Anda di halaman 1dari 58

HUKUM KEPAILITAN

Oleh:
Prof. Dr. Nindyo Pramono, S.H., M.S.

1
HUKUM KEPAILITAN
 Apakah Kepailitan itu?
 Sita umum atas semua kekayaan Debitur Pailit yang
pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh Kurator
di bawah pengawasan Hakim Pengawas sebagaimana
diatur dalam Undang-Undang ini. Seseorang debitur
baru dapat dikatakan berada dalam keadaan pailit, jika ia
mempunyai dua aau lebih Kreditur dan tidak membayar
lunas sedikitnya satu utang yang telag jatuh waktu dan
dapat ditagih dan dinyatakan pailit dg putusan
Pengadilan, baik atas permohonannya sendiri maupun
atas permohonan satu atau lebih krediturnya.

2
HUKUM KEPAILITAN (lanjutan)
 Yang berhak mengajukan pailit?
1. debitur sendiri;
2. seorang kreditur atau lebih;
3. kejaksaan untuk kepentingan umum;
4. Bank Indonesia, jika debiturnya bank;
5. Bapepam, jika debiturnya perusahaan efek, bursa
efek, LKP & LPP;
6. Menkeu, jika debiturnya Persh. Asuransi, Persh.
Reasuransi, Dana Pensiun, atau BUMN yang
bergerak di bidang kepentingan publik.

3
TUJUAN KEPAILITAN

 Kepailitan: Lembaga Hukum Perdata


Eropa, realisasi dua asas pokok Ps 1131
dan 1132 KUHPerdata.

4
TUJUAN KEPAILITAN (lanjutan)
 Asas yang terkandung dalam kedua Ps tersebut:
1. Apabila debitur tidak membayar utangnya dengan
sukarela walaupun telah ada putusan pengadilan yang
menghukumnya supaya melunasi utangnya, atau
karena tidak mampu untuk membayar seluruh
hutangnya, maka seluruh harta bendanya disita untuk
dijual dan hasil penjualan itu dibagi-bagikan kepada
semua krediturnya menurut besar kecilnya piutang
masing-masing, kecuali ada alasan-alasan yang sah
untuk didahulukan;
2. Semua kreditur mempunyai hak yang sama;
3. Tidak ada nomor urut dari para kreditur yang
didasarkan atas timbulnya piutang mereka.

5
TUJUAN KEPAILITAN (lanjutan)

 Pernyataan pailit bertujuan : (1) untuk


mendapatkan penyitaan umum atas
kekayaan si berutang, yaitu segala harta
benda si debitur disita atau dibekukan
untuk kepentingan semua krediturnya.

6
TUJUAN KEPAILITAN (lanjutan)
 (2) untuk menghindarkan kreditur pada waktu
bersamaan meminta pembayaran kembali piutangnya
dari si debitur; (3). Menghindari adanya kreditur yang
ingin mendapatkan hak istimewa yang menuntut hak-
haknya dengan cara menjual sendiri barang milik
debitur, tanpa memperhatikan kepentingan kreditur
lainnya; (4). Menghindarkan kecurangan-kecurangan
yang dilakukan oleh si debitur sendiri, misalnya debitur
melarikan atau menghilangkan semua harta
kekayaannya dengan maksud melepaskan tanggung
jawabnya terhadap para kreditur, debitur
menyembunyikan harta kekayaannya, sehingga para
kreditur tidak akan mendapatkan apa-apa.
7
TUJUAN KEPAILITAN (lanjutan)
 Di Amerika Serikat, Bankruptcy Law dirancang
untuk memaksa agar debitur tidak dapat
menggelapkan harta kekayaannya.
 Historically the bankruptcy law was not
concerned with benefiting the debtor as much as
it was its benefiting the debtor’s creditor. In its
origin, the law was designed to compel
fraudulent debtors to bring their property into
court and to pay it to their creditor, thus
preventing them from concealing their property
or from paying it to only some of their creditor.
8
TUJUAN KEPAILITAN (lanjutan)
 The Bankruptcy Act has several major purpose. One is to
assure that the debtor’s property is fairly distributed to the
creditors and that some of the creditors do not obtain unfair
advantage over the others. At the same time, the act is
designed to protect all of the creditors against action by the
debtor that would unreasonably diminish the debtor’s assets
to which they are entitled. The Act also provides the honest
debtor with a measure of protection against the demands for
payment by creditor. Under some circumstances the debtor
is given additional time to pay the creditors free of pressure
that the creditors might – otherwise exert. If a debtor makes
a full and honest accounting of his or her assets and
liabilities and deals fairly with the creditors the debtor may
have most. If not all, of the debts discharge and thus have a
fresh start.

9
SYARAT KEPAILITAN
 Pailit ( failliet = Belanda ; to fail = Inggris; bankrupt,
bankruptcy = Inggris ) berarti pemogokan pembayaran
atau kemacetan pembayaran.
 Syarat untuk dinyatakan pailit : debitur dalam keadaan
berhenti membayar. Dengan putusan hakim, ia akan
dinyatakan pailit.
 Putusan pailit akan diucapkan hakim, bila secara sumir
terbukti adanya peristiwa atau keadaan yang
menunjukkan adanya keadaan berhenti membayar dari
debitur.
 Sumir terbukti berarti untuk pembuktian tidak berlaku
peraturan pembuktian yang biasa (Buku IV
KUHPerdata).

10
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
 Apa yang menjadi ukuran atau norma bagi “keadaan
berhenti membayar” itu?
 Pedoman yang disepakati : Untuk pernyataan kepailitan tidak
perlu ditunjukkan bahwa debitur tidak mampu untuk membayar
hutangnya dan tidak peduli apakah berhenti membayar itu
sebagai akibat dari tidak dapat atau tidak mau membayar.
 Dalam yurisprudensi :membayar” tidak selalu berarti
menyerahkan sejumlah uang. Membayar berarti memenuhi
suatu perikatan artinya dapat berujud menyerahkan barang.
 Berhenti membayar tidak harus diartikan “near de letter”. Yakni
debitur berhenti sama sekali untuk membayar hutang-
hutangnya, melainkan bahwa debitur pada waktu diajukan
permohonan pailit berada dalam keadaan tidak membayar
utang-utangnya ( Putusan Pengadilan Tinggi Bandung No.
171/1973/Perd/PTB, Tgl : 31 Juli 1973 ).

