Anda di halaman 1dari 59

Mekanika Kuantum

Dr. Dian Fitriyani



Jurusan Fisika
Universitas Andalas
Teori Gangguan Stasioner
(Independent Perturbation Theory)
Teori Perturbasi Degenerate
Teori
Perturbasi
Stasioner
Fine Structure dari atom
Hidrogen
Efek Zeeman
Hyperfined Splitting
Teori Perturbasi nondegenerate
Teori Gangguan Stasioner
Tanpa Gangguan
Osilator harmonis
Osilator pegas
Getaran molekul, translasi,
rotasi dan vibrasi
Ada gangguan
Medan listrik
Redaman, medan gravitasi
Medan listrik (efek Stock),
Efek Zeeman
Permasalahan!
Bagaimana Hamiltonian H suatu sistem penganggu?
Energi sistem (Eigen value) setelah diganggu?
Keadaan sistem (Eigen state) setelah diganggu?
Contoh:
osilator tanpa gangguan
Klasik Kuantum
Osilator dengan gangguan W,
1 <<
o
H
W
H
o
: Hamiltonian tanpa gangguan
H : Hamiltonian ada gangguan
W : Penganggu (tak bergantung waktu) stasioner
Akibat adanya gangguan:
Dapat menaikkan dan menurunkan energi
Dapat mempertahankan dan menghilangkan degenerasi
Dapat terjadi degenerasi
Pergeseran tingkat-tingkat energi karena adanya perturbasi
biasanya dihitung dengan metoda aproksimasi
Degenerasi dalam satu tingkat energi terdapat fungsi
gelombang yang berbeda
Nondegenerasi macam-macam gelombang yang
mempunyai beberapa harga energi
Persamaan Nilai Eigen:


Bila i = 4 ada 4 macam yaitu
1
,
2
,
3
dan
4

,... , , i ; E H
i
n p
i
p o
3 2 1
0
= =
0 0 0 0
n n n
H E =
Sistem tak terperturbasi
Hamiltonian awal:
[6.1]
Bila pada sistem diberi
gangguan, maka nilai eigen dan
fungsi eigen yang baru:
0 0 0 0
n n n
H E =
[6.3]
0
' H H H = +
Sistem terperturbasi
Hamiltonian pengganggu
(pertubasi)
Teori perturbasi nondegenerasi
Contoh :
hamiltonian sistem osilator harmonik :



Kemudian sistem tersebut mendapat gangguan sehingga
hamiltonian sistem menjadi hamiltonian sistem osilator tak
harmonis :

H
Asumsi :
Teori gangguan dimulai dengan asumsi bahwa hamiltonian
pengganggu (pertubation hamiltonian), H, adalah sangat kecil
dibanding dengan hamiltonian awal yaitu hamiltonian sebelum
ada gangguan (unperturbed hamiltonian), H
0
, sehingga
hamiltonian total (H) dapat ditulis : H = H
0
+ H.
Untuk tujuan penekanan bahwa H ini adalah sangat kecil
dibanding H
0
, maka H dituliskan dengan cara
menyertakan sebuah parameter yang bernilai sangat kecil
dan diberi notasi .
sehingga H = H.
[6.4]
: parameter order
ini juga mengartikan bahwa perubahan dari
takterperturbasi menjadi terperturbasi berlangsung
secara kontinyu atau berangsur-angsur (tidak
mendadak/spontan).
Karena gangguan sangat kecil H, maka gangguan tersebut hanya akan
menimbulkan sedikit perubahan,

dan

Untuk memperoleh koreksi dapat dilakukan ekspansi sebagai berikut:
[6.5]
[6.6]
Note : 0, 1, 2 dst.... Menyatakan orde koreksi (tingkat ketelitian)
menyatakan orde koreksi pertama untuk nilai eigen
menyatakan orde koreksi pertama untuk Fungsi eigen

