Anda di halaman 1dari 69

DRILLING & BLASTING REVIEW

Disajikan dalam : Training Minescape

(26 Februari 2008)

PT. BUMA

JAKARTA 2006

KLASIFIKASI HANDAK
EXPLOSIVES MATERIALS

HIGH EXPLOSIVES

LOW EXPLOSIVES

PRIMARY

SECONDARY

TERTIARY

PYROTECHNICS

PROPELLANT

Pb Azide Pb Styphnate Hg Fulminate

NG TNT PETN

Dynamite Emulsion ANFO Composite Dough Paste Prill Free Flow

AN AP DNT

Thermite Delay composition Ignition Charge 1

Single Component Crystal Crystal Crystal Liquid Solid Solid

Solid Solid Liquid

Solid Solid Solid

KLASIFIKASI (lanjutan)
1

PROPELLANT

LIQUID

SOLID

MONO

COMPOSITE

SINGLE BASE

DOUBLE BASE NC/NG

TRIPLE BASE NC/NG/ NQ

COMPOSITE

NM Hydrazine

LOx/Fuel

NC

NC/NG/AP/ AI/RDX

BAHAN PELEDAK : BOOSTER

BAHAN PELEDAK : AMMONIUM NITRATE

BAHAN PELEDAK : NONEL SURFACE DELAY

BAHAN PELEDAK : NONEL INHOLE DELAY

BAHAN PELEDAK : DETONATING CORD

BAHAN PELEDAK : MS CONECTOR

BAHAN PELEDAK : POWERGEL

ON SITE EMULSION PLAN JOB SITE LATI

3 KUNCI UTAMA KEBERHASILAN BLASTING


1. ENERGY DISTRIBUTION MERATA
2. TERCAPAI ENERGY CONFINEMENT 3. PENGGUNAAN ENERGY LEVEL TEPAT MODIFIKASI DESIGN SESUAI KONDISI

G ER EN

DI ST RI BU T IO N

O P T I M U M E X P L O S I V E S P E R F O R M A N C E
O
( Accuracy of Explosive )

Y C EM IN NF

EN ER G Y

L O S I V E S E N E R G Y L E V E L E X P

T EN

EFFISIENSI DRILLING & BLASTING


Blast Design

Perubahan Design

Preparasi Bench dan lokasi

Evaluasi Hasil Blasting

HASIL BLASTING OPTIMAL


Inisiasi

Pola rangkaian

Drilling & Pola Pemboran

Charging handak

BEBERAPA PERTIMBANGAN UTAMA BLASTING Pengendali keberhasilan blasting adalah kondisi batuan bukan bahan peledak. Kesalahan Blast Design tidak bisa diselesaikan dengan konfigurasi delay. Hampir 90% faktor utama dampak peledakan akibat Human Error. Setiap perencanaan blasting berpedoman pada prinsip Mekanisme Pecahnya Batuan.

Mekanisme pecahnya batuan akibat peledakan

Mekanisme pecahnya batuan akibat peledakan


(1) Ketika bahan peledak berdetonasi, maka akan mengakibatkan stress pada batuan dan tekanan gas yang sangat tinggi (ANFO = 2850 Mpa = 28.500 atm) dalam lubang tembak. (2) Batuan di sekitar lubang tembak ( 2 sampai 3 kali diameter lubang tembak) terdorong akibat tekanan ledakan yang sangat tinggi, kemudian terjadi rekahan-rekahan sejauh 20 sampai 30 kali diameter.

(3) Tekanan gas yang sangat tinggi berlaku sebagai kapak yg memperbesar rekahan, baik pada arah radial maupun tangensial.
(4) Batuan terdorong ke arah bagian yang mempunyai tekanan terkecil (free face) akibatnya terjadi tekanan tarik (Tensile) kearah balik dan pada saat inilah proses pecahnya batuan optimal. (5) Gas bahan peledak lepas ke atmosfer dan terjadi tumpukan batuan karena gaya gravitasi.