11
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)

 Dalam yurisprudensi Belanda seperti HR. 22


Maret 1946, HR 26 Januari 1940, HR 17
Februari 1961, banyak keadaan yang dapat
dikategorikan sebagai “keadaan berhenti
membayar” :
1. Keadaan berhenti membayar tidak sama
dengan keadaan bahwa kekayaan debitur tidak
cukup untuk membayar hutang-hutangnya yang
sudah dapat ditagih, melainkan bahwa debitur
tidak membayar hutang-hutang itu.

12
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)

2. Juga pernah terjadi adanya hutang-hutang yang


belum dapat ditagih, tetapi dapat dianggap
debitur dalam keadaan berhenti membayar, asal
pada saat ditagih atau diminta debitur tidak
membayar hutang itu.
3. Bilamana debitur tidak membayar bukan karena
keadaan memaksa, melainkan berdasarkan
keberatan yang oleh hakim tidak segera
dianggap tidak beralasan, maka hakim dapat
menganggap bahwa keadaan berhenti
membayar itu tidak ada.

13
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)

4. Keadaan berhenti membayar dapat terjadi,


bilamana kredit-kredit yang lain tidak mendesak
dibayar atau memiliki eksekusi diluar kepailitan.
5. Keadaan aktiva bundel kemudian terbukti cukup
untuk membayar semua hutangnya, itu tidak
menghalangi bahwa debitur sekarang dalam
keadaan berhenti membayar.
6. Tidak membayar hutang-hutang yang sudah dapat
ditagih dan disamping itu ada hutang-hutang yang
lain yang terbukti dari laporan kurator, membuktikan
adanya keadaan berhenti membayar.

14
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)

 Secara ekonomis seseorang atau suatu


perusahaan dikatakan bangkrut jika keadaan
dalam neraca menunjukkan bahwa posisi
pasivanya lebih rendah atau tidak sebanding
dengan posisi aktiva. Dengan kata lain rugi,
sehingga ada sementara pandapat yang
tidak setuju jika istilah “pailit” itu
diterjemahkan dengan “bangkrut”.

15
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)

 Istilah “bangkrut” adalah istilah yang tidak resmi


digunakan diluar undang-undang. Bangkrut juga harus
diartikan bahwa debitur berada dalam keadaan berhenti
membayar, tidak peduli karena ia tidak mampu atau
tidak mau. Bangkrut tidak selalu harus ditunjukkan oleh
keadaan perusahaan yang merugi. Memang bisa terjadi
perusahaan rugi terus, kemudian ia tidak mampu
membayar hutang-hutangnya. Pada keadaan seperti ini
ia belum tentu bangkrut, ia baru dapat dikatakan
bangkrut jika memang sudah diputus demikian oleh
hakim.

16
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
 Bankruptcy atau kebangkrutan ( Inggris ) itu berarti
keadaan tidak solven dari perorangan atau organisasi
atau perusahaan, yaitu keadaan tidak mampu
membayar hutang.
 Bankrupt : The state or condition of a person (individual,
partnership, corporation, municipality) who is unable to
pay its debts as they are, or become, due. The condition
of one whose circumstances are such that he is entitled
to take the benefit of the federal bankruptcy laws. The
term includes a person againts whom an involuntary
petition has been filed, or who has filed a voluntary
petition, or who has been adjudged a bankrupt. The
woed “bankrupt” is not used in the federal bankruptcy
code. “Debtor” is now the term used.
17
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
 Di bawah UU US ada dua jenis kebangkrutan :”tidak sukarela
( unvoluntary ) “ dan “ sukarela ( voluntary ). Bangkrut secara
“ tidak sukarela “ terjadi bila satu atau lebih kreditur memohon
kepada pengadilan untuk menyatakan debitor tidak solven,
sedangkan “ sukarela “ terjadi bila debitur sendiri yang
memohonnya. Dalam kedua kasus tersebut, tujuannya
adalah penyelesaian yang teratur dan adil dari semua
kewajiban.
 Di US, sejak debitur dinyatakan bangkrut, pengadilan
menunjuk wali sementara ( sama dengan kurator sementara
– Indonesia ) dengan kekuasaan luas dan wewenang untuk
membuat perubahan manajemen, mengatur pendanaan
tanpa jaminan dan mengoperasikan bisnis debitor pada
umumnya sedemikian rupa untuk menghindari kerugian.
Hanya dengan menyerahkan sesuatu jaminan yang
memadai, debitur dapat mengambil alih kendali dari wali.

18
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
 Berkenaan dengan reorganisasi, Debitur tetap memiliki
bisnis dan mengendalikannya, kecuali pengadilan
menentukan lain. Debitur dan kreditur diberi cukup
banyak kelonggaran untuk bekerjasama.
 Jadi : “ pailit “ atau “ bankrupt “ adalah soal debitur
berada dalam keadaan berhenti membayar (insolvency),
bukan soal “ rugi “ .

 Syarat untuk mempailitkan debitur ?


1. debitur mempunyai dua atau lebih kreditur;
2. tidak membayar satu utang yang telah jatuh tempo dan
dapat ditagih.

