Anda di halaman 1dari 29

Diabetik foot

Oleh: Yuanita Faradiba Pembimbing: dr. Amukti Wahana, Sp.B

Program Pendidikan Dokter UNISMA


Laboratorium Ilmu Penyakit Bedah RSUD Kanjuruhan Malang

2013

IDENTITAS
Nama Jenis Kelamin Umur Alamat Pendidikan Pekerjaan Status Suku Bangsa Tanggal Periksa No. RM : Ny.M :Perempuan : 56 tahun : Wonosari : SMP : IRT : Menikah : Jawa : 6 Maret 2013 : 314602

Keluhan utama

Luka kehitaman di kaki kiri


Riwayat penyakit sekarang

Pasien dibawa ke UGD RSUD Kanjuruhan dengan keluhan terdapat luka kehitaman di kaki kiri sejak 2 minggu yang lalu, luka awalnya kecil, semakin lama lukanya semakin membesar, mengeluarkan bau tidak sedap dan tidak kunjung sembuh. Awalnya telapak kaki sebelah kiri terdapat benjolan putih keras seperti kapalan berukuran 2 mm, lalu disudet menggunakan duri salak. Setelah disudet tidak ada cairan yang keluar dari kapalan tersebut

Keesokan harinya pasien datang menghadiri acara pernikahan tetangganya, disana pasien makan makanan yang tidak terkontrol. Setelah 3 hari berselang luka bekas sudetan terasa perih berwarna kemerahan, kaki terasa membesar. Pasien mengatakan luka bekas sudetan ditelapak kaki semakin melebar, berair, dan keluar nanah berwarna kekuningan. Anak pasien membawa ke mantri, kemudian di beri cairan berwarna ungu untuk membersihkan luka tersebut lalu diguyur menggunakan larutan infus kemudian ditutup kembali. Saat membersihkan luka anak pasien melihat jempol kaki semakin mengecil berwarna kehitaman, dikira efek dari larutan warna ungu tersebut. lukanya semakin melebar dan semakin banyak mengeluarkan nanah tetapi apabila dipegang/ dipencet pasien tidak merasakan sakit, kemudian jari kaki ke2 ikut memerah berwarna kehitaman, bengkak, jika dipegang ledeh/lunak dan mulai mengeluarkan bau yang tidak sedap selama seminggu. Pasien tidak mengeluh gatal, tetapi mulai seminggu ini badan pasien menjadi demam. Karena keadaan tersebut anaknya datang ke RS, saat di cek gula darahnya yakni 650 mg/dl.

Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien tidak pernah mengalami sakit yang sama sebelumnya, hipertensi (+), DM sejak 5thn yll, as. Urat (+), riwayat alergi (-) Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada keluarga dengan keluhan yang sama. Hipertensi (-), DM (+) Riwayat Pengobatan : minum obat analgesik dan antibiotik dari mantri dan rawat luka.

Keadaan Umum : tampak lemah

Vital Sign tensi : 90/60 mmHg nadi : 98 x/mnt RR : 18 x/mnt suhu : 37 0C Status Generalis Kepala : Bentuk mesocephal Mata Conjunctiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-). Telinga Bentuk normotia (+/+), sekret (-/-), pendengaran berkurang (-/-). Hidung Nafas cuping hidung (-/-), sekret (-/-), epistaksis (-/-). Mulut dan tenggorokan Bibir pucat (+), bibir cianosis (-), gusi berdarah (-), tonsil membesar (-), pharing hiperemis (-).

Leher: JVP tidak meningkat, trakea ditengah, pembesaran kelenjar tiroid (-). Paru : Suara nafas vesikuler, ronchi (-/-), wheezing (-/-). Jantung: Auskultasi : bunyi jantung I dan II regular, murmur (-), gallop (-). Abdomen: Perut tampak mendatar, tidak tampak adanya massa, nyeri tekan (-)

Status lokalis Regio ekstremitas sinistra

Inspeksi : Regio Dorsalis Pedis sinistra tampak luka dengan ukuran 5 cm x 15 cm, bentuk tidak beraturan, ulkus (+), pus (+), oedem (+), hiperemi (+), kulit sekitar tepi luka berwarna hitam tidak rata, tengahnya hiperemi (+) serta phalang 1 dan 2 tampak kehitaman. Palpasi : nyeri tekan (-), pulsasi arteri femoralis +, arteri dorsalis pedis tidak dapat dievaluasi.

