Anda di halaman 1dari 17

FAULT TYPES AND

CALCULATION
OLEH :
SUNARTO, ST., M.Eng.

Penyebab gangguan
Penyebab gangguan tersebut tersebut dapat
diakibatkan oleh gangguan sistem dan non sistem.
Gangguan Sistem

Gangguan sistem adalah gangguan yang terjadi di sistem tenaga listrik
seperti pada generator, trafo, SUTT, SKTT dan lain sebagainya.
Gangguan sistem dapat dikelompokkan sebagai gangguan permanen dan
gangguan temporer.
Gangguan temporer adalah gangguan yang hilang dengan sendirinya bila
PMT terbuka, misalnya sambaran petir yang menyebabkan flash over
pada isolator SUTT. Pada keadaan ini PMT dapat segera dimasukan
kembali, secara manual atau otomatis dengan AutoRecloser.
Gangguan permanen adalah gangguan yang tidak hilang dengan
sendirinya, sedangkan untuk pemulihan diperlukan perbaikan, misalnya
kawat SUTT putus.

Gangguan Non Sistem

PMT terbuka tidak selalu disebabkan oleh terjadinya
gangguan pada sistem, dapat saja PMT terbuka oleh
karena relai yang bekerja sendiri atau kabel kontrol yang
terluka atau oleh sebab interferensi dan lain sebagainya.
Gangguan seperti ini disebut gangguan bukan pada sistem,
selanjutnya disebut gangguan nonsistem.

Jenis gangguan non-sistem antara lain :

- kerusakan komponen relai ;
- kabel kontrol terhubung singkat ;
- interferensi / induksi pada kabel kontrol.

Asal gangguan
Gangguan dari dalam sistem :
Gangguan tegangan lebih
Gangguan jatuh tegangan
Gangguan surja hubung, dll
Gangguan dari luar sistem
Ganggaun surja petir
Gangguan Hubung singkat, dll
GANGGUAN HUBUNG SINGKAT
Sebagian besar gangguan yang etrjadi pada sistem tenaga listrik
adalah gangguan hubung singkat. Gangguan hubung singkat ini terjadi
sebagai akibat dari tembusnya enis gangguan utama dalam saluran
distribusi tenaga listrik adalah gangguan hubung bahan isolasi,
kesalahan teknis, polusi debu, dan pengaruh alam di sekitar saluran
transmisi dan distribusi tenaga listrik, sehingga ada arus yang mengalir
dari fasa ke tanah atau antar fasa.
Bila ditinjau dari segi lamanya waktu gangguan, maka gangguan pada
saluran sistem tenaga listrik dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
Gangguan sementara ( gangguan temporer ).
Gangguan permanen ( gangguan stationer ).
GANGGUAN HUBUNG SINGKAT
Untuk gangguan temporer ditandai dengan normalnya kerja dari PMT
setelah dimasukkan kembali. Sedangkan gangguan permanen ditandai
dengan jatuhnya PMT setelah dimasukkan kembali, dan biasanya
dilakukan sampai tiga kali. Pada gangguan permanen, PMT bisa
bekerja normal kembali setelah gangguan tersebut bisa diatasi.
Sedangkan gangguan yang bersifat temporer, penyebab gangguan
akan hilang dengan sendirinya setelah PMT jatuh.
Gangguan yang bersifat permanen bisa disebabkan karena adanya
kerusakan pada peralatan sistem tenaga listrik, sehingga gangguan ini
baru bisa diatasi setelah kerusakan pada peralatan tersebut sudah
diperbaiki.
Gangguan temporer yang terjadi berulang-ulang dapat menyebabkan
timbulnya kerusakan pada peralatan sistem tenaga listrik dan hal ini
dapat pula menimbulkan gangguan yang bersifat permanen sebagai
akibat adanya kerusakan peralatan tersebut.
GANGGUAN HUBUNG SINGKAT
Ditinjau dari macam gangguannya, maka gangguan
hubung singkat dapat dibedakan menjadi :
Gangguan hubung singkat tiga fasa (gangguan
simetris)
Gangguan hubung singkat satu fasa ke tanah.
Gangguan hubung singkat dua fasa ke tanah.
Gangguan hubung singkat antar fasa ( dua fasa ).

