Anda di halaman 1dari 61

PENDAHULUAN Hormon dari kata hormaein artinya senyawa yang merangsang.

1904 - William Bayliss dan Ernest Starling, pertama kali memperkenalkan istilah hormon, yang berasal dari isolasi sekretin (cairan dari duodenum) yang merangsang keluarnya cairan pankreas. Di dalam tubuh manusia ada 2 macam kelenjar : 1. Kelenjar eksokrin : mengeluarkan sekretnya melalui saluran. 2. Kelenjar endokrin : mengeluarkan sekretnya langsung dicurahkan ke dalam sirkulasi darah.

Pengertian hormon : 1. Hormon adalah molekul yang dihasilkan oleh jaringan tertentu (kelenjar). 2. Hormon dikeluarkan langsung ke dalam darah yang membawanya ke tempat tujuan. 3. Hormon secara khas mengubah kegiatan suatu jaringan tertentu yang menerimanya. ~ Sel target : tempat hormon bekerja ~ Hormon trofik : hormon yang bekerja pada sel kelenjar lainnya. ~ Neurohormon : hormon yang dihasilkan oleh serat-serat saraf autonom. ~ Hormon sintetis : hormon yang secara kimia berbeda namun khasiatnya sama dengan hormon yang asli.

~ Hormon semisintetis : hormon alamiah yang telah mengalami perubahan secara kimia. ~ Antagonis hormon : zat kimia yang dapat menghambat baik pada proses pembentukannya maupun langsung pada hormon yang telah disekresi kelenjar. STRUKTUR HORMON Digolongkan dalam 3 kelompok : 1. Steroid : yaitu androgen, estrogen, adrenokortikoid. 2. Derivat asam amino : yaitu epinefrin/adrenalin, dan tiroksin. 3. Peptida-protein : yaitu insulin, glukagon, parathormon, oksitosin, vasopressin/ADH, hormon yang dikeluarkan oleh mukosa usus dll.

MEKANISME KERJA Berdasarkan penelitian Earl Sutherland, tahun 1950, bahwa adanya adrenalin dan glukagon pada reaksi pemecahan glikogen telah menimbulkan terbentuknya suatu zat yang tahan panas sebagai zat antara. Zat tersebut adalah AMP siklik (cAMP) atau Adenosin 3, 5 monofosfat. Reaksi :
Mg2+

ATP
Adenilsiklase

AMPsiklik + PPi + H+
Mg2+

AMPsiklik + H2O
Fosfodiesterase

AMP + H+

Reaksi ini bersifat sangat eksorgenik, bila tidak ada fosfodiesterase, AMPsiklik merupakan senyawa yang stabil. Penelitian Sutherland dapat menjelaskan konsep tentang mekanisme kerja hormon. Hal-hal penting pada konsep tersebut adalah : 1. Sel mengandung reseptor bagi hormon dalam membran plasma. 2. Penggolongan hormon dengan reseptornya dalam membran plasma dapat merangsang Adenil siklase yang juga terdapat dalam membran plasma. 3. Peningkatan aktivitas Adenil siklase menyebabkan meningkatnya jumlah AMPsiklik dalam sel. 4. AMP siklik bekerja dalam sel untuk mengubah kecepatan satu atau beberapa proses.

Gambar mekanisme kerja hormon serta peranan cAMP :


Rangsangan Kelenjar endokrin Hormon Adenilsiklase ATP

cAMP Fosfodiesterase AMP Respon fisiologis

Proses yang bersifat hormonal ini terdiri atas 2 tahap : Tahap pertama : pembentukan hormon sampai tiba pada dinding sel atau plasma. Tahap kedua : peningkatan jumlah cAMP hingga terjadi pertumbuhan atas proses dalam sel. BEBERAPA JENIS HORMON
HORMON HIPOFISIS DAN HIPOTALAMUS

Sistem pengendalian hormon oleh hipotalamus : Mekanisme kerja hormon dikendalikan oleh hipotalamus. Hipotalamus mempengaruhi kerja kelenjar hipofisis yang dapat mengeluarkan beberapa macam hormon .