Dst.....
n n n
o
n
E E
0

0 1 2
...
n n n n
= + + + Building the
true states and
true energies
to some order
0 1 2
...
n n n n
E E E E = + + +
zero-
order
first-
order
second-
order
Untuk keadaan stasioner
berlaku:
0 0 0 0
n n n
H E =
[6.3]
dimana H
0
berubah menjadi:




Sehingga akibat gangguan menjadi,
[6.4]
[6.5]
[6.6]
Yang akan dihitung
adalah semua
koreksi terhadap
0

dan E
0


Persamaan [6.4],
[6.5], dan [6.6]
disubtitusikan ke
persamaan [6.3]
...
2 2 1 0
+ + + = H H H H
n n n
E H =
dan
Lalu samakan ruas kiri dan ruas kanan yang berorde sama
n n n
E H =
Orde kedua :

2

Orde pertama :

[6.7]
[6.8]
Keadaan awal

1
0 0 0 0
n n n
E H =
First-Order Energy
Untuk mendapatkan harga persamaan [6.7] dikalikan dengan
kemudian diintegralkan. Sehingga menjadi :
Operator H
0
adalah Hermitian, sehingga :
= 1
1 0 0
'
n n n
E H =
Energy
[6.9]
Persamaan [6.9] adalah orde koreksi pertama untuk energi. Selanjutnya, untuk
menemukan orde koreksi pertama untuk fungsi gelombang, maka masih
digunakan persamaan [6.7] :
[6.7]
[6.10]
Untuk memperoleh kita mengekspansinya ke dalam suku-suku yang
terdiri atas himpunan fungsi eigen tak terperturbasi dari operator
hermitian H
0

[6.11]
Persamaan [6.11] disubtitusikan ke persamaan [6.10], sehingga didapat :
Dikalikan dengan
Jika m n maka di dapat :
atau
[6.12]
[6.11]
diketahui :
[6.12]
Pers [6.12] disubtitusikan ke pers. [6.11]
( )
0 0
1 0
0 0
'
m n
n m
n m
n m
H
E E


=
=

First order State


Second-Order Energies
[6.8]
persamaan 6.8 digunakan untuk mendapatkan koreksi energi orde kedua
Seperti prosedur sebelumnya persamaan [6.8] dikalikan dengan
kemudian diintegralkan. Sehingga menjadi :
Operator H
0
adalah Hermitian, sehingga :
= 1
= 1
Karena :
maka :
2
0 0
2
0 0
'
m n
n
m n
n m
H
E
E E

