Anda di halaman 1dari 46

REFERAT

Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)

Ayu Rahmi Mutmainah 030.09.038 BEDAH UROLOGI RSUD KOTA BEKASI FAKULTAS KEDOKTERAN TRISAKTI

ANATOMI

16/03/2014

ayurahmi.amy284@gmail.com

BATAS-BATAS PROSTAT

16/03/2014

ayurahmi.amy284@gmail.com

ANATOMI

16/03/2014

ayurahmi.amy284@gmail.com

ANATOMI
Kontraksi otot polos dari kapsul dan stroma

Plexus nervosus prostaticus

16/03/2014

ayurahmi.amy284@gmail.com

BPH
DEFINISI Istilah BPH atau benign prostatic hyperplasia sebenarnya merupakan istilah histopatologis, yaitu terdapat hiperplasia sel-sel stroma dan selsel epitel kelenjar prostat

16/03/2014

ayurahmi.amy284@gmail.com

Usia >60 tahun

70%

90%

>80 tahun

Angka kejadian BPH di Indonesia yang pasti belum pernah diteliti, tetapi sebagai gambaran hospital prevalence di dua rumah sakit besar di Jakarta yaitu RSCM dan Sumberwaras selama 3 tahun (1994-1997) terdapat 1040 kasus.

Pria usia 20-30 thn ukuran prostat 20 gram

MAYORITAS : terjadi hiperplasia pd dekade ke 6

Teori Dihidro Testosteron Teori Hormonal Teori Penurunan apoptosis Teori STEM CELL Teori Growth Factor

Peningkatan proliferasi sel2x epitel & stroma Gangguan proses apoptosis

HIPERPLASIA

TEORI DHT
Direduksi o/5a reduktase + R/sitoplasma HORMONE RECEPTOR COMPLEX Transformasi reseptor nuclear receptor melekat pd kromatin transkripsi mRNA

Testosteron masuk ke target cell

RNA sintesis protein pembesaran prostat

Teori DHT
Testoteron dibentuk oleh sel Leydig. Testoteron dapat diaromatisasi menjadi estrogen. Testoteron di kapsula prostat dapat direduksi oleh 5-reduktase menjadi DHT yang lebih poten. DHT akan berikatan dengan RA dan merangsang GF untuk proliferasi sel stroma dan epitel. 90% etiologi hormon disebabkan DHT dibanding androgen lain sebab DHT lebih poten melekat pada reseptor androgen. DHT akan mempengaruhi sel stroma secara autokrin dan sel epitel secara parakrin.

TEORI HORMONAL

Aging

Penurunan fungsi testikuler

Penurunan sekresi androgen

Gonadotropin prod estrogen by sel sertoli +++

ESTROGEN hiperplasia stroma

TEORI STEM CELL

Pd kondisi tertentu

Stem Cell +++

Gangguan Steady State

Proliferasi abnormal stemcell

Proliferasi stroma & epitel

Kadar hormon Penyakit DM usia

Olahraga

ras

Faktor predisposisi

Kebiasaan merokok,al kohol

Riayat keluarga

Aktivitas seksual

Obese dan pola diet

Pembesaran prostat

Penyempitan uretra pars prostatika aliran urine terhambat

+++ Tekanan intravesikal

Resistensi uretra makin +++ Dekompensasi M.Detrusor Tdk dpt kontraksi lagi Retensi urine Tekanan intravesikal +++ diteruskan ke seluruh bag.buli & kedua muara ureter Refluks vesicoureter

Buli2 harus kontraksi >>> u/ melawan tahanan Kontraksi terus menerus Perubahan struktur buli :
Hipertrofi M. detrusor trabekulasi

Terbentuk sakula Divertikel buli

Fase Kompensasi

Hidro ureter Hydronefrosis Renal Failure

LUTS / Prostatism

Pembesaran kelenjar periuretra Desakan pd uretra pars uretra Gangguan aliran urine (obstruksi infra vesikal) KOMPONEN MEKANIK

>>> Tonus otot polos & kapsul prostat Alpha adrenergik receptors Stimulasi R/alpha adrenergik

Kontraksi otot polos, tonus +++

STIMULASI SARAF SIMPATIS

TIMBUL GEJALA

KOMPONEN DINAMIK

Diagnosis BPH
EAU membagi pemeriksaan itu dalam: mandatory, recommended, optional, dan not recommended.

