Anda di halaman 1dari 52

Keracunan

Dr. Anky Tri Rini K E, Sp.A (K)


SMF. Anak RS Kanker Dharmais

Jakarta

BATASAN Masuknya racun kedalam tubuh melalui :

Saluran cerna
Pernafasan Kulit Mata Suntikan Gigitan ular / serangga Menimbulkan tanda atau gejala klinis

ETIOLOGI
Obat-obatan : Salisilat, acetaminofen, digitalis, aminofilin

Gas toksik

: Karbonmonoksida, gas toksik iritan

Zat kimia industri : Metil alkohol, asam sianida, kaustik, hidrokarbon Zat kimia pertanian: Insektisida Makanan : Singkong, jengkol, bongkrek

Bisa ular atau serangga

KRITERIA DIAGNOSIS Onset yang mendadak Umur biasanya 1 5 tahun Riwayat adanya pica atau keracunan sebelumnya Stres lingkungan yang kuat Melibatkan sistem organ

Perubahan tingkat kesadaran


Gejala klinis tidak khas untuk penyakit tertentu

Tanda vital : Takikardia : Alkoholm teofilin, amfetamin, kokain, antikolinergik Takipnea : Amfetamin, karbon monoksida, salisilat

Bradipnea : Etanol, barbiturat, narkotik


Apnea Wheezing : Botulismus, fosfat organik : Fosfat organik, hidrokarbon

Hipertermia : Salisilat, hidrokarbon, amfetamin, teofilin, antikolinergik

Hipotermia : Barbiturat, fenotiazid, narkotik, etanol

Neuromuskular
Koma : Narkotik, hipnotik sedatif, alkohol, barbiturat, karbon monoknisad, antikolinergik

Ataksia
Kejang

: Dilantin, benzodiazepin, etanol, barbiturat


: Teofilin, kamper, amonia, isoniazid, kokain

Reaksi distonik : Fenotiazid, haloperidol

Paralisis
Mata Miosis Midriasis

: Botulismus, logam berat

: Opiat, barbiturat, fenotiazid, fosfat organik : Amfetamin, kokain, antikolinergik

Nistagmus : Dilantin

Kulit Kering dan hangat Berkeringat banyak Sianosis

Kemerahan

: Antikolinergik : Fosfat organik, amfetamin, jamur, salisilat, kokain : Methemoglobinemia, hipoksia, karbon monoksida : Antikolinergik,borac, amfetamin

Saluran cerna Ileus : Antikolinergik, narkotik Muntah : Teofilin, kaustik, salisilat, besi, keracunan makanan Retensi urin : Antikolinergik

Bau nafas Aseton Alkohol Bitter almond : Aseton, metil alkohol, salisilat : Etanol : Sianida

Bawang putih
Buah-buahan Hidorkarbon

: Arsen, fosfor, fosfat organik


: Amil nitrit, metanol : Hidrokarbon (minyak tanah, terpenting, bensin)

Jengkol

: Jengkol

PEMERIKSAAN PENUNJANG Darah lengkap, analisis gas, osmolalitas serum, elektrolit, urea N, kreatinin, glukosa, transaminase hati EKG Foto toraks / abdomen

Skrining toksiokologi untuk kelebihan dosis obat


Tes toksikologi kuantitatif

TERAPI
Prinsip terdiri dari 4 tahap : Suportif Setelah penilaian kondisi penderita, langkah ABC resusitasi harus segera dilaksanakan untuk mempertahankan pernafasan dan sirkulasi yang adekuat, sebelum dilakukan penanganan lain

Dekontaminasi (mencegah absorbsi racun lebih lanjut)


Mata / kulit Basuh dengan air mengalir Jangan menggunakan antidotum kimia Terinhalasi

Jauhkan segera dari sumber racun, O2, dan bila perlu pernafasan buatan
Suntikan / gigitan ulat

