Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN KASUS

MIOMA UTERI

Disusun Oleh

Pembimbing

Status Pasien

Nama : Ny. SW Usia : 44 tahun Alamat : Jakarta Pusat Pekerjaan : IRT Tanggal MRS : 12-04-13 No. Rekam Medis : 80 52 96

Anamnesa
KU RPS

Nyeri di seluruh lapang perut sejak beberapa bulan yang lalu

Os mengeluh sakit di seluruh bagian perut yang dirasakan sejak beberapa bulan terakhir ini, terutama ketika sedang menstruasi, nyeri terasa hilang timbul dan memberat ketika melakukan aktifitas termasuk saat berhubungan intim dengan suami yang juga disertai dengan rasa kram. Darah Haid yang keluar bulan kemarin dan bulan ini dirasakan semakin banyak (ganti pembalut > 10x sehari) dan bergumpalgumpal, Os juga mengeluh pusing yang juga hilang timbul.

RPD 1tahun yang lalu Os pernah menderita sakit seperti ini sebelumnya.

RPK Riwayat Diabetes Melitus, Hipertensi, Asthma disangkal

R. Perkawinan Kawin ke I, masih kawin, lama perkawinan sudah 14 tahun.

Riwayat haid: Menarche: 12 tahun Mens teratur, tidak sakit, lama mens setiap bulan biasanya 7 hari, dengan siklus 28 hari, HPHT : 04 - 06 - 2013

Riwayat Pengobatan dan Operasi: Os pasca rawatan di RSIJ CP tanggal 06 06 2013 sampai 07 06 2013 dengan diagnosa Menorrhagia ec. suspect Mioma uteri. Os melakukan pemeriksaan USG dan Paps smear di RS. Persahabatan tanggal 11 06 2013.

Riwayat Alergi : Alergi makanan dan obat disangkal

Riwayat Kebiasaaan : Makan teratur, merokok (-), minuman beralkohol (-).

Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum Kesadaran Tanda vital: Tekanan darah Nadi Respirasi Suhu

: tampak sakit ringan : compos mentis

: 110/80 mmHg : 80x/menit : 20 x/menit : 36C

Status Generalis
Kepala Mata: conjunctiva tidak anemis, sklera tidak ikterik Hidung: sekret (-) Mulut: hiperemis (-), mukosa buccal basah Leher/KGB: tidak teraba pembesaran, massa (-) Thoraks Bentuk normal dan gerak simetris kanan-kiri Vesikuler di seluruh lapang paru, sonor, wheezing (-)/(-), rhonchi (-)/(-) BJ I dan II murni reguler, murmur (-), gallop (-) Abdomen Perut tampak datar, Nyeri Tekan (+) pada seluruh bagian bawah perut, Teraba massa setinggi 1 jari di bawah pusat, konsistensi padat keras, permukaan rata, terfiksir Ekstremitas Deformitas (-), akral hangat, RCT < 2 detik, oedema (-)/(-)

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan

Hasil

Satuan

Rujukan

Hemoglobin

10.0

g/dl

11.7 - 15.5

Trombosit

469

ribu/L

150-440

Hematokrit

36

35-47

APTT

32.2

detik

31.0-47.0

Hasil USG RS. Persahabatan (tanggal 11 06 2013)

Hasil USG Uterus > berbenjol-benjol 2 massa miomal intramural, batas tegas Korpus depan kanan ukuran 57x57x60 mm dan Korpus belakang kiri 71x69 mm. Berasal dari miomata. Hasil Paps Smear dari Siloam Hospital Mioma uteri intramural

Resume
Seorang wanita usia 38 tahun datang ke RSIJ dengan keluhan nyeri di bagian bawah perut disertai kram yang hilang timbul yang terasa semakin berat saat aktifitas. Haid terakhir terasa banyak sekali dan ada gumpalangumpalan darah. Pada pemeriksaan USG dan Paps Smear ditemukan adanya beberapa miom di uterus dengan berbagai ukuran

Diagnosis : Mioma Uteri Intramural

Therapy
Oral Injection Ceftriaxone Operative

Valisanbe (2x2)
(1x2 gram) Kalnex

Histerektomi total
Salingektomi bilateral

Cefixime (2x2)
(3x500 gram) As. Mefenamat (2x2) Zegavit (1x1)

Histerektomi
korpus rubrum

Tramal Supp. (3x1)


Vometta syr (2x1)

