Anda di halaman 1dari 18

ASAS-ASAS DAN DASAR-DASAR

PERJANJIAN INTERNASIONAL

DIREKTORAT PERJANJIAN
EKONOMI DAN SOSIAL BUDAYA
DEPARTEMEN LUAR NEGERI
______________________________
Disampaikan dalam Rangka Bimbingan Teknis Program Kerjasama
Ekonomi Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan, Makassar, 5 – 7
September
Pendahuluan

Perjanjian Internasional merupakan salah satu


sumber hukum internasional utama, sehingga
dengan demikian Hukum Internasional sama
sekali tidak dapat dipisahkan dari keberadaan
perjanjian-perjanjian internasional yang dibuat
oleh negara-negara.
Perjanjian internasional dalam Konvensi Wina
tahun 1969 Pasal 2 (1) (a) diartikan sebagai :

“An International agreement concluded between States in


written form and governed by international law, whether
embodied in a single instrument or in two or more related
instruments and whatever its particular designation”
(perjanjian internasional adalah semua perjanjian yang dibuat
oleh negara sebagai salah satu subjek hukum internasional,
yang diatur oleh hukum internasional dan berisi ikatan-ikatan
yang mempunyai akibat-akibat hukum.)
UNSUR-UNSUR PERJANJIAN
INTERNASIONAL

Berdasarkan pengertian dalam Konvensi Wina diatas,


maka unsur-unsur perjanjian internasional adalah :
 Suatu persetujuan internasional
 Dibuat oleh negara negara
 Dalam bentuk tertulis
 Didasarkan pada hukum internasional
 Dibuat dalam instrumen tunggal. Dua atau lebih
 Memiliki nama apapun
Bentuk Perjanjian Internasional

Treaty  Final Act Arrangement


Convention  Exchange of Notes
Agreement  Agreed Minutes
Memorandum of Understanding  Summary Records
Protocol  Process Verbal
Charter  Modus Vivendi
Declaration  Letter of Intent
KEMAMPUAN MEMBUAT PERJANJIAN
INTERNASIONAL

Sementara itu “Treaty Making Powers” sendiri


berdasarkan Konvensi Wina 1969 tentang Perjanjian
Internasional berada ditangan “the big three”, yaitu :
Kepala Negara (Head of State);
Kepala Pemerintahan (Head of Government);
Menteri Luar Negeri (Ministry for Foreign Affairs).

Sehingga tanpa menggunakan Surat Kuasa “Full


Powers” mereka dapat menandatangani suatu
perjanjian internasional.
PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM
PERSPEKTIF PERUNDANG-UNDANGAN NASIONAL

Dsr Hk Pembuatan PI  Ps. 11 UUD 1945


Sepanjang berkaitan dengan hubungan dan kerjasama
luar negeri, Pasal 11 UUD 1945 di atas telah melahirkan
dua buah Undang-undang penting yaitu : UU No.37 tahun
1999 tentang hubungan Luar Negeri dan UU No. 24
tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional, dalam
pelaksanaannya kedua Undang-undang ini terkait erat
dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Definisi Perjanjian Internasional (UU No. 24/2000)

“Perjanjian internasional adalah perjanjian,


dalam bentuk dan nama tertentu, yang diatur
dalam hukum internasional yang dibuat
secara tertulis serta menimbulkan hak dan
kewajiban di bidang hukum publik.”
Berkenaan dengan prosedur pembuatan perjanjian, UU
37/1999 tentang Hubungan Luar Negeri dan UU 24/2000
tentang Perjanjian Internasional menetapkan bahwa :

“Lembaga negara dan lembaga pemerintah,


baik departemen maupun non-departemen, di
tingkat pusat dan daerah yang mempunyai
rencana untuk membuat perjanjian
internasional, terlebih dahulu harus melakukan
konsultasi dan koordinasi mengenai rencana
tersebut dengan Menteri Luar Negeri.”
One Door Policy

Kewajiban untuk melakukan konsultasi tersebut sejalan


dengan kebijakan “one door policy” pemerintah yang
menetapkan Departemen Luar Negeri sebagai
koordinator dalam penyelenggaraan dan kerjasama
luar negeri. Melalui mekanisme konsultasi dan
koordinasi ini, perjanjian internasional yang diadakan
oleh pemerintah dapat dilakukan secara aman baik dari
segi politis, security, yuridis dan teknis
Pedoman dan Prinsip Pembuatan Perjanjian

 Pedoman: Kepentingan Nasional.


 Prinsip:
 Kesepakatan para pihak,
 Saling menguntungkan / manfaat,
 Kesetaraan/persamaan kedudukan; dan
 Itikad baik.
Kerangka Perjanjian

 Judul
 Pembukaan /Mukaddimah
 Batang tubuh
 Ketentuan akhir
 Lampiran (jika perlu)
Bentuk-bentuk Perjanjian
 Perjanjian Bilateral
 Perjanjian Regional
 Perjanjian Multilateral

* Perjanjian Payung (Umbrella Agreement)


* Perjanjian bukan payung yg berdiri sendiri
* Perjanjian turunan dari Perjanjian Payung
Tahap Pembuatan Perjanjian

 Penjajagan
 Perundingan
 Perumusan Naskah
 Penerimaan Naskah
 Penandatanganan
Mulai Berlakunya Perjanjian

Setelah Penandatanganan.
Setelah Ratifikasi/pengesahan.
Setelah Pertukaran Nota

*) Selain Presiden/Menlu; penandatanganan


Perjanjian Induk perlu “Full Powers”
Penyimpanan Naskah Asli Perjanjian

 Naskah asli disimpan di Treaty Room


 Lembaga/Badan Pemrakarsa
diberikan salinan naskah resmi
(certified true copy) perjanjian
dimaksud.
Tahap Pelaksanaan Perjanjian

 Mengkaji isi Perjanjian secara


berkala
 Mengevaluasi pelaksanaan
perjanjian setelah masa
berlakunya berakhir.
Pengakhiran Perjanjian

 Kesepakatan para pihak sesuai prosedur dlm Perjanjian,


 Tujuan Perjanjian telah tercapai,
 Terdapat perubahan mendasar yg mempengaruhi
pelaksanaan perjanjian,
 Salah satu pihak tdk melaksanakan /melanggar perjanjian,
 Dibuat perjanjian baru menggantikan perjanjian lama,
 Muncul norma baru dlm Hukum Internasional,
 Terdapat hal-hal yg merugikan kepentingan nasional.

*) Dlm hal terjadi Suksesi Negara  P.I tetap berlaku selama neg.
Pengganti menyatakan “terikat” pada Perjanjian tersebut