Anda di halaman 1dari 35

PENYUSUTAN

Ellyn Octavianty

PERHITUNGAN BEBAN DEPRESIASI


Untuk menghitung depresiasi secara sistematis dan rasional diperlukan suatu metoda depresiasi. Setiap metoda membutuhkan tiga komponen, yaitu basis depresiasi,tarif depresiasi dan perioda depresiasi. Metoda apapun yang digunakan membutuhkan tiga komponen tersebut. Besarnya beban penyusutan depresiasi dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: D = B x T (%) x P

PERHITUNGAN BEBAN DEPRESIASI


Dalam hal ini, D = Beban Depresiasi; T = Tarif Depresiasi; dan P = Perioda Depresiasi. Perhitungan depresiasi dapat dilakukam untuk periode satu tahun utuh dan periode parsial.

PERHITUNGAN DEPRESIASI TAHUN UTUH


Metode garis lurus merupakan metoda yang paling sederhana. Metoda ini berasumsi bahwa aset tetap memberikan manfaat yang sama setiap periode selama jangka waktu manfaatnya. Depresiasi dibebankan dalam jumlah yang sama selama taksiran manfaat ekonomis aset tetap.

Contoh
Di ketahui data aset tetap mesin PT Gue Banget sebagai berikut:
Kos Mesin Taksiran nilai residu mesin Kos didepresiasi Taksiran umur ekonomis Tanggal pembelian mesin Rp200.000.000 Rp 15.000.000 Rp185.000.000 5 Tahun 1 Januari 2007

Taksiran unit produk yang dapat dihasilkan oleh mesin adalah 100.000 unit. Unit produk dihasilkan sejak tahun 2007 sampai 2011 sebagai berikut: 20.000; 20.000; 20.000; 22.000; dan 18.000 unit. Hitunglah depresiasi sejak tahun 2007 s.d 2011 dengan menggunakan: Metoda Garis Lurus, Metoda Saldo Menurun Ganda, Metoda Jumlah angka-angka tahun dan Metoda Unit yang dihasilkan.

METODA GARIS LURUS ( STRAIGHT LINE METHOD ) Basis yang digunakan metode ini adalah biaya/kos didepresiasi. Berdasarkan rumus tersebut, depresiasi setiap tahun dapat dihitung sebagai berikut:
Basis Depresiasi = Rp200.000.000 Rp15.000.000 = Rp185.000.000 Tarif = 1/5 x 100% = 20% Perioda Depresiasi 12 bulan = 12/12 = 1 Dengan demikian Depresiasi per tahun dihitung sebagai berikut : D = Rp185.00.000 x 20%x 12/12 D = Rp37.000.000 Tahun berakhirnya depresiasi adalah tahun 2011. pada tahun ini nilai buku mesin harus menjadi sebesar nilai residu, yaitu Rp15.000.000. Tabel ini disusun dalam satuan ribuan rupiah(Rp000). Tabel depresiasi selama taksiran umur manfaat sebagai berikut:

METODA GARIS LURUS ( STRAIGHT LINE METHOD )

Perioda

Basis

Tarif

Perioda

Depresiasi

Akumulasi Depresiasi

Nilai Buku

Awal 2007 2008 2009 2010 2011 Rp 185.000 Rp 185.000 Rp 185.000 Rp 185.000 Rp 185.000 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 1 1 1 1 1 Rp 37.000 Rp 37.000 Rp 37.000 Rp 37.000 Rp 37.000 Rp 37.000 74.000 111.000 148.000 185.000

Rp200.000 163.000 126.000 89.000 52.000 15.000

Metoda Jumlah Angka-Angka Tahun (Sum Of The Years Digit )


Berdasarkan metoda ini depresiasi tahun-tahun awal lebih tinggi dibandingkan dengan tahun-tahun akhir. Oleh karena itu metoda ini dikenal dengan metoda depresiasi dipercepat. Metoda ini berasumsi manfaat mesin akan lebih besar digunakan pada tahun-tahun awal dibandingkan dengan tahun-tahun akhir. Berdasarkan rumus tersebut, depresiasi setiap tahun dapat dihitung sebagai berikut: 1. Basis depresiasi adalah sebesar kos didepresiasi = Rp200.000.000 Rp15.000.000 = Rp185.000.000 2. Tarif setiap tahun berbeda dihitung dengan rumus = Angka Tahun / Jumlah Angka Tahun. 3. Jumlah angka-angka tahun dihitung dengan rumus = [ n ( n + 1 ) ]/2, dalamhal ini n adalah angka tahun terbesar. 4. Jumlah angka tahun = [ 5 ( 5 + 1 ) ]/2 = 15, maka tarif setiap tahun sebagai berikut : 7