Laporan Pembedahan
Laporan Pembedahan (tanggal 26 06 2013) Diagnosa pra Bedah : P2 dengan Mioma Uteri Diagnosa Pasca Bedah : Diagnosa Primer : Mioma Uteri Diagnosa Sekunder : Hidrosalping Bilateral Korpus rubrum ovarium kanan Tindakan Pembedahan : Histerektomi total Salingektomi bilateral Histerektomi korpus rubrum Uraian Pembedahan Analgesi spinal Insisi Pfannenstiehl uterus sebesar kepala bayi berbenjol-benjol, dikeluarkan dengan miom bor. Tampak beberapa miom, di korpus belakang 6 cm, di korpus depan 5 cm, dan beberapa miom 3 4 cm. Dilakukan histerektomi total, kesan kedua tuba hidrosalping, dilakukan salpngektomi bilateral, tampak korpus rubrum di ovarium kanan, dilakukan histerektomi semua di PA-kan. Tunggul vagina dijahit dengan polysorb no.1 Perdarahan dirawat dan yakin berhenti, dilakukan repsitonisasi, abdomen dicuci dengan aqua 500 cc, abdomen ditutup Perdarahan 300 cc.

Hasil pemeriksaan Histopatologi Sentra Diagnostik Patologi RSIJ (28 06 2013)

Hasil pemeriksaan Histopatologi Sentra Diagnostik Patologi RSIJ (28 06 2013) Makroskopik : I (Uterus) : Jaringan ukuran 17x13x7 cm pembelahan multiole miom masing-masing ukuran 7x7 cm, 7x6 cm, 3x2 cm, 2x2 cm, 2x1 cm sampai dengan sebesar kacang merah, dan melekat sebelah tuba ukuran 7x0,5 cm kenyal sebagian cetak. II (tuba kiri) : Jaringqn 4x2x1 cm kenyal sebagian cetak. III (ovarium kanan) : Jaringan telah pecah ukuran 3x2x1 cm kenyal sebagian cetak. Mikroskopik : Sediaan uterus mengandung massa yang berbatas tegas dan multiple, dibentuk oleh sel-sel miometrium yang berjaras. Histologik sesuai dengan leimioma uteri. Tidak ditemukan tanda ganas. Sedan dari kedua tuba memperlihatkan gambaran sesuai dengan hidrosalping. Sediaan dari ovarium kanan mengandung korpus luteum hemorrhagikum.

TANGGAL

FOLLOW UP S: Nyeri perut di bag bawah O: TD: 110/80 N : 88x /menit S: 36.6 0C

TANGGAL

FOLLOW UP S: masih nyeri perut (+) O: TD: 110/80 N : 84x /menit S: 36.6 0C

25-06-2013

RR: 20 x /menit Hasil lab : Hb 10,0 A: Mioma uteri P: Observasi TTV dan perdarahan S : pusing dan lemas

26-06-2013

RR: 18 x /menit Hasil lab : Hb 10,5 A: Mioma uteri P: Observasi TTV dan perdarahan S: Nyeri bekas luka operasi O: TD: 110/80 N : 90 x /menit

O: TD:110/70
N : 84x /menit 27-06-2013 S :36,60C RR :18 x /menit A: Mioma Uteri P : Obs TTV S: tidak ada keluhan O: TD: 120/80 N : 90 x /menit 29-04 2013 S: 36.40C RR: 20 x /menit Hasil lab : Hb 11,5 A: Mioma uteri P:observasi TTV 28-04-2013

S: 36.60C RR: 20 x /menit Hasil lab : Hb 11,2 A: Mioma uteri P: Observasi TTV

Definisi
Mioma uteri adalah tumor jinak miometrium uterus dengan konsistensi padat kenyal, batas jelas, mempunyai pseudo kapsul, tidak nyeri, bisa soliter atau multipel. Tumor ini juga dikenal dengan istilah fibromioma uteri, leiomioma uteri, atau uterine fibroid. Mioma uteri bukanlah suatu keganasan dan tidak juga berhubungan dengan keganasan. Uterus miomatosus adalah uterus yang ukurannya lebih besar daripada ukuran uterus yang normal yaitu antara 9-12 cm, dan dalam uterus itu sudah ada mioma uteri yang masih kecil.