Dari empat jenis gangguan tersebut dapat dibedakan
menjadi dua kelompok gangguan, yaitu :
Gangguan hubung singkat simetris.
Gangguan hubung singkat tidak simetris.

GANGGUAN HUBUNG SINGKAT
Yang termasuk dalam gangguan hubung singkat simetris adalah
gangguan hubung singkat tiga fasa, sedangkan gangguan yang lainnya
termasuk gangguan hubung singkat tidak simetris.
Gangguan hubung singkat akan mengakibatkan arus lebih pada fasa
yang teganggu, dimana arus gangguan tersebut mempunyai harga
yang jauh lebih besar dari rating arus maksimum yang diijinkan pada
peralatan. Arus hubung singkat ini dapat mengakibatkan kerusakan
pada peralatan sistem tenaga listrik jika pengaman tidak segera
bekerja.
Gangguan-gangguan yang lain jika terjadi berulang-ulang bisa
mengakibatkan terjadinya kerusakan isolasi maupun peralatan pada
sistem transmisi dan distribusi tenaga listrik dan hal ini akhirnya dapat
mengakibatkan terjadinya hubung singkat.

Faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada sistem transmisi dan distribusi
tenaga listrik antara lain :
Surja Petir.
Mengingat saluran transmisi dan distribusi tersebar luas dan panjang membentang serta
beroperasi pada kondisi tempat yang cuacanya berbeda-beda, maka kemungkinan terjadinya
gangguan yang disebabkan oleh petir besar sekali, terutama pada musim hujan. Gangguan
yang disebabkan oleh petir ini sangat berbahaya karena dapat merusak isolasi peralatan.
Surja Hubung.
Ynag dimaksud dengan surja hubung adalah kenaikan tegangan pada saat dilangsungkan
pemutusan arus oleh PMT. Kenaikan tegangan yang disebabkan oleh adanya gangguan surja
hubung ini dapat merusak isolasi peralatan.
Polusi Debu.
Debu-debu yang menempel pada isolator, bila udara lembab maka debu tersebut merupakan
konduktor yang dapat menyebabkan terjadinya loncatan bunga api yang pada akhirnya dapat
menyebabkan gangguan hubung singkat fasa ke tanah.
Adanya pohon-pohon yang tidak terawat.
Pohon-pohon yang dekat dengan saluran transmisi dan distribusi bila tidak terawat dan
rantingnya masuk ke daerah bebas saluran transmisi dan distribusi, hal ini dapat
mengakibatkan terjadinya gangguan hubung singkat fasa ke tanah.
Isolator yang rusak.
Isolator yang rusak karena sambaran petir atau karena usia yang sudah tua bisa
menyebabkan terjadinya gangguan hubung singkat antar fasa atau gangguan hubung singkata
dari fasa ke tanah.
Daun-daun/sampah yang menempel pada Isolator.
Daun-daun/sampah yang terbang terbawa angin dan kemudian menempel pada isolator akan
mengakibatkan jarak bebas berkurang sehingga dapat mengakibatkan terjadinya loncatan
bunga api. Hal ini bisa mengakibatkan terjadinya gangguan hubung singkat antar fasa atau
gangguan hubung singkat dari fasa ke tanah.
Perhitungan gangguan hubung singkat
A. GANGGUAN TIGA FASA (GANGGUAN SIMETRIS)
Ea
Z
1
I
1
Z
0
I
0
Z
2
I
2
Io = I
2
= 0
(
(
(

(
(
(

=
(
(
(

(
(
(

=
(
(
(

0
0
1
1
1 1 1
1
1
1 1 1
1
2
2
2
1
2
2
I
a a
a a
I
I
I
a a
a a
I
I
I
o
c
b
a
Ia = 0 + I
1
+ 0 = I
1
pu
Ib = 0 + a
2
. I
1
+ 0 = 1240
o
. I
1
pu
Ic = 0 + a x I1 + 0 = 1 120o . I
1
pu
ZZZ
Tegangan Pada gangguan tiga fasa simetris :
Vo = V1 = V2 = 0 pu
(
(
(

(
(
(

=
(
(
(

(
(
(

=
(
(
(

0
0
0
a a 1
a a 1
1 1 1
V
V
V
a a 1
a a 1
1 1 1
V
V
V
2
2
2
1
o
2
2
c
b
a
Va = Vb = Vc = 0 pu
B. GANGGUAN SATU FASA KE TANAH
E
Z
0
Z
1
Z
2
Ea
I
0
I
1
I
2
Ib = 0, Ic = 0, Va = 0
(
(
(

