Anda di halaman 1dari 19

Lecture 6:

UU dan Kebijakan Pembangunan Peternakan

Prof. Dr. Ir. V. Priyo Bintoro, M.Agr.


Laboratory of Animal Product Technology, Faculty of Animal Agriculture Diponegoro University

Identity of Course :
Name of course Code Status Semester Credit : Animal Bionomics : : Obligative : I (Sem I) : 2 (2-0)

UU No: 6 tahun 1967. Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan UU No: 18 tahun 2009. Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan PP No: 16 tahun 1977. Tentang Usaha Peternakan

KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 404/Kpts/0T.210/6/2002 TENTANG

PEDOMAN PERIZINAN DAN PENDAFTARAN USAHA PETERNAKAN

PEDOMAN PERIZINAN DAN PENDAFTARAN USAHA PETERNAKAN


A. Latar Belakang: a. Mendorong pertumbuhan dan pengembangan usaha peternakan perlu diambil langkah-langkah untuk menciptakan iklim usaha b. Sejalan dengan UU No: 25 th 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom menciptakan iklim usaha yang lebih baik, izin usaha dan pendaftaran peternakan rakyat melalui mekanisme dan prosedur yang dapat menjamin kepastian usaha. c. Kepmentan no: 362/Kpts/TN.120/5/1990 dan Kepmentan no:1018/Kpts/KP.430/12/98 tentang Izin Usaha dan Pendaftaran Peternakan sudah tidak berlaku lagi

B. Maksud dan Tujuan

Memberikan pedoman bagi aparatur yang bertugas di bidang pelayanan perizinan, pembinaan dan pengawasan usaha peternakan.

C. Ruang Lingkup: Persetujuan prinsip, permohonan izin usaha, izin perluasan usaha peternakan, pendaftaran izin usaha, serta bimbingan dan pengawasan.

D. Pengertian: Perusahaan peternakan Perusahaan di bidang peternakan Peternakan Rakyat Budidaya Pembibitan Bibit ternak Lokasi Usaha peternakan Persetujuan prinsip Izin usaha peternakan Pendaftaran peternakan rakyat Izin perluasan dan perluasan

PEMBERIAN IZIN USAHA PETERNAKAN


Setiap perusahaan peternakan yang dalam skala usaha tertentu sebagaimana dimaksud pada lampiran 1 keputusan ini wajib memenuhi ketentuan di bidang perizinan usaha yang meliputi:

Persetujuan Prinsip Izin Usaha Izin Perluasan Usaha Peternakan

I. Persetujuan Prinsip
Izin lokasi/HGU, IMB, Izin tempat Usaha/HO, Izin tenaga kerja asing, izin pemasangan instalasi dan peralatan, Upaya Kelestarian Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) Disampaikan kepada Bupati/Walikota atau pejabat yang ditunjuk olehnya Bupati/Walikota atau pejabat yang ditunjuk , selambatlambatnya 20 hari kerja sudah memberikan persetujuan. Persetujuan prinsip dapat diubah satu kali berdasarkan permohonan pihak pemohon. Persetujuan prinsip berlaku selama 1 tahun dan dapat diperpanjang 1X1 tahun. Perusahaan Peternakan wajib membuat laporan kemajuan usaha setiap 6 bulan sekali.

II. Pemberian Izin Usaha


Setiap orang/Badan Hukum yang melakukan kegiatan usaha peternakan wajib memiliki izin usaha Surat permohonan izin usaha harus memiliki Persetujuan Prinsip dahulu Jangka waktu berlakunya izin usaha peternakan ditentukan Bupati/Walikota atau pejabat yang ditunjuk dan berlaku untuk seterusnya selama perusahaan peternakan melakukan kegiatan.

Permohonan Izin Usaha Peternakan


Pemohon sudah memiliki Persetujuan Prinsip dan siap melakukan kegiatan produksi, memasukkan ternak Permohonan Izin Usaha Peternakan diajukan kepada Bupati/ Walikota Bupati/Walikota selambat-lambatnya 20 hari kerja telah melakukan pemeriksaan kesiapan perusahaan peternakan berproduksi sesuai pedoman cara budidaya Bila tidak dilakukan pemeriksaan , pemohon membuat pernyataan telah memenuhi pedoman cara budidaya yang baik Bila syarat sudah lengkap selambat-lambatnya 20 hari kerja Bupati/Walikota, sudah mengeluarkan Izin Usaha Peternakan Penundaan dilakukan bila ada persyaratan yang belum lengkap.