Epidemiologi
Berdasarkan otopsi, Novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun mempunyai sarang mioma, pada wanita yang berkulit hitam ditemukan lebih banyak. Mioma uteri belum pernah dilaporkan terjadi sebelum menarke, sedangkan setelah menopause hanya kira-kira 10% mioma yang masih bertumbuh. Diperkirakan insiden mioma uteri sekitar 20 30% dari seluruh wanita. Di Indonesia mioma uteri ditemukan pada 2,39 11,7% pada semua penderita ginekologi yang dirawat. Tumor ini paling sering ditemukan pada wanita umur 35 45 tahun (kurang lebih 25%) dan jarang pada wanita 20 tahun dan wanita post menopause. Wanita yang sering melahirkan akan lebih sedikit kemungkinan untuk berkembangnya mioma ini dibandingkan dengan wanita yang tak pernah hamil atau hanya 1 kali hamil. Statistik menunjukkan 60% mioma uteri berkembang pada wanita yang tak pernah hamil atau hanya hamil 1 kali. Prevalensi meningkat apabila ditemukan riwayat keluarga, ras, kegemukan dan nullipara.

Etiologi
Umur Mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun, ditemukan sekitar 10% pada wanita berusia lebih dari 40 tahun. Tumor ini paling sering memberikan gejala klinis antara 35-45 tahun. Paritas Lebih sering terjadi pada nullipara atau pada wanita yang relatif infertil, tetapi sampai saat ini belum diketahui apakah infertil menyebabkan mioma uteri atau sebaliknya mioma uteri yang menyebabkan infertil, atau apakah kedua keadaan ini saling mempengaruhi.

Faktor ras dan genetik Pada wanita ras tertentu, khususnya wanita berkulit hitam, angka kejadiaan mioma uteri tinggi. Terlepas dari faktor ras, kejadian tumor ini tinggi pada wanita dengan riwayat keluarga ada yang menderita mioma. Fungsi ovarium Diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen dengan pertumbuhan mioma, dimana mioma uteri muncul setelah menarke, dan mengalami regresi setelah menopause. Indeks Massa Tubuh (IMT) Obesitas juga berperan dalam terjadinya mioma uteri. Hal ini mungkin berhubungan dengan konversi hormon androgen menjadi esterogen oleh enzim aromatease di jaringan lemak (Djuwantono, 2005). Hasilnya terjadi peningkatan jumlah esterogen tubuh yang mampu meningkatkan prevalensi mioma uteri (Parker, 2007).

Klasifikasi
Klasifikasi mioma dapat berdasarkan lokasi dan lapisan uterus yang terkena. 1. Lokasi Cervical (2,6%), umumnya tumbuh ke arah vagina menyebabkan infeksi. Isthmica (7,2%), lebih sering menyebabkan nyeri dan gangguan traktus urinarius. Corporal (91%), merupakan lokasi paling lazim, dan seringkali tanpa gejala.

2. Lapisan Uterus Mioma uteri pada daerah korpus, sesuai dengan lokasi dibagi menjadi 3 jenis, yaitu : Mioma Uteri Submukosa

Berada dibawah endometrium dan menonjol ke dalam rongga uterus. Jenis ini di jumpai 6,1% dari seluruh kasus mioma. Jenis ini sering memberikan keluhan gangguan perdarahan. Mioma uteri jenis lain meskipun besar mungkin belum memberikan keluhan perdarahan, tetapi mioma submukosa, walaupun kecil sering memberikan keluhan gangguan perdarahan. Mioma submukosa umumnya dapat diketahui dari tindakan kuretase, dengan adanya benjolan waktu kuret, dikenal sebagai Currete bump. Tumor jenis ini sering mengalami infeksi, terutama pada mioma submukosa pedinkulata. Mioma submukosa pedinkulata adalah jenis mioma submukosa yang mempunyai tangkai. Tumor ini dapat keluar dari rongga rahim ke vagina, dikenal dengan nama mioma geburt atau mioma yang di lahirkan, yang mudah mengalami infeksi, ulserasi, dan infark. Pada beberapa kasus, penderita akan mengalami anemia dan sepsis karena proses di atas.

Mioma Uteri Subserosa Lokasi tumor di subserosa korpus uteri dapat hanya sebagai tonjolan saja, dapat pula sebagai satu massa yang dihubungkan dengan uterus melalui tangkai. Pertumbuhan ke arah lateral dapat berada di dalam ligamentum latum dan disebut sebagai mioma intraligamenter. Mioma yang cukup besar akan mengisi rongga peritoneal sebagai suatu massa. Perlengketan dengan usus, omentum atau mesenterium di sekitarnya menyebabkan sistem peredaran darah diambil alih dari tangkai ke omentum. Akibatnya tangkai makin mengecil dan terputus, sehingga mioma akan terlepas dari uterus sebagai massa tumor yang bebas dalam rongga peritoneum. Mioma jenis ini dikenal sebagai jenis parasitik.