MINE PLAN CONTRIBUTION


Blast Plan Blast hole Reference Burden Reference Blast Recovery Blasting Impact : - Slope Stability - Misfire - Vibration & Air Blast Preslit Blasting

BLAST PLAN
PT.BUMA JOB SITE .. COAL MINE PROJECT

BLASTING PRODUCTION AND EXPLOSIVES CONSUMPTION Drill Type :.. Periode :..
GEOMETRY
DATE DEPTH (M) No of Holes TOT. (M) B (M) S (M) SUBD EL.DET (M) (pcs)

EXPLOSIVES & ACCESSORIES


PG ANFO CORD (M) IN HOLE TLD17 TLD65 (pcs) (pcs) (pcs) (Kgs) (Kgs)

BLAST
MAT. (Bcm)

PF
KG/Bcm N1 E1 EL1 N2

BLAST AREA COORDINATE


E2 EL2 N3 E3 EL3 N4 E4 EL4

1 2 3 4 5 6 19 20 21 22 23 23 24 25 26 27 28 29 30 31 TOT. Catatan/Laporan Blasting Engineer, Kepala Bagian,

()

()

BLAST HOLE REFERENCE = Kedalaman Pemboran yang salah

Surface

= Kedalaman Pemboran yang benar


Surface

BLAST HOLE REFERENCE


Record EL = 1.85

Ref - EL = 1.70 1.8 m

Hole Depth = .. ?
6m

Ref = 6 m (Usahakan dari Blok lain) 1.7 (Posisi Alat Ukur)


Hole Depth = (1.70 1.85) + 6 = 6.15 m

BURDEN REFERENCE
Untuk menentukan True Burden setiap pembuatan pola pemboran Dengan mempertimbangkan kondisi Bench dan Toe yang terbentuk.

True Burden

Tinggi Jenjang

Lb Bor

BURDEN REFERENCE
Titik referensi 100 m 4m 4m Crest

Toe

True Burden

4m

4m

Blast 2

Blast 1

BLASTING RECOVERY

% Blast Recovery =

OB yang terloading Geometri yang terukur

BLASTING RECOVERY

CARA LOADING MATERIAL BLASTING


Lakukan Pengukuran koordinat Blast Sequence sebelum peledakan dan setelah di loading. Sub Drill tidak diambil, krn diperlukan untuk leveling Pengambilan harus tuntas, karena berdampak pada blasting berikutnya. Misalnya : - Berdampak ke Stemming. - Mempersulit Pemboran. - Prediksi kedalaman tdk akurat. - Volume blasting kecil. - Unsafe. Jika berlumpur, usahakan air dikeluarkan dulu shg material blasting bisa diambil. Loading harus dilakukan layer per layer / bertahap. Jika loading dikemiringan atau ditempat undulating harus selalu dikoordinasikan dengan Engineering/ Blasting Engineer.

SURFACE BLASTING GEOMETRY

VED, optimal

Stemming

Blast Rock Yg tersisa

Lubang bor

VED, tdak optimal

Fresh Rock
Primer

Blasting tidak sempurna karena stemming ada di posisi blast rock

Stemming di lakukan diatas Blast Rock yang belum terloading

Aktivitas Stemming

Loading Mat. Blasting tidak tuntan dan berdampak pada stemming

Pemboran pada kondisi undulating tp di bor dengan kedalaman yg sama akibatnya loading PC tidak terkontrol Sehingga menyulitkan preparasi berikutnya. (BLOK 8)

Pemboran di blastrock

Preparasi belum selesai sudah dilakukan pemboran

Pemboran dilokasi hasil blasting akibat tidak adanya koordinasi. (BLOK 10)

Hasil blasting yang di bor (BLOK 10)