Permohonan Izin Usaha Peternakan


Terhadap penundaan, Perusahaan diberi kesempatan melengkapinya paling lambat 1 tahun Apabila tidak terpenuhi, izin Usaha Peternakan DITOLAK Izin usaha ditolak bila lokasi kegiatan perusahaan tidak sesuai Persetujuan Prinsip Penolakan oleh Kepala Dinas Peternakan atau Kepala Dinas yang membidangi fungsi peternakan selambatlambatnya 30 hari sejak menerima penolakan. Pemohon dapat mengajukan banding kepada Bupati/Walikota dengan tembusan kepada Dinas Peternakan atau Dinas yang membidangi fungsi peternakan.

III. IZIN PERLUASAN USAHA


Perusahaan Peternakan yang telah memperoleh Izin Usaha Peternakan, dapat melakukan perluasan kegiatan usaha setelah memperoleh izin Perluasan Usaha. Tatacara permohonan izin usaha diatur dalam tatacara pendirian izin usaha peternakan. Persetujuan perluasan tidak diperlukan apabila penambahan jumlah ternak tidak melebihi 30% dari jumlah ternak dalam Izin Usaha Peternakan. Izin Perluasan Usaha dikeluarkan oleh Bupati/Walikota

IV. PENCABUTAN IZIN USAHA PETERNAKAN


1. Izin Usaha Peternakan dicabut apabila: Tidak melakukan kegiatan peternakan secara nyata dalam waktu 3 bulan sejak izin keluar, atau menghentikan kegiatan selama 1 tahun berturut-turut. Memindahkan lokasi kegiatan tanpa persetujuan tertulis. Melakukan perluasan tanpa izin. Tidak menyampaikan laporan kegiatan usaha peternakan 3 kali berturut-turut. Memindahtangankan pemberian izin kepada pihak lain. Diserahkan kembali oleh pemegang izin kepada Bupati/Walikota. Tidak melaksanakan pencegahan, pemberantasan penyakit hewan menular serta keselamatan kerja sesuai perundangan yang berlaku.

2. Tatacara pencabutan Uzin Usaha Peternakan Peringatan tertulis 3 kali berturut-turut tiap 2 bulan. Usaha dibekukan 6 bulan bila peringatan tidak diindahkan. Pembekuan Izin Usaha dicairkan kembali bila, pada masa pembekuan perusahan telah melakukan kegiatan kembali, atau melaksanakan segala ketentuan perizinan. Bila batas waktu 6 bulan dilampaui, perusahaan tidak melaksanakan kegiatan sesuai ketentuan Izin Usaha Peternakan DICABUT

V. PENDAFTARAN PETERNAKAN RAKYAT


Sebagai usaha sampingan, jumlah maksimum masingmasing ternak sesuai petunjuk Lampiran 1. Tidak diwajibkan memiliki izin Usaha Peternakan Bupati/Walikota atau pejabat yang ditunjuk melakukan pendaftaran < 14 hari kerja, mengeluarkan Tanda Pendaftaran Peternakan Rakyat, melakukan pembinaan. Tanda Pendaftaran Peternakan Rakyat memiliki kekuatan sama dengan Izin Usaha Peternakan

VI. KONTRIBUSI IZIN USAHA/TANDA DAFTAR


Untuk memperoleh izin usaha peternakan/tanda daftar peternakan rakyat dapat dikenakan retribusi sesuai peraturan perundangan

VII. KEMITRAAN USAHA PETERNAKAN


Perusahaan Peternakan dapat melakukan kemitraan usaha dengan perusahaan di bidang peternakan/pet rakyat: a) Perusahaan pemotongan hewan, babi, ayam; b) Pabrik pakan; c) Perusahaan perdagangan sarana produksi peternakan; d) Perusahaan pembibitan
Kemitraan usaha dilakukan dengan sukarela, saling membantu, saling memperkuat, saling menguntungkan.

Perusahaan Peternak berfungsi sebagai Inti dan peternakan rakyat sebagai Plasma

VIII. PENGAWASAN USAHA PETERNAKAN


Pengawasan dilakukan oleh Bupati/Walikota, secara langsung/tidak langsung. Langsung bimbingan dan pengawasan di lokasi kegiatan. Tidak langsung laporan kepada pemberi izin. Perusahaan menyampaikan laporan setiap 6 bulan sekali. Bupati/Walikota memberikan laporan kegiatan usaha di daerah kepada Menteri Pertanian/ Dirjen Bina Produksi Peternakan setahun sekali, tembusan kepada Gubernur

IX. PENUTUP
Pedoman disusun dengan harapan dapat dipakai sebagai acuan bagi Kabupaten/Kota dalam melaksanakan pelayanan usaha peternakan. Pedoman bersifat dinamis dan dapat diubah apabila diperlukan.