Anda di halaman 1dari 35

Nama Umur Alamat Pekerjaan Tanggal berobat

: Tn.T : 63 tahun : Duren sawit : Pensiunan PNS : 20 Desember 2013

NAMNESIS

KELUHAN UTAMA

Mata kanan terdapat selaput sejak

10 tahun yang lalu

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Pasien datang ke RS dengan keluhan mata kanan terdapat selaput sejak 10 tahun yang lalu, awalnya selaput berbentuk kecil yang lama kelamaan semakin besar dan meluas, mata kanan terasa seperti ada yang mengganjal. Keluhan juga disertai mata kanan yang sering menjadi merah dan berair, pasien juga mengeluh penglihatan merasa terganggu sejak 1 hari yang lalu dengan melihat seperti bayangan hitam berbentuk seperti garis-garis yang terus ikut ketika mata digerakan. Keluhan lain seperti gatal pada mata, kotoran pada mata dan silau disangkal.

Riwayat penyakit dahulu : Pasien tidak pernah sakit mata seperti ini sebelumnya. Pasien memiliki riwayat hipertensi sejak 10 tahun yang lalu, dan mengaku teratur mengkonsumsi obat hipertensi setiap hari

Riwayat penyakit Diabetes Melitus di sangkal


Riwayat penyakit keluarga : Tidak ada keluarga yang mengeluhkan sama seperti pasien, ayah pasien memiliki riwayat hipertensi

Riwayat pengobatan : Pasien belum pernah berobat ataupun menggunakan obat untuk mengatasi keluhannya

Riwayat alergi : Riwayat alergi terhadap makanan atau obat disangkal

Riwayat Psikososial : Pasien merupakan seorang pensiunan PNS dan sewaktu bekerja sering terpapar sinar matahari dan debu, juga sering menggunakan sepeda motor saat akan bekerja, pasien mengaku tidak menggunakan pelindung mata saat bekerja.

Okuli Dekstra Orthophoria Baik ke segala arah Edema (-), hiperemis (-), nyeri tekan (-) ptosis (-) ekstropion (-),entropion (-) Jaringan fibrovaskular berbentuk segitiga di daerah konjungtiva bagian nasal puncaknya di kornea, Injeksi konjungtiva (-), injeksi siliar (-), sekret (-) Konjungtiva tarsal: folikel(-), papil(-), sikatriks (-) Tepi kornea bagian nasal (limbus kornea) tertutupi selaput, infiltrat (-), sikatriks (-) Kedudukan Gerak bola mata Palpebra

Okuli Sinistra Orthophoria Baik ke segala arah Edema (-), hiperemis (-), nyeri tekan (-) ptosis (-) ekstropion (-),entropion (-) Konjungtiva bulbi: injeksii konjungtiva (-),injeksi siliar(-) sekret (-) Konjungtiva tarsal: folikel(-), papil(-), sikatriks (-)

Konjungtiva

Jernih, Infiltrat (-), sikatrsiks (-) Kornea

sedang, hipopion (-), hifema (-), fler (-)

Bilik Mata Depan

sedang, hipopion (-), hifema (-) fler (-)

Coklat, kripte sinekia (-)

tampak

jelas, Iris

Coklat, kripte sinekia (-)

tampak

jelas,

Bulat, isokor, refleks cahaya langsung dan tdk langsung (+) Pupil

Bulat, isokor, refleks cahaya langsung dan tdk langsung (+)

Jernih Lensa Tidak dilakukan Vitreus VOD 6/12 Visus

Jernih

Tidak dilakukan

VOS 6/6,5

Pasien datang ke RS dengan keluhan mata kanan terdapat selaput sejak 10 tahun yang lalu, awalnya selaput berbentuk kecil yang lama kelamaan semakin besar dan meluas, mata kanan terasa seperti ada yang mengganjal. Keluhan juga disertai mata kanan yang sering menjadi merah dan berair, pasien juga mengeluh penglihatan merasa terganggu sejak 1 hari yang lalu dengan melihat seperti bayangan hitam yang terus ikut ketika mata digerakan. Pasien merupakan seorang pensiunan PNS dan sewaktu bekerja sering terpapar sinar matahari dan debu, juga sering menggunakan sepeda motor saat akan bekerja, pasien mengaku tidak menggunakan pelindung mata saat bekerja. Pada pemeriksaan didapatkan visus mata kanan 6/12 dan mata kiri 6/6,5. Pada konjungtiva bulbi kanan terdapat jaringan fibrovaskular pada bagian nasal konjungtiva puncaknya di kornea.