BLAST HOLE

Pada saat Collaring bisa terlihat fresh rock

BLASTING IMPACT Hasil Pengukuran Vibration

BLASTMATE : ALAT UKUR AIR BLAST DAN VIBRATION

2. PENGISIAN LUBANG LEDAK

1. Priming
2. Pengisian Bahan Peledak (ANFO/Emulsi)

3. Stemming

3. PERANGKAIAN
Metode Perangkaian :
a. Sumbu Api (Plain detonator)

b. Rangkaian Listrik (Electric Detonator)


c. Sumbu Ledak (Detonating Cord)

d. Rangkaian Non Listrik (NONEL)


e. Electronic Detonator

URUTAN AKTIVITAS PENANGANAN MISSFIRE


ENGINEERING DEPARTMENT DRILL & BLAST ENGINEER BLASTER
Terjadi misfire (gagal ledak) 1. Terjadi misfire atau gagal ledak. 2. Memeriksa rangkaian (line) lubang yang misfire : - Apabila ( masih bagus), maka lakukan Re-blasting. - Apabila tidak bagus, maka keluarkan stemming. Catatan : - Pemeriksaan rangkaian dilakukan 2 menit setelah peledakan pertama. - Untuk keperluan peledakan kedua (reblasting) jika terjadi misfire maka Blaster mengorder detonator untuk keperluan tersebut. Pengorderan, pemakaian dan atau pengembalian spare detonator ini dijelaskan dalam Berita Acara Peledakan. - Indikasi bagus / tidaknya, jika inhole delay terputus didlm lubang/tertimbun 3. Melokalisir lubang yang misfire sedemikian sehingga orang yang tidak berkepentingan tidak dapat masuk ke lokasi tersebut. 4. Mengeluarkan Stemming. Lokalisir lubang 5. Memeriksa apakah stemming berhasil dikeluarkan atau tidak ? : - Jika Ya (berhasil), maka lakukan top priming. - Jika Tidak berhasil, maka lokalisir lubang. Emulsion 6. Melokalisir lubang tembak 7. Mengecek jenis bahan peledak apakah ANFO atau Emulsion ? : - Jika ANFO , maka menyiram lubang tembak terus-menerus dengan air sampai bahan peledak (explosives) menjadi mandul. - Jika Emulsion, maka membuat lubang baru 8. Menyiram lubang tembak

Melokalisir lubang yang misfire

Tidak

Line masih bagus ? Ya

Mengeluarkan Stemming Re-Blasting

Tidak

Berhasil ? Ya

Selesai

Top Priming

ANFO atau Emulsion? ANFO

Menyiram lubang tembak dengan air terus menerus sampai explosives larut

URUTAN AKTIVITAS PENANGANAN MISSFIRE


BLASTING GROUP LEADER A BLASTER

Buat Lubang baru

9 Membuat lubang tembak baru pada jarak yang ditentukan dari lubang tembak misfire berdasarkan deviasi pemboran terbesar. (atau Jarak terdekat maximum = 50 Cm) 10. Menentukan koordinat lubang yang misfire dengan bantuan surveyor. 11. Meledakkan lubang baru Ledakkan lubang baru 12. Me-reposisi lubang tembak yang misfire. 13. Memberi tanda pita survey. 14. Mengawasi penggalian lubang tembak dan memastikan bahwa detonator telah meledak atau telah diamankan.

Menentukan koordinat lubang yang misfire

Reposisi lobang yang misfire

Pemberian tanda pita survey

15. Membuat dan mendistribusikan PICA sebagai berikut : - Asli : Eng. Dept Head. - Copy 2 : Prd. Dept Head. - Copy 3 : Project Manager. - Copy 4 : File.

Pengawasan penggalian lubang misfire

1 PICA

23

Selesai

Preparasi lokasi pemboran yang optimal

Preparasi Lokasi yang cukup baik

Cek Lubang

Priming

70

50

Good blastability
30 25 20 15

10

` 7

Good fragmentation

50

70

100

150

200

300

400

Drill Pattern vs Drill Hole Diameter for a Given Mean Shotrock Fragment Size

CAUSED AND REDUCTION OF FLY ROCK


FLY ROCK CREST STEMMING

EXPLOSIVE

BURDEN CAUSE TOO SMALL OF A BURDEN DISTANCE REDUCTION INCREASE BURDEN BY DRILLING CREST ROW FARTHER AWAY FROM THE CREST
FLY ROCK STEMMING

BURDEN

BURDEN

EXPLOSIVE

CAUSE TOO LARGE OF A BURDEN DISTANCE REDUCTION DECREASE BURDEN BY DRILLING ROWS CLOSER TOGETHER AND USING A SMALLER BIT SIZE

STEMMING FLY ROCK MUD SEAM EXPLOSIVE CAUSE WEAK GEOLOGY (MUD SEAM) REDUCTION HAVE DRILLER NOTE SOFT SEAM ON DRILL RECORD AND PLACE INERT MATERIAL IN WEAK ZONE DURING LOADING

CAUSED AND REDUCTION OF FLY ROCK (cont.)