Mioma Uteri Intramural

Disebut juga sebagai mioma intraepitelial. Biasanya multipel apabila masih kecil tidak merubah bentuk uterus, tetapi bila besar akan menyebabkan uterus berbenjol-benjol, uterus bertambah besar dan berubah bentuknya. Mioma sering tidak memberikan gejala klinis yang berarti kecuali rasa tidak enak karena adanya massa tumor di daerah perut sebelah bawah. Kadang kala tumor tumbuh sebagai mioma subserosa dan kadang-kadang sebagai mioma submukosa. Di dalam otot rahim dapat besar, padat (jaringan ikat dominan), lunak (jaringan otot rahim dominan). Secara makroskopis terlihat uterus berbenjol-benjol dengan permukaan halus. Pada potongan, tampak tumor berwarna putih dengan struktur mirip potongan daging ikan. Tumor berbatas tegas dan berbeda dengan miometrium yang sehat, sehingga tumor mudah dilepaskan. Konsistensi kenyal, bila terjadi degenerasi kistik maka konsistensi menjadi lunak. Mioma yang terletak pada dinding depan uterus, dalam pertumbuhannya akan menekan dan mendorong kandung kemih keatas, sehingga dapat menimbulkan keluhan miksi.

Mioma intraligamenter

Mioma subserosa yang tumbuh menempel pada jaringan lain, misalnya ke ligamentum atau omentum dan kemudian membebaskan diri dari uterus. Jarang sekali ditemukan satu macam mioma saja dalam satu uterus. Mioma pada serviks dapat menonjol ke dalam satu saluran serviks sehingga ostium uteri eksternum berbentuk bulan sabit. Apabila mioma dibelah maka tampak bahwa mioma terdiri dari berkas otot polos dan jaringan ikat yang tersusun seperti kumparan (whorle like pattern) dengan pseudokapsul yang terdiri dari jaringan ikat longgar yang terdesak karena pertumbuhan sarang mioma ini. Bila terjadi kalsifikasi maka konsistensi menjadi keras. Secara histologik tumor ditandai oleh gambaran kelompok otot polos yang membentuk pusaran, meniru gambaran kelompok sel otot polos miometrium. Fokus fibrosis, kalsifikasi, nekrosis iskemik dari sel yang mati. Setelah menopause, sel-sel otot polos cenderung mengalami atrofi, ada kalanya diganti oleh jaringan ikat. Pada mioma uteri dapat terjadi perubahan sekunder yang sebagian besar bersifat degenerasi. Hal ini oleh karena berkurangnya pemberian darah pada sarang mioma. Perubahan ini terjadi secara sekunder dari atropi postmenopausal, infeksi, perubahan dalam sirkulasi atau transformasi maligna.

Gambaran Mikroskopik
Pada pembelahan jaringan mioma tampak lebih putih dari jaringan sekitarnya. Pada pemeriksaan secara mikroskopik dijumpai sel-sel otot polos panjang, yang membentuk bangunan yang khas sebagai kumparan. Inti sel juga panjang dan bercampur dengan jaringan ikat. Pada pemotongan tranversal, sel berbentuk polihedral dengan sitoplasma yang banyak mengelilinginya. Pada pemotongan longitudinal inti sel memanjang, dan ditemukan adanya mast cells diantara serabut miometrium sering diinterprestasi sebagai sel tumor atau sel raksasa (giant cells).

Gejala Klinis
1) Perdarahan abnormal Gangguan perdarahan yang terjadi umumnya adalah hipermenore, menoragia dan dapat juga terjadi metroragia. Beberapa faktor yang menjadi penyebab perdarahan ini, antara lain adalah : Pengaruh ovarium sehingga terjadilah hyperplasia endometrium sampai adeno karsinoma endometrium. Permukaan endometrium yang lebih luas daripada biasa. Atrofi endometrium di atas mioma submukosum. Miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya sarang mioma diantara serabut miometrium, sehingga tidak dapat menjepit pembuluh darah yang melaluinya dengan baik.

