Anda di halaman 1dari 29

Presentasi Kasus Dislokasi Sendi Panggul Posterior

Pembimbing dr . Zainu Rahman SpoT

Armand Al Haraani

IDENTITAS
Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Agama Pekerjaan Tanggal masuk : : Tn . S : 27 tahun : Pria : Senaken : Islam : Karyawan Swasta 08/01/2014

Keluhan utama
Nyeri pada tungkai atas kanan dan sulit digerakkan.

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Pasien datang ke IGD RSPS dengan keluhan nyeri pada tungkai atas kanan dan sulit digerakkan. Nyeri dan kesulitan menggerakkan tungkai atas kanan ini dirasakan sejak 1 jam post KLL jatuh sendiri kecepatan 60-80km/jam mengenakan helm +

pasien mengatakan jatuh sebelah kanan dalam posisi lutut tertekuk , mual - ,muntah setelah itu tungkai kanan pasien menekuk ke sebelah kiri dan menjadi lebih pendek dari tungkai kiri

PEMERIKSAAN FISIK
Status generalis Keadaan Umum Kesadaran Tekanan darah Nadi Respirasi Suhu Kepala: * mata : Baik : CM : 110/70 mmHg : 80 X/menit : 20 x/menit : 36.7 oC

: konjungtiva anemis -/- , sklera ikterik -/- , reflek pupil +/+ * hidung : epistaksis (-), deviasi septum (-) * mulut : tidak ada keluhan * leher : trakea di tengah, pembesaaran KGB (-)

Thorax * inspeksi * palpasi * perkusi * auskultasi

: hemitorak kanan dan kiri simetris dalam keadaan statis dan dinamis : fremitus vokal dan taktil simetris kanan dan kiri. : sonor pada kedua hemitoraks : pulmo: VBS kanan=kiri, Rh -/-, Wh -/cor: BJ I-II murni reguler, gallop -, murmur

Abdomen * inspeksi : tampak datar, simetris, massa (-) * auskultasi : bising usus (+) normal * perkusi : timpani diseluruh lapang abdomen * palpasi : NT (-), hepar dan lien tidak teraba pembesaran

Status Lokalis
a/r femur dextra: Look: Tidak tampak hiperemis ataupun perbedaan warna kulit dengan daerah sekitarnya Tidak terdapat jaringan parut Tampak pembengkakan pada 1/3 proksimal femur dekstra Tampak tungkai adduksi + , rotasi internal + , fleksi +

Feel : Nyeri tekan + Deformitas + Arteri Dorsalis Pedis + Sensoris +


Movement: Aktif: hip joint: terbatas karena nyeri Knee joint: terbatas karena nyeri Ekstensi (-) dan fleksi (-) karena pasien kesakitan Pasif: hip joint: terbatas karena nyeri Knee joint: terbatas karena nyeri Ekstensi (-) dan fleksi (-) karena pasien kesakitan

Diagnosa banding
susp dislokasi posterior caput femoris dextra

Pemeriksaan penunjang
pemeriksaan laboratorium foto rontgen Pelvis AP

Hasil laboratorium

Darah rutin: HB : 16g/dL HT : 44 % Leukosit : 11.000 mm3 Trombosit : 210.000 mm3

Foto rontgen
Pada foto Femur AP dextra terlihat caput femoris berada diluar mangkuknya dan di atas asetabulum.

DIAGNOSA KERJA

Dislokasi posterior caput femoris dekstra e.c traumatik


TERAPI IVFD RL 500 cc Inj ketorolac 2x30 mg / iv Inj Cefotaxime 2x1gr / iv / (st) Inj Ranitidine 2x1 amp Traksi dengan beban 1/10 x kgBB = 1/10 x 50 kg = 5 kg Pro Close Reduction

Reposisi
1. Pasien dibaringkan di lantai dalam posisi supine. 2. Seorang asisten menekan spina iliaca anterior superior. 3. Angkat tungkai yang mengalami dislokasi dan fleksikan sendi pinggul dan lutut. 4. Rotasikan tungkai ke posisi netral. 5. Buat traksi yang mantap pada tungkai bawah ke arah atas, angkat caput femoris ke dalam acetabulum. 6. Setelah traksi ke atas selesai, letakkan paha ke bawah dalam posisi ekstensi.

Post Close Reduction

Prognosa
Quo ad vitam : dubia ad bonam Quo ad funcionam : dubia ad bonam

Dislokasi Sendi panggul


Dislokasi panggul adalah suatu keadaan dimana terjadi perpindahan permukaan sentuh caput femoris terhadap acetabulum Dislokasi terjadi ketika caput femoris keluar dari acetabulum. Kondisi ini dapat congenital atau didapat (acquired).

