Anda di halaman 1dari 30

PAJAK PENGHASILAN UMUM

Hanryono, S.E., M.Ak.

PAJAK PENGHASILAN UMUM


1.

2. 3. 4. 5.

6. 7.

8.
9.

Pengertian umum tentang pajak penghasilan (PPh) Subjek PPh dan Bukan Subjek PPh Objek PPh dan bukan objek PPh Sistematika perhitungan PPh Biaya-biaya yang diperkenankan dan yang tidak diperkenankan Tarif pajak dan PTKP Kredit pajak Depresiasi dan amortisasi secara fiskal Penggabungan dan pemisahan penghasilan

1. PENGERTIAN UMUM

Pajak Penghasilan (PPh) merupakan pajak yang dikenakan terhadap penghasilan yang diterima atau diperoleh Subyek Pajak dalam tahun pajak. Subyek Pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan disebut Wajib Pajak. Kewajiban pajak bagi wajib pajak secara lengkap meliputi kewajiban menghitung dan membayar pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam suatu kegiatan usaha, serta melakukan pemotongan, pemungutan pajak, berikut menyetor dan melaporkan ke Kantor Pelayanan Pajak setempat.

2. SUBJEK PAJAK PENGHASILAN DAN BUKAN SUBJEK PAJAK PENGHASILAN


Subjek Pajak Penghasilan meliputi: Orang Pribadi
Melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dan atau yang menerima penghasilan dari bekerja.

Warisan yang belum terbagi


Harta yang ditinggalkan oleh pewaris namun belum dibagikan kepada ahli waris yang dalam pemenuhan kewajiban pajaknya diwakili oleh salah seorang ahli warisnya, atau pelaksana wasiatnya, atau yang mengurus harta peninggalannya dan akan berakhir jika warisan tersebut telah dibagikan kepada ahli waris.

Badan
Sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha atau tidak melakukan usaha, seperti Perseroan Terbatas (PT), BUMN/BUMD, CV, Koperasi, Yayasan, Lembaga.

2. SUBJEK PAJAK PENGHASILAN DAN BUKAN SUBJEK PAJAK PENGHASILAN


Subjek Pajak Penghasilan meliputi: Bentuk Usaha Tetap (BUT)
Bentuk usaha yang dipergunakan orang pribadi yang tidak bertempat tinggal atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia , untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia, seperti cabang, perwakilan, kantor manajemen, dll.

TIDAK termasuk Subjek Pajak Penghasilan Terdiri dari badan perwakilan Negara asing, pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat, organisasi internasional, dan pejabat perwakilan organisasi internasional.

3. OBJEK PAJAK PENGHASILAN DAN


BUKAN OBJEK PAJAK PENGHASILAN
Termasuk Objek Pajak Penghasilan Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun atau imbalan dalam bentuk lainnya. Hadiah dari undian atau pekerjaan/kegiatan dan penghargaan. Penghasilan dari usaha/kegiatan (laba usaha) Penghasilan dari penggunaan modal/harta dan sewa (baik harta bergerak maupun tidak bergerak).

3. OBJEK PAJAK PENGHASILAN DAN


BUKAN OBJEK PAJAK PENGHASILAN
Termasuk Objek Pajak Penghasilan Keuntungan penjualan/pengalihan harta/aktiva tetap. Selisih lebih karena penilaian kembali (revaluasi) aktiva tetap. Keuntungan karena pembebasan hutang. Keuntungan karena selisih kurs mata uang. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian hutang. Deviden dengan nama dan dalam bentuk apapun. Royalty.

3. OBJEK PAJAK PENGHASILAN DAN


BUKAN OBJEK PAJAK PENGHASILAN
Termasuk Objek Pajak Penghasilan Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala. Premi asuransi. Penerimaan kembali pajak yang telah dibebankan sebagai biaya. Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari wajib pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas. Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak. Penghasilan dari usaha berbasis syariah.

3. OBJEK PAJAK PENGHASILAN DAN


BUKAN OBJEK PAJAK PENGHASILAN
Termasuk Objek Pajak Penghasilan Imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang yang mengatur mengenai ketentuan umum dan tata cara perpajakan. Surplus Bank Indonesia. TIDAK Termasuk Objek Pajak Penghasilan Berdasarkan ketentuan Pasal 4 ayat (3) Undang-undang nomor 10 tahun 1994 sebagaimana telah dirubah Undangundang nomor 36 tahun 2008, terhadap penghasilanpenghasilan tertentu yang diterima Wajib Pajak Badan tidak dikenakan Pajak Penghasilan (bukan Obyek Pajak) adalah : Bantuan/sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan para penerima zakat yang berhak.

