Anda di halaman 1dari 37

GANGGUAN SOMATOFORM

OLEH : MUHAMMAD ANSHAR KHALILUL HARMI DAN SUKHVINDER SINGH

PERSEPTOR : Dr YASLINDA YAUNIN Sp KJ

PENGENALAN

Istilah somatoform berasal dari kata soma yang bermaksud tubuh dalam Bahasa Yunani. Umumnya,ianya bermaksud manifestasi gangguan psikis dalam bentuk gejala fisik. Sebelumnya kata-kata yang lain pernah di pakai yang mempunyai maksud yang sama,contohnya : Histeria dan Hipochondriasis. Kata somatisasi diguna kali pertamanya pada abad 20 oleh Stekl. Kata somatoform adalah istilah yang pertama di guna di DSM III untuk gangguan seperti hysteria,hypochondriasis dan Sindroma Briquet.

DEFINISI
Gangguan somatoform (somatoform disorder) adalah suatu kelompok gangguan yang ditandai oleh keluhan tentang masalah atau simptom fisik yang tidak dapat dijelaskan oleh suatu proses patologis fisik

CIRI CIRI DASAR

Karekteristik untuk gangguan somatoform adalah 3 ciri-ciri klinis yang khas,yaitu :

Keluhan somatik yang menandakan kelainan medis tanpa adanya gangguan organ yang dapat di buktikan.

2
3

Faktor psikologis dan konflik yang cukup signifikan yang dapat menyebabkan,memperberat and mempertahankan gejala yang terasa.

Gejala atau kebimbangan kesehatan yang tidak dibawah kontrol sadar seorang pasien

Secara umum, faktor-faktor penyebab gangguan somatoform dapat dikelompokkan sebagai berikut
Faktor-faktor Biologis

Faktor Lingkungan Sosial

Faktor ini berhubungan dengan kemungkinan adanya pengaruh genetik

Gangguan pada neurotransmitter mahupun kondisi premorbid pada berberapa bagian otak yang mengkendalikan emosi,respon stress dan respon rasa nyeri

Sosialisasi terhadap wanita pada peran yang lebih tergantung, seperti peran sakit yang dapat diekspresikan dalam bentuk gangguan somatoform. Budaya yang kurang menerima terhadapa orang yang menderita kelainan psikis atau mentabookan respon emosional terhadap suatu masalah.

Faktor Perilaku
Terbebas dari tanggung jawab yang biasa atau lari atau menghindar dari situasi yang tidak nyaman atau menyebabkan kecemasan

Faktor Emosi dan Kognitif

Salah interpretasi dari perubahan tubuh atau gejala fisik sebagai tanda dari adanya penyakit serius (hipokondriasis). Dalam teori Freudian tradisional, energi psikis yang terpotong dari impuls-impuls yang tidak dapat diterima dikonversikan ke dalam simtom fisik

Perilaku kompulsif yang diasosiasikan dengan hipokondriasis atau gangguan dismorfik tubuh dapat secara sebagian membebaskan kecemasan yang diasosiasikan dengan keterpakuan pada kekhawatiran akan kesehatan atau kerusakan fisik yang dipersepsikan

KLASIFIKASI

Gangguan konversi; ditandai oleh satu atau dua keluhan neurologis.Biasanya disertai sikap apatis pasien terhadap gejalanya.

Gangguan somatisasi; ditandai oleh banyak keluhan fisik yang mengenai banyak sistem organ.Biasanya dilaporkan pasien sendiri

Hipokondriasis; ditandai oleh fokus gejala yang lebih ringan dan pada kepercayaan pasien bahwa ia menderita penyakit tertentu.

Gangguan dismorfik tubuh; ditandai oleh kepercayaan palsu atau persepsi yang berlebih-lebihan bahwa suatu bagian tubuh mengalami cacat

Golongan somatoform yang tidak terperinci adalah kategori untuk gejala somatoform yang tidak memenuhi diagnosis gangguan somatoform yang disebutkan salah satu diatas Gangguan nyeri; ditandai oleh gejala nyeri yang semata-mata berhubungan dengan faktor psikologis atau secara bermakna dieksaserbasi oleh faktor psikologis

Undiferrentiated somatoform; gangguan somatoform yang tidak tidak termasuk pada salah satu penggolongan diatas, yang ada selama enam bulan atau lebih.

