Anda di halaman 1dari 22

PROGRAM KREATIFITAS MAHASISWA

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PABRIK KELAPA SAWIT YANG BERASAL DARI KOLAM AKHIR (FINAL POND) DENGAN PROSES KOAGULASI MELALUI LEKTROLISIS BidangKegiatan PKM-GT Diusulkanoleh :
Krisna Jiwa Dash Pillay Putri Damayanti Devi Sunday 4113240016/2011 4103340013/2010 4133140015/2013 4113240004/2011 (FISIKA) (KIMIA) (MATEMATIKA) (FISIKA)

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN MEDAN 2014

Ringkasan
Limbah adalah kotoran atau buangan yang merupakan komponen pencemaran yang terdiri dari zat atau bahan

yang tidak mempunyai kegunaan lagi bagi masyarakat.


Limbah industri dapat digolongkan kedalam tiga golongan yaitu limbah cair, limbah padat, dan limbah gas yang dapat mencemari lingkungan. Limbah ini merupakan sumber pencemaran yang potensial bagi manusia dan lingkungan,

sehingga pabrik dituntut untuk mengolah limbah tersebut.

Metode yang digunakan untuk pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit yang berasal dari kolam akhir dapat dilakukan dengan koagulasi melalui elektrolisis. Sebanyak 250 ml sampel limbah cair pabrik kelapa sawit yang berasal dari kolom akhir dimasukkan elektroda aluminium

dengan jarak 2 cm dan divariasikan arus yang mengalir


selama 2 jam, lalu disaring. Selanjutnya masing-masing perlakuan ditentukan pH, COD, BOD dan kekeruhan.

Proses koagulasi melalui elektrolisis dapat menurunkan nilai COD, BOD, kekeruhan dan pH limbah cair pabrik kelapa sawit yang berasal dari kolam akhir. Semakin besar arus yang digunakan pada proses koagulasi semakin besar penurunan nilai dari COD, BOD, kekeruhan dan pHnya. Hasilnya menunjukkan bahwa proses koagulasi melalui elektrolisis dapat dimanfaatkan dalam proses pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit

karena dapat menurunkan nilai COD, BOD, pH dan kekeruhan.

PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Dalam beberapa tahun terakhir bisnis dan investasi pengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah

terjadi booming. Permintaan atas minyak nabati telah


mendorong peningkatan permintaan minyak nabati yang bersumber dari Crude Palm Oil (CPO). Indonesia memiliki

potensi pengembangan perkebunan kelapa sawit yang sangat


besar karena memiliki cadangan lahan yang cukup luas, ketersediaan tenaga kerja, dan kesesuaian agroklimat.

Proses pengolahan kelapa sawit menjadi minyak kelapa sawit akan menghasilkan limbah cair dalam jumlah yang cukup besar. Untuk menghasilkan satu ton minyak kelapa sawit dihasilkan dua setengah ton limbah cair pabrik kelapa sawit. Limbah cair tersebut berasal dari proses perebusan, klarifikasi dan hidrosiklon. Pengembangan industri kelapa sawit yang diikuti dengan pembangunan pabrik dapat menimbulkan

dampak negatif terhadap lingkungan berupa pencemaran.

Limbah cair pabrik kelapa sawit masih memiliki potensi


sebagai pencemaran lingkungan karena berbau, berwarna, mengandung nilai COD, BOD serta padatan tersuspensi yang tinggi. Apabila limbah tersebut langsung dibuang ke badan secara

penerima, maka sebagian akan mengendap, terurai

perlahan,

mengkonsumsi

oksigen

terlarut,

menimbulkan

kekeruhan, mengeluarkan bau yang tajam dan dapat merusak ekosistem badan penerima (Alaerts, G., 1987 dan Betty, J.S.,

1996).