3. OBJEK PAJAK PENGHASILAN DAN


BUKAN OBJEK PAJAK PENGHASILAN
TIDAK Termasuk Objek Pajak Penghasilan Warisan. Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai pengganti saham atau penyertaan modal. Harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat dan oleh badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial atau pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan Imbalan dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan. Pembayaran klaim dari perusahaan asuransi.

3. OBJEK PAJAK PENGHASILAN DAN


BUKAN OBJEK PAJAK PENGHASILAN
TIDAK Termasuk Objek Pajak Penghasilan Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh Perseroan Terbatas sebagai wajib pajak dalam negeri, Koperasi, BUMN, BUMD, dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat :
a. b.

Dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan. Bagi PT, BUMN, BUMD, yang menerima dividen paling rendah 25% dari jumlah modal yang disetor dan harus mempunyai usaha aktif diluar kepemilikan saham tersebut.

Iuran yang diterima atau diperoleh Dana Pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan, baik yang dibayar oleh pemberi kerja atau pegawai. Penghasilan dari modal yang ditanam oleh Dana Pensiun dalam bidang-bidang tertentu yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.

3. OBJEK PAJAK PENGHASILAN DAN


BUKAN OBJEK PAJAK PENGHASILAN
TIDAK Termasuk Objek Pajak Penghasilan Bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas sahamsaham, persekutuan, perkumpulan, firma dan kongsi. Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa bagian laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia, dengan syarat badan pasangan usaha tersebut : Merupakan perusahaan kecil, menengah, atau yang menjalankan kegiatan dalam sektor-sektor usaha yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan. Sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia.

4. SISTEMATIKA PERHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN WP BADAN (PEMBUKUAN)


Penghasilan Bruto
Biaya-Biaya Penghasilan Neto

Penghasilan Neto

Kompensasi Kerugian

Penghasilan Kena Pajak

Penghasilan Kena Pajak PPh Terutang

Tarif PPh Pasal 17


PPh Yg Dipotong/pungut Pihak Lain

PPh Terutang

PPh Yg Harus Dibayar Sendiri

PPh Yg Harus Dibayar Sendiri

PPh Yg Telah Dibayar Sendiri

PPh Kurang/ Lebih Bayar

4. SISTEMATIKA PERHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN WP ORANG PRIBADI (PEMBUKUAN)


Penghasilan Bruto
Biaya-Biaya Penghasilan Neto

Penghasilan Neto

PTKP

Penghasilan Kena Pajak

Penghasilan Kena Pajak PPh Terutang

Tarif PPh Pasal 17


PPh Yg Dipotong/pungut Pihak Lain

PPh Terutang

PPh Yg Harus Dibayar Sendiri

PPh Yg Harus Dibayar Sendiri

PPh Yg Telah Dibayar Sendiri

PPh Kurang/ Lebih Bayar

4. SISTEMATIKA PERHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN WP ORANG PRIBADI (PENCATATAN/NORMA)


Penghasilan Bruto
Norma (%) Penghasilan Neto

Penghasilan Neto

PTKP

Penghasilan Kena Pajak

Penghasilan Kena Pajak PPh Terutang

Tarif PPh Pasal 17


PPh Yg Dipotong/pungut Pihak Lain

PPh Terutang

PPh Yg Harus Dibayar Sendiri

PPh Yg Harus Dibayar Sendiri

PPh Yg Telah Dibayar Sendiri

PPh Kurang/ Lebih Bayar

5. BIAYA-BIAYA YANG DIPERKENANKAN


DAN YANG TIDAK DIPERKENANKAN
Biaya-biaya yang diperkenankan sebagai pengurang di dalam penghitungan Pajak Penghasilan, yaitu : Biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan termasuk : Biaya pembelian bahan Upah, gaji, honorarium, bonus, tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang. Biaya bunga Biaya sewa Biaya royalti Biaya perjalanan dinas Biaya pengolahan limbah Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih Premi asuransi Biaya administrasi Pajak, kecuali pajak penghasilan Penyusutan dan amortisasi, untuk harta yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.

5. BIAYA-BIAYA YANG DIPERKENANKAN


DAN YANG TIDAK DIPERKENANKAN
Biaya-biaya yang diperkenankan sebagai pengurang di dalam penghitungan Pajak Penghasilan, yaitu : Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan. Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta perusahaan. Kerugian karena selisih kurs mata uang asing. Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan. Biaya beasiswa, magang dan pelatihan. Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional yang ketentuannya diatur Peraturan Pemerintah. Sumbangan dalam rangka penelitian pengembangan yang dilakukan di Indonesia ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah. Biaya pembangunan infrastruktur sosial ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah. Sumbangan fasilitas pendidikan yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah. Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah.