Pemeriksaan darah lengkap Hemoglobin 8,9 g/dl [L: 13,5-15 P: 12-14] Lekosit 31.200 sel/cmm [4.000-11.000] Trombosit 1.069.000 sel/cmm Hematokrit 27.6 % Gula darah sewaktu: 650 mg/dl Albumin 2.04 g/dl Globulin 5.83 g/dl Kesimpulan: Anemia sedang + leukositosis+ trombositosis pada DM tipe 2 + Ulkus Pedis

Ny.M, 56 tahun, datang dengan keluhan terdapat luka di kaki kiri sejak 2 minggu yang lalu, lukanya awalnya kecil, semakin lama lukanya semakin membesar dan tidak kunjung sembuh. Riwayat telapak kaki kiri kapalan tersudet dengan duri salak. Luka berwarna merah kehitaman, luka tidak terasa sakit, bernanah serta berbau tidak sedap, tidak gatal, kaki juga bengkak sejak 2 minggu ini.sejak seminggu ini badan pasien teraba demam. Pasien juga mengeluh badannya terasa lemah, nafsu makannya meningkat tapi berat badannya semakin turun, dan pasien sering merasa haus, sering BAK (kencing lebih dari 4x/hr). Keluhan-keluhan tersebut timbul sejak 5 tahun ini. Dari pemeriksaan generalis: Konjungtiva anemis (+/+), bibir pucat. Dari pemeriksaan lokalis pada regio pedis sinistra; Inspeksi: luka 5 cm x 15 cm,bentuk tidak beraturan, ulkus (+), pus (+), oedem (+), kulit sekitar tepi luka berwarna hitam tidak rata, tengahnya hiperemi (+). Dari pemeriksaan penunjang didapatkan hasil Glukosa darah sewaktu 650 mg/dl.

DIAGNOSA
WORKING DIAGNOSA: Diabetes mellitus type 2 dengan Ulkus pedis sinistra

Non Medikamentosa
Edukasi Mengatur pola makan/diet sesuai kebutuhan BB atau gizi penderita Olahraga

Medikamentosa
Infus RL 20 tpm Ceftriaxon IV 2 X 1 gr Ketorolac IV 3 X30 mg Metronidazol IV 3 X 500mg

OPERATIF

Pro Debridemen dan Amputasi

PEMBAHASAN

Ulkus diabetikum merupakan salah satu komplikasi diabetes mellitus yang berupa kematian jaringan akibat kekurangan aliran darah, biasanya terjadi dibagian ujung kaki atau tempat tumpuan tubuh.

Sering kesemutan/gringgingan. Jarak tampak menjadi lebih pendek (klaudikasio intermiten). Nyeri saat istirahat. Kerusakan jaringan (necrosis, ulkus).

Faktor resiko DF
berkurangnya sensasi rasa nyeri setempat (neuropati) sirkulasi darah dan tungkai yang menurun dan kerusakan endotel pembuluh darah (iskemi/ angiopati) berkurangnya daya tahan tubuh terhadap infeksi peristiwa yang dapat mengawali kerusakan kaki pada penderita diabetes ( Luka kecelakaan, Trauma sepatu, Stress berulang, Trauma panas, Iatrogenik, Oklusi vaskular,Kondisi kulit atau kuku)

Faktor risiko demografis


Usia Jenis kelamin : Laki-laki dua kali lebih tinggi. Mekanisme perbedaan jenis kelamin tidak jelas mungkin dari perilaku, mungkin juga dari psikologis Etnik : Beberapa kelompok etnik secara signifikan berisiko lebih besar terhadap komplikasi kaki. Mekanismenya tidak jelas, bisa dari faktor perilaku, psikologis, atau berhubungan dengan status sosial ekonomi, atau transportasi menuju klinik terdekat. Situasi sosial : Hidup sendiri dua kali lebih tinggi

Faktor risiko perilaku


Ketrampilan manajemen diri sendiri sangat berkaitan dengan adanya komplikasi kaki diabetik. Ini berhubungan dengan perhatian terhadap kerentanan.

Menurut Wagner:
Derajat 0 : Tidak ada lesi terbuka, kulit masih utuh Derajat I : Ulkus superficial, tanpa infeksi, terbatas pada kulit Derajat II : Ulkus dalam disertai selulitis tanpa abses atau kehilangan tulang Derajat III : Ulkus dalam disertai kelainan kulit dan abses luas yang dalam hingga mencapai tendon dan tulang, dengan atau tanpa osteomyelitis Derajat IV : gangren terbatas, yaitu pada ibu jari kaki atau tumit Derajat V : gangren seluruh kaki modifikasi Brodsky Kedalaman Luka Definisi 0 Kaki berisiko tanpa ulserasi 1. Ulserasi superfisial, tanpa ulserasi 2. Ulserasi yang dalam sampai mengenai tendon 3. Ulserasi yang luas/abses Luas Daerah Iskemik Definisi A Tanpa iskemik B Iskemik tanpa gangrene c. Partial gangrene D. Complete foot gangrene

Predileksi
50% ulkus pada ibu jari 30% pada ujung plantar metatarsal 10 15% pada dorsum kaki 5 10% pada pergelangan kaki Lebih dari 10% adalah ulkus multipel

DM

Angiopathy

neuropathy

fungsi leukositosis produksi keringat Dehidrasi kulit + infeksi Nekrosis jaringan Penyembuhan luka

Penyempitan Lumen arteri perifer

Insensibilitas jaringan Luka pada daerah trauma Nekrosis jaringan

infeksi

perfusi jaringan

gangren

Nekrosis jaringan

4 hal utama yang dilakukan untuk mengendalikan kadar gula darah, yaitu:
Pengaturan makan/diet dengan penekanan pada pentingnya keteraturan makan dalam hal jadwal makan, jenis, dan jumlah makanan.