(
(
(

=
(
(
(

0
0
1
1
1 1 1
3
1
2
2
2
1
0 a
I
a a
a a
I
I
I
I
0
= I
1
= I
2
= Ia
(
(
(

(
(
(

(
(
(

=
(
(
(

1
1
1
2
1
0
2
1
0
0 0
0 0
0 0
0
0
I
I
I
Z
Z
Z
Ea
V
V
V
3
1
V
0
+ V
1
+ V
2
= - Z
0
.I
1
+ Ea.I
1
Z
2
.I
1


Va = V
0
+ V
1
+ V
2
= 0
Maka :
2 1 0
1
Z Z Z
Ea
I
+ +
=
Jadi :
2 1 0
2 1 0
Z Z Z
Ea
I I I
+ +
= = =
C. GANGGUAN DUA FASA KE TANAH
I
0
I
1
I
2
Z
0
Z
1
Z
2
Ea
Vb = 0, Vc = 0, Ia = 0
(
(
(

(
(
(

=
(
(
(

0
0
1
1
1 1 1
3
1
2
2
2
1
0
Va
a a
a a
V
V
V
Maka :
3
2 1 0
Va
V V V = = =
0 2
0 2
1
1
.
Z Z
Z Z
Z
Ea
I
+
+
=
o
Z Z
Z
I
Z
V
o
I
+
= =
2
2
.
1
0
0
o
Z Z
Z
I
Z
V
I
+
= =
2
0
.
1 2
2
2
(
(
(
(

(
(
(
(

=
(
(
(
(

2
1
2
1
2
1
1 1 1
I
I
o
I
a a
a a
c
I
b
I
a
I
D. GANGGUAN ANTAR FASA
Z
0
Z
1
Z
2
Ea
I
0
I
1
I
2
Vb = Vc, Ia = 0, Ib = - Ic
V
1
= V
2
2 1
1
Z Z
E
I
a
+
= I
2
= - I
1 dan
I
0
= 0
(
(
(
(

(
(
(
(

=
(
(
(
(

2
1
0
2
1
2
1
1 1 1
I
I
a a
a a
c
I
b
I
a
I
SISTEM PER UNIT UNTUK RANGKAIAN SATU FASA
VA
dasar
= V
dasar
x I
dasar


V
I
dasar
dasar
dasar
VA
=
dasr
dasr
dasar
dasar
dasr
dasr
dasr
dasar
dasar
dasar
MVA
KV
VA
V
V
VA
V
I
V
Z
2 2
) ( ) (
= = = =
Nilaidasar
actual Nilai
it NilaiPerUn =
2 2
) (
) ( ) (
:
dasr
dasar
actual
dasar
dasar
actual
dasar
actual
pu
KV
MVA
Z
MVA
KV
Z
z
Z
Z Jadi = = =
SISTEM PER UNIT UNTUK RANGKAIAN TIGA FASA
dasar
dasar
dasar
V
VA
I
. 3
=
dasr
dasar
dasar
dasar
dasar
MVA
KV
I
V
Z
2
) (
. 3
= =
Z
Z
Z
dasar
actual
pu
=
) (
dasar dasar dasar
I V VA . . 3 =
Rumus
2
Hubung Singkat
6
) (
) (
) (
10 . . . 3

= =
HS dasar
hs pu
dasar
HS
I V
Z
MVA
MVA
6
) (
) (
10 . . 3

=
dasar
HS
HS
V
MVA
I
) (
6
6
) (
) (
) (
10 . . 3
3
10 . . 3
. 3
. 3
3
HS
dasar dasar
dasar
HS
dasar
HS
dasar
hs
dasar
HS
MVA
V
X
V
V
MVA
V
I
V
I
V
Z = = = =

) (
2
) (
6 2
) (
) (
10 . ) (
HS
dasar
HS
dasar
HS
MVA
KV
Z
MVA
V
= =
) ( ) (
2
) (
2
) (
) (
) (
) (
HS
dasar
HS
dasar
dasr
dasar
HS
dasar
dasar
HS
HS pu
I
I
MVA
MVA
MVA
KV
MVA
KV
Z
Z
Z
= = = =