Anda di halaman 1dari 28

LOGO

ILEUS
(10-115) (10-125)

OLEH : RICO AFRIYANYO YELSA NORITA

UNIVERSITAS BAITTURRAHMAH PADANG

2012

CHAPTER I DEFINISI ILEUS


Ileus adalah obstruksi usus, dapat terjadi secara mekanis atau fungsional (paralisis) yang menimbulkan mulas hebat dan muntah-muntah. (Kamus Kedokteran Edisi kelima 2008 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, hal.107) Ileus didefinisikan sebagai obstruksi mekanik, dinamik, atau adinamik usus. Singkatnya, istilah ileus biasanya menunjukkan bentuk terakhir obstruksi. (Teks-Atlas Kedokteran Kedaruratan Greenberg Jilid I, hal.281)

CHAPTER I ANATOMI GASTROINTESTINAL


Rongga mulut Fungsi: menganalisis material makanan sebelum menelan; proses mekanis dari gigi, lidah, dan permukaan palatum; lubrikasi oleh sekresi saliva; serta digesti pada beberapa material karbohidrat dan lemak (Simon, 2003) Lidah. Fungsi lidah yaitu proses mekanik dengan cara menekan, melunakkan, dan membagi material; melakukan manipulasi material makanan di dalam rongga mulut dan melakukan fungsi dalam proses menelan; analisis sensoris terhadap karakteristik material, suhu, dan reseptor rasa, serta menyekresikan mukus dan enzim. Faring Faring menjadi jalan untuk materila makanan, cairan, dan udara. Faring terdiri atas nasofaring, orofaring, dan laringofaring.

CHAPTER I ANATOMI GASTROINTESTINAL


Esofagus Fungsi utama dari esofagus adalah membawa bolus makanan dan cairan menuju lambung (Gavaghan, 2009). Lambung Lambung terletak dibagian kiri atas abdomen tepat dibawah diafragma. Kapasitas normal lambung adalah 1-2 L (Lewis, 2000). Usus Halus Usus halus berjalan dari pilorus lambung ke sekum dan dapat dibagi menjadi tiga bagian duodenum, jejenum, dan ileum. (Guyton, 1996). Fungsi usus halus meliputi transportasi dan pencernaan makanan, serta absorbsi cairan elektrolit, dan unsur makanan. Kolon dan Rektum Kolon, yang panjang sekitar 90-150 cm, berjalan dari ileum ke rectum. (Black, 1993) .

CHAPTER I KLASIFIKASI ILEUS


1. ILEUS PARALITIK
DEFINISI Ileus paralitik atau adynamic Ileus adalah keadaan dimana usus gagal atau tidak mampu melakukan kontraksi peristaltik untuk menyalurkan isinya. Ileus paralitik ini bukan suatu penyakit primer usus melainkan akibat dari berbagai penyakit primer, tindakan (operasi) yang berhubungan dengan rongga perut, toksin dan obat-obatan yang dapat mempengaruhi kontraksi otot polos usus. (Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi V, hal 307)

CHAPTER I KLASIFIKASI ILEUS


1. ILEUS PARALITIK
ETIOLOGI
Ileus paralitik hampir selalu di jumpai pada pasien pasca operasi abdomen. Keadaan ini hanya berlangsung antara 24-72 jam. Beratnya ileus paralitik pascaoperasi bergantung pada lamanya operasi, seringnya manipulasi usus dan lamanya usus berkontak dengan udara luar. Pencemaran peritonium oleh asam lambung, isi kolon, enzim pankreas, darah, dan urin akan menimbulkan paralisis usus. Kelainan retroperitoneal seperti hematoma retroperitoneal, terlebih lagi bila disertai fraktur vertebra sering menimbulkan ileus paralitik yang berat. Demikian pula kelainan pada rongga dada seperti pneumonia paru bagian bawah, empiema, dan infark miokard dapat disertai paralisis usus. Gangguan elektrolit terutama hipokalemia merupakan penyebab yang cukup sering. (Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi V, hal 307)

CHAPTER I KLASIFIKASI ILEUS


1. ILEUS PARALITIK PATOFISIOLOGI Patofisiologi dari ileus paralitik merupakan manifestasi dari terangsangnya sistem saraf simpatis dimana dapat menghambat aktivitas dalam traktus gastrointestinal, menimbulkan banyak efek yang berlawanan dengan yang ditimbulkan oleh sistem parasimpatis. Jadi, perangsangan yang kuat pada sistem simpatis dapat menghambat pergerakan makanan melalui traktus gastrointestinal.

