Anda di halaman 1dari 25

GANGGUAN PERILAKU DAN EMOSIONAL DENGAN ONSET PADA MASA KANAK DAN REMAJA

dr. Eliyati D. Rosadi SpKj(K)

Pendahuluan
Gangguan tingkah laku pada anak dan
remaja, suatu pola tingkah laku yang berkembang dan khas yang menganiaya hak orang lain atau aturan masyarakat pada umumnya. Tingkah laku menetap selama 12 bulan.

Kriteria Diagnostik menurut DSM IV TR


A. Gejala-gejala Pola tingkah laku yang berulang dan menetap yang mana norma atau aturan sosial hak orang lain terancam, yang di manifestasikan dengan adanya 3 atau lebih sejak dalam 12 bulan terakhir dan satu kriteria dalam waktu 6 bulan terakhir. Agresi terhadap orang atau binatang
Melakukan kekerasan mengancam atau mengintimidasi sering berkelahi Menggunakan alat yang dapat melukai orang lain Melakukan kekerasan secara fisik Melakukan kekerasan kepada binatang Mencuri Memaksa untuk melakukan aktivitas seksual

Kriteria Diagnostik menurut DSM IV TR


A. Gejala-gejala

Merusak milik orang lain

Membakar sehingga menimbulkan kerusakan Merusak milik orang lain tanpa membakar Merusak dan masuk ke dalam rumah Sering bohong untuk mendapatkan barang yang yang disukai Mencuri barang yang tidak berguna, mencopet Sering keluar malam meskipun di larang orang tua, mulai sebelum umur 13 tahun Melarikan diri dari rumah sekurang-kurangnya 2x atau 1x dalam waktu yang lama Sering bolos sekolah mulai sebelum usia 13 tahun

Kriteria Diagnostik menurut DSM IV TR


B. Gangguan dalam tingkah laku ini menyebabkan gangguan sosial, akademik C. Bila usia 18 tahun atau lebih, kriteria ini tidak memenuhi untuk gangguan kepribadian anti sosial.

Etiologi
Banyak faktor yang mempengaruhi dan

merupakan interaksi dari faktor yang beragam. Gangguan yang heterogen merupakan suatu proses perkembangan dan terjadinya diagnosis karena melalui pengaruh lingkungan pada individu yang vulnerable (rapuh) pada usia perkembangan yang kritis.

Etiologi
Biologik
aktivitas norepinephrin dan dopamin yang meninggi tingkah laku agresif

Psikologik
Pada anak dengan gangguan tingkah laku biasanya performance akademiknya jelek, hal ini dapat juga merupakan hubungan yang timbal balik, anak frustasi dengan hasil sekolah akan tampil dalam tingkah laku anti sosial.

Etiologi
Psikologik...
Menurut penelitian, ada hubungan antara rendahnya IQ dengan tingkah laku anti sosial, tetapi hal ini hanya terjadi pada masa remaja.

Sosial
Faktor lingkungan yang beresiko untuk timbulnya gangguan tingkah laku termasuk keluarga dan tetangga yang khas, terjadinya maltreatment, disiplin yang keras, atau kekerasan secara fisik dan seksual

Etiologi
Sosial...
Cara pengasuhan yang kurang baik dari orangtua termasuk menolak, menelantarkan dan kurang keterlibatan. Perilaku yang menyimpang diperkuat oleh disiplin yang konsisten

Pedoman Diagnostik (PPDGJ III)


GANGGUAN HIPERKINETIK

Ciri-ciri utama ialah berkurangnya perhatian dan

aktivitas berlebihan. Kedua ciri ini menjadi syarat mutlak untuk diagnosis dan haruslah nyata ada pada lebih dari satu situasi (misalnya : di rumah, di kelas, di klinik) Berkurangnya perhatian tampak jelas dari terlalu dini dihentikannya tugas dan ditinggalkannya kegiatan sebelum tuntas selesai. Anak-anak ini seringkali beralih dari satu kegiatan ke kegiatan lain, rupanya kehilangan minatnya terhadap tugasnya yang satu, karena perhatiannya tertarik pada kegiatan lainnya (sekalipun kajian laboratorium pada umumnya tidak menunjukkan adanya derajat gangguan sensorik atau perseptual yang tidak biasa). Berkurangnya dalam ketekunan dan perhatian ini seharusnya hanya di diagnosis bila sifatnya berlebihan bagi anak dengan usia atau IQ yang sama.