Mengamati pengaruh penurunan warna air buangan pencelupan dimana aliran air dibuat kontinu selama proses. Tingginya nilai COD,

BOD dan kekeruhan limbah cair pabrik kelapa sawit dapat diturunkan
dengan koagulasi zat-zat organik dan anorganik yang dikandungnya. Proses koagulasi dapat terjadi secara tidak langsung dari proses elektrolisis memakai elektroda aluminium sebagai sumber ion Al+3. Ion Aluminium akan bereaksi dengan air membentuk aluminium hidroksida yang berfungsi sebagai koagulasi. (Kartini Noor Hafni.1998)

Limbah cair yang dihasilkan berupa Palm Oil Mill Effluent (POME) air buangan kondensat (8-12 %) dan air hasil pengolahan (13-23 %). Menurut Djajadiningrat dan Femiola (2004) dari 1 ton

Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit dapat dihasilkan 600-700 kg


limbah cair. Ketersediaan limbah itu meupakan potensi yang sangat besar jika dikelola dan dimanfaatkan dengan baik. Namun sebaliknya

akan menimbulkan bencana bagi lingkungan dan manusia jika


pengelolaannya tidak dilakukan dengan baik dan profesional.

1.2 Tujuan

Tujuan pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit yang berasal dari kolam akhir

(final pond) adalah untuk mengurangi nilai


dari COD, BOD, kekeruhan , serta pH dari limbah tersebut dengan proses koagulasi

melalui elektrolisis, sehingga menjadi limbah


yang ramah lingkungan.

1.3 Manfaat Manfaat dari pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit yang berasal dari kolam akhir ini yaitu mengurangi pencemaran lingkungan yang terjadi akibat dari limbah tersebut, juga untuk menghilangkan zat-zat anorganik dan organik yang terdapat dari limbah tersebut sehingga limbah tersebut tidak berbau,

tidak berwarna, dan dapat meningkatkan kesuburan


tanah di sekitar pabrik dan masyarakatnya.

2. GAGASAN
2.1 KONDISI KEKINIAN

Pengembangan industri kelapa sawit yang diikuti dengan pembangunan pabrik dapat menimbulkan dampak negatif

terhadap lingkungan berupa pencemaran. Untuk menghasilkan


satu ton minyak kelapa sawit dihasilkan dua setengah ton limbah cair pabrik kelapa sawit. Dari kondisi ini dapat dilihat bahwa limbah cair dari Pabrik Kelapa Sawit yang berasal dari kolam akhir dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan dan dapat mengganggu kesuburan tanah d lingkungan sekitarnya.

Berdasarkan Penelitian yang telah dilakukan sebelumnya di Pabrik

Kelapa Sawit PTPN IV Bah Jambi Kebun Adolina Perbaungan, sampel


limbah cair dari Pabrik Kelapa Sawit yang berasal dari kolam akhir secara acak yakni melalui beberapa titik sampel dan beberapa kedalaman. Data yang diperoleh bahwa limbah cair pabrik kelapa sawit yang berasal dari kolam akhir masih banyak mengandung zat anorganik dan organik, dengan ukuran dan bentuk yang bermacam-macam sehingga mengakibatkan nilai COD dan BOD serta kekeruhan semakin tinggi. (Darwin, Y. N., Jurnal Sains Kimia. Vol 8, No.2, 2004: 38-40)

S O L U S I

2.2 SOLUSI YANG DITAWARKAN

Untuk mengurangi zat anorganik dan organik yag berasal dari kolam akhir limbah cair pabrik kelapa sawit dan untuk menurunkan nilai COD, BOD, kekeruhannya, dan untuk menghilangkan bau dari limbah tersebut diPabrik Kelapa Sawit PTPN IV Bah Jambi Kebun Adolina Perbaungan dapat dilakukan dengan cara koagulasi melalui elektrolisis.

Y A N G D I T A W A R K A N

Limbah cair pabrik kelapa sawit yang berasal dari kolam akhir masih banyak mengandung zat anorganik dan organik, sehingga mengakibatkan nilai COD dan BOD serta kekeruhan semakin tinggi. Penurunan nilai COD dan BOD seiring dengan meningkatnya kuat arus yang dialirkan. Hal ini terjadi karena kestabilan sistem koloid yang

tersuspensi pada sampel limbah cair diganggu dengan penambahan ion


aluminium yang berasal dari proses oksidasi di anoda. Ion Al+3 yang masuk ke dalam sampel akan memperkecil potensial zeta yang berarti mengurangi perbedaan muatan di dalam sampel.