Sebagian hormon tersebut dapat merangsang kelenjar lain untuk mengeluarkan hormon tertentu. Pengaruh hipotalamus terhadap sistem endokrin dapat digambarkan sebagai berikut :

FSH : LH : ACTH : TSH :

Follicle Stimulating Hormone Luteinizing Hormone Adrenocorticotropic Hormone Thyroid Stimulating Hormone

Sistem saraf pusat Hipotalamus Faktor pelepas Pituitari/hipofisis Hormon pertumbuhan FSH LH TSH ACTH

Gonad

Tiroid

Adrenal cortex

Hormon kelamin

Tiroksin

Kortison

Contoh pengendalian hormon oleh hipotalamus : Keadaan dingin Diterima tubuh SSP Mengaktifkan hipotalamus Kelenjar hipofisis TSH Hormon Tiroksin

Metabolisme glukosa

KELENJAR HIPOFISIS Kelenjar hipofisis bekerja sebagian di bawah kontrol hipotalamus yang berasal dari ujung-ujung serabut-serabut saraf hipotalamus dan di transpor melalui kapiler portal hipofisis, sebagian lagi di bawah kontrol somato statin yang dihasilkan oleh sel D pulau Langerhands kelenjar pankreas dan kerjanya sebagai transmitter synapsis atau neuromodular intra organ. Kelenjar hipofisis terdiri dari : 1. Adenohipofisis, terdiri dari hipofisis anterior dan hipofisis intermedium. 2. Neurohipofisis, terdiri dari hipofisis posterior dan infundibulum.

Hipofisis anterior : Hipofisis anterior mensekresi hormon-hormon sbb : 1. Hormon pertumbuhan (Growth Hormone, Somatotropin) 2. Hormon tropik yaitu hormon yang bekerja pada kelenjar lain sebagai target, yaitu : a. Prolaktin (PL, hormon laktogenik, hormon luteotropik, LTH). b. Gonadotropin, mempengaruhi fungsi-fungsi dan pematangan testis dan ovarium, terdiri dari hormon-hormon sbb : b.1. FSH (Follicle Stimulating Hormone) b.2. LH (Luteinizing Hormone) b.3. TSH (Thyroid Stimulating Hormone) b.4. ACTH (Adrenocorticotropic Hormone)

3. Lactogenic Hormone 1. Growth Hormone (GH) - Disekresi oleh sel-sel adidofilik hipofisis anterior. - Protein dengan 144.000 - Fungsi utama : merangsang pertumbuhan skelet, visera, dan pertumbuhan badan dalam proporsi normal. - Pengaruh langsung GH berupa adanya sedikit pembesaran kelenjar kelamin, kelenjar anak ginjal dan kelenjar tiroid. - Pengaruh metabolisme GH bersifat : a. Meningkatkan anabolisme protein b. Diabetogenik yang disebabkan oleh pelepasan glukosa dari hepar dan otot skelet.

c. Ketogenik karena terjadi mobilisasi lemak dari lemak cadangan sehingga meningkatkan kadar asam lemak bebas dalam sirkulasi darah. d. Protein sparing action dalam tubuh. 2. Hormon Tropik

2.1. Luteinizing Hormon (LH) Wanita : - menstimulasi proses berakhirnya maturasi folikel-folikel Graaf. - Ovulasi - Terbentuknya korpus luteum - Menstimulasi sekresi estrogen dan progesteron

Pria : - menstimulasi produksi testosteron dan testis. - mempertahankan spermatogenesis - perkembangan organ sekunder yaitu prostat, vas deferens, seminal vesikalis. 2.2. Follicle Stimulating Hormone (FSH) Wanita : - mempersiapkan folikel terhadap pengaruh LH serta mempengaruhi sekresi estrogen pada wanita. Pria : - permulaan spermatogenesis. 2.3. Thyroid Stimulating Hormone (TSH) Struktur : mukoprotein dengan BM 25.000

Fungsi : - Meningkatkan pertumbuhan kelenjar tiroid serta keaktifan metabolisme umum, termasuk oksidasi glukosa, pemakaian O2, sintesis fosfolipid, dan RNA. - Meningkatkan setiap tahapan reaksi sintesis tiroksin termasuk intake I2, pembebasan tiroksin dari tiroglobulin maupun pengikatannya dengan tiroglobulin. - Meningkatkan Adenilat siklase sehingga meningkatkan cAMP intrasel kelenjar tiroid.