Pasang tourniquet dibagian proksimal,


kompres dingin, dan penderita dimobilisasi

Tertelan Perangsangan muntah Indikasi Racun sangat toksik dalam jumlah membahayakan Menelan racun < 4 jam Anak sadar dan kooperatif Kontraindikasi Keracunan zat korosif, hidrokarbon Penderita tidak sadar, kejang Tidak ada refleks muntah Cara Rangsang mekanik Sirup ipekak : Dosis 15 ml (anak < 1 thn : 10 ml) (onset 20 menit, kurang disukai karena bau) Bilas lambung Tidak sebaik rangsang muntah pemasangan NGT menimbulkan trauma

Pemberian arang aktif Umur (th) Dosis (g) Dewasa 50 100 12 35 75 10 30 65 7 25 50 3 15 30 1 12.5 25

Pelarut air (ml) 200 150 120 100 65 50

Bubuk arang aktif dikocok dengan air sampai larut Dosis : 1 2 g/KgBB/dosis, p.o./pipa nasogastrik diberikan setelah pengosongan lambung, paling baik dalam jam pertama keracunan Dosis dialisis usus : dosis diatas, tiap 2 jam sampai feses berwarna hitam

Katartik Indikasi Bila perangsangan muntah / bilas lambung merupakan kontra indikasi Kontraindikasi Menelan zat korosif Bising usus (-)

Disfungsi ginjal atau gangguan elektrolit


Anak kecil / neonatus

Dosis

Mg / Na sulfat
Mg sitrat

: 250 mg/KgBB/dosis, p.o. atau


: 4 ml/KgBB/dosis, p.o. diikuti dengan arang aktif

Laktulosa Umur (th) Dosis (ml)

Dewasa
7 14 16 <1

15 45
15 5 10 5

Meningkatkan ekskresi racun

Perangsangan diuresis
Dialisis peritoneal / hemodialisis Hemoperfusi Antidotum spesifik Hanya tersedia untuk beberapa jenis racun (10%) Dapat efek toksik serius, karena itu penggunaannya dibatasi pada racun berat / jenis racun yang diketahui pasti, misalnya Organofosfat Jengkol : Atropin : Na bikarbonat

Singkong / sianida : Na nitrat 3% + Na tiosulfat 25%

KERACUNAN JENGKOL
BATASAN Keadaan terdapatnya gejala disuria, hematuria, kadang-kadang oliguria atau anuria yang timbul setelah makan jengkol ETIOLOGI Asam jengkol KRITERIA DIAGNOSIS Riwayat makan jengkol Sakit perut, muntah, nyeri supra pubis dan disuria Nafas / urin berbau jengkol Oliguria / anuria Hematuria (mikroskopik atau makroskopi) Ditemukannya kirstal asam jengkol dalam urin

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Urin lengkap Tes fungsi ginjal (ureum, kreatinin)

Analisis gas darah


Pencitraan ginjal dan saluran kemih, bila diduga ada tanda obstruki akut (foto polos abdomen, USG, IVP)

PENYULIT

GGA
Hidronefrosis akibat obstruksi akut Asidosis metabolik

TERAPI Kasus ringan Minum banyak Tablet Na bikarbonat 1 mg/KgBB/hari, atau 1 2 g/hari Kasus berat Dirawat / ditangani sebagai kasus GGA Bila terjadi retensi urin segera kateterisasi dan buli-buli dibilas dengan bikarbonat 1,5% Pada oliguria infus cairan dekstrosa 5% + NaCl 0,9% (3:1) Pada anuria dekstroses 5 10% (kebutuhan cairan seperti GGA)

Na bikarbonat 2 5 mEq/KgBB dalam dekstrosa 5% per infus selama 4 8 jam Diuretik dapat diberikan (Furosemid 12 mg/KgBB/hr) Bila dengan cara diatas tidak berhasil dialisis peritoneal PROGNOSIS Umunya baik Mortalitas 6%

SURAT PERSETUJUAN
Diperlukan

KERACUNAN SINGKONG
BATASAN Keadaan timbulnya gelala toksik beberapa jam sesudah makan singkong ETIOLOGI Asam sianida (HCN)