Pedoman Diagnostik (PPDGJ III)


GANGGUAN HIPERKINETIK...

Hiperaktivitas dinyatakan dalam kegelisahan yang

berlebihan, khususnya dalam situasi yang menuntut keadaaan relatif tenang. Hal ini, tergantung situasinya, mencakup anak itu berlari-lari atau berlompat-lompat sekeliling ruangan, ataupun bangun dari duduk/kursi dalam situasi yang menghendaki anak itu tetap duduk, terlalu banyak bicara dan ribut, atau kegugupan/kegelisahan dan berputar-putar (berbelitbelit). Tolak ukur untuk penilaiannya ialah bahwa suatu aktivitas di sebut berlebihan dalam konteks apa yang diharapkan pada suatu situasi dan dibandingkan dengan anak-anak lain yang sama umur dan nilai IQ nya. Ciri khas perilaku ini paling nyata di dalam suatu situasi yang berstruktur dan diatur yang menuntut suatu tingkat sikap pengendalian diri yang tinggi.

Pedoman Diagnostik (PPDGJ III)


GANGGUAN HIPERKINETIK...

Gambaran penyerta tidaklah cukup bahkan tidak

diperlukan bagi suatu diagnosis, namun demikian ia dapat mendukung. Kecerobohan dalam hubunganhubungan sosial, kesembronoan dalam situasi yang berbahaya dan sikap yang secara impulsif melanggar tata tertib sosial (yang diperlihatkan dengan mencampuri urusan atau menganggu kegiatan orang lain, terlalu cepat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang belum lengkap diucapkan orang, atau tidak sabar menunggu gilirannya), kesemuanya merupakan ciri khas dari anakanak dengan gangguan ini.

Pedoman Diagnostik (PPDGJ III)


GANGGUAN HIPERKINETIK...

Gangguan belajar serta kekakuan motorik

sangat sering terjadi dan haruslah dicatat secara terpisah bila ada, namun demikian tidak boleh dijadikan bagian dari diagnosis aktual mengenai gangguan hiperkinetik yang sesungguhnya. Gejala-gejala dari gangguan tingkah laku bukan merupakan kriteria eksklusi ataupun kriteria inklusi untuk diagnosis utamanya, tetapi ada tidaknya gejala-gejala itu dijadikan dasar untuk subdivisi utama dari gangguan tersebut.

Pedoman Diagnostik (PPDGJ III)


GANGGUAN TINGKAH LAKU...

Gangguan tingkah laku berciri khas

dengan adanya suatu pola tingkah laku dissosial, agresif atau menentang, yang berulang dan menetap Diagnosis ini tidak dianjurkan kecuali bila tingkah laku seperti yang diuraikan di atas berlanjut selama 6 bulan atau lebih.

Pedoman Diagnostik (PPDGJ III)


GANGGUAN TINGKAH LAKU...

