Anda di halaman 1dari 17

Pemberian obat vagina

Pemberian obat yang dilakukan dengan memasukan obat melalui vagina bertujuan untuk mendapatkan efek terapi obat dan mengobati saluran vagina atau serviks. Obat ini tersedia dalam bentuk krim dan supositoria yang digunakan untuk mengobati infeksi lokal.

Tujuan Pemberian Obat Pervaginam 1. Mengobati infeksi pada vagina 2. Menghilangkan nyeri, rasa terbakar dan ketidaknyamanan pada vagina 3. Mengurangi peradangan

2.1.3 Indikasi dan Kontraindikasi 1. Indikasi Vaginitis, keputihan vagina dan serviks (leher rahim) karena berbagai etiologi, ektropia dan parsio dan serviks. Servik sebagai hemoestasis setelah biopsy dan pengangkatan polip di serviks, erosi uretra eksterna dan popiloma uretra kondiloma akuminata. Luka akibat penggunaan instrument ginekologi untuk mempercepat proses penyembuhan setelah electron koagulasi. 2. Kontraindikasi Jangan diberikan pada orang yang mempunyai kecenderungan hipersensitif atau alergi.

Macam-macam Obat Pervaginam Tersedia dalam bentuk krim dan suppositoria yang digunakan untuk mengobati infeksi lokal. Satu ovula dimasukan sedalam mungkin ke dalam vagina setiap hari sebelum tidur selama 1-2 minggu boleh dipakai sebagai pengobatan tersendiri atau sebagai terapi interval pada kontensasi. Pamakaian selama masa haid (menstruasi) tidak dianjurkan. Contoh obat supositoria vagina : a. Flagil Supositoria b. Vagistin Supositoria c. Albotil Supositoria d. Mistatin Supositoria e. Tri Costatis Supositoria f. Neoginoksa Supositoria

Keuntungan dan Kerugian Pemberian Obat Pervaginam 1. Keuntungan a. Proses penyembuhan lebih cepat, dimana jaringan nekrotik dikoagulasi dan kemudian dikeluarkan. b. Mengobati infeksi pada vagina. c. Mengurangi peradangan 2. Kerugian Dapat menimbulkan pengeluaran jaringan rusak, dan dalam vagina berupa bau dan rasa tidak nyaman.

2.1.6 Prosedur Pemberian Obat Pervaginam 1. Persiapan Alat a. Obat dalam tempatnya b. Aplikator untuk krim vagina c. Pelumas untuk supositoria d. Sarung tangan sekali pakai e. Pembalut f. Handuk bersih g. Perlak/pengalas h. Gorden / sampiran 2. Persiapan Pasien dan Lingkungan a. Menjelaskan kepada pasien tujuan tindakan yang akan dilakukan. b. Memebritahukan prosedur tindakan yang akan dilakukan. c. Menutup jendela, korden, dan memasang sampiran atau sketsel bila perlu. d. Menganjurkan orang yang tidak berkepentingan untuk keluar ruangan.

3. Pelaksanaan a. Cuci tangan. b. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan. c. Gunakan sarung tangan. d. Buka pembungkus obat dan pegang dengan kain kasa. e. Bersihkan sekitar alat kelamin dengan kapas sublimat. f. Anjurkan pasien tidur dalam posisi dorsal recumbert. g. Apabila jenis obat suppositoria maka buka pembungkus dan berikan pelumas pada obat. h. Regangkan labia minora dengan tangan kiri dan masukkan obat sepanjang dinding kanal vaginal posterior sampai 7,5-10 cm. i. Setelah obat masuk, bersihkan daerah sekitar orifisium dan labia dengan tisu. j. Anjurkan untuk tetap dalam posisi kurang lebih 10 menit agar obat bereaksi. k. Cuci tangan. l. Catat jumlah, dosis, waktu, dan cara pemberian. Catatan: apabila menggunakan obat jenis krim, isi aplikator krim atau ikuti petunjuk krim yang tertera pada kemasan, renggangkan lipatan labia dan masukkan aplikator kurang lebih 7,5 cm dan dorong penarik aplikator untuk mengeluarkan obat dan lanjutkan sesuai langkah nomor 8,9,10,11.

Berdasarkan Penggunaan : 1. Suppositoria rektal. Suppositoria rektal untuk dewasa berbentuk lonjong pada satu atau kedua ujungnya dan biasanya berbobot lebih kurang 2 g. 2. Suppositoria vaginal. Umumnya berbentuk bulat atau bulat telur dan berbobot lebih kurang 5 g, dibuat dari zat pembawa yang larut dalam air atau yang dapat bercampur dalam air, seperti polietilen glikol atau gelatin tergliserinasi. Ukuran berkisar, panjang 1,25 1,5 inchi dan diameter 5/8 inchi. Biasanya digunakan untuk lokal dengan efek sebagai antiseptik, kontrasepsi, anastetik lokal, dan pengobatan penyakit infeksi seperti trichomonal, bakteri dan monilial. Absorpsi sediaan vaginal terjadi secara pasif melalui mukosa. Proses absorpsi dipengaruhi oleh fisiologi, pH, dan kelarutan dan kontanta partisi obat. Permukaan vagina dilapisi oleh lapisan film air (aqueous film) yang volume, pH dan komposisinya dipengaruhi oleh umur, siklus menstruasi, dan lokasi. pH vagina meningkat secara gradien yaitu pH 4 untuk anterior formix dan pH 5 di dekat cervix. Pada umumnya ovula digunakan untuk efek lokal. Tapi beberapa penelitian menunjukkan ada beberapa obat yang dapat berdifusi melalui mukosa dan masuk dalam peredaran darah. Sebagai contoh, kadar propanolol dalam plasma untuk sediaan ovula lebih besar dibandingkan dengan rute oral pada dosis yang sama.