2.4. Adreno Cortico Tropic Hormone (ACTH) Struktur : Polipeptida rantai lurus dengan BM 4500, terdiri dari 39 molekul asam amino. Untuk aktivitasnya hanya memerlukan 23 molekul asam amino deretan pertama. Fungsi : - Meningkatkan sekresi kortikosteroid oleh korteks adrenal. - Meningkatkan sintesis protein Kortikosteroid terdiri dari mineralokortikoid, glukokortikoid, dan androgen

Hipofisis Intermedium Menghasilkan hormon intermedian, yang berfungsi meningkatkan penempatan melanin oleh melanosit kulit, sehingga berfungsi sebagai MSH (Melanocyte Stimulating Hormone). Hipofisis Posterior Ekstrak lobus posterior kelenjar hipofisis paling sedikit mengandung 2 senyawa aktif, yaitu : 1) Vasopresin/Pitresin/ADH , BM 19.000 2) Oksitosin/Pitosin, BM 21.000 Kedua hormon di transport ke hati, ginjal, dan kelenjar mamae dalam bentuk ikatan dengan protein plasma darah.

1) Vasopresin Memiliki efek vasopresor dan antidiuretik (ADH) yang bekerja pada tubulus ginjal dan berhubungan erat dengan proses reabsorbsi air secara fakultatif. Aktivitas ADH meningkat dijumpai pada : a. Stres (emosi dan fisik) b. Stimulasi listrik c. Pengaruh senyawa asetilkolin, nikotin, morfin. Aktivitas ADH menurun dapat dijumpai pada : a. Keadaan yang dipengaruhi epinefrin dan alkohol b. Volume darah yang meningkat. Bila ADH tidak/sedikit disekresi, penderita mengeluarkan urin sebanyak 30 l sehari, disebut penyakit Diabetes Insipidus.

2) Oksitosin Struktur : siklik polipeptida yang terdiri dari 8 asam amino dengan BM 1000. Fungsi : - Memperkuat kontraksi uterus pada saat persalinan bayi. - Meningkatkan kontraksi otot polos kelenjar mamae, sehingga ASI meningkat.

KELENJAR TIROID Kelenjar ini mensekresi hormon (1) Tiroksin (T4) dan (2) Triiodotironin (T3), keduanya terikat pada tiroglobunin di dalam kelenjar. Struktur : Protein dengan BM 670.000, berbentuk koloid
Biosintesis Sintesis hormon kelenjar tiroid berlangsung dalam 4 tahap : 1. Uptake ion iodida oleh kelenjar tiroid. 2. Oksidasi iodida serta iodinasi gugus tirosil molekul tiroglobulin dalam molekul tiroglobulin. 3. Perubahan radikal iodotirosil menjadi iodotironil dalam molekul tiroglobulin 4. Pelepasan T3 dan T4 ke dalam darah.

1). Uptake iodida oleh kelenjar tiroid Iodium darah berbentuk iodida, jumlahnya sangat sedikit (0,2 0,4 %), tetapi kelenjar tirod memiliki kemampuan melakukan penyerapan serta pemekatan melalui transpor aktif, sehingga kadar iodida di dalam kelenjar mencapai 20 50 x kadar iodida dalam darah. Penghambat : a. Tiosianat b. Perkhlorat c. Garam-garam iodida 2). Oksidasi iodida dan iodinasi gugus tirosil tiroglobulin di kelenjar tiroid. Iodida yang diserap secepatnya dioksidasi melalui reaksi yang dikatalisis oleh enzim peroksidase yang dipengaruhi oleh TSH .

Reaksi oksidasi ini dihambat oleh senyawa : a. Tiourea b. Aminobenzene c. Imidazol Secepatnya pula iodium yang terbentuk diikatkan pada gugus tirosil tiroglobulin, pada mulanya pada C-3 dan terbentuklah MIT (Mono Iodium Tirosin), selanjutnya pada C-5 terbentuklah DIT (Di Iodium Tirosin)
3). Perubahan radikal Iodotirosil menjadi radikal Iodotironil molekul tiroglobulin di kelenjar tiroid. Selanjutnya terjadi penggabungan MIT dan DIT membentuk T3 dan penggabungan 2 DIT membentuk T4 yang berlangsung melalui reaksi enzimatis.