19
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
 Siapa yang dapat dipailitkan ?
1. Orang perorangan : pria dan wanita; menikah atau
belum menikah. Jadi pemohon adalah debitur
perorangan yang telah menikah, maka permohonan
hanya dapat diajukan atas persetujuan suami atau
isterinya, kecuali tidak ada percampuran harta.
2. Perserikatan atau perkumpulan tidak berbadan hukum
lainnya. Jika pemohon berbentuk Firma harus memuat
nama dan tempat kediaman masimh-masing persero
yang secara tanggung renteng terikat untuk seluruh
utang Firma.
3. Perseroan, perkumpulan, koperasi, yayasan yang
berbadan hukum.
4. Harta warisan.
20
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
 Pengadilan mana yang berwenang?
1. Pengadilan daerah hukum tempat kedudukan debitur;
2. Dalam hal debitur telah meninggalkan Indonesia, maka
pengadilan daerah hukum tempat kedudukdan terakhir
debitur;
3. Dalam hal debitur pesero firma, pengadilan tempat
kedudukan hukum firma;
4. Dalam hal debitur tidak berkedudukan di wilayah Indonesia
tetepi menjalankan profesi atau usahanya di Indonesia,
Pengadilan tempat kedudukan atau kantor pusat debitur
menjalankan profesi atau usahanya di wilayah RI;
5. Dalam hal debitur badan hukum, Pengadilan tempat
kedudukan hukum badan hukum sesuai anggaran dasarnya.

21
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
 Setiap permohonan pernyataan pailit, baik yang diajukan
oleh debitur maupun pihak ketiga di luar debitur harus
diajukan melalui seorang pengacara yang memiliki izin
beracara di Pengadilan, diajukan ke Pengadilan Niaga
melalui panitera (Pasal 7 ayat (1) UU No. 37 Tahun
2004 Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran
Utang.
 Ketentuan ayat (1) tersebut di atas tidak berlaku dalam
hal permohonan diajukan oleh Kejaksaan, Bank
Indonesia, Bapepam, dan Menteri Keuangan.

22
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
 Upaya hukum yang dimungkinkan ?
 Putusan pailit, hanya terbuka upaya hukum
Kasasi dan PK. Apa reasosing ketentuan ini ?.
Mengapa meniadakan upaya banding ?.
 Upaya PK harus memenuhi 2 ( dua ) syarat :
1. Terdapat bukti tertulis baru yang penting, yang
bila diketahui dipersidangan sebelumnya akan
menghasilkan putusan yang berbeda ;
2. Dalam putusan hakim yang bersangkutan
terdapat kekeliruan yang nyata.

23
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
 Uit voorbaarheid bij voorraad ?
 Semua penetapan mengenai pengurusan dan/atau pemberesan harta pailit
yang ditetapkan oleh hakim dapat dilaksanakan terlebih dahulu, kecuali
undang-undang menentukan lain.
 Dengan dijatuhkannya putusan pailit, serta merta Kurator dapat melaksanakan
tugas dan kewenangannya untuk mengurus dan/atau membereskan harta pailit
terhitung sejak putusan pailit diucapkan, meskipun ada kasasi atau PK. Dalam
hal putusan pernyataan pailit dibatalkan sebagai akibat adanya kasasi atau PK
maka segala perbuatan yang telah dilakukan oleh Kurator sebelum atau pada
tanggal kurator menerima pemberitahuan tentang putusan pembatalan tetap
sah dan mengikat Debitur.
 Pada perkara perdata pada umumnya dengan diadakannya upaya hukum
perlawanan, banding atau kasasi terhadap putusan hakim mengakibatkan
penundaan pelaksanaan putusan. Bila hakim memutuskan, uit voorbaar bij
voorraad terhadap putusannya, maka penundaan tidak diadakan. Dalam
praktek hakim dimungkinkan mewajibkan penuntut atau penggugat untuk
memberikan “borg”, agar si tergugat bila keadaan berbalik, dapat dijamin
pembayaran kembali atau ganti ruginya.

24
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
 Pemeriksaan cuma-cuma
 UUPK memungkinkan adanya pemeriksaan secara
gratis, dengan akibat biaya kepaniteraanpun juga gratis.

 Putusan Pencabutan pernyataan pailit


 Putusan tersebut diumumkan oleh Panitera Pengadilan
di dalam BNRI & dua surat kabar harian.
 Terhadap putusan pencabutan pernyataan pailit dapat
dicabut diajukan kasasi dan/atau PK.
 Dalam hal setelah pencabutan pernyataan pailit
diucapkan diajukan lagi permohonan pernyataan pailit,
maka debitur atau pemohon wajib membuktikan adanya
cukup harta untuk membayar biaya kepailitan.

25
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
 Penyitaan oleh Kreditur selama sidang berlangsung ?
 Sebelum putusan pernyataan pailit diucapkan, setiap kreditur atau
kejaksaan dapat mengajukan permohonan ke Pengadilan untuk :
1. meletakkan sita jaminan terhadap sebagian atau seluruh kekayaan
debitur;
2. menunjuk kurator sementara untuk : (1). Mengawasi pengelolaan
usaha debitur; (2). Mengawasi pembayaran kepada kreditur,
pengalihan atau pengagunan kekayaan debitur yang dalam rangka
kepailitan memerlukan persetujuan kurator.
 Biasanya permohonan penyitaan akan dikabulkan, jika kepentingan
kreditur perlu dilindungi. Di samping itu untuk melindungi dan
menjaga kepentingan debitur dan pihak ketiga lain yang
berkepentingan, maka Pengadilan dapat menetapkan agar kreditur
pemohon memberikan jaminan dalam jumlah yang wajar.

26
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)

 Meliputi apa saja kepailitan itu dijatuhkan ?


 Kepailitan meliputi seluruh harta kekayaan debitur yang
ada pada saat pernyataan pailit itu dijatuhkan dan yang
diperoleh selama kepailitan berlangsung.
 Bagi debitur perorangan yang pailit, maka akibat
kepailitan di atas berlaku pula bagi suami atau isteri
yang menikah dalam persatuan harta, baik yang ada
saat dijatuhkan kepailitan maupun yang diperoleh selam
kepailitan.

27
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)

 Dapatkah Bank Rekapitalisasi dan Bank BTO


menjadi pemohon pailit ?
 Putusan MA No. 04 K/N/1998.
 Dalam praktek permohonan pernyataan pailit
sebagian besar dilakukan oleh bank terhadap
debitur kreditnya yang macet.

