Anda di halaman 1dari 17

OBAT OBAT ANESTESI

Teori anestesi yang diyakini dan dianut adalah teori anestesi neurofisiologi yaitu pemberian zat anestetik akan menurunkan transmisi sinaps di ganglion cervicalis superior dan menghambat formasio retikularis asenden untuk berfungsi mempertahankan kesadaran. Anestesi berdasarkan tempat aksi ada dua yaitu : Anestesi umum dan lokal.
Anestesi umum Anestesi lokal Hilangnya rasa sakit dengan disertai hilangnya kesadaran. Hilangnya rasa sakit tanpa disertai dengan hilangnya kesadaran.

Anestesi lokal merupakan pengembangan dari kokain yang digunakan oleh kedokteran gigi dan oftalmologi pada abad ke 19. Penggunaan anestesi lokal berperan dalam meredakan rasa nyeri dalam waktu singkat.pada pembedahan yang berlingkup lokal/kecil (operasi kecil) Mekanisme mengurangi kemampuan saraf untuk menghantarkan potensial aksi dan impuls saraf. Misal : insisi, tindakan pada gigi, penjahitan, dll Obat yang digunakan untuk anestesi lokal yaitu : lidocain, atau lidokain cum adrenalin(pehacain), bupivakain(marcain, decain.dll,), tetrakain, prilokain, ropivakain. Cara pemberian anestesi lokal secara : topikal, subkutan / intradermal, spinal( intratekal), epidural.

Anestesi Umum. Pelaksanaan anestesi umum ada 3 tahapan yaitu: induksi, pemeliharaan sadar kembali Induksi : periode waktu mulai pemberian obat anestesi s/d pembedahan efektif. Pemeliharaan: periode dimana pemeliharaan anestesi sampai pembedahan yang bertahan. Sadar kembali: periode mulai dari putusnya anestetik sampai dengan sadar kembali.

Cara pemberian anestetik pada anestesi umum adalah :


Open drops method Semi open drops method Semi closed method Closed method

Tahapan kedalaman anestesi ada 4 yaitu:

Stadium I: ANALGESIA (hilangnya rasa nyeri) dimulai saat pemberian anestesi hingga hilangnya rasa sakit tetapi kesadaran masih ada, pd stadium ini bisa dilakukan tindakan pembedahan ringan seperti cabut gigi, biopsi.
Stadium II: DELIRIUM/ EKSITASI dimulai saat kesadaran sudah hilang waktu pembedahan dengan gejala adanya eksitasi dan gerakan yg tidak sesuai kehendak, pernafasan tidak teratur, tonus rangka meninggi, muntah, medriasis, hipertensi, takikardi. Stadium III : ANESTESI PEMBEDAHAN saat dimulai teraturnya nafas hingga pernafasan spontan hilang,dgn tanda-tanda: - pernafasan spontan dan teratur, sedang pengontrolan kehendak dihambat - Reflek kelopak mata dan konjungtiva hilang - Kepala bebas digerakkan,tanpa tahanan - Gerakan bola mata tidak menurut kehendak segera dilakukan pembedahan. Stadium IV: PARALISIS MEDULA OBLONGATA dimulai saat melemahnya pernafasan perut, tekanan darah tak dapat diukur krn kolaps pembuluh darah jantung berhenti berdenyut

Obat Anestesi Umum dibagi menjadi 3 golongan yaitu : 1. Anestetik gas 2. Anestetik yan menguap 3. Anestetik yang diberikan secara intra vena/parenteral. Anestetik gas pada umumnya berpotensi rendah sehingga hanya digunakan untuk induksi dan operasi ringan, tidak mudah larut dalam darah, batas keamanan antara efek anestesi dan letal cukup lebar. N2O( nitrogen Oksida/gas gelak): berupa gas tidak berwarna,tidak berbau dan tidak berasa dan lebih berat dari udara.digunakan untuk anestesi dengan dikombinasi dengan oksigen(O2) Merupakan anestesi yang lemah. Kombinasi pada umumnya dengan perbandingan N2O : O2 (80:20) untuk induksi N2O : O2 (70:30) untuk penunjang N2O : O2 (100 ) digunakan bergantian untuk partus. Aman, tidak mengiritasi, proses pemulihan cepat, dapat menyebabkan hipoksia. SIKLOCAPRON Anestetik gas yang kuat, berbau spesifik, tidak berwarna, lebih berat dari pada udara, dan disimpan dalam bentuk cair dengan tekanan tinggi. Gas yang mudah meledak dan mudah terbakar sehingga metode yang digunakan hanya dengan metode closed. Tidak menghambat kontraksi otot jantung , sedikit mengiritasi saluran pernafasan. Curah jantung dan tekanan arteri tetap sehingga merupakan pilihan bila digunakan untuk pasien syok.