GANGGUAN SOMATISASI
Gangguan somatisasi atau Briquets Syndrome dicirikan dengan berbagai gejala somatik yang bermacam-macam (multipel), berulang dan sering berubah-ubah yang tidak dapat dijelaskan Gejala-gejala fisik tersebut umumnya telah berlangsung beberapa tahun sebelum pasien datang ke psikiater. Keluhan yang diutarakan pasien dapat meliputi berbagai sistem organ seperti gastrointestinal, seksual, saraf, dan bercampur dengan keluhan nyeri

KRITERIA DIAGNOSTIK
DSM-IV-TR

PPDGJ III

diagnosis gangguan somatisasi terpenuhi apabila gejala diawali sebelum usia 30 tahun. Selama perjalanan gangguan, keluhan pasien harus memenuhi minimal 4 gejala nyeri, 2 gejala gastrointestinal, 1 gejala seksual, dan 1 gejala pseudoneurologik, serta tidak satu pun yang dapat dijelaskan melalui pemeriksaan fisik dan laboratorium.

A. Adanya banyak keluhan fisik yang bermacam-macam yang tidak dapat dijelaskan atas adanya dasar kelainan fisik, yang sudah berlangsung sedikitnya 2 tahun. B. Tidak mau menerima nasihat atau penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak ada kelainan fisik yang dapat menjelaskan kelainan-kelainannya. C. Terdapat disabilitas dalam fungsinya di masyarakat dan keluarga, yang berkaitan dengan keluhan keluhan nya dan dampak dari perilakunya.

Eksaserbasi dari gejala-gejala somatik pada gangguan somatisasi dapat terjadi apabila terdapat peningkatan tekanan kehidupan

mencari pertolongan medis sebelum gejala berlangsung hingga 1 tahun.

Periode keluhan yang ringan berlangsung 9 hingga 12 bulan lamanya, sedangkan gejala yang berat dan pengembangan dari keluhankeluhan baru berlangsung selama 6 sampai 9 bulan

gejala-gejala awal dari gangguan ini terlah berlangsung sejak masa remaja seperti masalah menstruasi

bersifat kronik dengan diagnosis ditegakkan sebelum usia 25 tahun

TERAPI
AWAS: cenderung menggunakan obat secara irrasional dan berlebihan

Penanganan gangguan somatisasi sebaiknya dilakukan oleh seorang dokter saja


Pertemuan sebaiknya dilaksanakan dengan reguler yaitu sekali sebulan dan dilakukan secara singkat

Terapi psikofarmaka dapat diberikan apabila terdapat Dokter disarankan untuk mendengarkan keluhan gangguan lain (komorbid) seperti gangguan cemas dan somatik sebagai ekspresi emosional dan bukan depresi

sebagai keluhan medis.

Pemeriksa harus memiliki kemampuan untuk menilai antara keluhan yang harus ditanggapi secara medis dengan keluhan yang tidak. Psikoterapi individual dan psikoterapi kelompok disarankan agar pasien dapat mengatasi gejalagejala yang dialaminya, mengekspresikan emosi yang mendasari, dan mengembangkan strategi alternative untuk mengungkapkan perasaannya

GANGGUAN CONVERSI
Gangguan konversi mencakup gejalagejala yang menandakan adanya gangguan ataupun defisit pada fungsi sensorik dan fungsi motorik

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa rasio perempuan dibandingkan dengan laki-laki dapat bervariasi dari 2:1 hingga 10:1 pada gangguan konversi
terjadi pada populasi pedesaan, individu dengan pendidikan rendah, kelompok sosioekonomi rendah, dan anggota militer yang pernah terpapar dengan situasi peperangan Gangguan ini juga sering disertai dengan gangguan depresi, cemas, skizofrenia

Diakibatkan oleh faktor-faktor psikologis karena telah didahului dengan konflik ataupun stressor-stresor kehidupan lainnya

Faktor psikodinamik

Teori pembelajaran

menunjukkan bahwa mereka membutuhkan perhatian dan penanganan yang khusus.

gejala fisik dari penyakit yang dialami pasien sewaktu kecil dapat digunakan sebagai coping mechanism dalam situasi-situasi sulit yang dihadapinya ketika sudah dewasa.

