Anda di halaman 1dari 31

EPISTAKSIS

Oleh: Siti Annisa Nurfathia, S.Ked Pembimbing: dr. Lusiana, SpTHT KEPANITRAAN KLINIK SENIOR UNIVERSITAS JAMBI 2014

Pendahuluan
Rongga hidung kaya dengan pembuluh darahbagian depan anyaman pembuluh darah pleksus

Kiesselbach & bagian belakang cabang dari pembuluh darah besar a.l a. sphenopalatina.

Epistaksis perdarahan dari hidung dan dapat timbul bukanlah suatu penyakit melainkan suatu

tanda/gejala

90% ringan & self-limiting, kasus berat dpt menybbkan morbiditas & mortalitas serius cari asal perdarahan dan hentikan.

Laporan Kasus
IDENTITAS PASIEN Nama : An. L Umur : 5 tahun Jenis kelamin : Perempuan Alamat : RT.09 Pematang Sulur Agama : Islam Pekerjaan Orang Tua : Swasta Pendidikan Orang Tua : SMA ANAMNESIS

Keluhan Utama :

Keluar darah dari lubang hidung sebelah kiri sejak 1 minggu yang lalu.

ANAMNESIS

Riwayat Perjalanan Penyakit

3 minggu yll ortu os mengeluh, keluar darah dari lubang hidung kanan & kiri, warna merah kehitaman, kental, 2 kain basah, terjadi pd malam, tiba-tiba stlh os tidur. Saat darah keluar os demam ( 38C), demam hilang setelahnya, gusi berdarah (-), bintik-bintik perdarahan dikulit (-), pilek sebelumnya (-) jatuh sebelumnya (), masuk benda asing sebelumnya (-). 1 minggu yll, keluar darah dari lubang hidung sebelah kiri, warna merah segar, cair, 5 kain basah dan slm 15 menit, terjadi pd malam, tiba-tiba sblm os tertidur. Demam saat keluarnya darah disangkal, pusing (-), pilek (+) warna putih & konsistensi cair, batuk.

Riwayat Pengobatan

diobati sendiri dg paracetin dan sanmol. Berobat ke dokter/ tenakes tidak ada.

ANAMNESIS

Riwayat Penyakit Dahulu

Riw. keluhan sama sebelumnya & riw. peny. kelainan darah disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga

Riw. keluarga menderita peny. Sama, riw. keluarga dg kelainan darah & tumor disangkal. PEMERIKSAAN FISIK Kesadaran : compos mentis Pernapasan : 22 x/i Suhu : 36,8 C Nadi : 92 x/I Anemia, Sianosis, Stridor inspirasi, Retraksi suprasternal, Retraksi interkostal, Retraksi epigastrial : -/-

PEMERIKSAAN FISIK a) Telinga

PEMERIKSAAN FISIK a) Telinga

PEMERIKSAAN FISIK a) Hidung

PEMERIKSAAN FISIK b) Hidung

PEMERIKSAAN FISIK c) Mulut dan Faring

PEMERIKSAAN FISIK d) Laringoskop Indirek

e) KGB Leher : dbn f) Nervi Cranialis : N. I N. XII dbn

PEMERIKSAAN AUDIOLOGI Tes rinne : +/+ Tes weber : Tidak ada lateralisasi Tes schwabach : Sama dg pemeriksa/N PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium : -

Kesimpulan : Fungsi Pendengaran dalam batas normal

DIAGNOSIS Epistaksis Anterior e.c trauma dan perubahan suhu

DIAGNOSIS BANDING Epistaksis Anterior e.c infeksi sistemik Epistaksis Anterior e.c kelainan darah Epistaksis Posterior PENATALAKSANAAN Menjelaskan perdarahan disebabkan luka pd hidung bagian depan. Hindari faktor pencetus : jgn mengorek hidung & suhu tll dingin malam hari. Bila perdarahan berulang biarkan perdarahan keluar dg menundukan kepala hgg perdarahan berhenti, segera kembali ke rumah sakit.