=
=

Teori Perturbasi Degeneratif


Teori pertubasi degenerasi adalah untuk menghitung tingkat-tingkat energi
baru yang dihasilkan akibat adanya degenerasi.
Sebagai Contoh:
Misalkan ada 2 Hamiltonian sistem yaitu :
Dengan sifat ortonormalitas pada keadaan eigen :
[6.16]
[6.15]
Degenerasi lipat-2
Teori Perturbasi Degeneratif
Persamaan Eigen sebelum sistem terganggu :
Dimana sifat linier dari fungsi gelombang yakni :
Pertubasi H akan memecah degenerasi ketika , maka energi yang
belum terperturbasi terbagi menjadi 2:
Teori Perturbasi Degeneratif
Penyelesaian persamaan schrodinger :
Dimana , dan
[6.18]
Masukkan ke persamaan 6.18 maka akan menjadi:
Karena , maka :
Teori Perturbasi Degeneratif
Sehingga inner produk
Karena hermitian, dengan menggunakan persamaan 6.16 dan 6.15,
akan didapatkan :
Atau,
[6.21]
dimana,
Teori Perturbasi Degeneratif
Dengan langkah yang sama akan didapatkan produk dari
[6.23]
Kalikan persamaan 6.23 dengan , dan subtitusi ke pers. 6.21
[6.24]
Jika tidak nol, maka persamaaan 6.24 merupakan nilai untuk
Teori Perturbasi Degeneratif
Dengan menyelesaikan persamaan kuadratik 6.25 maka akan
didapatkan 2 koreksi energi eigen yakni :
[6.26]
Teori Perturbasi Degeneratif
Degenerasi orde tinggi
Untuk degenerasi yang lebih dari dua, maka lebih efektif jika digunakan
matriks.
Sebagai contoh tinjau ulang degenerasi orde 2 dalam bentuk matrik, dimana
:
Defenisi perluasan komponen matriks untuk degenerasi orde ke-n :
[6.27]
[6.28]
Teori Perturbasi Degeneratif
Contoh kasus pada sumur potensisal yang diganggu:
Dengan keadaan tetapnya :
Gambar 1
Teori Perturbasi Degeneratif
Dimana nx, ny dan nz adalah bilang bulat positif, maka korespondensi energi
yang diperbolehkan adalah :
Catatan: pada keadaan dasar bersifat non degenerasi, dengan energi:
Kemudian, bentuk eksistasi pertama berdegenerasi 3 dan total energi :
Teori Perturbasi Degeneratif
Pertubasi/gangguan yang diberikan :
Dengan diberikannya gangguan potensial meningkat sebesar Vo pada
seperempat kotak lihat gambar 1, sehingga koreksi energi pertama untuk
keadaan dasar (pers 6.9):
Teori Perturbasi Degeneratif
sehingga:
Dimana,
Dengan demikian
Teori Perturbasi Degeneratif
Jadi :
Persamaan karakteristik untuk W adalah:
Dan nilai eigennya adalah :
Orde pertama dalam
Teori Perturbasi Degeneratif
Keadaan dasar sebelum terganggu :
Vektor eigen dari matriks W:
Untuk :
Teori Perturbasi Degeneratif
Keadaan dasar yang baik sebelum terganggu:
6.3 THE FINE STRUCTURE OF
HYDROGEN
Hamilton = Energi Kinetik elektron + Energi Potensial coulomb
(6.41)
Pers (6.41) tidak akan di bahas lagi, sekarang kita akan membahas bagaimana pergerakkan
inti yang benar : hanya dengan menukar m dengan massa reduksi (problem 5.1).
Setelah direduksi dengan massa reduksi, fine structure telihat lebih signifikan (lebih
baik), disebabkan oleh :

1. Relativistic Correction
2. Spin-orbit Coupling
Jika dibandingkan dengan energi Bohr (pers 4.70),

(6.42)
(4.70)
6.3 THE FINE STRUCTURE OF
HYDROGEN
Dimana :
Konstanta Fine stucture
Tabel 6.1 : Proses Koreksi Energi Bohr Atom Hidrogen
6.3 THE FINE STRUCTURE OF
HYDROGEN
6.3 .1 THE RELATIVISTIC
CORRECTION
Bentuk pertama dalam Hamiltonian ditunjukkan sebagai energi kinetik :
(6.43)
Sehingga : (6.44)
Tetapi persamaan (6.43) merupakan pers yang klasik untuk energi kinetik ;
Formula relativistic nya adalah :
(6.45)
Pers (6.45) merupakan bentuk pertama dari energi relastivistik total (tidak dihitung energi
potensial, dimana kita tidak menghubungkannya dengan momentum), sedangkan bentuk
kedua adalah energi diam.
6.3 .1 THE RELATIVISTIC
CORRECTION
Kita dapat menjelaskan T dalam bentuk (Relativistic) momentum :
(6.46)
Termasuk kecepatan, sehingga dapat ditulis :
Pers di atas direduksi dari pers (6.43)
Didalam batas nonrelativistik p << mc ; dikembangkanlah energi dari nomor paling kecil
(p/mc)
6.3 .1 THE RELATIVISTIC
CORRECTION
(6.49)
Sehingga diperoleh :
Kontribusi relativistik dari Hamiltonian , ditunjukkan :
Pada bentuk teori perturbasi yang pertama, nilai koreksi E
n
diberikan dari nilai
ekspeKtasi H dalam batas unperturbasi (pers 6.9) :
(6.50)
6.3 .1 THE RELATIVISTIC
CORRECTION
Sekarang pers Schrodinger (untuk keadaan unpertubrasi) ditulis :
(6.51)
(6.52)
Subtitusi pers (6.51) ke pers (6.50) , Sehingga :
Persamaan-persamaan di atas hanya berlaku untuk atom Hidrogen,