Pemberian obat suppositoria adalah cara memberikan obat dengan memasukkan obat melalui anus atau rektum dalam bentuk suppositoria. Organ-organ yang dapat diberi obat suppositoria adalah rectum dan vagina.

2.2.2 Tujuan Pemberian a. Untuk memperoleh efek obat lokal maupun sistemik. b. Untuk melunakkan feses sehingga mudah untuk dikeluarkan. 2.2.3 Indikasi dan kontra indikasi a. Indikasi Mengobati gejala-gejala rematoid, spondistis ankiloksa, gout akut dan osteoritis. b. Kontra Indikasi a. Hipersensitif terhadap ketoprofen, esetosal dan ains lain. b. Pasien yang menderita ulkus pentrikum atau peradangan aktif (inflamasi akut) pada saluran cerna. c. Bionkospasme berat atau pasien dengan riwayat asma bronchial atau alergi. d. Gagal fungsi ginjal dan hati yang berat. e. Supositoria sebaiknya tidak di gunakan pada penderita piotitis atau hemoroid. f. Pembedahan rektal.

Macam-Macam Obat Supositoria Pemberian obat yang memiliki efek lokal seperti obat dulcolac suppositoria yang berfungsi secara local untuk meringankan defekasi. Dan efek sistemik seperti pada obat aminofilin suppositoria dengan berfungsi mendilatasi bronkus. Pemberian obat suppositoria ini diberikan tepat pada dinding rectal yang melewati sfinkter ani interna. Jika dikombinasikan dengan preparat obat oral, maka pada umumnya dosis perhari adalah 1 supositoria yang dimasukan ke dalam rectum. Jika tidak dikombinasikan, dosis lazim adalah 1 dosis 2 kali sehari. Contoh obat supositoria : Kaltrofen supositoria Profeid supositoria Ketoprofen supositoria Dulcolax supositoria Profiretrik supositoria Stesolid supositoria Boraginol supositoria Tromos supositoria Propis supositoria Dumin supositoria

2.2.5 Keuntungan dan Kerugian a. Keuntungan Bisa mengobati secara bertahap Kalau missal obat einimbulkan kejang, atau panas reaksinya lebih cepat, dapat memberikan efek local dan sistemik. Contoh memberikan efek local dulcolax untuk meningkatkan defeksasi. b. Kerugian Sakit tidak nyaman daya fiksasi lebih lama dari pada IV. Kalau pemasangan obat tidak benar, obat akan keluar lagi. Tidak boleh diberikan pada pasien yang mengalami pembedahan rekrtal.

2.2.6 Prosedur Pemberian Obat Suppositoria 1. Persiapan Alat a. Obat sesuai yang diperlukan (krim, jelly, foam, supositoria) b. Aplikator untuk krim vagina c. Pelumas untuk supositoria d. Sarung tangan sekali pakai e. Pembalut f. Handuk bersih g. Gorden / sampiran 2. Persiapan Pasien dan Lingkungan a. Menjelaskan kepada pasien tujuan tindakan yang akan dilakukan. b. Memebritahukan prosedur tindakan yang akan dilakukan. c. Menutup jendela, korden, dan memasang sampiran atau sketsel bila perlu. d. Menganjurkan orang yang tidak berkepentingan untuk keluar ruangan.

3. Pelaksanaan a. Periksa kembali order pengobatan mengenai jenis pengobatan waktu, jumlah dan dosis obat. b. Siapkan klien Identifikasi klien dengan tepat dan tanyakan namanya Berikan penjelasan pada klien dan jaga privasi klien Atur posisi klien dalam posisi sim dengan tungkai bagian atas fleksi ke depan Tutup dengan selimut mandi, panjangkan area parineal saja c. Kenakan sarung tangan d. Buka supositoria dari kemasannya dan beri pelumas pada ujung bulatan dengan jeli, beri pelumas sarung tangan pada jari telunjuk dan tangan dominan anda. e. Minta klien untuk menarik nafas dalam melalui mulut dan untuk merelaksasikan sfingterani. Mendorong supositoria melalui spinter yang kontriksi menyebabkan timbulnya nyeri f. Regangkan bokong klien dengan tangan dominan, dengan jari telunjuk yang tersarungi, masukan supusitoria ke dalam anus melalui sfingterani dan mengenai dinding rektal 10 cm pada orang dewasa dan 5 cm pada bayi dan anak-anak. Anak supositoria harus di tetapkan pada mukosa rectum supaya pada kliennya di serap dan memberikan efek terapeutik g. Tarik jari anda dan bersihkan areal anal klien dcngan tisu. h. Anjurkan klien untuk tetap berbaring terlentang atau miring selama 5 menit untuk mencegah keluarnya suppositoria i. Jika suppositoria mengandung laktosit atau pelunak fases, letakan tombol pemanggil dalam jangkauan klien agar klien dapat mencari bantuan untuk mengambil pispot atau ke kamar mandi j. Buang sarung tangan pada tempatnya dengan benar k. Cuci tangan l. Kaji respon klien m. Dokumentasikan seluruh tindakan.