Anda di halaman 1dari 25

Uji Kadar Rhodamin B yang Terdapat dalam Terasi dengan metode Spektrofotodensitometri

Rhodamin B
Rhodamin B (C28H31N2O3Cl) adalah pewarna sintetis yang digunakan pada industri tekstil dan kertas. Rhodamin B berbentuk serbuk kristal merah keunguan dan dalam larutan akan berwarna merah terang berpendar Rhodamin B sangat berbahaya jika terhirup, mengenai kulit, mengenai mata dan tertelan. Dampak yang terjadi dapat berupa iritasi pada saluran pernafasan, iritasi pada kulit, iritasi pada mata, iritasi saluran pencernaan dan bahaya kanker hati.

Struktur rhodamin B

Terasi
Terasi adalah bumbu masak yang dibuat dari ikan dan atau udang yang di fermentasikan, berbentuk seperti pasta dan berwarna hitam-coklat, kadang ditambahi bahan pewarna sehingga menjadi kemerahan. Terasi memiliki bau yang tajam dan biasanya digunakan untuk membuat sambal terasi, tapi juga ditemukan dalam berbagai resep tradisional Indonesia.

Beberapa produsen menambahkan rhodamin B pada terasi untuk memberi warna merah segar pada terasinya.

Pengertian KLT
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan cara pemisahan campuran senyawa menjadi senyawa murninya dan mengetahui kuantitasnya yang menggunakan. Kromatografi juga merupakan analisis cepat yang memerlukan bahan sangat sedikit, baik penyerap maupun cuplikannya.

KLT
KLT dapat digunakan untuk memisahkan senyawa senyawa yang sifatnya hidrofobik seperti lipida lipida dan hidrokarbon yang sukar dikerjakan dengan kromatografi kertas. KLT juga dapat berguna untuk mencari eluen untuk kromatografi kolom, analisis fraksi yang diperoleh dari kromatografi kolom, identifikasi senyawa secara kromatografi, dan isolasi senyawa murni skala kecil.

Densitometri
Densitometri merupakan metode analisis instrumental yang mendasarkan pada interaksi radiasi elektromagnetik dengan analit yang merupakan bercak pada KLT. Densitometri lebih dititikberatkan untuk analisis kuantitatif analit-analit dengan kadar kecil, yang mana diperlu-kan pemisahan terlebih dahulu dengan KLT*2'.

Densitometri
Untuk evaluasi bercak hasil KLTsecara densitometri, bercak di-scan-'ung dengan sumber sinar dalam bentuk celah (slit) yang dapat dipilih baik panjangnya maupun lebarnya. Sinar yang dipantulkan diukur dengan sensor cahaya (fotosensor). Perbedaan antara signal optik daerah yang tidak mengandung bercak dengan daerah yang mengandung bercak dihubungkan dengan banyaknya analit yang ada melalui kurva kalibrasi yang telah disiapkan dalam lempeng yang sama.

Densitometri
Pengukuran densitometri dapat dibuat dengan absorbansi atau dengan fluoresensi0'. Kebanyakan pengukuran kromatogram lapis tipis dilakukan dengan cara absorbansi. Kisaran Ultraviolet rendah (di bawah 190 nm sampai 300 nm) merupakan daerah yang paling berguna01.

Densitometri
Karena adanya penghamburan sinaroleh partikelpartikel yang ada di lempeng, maka suatu persamaan matematis yang sederhana dan terdefinisi dengan baik yang menyatakan hubungan antara sinyal sinar dan banyaknya (konsentrasi) senyawa dalam tapisan tipis tidak pernah dijumpai. Sebagai akibatnya hubungan ini tidak bersifat linier. Meskipun demikian, karena saat ini tersedia perangkat lunak {software) ataupun integrator yang dapat menangani hubungan yang tidak linier, maka tidak diperlukan untuk melinierkan hubungan antara konsentrasi dan respon optis11'.

Densitometri
Untuk scanning dengan fluoresensi, intensitas sinar yang diukur berbanding langsung dengan banyaknya analit (senyawa) yang berfluoresensi. Pengukuran dengan fluoresensi lebih sensitifdibanding dengan pengukuran absorbansi, dan fungsi-fungsi kalibrasi seringkali linier pada kisaran konsentrasi yang agak luas.

KLT-Spektrodensitometri
Analisis kuantitatif dari suatu senyawa yang telah dipisahkan dengan KLT biasanya dilakukan dengan densitometer langsung pada lempeng KLT (atau secara in situ). Densitometer dapat bekerja secara serapan atau flouresensi, dimana kebanyakan densitometer mempunyai sumber cahaya yang diarahkan menuju monokromator (untuk memilih rentang panjang gelombang yang cocok antara 200-800), sistem untuk memfokuskan sinar pada lempeng, pengganda foton, dan rekorder (Rohman, 2007).

Analisis kualitatif dan Kuantitatif


Kualitatif Nilai Rf yang sama pada kondisi yang sama menunjukkan senyawa yang identik

Kuantitatif 1. Pengukuran luas bercak 2. Densitometri, mengerok dan mengidentifikasi dengan analisis yang lain, misal spektrofotometri

KLT-Spektrodensitometri
Suatu campuran zat dapat dipisahkan dengan teknik KLT berdasarkan perbedaan afinitas masing-masing komponen terhadap fase gerak dan fase diamnya. Komponen yang telah terpisah, besar serapannya dapat diukur dengan spektrofotodensitometer. Kadar dari sampel dapat ditentukan dari perbandingan antara serapan dan bakunya (Widjaja dan Laksmiani, 2010).