CHAPTER I KLASIFIKASI ILEUS


1. ILEUS PARALITIK GAMBARAN KLINIS Ileus adinamik (ileus inhibisi) ditandai oleh tidak adanya gerakan usus yang disebabkan oleh penghambatan neuromuscular dengan katifitas simpatik yang berlebihan. Sangat umum, terjadi setelah semua prosedur abdomen, gerakan usus akan kembali normal pada: usus kecil 24 jam, lambung 8 jam, kolon 3-5 hari. Pasien ileus paralitik akan mengeluh perutnya kembung (abdominal distention), anoreksia, mual, dan obstipasi. Muntah mungkin ada, mungkin pula tidak ada. Keluhan perut kembung pada ileus paralitik ini perlu dibedakan

CHAPTER I KLASIFIKASI ILEUS


dengan keluhan perut kembung pada ileus obstruksi. Pasien ileus paralitik mempunyai keluhan perut kembung, tidak disertai nyeri kholik abdomen yang paroksismal. Pada pemeriksaan fisis didapatkan adanya distensi abdomen, perkusi timpani dengan bising usus yang lemah dan jarang bahkan dapat tidak terdengar sama sekali. Pada palpasi, pasien hanya meyatakan perasaan tidak enak pada perutnya. Tidak ditemukan adanya reaksi peritoneal (nyeri tekan dan nyeri lepas negatif). Apabila penyakit primernya peritonitis, manifestasi klinis yang ditemukan adalah gambaran peritonitis. (Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi V, hal 307)

CHAPTER I KLASIFIKASI ILEUS


2. ILEUS OBSTRUKSI DEFINISI Terjadi obstruksi di dalam lumen usus atau obstruksi mural yang disebabkan oleh tekanan ekstrinsik. Obstruksi mekanis selanjutnya digolongkan sebagai obstruksi mekanis simpleks (hanya terdapat satu tempat obstruksi) dan obstruksi lengkung-tertutup (sedikitnya terdapat 2 tempat obstruksi). (Patofisiologi Edisi 6 Vo.1, EGC, hal.450-451) ETIOLOGI Penyebab obstruksi mekanis berkaitan dengan kelompok usia yang terserang dan letak obstruksi. Sekitar 50% obstruksi terjadi pada kelompok usia pertengahan dan tua, dan terjadi akibat perlekatan yang disebabkan oleh pembedahan sebelumnya. Tumor ganas dan volvulus merupakan penyebab tersering obstruksi usus besar pada usia pertengahan dan orang tua. Kanker kolon merupakan penyebab 90% obstruksi yang terjadi. (Patofisiologi Edisi 6 Vo.1, EGC, hal.452)

CHAPTER I KLASIFIKASI ILEUS


2. ILEUS OBSTRUKSI PATOFISIOLOGI 1. Menurut berat ringannya obstruksi dapat dibagi menjadi : A. Obstruksi Intestinal Partial (In Complete) Sebagian sisa makanan dan udara masih dapat melintasi tempat obstruksi B. Obstruksi Intestinal Complete (Total) Terdapat gangguan pasase isi usus akibat sumbatan. C. Obstruksi Intestinal Strangulasi Terdapat gangguan pasase isi usus disertai adanya gangguan vaskularisasi dari segmen usus. 2. Kelainan obstruksi lumen A. Usus Halus : Adhesi (penempelan), Hernia Eksternal (inkarserata), Neoplasma, Ascariasis B. Usus Besar : Karsinoma Kolon, Divertikel, Volvulus, Intususepsi