Faktor biologis

represi konflik-konflik intrapsikik yang tidak disadari dan konversi dari kecemasan ke dalam gejala fisik

Gejala-gejala pada gangguan konversi diyakini berasal dari perilaku yang dipelajari sejak kecil

hipometabolisme pada daerah hemisfer otak yang dominan dan hipermetabolisme pada daerah hemisfer yang non-dominan. Hal ini dapat mengganggu komunikasi antara kedua hemisfer otak dan berujung pada gejala konversi. output kortikofugal yang meningkat justru akan menghambat kesadaran pasien akan sensasi-sensasi yang terjadi di tubuhnya.

Pseudo-seizures merupakan gejala yang dapat terlihat pada gangguan konversi. Namun, hanya sekitar 1/3 pasien dengan gejala tersebut yang disertai dengan gangguan epilepsy

Gejala ini terdiri dari gerakan abnormal, gangguan gaya berjalan (cth: astasia abasia), kelemahan dan paralisis. Dapat juga ditemukan tremor ritmik kasar, gerak koreoform, tik, dan menghentakhentak yang memburuk bila pasien mendapat perhatian

anastesi dan parestesi terutama bagian ekstrimitas. Gejala-gejala ini tidak sesuai dengan penyakit saraf pusat maupun tepi. Gejala yang melibatkan organ sensorik khusus dapat menimbulkan ketulian, kebutaan, dan tunnel vision walaupun evaluasi neurologis menunjukkan jaras sensorik yang intact ataupun pupil yang bereaksi terhadap cahaya.

keuntungan nyata yang diperoleh pasien dengan menjadi sakit misalnya dibebaskan dari kewajiban kehidupan yang sulit, bimbingan yang tak akan didapatkannya dalam situasi normal

pasien memperoleh keuntungan primer dengan mempertahankan konflik internal di luar kesadarannya

La belle indifference: merupakan sikap apatis yang tak sesuai terhadap gejala serius yang dialaminya. Pasien tampak tak peduli dengan hendaya berat yang dialaminya.

KRITERIA DIAGNOSTIK
PPDGJ III

DSM IV-TR

A. Satu atau lebih gejala atau defisit yang mengenai fungsi motorik volunter atau sensorik yang mengarahkan pada kondisi neurologis atau kondisi medis lain.
B. Faktor psikologis dipertimbangkan berhubungan dengan gejala atau defisit karena awal atau eksaserbasi gejala atau defisit adalah didahului oleh konflik atau stresor lain.

A. Ciri-ciri klinis yang ditentukan untuk masingmasing gangguan yang tercantum pada F44.

C. Gejala atau defisit tidak ditimbulkkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau berpura-pura).
D. Gejala atau defisit tidak dapat, setelah penelitian yang diperlukan, dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi medis umum, atau oleh efek langsung suatu zat, atau sebagai perilaku atau pengalaman yang diterima secara kultural. E. Gejala atau defisit menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain atau memerlukan pemeriksaan medis.

B. Tidak ada bukti adanya gangguan fisik yang dapat menjelaskan gejala-gejala tersebut.

C. Bukti adanya penyebab psikologis, dalam bentuk hubungan waktu yang jelas dengan masalah dan peristiwa yang stressful atau hubungan interpersonal yang terganggu (meskipun hal tersebut disangkal oleh pasien)2.