28
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)

 Pertama, dalam kasus kepailitan yang diajukan oleh PT Bank


PDFCI sebagai Pemohon pailit terhadap PT. Sarana Kemas
Utama selaku Termohon Pailit. Permohonan pailit dikabulkan
hakim pengadilan niaga. Persoalan muncul dalam kasasi karena
Pemohon Kasasi keberatan atas status Termohon
Kasasi/Pemohon Pailit sebagai Bank BTO pada saat
permohonan pailit diajukan. Menurut Pemohon Kasasi atau
termohon pailit, sejak tanggal 3 April 1998 status Termohon
Kasasi adalah bank BTO dan manajemen telah diambil alih atau
dikuasai oleh dan berada di bawah BPPN. Oleh karena itu surat
kuasa Termohon Kasasi atau Pemohon Pailit harus dengan
sepengetahuan atau setidak-tidaknya diketahui oleh BPPN.
Kebertaan ini sebenarnya pernah diajukan pada sidang
pengadilan niaga, namun judex factie sama sekali tidak
mempertimbangkan keberatan tersebut dalam putusannya.
Karena itu judex factie telah melakukan kesalahan dalam
penerapan hukum.
29
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)

 Majelis Hakim Kasasi memandang bahwa Termohon


Kasasi atau Pemohon Pailit dalam status Bank BTO
tetap sah sebagai Pemohon Pailit, karena pernyataan
BTO sama sekali tidak menghapuskan status Termohon
Kasasi atau Pemohon Pailit sebagai badan hukum yang
dapat bertindak sebagai pihak dalam proses perkara
dan dengan demikian pembuatan surat kuasapun tetap
sah dan tidak perlu sepengetahuan dan atau ijin
pemerintah c.q. BPPN. Karena itu Majelis Hakim Kasasi
membenarkan putusan Judex facxtie. Atas putusan ini
Pemohon Kasasi atau Termohon Pailit mengajukan PK.

30
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
 Dalam permohonan PK, Permohon PK atau Pemohon Kasasi
atau Termohon Pailit kembali mempersoalkan kewenangan
hukum atau legal capacity Pemohon Pailit dalam hal ini Bank
PDFCI yang telah dikenakan status Bank BTO pada saat
mengajukan permohonan pernyataan pailit. Menurut Pemohon
PK atau Pemohon Kasasi atau Termohon Pailit, Majelis Hakim
Kasasi dan Judex Facxtie telah melakukan kesalahan berat
dalam menerapkan hukum mengenai kewenangan hukum Bank
BTO. Dikatakan bahwa Termohon PK atau Termohon Kasasi
atau Pemohon Pailit sejak tanggal 3 April 1998 telah menjadi
Bank BTO sehingga manajemen dan operasional telah
diambil alih oleh BPPN sesuai dengan ketentuan Pasal 37 Ayat
(1) UU No.10 Thn 1998. Pada hal permohonan pailit yang
diajukan Termohon PK atau Pemohon Pailit dilakukan pada
tanggal 30 September 1998 yaitu pada saat Termohon PK atau
Pemohon Pailit sudah berstatus Bank BTO tanpa persetujuan
kuasa dari BPPN.
31
SYARAT KEPAILITAN (lanjutan)
 Majelis Hakim PK dalam perkara ini membenarkan pendapat yang
diajukan Pemohon PK atau Termohon Pailit atau Pemohon Kasasi,
karena menurut Majelis terdapat kesalahan berat dalam
menerapkan hukum tentang status dan kewenangan Bank BTO
sebab Direksi Bank PDFCI Tbk yang telah dinyatakan dalam status
BTO sejak 3 April 1998 tidak lagi memiliki kewenangan untuk
melakukan suatu perbuatan hukum ( legal capacity ) termasuk
mengajukan gugatan atau permohonan pailit di muka pengadilan
untuk kepentingan bank tersebut. Karena manajemen dan
operasionalnya telah diambilalih atau dikuasai oleh dan berada di
bawah pengawasan BPPN, maka surat kuasa yang dibuat Direksi
yang menjadi dasar permohonan pailit terhadap Pemohon PK atau
Termohon Pailit adalah tidak sah. Berdasarkan pertimbangan
tersebut, menurut MA terdapat cukup alasan untuk mengabulkan
permohonan PK yang diajukan PT Sarana Kemas Utama selaku
Termohon Pailit atau Pemohon Kasasi atau Pemohon PK dan
membatalkan Putusan MA 14 Desember 1998 No.04 K/N/1998.

32
APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN
UTANG MENURUT UU No. 37 Tahun 2004

 UU No.37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU


menentukan tentang apa yang dimaksud dengan
“utang”. Pasal 1 angka 6 menyebutkan utang adalah
kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam
jumlah uang baik dalam mata uang Indonesia atau mata
uang asing, baik secara langsung maupun yang akan
timbul di kemudian hari, yang timbul karena perjanjian
atau UU dan yang wajib dipenuhi oleh debitur dan bila
tidak dipenuhi memberi hak kepada Kreditur untuk
mendapat pemenuhannya dari harta kekayaan Debitur.

33
APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN
UTANG (lanjutan)

 Ada istilah lain di dalam hukum perdata yang erat sekali


dengan persoalan hutang, yaitu “schuld” yang sering
diterjemahkan “hutang” dan “haftung” yang sering
diterjemahkan “harta kekayaan”. Dalam diri debitur itu
terdapat dua unsur, yaitu schuld dan haftung. Schuld
adalah hutang debitur kepada kreditur, sedangkan
haftung adalah harta kekayaan debitur yang
dipertanggungjawabkan bagi pelunasan hutang tersebut.
Rumusan normatif haftung seperti yang dirumuskan di
dalam Pasal 1331 KUHPerdata.

34
INSTITUSI YG BERWENANG
MENAGIH UTANG

 Seperti diketahui ada beberapa institusi yang berwenang


menangani penagihan hutang piutang, yaitu :
1. Pengadilan Negeri ex dalil wan prestasi ( 1365
KUHPerdata ). c.q. Lembaga upaya paksa ( gijzeling )
( Perma No. 1 Thn 2000 Tentang lembaga paksa badan );
2. BUPLN c.q. UU No. 49 Thn 1960 Tentang PUPN;
3. Usaha damai antara para pihak;
4. Kejaksaan Agung ex UU Kejaksaan;
5. Kegiatan melalui lembaga ADR ex UU No. 30 Thn 1999
Tentang ADR;
6. PP No. 17 Thn 1998 Tentang BPPN ( IBRA ) ;
7. Melalui Prakarsa Jakarta.