KLT-Spektrodensitometri
Prinsip kerja spektrofotodensitometri berdasarkan interaksi antara radiasi elektromagnetik dari sinar UV-Vis dengan analit yang merupakan noda pada plat. Radiasi elektromagnetik yang datang pada plat diabsorpsi oleh analit, ditransmisi atau diteruskan jika plat yang digunakan transparan. Radiasi elektromagnetik yang diabsorpsi oleh analit atau indikator plat dapat diemisikan berupa flouresensi dan fosforesensi (Sherma and Fried 1994). Pemadaman flouresensi indikator F-254 dapat terjadi akibat adanya noda pada plat sehingga teramati di bawah lampu UV sebagai noda hitam (Mulja dan Sukarman, 1995).

Keunggulan KLT Spektrodensitometer dibanding dengan HPLC maupun GC


Cepat, karena penggunaannya biasanya tidak membutuhkan preparasi khusus. Dapat digunakan untuk analisis sampel dengan jumlah mencapai 30 sampel pada satu pelat dan dapat memisahkan sampel-sampel tersebut secara bersamaan. Adanya instrumen scanning modern yang dikontrol dengan komputer, instrumen aplikasi sampel semi otomatis maupun otomatis, serta instrumen pengembangan dapat membantu memberikan akurasi dan presisi yang setara dengan metode HPLC maupun GC.

Keunggulan KLT Spektrodensitometer dibanding dengan HPLC maupun GC


Terdapat berbagai pilihan pelarut pengembang (fase gerak) untuk memisahkan sampel seperti basa, asam, aqua-organik. Setiap sampel dapat dipisahkan dengan pelat baru sehingga dapat menghindari masalah kontaminasi silang sampel dan tidak perlu melakukan regenerasi sorben. Dalam hal konsumsi pelarut pengembang tergolong hemat, sehingga dapat meminimalkan biaya untuk pembelian pelarut. dapat dilakukan pengulangan pada tahap scanning tanpa mengkhawatirkan gangguan pada proses lanjutan, ini dikarenakan semua proses berjalan secara independen.

Penetapan Kadar
Kadar dari sampel dapat ditentukan dari perbandingan antara serapan sampel dan bakunya. Untuk penentuan kadar, yang ditetapkan adalah absorpsi maksimum kurva absorpsi. Jika absorpsi ini untuk penentuan kadar adalah sangat rendah atau senyawa mula-mula mengabsorpsi di bawah 220 nm, maka seringkali senyawa diubah dulu menjadi suatu zat warna melalui reaksi kimia, dan absorpsi ditentukan dalam daerah sinar tampak (kolorimetri) (Roth dan Blaschke, 1988).

VALIDASI METODE ANALISIS


Selektifitas dan sensitifitas Linieritas Batas deteksi dan batas kuantitasi Keseksamaan (precision) Kecermatan (accuracy)

Hasil dan Pembahasan


optimasi kondisi analisis Rhodamin dielusi dengan fase gerak etanol : amoniak (19:1) Penentuan panjang gelombang maksimum dilakukan dengan menggunakan larutan standar rhodamin B dalam etanol 70% kemudian dilakukan scanning pada panjang gelombang 200 nm s/d 700 nm Validasi metode analisis Selektifitas dan sensitifitas, memenuhi syarat kespesifikan Linieritas, hubungan konsentrasi dan area larutan standar rhodamin b menunjukan bahwa koefisien kolerasi (r) =0,998116 dan koefisien variasi dari fungsi (vxo)=2,713% Batas deteksi 2,724 ng/mL dan batas kuantitasi 8,173ng/mL Keseksamaan (precision),hasil 3x pengukuran rata2 <2% (0,897%) Kecermatan (accuracy),hasil pengukuran (98,72+/-2,81)%

Uji kualitatif dan kuantitatif Rhodamin B pada sampel terasi, berdasar pengujian diproleh profil kromatogram standar rhodamin b

dan sampel terasi dan data hasil scanning spektrum densitometri pada uji purity dan identity

Uji kuantitatif rhodamin B pada sampel terasi hasil penetapan kadar dan %recovery (penambahan standar sebanyak 40%)

Kesimpulan hasil penilitian jurnal pengembangan dan validasi metode KLT-densitometri untuk penetapan kadar rhodamin B pada terasi

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan , dapat disimpulkan bahwa pada uji kualitatif dapat diketahui bahwa tidak semua sampel terasi mengandung rhodamin b. Dari 9 sampel terasi yang disampling ada 1 sampel terasi yg tidak mengandungrhodamin b Kadar rhodamin b yg terkandung dalam sampel terasi adalah antara 0,012% sampai dengan 0,050% (b/b) Rhodamin-B sangat berbahaya bagi tubuh, sehingga sekecil apapun jumlahnya, keberadaan senyawa ini dalam makanan sangat dilarang.