Anda di halaman 1dari 44

CURRENT TRANSFORMER (TRAFO ARUS)

OLEH

Pribadi Kadarisman Dan Wahyudi Sarimun.N

PT PLN (Persero) Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jln RM Harsono No 59 Jakarta


PRI.K, WYD SN SKT

CURRENT TRANSFORMER Fungsi - Mentransformasikan dari arus yg besar (primer) ke arus yg kecil (sekunder) guna pengukuran atau poteksi - Sebagai isolasi sirkit sekunder dari sisi primernya. - Memungkinkan penggunaan standar arus pengenal utk meter atau relai di sisi sekundernya.

Contoh : 2.000/5 A , 300/1 A


P1 P2 2.000 A dan 300 A = Ip = merupakan arus primer 5 A dan 1 A = Is = merupakan arus sekunder

S1

S2
SKT

PRI.K, WYD SN

PERBANDINGAN BELITAN CT IP IS CATATAN: N1 = jumlah lilitan primer N2 = jumlah lilitan sekunder kct = perbandingan transformasi merupakan nilai yg konstan = N1 N2 = kCT

N2 >> N1

PRI.K, WYD SN

SKT

Dua Kelompok Dasar Trafo Arus


a. Trafo arus untuk pengukuran - Mempunyai ketelitian tinggi pada daerah kerja (daerah pengenalnya) 5 % - 120 % In - Cepat Jenuh b. Trafo arus untuk proteksi - Mempunyai daerah ketelitian yang luas - Tidak cepat jenuh
CATATAN:

Kinerja relai tergantung dari trafo arus yang digunakan.


PRI.K, WYD SN SKT

Konstruksi Trafo Arus


Sisi primer batang Sisi primer lilitan

PRI.K, WYD SN

SKT

Jenis Trafo Arus


a. Trafo arus dengan inti besi

Inti besi

b. Trafo arus tanpa inti besi

Rogowski coil

PRI.K, WYD SN

SKT

Sekunder 1000
100 10 1 0,1

Coil Rogowski

Jenuh

Kovesional CT

0,01
0,01 0,1 1 10 100 1000 Primer

- Linier di seluruh djangkauan pengukuran - Tidak jenuh - Tidak terdapat rugi histerisis
PRI.K, WYD SN SKT

PENGENAL TRAFO ARUS. Pengenal primer : 10 ; 12,5 ; 15 ; 20 ; 25 ; 30 ; 40 ; 50 ; 60 ; 75 ; 80 A dan kelipatan 10

Pengenal sekunder : 1 - 2 - 5 A
2 A untuk keperluan tertentu.

Keluaran pengenal standar sampai 30 VA:


2,5 ; 5,0 ; 10 ; 15 ; 30 VA Catatan : nilai diatas 30 VA dipilih untuk penggunaan yang sesuai.

PRI.K, WYD SN

SKT

KLAS KETELITIAN (IEC 185 /1987)


Untuk menunjukkan ketelitian C.T. dinyatakan dengan kesalahannya. Suatu alat semakin kecil kesalahannya semakin teliti alat tersebut

Pada C.T. dikenal 2 macam kesalahan yaitu : a. Kesalahan perbandingan e

KT : perbandingan transformasi nominal b. Kesalahan sudut d

d1 = negatif
d1 = positif

PRI.K, WYD SN

SKT

Pengaruh kesalahan sudut fase Kesalahan sudut fase berpengaruh bila pengukuran menyangkut besaran arus dan tegangan misalnya pengukuran daya aktif maupun reaktif, pengukuran energi dan relai arah. IS bj VP a+ j VS IP P = VP x IP x cos j.
= KPT x KCT x VS x IS x cos j Pembacaan meter = KPT x KCT VS x IS x cos (j+a+b) Kesalahan pengukuran tergantung kesalahan rasio dan kesalahan sudut
SKT

PRI.K, WYD SN

Klas Ketelitian Trafo Arus Untuk Pengukuran


- CT untuk meter teliti untuk daerah rendah 0,1 s/d 1,2 In - Cepat jenuh, diusahakan 5 kali pengenal telah mulai jenuh. Supaya CT cepat jenuh dibuat dengan luas penampang jg relatif kecil atau bahan yg mempunyai lengkung B vs H cepat jenuh misalnya Mu-Metal Kelas ketelitian trafo arus untuk meter dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2 dan kurva kesalahan CT.