Diagnosis Pterygium OD Stadium II Pemeriksaan anjuran Topografi Kornea

Penatalaksanaan Memberikan vitamin mata (roborantia) Dianjurkan untuk melakukan tindakan operatif Diberikan air mata buatan (topikal lubricating drop) Bila radang dapat diberikan kortikosteroid Edukasi : melindungi mata dari sinar matahari, debu dan udara kering (terutama saat berkendaraan) menggunakan kacamata pelindung.

Pterygium

Pertumbuhan jaringan fibrovaskular berbentuk segitiga yang tumbuh dari arah konjungtiva menuju kornea pada daerah interpalpebra. Pterygium tumbuh berbentuk sayap pada konjungtiva bulbi. Asal kata pterygium adalah dari bahasa Yunani, yaitu pteron yang artinya sayap.

Epidemiologi
Pterygium tersebar di seluruh dunia, tetapi lebih banyak di daerah iklim panas dan kering. Prevalensi juga tinggi di daerah berdebu dan kering. Prevalensi pterygium meningkat dengan umur, terutama dekade ke 2 dan 3 kehidupan. Insiden tinggi pada umur antara 20-49 tahun. Pterygium rekuren sering terjadi pada umur muda dibandingkan dengan umur tua. Laki-laki 4 kali lebih berisiko daripada perempuan dan berhubungan dengan merokok, pendidikan rendah dan riwayat paparan lingkungan di luar rumah.

Etiologi
Tidak diketahui secara jelas Diduga iritasi kronis (debu, cahaya matahari dan udara yang panas)

Faktor Risiko
Usia (usia dewasa) Pekerjaan (paparan sinar matahari)

Tempat tinggal
Jenis kelamin (laki-laki = perempuan)

Herediter
Infeksi (HPV)

Bersifat mutagen

UV-B

Gen P 53

Peningkatan Regulasi kolagen Migrasi sel angiogensis

Meningkatkanya pelepasan

Transforming growth factor beta (TGF-) dan endhotelial growth factor (VEGF)

Degenerasi kolagen elastoid dan jaringan fibrovaskular

Klasifikasi (tipe pterygium)


Tipe 1
Pterigium kecil, dimana lesi hanya terbatas pada limbus atau menginvasi kornea pada tepinya saja. Lesi meluas < 2 mm dari kornea

Tipe 2

menutupi kornea sampai 4 mm

Tipe 3

Pterigium primer atau rekuren dengan keterlibatan zona optik. Merupakan bentuk pterigium yang paling berat. Lesi mengenai kornea > 4 mm dan mengganggu aksis visual.

Klasifikasi (stadium pterygium)


Stadium 1 jika pterigium hanya terbatas pada limbus kornea

Stadium 2

jika pterigium sudah melewati limbus dan belum mencapai pupil, tidak lebih dari 2 mm melewati kornea jika pterigium sudah melebihi stadium II tetapi tidak melebihi pinggiran pupil mata dalam keadaan cahaya normal (diameter pupil sekitar 3-4 mm).

Stadium 3

Stadium 4

jika pertumbuhan pterigium sudah melewati pupil sehingga mengganggu penglihatan.

Pterigium stadium 1

Pterigium stadium 2

Pterigium stadium 3

Pterigium stadium 4

Klasifikasi (perjalanan penyakit)

Pterygium progresif Pterygium regresif

tebal dan vaskular dengan beberapa infiltrat di kornea di depan kepala pterigium (disebut cap dari pterigium)

tipis, atrofi, sedikit vaskular. Akhirnya menjadi bentuk membran, tetapi tidak pernah hilang.