35
YURISDIKSI PENGADILAN NIAGA

 Adapun yurisdiksi Pengadilan Niaga


adalah :
1. Permohonan pernyataan pailit ;
2. Permohonan penundaan
pembayaran;
3. Usaha damai.

36
APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN
UTANG (lanjutan)

 Bagaimana majelis hakim pengadilan yang memeriksa kasus-kasus


permohonan kepailitan mengertian hutang itu dapat dilihat dalam
kasus-kasus seperti berikut :
 Pertama, dalam kasus permohonan kepailitan yang diajukan oleh Drs.
Husai Sani dan Djohan Subekti sebagai para Pemohon Pailit terhadap
PT Modern Land Reality LTD selaku termohon pailit. Dalam perkara ini
majelis Hakim Peradilan Niaga dalam putusan
No.07/Pailit/1998/PN/Niaga/Jkt. Pst. Tertanggal 12 Oktober 1998 telah
mengabulkan permohonan kepailitan yang diajukan Pemohon
Pailitnterhadap Termohon Pailit PT Modern Land Reality LTD. Menurut
Majelis Hakim, meskipun permohonan pailit yang diajukan Pemohon
Pailit tidak berdasarkan hutang yang timbul dari konstruksi hukum
pinjam meminjam uang malainkan berdasarkan hutang yang timbul
dari perjanjian pengikatan jual beli rumah susun antara Pemohon Pailit
sebagai pembeli dengan PT Modern Land Reality selaku penjual namun
karena Termohon PT Modern Land Reality belum mengembalikan uang
pembayaran yang diterima dari Pembeli yaitu para pemohon Pailit,
maka Termohon Pailit PT Modern land Reality harus dinyatakan
mempunyai hutang kepada masing-masing Pemohon Pailit.

37
APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN
HUTANG (lanjutan)

 Termohon Pailit PT Modern Land Reality yang tidak menerima


Putusan Majelis Hakim Pengadilan Niaga ( Judex Factie )
tersebut kemudian mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung.
Dalam memeriksa kasus tersebut Majelis Hakim Kasasi tidak
sependapat dengan Judex Factie yang telah mengartikan
hutang secara luas dan pengertian hutang seperti itu menurut
Majelis Hakim Kasasi jelas bertentangan dengan pengertian
hutang sebagaimana dimaksudkan oleh Pasal 1 angka ( 1 ) UU
No. 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan. Menurut Majelis Hakim
Kasasi, pengertian hutang yang dimaksudkan dalam Pasal 1
angka (1) UU No. 4 tahun 1998 harus diartikan dalam konteks
pemikiran konsideran tentang maksud diterbitkannya UU No. 4
Tahun 1998 da tidak dapat dilepaskan kaitan itu daripadanya
yang pada dasarnya menekankan pinjaman meminjam uang
sehingga dengan demikian tidak meliputi bentuk wanprestasi
lain yang tidak berawal pada konstruksi hukum pinjam
meminjam uang.

38
APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN
UTANG (lanjutan)

 Dengan mendasarkan pengertian hutang seperti dimaksudkan pada Pasal 1


angka ( 1 ) UU No. 4 Tahun 1998 itu maka Majelis Hakim Kasasi dalam perkara
ini menilai Majelis Hakim Pengadilan Niaga ( Judex Factie ) telah melakukan
kekeliruan dan kesalahan fatal dalam menerapkan hukum khususnya dalam
menentukan obyek perkara kepailitan, karena pada hakekatnya hubungan
hukum antara Para Pemohon Pailit dengan Termohon Pailit PT Modern Land
Reality adalah hubungan hukum pengikatan jual beli mengenai satuan rumah
susun Golf Modern yang dibangun oleh Termohon Pailit dengan pembayaran
secara angsuran oleh Para Pemohon Pailit sehingga karenanya merupakan
perikatan antara produsen dan konsumen. Padahal, demikian Majelis Hakim
Kasasi, dalam ketentuan Pasal 1 angka (1) UU No. 4 tahun 1998 berikut
Penjelasannya telah dicantumkan dengan jelas adanya hubungan hukum utang
dan bahwa pengertian hutang yang tidak dibayar oleh debitur sebagaimana
dimaksudkan dalam ketentuan ini adalah hutang pokok dan bunganya. Untuk
memperkuat sikapnya itu, Majelis Hakim Kasasi selanjutnya diadakannya UU
Kepailitan maka dalam Konsiderans UU Kepailitan butir e dan f telah
dicantumkan bahwa pertimbangan untuk diadakannya penyempurnaan
peraturan kepailitan dalam mengatasi gejolak moneter beserta akibatnya yang
berat terhadap perekonomian yang berat saat ini adalah penyelesaian hutang
piutang perusahaan yang juga sangat diperlukan dalam penyelenggaraan
kegiatan usaha dan kehidupan perekonomian pada umumnya..

39
APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN
HUTANG (lanjutan)

 Mengenai pengertian utang itu, Majelis Hakim


Pengadilan Niaga ( Judex Factie ) dalam bagian
pertimbangan hukum dari putusannya dalam kasus ini
menyatakan sebagai berikut:
 “Menimbang, bahwa dengan dibatalkannya perjanjian
pengikatan perjanjian jual beli satuan rumah susun
tersebut maka Termohon Pailit PT Modern Land Reality
wajib mengembalikan uang pembayaran yang telah
diterima dari para Pemohon tersebut dan oleh karena
Termohon belum mengembalikan uang pembayaran
yang telah diterima tersebut maka Termohon harus
dinyatakan telah mempunyai hutang kepada masing-
masing Para Pemohon Pailit”.