Metoda Jumlah Angka-Angka Tahun (Sum Of The Years Digit )


Perioda 1 2 3 4 5 Tarif 5/15 4/15 3/15 2/15 1/15

Perioda depresiasi 12 bulan = 12/12 = 1 Tahun berakhirnya depresiasi adalah tahun 2011. Pada tahun ini nilai buku mesin harus menjadi sebesar nilai residu, yaitu Rp15.000.000. tabel disusun dalam satuan ribu rupiah (Rp000). Tabel depresiasi mesin selama taksiran umur manfaat sebagai berikut :

Metoda Jumlah Angka-Angka Tahun (Sum Of The Years Digit )

Perioda
Awal 2007 2008 2009 2010 2011

Basis

Tarif

Perioda

Depresiasi Akumulasi Depresiasi

Nilai Buku
Rp.200.000

Rp185.000 Rp185.000 Rp185.000 Rp185.000 Rp185.000

0,33 0,27 0,20 0,13 0,07

1 1 1 1 1

Rp 61.667 49.333 37.000 24.667 12.333

Rp 61.667 111.000 148.000 172.667 185.000

138.333 89.000 52.000 27.333 15.000

Metoda Saldo Menurun Ganda (SMG) (Double Declining Balance Method )


Metoda SMG merupakan salah satu metoda depresiasi dipercepat. Ciri metoda ini tarifnya tetap, namun basisnya menurun. Berdasarkan rumus tersebut, depresiasi setiap tahun dapat dihitung sebagai berikut: Basis depresiasi adalah nilai buku mesin yang jumlahnya berubah menurun sepanjang umur manfaat = NB awal tahun = Kos/Biaya-Akumulasi Depresiasi Mesin
Tarif Depresiasi = 2 x tarif metoda GL = 2 x 20 % = 40 % Perioda Depresiasi 12 Bulan = 12/12 =1 Tahun berakhirnya depresiasi adalah tahun 2011. pada tahun ini nilai buku mesin harus menjadi sebesar nilai residu, yaitu Rp15.000.000. Tabel disusun dalam satuan ribu rupiah (Rp000). Tabel depresiasi mesin selama taksiran umur manfaat sebagai berikut :

Contoh
Perioda Basis Tarif Perioda Depresiasi Akumulasi Depresiasi Nilai Buku

Awal 2007 2008 2009 2010 2011

Rp200.000 Rp200.000 120.000 72.000 43.200 25.920 0,40 0,40 0,40 0,40 0,40 1 1 1 1 1 Rp80.000 48.000 28.800 17.280 10.920 Rp80.000 128.000 156.800 174.080 185.000 120.000 72.000 43.200 25.920 15.000

Metoda Unit yang Dihasilkan

Berdasarkan metoda ini, kos atau biaya mesin dialokasikan berdasar jumlah unit produk yang dihasilkan. Langkah pertama adalah menghitung besarnya depresiasi perunit produk dengan menggunakan rumus : Depresiasi per unit = ( kos Taksiran NR) / Taksiran unit yg dihasilkan
Depresiasi per unit = ( Rp 200.000.000 - Rp15.000.000)/100.000 unit

Depresiasi per unit = Rp1.850 per unit Tabel depresiasi sebagai berikut :

Metoda Unit yang Dihasilkan


Perioda
Awal 2007 2008 2009 2010 2011

unit

Tarif

Depresiasi

Akumulasi Depresiasi

Nilai Buku Rp 200.000

20 20 20 22 18

Rp1.850 Rp1.850 Rp1.850 Rp1.850 Rp1.850

Rp 37.000 37.000 37.000 40.700 33.300

Rp 37.000 74.000 111.000 151.700 185.000

163.000 126.000 89.000 48.300 15.000

13

Metoda Unit yang Dihasilkan

Selain berbasis unit yang dihasilkan, metoda ini juga dapat menggunakan ukuran yang lain untuk menghitung tarif depresiasi, yaitu: ukuran jasa, mis jarak tempuh (kilometer) atau waktu pemanfaatan (jam kerja). Apabila ukuran jasa yang digunakan, perhitungan tarif menggunakan cara yang sama dengan ukuran unit dihasilkan.

