Anda di halaman 1dari 35

DRA. HADIJAH TAHIR, Apt, SpFRS MK.

PELAYANAN KEFARMASIAN PROGRAM PROFESI APOTEKER FF UNHAS MEI, 2013

Defisit

neurologik fokal akibat adanya gangguan peredaran darah di otak, sehingga menimbulkan kelainan anatomi dan fungsi otak.

Transient

Ischemic Attacks (TIA) Non Hemorhagic Stroke (NHS) Hemorrhagic Stoke (HS)

TIA

atau Serangan Otak iskemik Sepintas (SOS) adalah defisit neurologik fokal yang terjadi mendadak dan pulih kembali dalam waktu kurang dari 24 jam, disebabkan oleh gangguan primer peredaran darah otak. Defisit neurologik pada TIA tidak menetap (reversibel).

EKG X-foto thorax Darah lengkap Faal hemostasis (PT, aPTT) Echocardiography CT-scan MRI Angiography

Pemeriksaan

neurovaskular harus dilakukan pada setiap penderita yang mengalami serangan TIA (20 % penderita TIA akan mengalami stokr dalam bulan pertama, sebagian besar terjadi pada 72 jam pertama setelah serangan TIA)

Penderita

yang mengalami TIA lebih dari satu kali dalam seminggu, harus dirawat di RS untuk pemeriksaan dan terapi lebih intensif. Antiplatelet : acetosal (100-300 mg/hr) Alternatif lain : clopidogrel (75 mg/hr), cilostazol (2 x 50-100 mg/hr), atau ticlopidin (2 x 250 mg/hr).

Kontrol

terhadap faktor risiko : - memperbaiki gaya hidup - regulasi tekanan darah pada penderita HT - regulasi gula darah pada penderita DM

Disebut juga stoke iskemik atau stroke


trombotik.

Stroke iskemik akut adalah defisit neurologik fokal yang timbul mendadak, berlangsung lebih dari 24 jam, yang disebabkan oleh

gangguan primer peredaran darah otak berupa


trombosis, embolisme, atau kelainan nonoklusif pada sistem karotis atau vertebrobasilaris, mengakibatkan kematian sel neuron.

Penurunan

kesadaran (skor GCS) Bicara pelo Hemiparese Paralisis Gangguan memori

Tujuan: - Menegakkan dx dengan segera - Memberikan Th/ umum dan penyulit akut - Melakukan Th/ spesifik fase akut, dan - Menetapkan penatalaksanaan selanjutnya.

1.

2.
3.

4.

Memelihara jalan nafas, fungsi respirasi dan kardiovaskular. Mengatasi febris dengan antipiretika. Memantau dan mengelola TD denga berpedoman pada konsensus (obat antihipertensi diberikan jika TD > 220/120 mmHg. Memantau dan mengelola kadar gula darah.

1.

Edema otak sering terjadi pada hari ke 3 5 pasca serangan. Edema otak dapat mengakibatkan peningkatan TIK, selanjutnya menimbulkan herniasi dan kompresi batang otak. Penatalaksanaan edema otak : - melakukan elevasi TT pada bagian kepala hingga 20 30 . - hiperventilasi dengan ventilator sampai PCO2 30 35 mmHg.

- Osmoterapi dengan menggunakan larutan manitol 20%. - surgical decompression. 2. Kejang, umumnya terjadi dalam waktu 24 jam pasca serangan, seringkali parsial, dengan atau tanpa diikuti oleh kejang umum. Obat pilihan pertama adalah carbamazepine. Jika kejang berlanjut diberi inj. Fenitoin.

3. Sekitar 5% kasus NHS akut akan mengalami perdarahan simtomatik. Penggunaan

trombolitik dan antikoagulan dapat


meningkatkan kemungkina kejadian perdarahan, harus segera dihentikan. Bila hematom sangat luas atau terjadi di serebelum, perlu dipertimbangakn tindakan operatif.

1. Pemberian rtPA iv 0,9 mg/kg BB, dengan DM 90 mg, dilakukan pada kondisi : pemberian dalam selang waktu 3 jam pasca serangan akut, CT-scan menunjukkan adanya hematom, P/ tidak pernah mengalami trauma capitis maupun serangan stroke

selama 3 bln terakhir, serta TD < 185 / 110


mmHg.