F. Gejala atau defisit tidak terbatas pada nyeri atau disfungsi seksual, tidak terjadi semata-mata selama perjalanan gangguan somatisasi, dan tidak dapat diterangkan dengan lebih baik oleh gangguan mental lain. Sebutkan tipe gejala atau defisit: Dengan gejata atau defisit motorik Dengan gejala atau defisit sensorik Dengan kejang atau konvulsi

Dengan gambaran campuran

TERAPI
Resolusi gejala gangguan konversi biasanya berlangsung spontan Lebih dari 90% gejala awal pada pasien dengan gangguan konversi membaik dalam waktu beberapa hari hingga hampir satu bulan. Sebanyak 75% pasien tidak pernah mengalami gangguan ini lagi, namun 25% mengalami episode tambahan pada saat mengalami tekanan.

Pasien dengan gangguan ini dapat diberikan psikoterapi suportif berorientasi tilikan atau terapi perilaku. Terapi hypnosis, anticemas, dan relaksasi sangat efektif dalam beberapa kasus.
amobarbital atau lorazepam parenteral sebelum mendapatkan wawancara juga dapat membantu memperoleh riwayat penyakit yang lebih akurat terutama ketika pasien baru saja mengalami peristiwa yang traumatis atau pasien tidak kooperatif Pendekatan psikoanalisis dan psikoterapi berorientasi tilikan dapat menuntun pasien menahami konflik intrapsikik dan symbol dari gejala-gejala yang dimilikinya

AWAS : Semakin lama pasien menghayati

peran sakit, maka gejala pada pasien akan semakin menetap,sehingga pengobatan akan semakin sulit

HIPOKONDRIASIS
Hipokondriasis didefinisikan sebagai seseorang yang preokupasi dengan ketakutan atau keyakinan menderita penyakit yang serius Ketakutan dan keyakinannya menimbulkan penderitaan bagi dirinya sendiri dan menganggu kemampuannya untuk berfungsi secara baik di bidan sosial, interpersonal dan pekerjaan.

DSM IV TR Preokupasi dengan ketakutan menderita, atau ide bahwa ia menderita, suatu penyakit serius didasarkan pada interpretasi keliru orang tersebut terhadap gejala-gejala tubuh. Preokupasi menetap walaupun telah dilakukan pemeriksaan medis yang tepat dan penentraman. Keyakinan dalam criteria A tidak memiliki intensitas waham (seperti gangguan delusional, tipe somatic) dan tidak terbatas pada kekawatiran tentang penampilan (seperti pada gangguan dismorfik tubuh). Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi social, pekerjaan atau fungsi penting lain. Lama gangguan sekurangnya 6 bulan. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan kecemasan umum, gangguan obsesif kompulsif, gangguan panic, gangguan depresi berat, cemas perpisahan, atau gangguan somatoform lain

KRITERIA DIAGNOSTIK
PPDGJ III
A. Keyakinan yang menetap adanya sekurangkurangnya satu penyakit fisik yang serius yang melandasi keluhan-keluhan nya, meskipun pemeriksaan yang berulang-ulang tidak menunjang adanya alasan fisik yang memadai, ataupun adanya preokupasi yang menetap kemungkinan deformitas atau perubahan penampakan fisik nya (tidak sampai waham); B. Tidak mau menerima nasehat atau dukungan penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak ditemukan penyakit atau abnormalitas fisik yang melandasi keluhankeluhan nya2.

defense mekanisme terhadap rasa bersalah, tanda dari kepedulian berlebihan terhadap diri sendiri, ataupun sebagai hukuman di masa lalu dari perasaaan bahwa dirinya jahat serta berdosa4

dorongan agresivitas dan permusuhan yang tujukan kepada orang lain atau karena suatu kondisi hidup yang diluar kemampuan pasien untuk mengubah dipindahkan ke dalam gangguan-gangguan somatik

tanda-tanda bahwa kesensitifan pasien terhadap rasa nyeri atau ketidak senangan meningkat

jalur pikiran kognitif yang terbias sehingga menyebabkan mereka salah menginterpretasikan sensasi fisik

Pasien dengan hipokondriasis yakin bahwa mereka menderita penyakit serius yang belum dapat terdeteksi dan sangat sulit diyakinkan sebaliknya. Keyakinan ini sering setelah sekian lama akan berpindah kepada keyakinan terhadap adanya penyakit lain

TERAPI
Pasien hipokondriasis biasanya menolak terapi psikiatrik Gangguan yang paling sering didapatkan pada praktis umum

Psikoterapi kelompok bermanfaat bagi pasien hipokondriasis karena menyediakan dukungan sosial dan interaksi sosial sehingga menurunkan kecemasan. Psikoterapi individual, terapi perilaku, terapi kognitif, dan hypnosis juga dapat bermanfaat.