CHAPTER I KLASIFIKASI ILEUS


2. ILEUS OBSTRUKSI GAMBARAN KLINIS A. Obstruksi Usus Halus Keluhan yang timbul pada penderita dengan obstruksi intestinal yang khas adalah - Nyeri perut, muntah-muntah, obstipasi, abdominal distensi, tidak flatus dan tidak buang air besar. B. Obstruksi Usus Besar Keluhan : Penderita dengan obstruksi usus besar mempunyai keluhan yang hampir sama dengan obstruksi usus halus seperti nyeri perut, nausea, vomiting, konstipasi dan diare.

CHAPTER I ETIOLOGI ILEUS


Walaupun predisposisi ileus biasanya terjadi akibat pasca bedah abdomen, tetapi ada faktor predisposisi lain yang mendukung peningkatan risiko terjadinya ileus, diantaranya (Behm, 2003) sebagai berikut. Sepsis Obat-obatan (misalnya: opioid, antasid, coumarin, amitriptyline, chlorpromazine) Gangguan elektrolit dan metabolik (misalnya: hipokalemia, hipomagnesemia, hipernatremia, anemia, atau hiposmolalitas) Infark miokard Pneumonia Trauma (misalnya: patah tulang iga, cedera spina) Bilier dan ginjal kolik Cedera kepala dan prosedur bedah saraf Inflamasi intraabdomen dan peritonitis Hematoma retroperitoneal (Buku Gangguan Gastrointestinal Aplikasi Asuhan Keperawatan Medikal Bedah hal.615)

CHAPTER I PATOFISIOLOGI ILEUS


Menurut beberapa hipotesis, ileus pasca bedah dimediasi melalu penghambatan aktivasi refleks spinal. Secara anatomis, refleks yang terlibat pada ileus adalah pada pleksus ganglia prevertebral (Mattei, 2006). Respons dari stres bedah mengarah pada generasi sistemik dari endokrin dan mediator inflamasi yang juga

mempromosikan perkembangan ileus. (Bauer,2004).

CHAPTER II TRIGGER
Bu Sari, 55 tahun, seorang pedagang sayuran, berat badan 55 kg dan tinggi badan 150cm. Ibu Sari sering merasa sakit perut dan susah buang air besar (BAB). Bu Sari juga mengalami perut kembung tapi tidak di sertai dengan nyeri. Kadang-kadang merasa mual dan rasa ingin muntah. Ditemukan pada pasien bising usus yang lemah, pada palpasi ditemukan pembengkakan pada abdomen atau terdapat massa pada abdomen. 2 hari yang lalu Ibu sari baru selesai melakukan operasi abdomen dan pernah inflamasi intraabdomen.

CHAPTER II ANAMNESA
1.Identitas Penderita Nama : Bu Seri Umur : 55 th Jenis kelamin : Perempuan Pekerjaan : Pedagang sayuran Berat badan : 45 kg Tinggi badan : 150 cm 2.Sumber Informasi Pasien sendiri 3.Keluhan utama Rasa mual, muntah tidak bisa BAB, tidak nyaman diperut tanpa disertai nyeri

CHAPTER II ANAMNESA
4. Riwayat penyakit sekarang Sering sakit perut & susah BAB, perut kembung tidak disertai nyeri. Kadang-kadang merasa mual dan rasa ingin muntah. 5. 2 hari yang lalu baru selesai melakukan opersai abdomen dan pernah menagalami inflamasi intraabdomen. 6. Bu sari seorang pedagang dan hidup dilingungan yang tidak sehat. 7. Riwayat keluarga 8. Riwayat Psikososial: pendidikan rendah. 9. Tinjauan Sistem

Kepala Mata Telinga Hidung Mulut Lidah Tenggorok Leher Jantung Paru Gastrointestinal Neurologik Kulit