Madatory

Anamnesis Pemeriksaan Fisik(Colok Dubur) Urinalisis

PSA Recommanded Tes Faal Ginjal(ureum dan kreatinin)

Diagnosis BPH
Pemeriksaan Tambahan Ultrasonografi (USG) transabdominal atau transrektal Uretrosistoskopi

Diagnosis BPH
Diagnosis BPH dapat ditegakkan berdasarkan atas berbagai pemeriksaan awal dan pemeriksaan tambahan. 1. Pemeriksaan Awal Anamnesis IPSS International Prostate Symptom Score (IPSS). WHO dan AUA telah mengembangkan dan mensahkan prostate symptom score yang telah distandarisasi

Diagnosis BPH
Gejala 1.Gejala pada saluran kemih Bagian Bawah 2.Gejala pada saluran kemih Bagian atas(Nyeri pinggang,Benjolan dipinggang) 3.Gejala diluar saluran kemih(Hernia inguinalis)

GEJALA
OBSTRUKTIF IRITATIF

Harus menunggu pada permulaan miksi (Hesistency) Pancaran miksi yang lemah (Poor stream) Miksi terputus (Intermittency) Menetes pada akhir miksi (Terminal dribbling) Rasa belum puas sehabis miksi (Sensation of incomplete bladder emptying)

Bertambahnya frekuensi miksi (Frequency) Nokturia Miksi sulit ditahan (Urgency) Disuria (Nyeri pada waktu miksi)

Manifestasi klinis berupa obstruksi pada hiperplasia prostat tergantung pada tiga faktor yaitu : Volume kelenjar periuretral Elastisitas leher vesika, otot polos prostat dan kapsul prostat Kekuatan kontraksi otot detrusor

Skor 0-7: bergejala ringan o Skor 8-19: bergejala sedang o Skor 20-35: bergejala berat

PEMERIKSAAN FISIK
COLOK DUBUR Digital Rectal Examination (DRE)
Pembesaran Prostat Konsistensi Prostat Nodul Tanda Keganasan Tonus Sfingter Ani dan Refleks Bulbokavernosus Kelainan pada refleks N. Sacralis

Leukosituria & Hematuria


Tidak banyak manfaat pada BPH dengan Komplikasi (ISK, Batu Buli-buli, Striktura pasien BPH dengan Retensi

Urine dan dengan Kateter

urtetra, atau dgn keluhan


miksi)

PEMERIKSAAN FUNGSI GINJAL


0,3 30 % Gagal Ginjal akibat BPH 25 % Komplikasi Pasca Bedah pada pasien BPH + Gagal Ginjal Pemeriksaan Faal Ginjal Petunjuk perlu tidaknya melakukan pencitraan pada Saluran Kemih bagian Atas.

PSA disintesis oleh sel epitel prostat dan bersifat organ specific tetapi bukan cancer specific. Laju Pertumbuhan Volume Prostat per Tahun Kadar PSA
PSA 0,2-1,3 ng/dl PSA 1,4 3,2 ng/dl PSA 3,3 9,9 ng/dl

0,7 mL/tahun

2,1 mL/tahun

3,3 mL/tahun

Rentang Kadar PSA


40 49 tahun 50 59 tahun 60 -69 tahun 70 -79 tahun 0 2,5 ng/mL 0 -3,5 ng/mL 0 4,5 ng/mL 0 6,5 ng/mL

CATATAN HARIAN MIKSI (VOIDING DIARIES)


Untuk menilai fungsi TU bagian bawah dgn reliabilitas dan validitas yang cukup baik Untuk menilai overaktivitas detrusor

Mendeteksi gejala obstruksi Saluran kemih bagian bawah yang tidak invasif Evaluasi gejala obstruksi intravesika baik sebelum maupun stelah terapi
KOMPONEN UROFLOMETRI : Qmax Pancaran Maksimum Qave Pancaran Rata-Rata BOO Kelemahan Otot Detrusor

Waktu yang dibutuhkan utk Qmax


Lama Pancaran

PEMERIKSAAN RESIDUAL URIN


Residual urin atau post voiding residual urine (PVR): Sisa urin yang teringgal di dalam buli setelah miksi Residual urin normal 0,09 - 2,24 mL (rata-rata 0,53 mL) Pemeriksaan PVR:
Invasif Non invasif

PENCITRAAN TRAKTUS URINARIUS


IVP
70-75% tidak menunjukan adanya kelainan TU bag atas pada kasus BPH

USG

Kecuali pada px awal ditemukan :


1. 2. 3. 4. 5. Hematuria ISK Insufisiensi Renal Riwayat Urolithiasis Riwayat Operasi Traktus Urogenitalia

SISTOGRAFI BPH dengan Retensi Urin

URETROGRAFI RETROGRAD BPH curiga dengan Striktura Uretra

USG PROSTAT Bentuk dan besar prostat Kemungkinan Keganasan BPH yang sedang menjalani terapi direkomendasikan TAUS / TRUS

URETROSISTOSKOPI
Indikasi:
Menetukan jenis operasi (TUIP,TURP, atau prostatektomi terbuka) BPH dengan hematuria Dugaan Ca buli