Pemeriksaan fisik yang terjadwal juga akan membuat pasien merasa tenang dan tahu bahwa dokternya tak meninggalkannya dan menangani keluhannyaa dengan serius.
Farmakoterapi diberikan apabila pasien juga memiliki gangguan cemas atau depresi

GANGGUAN TUBUH DISMORFIK


individu menderita berkaitan dengan citra tubuh , diwujudkan sebagai kekhawatiran berlebihan tentang dan keasyikan dengan cacat yang dirasakan penampilan fisik mereka Seorang individu dengan BDD memiliki pikiran negatif terus-menerus tentang penampilan mereka Berpikir bahwa mereka memiliki cacat dalam salah satu atau beberapa fitur dari mereka tubuh , yang menyebabkan tekanan psikologis dan klinis signifikan atau mengganggu fungsi pekerjaan atau sosial Comorbid dengan depresi , kecemasan , penarikan sosial , dan isolasi social

Gangguan ini berpengaruh apada kehidupan pasien, seperti penghindaran kontak sosial dan pekerjaan. Pasien juga memiliki cirri kepribadian obsesifkompulsif, schizoid, dan narsisistik.

Pasien dengan gangguan ini sering merasa orang lain memperhatikan bagian cacat/kekurangan di tubuhnya, sering bercermin, atau bahkan menghindari benda yang dapat memantulkan seperti cermin dan adanya usaha untuk menyembunikan bagian tubuh yang dianggap mempunayi deformitas dengan pakaian atau riasan

kekurangan pada wajah khususnya pada bagian-bagian tertentu seperti hidung atau mata. Selain itu, rambut, buah dada, dan genitalia juga merupakan bagian tubuh lain yang sering diprihatinkan. Pada pria biasanya yang menjadi pusat pikirannya adalah ototototnya

konsep stereotipik tentang kecantikan atau keindahan yang dianut dalam keluarga atau budaya tertentu akan berpengaruh besar pada pasien dengan gangguan tubuh dismorfik.

co - morbid dengan penyakit depresi dan fobia sosial ( kecemasan sosial kronis) dan berhubungan dengan keinginan bunuh diri

dapat terjadi pada anak-anak dan orang dewasa .

PPDGJ III
Keyakinan yang menetap perihal adanya sekurang-kurangnya satu penyakit fisik yang serius yang melandasi keluhan atau keluhankeluhannya, meskipun pemeriksaan yang berulang tidak menujnang adanya alas an fisik yang memadai, ataupun adanya preokupasi yang menetap terhadap adanya deformitas atau perubahan bentuk/penampakan. Penolakan yang menetap dan tidak mau menerima nasihat atau dukungan penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak ditemukan penyakit atau abnormalitas fisik yang melandasi keluhan-keluhannya2

KRITERIA DIAGNOSTIK
DSM IV-TR A. Preokupasi dengan bayangan cacat dalam penampilan. Jika ditemukan sedikit anomaly tubuh, kekhawatiran orang tersebut adalah berlebihan dengan nyata. B. Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi social, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya. C. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya, ketidakpuasan dengan bentuk dan ukuran tubuh pada anorexia nervosa)

TERAPI
terapi dengan prosedur medic pembedahan, dermatologis, kedokteran gigi, dan yang lainnya biasanya tidak berhasil mengatasi keluhannya Obat-obat SSRI seperti fluoxetine dan klomipramin dapat mengurangi gejala yang dikeluhkan minimal 50%.

