Anda di halaman 1dari 27

Nicholas H.P. 08700081 Pembimbing dr. Made Dewi Kristiawati, Sp.

Rad

DEFINISI

Atresia adalah tidak terbentukknya atau tersumbatnya suatu saluran dari organ-organ.

Atresia Duodenum adalah tidak terbentuknya atau tersumbatnya duodenum (bagian terkecil dari usus halus) sehingga tidak dapat dilalui makanan yang akan ke usus. Atresia duodenum merupakan suatu kondisi dimana duodenum (bagian pertama dari usus halus) tidak berkembang dengan baik, sehingga tidak berupa saluran terbuka dari lambung yang tidak memungkinkan perjalanan makanan dari lambung ke usus.

Klasifikasi Atresia duodenum Tipe 1 : kelainan yang terbanyak pada atresia duodenum dimana terdapat membrandiafragma (atresia) dengan dinding duodenum yang masih ada

Tipe 2 : kelainan two end atresia, dimana antara ujung atresia dihubungkan dengan jaringan fibrous.

Tipe 3 : jarang ditemukan, merupakan kelainan berupa pemisahan komplit antara duaujung dari atresia duodenum

Penyebab yang mendasari terjadinya atresia duodenum masih belum diketahui, tapi ada beberapa yang bisa menyebabkan atresia duodenum : Gangguan perkembangan pada awal masa kehamilan (minggu ke-4 dan ke-5 ). Gangguan pembuluh darah. Banyak terjadi pada bayi prematur. Banyak ditemukan pada bayi sindrom down. Suplay darah yang rendah pada masa kehamilan sehingga duodenum mengalami penyempitan dan menjadi obstruksi.

Ciri ciri pada bayi dengan Atresia Duodenum


a. b. c. d. e. f. g. h. Perutnya menggelembung (kembung) di daerah epigastrum pada 24 jam atau sesudahnya setelah lahir Muntah segera setelah lahir berwarna kehijau hijauan karena empedu (biliosa). Muntah terus menerus meskipun bayi dipuasakan selama beberapa jam. Bayi muntah tanpa disertai distensi abdomen. Tidak kencing setelah disusui. Tidak ada gerakan usus setelah pengeluaran mekonium. Pembengkakan abdomen pada bagian atas. Hilangnya bising usus setelah beberapa kali buang air besar mekonium. Berat badan menurun atau sukar bertambah. Polihidramnion terlihat pada 50 % dengan atresia duodenal. Ikterik. BAB hijau

i. j. k. l.

Menegakkan diagnosis
Anamnesis didapatkan bilious vomiting (85%)

beberapa jam setelah lahir Pemeriksaan fisik dapat dijumpai suatu massa di epigastrium yang merupakan gaster yang berdi-latasi.

Pemeriksaan penunjang foto polos abdomen

Radiografi yang menunjukkan gambaran klasik doublebubble adalah gambaran khas atresia duodenal

Penggunaan USG telah memungkinkan banyak bayi dengan obstruksi duodenum teridentifikasi sebelum kelahiran. Obstruksi duodenum ditandai khas oleh gambaran double-bubble (gelembung ganda) pada USG prenatal. Gelembung pertama mengacu pada lambung, dan gelembung kedua mengacu pada loop duodenal postpilorik dan prestenotik yang terdilatasi.

Fetal MRI dapat digunakan untuk menilai kelainan struktural dan penilaian lebih lanjut dari usus. Tanda "double bubble" ditandai dengan panah.

Penatalaksanaan
Jalan satu-satunya hanya dengan pembedahan. duodenoduodenostomi

Teknik Duodenoduodenostomi
1. Pasien dalam keadaan narkose dan dilakukan intubasi endotrakeal 2. Posisi pasien supine dan dilakukan pemasangan NGT untuk dekompresi lambung 3. Dilakukan insisi transverse supra umbilical(2 cm diatas umbilicus) di abdomen right upper quadrant 4. Duodenum kemudian dimobilisasi dari perlekatan retroperitoneum dengan 5. Lakukan side to side duodenoduodenostomy atau Diamond-shaped

insisi transverse supra umbilical 2 cm diatas umbilicus

side to side duodenoduodenostomy atau Diamond-shaped

Pasca Operasi
Dekompresi gaster dilakukan sampai duodenum benarbenar kosong, selanjutnya dimulai feeding. Sebagian pasien dapat diberi makan dalam seminggu setelah operasi.
TPN (total parenteral nutrition) atau makanan melalui jejunum terkadang dibutuhkan

Komplikasi
Setelah pembedahan, dapat terjadi komplikasi lanjut seperti pembengkakan duodenum (megaduodenum), gangguan motilitas usus, atau refluks gastroesofageal

Follow Up
Kontrol bayi 2 minggu setelah dilakukan pembedahan untuk menilai penyembuhan luka dan memastikan kecukupan nutrisi dan fungsi pencernaan. Setelah itu, Kontrol bayi secara tahunan untuk menilai komplikasi jangka panjang perbaikan duodenum

TERIMA KASIH