Penurunan Nilai Aset Tetap (Impairment)


Krisis yang melanda dunia tahun 2008 telah mempengaruhi kinerja institusi keuangan dan non keuangan. Hasilnya banyak perusahaan melakukan penurunan nilai aset tetapnya. Proses ini dikenal dengan Impairmen. Aset Tetap diturunkan nilainya ketika aset tersebut tidak lagi dapat menutupi nilai bukunya, baik melalui penggunaan atau menjual aset tersebut. Entitas bisnis harus menguji apakah terjadi Impairmen atau tidak dengan cara:

Penurunan Nilai Aset Tetap (Impairment)


a) Melakukan review atas aset, apakah kemampuan menghasilkan uang melalui penggunaan atau menjualnya menurun. Review dilakukan dengan menggunakan informasi internal dan eksternal b) Jika ada indikasi impairmen, perlu melakukan pengujian impairmen: - Membandingkan Nilai Terpulihkan ( NT) (recoverable amount ) dengan Nilai Buku Aset ( NB ) ( Book Value); jika NB lebih tinggi dari NT, jumlah selisih merupakan rugi impairmen . - Jika NB lebih rendah dari pada NT, tidak ada impairmen, dan tidak ada pencatatan yang dibutuhkan.

Penurunan Nilai Aset Tetap (Impairment)


Nilai terpulihkan ( NT) adalah nilai yang lebih tinggi antara nilai wajar dikurangi kos penjualan atau nilai manfaat ( value-in-use ). Nilai wajar dikurangi kos penjualan adalah nilai jual aset setelah dikurangi kos disposal. Nilai Manfaat ( value-in-use ) adalah nilai sekarang aliran kas yang diharapkan dari pemanfaatan aset pada masa depan dan kemungkinan penjualan aset pada akhir masa manfaat
17

18

Ilustrasi Impairmen 1
Pada tanggal 31 Desember 2010, PT Hani memiliki peralatan dengan kos Rp260.000.000 dan akumulasi depresiasi sebesar Rp 120.000.000. peralatan ditaksir memiliki umur manfaat 4 tahun, dan nilai residu sebesar Rp 20.000.000. Berikut ini informasi yang berhubungan dengan peralatan:
a. Nilai buku peralatan pada 31 Desember 2011 sebesar Rp 140.000.000 (Rp260.000.000-Rp120.000.000) b. Beban depresiasi untuk tahun 2011 sebesar Rp 60.000.000 (dihitung dengan menggunakan metode garis lurus) telah dicatat. c. Nilai terpulihkan peralatan pada 31 Desember 2011 adalah Rp110.000.000

Ilustrasi Impairmen 1
d. Sisa umur manfaat peralatan adalah 2 tahun. Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan terjadi rugi impairment. Ayat jurnal yang perlu dibuat adalah: Rugi Impairmen Rp 30.000.000 Depresiasi akumulasi peralatan Rp30.000.000 Nilai buku peralatan pada 31 Desember 2011 adalah Rp110.000.000. untuk tahun 2012 PT Hani menetapkan taksiran umur manfaat tidak berubah, namun taksiran nilai residu menjadi nol. PT Hani tetap menggunakan metoda garis lurus. Ayat jurnal untuk mencatat depresiasi pada 31 Des 2012 adalah:

Ilustrasi Impairmen 1
Beban Depresiasi Peralatan Rp 55.000.000 (Rp110.000.000/2th) Depresiasi Akumulasi peralatan Rp55.000.000 Nilai buku peralatan pada 31 Desember 2012 adalah Rp55.000.000. Apabila ditentukan nilai terpulihkan peralatan pada 31 Desember 2012 adalah Rp 40.000.000, terjadi rugi impairmen sebesar Rp15.000.000, dan diakui rugi impairmen sebesar Rp15.000.000, dan diakui rugi impairmen tambahan dalam ayat jurnal Rugi Impairmen Rp15.000.000 Depresiasi Akm Peralatan Rp15.000.000 Dengan demikian, pada awal th 2013 NB peralatan tersisa sebesar Rp40.000.000

Ilustrasi Impairmen 2
Melanjutkan ilustrasi 1 diatas, informasi harga pasar peralatan sangat mungkin sulit diperoleh, dan PT Hani bisa menggunakan nilai manfaat (value-in-use). Diketahui nilai manfaat lebih tinggi daripada nilai wajar setelah dikurangi kos penjualan. PT Hani menggunakan tingkat bunga 8% untuk menentukan besarnya aliran kas masa depan sebesar Rp30.000.000 per tahun selama empat tahun. Nilai manfaat peralatan PT Hani adalah:

Ilustrasi Impairmen 2
PV, aliran kas x faktor diskonto anuitas i = 8%/n:4th = (Rp30.000.000 x 3,31213) = Rp 99.463.900 PV, Nillai residu x Faktor diskonto nilai tunggal I = 8%/n = 4 th = ( Rp20.000.000 x 0,73503) = Rp 11.700.600 Nilai Manfaat Peralatan ( value in use ) Rp114.064.500 Rugi Impairmen tahun 2011 dihitung sebagai berikut : Nilai Buku Peralatan Rp140.000.000 Nilai Manfaat peralatan Rp114.064.500 Rugi Impaimen Peralatan Rp 25.935.500 Ayat Jurnal untuk mencatat rugi Impaimen ini adalah: Rugi Impairmen Rp25.935.500 Depresiasi Akm Peralatan Rp25.935.500

ASET SUMBER ALAM


Aset sumber alam (wasting asset) dapat diklasifikasi menjadi dua kelompok yaitu: (a) aset biologik, seperti lahan kayu, dan (b) sumber daya mineral, minyak, gas dan mineral. Akuntansi aset biologik menggunakan pendekatan nilai wajar. Sumber daya mineral memiliki karakteristik, (1) habis digunakan melalui penambangan, (2) tidak dapat diganti, (3) pemulihan kembali sumber alam berlangsung secara alamiah. Contoh aset sumber alam adalah, minyak,batubara,biji besi dan logam mulia (emas dan perak)

Akuntansi Aset Sumber Alam


Masalah akuntansi aset sumber alam pada hakekatnya serupa dengan aset tetap. Masalah akuntansi yang utama adalah (1) penentuan basis deplesi (depletion base), dan (2) penghapusan kos aset sumber alam. Penentuan Dasar Deplesi Kos aset sumber daya mineral dibentuk oleh tiga komponen pengeluaran, yaitu: (1) Kos sebelum eksplorasi (pre-exploratory cost) (2) Kos Eksplorasi (exploratory cost) dan (3) Kos Pengembangan (development cost).

Penentuan Dasar Deplesi


Kos Praeksplorasi adalah kos yang terjadi sebelum hak legal untuk mengeksplorasi wilayah tertentu dilakukan. Kos ini diakui sebagai beban saat terjadi. Kos Eksplorasi adalah kos yang berhubungan dengan pemerolehan hak melakukan eksplorasi, melalukan studistudi topografis, geologis, geokemis dan geofisis. Ada 2 pendekatan untuk menentukan perlakuan akuntansi atas kos pengeboran yaitu: 1. Full Cost mendukung semua kos pengeboran harus dikapitalisasi. Pendekatan ini didasarkan pada argumen (a) biaya tersebut tidak dapat dihindari.(b) keberhasilan perusahaan diukur dari kemampuannya untuk menemukandan mengembangkan sumber alam.

Penentuan Dasar Deplesi


(c) Kos perolehan sumber alam didasarkan pada keseluruhansumber yang menghasilkan. 2. Successful Effort menyatakan bahwa hanya kos pengeboran yang sukses yang dapat dikapitalisasi sebagai aset. Pendekatan ini didukung oleh Argumen yaitu: (1) usaha dan prestasi yang dihasilkan harus dapat dipertemukan secara layak (2) aset sumber daya mineral yang melampaui nilai mineral yang sesungguhnya terkandung dapat dihindari. (3) pendekatan ini menggambarkan prinsip kos historis dari masing-masing pusat kos. Kos Pengembangan meliputi kos peralatan berwujud dan kos pengembangan tdk berwujud.

Penghapusan Sumber Daya Deplesi


Setelah basis deplesi ditentukan, kos sumber daya mineral dialokasikan pada perioda akuntansi tertentu. Proses ini dikenal dengan deplesi. Deplesi adalah proses alokasi manfaat potensial aset sumber daya mineral untuk dipertemukan dengan pendapatan yang dihasilkan dari aset tersebut dalam perioda tertentu. Secara normal deplesi dihitung menggunakan metoda unit produksi (unit of production method), dengan perkataan lain deplesi merupakan jumlah unit sumber daya mineral yang diambil atau diproduksi dalam suatu perioda akuntansi