Anestetik menguap:
Mempunyai 3 sifat dasar yaitu: - berbentuk cair pd suhu kamar - sifat anestetik kuat pada konsentrasi rendah - mudah larut dalam darah, air sel dan lemak Dibagi menjadi 2 golongan yaitu: Golongan eter ( dietil eter dan vinil eter ) Golongan hidrokarbon ( a.l kloroform, halotan, methoksifuran, Enfluran, Isofluran, Sevofluran)

Eter :
Cairan tidak berwarna, mudah menguap, berbau, mengiritasi saluran pernafasan, mudah terbakar dan meledak, Anestetik yang kuat, analgesik kuat. Memberikan efek mual dan muntah pada waktu pemulihan. Penggunaan kombinasi dengan oksigen atau N2O berhati hati bisa terjadi tahapan ledakan bila mencapai paru pasien bisa meninggal. Bisa digunakan dengan berbagai metode anestesi( open drop, semi closed) Hepatotoksik yang kuat. Banyak ditinggalkan karena efek samping terutama efek mual dan mengiritasi saluran pernafasan serta hepatotoksik.

Halothan:
Merupakan cairan tak berwarna, berbau enak, tak mudah terbakar meski dicampur dengan oksigen. Penggunaan obat ini menggunakan alat yg disebut fluotec, efek analgesiknya tidak kuat,konsentrasi minimal untuk anestesi 0,76 volume %. Efek samping : Depresi pernafasan, bradikardia, kerusakan hati,anoreksia, mual,muntah,kulit kemerahan. Menghambat tonus miometrium, mengurangi efektifitas alkaloid ergometrin dan oksitosin sehingga hati hati pada penggunaan pada waktu partus. Absorpsi dan ekskresi halotan melalui paru2 hanya 20 %, dimetabolisme dalam badan dan eksresi melalui urin Untuk induksi diberikan 1 4 % dicampur dng O2 dan N2O, dosis penunjang 0,5-2 %

Enfluran
Gas yang kurang kuat dibandingkan dengan Halotan. Eter terhalogen, tidak mudah terbakar. Diekskresi lewat urin sebesar 2% dan kontra indikasi dengan px gagal ginjal. Kadar yg tinggi dapat menyebabkan depresi pernapasan dan penekanan pada kardiovaskuler dan perangsangan ssp. Oleh sebab itu perlu kombinasi dengan N2O

Isofluran :
Eter terhalogen, berbau tajam shg px cenderung untuk menahan nafas dan batuk. Anestetik halogenasi baru, yang mempunyai biotranformasi rendah dan toksisitas terhadap organ rendah. Tidak menimbulkan aritmia jantung. Belum terbukti aman untuk wanita hamil dan penggunaan pada waktu partus.

Methosifluran :
Anestetik inhalasi yang kuat karena kelarutan dalam lemak tinggi. Pemakaian dalam jangka waktu lama dapat toksik terhadap ginjal. Jarang digunakan diluar kebidanan karena efek toksik tersebut. Untuk kebidanan karena tidak merelaksasi uterus. SEVOFLURAN Flourocarbon yang disetujui untuk digunakan untuk induksi dan pemeliharaan. Berbau rendah dan tidak tajam, Kelarutan dlm darah rendah dan ekskresi sangat cepat.

Anestesi Parenteral
Barbiturat : Efek anestesi krn blokade system aktivasi retikuler, menghambat pusat pernafasan dimedula oblongata menghambat otot jantung tetapi tonusvaskuler meninggi dan kebutuhan oksigen berkurang. Barbiturat tidak menimbulkan sensitisasi jantung terhadap ketokolamin, curah jantung menurun Natrium Tiopental: Pemberian scr I.V dengan dosis sbb: Induksi dewasa : 2-4 ml larutan 2,5 % diberikan intermiten 30 60 detik unt mempertahankan anestesia diberikan 0,5 2 ml larutan 2,5 %

Ketamin :
Larutan yg tdk berwarna stabil pd suhu kamar dan aman, mempunyai sifat anelgesik, anestetik dgn kerja singkat. Golongan Non Barbiturat Menaikkan tekanan darah, nadi dan curah jantung, dosis yg berlebihan akan menekan pernafasan. Sifat analgesik ketamin sangat kuat menekan system somatik ttp lemah menekan system visceral Ketamin sering menimbulkan efek halusinasi pada orang dewasa Mengalami proses dealkilasi dan hidrolisis dlm hati dan diekskresi dlm bentuk metabolit dan utuh. Dosis : I.V 2 mg/BB dlm waktu 60 detik stadium operasi 5-10 menit utk penunjang dosis nya I.M 10 mg/BB menimbulkan stadium operasi 12-25 menit

Propofol
Sedative/hipnotika IV yang digunakan dalam induksi dan pemeliharaan. Mula kerja pelan, kira kira 40 detik setelah pemberian. Tambahan narkotik diperlukan, Mengurangi tekanan intrakranial dan menurunkan tekanan darah.

Tambahan untuk anestetik:


Obat preanestetik
Antikolinergik. Anti emetik Antihistamin Barbiturat Benzodiazepin Opiad

Pelemas otot.
Atrakrium Suksinil cholin Vekuronium

TERIMAKASIH