Anda di halaman 1dari 8

Disusun Oleh

Wika Dewanta : 07/12280/BP


Angga YugaPrasetyo : 07/12280/BP
PENDAHULUAN
Ketika Teluk Minamata di Jepang tercemar akibat pembuangan
limbah beracun, penduduk sekitar pun menjadi korban sia-sia.
Insiden besar akibat dari pencemaran mercuri tahun 1950-an itu
menewaskan 1.800 orang karena memakan hasil laut dari perairan
lokal yang tercemar tersebut.
Di penghujung tahun 1984, menjelang tengah malam, sebuah
tangki bahan kimia beracun pabrik pestisida Union Carbide di
Bhopal, India, bocor. Segera, 40 ton kabut gas beracun methyl
isocyanate (MIC) bergerak menuju wilayah padat penduduk dalam
kegelapan malam. Tidak kurang dari 2.500 orang tewas, melukai
300.000 orang yang lain, bahkan membuat 15.000 orang cacat
seumur hidup, dan 20.000 ternak mati. Kedua bencana inilah yang
kemudian menjadi 'pemicu' lahirnya ISO 14000.
PEMBAHASAN
Memang, dalam dua dekade terakhir ini kerap muncul
keprihatinan global terhadap dampak negatif akibat
tingginya pertumbuhan agroindustri maupun industri
manufaktur yang mengakibatkan tercemarnya lingkungan.
Itulah sebabnya, keberadaan suatu sistem standardisasi kian
dirasakan urgensinya. Hal ini pulalah yang mendorong
organisasi ISO mendirikan Strategic Advisory Group on
Environment (SAGE) yang bertugas meneliti kemungkinan
mengembangkan sistem standar di bidang lingkungan.
Realitanya, kini lingkungan telah menjadi bagian yang sangat
penting dalam berbisnis. Terkait hal ini, setidaknya ada dua hal yang
perlu diperhatikan, yaitu green consumerism dan lingkungan sebagai
non-tariff barrier. Green consumerism menuntut berbagai produk
harus berorientasi lingkungan dan harus dibuat melalui proses yang
ramah lingkungan. Di sisi lain, banyak negara, utamanya masyarakat
Eropa, memasukkan faktor lingkungan ke dalam perdagangan. Dan,
lingkungan menjadi non-tariff barrier. Artinya, untuk memasuki pasar
dengan kedua karakteristik tersebut di atas diperlukan kaji-ulang atas
kinerja lingkungan yang telah dilakukan selama ini. Pertanyaannya
kemudian adalah, sudahkah persepsi kita sama dengan para green
consumer atau sudahkah memenuhi persyaratan non-tariff tersebut.

Tak dapat dielakkan, pada saat ini tekanan kuat terhadap para
pengusaha industri datang dari dua arah secara simultan, yaitu dari
dalam dan luar negeri. Dalam situasi dan kondisi demikian, jika ingin
tetap bertahan hidup, perusahaan industri dituntut meninjau kembali
visi, orientasi dan kebijakan perusahaan terhadap lingkungan hidup.
Tuntutan perubahan terhadap sistem manajemen lingkungan yang
diterapkan harus sesuai dengan konsep pembangunan berkelanjutan
yang berwawasan lingkungan.
Karena itu, pemanfaatan sertifikasi ISO 14000 tak hanya
penting bagi perusahaan itu sendiri, melainkan juga bagi
lingkungan sekitarnya.

Melalui penerapan standar ISO 14001, aspek-aspek


lingkungan yang berdampak terhadap lingkungan harus
diidentifikasi serta dikelola. Penerapannya harus melibatkan
seluruh proses, mulai dari penerimaan bahan baku hingga produk
akhir, termasuk limbah yang dihasilkan, baik itu limbah cair, gas,
maupun limbah padat. Artinya, penerapan sistem manajemen
lingkungan ini dimaksudkan sebagai antisipasi menjaga
kepercayaan pasar yang ramah lingkungan serta efek domino
hubungan supplier – customer environmental management.
Alhasil, industri dituntut mampu mengendalikan dan mencegah
dampak lingkungan dalam setiap aktivitasnya.
Menjadi 'Syarat Wajib'
Hasil ISO Survey 2006 menunjukkan bahwa di Indonesia,
sertifikat ISO 14001:2004 yang diterbitkan tahun 2006 hanya
berkisar 369 sertifikat. Hal ini menunjukkan masih sedikit
perusahaan yang menerapkan sistem manajemen lingkungan bila
dibandingkan dengan penerapan sistem manajemen mutu ISO
9001:2000 yang mencapai 4783 sertifikat.
Agaknya hal ini menunjukkan bahwa kepedulian dunia usaha kita
terhadap lingkungan masih sangat rendah, meski manfaat yang
diperoleh sangat besar.

Padahal, terlepas dari tuntutan perundang-undangan


negara, persyaratan yang diminta oleh pasar global kini sangat
bernuansakan kepedulian terhadap lingkungan, tak dapat
dielakkan lagi. Perdagangan internasional memberikan
persyaratan yang kian rumit dan lengkap terhadap isu-isu
lingkungan.
Beberapa industri mancanegara, di antaranya dalam bidang elektronik,
telah mempersyaratkan bagi pemasoknya untuk menerapkan ISO 14001. Hal ini
membuat pemasok, mau tidak mau, harus menerapkan sistem manajemen
lingkungan agar produknya dapat diterima.

Sesuai tujuannya, penerapan sistem manajemen lingkungan ISO 14001


adalah untuk mendukung perlindungan lingkungan dan pencegahan
pencemaran yang seimbang dengan kebutuhan sosial ekonomi. Sertifikasi ISO
mensyaratkan program-program yang akan menurunkan penggunaan bahan-
bahan kimia dan limbah berbahaya. Dan manajemen lingkungan itu meliputi
hal-hal yang berkaitan dengan strategi dan kompetisi sehingga dapat digunakan
perusahaan untuk menjamin pihak-pihak yang berkepentingan dengan
produknya, baik untuk skala nasional maupun internasional.

Perusahaan yang telah menerapkan sistem manajemen lingkungan ISO


14001, akan lebih mudah menerapkan sistem manajemen lainnya yang terkait
dengan lingkungan, antara lain produk ekolabel, Roundtable Sustainable Palm
Oil (RSPO) bagi perkebunan kelapa sawit, dan pabrik minyak sawit.
Dengan demikian, penerapan sistem manajemen lingkungan standar
ISO 14000 tidak dapat dikatakan sebagai beban bagi produsen. Standar tersebut
justru merupakan kebutuhan yang akan memberikan nilai tambah bagi
produsen. Sebab, dengan menerapkan standar ISO tersebut, produsen justru
akan dapat menjamin kelangsungan usahanya, meningkatkan kepercayaan
konsumen dan memberikan citra baik kepada produsen. Bahkan yang tak kalah
penting adalah dapat meningkatkan efisiensi agar mampu bersaing di pasar
global, sehingga dapat meraih keuntungan dan citra baik dari konsumen.

Sistem manajemen lingkungan, ISO 14000 merupakan perangkat


kebijakan pengelolaan lingkungan terpadu yang bersifat preventif dan proaktif
yang semakin menopang penerapan konsep pembangunan berkelanjutan Dari
sisi nasional, penerapan yang bersifat massal akan memberikan dampak positif
yang sangat luas, khususnya bagi penghematan sumber daya air dan energi,
sehingga mampu meningkatkan keberlangsungan pembangunan, pertumbuhan
ekonomi dan secara langsung, dapat berkontribusi pada program program
lingkungan yang saat ini gencar dikampanyekan oleh dunia internasional.