CREST COLLAR STEMMING FLY ROCK EXPLOSIVE

CAUSE IMPROPER DRILLING REDUCTION IMPLEMENT ACCURATE DRILL SET-UP AND COLLAR LOCATION FLY ROCK STEMMING

EXPLOSIVE CAUSE INSTANTANEOUS INITIATION REDUCTION USE MILLISECOND DELAYS TO DETONATE EACH HOLE INDIVIDUALLY

FLY ROCK STEMMING

EXPLOSIVE CAUSE VOID IN GEOLOGY REDUCTION MEASURE BLAST HOLE WHILE LOADING TO DETERMINE EXPLOSIVE COLUMN RISE, ALERT SHOTFIRER IN THE EVENT OF POSSIBLE OVERLOADING, AND CLEAR LARGER AREA PRIOR TO BLAST

FLY ROCK
PENYEBAB 1. Jarak Burden terlalu kecil ELIMINASI * Naikkan burden dengan jalan memasang referensi sebelum peledakan. * Tambahkan stemming di row pertama * Kurangi burden dan usahakan menggunakan kecil. * Catat oleh Driller setiap pemboran dan isikan material lain di daerah yang lemah * Gunakan drill set-up

2. Burden terlalu besar 3. Anomali geologi 4. Drilling yang tidak akurat

5. Inisiasi serentak (Instanteneous)


6. Rongga di dalam tanah 7. Boulder

* Gunakan delay untuk tiap lubang (25 - 40 ms)


* Gunakan plastik kondom apabila ada rongga. * Drilling 2/3 of boulder height

8. Bersihkan area dari orang yang tidak berkepentingan 9. Gunakan bidang joint/shear zone sebagai batas drilling 10. Air deck stemming AT = (12 - 24) x

AIR BLAST

Pada kondisi tertentu, Air Blast dapat terfokus pada arah tertentu.

tanah.

Inversi Suhu
Jika temperatur udara naik sesuai jarak dari Wind Focusing Pengaruh Air Blast lebih kuat oleh angin permukaan

Reduction of Air Blast :


1. Confine Stemming : Jangan gunakan stemming lumpur Crushed stone untuk stemming terutama di lubang basah. Tambahkan stemming di row pertama. 2. Hindari Penggunaan Detonating Cord di Permukaan : Timbun detonating cord paling sedikit 1 foot atau lebih di bawah tanah. Gunakan detonating cord dengan low grain dan timbun beberapa inchi di bawah anah. 3. Design / Geometri Peledakan : Accurate drilling & tentukan burden untuk tembakan berikutnya. S/B ratio > 1 Gunakan delay lebih panjang antara row dari pada antar lubang dalam 1 row. Pastikan bahwa squence blasting benar. Minimalkan jumlah lubang terbuka dengan delay period yang sama. Arahkan Free Face menjahui dari titik perhatian. Hindari Collar Priming

4. Schedule Peledakan : Perhatikan Arah Angin Hindari blasting selama periode yang menghasilkan inversi suhu (pagi & senja). Jadwal peledakan pada saat warga sekitar sedang sibuk.
5. Perhatikan Anomali Geologi : Gunakan decking apabila melalui mud seam Drilling report in case ada rongga

GROUND VIBRATIONS
DAMAGE FROM BLAST RELATED GROUND VIBRATION Vibration Damage Estimation
Peak Particle Velocity (mm/s)
13

Damage Estimation

Lower limit for threshold damage to plaster walls (3-15 Hz)

19

Limit for threshold damage to drywall structures (3-15 Hz)


Threshold of minor damage Greater than 50% chance of minor damage to structures 50% chance of major damage

70 140

190

GROUND VIBRATIONS (cont.)


REDUCTION
1. Penggunaan Nonel dapat mengurangi Ground Vibration dibanding Electric Detonator dan Detonating Cord.