5. BIAYA-BIAYA YANG DIPERKENANKAN


DAN YANG TIDAK DIPERKENANKAN
Biaya-biaya yang TIDAK diperkenankan sebagai pengurang di dalam penghitungan Pajak Penghasilan, yaitu : Pembagian laba, termasuk dividen dan sisa hasil usaha koperasi. Biaya untuk kepentingan pribadi pemegang saham, sekutu atau anggota. Pembentukan cadangan, kecuali untuk usaha bank, sewa guna usaha dengan hak opsi, usaha asuransi dan pertambangan. Premi asuransi kesehatan, kecelakaan, jiwa, dwiguna, bea siswa yang dibayar oleh wajib pajak orang pribadi. Imbalan dalam bentuk natura (barang) dan kenikmatan (fasilitas), kecuali penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai serta kenikmatan daerah tertentu berkaitan pelaksanaan pekerjaan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

5. BIAYA-BIAYA YANG DIPERKENANKAN


DAN YANG TIDAK DIPERKENANKAN
Biaya-biaya yang TIDAK diperkenankan sebagai pengurang di dalam penghitungan Pajak Penghasilan, yaitu : Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham atau pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan dan warisan. Pajak penghasilan. Biaya untuk keperluan pribadi wajib pajak atau orang yang menjadi tanggungannya. Gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma atau CV. Sanksi administrasi berupa bunga, denda dan kenaikan yang berkenaan dengan perpajakan.

6. TARIF PAJAK DAN PTKP


Undang-undang nomor 36 tahun 2008 pasal 17, tarif pajak:

WP Badan

Berdasarkan UU PPh nomor 36 tahun 2008 yang efektif berlaku per 1 Januari 2009, dimana tarif PPh Badan menggunakan tarif tunggal 28% untuk tahun pajak 2009 (Pasal 17 ayat 1 huruf b) dan berubah menjadi 25% untuk tahun pajak 2010 (Pasal 17 ayat (2a)). Pasal 31E ayat (1) menyatakan bahwa : Wajib Pajak badan dalam negeri dengan peredaran bruto sampai dengan Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah) mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% (lima puluh persen) dari tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf b dan ayat (2a) yang dikenakan atas Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah).

6. TARIF PAJAK DAN PTKP


Undang-undang nomor 36 tahun 2008 pasal 17, tarif pajak:

WP OP
Lapisan Penghasilan Kena Pajak Sampai dengan Rp. 50.000.000 Diatas Rp. 50.000.000 s/d Rp. 250.000.000 Diatas Rp. 250.000.000 s/d Rp. 500.000.000 Diatas Rp. 500.000.000 Tarif Pajak 5% 15% 25% 30%

Penghasilan tidak kena pajak (PTKP) untuk WP OP mulai berlaku 1 Januari 2013 sebesar Rp24.300.000,- per tahun, status kawin dan maksimal tanggungan 3 orang sedarah atau semenda garis lurus ke atas dan ke bawah @Rp2.025.000,00 per tahun.

7. KREDIT PAJAK
Merupakan pemotongan/pemungutan pajak (tidak bersifat final) oleh pihak lain dalam tahun berjalan atas penghasilan yang diterima oleh WP. Pajak Penghasilan Pasal 21 Pajak Penghasilan yang dipotong sehubungan dengan penghasilan dari pekerjaan, jabatan, jasa atau kegiatan yang diterima atau diperoleh wajib pajak Orang Pribadi dalam negeri. Pajak Penghasilan Pasal 22 Pajak Penghasilan yang dipungut oleh bendaharawan atau badan lain yang ditunjuk sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang, kegiatan dibidang impor atau kegiatan usaha dibidang tertentu lainnya. Pajak Penghasilan Pasal 23 Pajak Penghasilan yang dipotong sehubungan dengan penghasilan yang diterima atau diperoleh atas penggunaan modal (capital income) dan penghasilan sehubungan dengan jasa yang diterima wajib pajak badan. Misalnya royalti, sewa, jasa teknik, jasa manajemen, jasa konsultan.

7. KREDIT PAJAK
Pajak Penghasilan Pasal 24 Pajak yang dibayar atau terhutang di luar negeri atas penghasilan dari luar negeri yang diterima atau diperoleh wajib pajak dalam negeri.

Merupakan pelunasan/pembayaran pajak dalam tahun berjalan yaitu oleh wajib pajak sendiri yang boleh diperhitungkan sebagai Kredit Pajak (dikreditkan) terhadap PPh terhutang untuk tahun pajak yang bersangkutan. PPh yang telah dibayar sendiri dapat meliputi : a. PPh. Pasal 25 (angsuran pajak setiap bulannya). b. Surat Tagihan Pajak (STP) PPh. Pasal 25 (hanya pokok pajak).