40
APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN
UTANG (lanjutan)
 Disamping menyatakan Majelis Hakim Pengadilan Niaga ( Judex Factie )
telah melakukan kesalahan berat dalam menerapkan hukum khususnya
yang berkaitan dengan obyek permohonan kepailitan, Majelis Hakim
Kasasi juga menilai Judex Factie telah menjatuhkan keputusan yang
melampaui kewenangannya, sebab dengan telah dibentuknya Pengadilan
Niaga sebagai peradilan yang khusus dalam perkara kepailitan dan yang
terpisah dari peradilan dalam perkara perdata pada umumnya maka
kompetensi atau kewenangan absolut dari Pengadilan Niaga dalam waktu
ini sebagaimana tercantum dalam Pasal 280 ayat (2) UU No.4 tahun 1998
adalah memeriksa dan memutuskan perkara permohonan pernyataan
pailit dan penundaan kewajiban pembayaran hutang, sedangkan dalam
perkara ini, sepanjang mengenai masalah pemeriksaan, pembuktian atau
pembatalan tidaknya suatu perikatan jual beli antara Pemohon Kasasi
dahulu Termohon Pailit PT Modern Land dengan para Termohon Kasasi
sebelumnya Pemohon Pailit beserta segala sanksi hukumnya akibat
perbuatan wan prestasi oleh salah satu pihak, pada hakekatnya termasuk
dalam ruang lingkup kewenangan atau kompetensi pemeriksaan hakim
perdata di Pengadilan Negeri sehingga dalam kasus ini hakim sekaligus
menyimpulkan atau menyatakan dalam pertimbangan hukumnya bahwa
Termohon Pailit yakni PT Modern Land Realty harus dinyatakan
mempunyai hutang kepada masing-masing Para Pemohon Pailit.

41
APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN
UTANG (lanjutan)

 Selanjutnya mengenai masalah kompetensi atau


kewenangan mengadili tersebut, Majelis Hakim Niaga ( Judex
Factie ) dalam putusannya yang telah dibatalkan oleh Hakim
Kasasi tersebut menyatakan sebagai berikut:
 “Menimbang, bahwa berdasarkan surat bukti P-I dihubungkan
dengan surat bukti P-II dan P-IV dapat disimpulkan bahwa
antara Para Pemohon dan Termohon Pailit telah disepakati
suatu Perjanjian Pengikatan Jual Beli Satuan Rumah Susun
Golf Modern dengan cara menggusur dan untuk itu Para
Pemohon telah membayar angsuran-angsurannya sesuai
dengan waktu dan jumlah yang telah disepakati dan
Pemohon Drs. Husein Sani membayar angsurannya sebesar
Rp 30.300.547 dan Pemohon Djohan Subekti telah
membayar angsurannya sebesar Rp 60.893.695.”

42
APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN
UTANG (lanjutan)

 Terhadap putusan Majelis Kasasi No.05 K/N/1999 tersebut, Drs Husien


Sani dan Djohan Subekti yaitu Para Termohon Kasasi dahulu dan Para
Pemohon Pailit ( kreditur ) mengajukan upaya hukum Peninjauan Kembali
( PK ). Menurut para Pemohon PK dalam Memori PK, Majelis Hakim Kasasi
telah melakukan kesalahan berat dalam penerapan hukum khususnya
yang berkaitan dengan ketentuan Pasal 1 angka (1) UU No.4 Tahun 1998
tentang Kepailitan. Para Pemohon PK menolak pertimbangan hukum dan
kesimpulan Majelis Hakim Kasasi yang pada intinya menyatakan bahwa
perkara kepailitan hanya dapat diajukan terhadap orang atau badan
hukum yang mempunyai hutang karena pinjam meminjam uang saja. Para
Pemohon PK menolak argumen dan kesimpulan yang dilakukan Majelis
Hakim Kasasi itu mengingat ketentuan dalam Pasal 1 angka (1) UU No. 4
tahun 1998 tentang Kepailitan sama sekali tidak menyatakan hal seperti
disimpulkan Majelis Hakim Kasasi itu. Selanjutnya Para Pemohon PK
menyatakan bahwa meskipun benar dalam perkara ini Termohon Pailit
diajukan ke Pengadilan Niaga karena wan prestasi, akan tetapi wan
prestasi dalam perkara ini jelas karena Termohon Pailit berkewajiban
untuk membayar sejumlah uang, hal mana terjadi atas kehendak
Termohon Pailit sendiri sesuai dengan bukti P-I, P-II, P-III, berkewajiban
mana terlebih dahulu dari dua orang.

43
APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN
UTANG (lanjutan)

 Majelis Hakim PK yang memeriksa perkara ini ( Putusan No.06/PK/N/1999 )


tidak membenarkan keberatan yang diajukan para Pemohon Kasasi.
Dengan perkataan lain Majelis Hakim PK sama sekali tidak memberikan
pendapat. Majelis Hakim PK hanya menyatakan bahwa keberatan para
Pemohon PK tidak hanya dibenarkan karena tidak ternyata ada kesalahan
berat dalam penerapan hukum yang dilakukan oleh Majelis Hakim tingkat
kasasi dalam memutuskan perkara yang ini dimohonkan peninjauan
kembali. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka permohon peninjauan
kembali yang diajukan Para Pemohon dikatakan tidak beralasan sehingga
harus ditolak. Dengan demikian meskipun Majelis Hakim PK tidak secara
tegas memberikan pertimbangan hukum dan pendapat mengenai
pengertian hutang dalam perkara ini akan tetapi dengan adanya
pertimbangan hukum Majelis Hakim PK yang menyatakan. “bahwa
keberatan para Pemohon PK tidak dapat dibenarkan karena tidak ternyata
ada kesalahan berat dalam penerapan hukum yang dilakukan Majelis
Hakim Kasasi,” maka itu berarti pengertian hutang yang dianut Majelis
Hakim PK adalah sama dengan pengertian hutang yang dianut Majelis
Hakim Kasasi. Dalam hal ini pengertian hutang yang dianut Judex Factie
lebih luas dari pengertian hutang yang dianut Majelis Hakim pada tingkat
MA baik pada tingkat pemeriksaan kasasi maupun pada tingkat
peninjauan kembali.
44
APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN
UTANG (lanjutan)