Di kelenjar tiroid dijumpai : a. MIT (20 30%) b. DIT (30 45 %) c. T4 (25 %) d. T3 sedikit Yang paling terpengaruh oleh adanya gangguan kelenjar tiroid adalah komponen DIT.

4). Pelepasan T3 dan T4 ke dalam darah T3 dan T4 yang terikat pada tiroglobulin dalam kelenjar tiroid, pembebasannya memerlukan enzim proteolitik yang distimulasi oleh TSH dan hawa dingin. Tiroglobulin adalah protein dengan BM 670.000, yang terdiri dari 5000 asam amino dan 3-5 asam aminonya terpakai untuk T3 dan T4.

Setiap hari dilepaskan kira-kira 75 g T4 dan 25 g T3 ke dalam darah , dan dalam darah keduanya diikat oleh protein darah, namun T3 hanya sedikit yang terikat, sehingga T3 awal kerjanya lebih cepat dan lama kerjanya lebih pendek dibandingkan dengan T4. Pemeriksaan laboratorium Pada pemeriksaan Lab. dikenal beberapa istilah diantaranya: a. PBI (Protein Bound Iodine) yaitu jumlah Iodine yang terikat protein plasma darah dan kira-kira 70% daripadanya merupakan ikatan dengan T4. b. BEI (Butanol Extractable Iodine)

yaitu jumlah Iodine yang berasal dari tiroksin yang terikat oleh protein plasma darah.
Protein darah yang mengikat hormon tiroid adalah : a. Globulin (85 %) yang dikenal sebagai TBG (Thyroxine Binding Globulin) b. Pre-albumin (sisanya) yang dikenal sebagai TPBA (Thyroxine Binding Pre Albumin). c. Albumin (sedikit sekali). Jadi hanya sebagian kecil saja hormon tiroksin yang bebas dalam darah, dan hanya hormon yang bebas inilah yang menentukan besarnya aktivitas biologis hormon tiroid, dengan kata lain menentukan status kelenjar tiroid seseorang.

Metabolisme dan ekskresi hormon tiroid Ekskresi hormon tiroid berlangsung sangat lambat dan t1/2 (waktu paruh) tiroksin lamanya 6 7 hari. Lebih banyak hormon tiroid yang terikat protein, misalnya pada keadaan dimana kadar estrogen meningkat (pada kehamilan, akibat terapi estrogen) akibatnya lebih lambat diekskresi. Sebaliknya bila hormon yang terikat protein jumlahnya lebih sedikit (pada penderita nefrosis, sirosis, akibat terapi salisilat, dilantin, dinitrofenol ) maka akibatnya lebih cepat diekskresi.

Degradasi Hormon Tiroid Hormon tiroid didegradasi terutama di hepar melalui reaksi a. Konjugasi b. Deiodinasi c. Deaminasi d. Dekarboksilasi Hasil degradasi hormon tiroid dikeluarkan melalui urine dan saluran pencernaan. Fungsi Hormon Tiroid Di dalam tubuh, hormon tiroid mempunyai peranan dalam hal : 1. Mempercepat pembentukan energi. Hal ini dilakukan dengan cara : a. Meningkatkan penggunaan Oksigen di jaringan tubuh kecuali :

- otak - hipofisis anteior - limpa - kelenjar limfe Hal ini berkaitan dengan meningkatnya laju metabolisme yang mengakibatkan kebutuhan nutrien bertambah.
b. Meningkatkan sekresi epinefrin, sehingga penderita hipertiroidisme memberikan gambaran Glucose Tolerance Test (GTT) yang karakteristik. Berkaitan dengan laju metabolisme yang meningkat tadi akan memberikan akibat terjadinya Peningkatan lipolisis Keseimbangan Nitrogen negatif Katabolisme kolesterol meningkat.

2. Pertumbuhan Badan Hal ini mempunyai arti penting bagi usia pertumbuhan (balita) sehingga pertumbuhan berjalan normal.

3. Ada kaitannya dengan fungsi katekolamin Pemberian tiroksin menimbulkan kelainan susunan saraf pusat dan memberikan gejala yang ada kaitannya dengan peningkatan sekresi katekolamin. Jadi efek tiroksin terutama pada saraf dan kardiovaskuler dengan perantaraan aktivitas saraf adrenergik.

