Anda di halaman 1dari 22

REFERAT OBSTETRI DAN GINEKOLOGI PREEKLAMSIA BERAT (PEB)

Oleh : RIRIN NURPEBRIANSARI

J500090048

Dokter Pembimbing : dr. Arief Prijatna Sp.OG

BAB I PENDAHULUAN

Penyakit hipertensif dalam kehamilan merupakan 515% penyulit kehamilan, bersamaan dengan perdarahan dan infeksi, mereka membentuk suatu trias yang mematikan, yang berperan besar dalam angka kesakitan serta kematian ibu. Di Indonesia tingkat moratlitas ibu paling tinggi selain disebabkan karena perdarahan juga disebbkan karena Preeklamsia dan Eklamsia. Preeklampsia merupakan suatu sindrom khusus kehamilan yang dapat mengenai semua organ. Definisi klasik preeklampsia meliputi 3 elemen, yaitu onset baru hipertensi ,onset baru proteinuria, dan onset baru edema yang bermakna.

Tujuan Penulisan

Untuk mengetahui definisi, gejala klinis dan diagnosis secara tepat serta penatalaksanaan yang sesuai dari preeklamsia berat

Definisi

National Institutes of health (NIH) Working Group on Blood Pressure in Pregnancy Preeklamsia adalah hipertensi yang timbul setelah 20 minggu kehamilan disertai dengan proteinuria

Preeklamsia sendiri dibagi menjadi dua, yaitu preeklamsia ringan dan preeklamsia berat

Hipertensi: sistolik 140 mmHg atau diastolik 90 mmHg Proteinuria: protein dalam urin 300mg/dl/24jam

PREEKLAMSIA
Preeklamsia Ringan Preekalmsia ringan diagnosis ditegakkan dari tekanan darah sistolik 140- < 160 mmHg atau tekanan darah diastolic 90- <110 mmHg yang disertai proteinuria 300mg/24 jam atau 1+ pada dipstick.

Preeklamsia Berat Preeklamsia dengan tekanan darah sistolik 160 mmHg dan tekanan darah diastolic 110 mmHg disertai proteinuria lebih 5g/ 24 jam atau 4+ dalam pemeriksaan kualitatif, oliguria, peningkatan kadar kreatinin serum (> 1,2 mg/dl).

Eklamsia adalah preekalmsia yang disertai kejang tidak disebabkan oleh penyakit lain. Superimposed preeklamsia/ eklamsia adalah proteinuria awitan baru 300 mg/ 24 jam pada perempuan hipertensif yang proteinurianya timbul setelah kehamilan 20 minggu. Penyakit hipertensif kronis adalah ditemukannya tekanan darah 140/90 mmHg sebelum kehamilan atau sebelum kehamilan 20 minggu dan tidak menghilang setelah 12 minggu pasca persalinan.

EPIDEMIOLOGI
Angka kejadian preeklampsia berkisar antara 5 - 15% dari seluruh kehamilan di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri angka kejadian preeklamsia berkisar antara 3,4- 8,5 %. Di rumah sakit Cipto Mangunkusumo ditemukan 400 -500 kasus/4000 5000 persalinan per tahun. Pada penelitian dari bulan juni 2002- februari 2004 di RS. Dr. Kariadi semarang didapatkan 28,1 % kasus persalinan dengan preeklamsia berat.

KLASIFIKASI
Preeklamsia berat tanpa impending eclamsia dan, Preeklamsia berat dengan impending eclamsia. Disebut impending eclamsia bila preeklamsia berat disertai gejala- gejala subyektif berupa nyeri kepala hebat gangguan visus muntah-muntah, nyeri epigastrium, dan kenaikan progresif tekanan darah.

D. ETIOPATOGENESIS
Geneti k Bersifat resesif sehingga tidak atau jarang terjadi. kegagalan invasi trofoblas ke arteri spiralis pada tahap kedua(ateriola miometrium)lapisan endotel + jaringan muskuloskeletal tdk hilangdiameter pmbuluh darah kecil gangguan aliran darah di daerah intervilli yang menyebabkan penurunan perfusi darah ke plasenta. Disfungsi endotel adalah suatu keadaan dimana didapatkan adanya ketidakseimbangan antara factor vasodilatasi dan vasokontriksi. Pada preeklamsiakerusakan sel endotelmenurunnya produksi prostasiklin(endotel merupakan tempat pembentukan prostasiklin) produksi tromboksan sebagai kompensasi tubuh terghadap kerusakan endotel tersebut

Iskemik plasenta

Disfungsi endotel

imunologis

Maladaptasi system imun dapat menyebabkan invasi yang dangkal dari arteri spiralis oleh sel sitotrofoblas endovaskuler dan disfungsi endotel yang dimediasi dari peningkatan pelepasan sitokin (TNF- dan IL-1), enzim proteolitik dan radikal bebas oleh desidua Defisiensi kalsiumpenarikan Ca dr tulang + otototot2 pmbuluh drah vasokonstriksi asam lemak tak jenuh(minyak ikan) yang dapat menghambat produksi tromboksan, menghambat aktivasi trombosit, dan mencegah vasokontriksi pembuluh darah

Defisiensi Gizi

Stimulus Inflamasi

pada preeklamsia terjadinya peningkatan stress oksidatif, sehingga produksi debris apoptosis dan nekrotik trofoblas juga meningkat