Bila terdapat gangguan mental lain yang menyertai maka pemberian psikoterapi dan farmakoterapi yang adekuat sebaiknya diberikan

Kepedulian penderita gangguan tubuh dismorfik terhadap bagian tubuh tertentu akan semakin menjadi-jadi sehingga berujung pada permintaan untuk operasi atau bantuan medis lainnya. Gangguan ini bersifat kronik.

GANGGUAN NYERI
Nyeri merupakan keluhan utama yang menjadi focus perhatian klinis. Nyeri dapat terjadi pada lebih dari satu tempat dan tidak dapat dimasukkan secara penuh sebagai kondisi medic nonpsikiatrik maupun neurologic Gangguan ini berkaitan dengan penderitaan emosional dan hambatan dalam fungsi kehidupan. Gangguan nyeri merupakan keluhan tersering dalam praktek kedokteran, lebih banyak pada perempuan dibandingkan dengan lakilaki4

Defisiensi endorphin berhubungan dengan peningkatan stimulus sensorik yang datang.

Nyeri yang sulit diobati telah diketahui sebagai sarana untuk memanipulasi dan memperoleh keuntungan dalam hubungan interpersonal, misalnya untuk memastikan kesetiaan anggota keluarga

Perilaku nyeri diperkuat apabila dihargai dan dihambat apabila diabaikan atau diberi hukuman.

Nyeri dapat berfungsi sebagai cara untuk memperoleh cinta, hukuman terhadap kesalahan, dan menebus rasa bersalah atau perasaan bahwa dirinya jahat

mengekspresikan konflik intrapsikik secara simbolik lewat tubuh. secara tak sadar menganggap luka emosional sebagai suatu kelemahan dan tak diperbolehkan secara sosial sehingga memindahkan masalah pada tubuhnya

Pasien biasanya sekumpulan orang yang bersifat heterogen dengan nyeri pinggang bawah, sakit kepala, nyeri fasial atipikal, nyeri pelvic kronik, dan nyeri lainnya yang dapat terjadi setelah trauma, neuropatik, neurologik, iatrogenic atau muskulaoskeletal.
Pasien biasanya meimiliki riwayat prawatan medis dan pembedahan yang panjang. Gejala depresi berat terjadi pada 25-50% dari pasien gangguan nyeri

DSM-IV-TR :
A. Nyeri pada satu atau lebih tempat anatomis merupakan pusat gambaran klinis dan cukup parah untuk memerlukan perhatian klinis. B. Nyeri menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi social, pekerjaan, atau fungsi penting lain. C. Factor psikologis dianggap memiliki peranan penting dalam onset, kemarahan, eksaserbasi atau bertahannya nyeri. D. Gejala atau deficit tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau berpura-pura). E. Nyeri tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mood, kecemasan, atau gangguan psikotik dan tidak memenuhi criteria dipareunia

KRITERIA DIAGNOSTIK
PPDGJ III A. Keluhan utama adalah nyeri berat menyiksa dan menetap, yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya atas dasar proses fisiologik maupun gangguan fisik. B. Nyeri timbul dalam hubungan dengan adanya konflik emosional atau masalah psikososial yang cukup jelas untuk dapat dijadika alasan dalam mempengaruhi adanya gangguan tersebut.

C. Dampaknya adalah meningkatnya perhatian dan dukungan baik personal maupun medis untuk yang bersangkutan

TERAPI
Rehabilitasi harus disertakan ke dalam terapi pasien dengan gangguan ini. Farmakoterapi yang digunakan antara lain SSRI, antidepresan trisiklik, dan amfetamin. Sedangkan psikoterapi yang dipilih adalah terapi kognitif untuk mengubah pikiran negative dan mengembangkan sikap positif.

terapi kognitif-perilaku ( CBT ) adalah untuk mengembalikan rasa self-efficacy dengan mendidik pasien tentang siklus nyeri - dan - ketegangan , dengan mengajarkan mereka bagaimana untuk secara aktif mengelola rasa sakit dan penderitaan , dan dengan menginformasikan mereka tentang efek terapi obat mereka . CBT adalah waktu terbatas , terstruktur , dan berorientasi pada tujuan .