Keadaan Patologis 1). Hipotiroidisme (Hipofungsi Kelenjar Tiroid) Secara klinik dibedakan antara : a. Kretinisme, yaitu hipotiroidisme kongenital, terdapat 2 macam kretinisme, yaitu : a.1. Atirotropik, yang bersifat sporadik a.2. Goitreus, yang bersifat endemik b. Miksedema, terdapat 2 macam miksedema, yaitu: b.1. Juvenille miksedema, dijumpai pada masa anakanak. b.2. Penyakit Gull, dijumpai pada orang dewasa, terdapat 2 macam :

b.2.1. Hipotiroidisme primer, dimana kelainannya berada di kelenjar tiroid, dibedakan lagi yang : - spontan - tidak spontan, misalnya : akibat pembedahan. b.2.2. Hipotiroidisme sekunder, misalnya : ditimbulkan oleh kelainan hipofisis. 2). Hipertiroidisme (Hiperfungsi kelenjar tiroid) Secara klinis dibedakan antara : a. Penyakit Grave (Penyakit Basedow) Tiroid membesar secara difus dan disertai gejala eksoftalmus (mata menonjol keluar). b. Penyakit Plumer Tiroid membesar pada satu nodule saja.

KALSITONIN Diproduksi oleh jenis sel C kelenjar tiroid. Struktur : polipeptida rantai lurus yang terdiri dari 32 molekul asam amino dengan N-terminalnya mengandung cincin sulfida dan karboksil terminalnya merupakan prolinamida. Fungsi : khasiat hipokalsemia, yaitu menurunnya kadar kalsium darah tinggi. KELENJAR PARATIROID
Mensekresi hormon yang strukturnya berupa protein dengan BM 9.000, dimana residu metionin mempunyai arti penting bagi aktivitas hormon paratiroid, sehingga bila residu metionin dioksidasi menjadi metionin sulfoksida, menyebabkan hormon paratiroid menjadi tidak aktif lagi

Fungsi Hormon paratiroid memiliki peranan dalam pengaturan kadar ion Ca2+ dalam cairan ekstrasel dengan cara : a. Mempengaruhi proses penyerapan Ca2+ di saluran pencernaan. b. Mengatur deposit dan mobilisasi Ca dari tulang. c. Mengatur reabsorbsi dan ekskresi fosfat dari ginjal. d. Meningkatkan uptake fosfat oleh sel.
Patologis Keadaan patologis kelenjar paratiroid akan mengarah pada keadaan : a. Hipoparatiroidisme, yaitu hipofungsi kelenjar paratiroid.

b. c.

Pseudohipoparatiroidisme Hiperparatiroidisme, yaitu hiperfungsi kelenjar paratiroid, 90% diantaranya disebabkan oleh adenoma, hiperplasia, dan karsinoma, akibat gangguan fungsional, timbullah gejala berupa ostetis fibrosa generalisata yang dikenal sebagai penyakit Von Reckling Hausen. Hormon kelenjar paratiroid ditransport di dalam darah dan komponen terikat yaitu pada fraksi globulin alfa plasma darah, didegradasi di hepar dan metabolitnya diekskresi kedalam ginjal dijumpai dalam urine.

KELENJAR ADRENAL Dibedakan antara kelenjar adrenal bagian medula dan bagian korteks. A. Medula Adrenal Menghasilkan hormon adrenalin dan noradrenalin
Adrenalin = Epinefrin Sebagai sistem saraf simpatis bersifat stimulan terhadap organ yang mengadakan reaksi fight and fright mechanism bila menghadapi kejadian yang akut serta membahayakan. Efek lainnya terhadap metabolisme yaitu : 1. proses glikolisis di hati maupun otot skelet 2. proses lipolisis di jaringan lemak.