2. Acetosal 100-300 mg sejak selang waktu


kurang dari 48 jam pasca serangan.

3. neuroprotektan, seperti piracetam dan citicoline, untuk melindungi neuron dari kematian sel akibat iskemik.

Prevensi

sekunder, yaitu upaya pencegahan

serangan berulang : pemberian antiplatelet dan edukasi ttg stroke pada penderita dan keluarganya.
Rehabilitasi

dini, untuk menurunkan angka

kecacatan dan mencegah terjadinya penyulit akibat imobilisasi dan tirah baring lama.

Perdarahan

intraserebral Perdarahan subarachnoid

Disfungsi

neurologi fokal yang akut dan

disebabkan oleh perdarahan primer substansi otak yang terjadi secara spontan, bukan oleh karena trauma capitis.

Perdarahan

yang disebabkan oleh pecahnya

arteria, pembuluh kapiler atau vena di dalam parenkim otak, dengan etiologi : - gangguan hemodinamika (hipertensi), - kelainan dinding pembuluh darah (aneurisma), dan - faal koagulasi

Serangan

diawali pada saat melakukan

kegiatan Sakit kepala berat Penurunan kesadaran sampai koma Hipertensi sedang sampai berat

1.

Medis : Penderita koma sedapat mungkin dirawat di ICU : - hiperventilasi, - intubasi untuk membuat PCO2 : 28-34 mmHg, - bila ada kejang : diazepam iv perlahan, tidak > 2mg/mnt sampai kejang berhenti, max 20 mg.

Fenitoin iv dengan dosis awal 10-15 mg/kg BB, selanjutnya 3 x 100 mg/iv, secara perlahan (1 cc/mnt).

Obat antihipertensi pada pasien hipertensi.

Infus RL 1 ltr/hr, kecuali demam 1,5 ltr/hr.


Infus Albumin 20% bila hipoalbuminemia.

CT-scan/MRI

Edema luas : setelah 6 jam diberi Manitol 0,25 0,5 gr/kg BB, 6 x/hr selama 7 hr, kemudian tappering off :

4x/hr selama 2 hr,


3x/hr selama 2 hr, 2x/hr selama 2 hr, dan stop.

2. Pembedahan : - pembedahan pada kasus dengan efek massa

atau perdarahan pada fossa posterior /


perdarahan serebelar.

- volume hematom : > 60 cc.

Disfungsi

neurologi fokal yang akut dan

disebabkan oleh perdarahan ke dalam ruang subarachnoid, yang terjadi akibat aneurisma pecah, kelainan pembekuan darah, tumor otak, dan beberapa sebab lain.

Nyeri

kepala hebat sesisi yang akut dengan

atau tanpa gangguan kesadaran.


Mual, Pada

muntah, vertigo, kejang.

10 % penderita terdapat perdarahan

subhialoid pada mata.


Bila

dilakukan punksi lumbal, selalu

didapatkan liquor yang berdarah.

1.

Medis : - pemberian CCB untuk mengurangi vasospasme. - pengobatan suportif : cairan yg cukup, oksigenasi, dan analgetik yg adekuat. - obat antihipertensi bila hipertensi. - diazepam iv / fenitoin iv, bila kejang. - haloperidol oral / diazepam bila gelisah.

2. Pembedahan : dilakukan bila didapatkan aneurysma serebri yang pecah.

Penderita

yg pernah stroke, memiliki risiko

serangan ulang 30-43 % dalam waktu 5 tahun.


Risiko

serangan stroke pasca TIA : 20 % dalam

bulan pertama.
Penderita

dgn TIA dan stroke, memiliki risiko

terjadi infark miokard atau GPD.


Prevensi

sekunder harus dilakukan dalam

waktu 7 hr pasca serangan stroke atau TIA.

Memperbaiki

pola hidup :

- berhenti merokok,

- olahraga teratur,
- diet seimbang,

- menurunkan BB bagi yg obesitas,


- menghindari stress, - menormalkan TD.

Anda mungkin juga menyukai