Olahraga/aktivitas fisik secara teratur yakni 3-5 kali seminggu selama 30-60 menit.
Pengobatan yang sesuai petunjuk dokter bila gula darah tidak dapat dikendalikan dengan pengaturan pola makan dan latihan fisik. Evaluasi kesehatan dengan melakukan evaluasi medis secara lengkap meliputi pemeriksaan fisik, riwayat penyakit, dan pemeriksaan laboratorium.

Tindakan Bedah

Berdasarkan klasifikasi Wagner, dapat ditentukan tindakan yang tepat sesuai dengan derajat ulkus yaitu:
Derajat 0 : Tidak ada perawatan lokal secara khusus Derajat I-III : Pengelolaan medik dan tindakan bedah minor Derajat IV-V : Tindakan bedah minor, bila gagal dilanjutkan dengan bedah mayor misalnya amputasi.

Tujuan Amputasi

1. membuang jaringan nekrotik 2. menghilangkan nyeri 3. drainase nanah dan penyembuhan luka sekunder 4. merangsang vaskularisasi baru. 5. rehabilitasi yang terbaik

Perawatan kaki yang dianjurkan antara lain: Inspeksi kaki tiap hari terhadap adanya lesi, perdarahan diantara jarijari. Gunakan cermin untuk melihat telapak kaki dan tumit. Cuci kaki tiap hari dengan air sabun dan keringkan, terutama diantara jari. Gunakan cream atau lotion pelembab Jangan gunakan larutan kimia/asam untuk membuang kalus. Potong kuku dengan hati-hati, jangan memotong melengkung jauh keproksimal. Jangan merokok Hindari suhu ekstrem

Prognosa

Tingkat penyembuhan ulkus tergantung tingkat klasifikasi luka, sedangkan tinggi tingkat derajat luka semakin sulit suatu luka akan sembuh dengan demikian akan meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas

1.

Jari dan kaki

Pada amputasi jari tangan dan kaki penting untuk mempertahankan falanx dasar. Amputasi transmetatarsal memberi puntung yang baik. Amputasi di sendi tarsometatarsus lisfranc mengakibatkan per ekuinus dengan pembebanan berlebih pada kulit ujung puntung yang sukar ditanggulangi. 2. Proksimal sendi pergelangan kaki Amputasi transmaleolar baik sekali bila kulit tumit utuh dan sehat sehingga dapat menutup ujung puntung. 3. Tungkai bawah Panjang puntung tungkai bawah paling baik antara 12 dan 18 cm dari sendi lutut, tergantung keadaan setempat, usia penderita dan tinggi badan. Bila jarak dari sendi lutut kurang dari 5 cm, protesis mustahil dapat dikendalikan. 4. Eksartikulasi kulit Eksartikulasi lutut menghasilkan puntung yang baik sekali.Amputasi ini dapat dilakukan pada penderita geriatrik. 5. Tungkai atas Puntung tungkai atas sebaiknya tidak kurang dari 10cm dibawah sendi panggul, karena bisa menyebabkan kontraktur fleksi-abduksi-eksorotasi.Puntung juga tidak boleh kurang dari 10 cm diatas sendi lutut karena ujung puntung sepanjang ini sukar dibebani.Eksartikulasi dapat menahan pembebanan.

6.

Sendi panggul dan hemipelvektomi

Eksartikulasi sendi panggul kadang dilakukan pada tumor ganas. Protesis akan lebih sukar dipasang. Protesis untuk hemipelvektomi tersedia, tetapi memerlukan kemauan dan motivasi kuat dari penderita.

7.

Tangan

Amputasi parsial jari atau tangan harus sehemat mungkin setiap jari dengan sensitibilitas kulit dan lingkup gerak utuh berguna sekali sebab dapat digunakan untuk fungsi menggenggam atau fungi oposisi ibu jari.

8.
9.

Pergelangan tangan
Lengan bawah

Dipertahankan fungsi pronasi dan supinasinya.Tangan mioelektrik maupun kosmetik dapat dipakai tanpa kesulitan. Batas amputasi di pertengahan lengan bawah paling baik untuk memasang protesis.Puntung harus sekurang-kurangnya distal insersi M. Biseps dan M. Brakhialis untuk fleksi siku.

10. Siku dan lengan atas


Ekssartikulasi siku mempunyai keuntungan karena protesis dapat dipasang tanpa fiksasi sekitar bahu.Pada amputasi di diafisis humerus, protesis harus dipertahankan dengan ikatan dan fiksasi pada bahu. Eksartikulasi bahu dan amputasi intertorakoskapular , yang merupakan amputasi termausk gelang bahu, ditangani dengan protesis yang biasanya hanya merupakan protesis kosmetik.