Medula mengandung adrenalin sebanyak 1- 3 mg/gr jaringan, dan adrenalin disintesis dari asam amino fenilalanin dan tirosin. REAKSI Phe-hidroksilase Fenilalanin Tirosin
Tirosinase
Dekarboksilase

Dopamin

Dopa

Melanin

Noradenalin
Transmetilase

Adrenalin

Metabolisme adrenalin Adrenalin dimetabolisme melalui sederetan reaksi berupa : 1) Reaksi metilasi gugus fenol yang dikatalis oleh enzim catecholamin-o-metil transferase. 2) Oksidasi gugus amino rantai cabangnya, yang dikatalis oleh MAO. Kedua enzim tersebut ditemukan di semua jaringan tubuh, namun yang terutama di hati, dimana sebagian besar katekolamin dirombak. Adrenalin hanya sedikit (6%) diekskresi dalam urine tanpa mengalami perubahan, tetapi sebagian besar ditemukan dalam bentuk metabolitnya yaitu :

1. Metanefrin , 40% 2. VMA ( Vanil Mandekaic Acid), 41% 3. 4-OH, 3-metoksi-fenilglikol, 7% 4. 3,4-dehidroksi mandelic acid, 2% 5. Misel, 4% Kebanyakan metabolit tersebut diekskresi dalam bentuk berkonjugasi dengan sulfat.
Kerja Adrenalin terhadap sistem kardiovaskuler Adrenalin menyebabkan terjadinya : 1. Vasodilatasi pada arterial otot skelet. 2. Vasokonstriksi pada : arterial kulit, membran mukosa, dan splanknik viscera.

3.

Stimulasi kerja jantung dengan meningkatkan kepekaan kekuatan kontraksi dan kardiac output jantung.

Kerja Adrenalin terhadap otot polos viscera Adrenalin menyebabkan relaksasi otot polos pada : 1. Perut 2. Intestinum 3. Kandung empedu 4. Bronchus Atas dasar kerja ini adrenalin sering digunakan untuk mengatasi serangan asthma bronchiale sebagai bronchodilator.

Kerja Adrenalin terhadap metabolisme Efek metabolisme yang primer dari adrenalin yakni meningkatkan AMP siklik melalui pengaktifan enzim adenilat siklase. Feakromatisoma (chromafin cell tumor): Yaitu tumor medulla adrenalyang mengakibatkan hiperaktif medulla adrenal sehingga memberikan simptom berupa intermittens hypertension. Fentolamin (regitin) : Suatu zat antagonis spesifik noradrenalin, bila disuntikkan kepada penderita feakromatisoma akan menurunkan tekanan darah paling sedikit 35/25 mmHg.

B.

KORTEKS ADRENAL

Ekstrak korteks adrenal dinamakan kortin , mengandung sejumlah hormon yang berpotensi dan semuanya berstruktur sebagai derivat steroid yang memiliki inti siklopentano perhidrofenantren. Hormon korteks adrenal dikelompokkkan menjadi kelompok hormon : 1. Glukokortikoid 2. Mineralokortikoid 3. Androgen dan Estrogen

Glukokortikoid Efek primernya berupa pengaruh terhadap metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein. Yang termasuk hormon utama dalam kelompok ini adalah : 1. Kortison 2. Kortisol 3. Kortikosteron Ketiganya bersifat : a. Meningkatkan kadar glukosa darah b. Meningkatkan glukogenolisis c. Meningkatkan glukoneogenesis d. Meningkatkan pemecahan lemak e. Meningkatkan katabolik protein f. Menurunkan oksidasi hidrat arang g. Menurunkan lipogenesis hidrat arang di hepar

Mineralokortikoid Semua kortikoid aktif bersifat meningkatkan reabsorbsi Na+ dan Cl- di tubuli ginjal, serta mengurangi ekskresi keduanya melalui kelenjar keringat, kelenjar liur, dan saluran pencernaan. Potensi paling besar dalam pengaturan elektrolit adalah aldosteron. Androgen dan Estrogen Androgen primer korteks adrenal berupa : a. Dehidroepiandrosteron (DHEA) b. Androstendion Tumor kelenjar adrenal akan menghasilkan testosteron sehingga mengakibatkan timbulnya maskulinisasi pada wanita.