 Untuk memberikan gambaran yang lebih


lengkap mengenai pandangan Majelis Hakim di
tingkat MA dalam perkara ini, berikut ini dikutip
pertimbangan-pertimbangan hukum Majelis
Hakim Kasasi yang telah dibenarkan (diresepsi)
seluruh oleh Majelis Hakim PK yakni sebagai
berikut :

45
APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN
UTANG (lanjutan)

1. Bahwa keberatan ini dapat dibenarkan sebab Judex Factie


telah salah dalam menerapkan hukum dalam menentukan
objek perkara kepailitan, karena pada hakekatnya hubungan
hukum yang ada antara para Termohon Kasasi dahulu para
Pemohon Pailit dengan para Pemohon Kasasi dahulu
Termohon Pailit yaitu PT Modern Land Realty LTD adalah
hubungan hukum pengikatan jual beli mengenai satuan rumah
susun Golf Modern yang dibangun oleh Pemohon Kasasi
dengan pembayaran secara angsuran oleh para Termohon
Kasasi sehingga karenanya merupakan perikatan antara
produsen dan konsumen. Sedangkan dalam ketentuan
penjelasan Pasal 1 ayat (1) UU No. 4 tahun 1998 tentang
kepailitan telah dicantumkan dengan jelas adanya hubungan
kepailitan telah dicantumkan dengan jelas adanya hubungan
hukum hutang dan bahwa pengertian hukum hutang yang tidak
dibayar oleh debitur sebagai mana dimaksud dalam ketentuan
ini adalah hutang pokok dan bunganya.

46
APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN
UTANG (lanjutan)

2. Bahwa selanjutnya jika ditinjau dari segi tujuan atau maksud


diadakannya UU ini maka dalam Konsidens UU Kepailitan No. 4
Tahun 1998 khususnya butir e dan f telah dicantumkan bahwa
pertimbangan untuk diadakannya penyempurnaan peraturan
Kepailitan dalam mengatasi gejolak moneter beserta akibatnya
yang berat terhadap perekonomian saat ini adalah
penyelesaian utang piutang perusahaan yang juga sangat
diperlukan dalam penyelenggaraan kegiatan usaha dan
perekonomian pada umumnya. Sehingga dengan demikian
pengetian hutang dalam Pasal 1 ayat (1) UU Kepailitan harus
diartikan dalam konteks pemikiran Konsideran tentang maksud
diterbitkannya UU tersebut dan tidak dapat dilepaskan kaitan
itu dari padanya yang pada dasarnya menekankan pinjaman-
pinjaman swasta, sehingga karenanya tidak meliputi bentuk
wan prestasi lain yang tidak berawal pada konstruksi hukum
pinjam meminjam uang.

47
APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN
UTANG (lanjutan)

3. bahwa keberatan ini dapat dibenarkan karena Judex Factie dalam


memutus perkara ini telah melampaui wewenangnya sebab dengan
telah dibentuknya Pengadilan Niaga sebagai Peradilan yang khusus
dalm perkara kepailitan pada umumnya, maka kompetensi atau
kewenangan absolut dari pengadilan niaga pada waktu ini
sebagaimana dicantumkan dalam Pasal 280 ayat (2) UU No. 4 tahun
1998 adalah memeriksa dan memutuskan permohonan pernyataan
pailit dan penundaan kewajiban pembayaran hutang. Sedangkan
pada perkara ini sepanjang mengenai masalah pemeriksaan,
pembuktian dan pembatalan atau tidaknya suatu perikatan jual beli
antara para Pemohon Kasasi dengan Termohon Kasasi beserta segala
sanksi hukumnya akibat perbuatan wan prestasi oleh salah satu
pihak, pada hakekatnya termasuk dalam ruang lingkup kewenangan
pemeriksaan hakim perdata di pengadilan negeri, sehingga dalam
kasus ini Hakim Pengadilan Niaga tidak dapat langsung secara
otomatis dan sekaligus menyimpulkan atau menyatakan dalam
pertimbangan hukumnya bahwa Termohon Pailit harus dinyatakan
mempunyai hutang kepada masing-masing para Pemohon Kasasi.

48
APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN
UTANG (lanjutan)

 Dengan membaca pertimbangan-pertimbangan hukum yang


digunakan Majelis Hakim dalam memeriksa perkara permohonan
pernyataan kepailitan yang diajukan Pemohon Pailit terhadap PT
Modern Land Realty tersebut di atas dapat diambil catatan kesimpulan
sebagai berikut: Majelis Hakim pada tingkat Pengadilan Niaga (Judex
Factie) mengartikan hutang sebagaimana disebut dalam ketentuan
Pasal 1 ayat (1) UU No. 4 tahun 1998 secara luas. Judex Factie
mengartikan hutang tidak hanya yang timbul dari konstruksi hukum
pinjam meminjam uang (pengertian sempit) tetapi juga setiap
hubungan hutang piutang yang timbul dari perikatan jual beli akibat
cidera janji (pengertian sempit) yang dilakukan salah satu pihak.
Sebaliknya Majelis Hakim Niaga pada MA baik pada tingkat kasasi
maupun pada tingkat Peninjauan Kembali mengartikan hutang yang
dimaksudkan dalam Pasal 1 ayat (1) UU No. 4 tahun 1998 itu secara
sempit. Menurut MA, pengertian hutang seperti yang dikehendaki
Pasal 1 ayat (1) UU No. 4 tahun 1998 itu pada dasarnya hanya
menekankan hutang yang timbul dari pinjam meminjam swasta
sehingga tidak meliputi hutang yang timbul salah satu pihak cidera
janji atau wan prestasi di luar konstruksi hukum pinjam meminjam
uang.
49
KEPAILITAN BADAN HUKUM
 Jika yang pailit adalah PT misalnya, maka
penyelesaiannya harus mengacu ke UUPT. tahap-tahap
penyelesaianya sama dengan kepailitan individu, yang
membedakan hanya soal tanggung jawab si pailit.
 Bagi PT, pertama yang bertanggung jawab untuk
membayar kreditur adalah PT. bila kekayaan tidak
mencukupi, maka menurut UUPT, lebih lanjut harus
diselidiki apakah terdapat cukup alasan untuk menuntut
tanggung jawab para pengurusnya.
 Ps 82 UUPT : Direksi bertanggung jawab penuh atas
pengurusan perseroan untu kepentingan dan tujuan PT
baik di dalam maupun di luar pengadilan.

