Anda di halaman 1dari 23

PENGUJIAN SUMUR

Setelah suatu sumur panas bumi selesai di bor, dilakukan pengujian sumur, yang biasa dilakukan adalah : Water Loss Test Gross Permeability Test Heating Measurement Discharge (output) Test Transient Test

Uji komplesi dan Completion test, merupakan pengujian untuk mengetahui kedalaman zone produksi, pusat-pusat rekahan (feed zone) dan produktivitas sumur. Uji komplesi dilakukan dengan menginjeksikan air dingin pada laju tetap dan mengukur besar tekanan dan temperatur sumur untuk mengetahui profil (landaian) temperatur dan tekanan. Umumnya pengujian di lakukan beberapa kali dengan laju pemompaan yang berbeda-beda.

Jenis pengujian yang dilakukan pada waktu uji komplesi : a. Uji Hilang Air (Water Loss Test) Dilakukan untuk mengetahui zone-zone dimana terjadi hilang air ataupun zone-zone dimana fluida formasi masuk kedalam sumur, yang merupakan indikasi dari adanya feed zone (pusat-pusat rekahan yang dapat memproduksi fluida). zone-zone tersebut dapat dianalisa dari landaian tekanan temperatur dan aliran pada waktu air dipompakan dengan laju konstan.

b. Uji permeabilitas total (Gross Permeability Test) Dilakukan untuk mengetahui transisi tekanan setelah laju aliran diubah-ubah. Permeabilitas total di dapat dari analisa data transien tersebut. Contoh prosedur uji komplesi sumur (New Zealand) : 1. Turunkan Slotted Liner 2. Bersihkan sumur dengan memompakan air dengan laju injeksi sekitar 20 liter/detik 3. Lakukan uji hilang air pertama dengan memompakan air dengan rate 10 liter per detik 4. Lakukan uji permeabilitas dengan memompakan air dengan laju 10 dan 20 liter per detik 5. Lakukan uji hilang air kedua dengan memompakan air dengan laju 20 liter per detik 6. Bila dianggap perlu di lakukan lagi uji hilang air untuk memastikan zone produksi dan kedalaman pusat-pusat tekanan 7. Matikan pompa (warm up)

Contoh analisa data uji Hilang Air.

Menentukan pusat tekanan (feed zone) dilakukan dengan :


Membandingkan besar tekanan di dalam sumur dan formasi
Bila tekanan formasi > tekanan di dalam sumur, terjadi inflow kedalam sumur Bila tekanan formasi < tekanan di dalam sumur, terjadi outflow yaitu fluida dari dalam sumur keluar ke formasi. (liat gambar)

Menganalisa landaian temperatur


lihat contoh hasil pengujian pada gambar yang di sederhanakan.
Landaian A : kenaikan temperatur karena perpindahan panas secara konduksi dan relatif kecil. Dibagian bawah kenaikan temperatur tiba-tiba menunjukkan bahwa air masuk ke formasi. Landaian B : sebagian air injeksi keluar di zona bagian atas, air yang mengalir ke bawah berkurang sehingga temperatur naik lebih cepat. Landasan C : pada bagian atas terjadi inflow air panas dan di bagian bawah outflow dari sumur ke formasi.

Gambar berikut landaian sumur di East Mesa (a)

Pengukuran di lakukan pada waktu injeksi, perhatikan bahwa landaian temperatur sama/serupa dengan contoh sebelumnya.
Gambar di sebelahnya (b) adalah landaian sumur BR114 (Breadland New Zealand), perhatikan perubahan gradiasi temperatur di 900 m, yang mengindikasikan zona hilang air.