PRI.K, WYD SN

SKT

Kelas ketelitian trafo arus untuk meter dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2 dan kurva kesalahan CT.

Tabel 1.
Klas Ketelitian 0,1 0,2 0,5 1,0 +/- % kesalahan rasio arus pada % dari arus pengenal 5 20 100 0,4 0,2 0,1 0,75 0,35 0,2 1,5 0,75 0,5 3,0 1,5 1,0 +/- pergeseran fase pada % dari arus pengenal menit (1/60 derajat) 5 20 100 120 15 8 5 5 30 15 10 10 90 45 30 30 180 90 60 60

120 0,1 0,2 0,5 1,0

Tabel 2.
Klas Ketelitian 0,2S 0,5S
PRI.K, WYD SN

+/- % kesalahan rasio arus pada % dari arus pengenal 1 5 20 100 120 0,75 0,35 0,2 0,2 0,2 1,5 0,75 0,5 0,5 0,5 SKT

+/- pergeseran fase pada % dari arus pengenal menit (1/60 derajat) 1 5 20 100 120 30 15 10 10 10 90 45 30 30 30

Trafo Arus Untuk Proteksi


Trafo arus untuk proteksi diutamakan pada saat gangguan dimana arus yg mengalir beberapa kali arus pengenalnya masih harus teliti atau kejenuhannya tinggi. Kelas ketelitian trafo arus untuk proteksi dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Nilai Batas Kesalahan C.T untuk Proteksi
Klas keteli tian 5P 10 P Pada arus pengenal kesalahan rasio +/- 1 % +/- 3 % kesalahan sudut +/- 60 kesalahan komposit pada batas ketelitian arus primer pengenal 5% 10%

Faktor batas ketelitian standar ( ALF) 5 - 10 - 15 - 20 - 30


PRI.K, WYD SN SKT

Batas ketelitian arus primer pengenal ( Accuracy Limit primairy current)


Nilai arus primer ( A ) minimum dimana kesalahan compo-site error dari trafo arus sama atau lebih kecil dari 5 % atau 10 %, pada sekunder berbeban pengenal Faktor batas ketelitian (Accuracy Limit Factor, ALF ) Nilai arus primer ( Ip /In ) minimum dimana kesalahan compo-site error dari trafo arus sama atau lebih kecil dari 5 % atau 10 %, dengan sekunder berbeban pengenal Contoh :

CT dgn ALF 5 P 10 dan 10 P 10 pada kurva berikut.

PRI.K, WYD SN

SKT

Kurva Acuracy Limit Factor (ALF) 5 P 10 x Is


10 8 6 e<5%

4
2 0

10

12 x Ip

PRI.K, WYD SN

SKT

Kurva Acuracy Limit Factor (ALF) 10 P 10 x Is


10 8 6 e < 10 %

4
2 0

10

12 x Ip

PRI.K, WYD SN

SKT

Pengaruh burden terhadap Acuracy Limit Factor ( ALF)


Bila burden CT lebih kecil dari burden pengenalnya, ALF akan naik sesuai dengan rumus dibawah :
n n ALF *
2 Sn + R ct * Isn 2 S + R ct * Isn

Dimana :

Sn = Burden pengenal dalam VA S = Burden sesungguhnya dalam VA Isn = Arus pengenal sekunder dalam A RCT = Tahanan dalam CT pada 75 0C dalam Ohm.

PRI.K, WYD SN

SKT

Contoh data CT 20 kV
Tabel 4 Data CT 24 kV , 50 Hz sekunder 5 A
Rated primary current A 100 - 200 100 - 200 150 - 300 150 - 300 200 - 400 200 - 400 300 - 600 400 - 800 Short circuit strength Short time current, 1 s kA r.m.s. 11 - 12 20 - 40 16 - 32 27 - 54 20 - 40 27 - 54 27 - 54 27 - 54 Surge current kA peak 30 - 60 50 - 100 40 - 80 68 - 136 50 - 100 68 - 136 68 - 136 68 - 136 Class 0,5 VA 15 15 15 15 15 15 15 15 FS 5 5 5 5 5 5 5 5 RCT W 0,16 0,16 0,18 0,18 0,16 0,16 0,18 0,24 Core S1 Class 5P10 VA 15 15 15 15 15 15 15 15 0,07 0,07 0,28 0,19 0,07 0,07 0,28 0,31 RCT V 25 25 34 34 25 25 34 34 mA 145 145 100 100 145 145 100 75 Core S2 Uk I0