8. DEPRESIASI DAN AMORTISASI SECARA FISKAL


Depresiasi Merupakan pembebanan sebagian harga perolehan aktiva tetap yang secara sistematis dialokasikan sebagai biaya (yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun). Dimana besarnya depresiasi/penyusutan yang dibebankan untuk setiap tahunnya dipengaruhi oleh metode penyusutan yang digunakan. Secara fiskal metode penyusutan yang boleh digunakan adalah : Garis Lurus (Straight Line Method)
Yaitu penyusutan dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat. (Harga Perolehan Aktiva Tetap x Tarif Penyusutan)

8. DEPRESIASI DAN AMORTISASI SECARA FISKAL

Saldo Menurun (Declining Balance Method) Yaitu penyusutan dilakukan dalam bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat.
(Nilai Sisa Buku Aktiva Tetap x Tarif Penyusutan)

Pada akhir masa manfaat, nilai sisa buku yang ada disusutkan sekaligus (close ended) Dalam pelaksanaan penyusutan wajib pajak dapat memilih diantara 2 (dua) metode tersebut, namun Taat Asas. Hal ini kecuali aktiva bangunan harus menggunakan metode garis lurus.

8. DEPRESIASI DAN AMORTISASI SECARA FISKAL


TARIF DEPRESIASI HARTA BERWUJUD
Kelompok Harta Berwujud Bukan Bangunan Masa Manfaat Tarif Penyusutan Garis Lurus Saldo Menurun

Kelompok 1
Kelompok 2 Kelompok 3 Kelompok 4 Bangunan Permanen Tidak Permanen

4 tahun
8 tahun 16 tahun 20 tahun

25%
12,5% 6,25% 5%

50%
25% 12,5% 10%

20 tahun 10 tahun

5% 10%

8. DEPRESIASI DAN AMORTISASI SECARA FISKAL


Amortisasi Merupakan pengeluaran untuk memperoleh harta tak berwujud seperti biaya pendirian perusahaan, biaya perpanjangan hak guna bangunan, hak guna usaha, dan hak pakai yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun yang digunakan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan, dapat diamortisasikan sesuai dengan masa manfaatnya. Metode amortisasi yang boleh digunakan yaitu garis lurus dan saldo menurun serta dalam pelaksanaannya harus Taat Asas.

8. DEPRESIASI DAN AMORTISASI SECARA FISKAL


TARIF AMORTISASI HARTA TAK BERWUJUD
Kelompok Harta Tidak Berwujud Kelompok 1 Masa Manfaat 4 tahun Tarif Penyusutan Garis Lurus 25% Saldo Menurun 50%

Kelompok 2
Kelompok 3 Kelompok 4

8 tahun
16 tahun 20 tahun

12,5%
6,25% 5%

25%
12,5% 10%

9. PENGGABUNGAN DAN PEMISAHAN PENGHASILAN


Pengabungan Penghasilan Wajib pajak orang pribadi yang telah kawin dianggap sebagai satu kesatuan, artinya penghasilan atau kerugian dari seluruh anggota keluarga digabungkan sebagai satu kesatuan yang dikenakan pajak, dan kewajiban pajaknya dilakukan oleh suami sebagai kepala keluarga. Seluruh penghasilan atau kerugian bagi wanita yang telah kawin pada awal tahun pajak atau pada awal bagian tahun pajak, termasuk kerugian yang berasal dari tahun-tahun sebelumnya yang belum dikompensasikan, dianggap sebagai penghasilan atau kerugian suaminya dan dikenakan Pajak Penghasilan sebagai satu kesatuan. Penggabungan tersebut diatas tidak berlaku dalam hal penghasilan yang diperoleh istri dari pekerjaan sebagai pegawai yang telah dipotong PPh Pasal 21 oleh pemberi kerja, dengan ketentuan sebagai berikut :

Penghasilan istri tersebut semata-mata diperoleh dari satu pemberi kerja. Penghasilan istri tersebut berasal dari pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan usaha atau pekerjaan bebas suami atau anggota keluarga lainnya.

9. PENGGABUNGAN DAN PEMISAHAN PENGHASILAN


Pemisahan Penghasilan Wajib pajak orang pribadi yang telah kawin dapat terjadi pemisahan penghasilan, sehingga pengenaan Pajak Penghasilan dapat dilakukan secara terpisah apabila :
Suami-istri telah hidup terpisah. Dikehendaki secara tertulis oleh suami-istri berdasarkan perjanjian pemisahan harta dan penghasilan. Dikehendaki oleh isteri yang memilih untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakannya sendiri.

Atas dasar hal tersebut, maka penghitungan Pajak Penghasilan-nya dilakukan berdasarkan penjumlahan penghasilan neto suami-istri dan besarnya Pajak Penghasilan yang harus dilunasi oleh masing-masing suami-istri dihitung sesuai dengan perbandingan penghasilan neto mereka.

Anda mungkin juga menyukai