Gejala Klinis

Gejala Klinis Hipertensi: Sistolik 140 mmHg Diastolik 90 mmHg


Proteinuria berarti konsentrasi protein dalam air kencing yangmelebihi 0,3 g/liter dalam air kencing 24 jam atau pemeriksaan kualitatifmenunjukkan 1+ atau 2 +
Edem yang tidak hilang dengan istirahat, atau edema anasarka, namun nilai diagnosis dr edema ini sedikit berrti utk diagnosis

Gejala Subyetif Sakit kepala yang keras karena vasospasmus atau oedema otak. Sakit di ulu hati karena regangan selaput hati oleh haemorrhagia atau edema, atau sakit kerena perubahan pada lambung Gangguan penglihatan,disebabkan vasospasmus, edema atau ablatio retinae Gangguan pernafasan sampai sianosis gangguan kesadaran

Preeklamsia ringan

preeklamsia berat sistolik 160 mmhg dan diastolic 110 mmhg, proteinuria lebih 5 gr/24 jam atau 4+ dipstick oliguria, yaitu produksi urin kurang dari 500 cc/24 jam kenaikan kadar kreatinin plasma gangguan visus dan serebral nyeri epigastrium atau nyeri pada kuadran kanan atas abdomen (akibat teregangnya kapsula glisson) edema paru- paru dan sianosis hemolisis mikroangiopatik trombositopenia berat: < 100.000 sel/mm3 atau penurunan trombosit dengan cepat ganguan fungsi hepar (kerusakan hepatoseluler perubahan janin intrauterine yang terhambat sindrom hellp

hipertensi disertai proteinuria dan/ atau edema setelah kehamilan 20 minggu: hipertensi: sistolik/ diastolik 140/ 90 mmHg. Kenaikan sistolik 30 mmHg dan kenaikan diastolic 15 mmHg tidak dipakai lagi sebagai criteria preeklamsia. Proteinuria: 300 mg/ 24 jam atau 1+ dipstick Edema: edema local tidak dimasukkan dalam criteria preeklamsia, kecuali edema pada lengan, muka, perut, dan edem anasarka

Perawatan preeklamsia berat sama halnya dengan perawatan preeklamsia ringan, dibagi menjadi dua unsur : 1. Sikap terhadap penyakitnya, yaitu pemberian obat- obat atau terapi medisinalis (pengobatan medikamentosa) 2. Sikap terhadap kehamilannya

MEDIKAMENTOSA
Penderita dianjurkan untuk baring miring kesuatu sisi (kiri) Diuretikum tidak diberikan secara rutin emperberat hipovolemi, memperburuk perfusi utero plasenta,

Pengelolaan cairan, 5% ringer- dextrose < 125 cc/jam infuse dekstrose 5% yang tiap liternya diselingi dengan infuse ringer laktat (60- 125 cc/jam) 500 cc.

Pemberian antihipertensi,e xnifedipin,sodiu m nitroprusside,di azokside

Pemeberian obat anti kejang,ex: MGSO4 dripp dlam D5%

folley catheter untuk mengukur pengeluaran urin

Diberi antasida untuk menetralisir asam lambung

PENATALAKSANAAN BERDASARKAN UMUR KEHAMILAN

Aktif (aggressive management)


Ibu 1. Umur kehamilan > 37 minggu untuk PER ( TD 140/90 mmHg, proteinuria 1+ pada dipstick dan edema pada UK 20 minggu) dan 37 minggu untuk PEB 2. Adanya tanda- tanda impending eclamsia 3. Kegagalan terapi pada perawatan konservatif, yaitu keaddaan klinik dan laboratorik memburuk 4. Diduga terjadi solusio placenta 5. Timbul onset persalinan, ketuban pecah, atau perdarahan

Janin 1. Adanya tandaLaboratorik tanda fetal distress Adanya tandatanda sindroma 2. Adanya tandatana intra uterine HELPP khusunya menurunnya growth restriction trombosit dengan (IUGR) cepat 3. NST nonreaktif 4.oligohidramnion

Konservatif (ekspektatif)
hanya observasi dan evaluasi sama seperti perawatan aktif, kehamilan tidak diakhiri. Diberikan obat yang sama dengan pengobatan medikamentosa pada pengelolaan secara aktif

KOMPLIKASI

IBU 1.SSP 2.Gastrointestinal-hepatik 3.Ginjal 4.Hematologik 5.Kardiopulmonal 6.Lain-lain, asites, edema laring, hipertensi yang tak terkendali

Janin Itrauterin fetal growth restriction, solusio placenta, prematuritas, sindroma distress nafas, kematian janin intrauterine, sepsis, cerebral palsy

BAB III KESIMPULAN


Preeklamsia adalah hipertensi yang timbul setelah 20 minggu kehamilan disertai dengan proteinuria. Preeklamsia ringan diagnosis ditegakkan dari tekanan darah sistolik 140- < 160 mmHg atau tekanan darah diastolic 90- <110 mmHg yang disertai proteinuria 300mg/24 jam atau 1+ pada dipstick Preeklamsi berat adalah preeklamsia dengan tekanan darah sistolik 160 mmHg dan tekanan darah diastolic 110 mmHg disertai proteinuria lebih 5g/ 24 jam atau 4+ dalam pemeriksaan kualitatif, oliguria, peningkatan kadar kreatinin serum (> 1,2 mg/dl) Tujuan utama penatalaksanaan pasien PEB meliputi menstabilkan tekanan darah ibu, mengkoreksi komplikasi medic yang menyertai, dan melahirkan janin dalam waktu