Anda di halaman 1dari 38

dr.

Himawan Sasongko, SpAn

Pada penderita gawat darurat : Jalan nafas merupakan prioritas utama Kegagalan oksigenasi pembunuh tercepat. Kematian dini karena masalah jalan nafas : Gagal mengetahui kebutuhan jalan nafas. Gagal membuka jalan nafas. Kekeliruan memasang alat bantu jalan nafas atau posisi berubah. Aspirasi isi lambung.

Anatomy for Airway Management

Paling sering : dasar lidah, palatum mole,

darah, benda asing, spasme


laring.

Penyebab lain : spasme bronkus, sembab


mukosa, sekret, aspirasi.

Sering terjadi pada penderita tidak sadar.

Total. Segera koreksi 5 10 menit terjadi asfiksi henti nafas henti jantung.

Parsial. Harus tetap dikoreksi. Kerusakan otak, sembab otak, sembab paru, henti nafas, henti jantung sekunder.

LOOK
gelisah, kesadaran turun, sianosis, kontraksi otot pernafasan tambahan.

LISTEN
suara ngorok atau berkumur, bersiul jenis sumbatan.

FEEL
hembusan udara ada/tidak.

Adanya sumbatan harus dikenali dengan cepat. Harus segera diatasi. Selalu jaga C-spine utamanya pada penderita trauma / cedera diatas klavikula. Harus diatasi meskipun dengan cara paling sederhana. Harus selalu menjaga keselamatan diri sendiri, jika perlu minta bantuan orang lain.

1. Ekstensi kepala. 2. Posisi miring mantap. 3. Gerakan jalan nafas tripel (tripel airway manouvre). 4. Pembersihan jalan nafas manual. 5. Pukulan dan hentakan untuk sumbatan benda asing. 6. Definitif : non-bedah atau bedah.

4 Surgical Airway 3 Tracheal Tube

2 Supraglottic Pharyngeal Instrument 1 Face Mask Ventilation 0 Awake Conditions

Practice Guidelines for Airway Management

1. Ekstensi kepala. 2. Posisi miring mantap. 3. Gerakan jalan nafas tripel (tripel airway manouvre). 4. Pembersihan jalan nafas manual. 5. Pukulan dan hentakan untuk sumbatan benda asing. 6. Definitif : non-bedah atau bedah.

Pasien tak sadar tapi masih bernafas spontan. Sering diterapkan pada musibah massal. Benda asing cair mudah keluar.

Chin lift Head tilt Jaw thrust


Jaw thrust

Chin lift

Head tilt

Bila curiga ada sumbatan, mulut harus dibuka paksa.

A. Gerak jari menyilang B. Gerak jari dibelakang gigi C. Gerak angkat mandibula lidah.

HEIMLICH MANUVER

INDIKASI PENATALAKSANAAN JALAN NAFAS DEFINITIF


Need for Airway Protection Unconscious Severe maxillofacial fractures Need for Ventilation Apnea Neuromuscular paralysis Unconscious Inadequate respiratory effort Tachypnea Hypoxia Hypercarbia Cyanosis Severe closed head injury with need for hyperventilation

Risk for aspiration Risk for obstruction Neck hematoma Laryngeal, tracheal injury Stridor

Pipa Nasofaring Pipa Orofaring

Laryngeal Mask Airway

Cara Pemasangan LMA

Posisi LMA in situ.

Intubasi Trakea

Posisi air sniffing

MASALAH DALAM INTUBASI


1.

Intubasi endobronkial :

ventilasi satu paru, shunting, kolaps paru. sering pada paru kanan cek setelah intubasi.

2.

Intubasi esofageal

amati naik turunnya dada setelah intubasi.


auskultasi setelah intubasi. mencapai 1 dari 65 pasien karena berbagai faktor.

3.

Kesulitan intubasi

KOMPLIKASI INTUBASI
Komplikasi

segera

Trauma pada bibir dan gigi, dislokasi rahang dan aritenoid, kerusakan pada laring dan pita suara. Pada intubasi nasal dapat terjadinya epistaksis, trauma dinding faring. Trauma laring dapat mengakibatkan postoperative croup, bronkospasme, laringospasme terutama pada anak-anak.

KOMPLIKASI INTUBASI

Komplikasi lambat
Biasanya terjadi pada intubasi jangka lama. Stenosis trakeal jarang terjadi, yang sering adalah kerusakan mokosa trakea. Trauma pita suara akan berakibat terjadinya ulserasi atau granulomata. Kejadian akan makin sering apabila ada infeksi saluran nafas atas.

1. Krikotiroidotomi dengan jarum

Menusukkan jarum lewat membran krikotiroid. Oksigenasi dalam waktu pendek Dipakai jarum no. 12 14 G ( 16 18 G ).

2. Krikotiroidotomi bedah

Bisa dipakai tube trakeostomi atau ET. Hati-hati dengan kartilago krikoid utamanya anak-anak. Tidak dianjurkan untuk anak usia < 12 tahun.

Struktur kartilago yang membentuk laring

Krikotiroidotomi dengan jarum

Krikotiroidotomi bedah