Penilaian tentang adanya gangguan tingkah laku perlu memperhitungkan

tingkat perkembangan anak. Temper tantrums, merupakan gejala normal pada perkembangan anak berusia 3 tahun, dan adanya gejala ini bukan merupakan dasar bagi diagnosis ini. Begitu pula, pelanggaran terhadap hak orang lain (seperti pada tindak pidana pada kekerasan) tidak termasuk kemampuan anak berusia 7 tahun dan dengan demikian bukan merupakan kriteria diagnostik bagi anak kelompok usia tersebut. Contoh-contoh perilaku yang dapat menjadi dasar diagnosis mencakup hal-hal berikut: perkelahian atau menggertak pada tingkat berlebihan, kejam terhadap hewan atau sesama manusia, perusakan yang hebat atas barang milik orang, membakar, pencurian, pendustaan berulang-ulang, membolos dari sekolah dan lari dari rumah, sangat sering meluapkan temper tantrum yang hebat dan tidak biasa, perilaku provokatif yang menyimpang, dan sikap menentang yang berat serta menetap. Masing-masing dari kategori ini, apabila ditemukan, adalah cukup untuk menjadi alasan bagi diagnosis ini, namun demikian perbuatan dissosial yang terisolasi bukan merupakan alasan yang kuat.

Pedoman Diagnostik (PPDGJ III)


GANGGUAN TINGKAH LAKU TAK BERKELOMPOK Ciri khas dari gangguan tingkah laku tak berkelompok

ialah adanya kombinasi mengenai perilaku dissosial dan agresif berkelanjutan (yang memenuhi seluruh kriteria dan tidak terbatas hanya pada perilaku membangkang, menentang dan merusak), dengan sifat kelainan yang pervasif dan bermakna dalam hubungan anak yang bersangkutan dengan anak-anak lainnya. Tiadanya keterpaduan yang efektif dengan kelompok sebaya merupakan perbedaan penting dengan gangguan tingkah laku yang berkelompok (socialized) dan ini diutamakan di atas segala perbedaan lainnya.

Pedoman Diagnostik (PPDGJ III)


GANGGUAN TINGKAH LAKU TAK BERKELOMPOK...

Rusaknya hubungan dengan kelompok sebaya terutama


dibuktikan oleh keterkucilan dari dan / atau penolakan oleh, atau kurang disenanginya oleh anak-anak sebayanya, dan karena ia tidak mempunyai sahabat karib atau hubungan empatik, hubungan timbal balik yang langgeng dengan anak dalam kelompok usianya. Hubungan dengan orang dewasa pun ditandai oleh perselisihan, rasa bermusuhan, dan dendam. Hubungan baik dengan orang dewasa dapat terjalin (sekali pun biasanya kurang bersifat akrab dan percaya), dan seandainya ada, tidak menyisihkan kemungkinan diagnosis ini.

Pedoman Diagnostik (PPDGJ III)


GANGGUAN TINGKAH LAKU TAK BERKELOMPOK...

Tindak kejahatan lazim (namun tidak mutlak) dilakukan

sendirian. Perilaku yang khas terdiri dari: tingkah laku menggertak, sangat sering berkelahi, dan (pada anak yang lebih besar) pemerasan atau tindak kekerasan, sikap membangkang secara berlebihan, perbuatan kasar, sikap tidak mau bekerjasama, dan melawan otoritas, mengadat berlebihan dan amarah yang tak terkendali, merusak barang orang lain, sengaja membakar, perlakuan kejam terhadap hewan dan terhadap sesama anak. Namun ada pula anak yang terisolasi, juga terlibat dalam tindak kejahatan berkelompok. Maka jenis kejahatan yang dilakukan tidaklah penting dalam menegakkan diagnosis, yang lebih penting adalah soal kualitas hubungan personalnya.

Pedoman Diagnostik (PPDGJ III)


GG. TINGKAH LAKU BERKELOMPOK

Kategori ini berlaku terhadap gangguan

tingkah laku yang ditandai oleh perilaku dissosial atau agresif berkelanjutan terjadi pada anak yang pada umumnya cukup terintegrasi di dalam kelompok sebayanya.