Efek tambahan hormon korteks adrenal berupa antiinflamasi dan imunosupresi. Kebanyakan steroid yang dijumpai di alam memiliki rantai cabang alkohol sehingga dinamakan sterol. Kortisol merupakan hormon korteks adrenal mayoritas di dalam darah manusia (normal 12g %). Biosintesis steroid
Asetat merupakan prekursor pertama dalam sintesis semua steroid.

REAKSI :
Progesteron Asetat Kolesterol
Hidroksilasi,ACTH

Androsteron

Pregnenolon 17-OH Pregnenolon DHEA Androstendion Testosteron Estrogen Estradiol


hidroksilasi

Glukokortikoid

Hormon steroid yang mempunyai aktivitas biologi : Kortison Hidrokortison Aldosteron Androstendion Androgen Dehidroepiandrosteron Sintesis hormon adrenal lebih berpotensi dan spesifik dibanding yang asli, karena : 1. Memiliki afinitas lebih besar terhadap protein reseptor di sitosol. 2. Kompleks steroid-reseptor memiliki kemampuan yang meningkat untuk bekerja pada tingkat ini. 3. Didegrasi kurang cepat di dalam tubuh.

Pengaturan sekresi steroid Dikontrol oleh ACTH yaitu hormon yang disekresi oleh kelenjar hipofisis. Transportasi dan metabolisme steroid adrenal Kortikosteroid diikat secara spesifik oleh globulin-alfa di dalam plasma darah yang dikenal sebagai CBG (Cortic Steroid Binding Protein = Transkortin), sedangkan hormon yang aktif ialah hormon dalam keadaan bebas dalam darah. Estrogen bersifat menurunkan aktivitas hormon kortikosteroid sedangkan progesteron bersifat meningkatkan aktivitas hormon tsb.

Dalam keadaan istirahat, kortisol dalam plasma darah sebesar 5 15 g%, menghilangnya senyawa steroid dari tubuh berlangsung cepat (t1/2 = 4 jam) Ekskresi steroid melalui urin (70%), tinja (20%), dan kulit. Patologi Gangguan korteks adrenal dapat menjelma menjadi : Hipoadrenocortiscm, ditimbulkan oleh : a. sebagai akibat adrelektomi b. penyakit tuberkulosis yang dikenal sebagai ADDISONS DISEASE Hiperadrenocorticism, ditimbulkan oleh :

1.

2.

tumor korteks adrenal hipeplasia terapi terus menerus dengan hormon steroid atau ACTH. Hiperadrenocorticism yang disebabkan tumor mengakibatkan produksi berlebihan. 1 dan 2 menimbulkan Cushings disease dan Cushings syndrome. Cushings disease disebabkan oleh : Kelainan yang disebabkan oleh kelainan yang berada di hipofisa, misalnya : tumor basofilik adenoma. Cushings syndrome disebabkan oleh : Kelainan yang terdapat di korteks adrenal, misalnya : tumor korteks adrenal

a. b. c.

KELENJAR PANKREAS Mensekresi hormon : 1. Insulin, disekresi oleh sel beta pulau Langerhands 2. Glukagon, disekresi oleh sel alfa pulau Langerhands 3. Somatostatin, disekresi oleh sel delta pulau Langerhands.

INSULIN
Struktur : Merupakan suatu protein dimer, BM 6000, terdiri dari 51 molekul asam amino. Kedua rantai polipeptida yang menyusun molekul insulin, masing-masing dikenal sebagai rantai A dan B, yang dihubungkan oleh ikatan disulfida.

Rantai A mengandung 21 molekul asam amino, rantai B mengandung 30 molekul asam amino. Struktur molekul insulin : S-S AA Rantai A 1 6 7 11 20 21
S S AA S Rantai B S

19

30

Jadi pada posisi 6, 7, 11 dan 21 rantai A, dan pada posisi 7 dan 19 rantai B ditempati oleh asam amino sistein.

Biosintesis Insulin Insulin adalah hormon berstruktur protein, dan disintesis di dalam tubuh melalui mekanisme yang sama dengan sintesis protein pada umumnya, yaitu oleh ribosom retikulum. Produk akhir yang dihasilkan oleh organel sel ini berupa prazat insulin atau pro insulin. Perubahan proinsuln menjadi insulin berlangsung di dalam bungkusan granula dan bukan di dalam retikulum endoplasma.