Data Medium Voltage CT : ABB catalog KOVA 2 GB 95 - 03 PRI.K, WYD SN SKT

TRAFO ARUS KLAS TPX, TPY, TPZ Trafo arus yang mempunyai sirkit tanpa dan dengan celah serta mempunyai tipikal konstanta waktu sekunder, sebagai berikut :
TPX = tanpa celah udara dengan konstanta waktu 5 - 20 detik TPY = dengan celah udara kecil (pada inti), dengan konstanta waktu 0,2 - 5 detik TPZ = dengan celah udara besar (pada inti) dengan konstanta waktu 60 mili detik +/- 10 % Kesalahan trafo arus dengan tipe TPX, TPY dan TPZ seperti pada tabel 5.

PRI.K, WYD SN

SKT

Trafo arus dengan 2 pengenal primer


Primer seri paralel P1 P2 P1 P2 Sekunder tap P1 P2 S1- S2 = 500/5 A S1- S3 = 1000/5 A

S1

S2

S1

S2

1000/5 A

500/5 A

S1 S2 S3 500 - 1000/5 A

PRI.K, WYD SN

SKT

Multi rasio Contoh : 100 -200 -300 - 400 -500/5 A


P1 P2 Umum merupakan trafo arus dan banyak digunakan A.S A - B : 100/5 A A - C : 200/5 A A D : 300/5 A A - E : 400/5 A A - F : 500/5 A

Hanya dapat digunakan satu julat saja, yang lain dibuka

PRI.K, WYD SN

SKT

TRAFO ARUS DENGAN BEBERAPA INTI


Tujuan untuk berbagai keperluan yang mempunyai sifat berbeda dan untuk menghemat tempat. Sebagai contoh. CT with two cores : 300 / 5-5 A (untuk kubikel) Penandaan primer P1 -- P2 atau C1 -- C2 Penandaan sekunder inti ke 1 1S1 -- 1S2 ---> pengukuran Penandaan sekunder inti ke 2 2S1 -- 2S2 ---> relai arus lebih P1 P2

PRI.K, WYD 1 SN

1S

1S2 2S1

2S2

SKT

Trafo Arus (Inti & kumparan sekunder) Isolasi Konduktor

P1 (C1)

P2 (C2)

1S1 1S2
PRI.K, WYD SN SKT

2S1 2S2

CT dengan 4 inti.
Penandaan primer P1 -- P2 atau C1 -- C2 Penandaan sekunder inti ke 1 1S1 - 1S2 Penandaan sekunder inti ke 2 2S1 - 2S2 Penandaan sekunder inti ke 3 3S1 - 3S2 Penandaan sekunder inti ke 4 4S1 - 4S2 ---> ---> ---> ---> pengukuran relai jarak proteksi rel proteksi rel

P1 1S1 1S2 2S1 2S2 3S1 3S2 4S1 4S2

P2

PRI.K, WYD SN

SKT

P1(C1 )

P2(C2)

1S1 1S2

2S1 2S2

3S1 3S2 P (C2)


2

4S1 4S2

P (C1 1 )

1S1 1S2
PRI.K, WYD SN

2S1 2S2
SKT

3S1 3S2

4S1 4S2

RANGKAIAN ARUS.
A W kWh

Sambungan langsung

VAR

kvarh

Beban

P1

P2

S1
A W VAR
PRI.K, WYD SN SKT

S2
Beban

kWh kvarh

1S1 1S2

kWh

VAR

kvarh

2S1 2S2

F 51/50

F 51/50G

PRI.K, WYD SN

SKT

Tujuan salah satu sisi sekunder di bumikan.


Tujuan salah satu sisi sekunder dibumikan ialah jika terjadi hubung singkat antara sisi primer dan sisi sekunder, tegangan sirkit sekunder tidak naik. Pada dasarnya pembumian dapat dilakukan pada S1 atau S2 . Dalam beberapa hal letak pembumian sisi sekunder mengikuti buku petunjuk pemasangan meter atau relainya. Pembumian tidak mempengaruhi arah arus.

PRI.K, WYD SN

SKT

Tujuan sisi sekunder di hubung pendek.