KRITERIA DIAGNOSIS
Sakit kepala, mual, sesak nafas, sianosis Keadaan berat : Kejang, koma, pernafasan agonal, kolaps kardiovaskular dan asidosis laktat Saturasi O2 darah vena Sekuele neurologik

PEMERIKSAAN PENUNJANG Darah : Analisis gas, saturasi O2 vena, laktat serum Pemeriksaan kadar sianida jarang dilakukan karena pemeriksaannya memerlukan waktu PENYULIT Asidosis metabolik Sekuele neurologik

TERAPI Gawat darurat Pertahankan nafas, O2 dan bila perlu lakukan bantuan nafas, atasi koma, hipotensi atau kejang bila ada Pasang infus, monitor tanda vital dan EKG dengan ketat Spesifik

Segera berikan Na nitrit 3% ml/KgBB (mask. 10 ml), i.v. perlahan-lahan Na tiosulfat 25% 1 ml/kgBB/i.v.
Dekontaminasi

Diluar rumah sakit : Arang aktif


Dirumah sakit : segera pasang pipa nasogastrik, berikan arang aktif dan dilakukan bilas lambung. Setelah bilas lambung beri tambahan arang aktif dan katartik

KERACUNAN TEMPE BONGKREK

BATASAN

Keadaan terdapatnya gejala kelumpuhan saraf kranialis yang bersifat progresif dan desenden setelah memakan tempe bongkrek ETIOLOGI
Terkontaminasinya bahan tempe bongkrek oleh Clostridium botulinum atau Bacterium cocovenas yang akan mengubah gliserin menjadi racun toksoflavin

KRITERIA DIAGNOSIS Gejal timbul 18 36 jam setelah makan tempe bongkrek yang telah terkontaminasi Gejala awal : Sakit tenggorokan, sakit kencing dan keluhan saluran cerna

Gejala lanjut : Diplopia, ptosis, disartria, dan kelemahan saraf kranialis lainnya, diikuti dengan paralisis desendens progresif dan akhirnya henti nafas
Mental tetap baik, sensorik baik Pupil dilatasi dan refleks cahaya (-) / normal EMG : konduksi normal, potensi aksi motor

DIAGNOSIS BANDING
Miastenia gravis Sindroma Guillaind Barre

PEMERIKSAAN PENUNJANG
EMG LP (bila diduga infeksi intrakranial) Pemeriksaan toksin dalam serum / tinja jarang dilakukan karena pemeriksaannya memerlukan waktu

PENYULIT
Kelemahan otot pernafasan henti nafas mendadak

TERAPI Gawat darurat Pertahankan jalan nafas (bila perlu bantuan nafas) Observasi ketat adanya gagal nafas karena dapat terjadi henti nafas tiba-tiba Spesifik Antitoksin batulisme Guanidin hidroklorid 15 35 mg/KgBB/hr, dalam 3 dosis (berguna untuk menghilangkan blokade neuromuskular) Dekontaminasi Diluar rumah sakit : Perangsangan muntah Dirumah sakit : Bilas lambung, berikan arang aktif dan katartik PROGNOSIS Buruk, bila paralisis otot pernafasan (karena tidak dapat diatasi dengan guanidin hidroklorid)

KERACUNAN MINYAK TANAH

BATASAN Keadan timbulnya gejala gangguan pernafasan setelah tertelan atau teraspirasi minyak tanah

ETIOLOGI

Senyawa hidrokarbon golongan alifatik

KRITERIA DIAGNOSIS

Riwayat menelan minyak tanah


Gejala awal aspirasi ke paru : Batuk, rasa tercekik diikuti dengan takikardia dan takipnea. Dalam waktu 6 jam timbul merintih, pernafasan cuping hidung, retraksi dan mengi Gejala akibat tertelan : Mual, muntah, diare dan nyeri perut Gejala SSP : Somnolen, sakit kepala, kebingungan Foto toraks : Gambaran pneumonitis

