Anda di halaman 1dari 20

Oleh: Yohanes Sandang (C13112253) Andi Istimrar Ridjal (C13112254) Fitriani Ramdani Ilyas (C13112271) Fahrul Rinja (C13112274)

A. Definisi Konseling
Saefudin, Abdul Bari : 2002 Konseling merupakan proses pemberian informasi obyektif dan lengkap, dilakukan secara sistematik dengan panduan komunikasi interpersonal, teknik bimbingan dan penguasaan pengetahuan klinik yang bertujuan untuk membantu seseorang mengenali kondisinya saat ini, masalah yang sedang dihadapi, dan menentukan jalan keluar atau upaya mengatasi masalah tersebut.

Saraswati, Lukman, 2002:15 Konseling adalah proses pemberi bantuan seseorang kepada orang lain dalam membuat suatu keputusan atau memecahkan suatu masalah melalui pemahaman terhadap fakta, harapan, kebutuhan, dan perasaan pasien. Depkes RI, 2000:32 Konseling adalah proses komunikasi antara seseorang (konselor) dengan orang lain.

B. Definisi Konseling Fisioterapi


Konseling fisioterapi adalah bantuan kepada orang lain dalam bentuk wawancara yang menuntut adanya komunikasi, interaksi yang mendalam dan usaha bersama antara konselor (physio) dengan konseli (pasien) untuk mencapai tujuan konseling yang dapat berupa pemecahan masalah, pemenuhan kebutuhan ataupun perubahan tingkah laku/sikap dalam ruang lingkup pelayanan fisioterapi

C. Prinsip Dasar Konseling


Kemampuan menolong orang lain digambarkan dalam sejumlah keterampilan yang digunakan seseorang sesuai dengan profesinya yang meliputi: Pengajaran Nasehat dan bimbingan Pengambilan tindakan langsung Pengelolaan Konseling (HOPSAN, 1978)

D. Tujuan Konseling
Perubahan sikap

Pemenuhan Kebutuhan

Pemecahan masalah

E. Manfaat Konseling
Meningkatkan kemampuan pasien dalam mengenali masalah

Merumuskan alternatif

Memecahkan masalah

Memperoleh pengalaman dalam memecahkan masalah secara mandiri

F. Fungsi Konseling

Fungsi pengembangan Fungsi perbaikan

Fungsi penyesuaian

Fungsi pencegahan

Penjelasan
Fungsi perbaikan Ketika terjadi penyimpangan perilaku pasien atau pelayanan kesehatan dan lingkungan yang menyebabkan terjadinya masalah kesehatan diperlukan upaya perbaikan dengan pelayanan konseling Fungsi pengembangan Konseling ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan serta peningkatan derajat kesehatan masyarakat dengan upaya peningkatan peran serta masyarakat

G. Teknik Konseling
Pendekatan authoritatian atau directive, pusat dari keberhasilan konseling adalah dari konselor. Pendekatan non-directive atau conselei centred, konseli diberikan kesempatan untuk memimpin proses konseling dan memecahkan masalah sendiri. Pendekatan edetic, konselor menggunakan cara yang baik sesuai dengan masalah konseli.

H. Proses Konseling
Pembinaan hubungan baik (rapport) Penggalian informasi dan pemberian informasi sesuai kebutuhan Pengambilan keputusan, pemecahan masalah, & perencanaan Menindaklanjuti pertemuan

Penjelasan
Pembinaan hubungan baik (rapport) Dimulai sejak awal pertemuaan & seterusnya dengan cara: 1. Memberi salam pada awal setiap pertemuan. 2. Memperkenalkan diri 3. Menciptakan suasana nyaman dan aman 4. Bersabar 5. Tidak memotong pembicaraan pasien 6. Memberikan perhatian penuh pada pasien (SOLER) S: squarely (menghadap pasien) dan smile O: Open and Non Judgemental (sikap terbuka dan tidak mengadili) L: Lean Towards Client (tubuh condong ke arah pasien) E: Eye Contact (sesuai budaya setempat) R: Relaxed and Friendly Manner (santai dan sikap bersahabat)

Penjelasan
Penggalian informasi dan pemberian informasi sesuai kebutuhan 1. Identifikasi masalah pasien, kebutuhan, perasaan, kekuatan diri, dsb. 2. Untuk mengetahui alasan pasien datang dan bagaimana ia memandang masalah. Identifikasi masalah yang baik akan memberi arah dan tujuan konseling dan menghindari dibahasnya topik yang tidak berguna. Pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan perencanaan Setelah mendapatkan dan memberikan cukup informasi sesuai dengan masalah dan kondisi pasien, konselor membantu pasien memecahkan masalah yang dihadapi atau membuat perencanaan untuk mengatasi masalah.

I. Keterampilan Konselor

Keterampilan observasi

Keterampilan mendengar aktif

Keterampilan bertanya

Penjelasan
Keterampilan observasi 1. Pengamatan Obyektif, yaitu berbagai tingkah laku yang kita lihat dan dengar. Misal, jalan mondar-mandir, tangan dikepal, dsbnya. 2. Interpretasi/penafsiran, yaitu kesan yang kita berikan terhadap apa yang kita lihat (amati) dan kita dengar. Keterampilan mendengar 1. Mendengar pasif (diam), jika pasien menceritakan masalah dengan menggebu-gebu. 2. Memberi tanda perhatian verbal dan non verbal (ex: mm..,oh,,lalu,,dsb) jika pasien berbicara tentang masalahnya. 3. Mengajukan pertanyaan untuk mendalami dan klarifikasi. 4. Mendengar aktif, yaitu dengan memberikan umpan balik/merefleksikan isi ucapan dan perasaan pasien.

Penjelasan
Keterampilan bertanya 1. Pertanyaan tertutup Jawaban ya atau tidak untuk informasi faktual Suasana berkomunikasi tidak nyaman Konselor yang mengontrol percakapan 2. Pertanyaan terbuka Jenis pertanyaan bagaimana atau apa Partisipasi aktif pasien menjawab dengan bebas Cara yang efektif untuk menggali informasi dengan menggunakan intonasi suara yang menunjukkan minat dan perhatian

J. Faktor Penghambat Konseling


Faktor individual 1. Faktor fisik atau kepekaan panca indera, usia, dan seks 2. Sudut pandang terhadap nilai-nilai 3. Faktor sosial pada sejarah keluarga dan relasi, jaringan sosial, peran dalam masyarakat, status sosial 4. Bahasa Faktor-faktor yang berkaitan dengan interaksi 1. Tujuan dan harapan terhadap komunikasi 2. Sikap terhadap interaksi 3. Pembawaan diri terhadap orang lain 4. Sejarah hubungan.

Faktor situasional Percakapan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, situasi percakapan kesehatan antara physio dan pasien akan berbeda dengan situasi percakapan antara polisi dengan pelanggar lalu lintas. Kompetensi dalam melakukan percakapan Komunikasi dikatakan efektif bila ada sikap perilaku kompeten dari kedua belah pihak. Keadaan yang dapat menyebabkan putusnya komunikas, yaitu: (a) kegagalan informasi penting (b) perpindahan topik bicara (c) tidak lancar (d) salah pengertian

K. Hasil Pelayanan Konseling


Peningkatan kemampuan pasien dalam mengenali masalah, merumuskan pemecahan masalah, menilai hasil tindakan dengan tepat. pasien mempunyai pengalaman dalam menghadapi masalah kesehatan. pasien merasa percaya diri dalam menghadapi masalah. Munculnya kemandirian dalam pemecahan masalah kesehatan.