Anda di halaman 1dari 29

PEMBIMBING: dr. Zulkarnaini, Sp.

OT

Osteoporosis merupakan salah satu penyakit degeneratif yaitu suatu penyakit yang berhubungan dengan usia, yang tidak dirasakan karena kejadian penurunan massa tulang dapat terjadi bertahun-tahun tanpa disertai tanda-tanda khusus, sampai penderita mengalami patah tulang.
disebut silent epidemic disease

Suatu

penyakit yang ditandai dengan berkurangnya kepadatan massa tulang dan kerusakan mikroarsitektur jaringan tulang yang mengakibatkan tulang rapuh dan mudah patah

Di

AS 10 juta orang mengalami osteoporosis Di Indonesia 8,5 juta dari 17 juta lansia mengalami osteoporosis Wanita : Pria = 6:1 Tipe I 2:1 Tipe II Usia : 50-75 Tipe I >70 Tipe II

Setiap

saat terjadi remodeling tulang di tulang manusia. Proses remodeling ini dimulai dengan terjadinya resorpsi atau penyerapan atau penarikan tulang oleh sel tulang yaitu OSTEOKLAS, kemudian tulang yang sudah diserap itu tadi akan diisi oleh tulang yang baru dengan bantuan sel tulang yang bernama OSTEOBLAS.

Remodelling

adalah suatu proses yang terus menerus. Pada osteoporosis, massa tulang berkurang, yang menunjukkan bahwa laju resorpsi tulang pasti melebihi laju pembentukan tulang.

Osteoporosis Primer : Tidak berkaitan dengan penyakit lain. Biasanya akibat terhentinya produksi hormon, disamping bertambahnya usia.
a.

Osteoporosis Tipe I
Osteoporosis primer berhubungan dengan kelainan pada tulang, yang menyebabkan peningkatan proses resorpsi di tulang trabekula sehingga meningkatkan resiko fraktur vertebra dan Colles. Pada usia dekade awal pasca menopause, wanita lebih sering terkena daripada pria dengan perbandingan 6-8: 1 pada usia ratarata 53-57 tahun.

b. Osteoporosis Tipe II Kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan diantara kecepatan hancurnya tulang dan pembentukan tulang yang baru. Senilis berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia diatas 70 tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita. Wanita seringkali menderita osteoporosis senilis dan postmenopausal.

OSTEOPOROSIS

SEKUNDER

Disebabkan oleh berbagai penyakit tulang (kronik rhematoid artritis, TB spondilitis, osteomalasia, dll), pengobatan menggunakan kortikosteroid untuk jangka waktu yang lama, astronot tanpa gaya berat, paralise otot, tidak bergerak dalam waktu yang lama, hipertiroid, dll.

Pembentukan

massa puncak tulang yang kurang baik selama masa pertumbuhan


pengurangan massa tulang setelah menopause.

Meningkatnya

Wanita
Usia Def.

gender

Kalsium dan Vitamin D Faktor Hormonal Amenorea Menopause Tingkat Testosteron Rendah Pada Pria Riw. Keluarga Kurang olahraga Merokok dan Alkohol berlebihan

Tanda

klinis utama dari osteoporosis adalah fraktur pada vertebra, pergelangan tangan, pinggul, humerus, dan tibia. Gejala yang paling lazim dari fraktur korpus vertebra adalah nyeri pada punggung dan deformitas pada tulang belakang. Nyeri biasanya terjadi akibat kolaps vertebra terutama pada daerah dorsal atau lumbal.

Gejala-gejala

baru timbul pada tahap osteoporosis lanjut, seperti: 1. Patah Tulang 2. Punggung yang semakin membungkuk 3. Hilangnya tinggi badan 4. Nyeri punggung patah tulang akibat trauma yang ringan 5. Tubuh semakin pendek, Kifosis dorsal bertambah, nyeri tulang

Pada

seseorang yang mengalami patah tulang, diagnosis osteoporosis ditegakkan berdasarkan gejala, pemeriksaan fisik dan rontgen tulang.

RNTGEN TULANG Penipisan korteks dan daerah trabekuler yang lebih lusen. Hal ini akan tampak pada tulangtulang vertebra yang memberikan gambaran picture-frame vertebra. Pemeriksaan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk menyingkirkan keadaan lainnya penyebab osteoporosis yang bisa diatasi.

Di

Indonesia dikenal 3 penegakan diagnosa osteoporosis, yaitu: 1. Densitometer (Lunar) menggunakan teknologi DXA (dual-energy x-ray absorptiometry) 2. Densitometer-USG Pemeriksaan ini lebih tepat disebut sebagai screening awal osteoporosis

3.

Pemeriksaan lab untuk osteocalcin dan dioksipiridinolin, CTx. Proses pengeroposan tulang dapat diketahui dengan memeriksakan penanda biokimia CTx (C-Telopetide)

Pada pengukuran dengan alat DENSITOMETRY, pasien akan diukur BMDnya. BMD itu adalah ukuran kepadatan tulang. Angka BMD 1 sampai Positif termasuk NORMAL Angka BMD 1 s.d 2,5 termasuk OSTEOPENIA Angka BMD dibawah 2,5 termasuk OSTEOPOROSIS Dari pengukuran BMD bisa mengantisipasi untuk hal hal yang lebih parah dengan prinsip: Bila BMD NORMAL, maka usaha yang dilakukan adalah mempertahankan agar tetap NORMAL Bila BMD OSTEOPENIA,harus diterapi atau diobati agar menjadi NORMAL Bila BMD OSTEOPOROSIS, harus diobati agar jangan menjadi parah yang bisa mengakibatkan tulang patah

Mempertimbangkan

2 hal, yaitu:

1. Pencegahan - Perubahan gaya hidup : Olahraga, berhenti merokok dan alkohol, mengkonsumsi makanan seimbang dengan cukup kalsium dan vit. D

2. Terapi Hormon dan Obat-obatan a. Terapi Hormon estrogen setelah menopause, juga tersedia dalam kombinasi dengan progesteron

b.

Obat-obatan yang mencegah keropos tulang dan kerusakan. Saat ini obat yang paling efektif adalah agen antiresorptive yang mengurangi pembuangan kalsium dari tulang
- Golongan bifosfonat, Selective Estrogen Receptor Modulator (SERM), Metabolit vitamin D, Kalsitonin, Strontium ranelate.

Pembedahan

jika sudah terjadi fraktur terutama fraktur panggul

Tidak

ada obat untuk osteoporosis, tetapi dapat dikendalikan. Sebagian besar orang yang mengalami osteoporosis tarif baik setelah mereka mendapat perawatan. Obatobatan yang tersedia sekarang hanya untuk mengurangi pembuangan kalsium dari tulang, dan menghentikan perkembangan penyakit.