dimana
(6.53)
E
n
adalah energi Bohr pada persamaan keadaan dasar.
Subtitusi ke pers (6.52)
Sehingga :
6.3 .1 THE RELATIVISTIC
CORRECTION
(6.54)
(6.55)
(6.56)
; a = jari-jari Bohr
Yang kedua tidak semudah menurunkan seperti pers 6.28, tetapi jawabannya adalah :
Ini ditunjukkan bahwa :
Atau eliminasi a menggunakan pers 4.72 dan menggunakan pers 4.70
Sehingga didapatkan koreksi relativistik lebih kecil dari E
n
dari sebuah faktor

Sehingga diperoleh :
6.3 .2 SPIN-ORBIT COUPLING
Gambar 6.7 : atom Hydrogen dari perputaran elektron
(6.57)
6.3 .2 SPIN-ORBIT COUPLING
Medan magnetik dari proton : Jika kita gambarkan proton (dari penggambaran elektron)
sebagai sebuah loop berarus (gambar 6.7), medan magnetik ini dapat dihitung dari hukum
biot-savart :
Dengan sebuah arus efektif I = e/T, dimana e adalah muatan proton dan T adalah perioda
orbit (waktu yang ditempuh untuk mengorbit). Pada bagian lain, momentum sudut
orbital L dari elektron (di dalam lingkungan inti) adalah :
(6.58)
Selain itu, titik B dan L berada pada arah yang sama (ke atas, Gambar 6.7), jadi
didapatkanlah persamaan :
menggunakan untuk menghilangkan

Di dalam persamaan dari
6.3 .2 SPIN-ORBIT COUPLING
Gambar 6.8 : cincin berarus yang berotasi disekitar sumbunya.
6.3 .2 SPIN-ORBIT COUPLING
Jika massa cincin adalah m, momentum angular cincin tersebut adalah momen
inersia (mr
2
) dikali dengan kecepatan angular (2/T) :
Perbandingan gyromagnetik untuk bentuk ini adalah :
6.3 .2 SPIN-ORBIT COUPLING
Disana adalah semata-mata perhitungan kalsik, sebagai sebuah pembalikan,
momen magnetik elektron adalah dua kali dari jawaban klasik :
(6.59)
6.3 .2 SPIN-ORBIT COUPLING
Interaksi Spin-Orbit : Meletakkan semua persamaan bersama-sama maka akan
didapatkan :
Tetapi disana ada sebuah kesalahan serius didalam perhitungan ini : Kita telah
meganalisis didalam bentuk awal dari elektron, tetapi ini bukan sebuah kerangka inersia,
dimana ada percepatan dari elektron mengeorbit disekitar inti. Kita dapat mengatasi ini
jika kita melakukan pendekatan kinematika, sebagaimana dikenal dengan Thomas
Presisi. Di dalam konteks ini terdapat sebuah faktor sehingga :
(6.60)
Ini adalah interaksi spin-orbit, pemisahan dari dua buah koreksi (modifikasi
perbandingan gyromagnetik untuk elektron dan faktor Presisi Thomas). Ini
hanya sebuah dasar perhitungan bentuk klasik. Fisisnya, ini diakibatkan oleh
gaya torsi menggunakan momen dipole magnet dari perputaran elektron, oleh
medan magnet proton.
Sekarang mekanika kuantum. total momentum angular menjadi :
6.3 .2 SPIN-ORBIT COUPLING
(6.61)
Jadi
Dan oleh karena itu nilai eigen dari L.S adalah :
6.3 .2 SPIN-ORBIT COUPLING
(6.63)
Di dalam kasus ini, tentu saja s = . Sementara itu nilai ekspektasi dari 1/r
3
( lihat
problem 6.30) adalah :
Dan kita simpulkan bahwa :
6.3 .2 SPIN-ORBIT COUPLING
(6.64)
Atau dirubah ke dalam bentuk E
n
adalah ;
Ini merupakan proses kemajuan yang luar biasa, dengan mempertibangkan perbedaan
mekanisme fisis, bahwa koreksi relativitas dan gabungan spin-orbit adalah sama
(E
n
2
/mc
2
). kita akan mendaptkan bentuk fine struktur (lihat problem 6.15) :
(6.65)
Dikombinasikan dengan persamaan Bohr, kitamendapatkan hasil untuk energi
levels dari hydrogen, termasuk didalamnya fine structure :
Gambar 6.9 tingkatan energi dari atom hydrogen, temasuk di dalam bentuk Fine
struktur (tanpa skala)
6.3 .2 SPIN-ORBIT COUPLING
6.4. Effect Zeeman
Classical view
e
-
S
L
B
ext
Medan Lemah
Kuat Medan Medan sedang
struktur
dominan
Efek Zeeman
dominan
Perbandingan: and
ext
B
int
B
' '
'
SO Z
H H H = +
'
( 2 ).
2
Z ext
e
H L S B
m
= +
int
B B
ext
((
int
B B
ext
))
Effect Zeeman adalah ketika atom ditempatkan dalam
medan magnet luar (B), sehingga energi akan berpindah.
( )
ext s l z
B H .
'
+ =
^
S
m
e
s
=
pemisahan Zeeman bergantung pada kuat medan
eksternal yang sebanding dengan medan internal
L
r mc
e
B
o
3 2
4
1
t e
=
6.4.1.Medan Lemah
int ext
B B <<
2
0
2
1
tot n nj B j j ext
E E c g m B
n
o