50
KEPAILITAN BADAN HUKUM (lanjutan)

 Ps 85 ayat (1) UUPT : Anggota Direksi wajib dengan itikad baik


dan penuh tanggung jawab menjalankan tugas untuk
kepentingan dan usaha perseroan. Bila anggota Direksi lalai
dalam menjalankan tugasnya menurut Ps 85 ayat (2) UUPT:
Setiap anggota Direksi bertanggung jawab penuh secara
pribadi bila ybs bersalah atau lalai dalam menjalankan
tugasnya. Ayat (3)nya menyatakan : Pemegang saham yang
mewakili paling sedikit 1/10 bagian dari jumlah seluruh saham
dengan hak suara yang sah dapat mengajukan gugatan ke PN
terhadapa anggota Direksi yang karena kesalahan atau
kelalaiannya menimbulkan kerugian pada perseroan.
 PT yang terus rugi dengan putusan hakim dapat dinyatakan
pailit. Kepailitan yang terjadi karena kesalahan atau kelalaian
direksi, menurut Ps 90 ayat (2) UUPT, bila kekayaan PT tidak
mencukupi untuk menutup kerugian akibat kepailitan tsb,
maka setiap anggota direksi secara tanggung renteng
bertanggung jawab atas kerugian itu.
51
KEPAILITAN BADAN HUKUM (lanjutan)

Beberapa ristriksi thd tanggung jawab direksi dalam hal PT


pailit :
1. Direktur ikut bertanggung jawab, jika PT dinyatakan
pailit;
2. Harus ada unsur kesalahan atau kelalaian dari direktur
tsb;
3. Tanggung jawab direktur bersifat residual. Dia baru
bertanggung jawab secara material setelah seluruh aset
PT diambil dan tidak mencukupi;
4. Disamping PT, yang ikut ditarik untuk bertanggung
jawab hanya direksi, komisaris dan pemegang saham
tidak ikut bertanggung jawab, kecuali mereka melakukan
kesalahan lain;
52
KEPAILITAN BADAN HUKUM (lanjutan)

5. Tanggung jawab secara renteng, jadi walaupun seorang


direktur yang salah, tetapi yang lain juga dipresumsi
untuk bertanggung;
6. Adanya presumsi bersalah dengan beban pembuktian
terbalik. Maksudnya jika direksi bersalah, maka seluruh
anggota direksi dianggap bersalah, kecuali jika anggota
direksi ybs dapat membuktikan bahwa sebenarnya ia
tidak bersalah;
7. Prinsip special treatment, untuk PT pailit, pengaturan
dan restriksi tentang tanggung jawab direksi hanya
berlaku dalam hal perusahaan pailit saja. Dalam hal lain
prinsip ini tidak berlaku, dan direktur bertanggung jawab
seperti biasanya dalam kasus-kasus biasa.

53
PERDAMAIAN
 Debitur pailit berhak untuk menawarkan suatu
perdamaian kepada semua Kreditur.
 Jika pengesahan perdamaian telah memperoleh
kekuatan hukum tetap, kepailitan berakhir.
 Kurator wajib mengumumkan perdamaian tersebut
dalam Berita Negara Republik Indonesia dan paling
sedikit 2 surat kabar harian.
 Jika tidak ditentukan lain, Kurator wajib mengembalikan
kepada Debitur semua benda, uang, buku dan dokumen
yang termasuk harta pailit dg tanda terima yang sah.

54
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
(PKPU)
 PKPU diajukan oleh Debitur yang mempunyai
lebih dari satu kreditur atau oleh Kreditur.
 Debitur yg tdk akan dpt melanjutkan membayar
utang2nya yg sdh jatuh waktu & dpt ditagih, dpt
memohon PKPU, dg maksud untuk mengajukan
rencana perdamaian yg meliputi tawaran
pembayaran sebagian atau seluruh utang kpd
Kreditur.

55
PKPU (lanjutan)
 Selama PKPU, Debitur tanpa persetujuan pengurus tidak
dapat melakukan tindakan kepengurusan atau
kepemilikan atas seluruh atau sebagian hartanya.
 Selama PKPU, Debitur tidak dapat dipaksa membayar
utang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 245 dan
semua tindakan eksekusi yang telah dimulai untuk
pelunasan utang, harus ditangguhkan.
 PKPU tidak menghentikan perkara yang sudah dimulai
oleh Pengadilan atau menghalangi diajukannya perkara
baru.

56
Berakhirnya PKPU
Atas permintaan hakim pengawas, satu atau lebih kreditur
atau prakarsa Pengadilan, PKPU dapat diakhiri dalam
hal:
a. Debitur, selama PKPU, bertindak dg itikad buruk
dalam megurus hartanya;
b. Debitur telah merugikan atau telah mencoba
merugikan krediturnya;
c. Debitur melanggar ketentuan Pasal 240 ayat (1);
d. Debitur lalai melaksanakan tindakan2 yg diwajibkan
oleh Pengadilan saat atau setelah PKPU diberikan,
atau lalai melkukan tindakan2 yg disyaratkan oleh
pengurus demi kepentingan harta Debitur;
57
Berakhirnya PKPU (lanjutan)
 Selama PKPU, keadaan harta Debitur
ternyata tidak lagi memungkinkan
dilanjutkan PKPU atau;
 Keadaan Debitur tidak dapat diharapkan
untuk memenuhi kewajibannya terhadap
Kreditur pada waktunya.
 Jika PKPU diakhiri, Debitur harus
dinyatakan pailit dalam putusan yang
sama.
58