Dengan berkurangnya perbedaan muatan ini ketebalan lapisan diffus akan berkurang dan menggangu lapisan stern

sehingga gaya tolak menolak antara partikel yang berdekatan


tersebut dikurangi ataupun ditiadakan sehingga terjadi proses koagulasi. Pada kedua grafik tersebut dapat dilihat penurunan nilai COD dan BOD yang relatif derastis pada saat arus dialirkan sebesar 2,5 A dibandingkan dengan sampel limbah cair yang tidak dielektrolisis. reduksi di katoda.

Hal ini disebabkan oleh arus yang dialirkan semakin besar maka kecepatan partikel terkoagulasi akan semakin cepat sehingga

mengakibatkan jumlah partikel yang tersuspensi semakin sedikit. Semakin sedikit jumlah dan semakin kecil ukuran partikel maka diperlukan kuat

arus dan waktu yang lebih besar untuk terkoagulasi. Didapati bahwa
semakin besar arus yang dialirkan maka pH sampel akan semakin besar. Kenaikan pH ini disebabkan adanya pelepasan ion hidroksida atau gas hidrogen pada saat berlangsungnya peristiwa reduksi di katoda.

2.3 PIHAK-PIHAK YANG TERLIBAT

Pihak yang terlibat untuk mengimplementasikan gagasan ini yaitu


ketua dan anggota pelaksana PKM, Pihak Perkebunan Kelapa Sawit, dan pemerintah daerah. Ketua dan anggota pelaksana PKM bertugas untuk melaksanakan kegiatan ini yaitu dengan meneliti terlebih dahulu limbah cair pabrik kelapa sawit yang berasal dari kolam akhir dalam keadaan aman atau tidak.Bila tidak aman, maka gagasan anda yaitu dengan mengolah limbah cair kelapa sawit yang berasal dari kolam akhir dengan koagulasi melalui elektrolisis dapat dilakukan.

2.4 LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS

Langkah-langkah

strategis

yang

harus

dilakukan

untuk

mengimplementasikan gagasan ini yaitu dengan cara :

Melakukan pengukuran COD, BOD,


Menambahkan ion Al+3 ke dalam limbah cair Dengan berkurangnya perbedaan muatan ini ketebalan lapisan diffus akan berkurang dan menggangu lapisan stern sehingga gaya tolak menolak antara partikel yang berdekatan tersebut dikurangi ataupun

ditiadakan sehingga terjadi proses koagulasi.

KESIMPULAN
Proses koagulasi melalui elektrolisis dapat menurunkan nilai COD, BOD, kekeruhan dan pH limbah cair pabrik kelapa sawit yang berasal dari kolam akhir. Semakin besar arus yang digunakan pada proses

koagulasi semakin besar penurunan nilai dari COD, BOD, kekeruhan


dan pHnya. Dengan menurunnya nilai COD, BOD, kekeruhan, dan pHnya, maka limbah cair pabrik kelapa sawit yang berasal dari kolam

akhir (Final Pond) menjadi tidak tercemar dan dapat membantu


kesuburan tanah di sekitarnya, serta dapat menghilangkan bau yang tidak sedap di areal sekitar pabrik.

DAFTAR PUSTAKA Alaerts, G., 1987, Metode Penelitian Air, Usaha Nasional, Surabaya. Betty, J.S., 1996, Penanganan Limbah Industri Pangan, Kanisius, Yogyakarta.

Djajadiningrat, Surna T dan Famiola, Melia. 2004. Kawasan Industri Berwawasan Lingkungan. Bandung; Penerbit Rekayasa Sains.

Sastrawijaya, A.T, 1991, Pencemaran Lingkungan, Rineka Cipta, Jakarta.

Soetrisno, Noer. 2008. Peranan Industri Sawit dalam Pengembangan Ekonomi Regional: Menuju Pertumbuhan Partisipatif Berkelanjutan. Medan: Universitas Sumatera Utara. Voyutsky, 1975, Colloid Chemistry, Mir Publisher, Moskow.

Terima Kasih