PEMERIKSAAN URODINAMIKA
Membedakan penyebab kelemahan pancaran urin (Obstruksi leher buli & uretra atau kelemahan kontraksi

otot detrusor)

Indikasi:
< 50 tahun atau > 80 tahun dengan.....
Volume residual urine >300mL Q max> 10 ml/detik Post pembedahan radikal daerah pelvis Gagal terapi invasif Curiga buli-buli neurogenik

PILIHAN TERAPI BPH

Watchful Waiting
Pasien dengan gejala ringan / sedang dengan keluhan yang tidak mengganggu ( IPSS 7) Pasien yang menolak terapi medikamentosa - Hindari obat obatan yang menyebabkan serangan LUTS atau retensi urine akut - Batasi minum yang menyebabkan diuresis terutama malam hari - Perbanyak aktifitas fisik
Evaluasi setiap 6 bulan

Tidak ada kemajuan / keluhan bertambah berat

Pikirkan terapi medikamentosa !

Medikamentosa
Pasien dengan gejala sedang dengan keluhan yang tidak mengganggu ( IPSS 8 19) hingga berat (20-35) Pasien yang tidak menunjukkan perbaikan setelah watchful waiting) Pilihan pertama : antagonis adrenergik - (tamsulosin, doksazosin, terazosin) 2-4 minggu EVALUASI ! Pilihan kedua : inhibitor 5 reduktase dipilih pada volume prostat cukup besar ( > 40 gram) sehingga diperlukan pemeriksaan besarnya prostat 3 bulan EVALUASI !

Tidak ada kemajuan / terjadi efek samping

Rujuk Spesialis Urologi Terapi Intervensi

Intervensi
Tindakan Spesialistik : pembedahan dan ivasif minimal
Pasien dengan keluhan sedang hingga berat yang memilih terapi intervensi Pasien gagal terapi medikamentosa Pasien BPH dengan komplikasi

Pembedahan : 1. TUIP ( vol prostat <20cc) 2. TURP 3. Prostatektomi terbuka (vol prostat >80-100gram) 4. TUVP 5. Laser prostatektomi Jika ada keraguan periksa urodinamika dulu USG merencanakan terapi antara TUIP atau prostatektomi terbuka.

Minimally Invasive
TUMT

KEUNTUNGAN (+)
Tidak merusak mukosa ureter Selama proses pemanasan, urine tetap dpt mengalir keluar Dpt dilakukan dengan anestesi topikal Bleeding minimal Tidak invasif Mekanisme ejakulasi dpt dipertahankan

KERUGIAN (-)

KOMPLIKASI

TUBD

Perbaikan hanya bersifat sementara

TUNA

JENIS TINDAKAN Prostatectomy Endourology: TURP

KEUNTUNGAN (+)

KERUGIAN (-)

KOMPLIKASI

Tdk ada luka incisi Waktu perawatan lebih pendek Morbiditas & mortalitas rendah Prostate fibrous mudah diangkat Lebih cepat daripada TURP Kemungkinan ejakulasi retrograde <<<

Teknik sulit Risiko merusak uretra Tidak dianjurkan u/ BPH besar Kemungkinan residif +++

Intoksikasi cairan Trauma sphincter externa Ejakulasi retrograde

TUIP

JENIS TINDAKAN Open Prostatectomy : Retropubic Infravesica (Terrence-Millin)

KEUNTUNGAN (+)

KERUGIAN (-)

KOMPLIKASI

Tdk ada indikasi absolut Mortality rate rendah Langsung melihat fossa prostat Bleeding mudah dikontrol Tanpa membuka vesica Baik u/ BPH besar Byk u/ semua jenis pembesaran prostat dan BPH dgn penyulit, e.g : BBB, batu ureter, divertikel, uretrokel, kelainan os.pubis

Dpt memotong plexus santorini Potensi oteitis pubis Bleeding +++ Tdk bisa pd BPH + penyulit intravesikal

Bleeding Infeksi Osteitis pubis Trombosis

Suprapubic Transvesica (Freeyer)

Perlu penggunaan kateter lama Sulit kontrol bleeding Merusak mukosa kulit Mortality rate 15%

Striktur uretra post operasi Inkontinensia

KOMPLIKASI
1. Inkontinensia Paradoks 2. Batu Kandung Kemih 3. Hematuria 4. Sistitis 5. Pielonefritis 6. Retensi Urin Akut Atau Kronik 7. Refluks Vesiko-Ureter 8. Hidroureter 9. Hidronefrosis 10. Gagal Ginjal

Prognosis
Prognosis untuk BPH berubah-ubah dan tidak dapat diprediksi pada tiap individu walaupun gejalanya cenderung meningkat. Namun BPH yang tidak segera ditindak memiliki prognosis yang buruk karena dapat berkembang menjadi kanker prostat.

46

Terimakasih

16/03/2014

ayurahmi.amy284@gmail.com