A kWh VAR kvarh

1S1 1S2

2S1
2S2

Agar tidak terjadi kenaikan tegangan di sisi sekunder

PRI.K, WYD SN

SKT

Penjelasan sekunder CT yg tidak digunakan harus dihubung singkat


N1 I1 = N2 I2 . F1 = F2 . Es1 = 4,44 f N2 F0 Volt Es2 = 4,44 f N2 ( F1 + F0 ) Volt Karena F1 tidak ada yang mengkompensir yaitu F2 maka tegangan pada sekunder dapat menjadi besar, tergantung arus yang mengalir. F1 = kN1I1
PRI.K, WYD SN

F0 = kN1I0

F2 = kN2 I 2

SKTSKT,D-EZD1-GI-CT,CTKUB1.PPT,200301

Rangkaiam arus CT 250-500/5 A tap sisi sekunder.


VAR 1S1 A W kWh kvarh

1S2

Tidak boleh di hubung singkat

1S3
1S1 F 51/50 F 51/50G

1S2
PRI.K, WYD SN

1S3

SKTSKT,D-EZD1-GI-CT,CTKUB1.PPT,200301

Salah satu dipakai dan yg lain dihubung singkat.


Akan terjadi kesalahan pengukuran

S2 - S3 tidak boleh dihubung singkat, harus terbuka


PRI.K, WYD SN SKT
SKT,D-EZD1-GI-CT,CTKUB1.PPT,200301

BEBAN (BURDEN).
Beban pengenal - Nilai dari beban CT dimana klas ketelitian dinyatakan - Beban CT dinyatakan dalam VA - Nilai beban umum digunakan : 2,5 ; 5 ; 7,5 ; 10 ; 15 ; 30 VA Arus pengenal kontinyu Umumnya dinyatakan pada sisi primer, misalnya 300/5 A, 2000/5 A

PRI.K, WYD SN

SKT

Pengenal arus waktu singkat (Short time rated current)

- Umumnya dinyatakan untuk 0,5 ; 1,0 ; 2,0 ; 3,0 detik. - Tidak menimbulkan kerusakan - Umumnya dinyatakan pada keadaan sekunder CT di hubung singkat. - Arus dinyatakan dalam RMS (nilai efektif)
Pengenal Arus dinamik - Perbandingan dari : Ipuncak / Ipengenal . - Ipuncak : kemampuan arus maksimum CT tanpa menimbulkan suatu kerusakan

PRI.K, WYD SN

SKT

Contoh burden :
C.T. dengan 2 inti. 500 / 5 - 5 A Polaritas primer P1 -- P2 Polaritas sekunder inti ke 1 1S1 - 1S2 ---> 10 VA (meter) Polaritas sekunder inti ke 2 2S1 - 2S2 ---> 15 VA (relai) Ditinjau burden sesungguhnya untuk relai arus lebih statik/numerikal : Relai arus lebih fase : 0,3 VA pada In ( relai numerikal) Jarak antara CT dan kubikel/relai arus lebih 5 m, dengan menggunakan kabel NYA 6 mm2 r = 3,05 ohm/km R untuk 5 m = 5/1000 x 3,05 ohm = 0,01525 ohm Untuk I = 5 A beban kawat 5 m = 5 x 0,01525 VA = 0,07625 VA
PRI.K, WYD SN SKT

5m
F 51/50 A = 6 mm2 Cu F 51/50

F 51/50 F 51/50 G

PRI.K, WYD SN

SKT

Burden gangguan 2 fase = 2 x (0,3 + 0,07625) = 0,7525 VA


Burden gangguan 3 fase = 1 x (0,3 + 0,07625) = 0,37625 VA Burden gangguan 1 fase = 2 x (0,3 + 0,07625) = 0,7525 VA Burden untuk relai pada kubikel yang dominan ialah burden dari relainya.

PRI.K, WYD SN

SKT

Pengecekan kejenuhan inti


Diketahui If max = 7266 A rasio Ct 1000 / 5 A dan klas 7.5 VA 10P20 Rct = 0.26 ohm Rr = 0.02 ohm Rl = 0.15 ohm

Periksa apakah V knee memenuhi kebutuhan untuk rele arus lebih dan rele hubung tanah.
Jawab Untuk rele arus lebih tegangan pada sisi sekunder CT Vs = If ( Rct + Rr + Rl ) = 7226 x 5 / 1000 ( 0.26 + 0.02 + 0.15 ) = 15.54 volt V knee CT dapat sebagai berikut Vk = VA/In x ALF + Rct x In x ALF = 7.5 / 5 x 20 + 0.26 x 5 x 20 = 56 volt