Biasanya diakibatkan karena kecelakaan lalu lintas. Dislokasi traumatik dan fraktur sendi panggul dibagi dalam tiga jenis: 1. Dislokasi posterior atau dislokasi posterior disertai adanya fraktur 2. Dislokasi anterior 3. Dislokasi sentral

Diskolasi posterior dan dislokasi disertai adanya fraktur


Mekanisme trauma Kaput femur dipasang keluar ke belakang asetabulum melalui suatu trauma yang dihantarkan pada diafisis femur dimana sendi panggul dalam posisi fleksi dan semifleksi. Trauma biasanya terjadi karena kecelakaan lalul lintas dimana lutut penumpang dalam keadaan fleksi dan menabrak dengan keras yang berada pada bagian depan lutut. Lima puluh persen dislokasi fraktur pada pinggir asetabulum dengan fragmen kecil atau besar

Klasifikasi penting untuk rencana pengobatan, yang menurut Thompson epstein tipe I: dislokasi tanpa fraktur atau dengan fragmen tulang yang kecil tipe II: dislokasi dengan fragmen tunggal yang besar pada bagian posterior asetabulum tipe III: dislokasi dengan fraktur bibir asetabulum yang komunitif tipe IV: dislokasi dengan fraktur dasar asetabulum tipe V: dislokasi dengan fraktur kaput femur.

Gambaran klinis: Penderita biasanya datang setelah trauma yang hebat disertai nyeri dan deformitas pada daerah sendi panggul. Sendi panggul menonjol ke belakang dalam posisi adduksi, fleksi dan rotasi interna. Terdapat pemendekan anggota gerak bawah.

Pengobatan Dislokasi harus direposisi secepatnya dengan pembiusan umum disertai relaksasi yang cukup. Penderita dibaringkan di lantai dan pembantu menahan panggul. Sendi panggul difleksikan serta lutut difleksikan 90 derajat dan kemudian dilakukan tarikan paha secara vertikal. Setelah direposisi, stabilitas sendi diperiksa apakah sendi panggul dapat didislokasi dengan cara menggerakkan secara vertikal pada sendi panggul.

Perawatan pasca reposisi traksi kulit selama 4-6 minggu, setelah itu tidak menginjakkan kaki dengan jalan mempergunakan tongkat selama 3 bulan.

Dislokasi anterior
Dislokasi anterior lebih jarang ditemukan dari pada dislokasi posterior.
Mekanisme trauma: Dislokasi anterior terjadi akibat kecelakaan lalul lintas, terjatuh dari ketinggian atau trauma dari belakang pada saat jongkok dan posisi penderita dalam keaadaan abduksi yang dipaksakan. leher femur atau trokanter menabrak asetabulum dan terjungkir keluar melalui robekan pada kapsul anterior.

Gambaran klinis: Tungkai bawah dalam keadaan rotasi eksterna, abduksi dan sedikit fleksi. Tungkai tidak mengalami pemendekan karena perlekatan otot rektus femur mencegah kaput femur bergeser ke proksimal. Terdapat benjolan di depan daerah inguinal, dimana kaput femur dapat diraba dengan mudah. Sendi panggul sulit digerakkan Pemeriksaan radiologis: Pemeriksaan foto rontgen posisi AP pada dislokasi anterior sering kurang jelas, untuk itu diperlukan pula foto lateral

Pengobatan Dilakukan reposisi seperti dislokasi posterior kecuali pada saat fleksi dan tarikan tungkai pada dislokasi posterior dilakukan adduksi pada dislokasi anterior. Komplikasi: Komplikasi yang paling sering adalah nekrosis avaskuler.

Dislokasi sentral
Mekanisme trauma Dislokasi sentral terjadi apabila kaput femur terdorong ke dindiing medial asetabulum pada rongga panggul. Disini kapsul tetap utuh . Fraktur asetabulum terjadi karena dorongan yang kuat dari lateral atau jatuh dari ketinggian pada satu sisi atau suatu tekanan yang melalui femur dimana panggul dalam keadaan abduksi Gambaran klinis: Didapatkan perdarahan dan pembengkakan di daerah tungkai bagian proksimal tetapi posisi tetap normal. Nyeri tekan pada daerah trokanter. Gerakan sendi panggul sangat terbatas.

Pemeriksaan radiologis: Dengan pemeriksaan radiologis dapat diketahui adanya pergeseran dari kaput femur menembus panggul. Pengobatan: Diusahakan untuk mereposisi fraktur dan mengembalikan bentuk asetabulum ke bentuk normalnya. Pada fraktur asetabulum tanpa penonjolan kaput femur ke dalam panggul, maka dilakukan terapi konservatif dengan traksi tulang selama 4-6 minggu. Pada kaput femur yang menembus ke dalam asetabulum, sebaiknya dilakukan traksi 2 komponen, yaitu komponen longitudinal dan lateral selama 6 minggu dan setelah 8 minggu diperbolehkan untuk berjalan dnegan menggunakan penopang berat badan.

Anda mungkin juga menyukai