| |
= + +
|
\ .
e
-
S
L
B
ext
, , ,
j
n l j m
Keadaan eigen:
1
Z B j j ext
E g m B =
faktor Lande :
( 1) ( 1) 3/ 4
1
2 ( 1)
j
j j l l
g
j j
+ + +
= +
+
Total momentum angular J = L + S (konstan).
L dan S = presisi terhadap vektor. Dalam kasus tertentu,
waktu rata rata S merupakan proyeksi dari panjang J.
( )
J
J
J S
S
ave
2
.
=
( ) ( ) ( ) ( ) | | 1 1 1
2 2
1
.
2
2 2 2
+ + + = + = - l l s s j j L S J J S

( ) ( )
( )
J
j j
l l j j
J
J
J S
S L
(

+
+ + +
+ =
|
.
|

\
|
+ = +
1 2
4 / 3 1 1
1
.
1 2
2
e
-
S
L
B
ext
6.4.2. Medan Kuat
int ext
B B >>
( )
1
2
Z B l S ext
E m m B = +
0
1 2
1
3
( 1) 3
4 ( 1/ 2)( 1)
l s
fs
l l mm E
E
n n l l l
o
( +
=
(
+ +

, , , ,
l s
n l m s m
Keadaan eigen:
Jika , struktur dominan dari persamaan ,
int
B B
ext
((
(

|
|
.
|

\
|
+
+ =
4
3
2 / 1
1
6 , 13
2
2
2
j
n
n n
eV
E
nj
o
Pemisahan Paling Halus
E
0
1
E
1 S =
0 S =
6
6 10 E eV

A
21cm
Microwave
- radiowave
First observed in 1881 by Michelson
Explained in 1924 by Pauli
Radiation
omnipresent
in the interstellar
medium
( )
4
1
2 2 4
4
3
1
3 2
p
hf
p e
g
E S S
m m c a
(
= +
(

Proton: e
+
, m
p
electron: e
-
, m
e
S
e

B
p
S
p
2
p
p p
p
g e
M S
m
=
2
e
e e
e
g e
M S
m
=
Two-particles system:
p e
S S

Anda mungkin juga menyukai