PROGNOSA Quo ad vitam Quo ad fungsionam

: bonam : dubia ad bonam

Tinjauan Pustaka
Anatomi dan Fisiologi Hidung

EPISTAKSIS Perdarahan dari hidung akibat pecahnya pembuluh darah suatu keluhan atau tanda, bukan penyakit.

Epistaksis dibagi menjadi epistaksis anterior & posterior Epistaksis anterior lebih sering terjadi yaitu timbul dari kerusakan pleksus Kiesselbach pada bagian bawah dari septum hidung anterior (daerah Little), sedangkan epistaksis posterior timbul dari kerusakan arteri septum nasal posterior.

Etiopatogenesis Perdarahan hidung dsbb lepasnya mukosa hidung yg banyak pembuluh darah, disertai luka pd pembuluh darah pendarahan. a) Kelainan Lokal Trauma, Kelainan Anatomi, Kelainan Pembuluh Darah, Infeksi Lokal, Benda Asing, Tumor & Udara Lingkungan b) Kelainan Sistemik Penyakit Kardiovaskuler, Kelainan Darah, Infeksi Sistemik, Perubahan Tekanan Atmosfir & Kelainan Hormonal Epidemiologi Prevalensi tinggi pd anak <10 tahun & >35 tahun, laki-laki < wanita pd <50 tahun, namun laki-laki = wanita pd >50 tahun.

Manifetasi Klinis 1. Epistaksis Anterior Epistaksis anterior dapat berasal dari Pleksus Kiesselbach, merupakan sumber perdarahan paling sering dijumpai anak-anak. Perdarahan dapat berhenti sendiri (spontan) dan dapat dikendalikan dengan tindakan sederhana.

Manifetasi Klinis

2. Epistaksis Posterior Epistaksis posterior, a. sphenopalatina & a. ethmoid posterior. Perdarahan lebih berat & jarang berhenti sendiri anemia, hipovolemi & syok (pasien penyakit kardiovaskular). Pasien sering menyatakan perdarahan dari bagian depan & belakang hidung. Perhatian ditujukan pd bagian hidung tempat awal terjadinya perdarahan/ pd bagian hidung yg terbanyak mengeluarkan darah.

Penegakan Diagnosis a) Anamnesis : Perdarahan dari 1/ 2 lubang hidung? Sudah berapa kali berdarah? Apakah mudah dihentikan dg memencet hidung? Adakah riwayat trauma/ menderita penyakit kelainan darah, hipertensi & pemakaian obat-obatan antikoagulansia? b) Pemeriksaan Fisik Posisikan os yg memudahkan pemeriksa bekerja & hidung dibersihkan shgg dpt diobservasi cari tempat dan faktor. Jika perdarahan aktif masukkan kapas larutan anestesi lokal slm 10-15 menit yi/ pantokain 2% / lidokain 2% yg ditetesi adrenalin 1/1000 hilangkan sakit & vasokontriksi perdarahan berhenti observasi.

b)

Pemeriksaan Fisik Rinoskopi anterior

Rinoskopi posterior penting pada pasien epistaksis berulang dan sekret hidung kronik untuk menyingkirkan neoplasma. Pengukuran tekanan darah Pd pasien dewasa tekanan darah perlu diukur untuk menyingkirkan diagnosis hipertensi. c) Pemeriksaan Penunjang Laboratorium, Radiografi, Endoskopi dan Skrining terhadap koagulopati

Penatalaksanaan Tiga prinsip utama: menentukan tempat perdarahan, menghentikan perdarahan, dan atasi penyebab

Perdarahan anterior

Umumnya berhenti sendiri, jika tidak hentikan dg penekanan hidung dari luar selama 10-15 menit, kepala ke arah depan mencegah darah mengalir ke bagian posterior faring. Bila sumber perdarahan terlihat, tempat asal perdarahan di kaustik dengan larutan Nitras Argenti 25-30% kemudian beri krim antibiotik Bila perdarahan masih berlangsung, maka perlu dilakukan tampon anterior

Penatalaksanaan

Perdarahan posteriot

Untuk menanggulangi perdarahan posterior, dilakukan pemsanagan tampon posterior atau tampon Bellocq

Prosedur pembedahan

Reseksi Submukosa perdarahan di belakang septum/ ada deviasi yg menghalangi tampon. Ligasi arteri etmoidalis melalui orbita media Ligasi arteri karotis eksterna/ arteri sphenopalatina melalui bedah endoskopi hidung. Embolisasi pembuluh darah & angiografi pd kasus perdarahan terus menerus.