2. Sub drill yang optimum (8 10 x diameter)

X
Ground Vibration

3. Ketersediaan Free Face 4. Perhatikan Charge per Delay daripada Total Charge per Blast

Presplit Blast Design


KETENTUAN UMUM : 1. Spacing 2. Burden 3. Panjang Charge yg tdk diisi dari Top = Hole Dia. X 12 = 0.5 x Prod. Blast Burden = 10 x D

4. Powder Factor

= 0.5 kg/square mtr face (L x S)

Note : Lubang tembak presplit tidak di Stemming Lubang presplit diledakan bersama atau >> 5 hole bersamaan

Note :

12 m

Crest

= TLD 17 ms = TLD 42 ms = TLD 67 ms = Detonating Cord IHD 500 ms, 9m = Prod. Holes = Presplit Holes B = Burden Presplit
Toe

IP

Presplit Blasting

Productin Blasting

Charging for Presplit hole


Gunakan bahan peledak Dinamite karena ANFO menghasilkan vol. gas sangat tinggi sehingga mempunyai daya bongkar tinggi. Charging sesuai perhitungan Design Inisiasi gunakan Detonating Cord Posisi Tie Up usahakan di delay akhir dari blasting produksi. Perhitungkan delay akhir dengan jumlah lubang. Jangan menggunakan stemming Ledakan secara bersamaan.

CONFIGURASI DELAY

BLAST DESIGN

SAFE MissFire

PROD. OPTIMAL

Miss Design

UNSAFE

LOW PROD.

Miss CONFIGURASI DELAY

CONFIGURASI DELAY

FLY ROCK

MISS BLAST DESIGN

AIR BLAST VIBRATION

UNSAFE

LOW PROD.

Pertimbangan : Batuan Sedimen


Site Sensitivity

Fragmentation
Muckpile Displacement

Cost

Wall Control

Pertimbangan Blast Design


Simplicity
Water Conditions

Geology Safety

Explosives Used

BEBERAPA KONSEP ATAU PRINSIP DASAR Delay Configuration adalah :


1. 2. Fragmentasi akan merata memerlukan bidang2 bebas baru selama proses detonasi. Delay antar Raw paling sedikit 2 3 kali lipat Delay antar lubang., untuk memperoleh derajat fragmentasi yg optimal, dan ini dengan syarat peledakan 100% diarahkan ke Free Face. Arah pergerakan pecahnya batuan tergantung pada bagian yang mempunyai tahanan terkecil terhadap ledakan. Pengurutan Delay tidak akan mengatasi Design peledakan yang tidak benar (seperti Stemming tidak benar dll.) Delay yang pendek antar lubang dalam Raw akan menurunkan Fragmentasi dan meningkatkan pergerakan. Biasanya Delay lebih panjang antar Raw dibutuhkan untuk mendapatkan pergerakan yang maksimal. Prisip Tie-Up, bahwa proses inisiasi harus selesai dahulu sebelum hole pertama mulai meledak, kecuali jauh dari Inisiasi Point (IP)

3. 4. 5.

6.
7.

POLA RANGKAIAN AKTUAL (yg salah dan missfire) Blasting, 26/6/2007 840 ms 1440 ms 660 ms

2x 65ms
COAL

530 ms

Free Face

IP

POLA RANGKAIAN yang di-REKOMENDASI-kan Blasting, 26/6/2007 295 ms 420 ms 140 ms

485 ms
COAL

65 ms

530 ms

Free Face

IP

Soal Peledakan
Record EL = 1.85

Ref - EL = 1.70 1.8 m

6m

B 1. Berapa kedalaman blast hole B =.? (m) 2. Buat geometri peledakan di kondisi bench dengan slope 10 ? 3. Bagaimana urutan peledakan dalam satu kali proses peledakan lubang ledak ? 4. Apa keuntungan melakukan benching dalam setiap peledakan.

2. Buat geometri peledakan di kondisi bench dengan slope 10 ? 3. Bagaimana urutan peledakan dalam satu kali proses peledakan lubang ledak ? 4. Apa keuntungan melakukan benching dalam setiap peledakan.