Klasifikasi (terlihatnya pembuluh darah episklera di pterygium)

T1 (atrofi)
T2 (intermediet) T3

pembuluh darah episkleral jelas terlihat

pembuluh darah episkleral sebagian terlihat


pembuluh darah tidak jelas

(fleshy, opaque)

Tanda dan gejala klinis


Dapat tidak memberikan keluhan Bisa unilateral atau bilateral. Sering dibagian nasal konjungtiva. Mata sering berair & tampak merah Merasa seperti ada benda asing Astigmat dan Ketajaman penglihatan menurun (st.3 dan 4) pada kasus ini pasien mengeluh mata sering merah dan berair dan terasa seperti mengganjal

Diagnosis

Anamnesis
Mata sering berair & tampak merah Merasa sperti ada benda asing yang mengganjal

Astigmat dan Ketajaman penglihatan menurun (st.3 dan 4)


Riwayat sering terpapar debu atau sinar matahari

Pemeriksaan fisik

Diagnosis

Pada inspeksi pterigium terlihat sebagai jaringan fibrovaskular pada permukaan konjungtiva. Pterigium dapat memberikan gambaran yang vaskular dan tebal tetapi ada juga pterigium yang avaskuler dan flat.

Pemeriksaan penunjang
topografi kornea untuk menilai seberapa besar komplikasi berupa astigmtisme ireguler yang disebabkan oleh pterigium

Diagnosis Banding
Psudopterygium
Pinguekula

pseudopterygium

pinguekula

Penatalaksanaan Konservatif
penyuluhan pada pasien untuk mengurangi iritasi maupun paparan sinar ultraviolet dengan menggunakan kacamata anti UV dan pemberian air mata buatan/topical lubricating drops.

Dapat diberikan steroid (bila terjadi peradangan)

Penatalaksanaan
Tindakan operatif
Bare sclera
Simple closure

Sliding flap
Rotational flap

Conjungtival graft

Bare sclera

Simple closure

Sliding flap

Rotational flap

conjungtival graft

Komplikasi
Distorsi dan penglihatan berkurang Mata merah Iritasi Scar (jaringan parut) kronis pada konjungtiva dan kornea Dapat menyebabkan diplopia
Komplikasi post eksisi pterygium : Infeksi Rekuren

Prognosis
Penglihatan dan kosmetik pasien setelah dieksisi adalah baik. Kebanyakan pasien dapat beraktivitas lagi setelah 48 jam post operasi. Pasien dengan pterigium rekuren dapat dilakukan eksisi ulang dan graft dengan konjungtiva autograft atau transplantasi membran amnion.

Daftar Pustaka
Ilyas, Sidharta. Ilmu Penyakit Mata edisi 6. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006.p.27,117. Riri Julianti,S.Ked. Pterigium.[online]2009.[ cited 2011 Maret 08]. Available from : http://facultyofmedicine.riau.com /procedures/pterigium..html Laszuarni. Prevalensi Pterigium di Kabupaten Langkat. Tesis Dokter Spesialis Mata. Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. 2009. Jerome P Fisher, Pterygium. [online]. 2011 [cited 2011 July 24] http://emedicine.medscape.com/article/1192527-overview Voughan & Asbury. Oftalmologi Umum edisi 17. Jakarta : EGC. 2010. Hal 119. Anonymus. Anatomi Konjungtiva. [online] 2009. [ cited 2011 Maret 08]. Available from : http://PPM.pdf.com/info-pterigium-anatomi Anonymus. Pterigium. [online] 2009. [cited 2011 Maret 08] Available from : http://www.dokteronline.org/index.php.htm Skuta, Gregory L. Cantor, Louis B. Weiss, Jayne S. Clinical Approach to Depositions and Degenerations of the Conjungtiva, Cornea, and Sclera. In : External Disease and Cornea. San Fransisco : American Academy of Ophtalmology. 2008. P.8-13, 366. Maheswari, sejal. Pterydium-inducedcornealrefractive changes.[online] 2007. [cited 2011 August 11]. Aviable from : http//www.ijo.in/article.asp?issn Anton,dkk. Pterigium. [online] 2010. [ cited 2011 July 10]. Available from: www.inascrs.org/pterygium/ Drakeiron. Pterigium. [online]2009. [cited 2011 August 11]. Avaible from : http://drakeiron.wordpress.com/info-pterigium.