Pembebasan molekul insulin dari proinsulin di katalisis oleh enzim proteolitik dengan membebaskan 2 asam amino basa di masing-masing ujung polipeptida penghubung.

Sekresi Insulin Yang merangsang sekresi insulin : 1. Senyawa hidrat arang : glukosa, manosa, fruktosa. 2. Asam-asam amino terutama Leusin dan Arginin. 3. Hormonal : glukagon,sekretin, pankreozimin, Growth Hormone, glukokortikoid. 4. Senyawa lainnya, misalnya : sitrat, dan obat-obatan (tolbutamid, kloropropamid, aminophilin ) 5. Saraf berupa rangsangan reseptor adrenergic dan nervous vagus.

Yang menghambat sekresi insulin : 1. ACTH 2. Rangsangan adrenergik alfa 3. Adanya penghambat metabolisme glukosa. Transport Insulin Insulin dalam darah dijumpai dalam bentuk : 1. Insulin yang terikat globulin, merupakan insulin tidak aktif terhadap metabolisme glukosa di otot, tetapi aktif di jaringan lunak, karena jaringan lunak dapat membebaskan insulin dari ikatannya. 2. Insulin yang bebas, merupakan insulin yang aktif terhadap metabolisme glukosa dalam otot maupun jaringan lunak.

Metabolisme Insulin Insulin dihancurkan terutama di dalam hati, dimana insulin dipecah oleh enzim glutation transhidrogenase menjadi rantai polipeptida A dan rantai polipeptida B yang akhirnya kedua polipeptida dipecah enzim proteolitik. Insulin yang ditemukan didalam urin jumlahnya tidak bermakna.

Gambaran pada keadaan defisiensi insulin


Defisiensi insulin

Uptake glukosa menurun

katabolisme protein meningkat

lipolisis meningkat

Hiperglikemia Glukosuria Osmotic diurisis Elektrolit menurun

kadar asam amino plasma meningkat, N-lost dalam urine

Ketogenesis, ketonemia ketonuria

Dehidrasi asidosis

Normal : Kira-kira 50% hidrat arang yang dimakan mengalami oksidasi sempurna menjadi CO2 dan H2O, 5% diubah menjadi glikogen , 30-40% diubah menjadi lemak cadangan.

GLUKAGON
~ Struktur : Glukagon merupakan molekul polipeptida yang terdiri dari 29 molekul asam amino. ~ Dalam saluran pencernaan dijumpai senyawa yang mempunyai sifat biologis sama dengan glukagon, dan telah berhasil diisolasi, senyawa inilah yang menyebabkan sekresi insulin lebih cepat setelah pemberian glukosa peroral dibandingkan dengan glukosa parenteral.

~ Di hepar, glukagon bersifat merangsang enzim adenilat siklase sehingga bersifat merangsang proses glikogenolisis. ~ Proses glukoneogenesis ditingkatkan oleh glukagon mengingat keterbatasan persediaan glikogen hati sehingga proses transaminasi ditingkatkan pula. ~ Sekresi glukagon akan meningkat bila terjadi hipoglikemia dan menurun bila terjadi hiperglikemia. ~ Mayoritas glukagon dimetabolisme di hepar di dalam tubuh.

HORMON TRACTUS GASTROINTESTINAL


Gastrin Diproduksi mukosa pilorik, terbentuknya dirangsang oleh protein makanan dan asam lambung. Gerakan peristaltik dapat meningkatkan produksi gastrin. Hormon dibawa darah ke sel-sel tujuan sehingga sel-sel tersebut mengeluarkan HCl lebih banyak. Sekretin Diproduksi mukosa usus, diangkut ke pankreas agar mengeluarkan cairan bikarbonat lebih banyak, dan salah satu faktor yang meningkatkan sekresi empedu oleh hati.

Kolesistokinin Diproduksi oleh mukosa usus halus yang berfungsi untuk merangsang cairan pankreas mengandung banyak enzim. Pankreozimin Tahan panas, tidak rusak oleh asam, tidak stabil terhadap alkali. Terdiri dari 33 asam amino. Pengeluarannya disebabkan oleh kasein, dekstrin, maltosa, laktosa, dll. Fungsinya untuk cairan pankreas dengan kadar bikarbonat dan enzim yang tinggi.