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Foto toraks

PENYULIT Pneumonia aspirasi Edema paru akut Sindroma distres pernafasan akut

Gangguan keseimbangan asam basa

TERAPI Gawat darurat O2 lembab bila ada tanda kelainan paru (bila perlu bantuan nafas) Bila kelainan paru cukup berat, sebaiknya rawat di PICU Atasi bronkopasme dengan bronkodilator (nebulizer) Suportif Tanpa kelainan klinis/radiologik observasi minimal 4jam Bila foto toraks ulangan setelah 4 jam normal boleh pulang Antibiotik : Pneumonia berat dengan febris atau lekositosis, gangguan gizi dan penyakit paru sebelumnya atau defisiensi imun Kortikosteroid tidak bermanfaat untuk kerusakan paru Dekontaminasi Tidak perlu, karena pengosongan lambung resiko aspirasi

KERACUNAN INSEKTISIDA

BATASAN Keadaan terdapatnya gejala gangguan cerna, susunan saraf pusat / simpatis setelah menelan, terinhalasi atau kontak kulit lama dengan insektisida ETIOLOGI Fosfat organik : Malation, paration Chlorinated hydrocarbon : Aldrin, endrin, DDT

FOSFAT ORGANIK KRITERIA DIAGNOSIS Riwayat terpajan insektisida Klinis Gejala SSP : Sakit kepala, ataksia, kejang, koma Tanda nikotinik : Muscle twiching, kelemahan otot, paralisis dan tremor Tanda muskarinik : Salivation, lacrimation, urination, defecation, gastrointestinal cramp, emesis (SLUDGE), berkeringat Miosis, bradikardia, bronkorea, bronkospasme Aktivitas pseudokolinesterase plasma dan asetilkolin eritrosit PEMERIKSAAN PENUNJANG Pengukuran aktivitas pseudokolinesterase plasma dan asetilkolin esterase eritrosit (bila memungkinkan)

TERAPI
Gawat darurat Pertahankan jalan nafas, O2, (bila perlu bantuan nafas) Awasi terjadinya henti nafas akibat kelumpuhan otot pernafasan Atasi pneumonitis hidrokarbon, kejang/koma (bila ada) Observasi minimal 6 8 jam untuk menyingkirkan gejala lambat akibat absorbsi toksin lewat kulit Spesifik Atropin sulfat 0,05 0,1 ml/KgBB/i.v. (maks : 2 mg), ulang 10 30 menit atropinisasi tahan 24 48 jam gejala keracunan lagi Cara lain : Dosis awal atropin Sulfat infus = 0,02 0,05 mg/KgBB/jam Berat : (kelemahan otot / twiching) + pralidoksim 25 50 mg/KgBB/250 ml NaCl 0,9%, (30 menit) teruskan 10 15 mg/KgBB/jam.

Dekontaminasi Kulit dan mata Buka pakaian dan cuci daerah yang terkontaminasi dengan air.

Bila mengenai mata, irigasi dengan air atau NaCl fisiologis


Tertelan

Diluar rumah sakit : arang aktif


Dirumah sakit : arang aktif fan katartik

CHLORINATED HYDROCARBON KRITERIA DIAGNOSIS Riwayat terpajan dengan insektisida golongan chlorinated hydrocarbon Klinis Mual dan muntah Kebingungan, trauma, koma, kejang dan depresi pernafasan Gejala lambat : Kejang berulang, aritmia jantung, dan tanda kerusakan ginjal / hati Bila terjadi kerusakan ginjal : Urea N dan kreatinin Bila terjadi kerusakan hati : SGOT / SGPT , hipoglikemia dan waktu protrombin memanjang PEMERIKSAAN PENUNJANG Cholorinated hydrocarbon serum (bila memungkinan) Ureum, kreatinin, SGOT/SGPT, waktu protrombin dan gula darah EKG