Contoh berikut dari sumur Kawerau (New Zealand) KA-17. Landaian temperatur T-12, T-13 dan T-17, diukur pada saat sumur mencapai 1000m T-13 dan T-17, indikasi pusat rekahan pada 650 dan 950m T-18, setelah sumur diperdalam, indikasi adanya zone-zone rekahan pada 950 dan 1390m semua memperlihatkan di bagian bawah ada aliran keluar

Perhatikan T-13 , disini laju injeksi lebih besar ternyata menyebabkan hilangnya temperatur step, berarti pada laju injeksi yang lebih besar tekanan di dalam sumur pada 650m cukup berat sehingga menghentikan aliran masuk fluida.

Landaian temperatur sumur dipengaruhi besarnya permeabilitas batuan. Dua contoh berikut adalah landaian temperatur sumur yang menembus zone permeabilitas tinggi dan yang menembus zone permeabilitas rendah.

Penentuan Produktifitas Pusat-Pusat (zone) Rekahan.


Ditentukan dengan menggunakan prinsip kesetimbangan panas (heat balance) dan konsep productivity index. inflow rate dapat dihitung jika diketahui inflow temperatur, rate injeksi, temperatur injeksi, temperatur di atas dan di bawah kedalaman dimana terjadi aliran waktu (inflow). Lihat Gambar aliran fluida dalam sumur :

Perhitungan laju komplesi dilakukan dengan laju injeksi Wi, temperatur injeksi Ti. Analisa tekanan & temperatur menunjukkan terjadi inflow di bagian atas (upper zone) dengan laju air Wfu dan temperatur Tfu, dan bagian bawah outflow, dengan laju alir Wfi.

Pada zone bagian atas (inflow), dengan asumsi kapasitas fluida tetap.

Kesetimbangan panas: Wi . Ti + Wfu . Tfu = Wm . Tm . . . . 1) Kesetimbangan Massa : Wm = Wi + Wfu

. . . . 2)

Substitusi (2) ke 1 : Wfu = Wi x (Tm . Ti) / (Tfu Tm)

Besarnya Productivity Index masing-masing feed points (titik / zone dimana fluida masuk) : Productivity Upper Zone = PIu = Wfu / (Pfu Pwu) Productivity Lower Zone = PIe = Wm / (Pfe - Pwe)

Contoh : Sumur NGA memperlihatkan aliran fluida ke arah dasar sumur (downflow) dari upper feed zone pada kedalaman 750m, dengan temperatur 226 C. kedalamam sumur 1200m. Pengujian dilakukan 4 kali dengan rate berbeda (lihat tabel). Dari pengukuran diketahui tekanan formasi upper zone (Pfu) = 74 bar gauge dan lower zone Pfe = 108.3 bar gauge. Hitung produktivitas dan injektivitas kedua zone.

Data Hasil Uji Komplesi


Test I Test II Test III Test IV

Laju injeksi (kg/s), Wi Temp. Injeksi (C), Ti Temp. setelah terjadi pencampuran (C), Tm Tekanan sumur upper zone (bar g), Pwu Tekanan sumur lower zone (bar g), Pwl

14 82 164
70.5 109.7

28 87 135
71.1 109.9

42 91 121
72 110.3

56 95 108
72.6 110.6

Perhitungan : 1. Laju aliran fluida dari upper zone ke dalam sumur (inflow rate dari upper zone) Wfu = Wi (Tm Ti) / (Tfu Tm) Wfu = 14 (164 82) / (226 164) Wfu = 18.5 kg/s 2. Produktivitas upper zone Piu = Wfu / ( Pfu - Pwu ) Piu = 18.5 / (74 70.5) Piu = 5.3 kg/s .bar

3. Injektivity lower zone : Wm = Wi + Wfu = 14 + 18.5 = 32.5 kg/s Pil = Wm / (Pfl - Pwl ) 32.5 / (108.3 109.7) 23 kg/s .bar
4. Hasil perhitungan
Test I Laju injeksi (kg/s), Wi Inflow rate (kg/s) PI upper (kg/s .bar) PI lower (kg/s .bar) 14 18.5 5.3 23 Test II 28 14.8 5.1 27 Test III 42 12 6 27 Test VI 56 5.1 4.1 25