CHAPTER II ANAMNESA
: Normal : Normal : Normal : Normal : Kering : Kering : Normal : Normal : Normal : Normal : Silent Abdomen : Terganggu karena tindakan pasca operasi : Kering karena dehidrasi

CHAPTER II PEMERIKSAAN FISIK


Teknik Pemeriksaan
Inspeksi Dapat ditemukan tanda-tanda dehidrasi, yang mencakup kehilangan turgor kulit maupun mulut dan lidah kering. Pada abdomen harus dilihat adanya distensi, parut abdomen, hernia dan massa abdomen. Palpasi Pada palpasi bertujuan mencari adanya tanda iritasi peritoneum apapun atau nyeri tekan. Perkusi Hipertimpani Auskultasi Bising usus lemah atau tidak sama sekali (silent abdomen) dan bomborigmi (Bising usus yang keras dan memanjang).

Pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan yang penting untuk dimintakan yaitu leukosit darah, kadar elektrolit, ureum, glukosa darah, dan amilase. (Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi V, hal 307-308)

CHAPTER II PEMERIKSAAN LABORATORIUM

CHAPTER II

Pemeriksaan Penunjang
Foto polos abdomen sangat membantu menegakkan diagnosis. Pada ileus paralitik akan ditemukan distensi lambung usus halus dan usus besar. Air fluid level ditemukan berupa suatu gambaran line up (segaris). Hal ini berbeda dengan Air fluid level pada ileus obstruktif yang memberikan gambaran stepladder (seperti anak tangga). Apabila dengan pemeriksaan foto polos abdomen masih meragukan, dapat dilakukan pemeriksaan foto abdomen dengan mempergunakan kontras. (Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi V, hal 308)

DIAGNOSA KERJA

CHAPTER II HASIL

Pada kasus ini pasien di diagnosa menderita ileus paralitik. Ileus paralitik dapat ditegakkan dengan auskultasi abdomen berupa silent abdomen yaitu bising usus menghilang. Pada gambaran foto polos abdomen didapatkan pelebaran udara usus halus atau usus besar.

DIAGNOSA BANDING
Tabel. Karakteristik dari ileus, Pseudo-obstruksi, dan Mekanik Sumbatan
Ileus Gejala Sakit perut, kembung, mual, muntah, konstipasi Pseudo-obstruksi Nyeri kram perut, konstipasi, obstipasi, mual, muntah, anoreksia Obstruksi mekanik usus Nyeri kram perut, konstipasi, obstipasi, mual, muntah, anoreksia

CHAPTER II HASIL
Ileus Temuan Pemeriksaan Fisik Silent abdomen, kembung, timpani Pseudo-obstruksi Borborygmi, timpani, gelombag peristaltik, bising usus hiperaktif atau hipoaktif, distensi, nyeri terlokalisasi Obstruksi mekanik usus Borborygmi, timpani, gelombag peristaltik, bising usus hiperaktif atau hipoaktif, distensi, nyeri terlokalisasi

Gambaran Radiografi

Dilatasi usus kecil dan besar, diafragma meninggi

Dilatasi usus besar yang terlokalisir, diafragma meninggi

Bow-shaped loops in ladder pattern, berkurangnya gas kolon di distal

PENATALAKSANAAN

CHAPTER II HASIL

Pengelolaan ileus paralitik bersifat konservatif dan suportif. Tindakannya berupa dekompresi, menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit, mengobati kausa atau penyakit primer dan pemberian nutrisi yang adekuat.

KOMPLIKASI
Nekrosis usus, Perforasi usus, Sepsis, Syok-dehidrasi, Abses, Sindrom usus pendek dengan malabsorpsi dan malnutrisi, Pneumonia aspirasi dari proses muntah, Gangguan elektroli, dan Meninggal

PROGNOSIS
Prognosis ileus paralitik baik bila penyakit primernya dapat diatasi.