Komplikasi Pemasangan tampon anterior sinusitis, bloody tears & septikemia. Pemasangan tampon posterior otitis media, laserasi palatum mole & sudut bibir. Perdarahan hebat aspirasi, syok, anemia, iskemia otak, insufisiensi koroner & infark miokard kematian. Prognosis 90% kasus epistaksis anterior berhenti sendiri. Pasien hipertensi dg/tanpa arteriosklerosis perdarahan hebat, sering kambuh & prognosisnya buruk.

Analisis Kasus
An. L usia 5 tahun datang ke Poli THT RSUD Raden Mattaher tgl 4 Maret 2014 dg keluhan utama keluar darah dari lubang hidung sebelah kiri sejak 1 minggu didiagnosis Epistaksis anterior e.c trauma dan perubahan suhu. Sesuai dg anamnenis keluhan sudah terjadi sebelumnya yi/ 3 minggu yang lalu, namun tidak sembuh juga & 1 minggu yang lalu keluar darah hanya dari lubang hidung kiri, merah segar, cair, 5 kain basah, slm 15 menit, terjadi pada malam hari, tiba-tiba & sebelum pasien tertidur.

Analisis Kasus
Sebelumnya saat darah keluar dari hidung demam (+) 38C, sekarang demam disangkal, gusi berdarah (-), bintik-bintik perdarahan dikulit (-) menggurkan DD epistaksis anterior e.c infeksis sistemik / e.c kelainan darah. Riw. keluhan sama sebelumnya, riw. kelainan darah disangkal, riw. keluarga menderita kelainan darah menggurkan DD epistaksis anterior e.c kelainan darah. Riw. tumor pd anggota keluarga disangkal menggurkan DD epistaksis anterior e.c tumor.

Analisis Kasus
Pd pemeriksaan fisik rhinoskopi anterior nares sinistra : kavum nasi sekret (+), hiperemis (+) dan

darah kering (+), deviasi septum nasi (-), luka pada 1/3 atas septum nasi, konka inferior hiperemis (+), luka pada bagian atas (+). Pd pemeriksaan rhinoskopi posterior dalam batas normal.

Sesuai dg teori kebanyakan perdarahan dari pleksus kisselbach di septum bag. Anterior/ a. etmoidalis anterior, & biasa terjadi krn mukosa hidung yg hiperemis/ kebiasaan mengorek pd anak.

Analisis Kasus
Tidak dilakukan pem. Penunjang perdarahan sdh berhenti & hal ini sering terjadi berulang dan dapat berhenti sendiri tu/ pd anak.
Pasien juga tidak diberikan terapi, namun diberikan edukasi perdarahan disebabkan oleh luka pada hidung bagian depan. Orang tua pasien perlu menghindari anaknya dari faktor pencetus & bila perdarahan berulang biarkan perdarahan keluar dg cara menundukan kepala cuping hidung ditekan hingga perdarahan berhenti, segera kembali ke rumah sakit.

Kesimpulan
Epistaksis suatu gejala & bukan suatu penyakit, disebabkan oleh adanya suatu kondisi kelainan atau keadaan tertentu. Prinsip penanganan adalah menghentikan perdarahan, mencegah komplikasi & mencegah berulangnya epistaksis.

Epsitaksis dapat dicegah dg antara lain tdk memasukkan benda asing & keras ke dalam hidung, tidak bersin terlalu keras, mengkontrol tekanan darah pd pasien dg hipertensi & menghindari obat-obatan yg dpt meningkatkan perdarahan.

THANK You