2) Rasa nyeri Rasa nyeri bukanlah gejala yang khas tetapi dapat timbul karena gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma, yang disertai nekrosis setempat dan peradangan. Pada pengeluaran mioma submukosum yang akan dilahirkan, pertumbuhannya yang menyempitkan kanalis servikalis dapat menyebabkan juga dismenore. 3) Gejala dan tanda penekanan Gangguan ini tergantung dari besar dan tempat mioma uteri. Penekanan pada kandung kemih akan menyebabkan poliuri, pada uretra dapat menyebabkan retensio urine, pada ureter dapat menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis, pada rectum dapat menyebabkan konstipasi, pada pembuluh darah dan pembuluh limfe dipanggul dapat menyebabkan edema tungkai dan nyeri panggul.

Diagnosis
Diagnosis mioma uteri ditegakkan berdasarkan: 1. Anamnesis Timbul benjolan di perut bagian bawah dalam waktu yang relatif lama. Kadang-kadang disertai gangguan haid, buang air kecil atau buang air besar. Nyeri perut bila terinfeksi, terpuntir, pecah. 2. Pemeriksaan fisik Palpasi abdomen didapatkan tumor di abdomen bagian bawah. Pemeriksaan ginekologik dengan pemeriksaan bimanual didapatkan tumor tersebut menyatu dengan rahim atau mengisi kavum Douglasi. Konsistensi padat, kenyal, mobile, permukaan tumor umumnya rata. 2. Gambaran Klinis Pada umumnya wanita dengan mioma tidak mengalami gejala. Gejala yang terjadi berdasarkan ukuran dan lokasi dari mioma yaitu :
o o o Menoragia (menstruasi dalam jumlah banyak) Perut terasa penuh dan membesar Nyeri panggul kronik (berkepanjangan)

4. Pemeriksaan luar Teraba massa tumor pada abdomen bagian bawah serta pergerakan tumor dapat terbatas atau bebas. 5. Pemeriksaan dalam Teraba tumor yang berasal dari rahim dan pergerakan tumor dapat terbatas atau bebas. 6. Pemeriksaan Laboratorium, USG, BNO/IVP

Diagnosa Banding
Ca Endometrium Ca Serviks Pada mioma subserosa, diagnosa bandingnya adalah tumor ovarium yang solid, atau kehamilan uterus gravidus. Sedangkan pada mioma submucosum yang dilahirkan diagnosa bandingnya adalah inversio uteri. Kemudian, pada mioma intramural, diagnosa bandingnya adalah adenomiosis, khoriokarsinoma, karsinoma korporis uteri atau sarcoma uteri.

Penetalaksanaan
Penanganan mioma uteri tergantung pada umur, status fertilitas, paritas, lokasi dan ukuran tumor, sehingga biasanya mioma yang ditangani yaitu yang membesar secara cepat dan bergejala serta mioma yang diduga menyebabkan fertilitas. Secara umum, penanganan mioma uteri terbagi atas penanganan konservatif dan operatif. Penanganan konservatif bila mioma berukuran kecil pada pra dan post menopause tanpa gejala. Pengobatan operatif meliputi miomektomi dan histerektomi

Bagan penatalaksanaan Mioma Uteri


Mioma

Besar < 14 mgg

Besar > 14 mgg

Tanpa keluhan

Dengan keluhan

Operatif

Konservatif

Konservatif
Observasi dengan pemeriksaan pelvis secara periodik setiap 3-6 bulan. Bila anemia, Hb < 8 g% transfusi PRC. Pemberian zat besi.
Penggunaan agonis GnRH

Operatif
Ukuran tumor lebih besar dari ukuran uterus 12-14 minggu. Pertumbuhan tumor cepat. Mioma subserosa bertangkai dan torsi. Bila dapat menjadi penyulit pada kehamilan berikutnya. Hipermenorea pada mioma submukosa. Penekanan pada organ sekitarnya.

Komplikasi

Atrofi Degenerasi hialin Degenerasi kistik Degenerasi membatu (calcereus degeneration) Degenerasi merah (carneus degeneration) Degenerasi lemak Perdarahan sampai terjadi anemia. Degenerasi ganas
Torsi.

Prognosis
Histerektomi dengan mengangkat seluruh mioma adalah kuratif. Miomektomi yang ekstensif dan secara signifikan melibatkan miometrium atau menembus endometrium, maka diharuskan SC pada persalinan berikutnya. Mioma yang kambuh kembali setelah miomektomi terjadi pada 15-40% pasien dan 2/3-nya memerlukan tindakan lebih lanjut