Anda di halaman 1dari 19

KELOMPOK 6 Mega_Thobib_Dewi TB_Tanti_Eva

PENDAHULUAN
Penyakit-penyakit yang timbul pada lanjut usia terbanyak disebabkan oleh penurunan fungsi pengaturan tubuh salah satunya yaitu inkontinensia urin Inkontinensia urin dapat terjadi karena kelainan dari saluran kemih itu sendiri maupun kelainan neurologik

Lihat slide slanjutnya.

Lanjut
Prevalensi inkontinensia urin menurut The asia Passific Continense Board (APCD) sebanyak 20,9%-35%, di mana perempuan lebih banyak menderita (15,1%) dari pada laki-laki (5,8%) Dari sejumlah penderita perempuan tersebut 24,9% adalah stres inkontinensia, 10,5% inkontinensia gesa (urge Incontinence) dan 5% adalah kombinasi

Prevalensi inkontinensia urin di Indonesia belum ada angka pasti, dari hasil bebebrapa penelitian didapat angka kejadian berkisar antara 20% sampai dengan 30% (Suparman E, 2008)

PENGERTIAN
Inkontinensia urin merupakan hilangnya miksi secara menetap dengan pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap akibat gangguan kontraktilitas detrusor atau obstruksi kandung kemih. Kebocoran urin bisanya sedikit dan volume residual pascakemih (postvoid) bisanya meningkat (Santoso BI, 2008) Inkontinensia urin merupakn eliminasi urin dari kandung kemih yang tidak terkendali atau terjadi di luar keinginan. Jika inkontinensia urin terjadi akibat kelainan inflamasi (sistitis), mungkin sifatnya sementara. Namun, jika kejadian ini timbul karena kelainan neurologis yang serius (paraplegia), kemungkinan besar sifatnya akan permanen (Smeltzer, 2002).

ETIOLOGI

Melemahnya otot dasar panggul akibat kehamilan berkali-kali Kebiasaan mengejan yang salah Batuk kronis

Seseorang tidak dapat menahan air seni

PATOFISIOLOGI

TIPE-TIPE
Inkontinensia akibat stress Urge incontinence Overflow incontinence Inkontinensia fungsional Inkontinensia urin campuran

TANDA DAN GEJALA


Desakan, frekuensi, dan nokturia Inkontinensia stres, dicirikan dengan keluarnya sejumlah kecil urin ketika tertawa, bersin, melompat, batuk, membungkuk Inkontinensia overflow, dicirikan dengan aliran urin yang buruk atau lambat dan merasa menunda atau mengejan Inkontinensia fungsional, dicirikan dengan volume dan aliran urin yang adekuat Higiene buruk atau tanda tanda infeksi Kandung kemih terletak di atas simfisis pubis

PENATALAKSANAAN
Pemakaian peralatan Pemakain pad/diapers (pampers) Peralatan untuk uretra: Urethra shield atau caps, urethra tubes. Peralatan untuk vagina: tampon, pessarium, introl bladder neck support Terapi non farmakologi Tujuan utamanya untuk menguatkan otot panggul melalui latihan. Metode pelatihan yang dikenalkan antara lain: Latihan memperkuat otot dasar pelvis (senam KEGEL) Bladder Training

Lanjut

Terapi farmakologi
Inkontinensia stress diberikan alfa adrenergic agonis,

yaitu pseudoephedrine berfungsi untuk menguatkan otot polos yang membuka dan menutup sfingter uretra. Inkontinensia urge: antikolinergik seperti Oxybutinin, Propantteine, Dicylomine, flavoxate, Imipramine. Kerjanya menghambat kontraksi dari kandung kemih

Terapi pembedahan
Retropubic colposuspension surgery Marshall-marchetti-krantz procedure Laparaskopi Needle suspension Artificial sphincter

PENGKAJIAN
KULIAH TENANAN\gerontik\askep inkontinensia gerontik.doc

DIAGNOSA
Kekurangan volume cairan b/d kehilangan cairan aktif Inkontinensia fungsional berhubungan dengan ketidakmampuan atau kesulitan mencapai toilet sekunder terhadap penurunan mobilitas atau motivasi. Resiko kerusakan integritas kulit b/d gangguan status metabolik

INTERVENSI
KULIAH TENANAN\gerontik\Intervensi inkontinensia.doc

EVALUASI
KULIAH TENANAN\gerontik\askep inkontinensia gerontik.doc

PENCEGAHAN
1. Pencegahan primer Penatalaksanaan keperawatan: Pemantuan latihan fisik Pemantauan penyakit minor Pemantauan diet Pemantauan asupan cairan Pemantauan nokturia 2. Pencegahan sekunder
Area pertama adalah pencegahan area komplikasi

iastrogenik

Pencegahan ini berupa farmakoterapeutik, pemberian cairan parenteral, dan uji diagnostik

Lanjut..
Area kedua berkenaan dengan penyakit yang

secara langsung mempengaruhi penuaan sistem renal yang dapat menyebabkan gagal ginjal. Pencegahan ini berupa penyakit glomerular, penyakit turbulointersisial, penyakit vascular renal, penyakit obstruksi, gagal ginjal akut. Area ketiga adalah penatalaksanaan keperawatan inkontinensia. Pencegahan berupa latihan pelvis, maneuver crede, baldder training, toileting secara terjadwal, penggunaan alat-alat eksternal, kateterisasi secara intermiten, modifikasi lingkungan, pengobatan, dan pembedahan. Pilihan tergantung jenis inkontinensia.

Lanjut
3. Pencegahan Tersier
Intervensinya menggunakan terapi modalitas yang

tepat dan kombinasi modalitas harus dimulai dan dikaji keefektifannnya (Juniarti, 2002).

Alhamdulillah