Vk > Vs dengan demikian CT masih memenuhi kebutuhan


SKT

PRI.K, WYD SN

Untuk gangguan hubung tanah harus dapat memenuhi 10 kali seting rele
Vk = 56 volt beban total sisi sekunder CT = 2 Rl + Rct + 2 Rr = 2 x 0.15 + 0.26 + 2 x 0.02 = 0.6 ohm

Arus sekunder Ct maksimum = 56 / 0.6 = 93.33 a Misal seting rele 30 % In = 0.3 x 5 = 1.5 A

dengan demikian CT masih memenuhi kebutuhan karena > 60 X seting

PRI.K, WYD SN

SKT

KEGAGALAN KERJA RELAI OC AKIBAT CT JENUH


SISTEM KELISTRIKAN DAN GANGGUAN HUBUNG SINGKAT
IFG1 IFG1 + IFG2

OC IFG2

OC

SISTEM DENGAN SATU PEMBANGKIT

ARUS SEWAKTU GANGGUAN HUBUNG SINGKAT


PADA UMUMNYA ARUS GANGG. DITRANSFER KE SEKUNDER C.T DGN RATIO MASIH NORMAL

OC

O.C YANG DIKOORDINASI MASIH MENGHASILKAN KERJA SELEKTIF SEWAKTU PEMBANGKIT BERTAMBAH UNTUK PENUHI DEMAND ARUS GANGGUAN DI PENYULANG MENJADI BERTAMBAH BESAR PADA NILAI ARUS GANGGUAN TERTENTU BESARNYA RATIO C.T PENYULANG SUDAH ERROR BAHKAN ARUS DI SEKUNDER C.T DAPAT DIKATAKAN COLLAPSE PRI.K, WYD SN SKT RATIO C.T INCOMING MASIH BAIK

PRIBADI.K

KEGAGALAN KERJA RELAI OC AKIBAT CT JENUH


SISTEM KELISTRIKAN DAN GANGGUAN HUBUNG SINGKAT
IFG1 IFG1 + IFG2

OC IFG2

OC

PADA KONDISI INI O.C DI PENYULANG BISA TIDAK KERJA SAMA SEKALI KARENA OUTPUT SEKUNDER C.T PENYULANG YANG COLLAPSE, BUKAN SETTING O.C SALAH

OC

SEMENTARA OUTPUT SEKUNDER C.T INCOMING MASIH TETAP BAIK, KARENA UNTUK GANGG DITEMPAT YANG SAMA, IFG1 ATAU IFG2 TIDAK TERLALU BERBEDA BILA SALAH SATU GENERATOR OFF, O.C DI MASING2 GENERATOR TETAP BEKERJA BAIK SESUAI TIME DELAY BLACK OUT SISTEM TERJADI O.C PENYULANG TIDAK MAMPU BEKERJA ? PRI.K,MENGAPA WYD SN SKT
PRIBADI.K

KEGAGALAN KERJA RELAI OC AKIBAT CT JENUH


BOLEH DIKATAKAN RELAI PENGAMAN LISTRIK MENGUKUR RMS BESARAN BOLAK BALIK SESUAI FREKWENSI SPEC. UNTUK FREKWENSI 50 HZ

10mS

PENGUKURAN PADA GELOMBANG SINUS FREKWENSI 50 HZ ADALAH SELUAS GELOMBANG SINUS ITU PADA PERIODA 10 mS

ATAU SAMA DENGAN LUAS NILAI D.C UNTUK PERIODA 10mS JUGA NILAI/ LEVEL INI YANG DISEBUT RMS

BAGAIMANA KALAU GELOMBANG SINUS ITU CACAT ? NILAI RMS NYA MENGECIL
PRI.K, WYD SN SKT
PRIBADI.K

KEGAGALAN KERJA RELAI OC AKIBAT CT JENUH


RATIO CT NORMAL
BATAS JENUH INTI +

RATIO CT ERROR
BATAS JENUH INTI +

RMS ARUS PRIMER RMS ARUS PRIMER ARUS PRIMER ARUS PRIMER

BATAS JENUH INTI -

BATAS JENUH INTI -

RMS ARUS SEKUNDER ARUS SEKUNDER

RMS ARUS SEKUNDER

ARUS RMS SEKUNDER C.T PROPORTIONAL O.C KERJA PRI.K, WYD SN NORMAL

SKT

ARUS RMS SEKUNDER CT TIDAK PROPORTIONAL O.C BISA TIDAK KERJA


PRIBADI.K

TERIMA KASIH

PRI.K, WYD SN

SKT