebutuhan

nutrisi

pasien

AKI

bervariasi tergantung dari penyakit dasarnya dan kondisi komorbid yang

dijumpai. Sebuah sistem klasifikasi

pemberian nutrisi berdasarkan status katabolisme diajukan oleh Druml pada

tahun 2005

 Terapi Farmakologi: Furosemid, Manitol, dan Dopamin Obat-obatan tersebut antara lain diuretik, manitol, dan dopamin. Diuretik
  • Terapi Farmakologi: Furosemid,

Manitol, dan Dopamin

Obat-obatan tersebut antara lain diuretik, manitol, dan dopamin.

Diuretik yang bekerja menghambat

Na+/K+-ATPase pada sisi luminal sel, menurunkan kebutuhan energi sel

thick limb Ansa Henle

 Beberapa hal yang harus diperhatikan pada penggunaan diuretik sebagai bagian dari tata laksana AKI adalah:
  • Beberapa hal yang harus diperhatikan pada penggunaan diuretik sebagai bagian dari tata laksana AKI adalah:

1. Pastikan volume sirkulasi efektif sudah optimal, pastikan pasien tidak dalam keadaan dehidrasi. Jika mungkin, dilakukan pengukuran CVP atau

dilakukan tes cairan dengan pemberian cairan

isotonik 250-300 cc dalam 15-30 menit. Bila jumlah urin bertambah, lakukan rehidrasi terlebih dahulu.

2. Tentukan etiologi dan tahap AKI. Pemberian

diuretik tidak berguna pada AKI pascarenal.

Pemberian diuretik masih dapat berguna pada AKI tahap awal (keadaan oligouria kurang dari 12 jam).

Farmakologi
Farmakologi
Farmakologi  Furosemid i.v. bolus 40 mg. Jika manfaat tidak terlihat, dosis dapat digandakan atau diberikan
  • Furosemid i.v. bolus 40 mg. Jika manfaat

tidak terlihat, dosis dapat digandakan

atau diberikan tetesan cepat 100-250 mg/kali dalam 1-6 jam atau tetesan

lambat 10-20 mg/kgBB/hari dengan

dosis maksimum 1 gram/hari.

  • Dopamin dosis rendah (0,5-3 μg/kgBB/menit) secara historis digunakan dalam tata laksana AKI, melalui kerjanya pada reseptor dopamin DA1 dan DA2 di ginjal.

 TERIMAKASIH ....
  • TERIMAKASIH ....