DISKUSI/PEMBAHASAN
Ileus paralitik adalah keadaan dimana usus gagal melakukan kontraksi paralitik untuk menyalurkan isinya. Dikarnakan penghambatan neuromuscular dengan kafitass simpatik yang berlebihan. hampir selalu ileus paralitik di jumpai pada pasien pasca operasi abdomen. Beratnya ileus paralitik pascaoperasi bergantung pada lamanya operasi atau narkosis. Meteorisme adalah pengumpulan gas yang berlebihan dalam lambung dan usus yang disebabkan otot dinding usus terganggu dan gagal untuk mengangkut isi usus. Kurangnya tindakan pendorongan (peristaltik) menyebabkan akumulasi gas dan cairan dalam usus. Oleh karena itu seseorang dengan ileus paralitik mengalami sakit perut, konstipasi, mual, dan muntah.

DISKUSI/PEMBAHASAN
Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya distensi abdomen, perkusi timpani dengan bising usus yang lemah dan jarang bahkan dapat tidak terdengar sama sekali. Pada ileus paralitik akan mengeluh perutnya kembung (abdominal distention), anoreksia, mual dan obstipasi. Muntah mungkin ada, mungkin pula tidak ada. Keluhan perut kembung pada ileus paralitik ini perlu dibedakan dengan keluhan perut kembung pada ileus obstruksi. Pasien ileus paralitik mempunyai keluhan perut kembung, tidak disertai nyeri kolik abdomen yang paroksismal.

Ileus merupakan obstruksi mekanik, dinamik, atau adinamik usus. Ileus terbagi 2 yaitu Ileus paralitik dan Ileus Obstruksi. Ileus paralitik adalah keadaan dimana usus gagal/tidak mampu melakukan kontraksi peristaltik untuk menyalurkan isinya. Sedangkan Ileus obstruksi adalah keadaan dimana isi lumen saluran cerna tidak bisa disalurkan ke distal atau anus karena adanya sumbatan atau hambatan mekanik. Dari skenario kasus diatas diketahui bahwa yang diderita pasien adalah Ileus paralitik. Gejala klinisnya yaitu perut kembung tidak disertai nyeri, kadang merasa mual dan muntah, penyebab utama berupa pasca operasi abdomen. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya distensi abdomen, perkusi timpani dengan bising usus yang lemah dan jarang bahkan dapat tidak terdengar sama sekali. Dan foto polos abdomen sangat membantu untuk menegakkkan diagnosis. Ditemukan distensi lambung usus halus dan usus besar. Penatalaksanaannya yaitu Pengelolaan ileus paralitik bersifat konservatif dan suportif.

CHAPTER IV KESIMPULAN

REFERENSI
Sudoyo,A.W.dkk.2009.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi V.Jakarta; Interna Publishing A.Price,Sylvia,dkk.2005.Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Volume 1.Jakarta;EGC Staf Pengajar IPD FKUI.2001.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.Jakarta;Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FK-UI Muttaqin,A & Sari,K.2011.Buku Gangguan Gastrointestinal Aplikasi Asuhan Keperawatan Medikal Bedah.Jakarta:Salemba Medika Markam, S.dkk.2008.Kamus Kedokteran Edisi kelima 2008.Jakarta:Balai Penerbit FK-UI Greenberg.M.I.Teks-Atlas Kedokteran Kedaruratan Greenberg Jilid I. Jakarta:Erlangga Palmer.P.E.S.1995.Sistem Radiologi Dasar Organisasi Kesehatan dunia:Petunjuk Membaca Foto Untuk Dokter Umum.Jakarta:EGC http://www.scribd.com/doc/94044309/Css diakses pada 07 Juli 2012 http://ilmubedah.info/ileus-obstruksi-definisi-etiologi-gambaran-klinik-diagnosis-terapiprognosis-20110206.html diakses pada 14 Juni 2012 http://www.scribd.com/doc/38674545/ILEUS-PARALITIK diakses 7 Juni 2012 http://www.scribd.com/doc/51425867/refarat-ileus-paralitik diakses 14 Juni 2012 http://www.scribd.com/doc/89519449/Referar-Ileus diakses pada 7 Juli 2012

LOGO