TERAPI Gawat darurat Pertahankan jalan nafas, O2 (bila perlu bantuan nafas) Atasi kejang, koma dan depresi pernafasan (bila ada) Aritmia ventrikular berikan penghambat Monitor EKG, observasi penderita minimal 6 8 jam Dekontaminasi Kulit dan mata Lepaskan pakaian dan cuci kulit yang terkontaminasi dengan sabun dan air. Bila mengenai mata, irigasi dengan air atau NaCl 0,9% Tertelan Diluar rumah sakit : Arang aktif Dirumah sakit : Arang aktif dan katartik Ekskresi toksin Pemberian ulang arang aktif/ kolesteramin (bila perlu, untuk memutuskan siklus enterohepatik)

TERAPI SIMTOMATIK Jika sumber racun tidak diketahui atasi gejala yang timbul 1. Depresi pernafasan Bebaskan jalan nafas Bantuan nafas dan beri O2 Beri nalokson (Narcan) jila diduga overdosis narkotika; flumazenil (Anexate) jika diduga overdosis benzodiazepin 2. Syok Posisi kaki lebih tinggi dari tempat tidur Beri cairan untuk menambah volume intravaskular; monitor CVP (bila ada) dan output urin. Obat-obat yang dapat meningkatkan tekanan darah hanya digunakan pada keadaan khusus

3. Kejang

Diazepam atau klonazepam (Rivotril) i.v.


Fenitoin i.v. aman jika diberikan perlahan-lahan Untuk status konvulsivus diatasi dgn anestesia umum

4. Nyeri

Nyeri hebat gunakan analgetik narkotik


Aritmia jantung Anti-aritmia sesuai dengan kelainan klinis dan EKG

6. Keseimbangan air dan elektrolit

Monitor dan koreksi secara hati-hati


Periksa AGD Diuresis paksa menggunakan furosemid

7. Hipotermia

Selimuti penderita dengan selimut untuk mencegah kehilangan panas. Selimut plastik mungkin lebih efektif tetapi hal ini dapat membahayakan anak jika menutupi wajahnya karena anak menjadi sulit bernafas

ANTIDOTUM SPESIFIK
Hanya sedikit antidotum spesifik yang ada (5 10%), tetapi sebaiknya tersedia pada setiap Bagian GAWAT DARURAT

1. Asetilsistein (Parvolex)
Overdosis parasetamol berat, i.v. tidak dilakukan jika kadar parasetamol serum dibawah kadar toksik

Selalu lakukan bilas lambung dan pemberian arang aktif


Jika asetilsistein tidak tersedia antidotum oral, karbosistein

Jangan memberi arang aktif jika menggunakan obat p.o

2. Adrenalin Untuk anafilaktik akut digunakan larutan 1 : 1.000 Untuk edema glotis, encerkan 1 : 10 dalam larutan NaCl fisiologis i.v. perlahan-lahan

3. Amonium klorida Asidifikasi urin untuk mempercepat ekskresi amfetamin dan fensiklidin 4. Atropin Sulfat 2 mg untuk mengatasi gejala kolinergik karena over dosis insektisida organofosfat dan karbamat, dan beberapa kasus keracunan jamur dimana gejala kolinergik merupakan gejala predominan . Dosis 0, 025 0, 05 mg/kgBB i.v setiap 5 menit sampai penderita mengalami atropinisasi. Selanjutnya setiap 3 jam.

5. Kalsium Glukonat 10 %
Untuk over dosis flour dan menetralkan spasme otot karena gigitan laba laba black widow

Untuk hipokalsemia berat. Dosis 0,2 ml/kgBB i.v perlahan lahan .


Diulang jika perlu

6. Minyak Jarak / Kastroli Untuk keracunan fenol, untuk meninggalkan fenol dari kulit dan mengurangi absorpsi setelah tertelan , Dosis 1 ml/kgBB p.o., diikuti dengan Na Sulfat