Beberapa teknik mengurangi ketegangan meliputi relaksasi progresif otot , citra visual , hipnosis , biofeedback dan . Buku harian sakit berguna untuk menggambarkan pola harian rasa sakit dan untuk membantu pasien mengidentifikasi kegiatan , emosi , dan pikiran yang meringankan atau memperburuk rasa sakit

AWAS : Pasien dengan gangguan Nyeri yang telah dikenali atau belum sering mengobat diri dengan obat nyeri. Awas kemungkinan ketergantungan obat.

GANGGUAN SOMATOFORM YANG TIDAK TERDIFFERENTIASI


Satu atau lebih gejala fisik yang tidak dapat dijelaskan yang berlangsung selama paling sedikit 6 bulan.

Pada Autonomic arousal disorder, pasien terpengaruh dengan gejala-gejala gangguan somatoform yang terbatas pada gangguan fungsi saraf otonom saja. Gejala-gejala yang sering dikeluhkan oleh pasien-pasien tersebut antara lain keluhan sistem kardiovaskular, respiratori, gastrointestinal, urogenital, dan dermatologikal. Beberapa pasien lainnya mengeluh akan kelemahan dan ketidak berdayaan melakukan pekerjaan sehari-hari oleh karenanya

Terdapat dua pola gejala yang dapat terlihat pada pasien golongan ini yaitu gangguan yang terkait dengan sistem saraf otonom dan gangguan yang terkait dengan sensasi rasa fatigue ataupun kelemahan..

Salah satu (1)atau (2)

KRITERIA DIAGNOSTIK
Keriteria Diagnosis untuk Gangguan Somatoform yang Tidak Digolongkan : Satu atau lebih keluhan fisik (misalnya kelelahan, hilangnya nafsu makan, keluhan gastrointestinal atau saluran kemih)

Setelah pemeriksaan yang tepat, gejala tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi medis umum yang diketahui atau oleh efek langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol) Jika terdapat kondisi medis umum yang berhubungan, keluhan fisik atau gangguan sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan menurut riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratonium.

Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.

Durasi gangguan sekurangnya enam bulan.


Gangguan tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya gangguan somatoform, disfungsi seksual, gangguan mood, gangguan kecemasan, gangguan tidur, atau gangguan psikotik).

Gejala tidak ditimbulkan dengan sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau berpura-pura)

GANGGUAN SOMATOFORM YANG TIDAK TERPERINCI


Diagnosis ini digunakan apabila keluhan fisik bersifat multiple, bervariasi dan menetap, tetapi tidak disertai dengan gambaran klinis yang khas dan lengkap dari gangguan somatisasi.

pasien mengemukakan keluhan-keluhan tidak dramatis dan tidak kuat, keluhan yang diutarakan tidak terlalu banyak, atau tidak ada gangguan pada fungsi sosial dan keluarga. Pada diagnosa ini, belum dapat diketahui pasti ada tidaknya faktor psikologis yang mendasari, namun tidak boleh ditemukan adanya faktor fisik yang mendasari keluhan-keluhan pasien

KRITERIA DIAGNOSTIK
A.Pseudokiesis : keyakinan palsu sedang hamil, yang disertai dengan tanda objektif kehamilan, yang dapat berupa pembesaran perut (walaupun umbilicus tidak menjadi menonjol), penurunan aliran menstruasi, amenorea, sensasi subjektif gerakan janin, dan nyeri persalinan pada tanggal yang diperkirakan terjadinya persalinan.

Perubahan endokrin mungkin ditemukan tetapi sindroma tidak dapat dijelaskan oleh suatu kondisi medis umum yang menyebabkan perubahan endokrin (misalnya, tumor yang mensekresikan hormone).
B. Suatu gangguan yang melibatkan gejala hipokondriasis non psikiatrik dengan lama kurang dari 6 bulan C. Suatu gangguan yang melibatkan keluhan fisik yang tidak dapat dijelaskan (misalnya. Kelelahan atau kelemahan tubuh) dengan lama kurang dari 6 bulan yang tidak karena gangguan mental lain

TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai