Anda di halaman 1dari 20

OSTEOPOROSIS

Oleh: Siti Annisa Nurfathia, S.Ked Pembimbing: dr. Budi Justitia, SpOT KEPANITRAAN KLINIK SENIOR UNIVERSITAS JAMBI 2014

Pendahuluan
WHO osteoporosis ditandai dgn rendahnya massa tulang dan

memburuknya mikrostruktural tulang meningkatkan risiko terjadinya fraktur.

AS 44 juta orang, 55% usia >55 tahun, >.

Indonesia (28,8%) & (32,3%) serta 2 dari 5 orang di Indonesia

berisiko terkena osteoporosis dipengaruhi estrogen.

Tinjauan Pustaka
Anatomi Tulang

Sel tulang 1. Osteoblast pembentukan tulang, kaya alkaline phosphatase & merespon produksi/ mineralisasi matriks. 2. Osteocyte PTH bperan resorbsi tulang (osteocytic osteolysis) & transportasi ion kalsium. 3. Osteoclast mediator utama resorbsi tulang. Tulang mature (lamellar bone) kalsium dan fosfat konstan & diikat kolagen., serabut kolagen paralel mbentuk lamina dgn 2 struktur cortical bone (padat), dan cancellous bone (spoon/ porous) Tulang imature (woven bone) serabut kolagen tidak beraturan, diawal penyembuhan tulang, sementara.

Definisi Osteo (tulang), dan porous (berlubang/ keropos) kelainan metabolik tulang dimana terdapat penurunan massa tulang tanpa disertai kelainan matrik tulang.

Etiologi 1. pembentukan massa puncak tulang yang kurang baik selama masa pertumbuhan 2. meningkatnya pengurangan massa tulang setelah menopause. Faktor Risiko 1) Usia 2) Genetik 3) Ras 4) Seks (wanita > pria) 5) Lingkungan, dan lainnya (Defisiensi kalsium, Aktivitas fisik kurang, Obat-obatan, Merokok, alkohol, Hormonal dan penyakit kronik)

Klasifikasi 1. Osteoporosis primer tipe I tipe II 2. Osteoporosis sekunder 3. Osteoporosis idiopatik Patogenesis Pada osteoporosis, massa tulang berkurang, yang menunjukkan bahwa laju resorpsi tulang pasti melebihi laju pembentukan tulang.

Patogenesis Osteoporosis Primer

Patogenesis Osteoporosis Sekunder Mekanisme bone loss pada pengobatan steroid jangka lama akibat penurunan pembentukan tulang dan meningkatnya resorpsi tulang. Pembentukan tulang menurun akibat penekanan fungsi osteoblas dan kadang-kadang menyebabkan hormon-mediated activity osteoclast yang ditandai dengan penekanan langsung pada fungsi osteoblas. Supresi osteoblas menyebabkan penurunan sintesis matriks tulang sehingga pembentukan tulang menurun.

Gejala Klinis kemungkinan osteoporosis bila didapatkan : 1. Patah tulang akibat trauma yang ringan. 2. Tubuh makin pendek, kifosis dorsal bertambah, nyeri tulang. 3. Gangguan otot (kaku dan lemah). 4. Secara kebetulan ditemukan gambaran radiologik yang khas. Penegakan Diagnosis a) Anamnesis : Tinggi badan berkurang, tiba-tiba terjadi rasa nyeri tulang, sakit punggung, sakit pinggang yang parah, kelainan bentuk tulang belakang bungkuk (kyposis).

b) Pemeriksaan Penunjang Radiologi

Gambaran radiologik yang khas pada osteoporosis adalah penipisan korteks dan daerah trabekuler yang lebih radiolusen.

Densitas Massa tulang (Densitometri) Tujuannya u/ menentukan diagnosis, memprediksi terjadinya patah tulang, dan menilai perubahan densitas tulang setelah pengobatan atau senam badan. Berdasarkan WHO: Normal bila densitas massa tulang di atas -1 SD rata-rata nilai densitas massa tulang orang dewasa muda (T-score) Osteopenia bila densitas massa tulang diantara -1 SD dan -2,5 SD dari T-score. Osteoporosis bila densitas massa tulang -2,5 SD T-score atau kurang. Osteoporosis berat yaitu osteoporosis yang disertai adanya fraktur.

Penatalaksanaan a. Non Medikamentosa Exercise 3 hal dalam program latihan (Cumming & Courtey). (1) Impact exercise menstimulasi pembentukan osteoblast dan mencegah resorbsi jogging, jalan cepat, naik tangga. (2) Strengthening exercise mempengaruhi tulang di profunda otot sit up, angkat beban ringan dengan membungkuk.

(3) Balance training menyeimbangkan semua latihan, dimulai dari ringan dan dinaikkan bertahap. b. Medikamentosa Kalsium, Vitamin D, Estrogen, Bhisphosphonate dan Kalsitonin c. Terapi Bedah Bila fraktur, terutama fraktur panggul. Fraktur tulang panjang membutuhkan internal ataupun eksternal fiksasi.

Kesimpulan
Osteoporosis penyakit metabolik tulang menurunnya massa

tulang disertai dengan kerusakan mikro arsitektur dari jaringan tulang tulang mudah patah.

Secara seluler disebabkan abnormalitas bone turn over (osteoklas) dan

hal ini dapat diobati sesuai dgn keadaan tulang sendiri fraktur panggul maka dilakukan fiksasi.

THANK You