7. Antidotum Sianida Tri-Pac-Cyano (Covan Pharmaceutical 012 5412033) mengandung : Amil Nitrit 0,3 ml untuk inhalasi 100 ml larutan Na tiosulfat 50 % untuk injeksi Na Nitrit 3 % untuk injeksi Cara penggunaan : Pecahkan tabung amil nitrit diatas kasa / sapu tangan, diberikan kepada penderita unutk diinhalasi dengan nafas dalam Selanjutnya beri 10 ml larutan Na nitrit i.v dalam 3 menit, diikuti 5 menit kemudian dengan 50 ml larutan Na tiosulfat i.v. (dosis dewasa) Jika perlu dapat diulanh setelah 2 jam Kelocyanor (Restan Labs 789 3978 ) hanya untuk digunakan jika penderita sudah pasti keracunnan karena sianida

8. Dantrolen Merupakan pelemas otot yang digunakan unutk hipertermia maligna ynag diinduksi oleh anasthesi 9. Desferoksamin ( Desfereal ) Vial 500 mg + 5 ml air steril untuk membuat larutan 10% Untuk keracunan dan overload zat besi setelah transfusi darah yang berulang 10.Diazepam Untuk kejang (10 mg/2 ml) Dosis anak 0,2 mg/KgBB i.v. atau Klonazepam (Rivotril) 0,02 mg/kgBB i.v. perlahanlahan

11.Dimerkaprol (BAL) 50 mg dalam 5 ml minyak untuk i.m. pada keracunan air raksa, timah dan arsen Harus diberikan dalam4 jam setelah keracunan
12.Susu Kental (Evaporated milk) Susu kental atau susu sapi yang tidak diencerkan digunakan sebagai bufer untuk zat korosif yg tertelan

13.Flumazenil (Anexate) Antagonis benzodiazepin : Menggantikan benzodiazepin dari reseptornya Waktu paruh pendek (53 menit) sering diulang

14.Furosemid Diuretik untuk edema paru atau overload intravaskular 15.Glukagon 1 mg ampul i.v. untuk meningkatkan gula darah pada koma hipoglikemia (dosis sama dengan dewasa) 16.Lignokain Untuk henti jantung dan aritmia tertentu 17.Arang aktif (Activated Charcoad) Digunakan sesegera mungkin setelah penderita menelan racun Biasanya 100 g + 400 ml air untuk dewasa, 50 g + 200 ml air untuk anak Pada beberapa kasus dosis ulangan dapat diberikan (Charcoal gut dyalisis)

18.Methylene blue 1% Dosis 1 4 mg/kgBB/i.v. Untuk Metheglobinemia. Jangan diberikan secara s.k., i.m. atau intratekal

19.Susu Magnesia Sebagai bufer untuk keracunan zat korosif yang tertelan, merupakan laksatif ringan

20.Nalokson HCl (Narcan-Boots) (0,4 mg/1 ml/ampul)

Antagonis spesifik untuk narkotik (morfin, heroin, kodein, pentazosin, difenoksilat dan propoksifen)
Ingat banyak obat batuk anak mengandung kodein Dosis : 0,01 mg/kg i.v., i.m. atau s.k. setiap 2 3 menit sampai sensorium dan respirasi membaik Setelah itu setiap 3 jam selama 12 24 jam Penggunaan pada pecandu narkotik dapat menyebabkan gejala ketagihan berat yang mengancam nyawa

21.Nalokson HCl Neonatal (Narcan Neonatal-Boots)


(0,04 mg/2 ml amps) Dosis : 0,01 mg/kg i.v., i.m. atau s.k. setiap 2 3 menit sampai terdapat perbaikan respirasi, selanjutnya diberikan setiap 3 jam

22.Penisilamin (kapsul 250 mg)


Untuk keracunan timah dan tembaga

23.Na Fenitoin (250 mg/5 ml ampul) (Epanutin)


Untuk kejang dan aritmia tertentu Dosis anak : 3 5 mg/kgBB i.v. dalam 5 menit Dapat diulang hanya 1 kali setelah 30 menit, sesudah itu dosis rumatan

24.Na Bikarbonat (ampul 1 mmol/ml) Untuk alkalinisasi urin pada keracunan salisilat, menetralkan asidosis metabolik berat Dosis tergantung derajat asidosis, biasanya 0,5 1 mmol/kgBB i.v. perlahan-lahan

Sekian