Ilustrasi Perhitungan Deplesi


Sebagai ilustrasi PT SenyumLah memperoleh hak untuk menggunakan tanah seluas 1.000 are di daerah Gunung Kidul untuk mengeksplorasi sumber minyak. Proyek ini dikenal deengan Proyek E. Biaya sewa yang dikeluarkan untuk proyek E sebesar Rp100.000.000, biaya eksplorasi yang berkaitan langsung dengan penemuan sumber alam tersebut sebesar Rp200.000.000,- dan kos pengembangan tak berujud yang terjadi sebesar Rp1.200.000.000. diperkirakan sumber daya mineral yang ditemukan tersebut akan menghasilkan 1.000.000 barrel minyak,

Ilustrasi Perhitungan Deplesi


Maka deplesi per barrel dihitung sebagai berikut: Kos sumber daya mineral = Rp1.500.000.000 Nilai Residu = Rp0 Taksiran unit tersedia = 1.000.000 barrel Tarif deplesi dihitung sebagai berikut: (Rp1.500.000.000 Rp0)/1.000.000 barrel = Rp1.500 per barrel Jika PT Senyumlah mengekstraksi sebanyak 50.000 barrel pada tahun pertama, deplesi untuk tahun ini adalah Rp1.500 x 100.000 barrel = Rp150.000.000 Ayat jurnal untuk mencatat deplesi adalah: Sediaan Minyak Rp150.000.000 Deplesi Akumulasian Rp150.000.000

REVALUASI ASET TETAP


Entitas bisnis dapat memilih opsi kos atau nilai wajar untuk menilai aset berwujud. Ketika entitas memilih opsi nilai wajar, maka aset berwujud dinilai menggunakan nilai wajar dan menyiapkan penyesuain dan menentukan laba-rugi belum direalisai (sering disebut revaluation surplus) atas aset berujud yang direvaluasi.

Perevaluasian Tanah
PT DiVa membeli sebidang tanah dengan kos Rp250.000.000 pada tanggal 4 Januari 2009. perusahaan memilih menggunakan akuntansi revaluasi untuk perioda selanjutnya. Pada tanggal 31 Des 2009, tanah memiliki nilai wajar sebesar Rp280.000.000

REVALUASI ASET TETAP


Ayat jurnal untuk mencatat tanah sebesar nilai wajar adalah:
Tanah Rp30.000.000 Laba Revaluasi belum direalisasi-tanah Rp30.000.000

Tanah dilaporkan sebesar Rp280.000.000 dalam laporan posisi keuangan, Laba-rugi revaluasi belum direalisasi sebagai pendapatan komprehensif lain dalam laporan laba komprehensif. Perevaluasian Aset Terdepresiasikan Ilustrasi berikut menunjukkan perevaluasian aset yang dapat didepresiasi. PT Mikha membeli mesin seharga Rp600.000.000. Pada tanggal 2 Jan 2010. Peralatan ditaksir memiliki umur manfaat 5 th, didepresiasi menggunakan metoda Garis Lurus,

Perevaluasian Aset Terdepresiasikan


Dan nilai residu adalah nol. Mikha memilih opsi merevaluasi aset tetapnya menjadi sebesar nilai wajar, pada 31 Des 2010, Mikha mencatat depresiasi sbt:

Beban Depresiasi Mesin Rp120.000.000 Depresiasi Akm Mesin Rp120.000.000


Setelah memposting ayat jurnal diatas, mesin memiliki nilai buku Rp480.000.000. PT Mikha menerima hasil aprasial pihak independen yang menunjukkan nilai wajar mesin adalah Rp540.000.000. untuk mencatat dan melaporkan nilai mesin sebesar nilai wajar, perlu diikuti prosedur berikut: 1. Menurunkan nilai rekening Depresiasi Akm mesin menjadi nol 2. Menurunkan nilai rek Mesin sebesar Rp60 jt shg menjadi sebesar nilai wajar Rp540.000.000 3. Mencatat Laba Revaluasi belum direalisasi sebesar Rp60 jt (Rp540 jt - Rp480jt).

Perevaluasian Aset Terdepresiasikan


Ayat jurnal untuk mencatat transaksi ini adalah: Depresiasi Akm-Mesin Rp120.000.000 Mesin Rp60.000.000 Laba revaluasi Belum Direalisasi-Mesin Rp60.000.000 Komponen revaluasi mesin dilaporkan dalam L/K sbt: Lap Laba Komprehensif: Pendapatan Komprehensif lain Laba revaluasi belum direalisasi-mesin Rp 60.000.000 Laporan Posisi Keuangan: Aset Tak Lancar: Mesin Rp540.000.000 Depresiasi Akm-Mesin 0 Nilai Buku Mesin Rp540.000.000 Ekuitas: Pendapatan komprehensif lain akumulasian Rp 60.000.000