Pedoman Diagnostik (PPDGJ III)


GG. TINGKAH LAKU BERKELOMPOK... Kunci perbedaan terpenting ialah terdapatnya ikatan persahabatan
langgeng dengan anak yang seusia. Seringkali, namun tidak selalu, kelompok sebaya itu terdiri atas anak-anak yang juga terlibat dalam kegiatan kejahatan atau dissosial (tingkahlaku anak yang tidak dibenarkan masyarakat justru dibenarkan oleh kelompok sebayanya itu dan diatur oleh sub kultur yang menyambutnya dengan baik). Namun hal ini bukan merupakan syarat mutlak untuk diagnosisnya, bisa saja anak itu menjadi warga kelompok sebaya yang tidak terlibat dalam tindak kejahatan sementara perilaku dissosial dilakukannya di luar lingkungan kelompok itu. Bila perilaku dissosial itu pada khususnya, merupakan penggertakkan terhadap anak lain, boleh jadi hubungan dengan korbannya atau beberapa anak lain terganggu. Perlu ditegaskan lagi, bahwa hal ini tidak membatalkan diagnosisnya, asal saja anak itu memang termasuk dalam kelompok sebaya dan ia merupakan anggota yang setia dan mengadakan ikatan persahabatan yang langgeng.

Pedoman Diagnostik (PPDGJ III)


GANGGUAN SIKAP MENENTANG
Ciri khas dari jenis gangguan tingkah laku ini

ialah berawal pada anak di bawah usia 9 dan 10 tahun. Ditandai oleh adanya perilaku menentang, ketidakpatuhan (disobedient), perilaku provokatif dan tidak adanya tindakan dissosial dan agresif yang lebih berat yang melanggar hukum ataupun melanggar hak asasi orang lain.

Pedoman Diagnostik (PPDGJ III)


GANGGUAN SIKAP MENENTANG... Pola perilaku negativistik, bermusuhan, menentang, provokatif dan
merusak tersebut berlangsung secara berkelanjutan, yang jelas sekali melampaui rentang perilaku normal bagi anak pada kelompok usia yang sama dalam lingkungan sosial-budaya yang serupa, dan tidak mencakup pelanggaran yang lebih serius terhadap hak orang lain. Anak dengan gangguan ini cenderung sering kali dan secara aktif membangkang terhadap permintaan atau peraturan dari orang dewasa serta dengan sengaja mengusik orang lain. Lazimnya mereka bersikap marah, benci, dan mudah terganggu oleh orang lain yang dipersalahkan atas kekeliruan dan kesulitan yang mereka lakukan sendiri. Mereka umumnya mempunyai daya toleransi terhadap frustasi yang rendah dan cepat hilang kesabarannya. Lazimnya sikap menentang itu bersifat provokatif, sehingga mereka mengawali konfrontasi dan seringkali menunjukkan sifat kasar sekali, kurang suka berkerja sama, menentang otoritas.

Pedoman Diagnostik (PPDGJ III)


GG. CAMPURAN TINGKAH LAKU DAN EMOSI. Ciri khas dari kelompok gangguan ini ialah adanya

gabungan dari perilaku agresif, dissosial atau menentang yang menetap dengan gejala yang nyata dari depresi, anxietas atau gangguan emosional lainnya. Gangguan ini harus cukup berat untuk dapat memenuhi kriteria gangguan tingkah laku pada masa kanak dan gangguan emosional pada masa kanak atau bentuk gangguan neurotik pada masa dewasa atau gangguan suasana perasaan / mood.

Pedoman Diagnostik (PPDGJ III)


GG. TINGKAH LAKU DEPRESIF Kombinasi dari gangguan tingkah laku masa

kanak dengan keadaan depresif yang berkelanjutan dan menetap, yang dinyatakan dalam gejala seperti rasa duka nestapa yang berlebihan, hilangnya minat dan kesenangan terhadap kegiatan sehari-hari, sikap menyesali diri sendiri dan keputus-asaan. Sering juga mengalami susah tidur atau kurang nafsu makan.

Pedoman Diagnostik (PPDGJ III)


GANGGUAN CAMPURAN TINGKAH LAKU DAN EMOSI LAINNYA

Kombinasi dari gangguan tingkah laku

masa kanak dengan gejala emosional yang nyata dan menetap seperti anxietas, takut, obsesi atau kompulsi, depersonalisasi atau derealisasi, berbagai fobia atau hipkondriasis.